DUNIA BARU
Rate : T
Genre : Tragedy, Hurt/Comfort
Warning : GJ, OOC, OC!ASEAN, typo, short-chapter, hint pairing bertebaran, umpatan, diambil dari ramalan kuno pada zaman dahulu serta isi website perkiraan perang dunia ke-3 yang dituliskan akan jatuh pada tahun 2015, OC!Indonesians yang numpang lewat
Disclaimer : Hidekaz Himaruya
Pertama sekaligus selingan : Berita Duka
TIDAK SUKA JANGAN BACA. MALES AKU LAK ANA SING NGE-FLAME.
-ENJOY READING-
.
.
.
.
"Mengko bakal ana Kerajaan Majapahit ke-loro barine gonjang-ganjing ing Nusantara sing diselametake karo satriyo paningit. Blitar dadhi latar, Tulungagung dadhi gedung, Surabaya dadhi rawa, lan kabeh ngungsi ing Mataram."
—Nanti(suatu saat) akan ada(berdiri) Kerajaan Majapahit ke-dua setelah(terjadi) perang di Nusantara yang diselamatkan oleh ksatria yang belum diketahui siapa. Blitar menjadi latar, Tulungagung menjadi gedung, Surabaya menjadi rawa, dan semuanya mengungsi di Mataram.—
[Ramalan pada zaman dahulu mengenai nasib Indonesia]
.
.
.
.
["Yo opo, Jak—bagaimana, Jak?"]
Suara Surabaya yang Jakarta dengar melalui telepon mengindikasikan rasa cemas yang terpancar secara implisit; sekali pun nada suara yang digunakan terdengar kasar seperti biasanya.
Jakarta mendesah pelan. Sesungguhnya ia sedang tidak ingin membahas mengenai masalah kakak perempuannya serta daerah perbatasan yang porak-poranda. Matanya menatap sedih sosok Samarinda yang tersenyum bersama 33 provinsi lainnya di pigura dinding.
Mulutnya terasa pahit, namun akhirnya ia berhasil menemukan suaranya yang entah sejak kapan terlupakan bersama cara mausia berucap.
"Jangan tanya gue, Sura... gue juga gak tahu harus gimana..."
Dari seberang telepon, Surabaya yang tengah menggotong clurit mendecak sebal. Di satu sisi Jakarta berani bersumpah ia mendengar teriakan masyarakat Ibukota Jawa Timur yang bebarengan dengan suara kobaran api dan lemparan benda pecah-belah.
Jakarta menggigit keras bibirnya.
"Surabaya, jangan bilang kalo elo lagi—"
["Kupingmu kopoken ta? Aku wes diserang ket mau iki jancuk!"*]
.
.
.
[Di kota terbesar ke-dua di Indonesia, Surabaya tengah memegangi dadanya yang sesak. Tangannya yang terasa lumpuh terus ia remas untuk mewaraskan akal sehatnya. Tugu Pahlawan dan patung Bambu Runcing yang kini menjadi pusat kobaran api itu menyayat hatinya.
Para pelajarnya turun ke kota berbekal ember berisi air dan tongkat untuk mengarahkan para penduduk yang ingin mengungsi. Mahasiswanya kini mengangkat apa pun yang dapat digunakan sebagai senjata mulai mengobati penduduk yang terluka dan mengurus jenazah-jenazah yang tergeletak di jalan-jalan, sedangkan para bonek yang setia dengan seragam hijaunya berusaha menyerang pesawat Malaysia yang beberapa awaknya berhasil jatuh ke tanah.
Kantor Kedutaan Malaysia pun diserang oleh bonek-bonek yang emosi. Semua peralatan yang berkaitan dengan Malaysia dibakar dan dirusak. Bendera Malaysia pun dirobek oleh para penduduk yang tersulut emosi—terlebih setelah sikap polisi yang lelet dalam bertindak. Para personil TNI yang sudah diluncurkan pun seakan larut dalam lautan baju hijau.
Lain dengan daerah perbatasan yang masih dibombardir oleh pihak Malaysia, di mana tingat keacauan dan jumlah mayat bergelimpangan lebih banyak.
Para pria yang membawa mandau, para tentara yang membawa senapan, semuanya saling jegal dengan orang asing yang menerobos wilayah mereka—Pulau Kalimantan yang kaya akan kehijauan hutannya yang rindang. Semuanya tumpah ruah di tanah yang dulunya banyak WNI yang membeli keperluannya di Negeri Jiran dengan beragam faktor yang mendesak.
Bahkan anak-anak yang tinggal di daerah pedalaman hutan harus mengangkat parang dan menyiapkan panah racun.
Tangisan bayi kecil pun teredam dengan kejinya.]
.
.
.
"Terima kasih atas kedatanganmu, Nihon."
Sapaan hangat tersebut memenuhi telinga Japan yang memasuki ruang ala Jepang sebelum mengangguk ramah kepada Perdana Menteri yang saat ini tengah memerintahnya. Ajakan untuk menikmati makan siang bersama membuat Nihon merasa lebih rileks dibandingkan saat-saat di mana mereka berdua harus bergumul dengan arsip-arsip kenegaraan. Kesehata Japan yang makin membaik membuat pekerjaannya makin menumpuk di meja kerjanya.
Dan ia bersyukur kepada Dewa yang memberinya istirahat sejenak dengan sang pemimpin Negara.
"douittashimashita—sama-sama, Pak Perdana Menteri,"
Atasannya yang memiliki sorot mata bijaksana hanya tersenyum lembut dan menawarinya udang ebi. Japan menyantap makan siangnya dengan hikmat hingga gelas teh yang akan ia minum terjatuh dari sisi meja dan mengotori tatami*.
"Kami-sama! G-gomennasai!—Oh, Dewa! Maafkan aku!"
Sang Perdana Menteri membalasnya dengan senyum maklum dan memerintahkan beberapa orang untuk membersihkan sisa keramik yang kini pecah di permukaan tatami berwarna hijau muda. "Biarkan benda itu, Nihon. Ada hal lebh penting yang harus saya konfirmasikan kepadamu."
Japan pun menghentikan kegiatannya memunguti pecahan gelas dan segera menatap atasannya yang juga menatap mata monokromnya.
Mendadak Japan mendapat firasat buruk mengenai apa pun yang akan dikatakan oleh atasannya.
Perdana Menteri Jepang membuka mulutnya, namun tak ada suara apa pun yang terucap. Japan mengernyit curiga, makin takut akan firasat buruk yang ia rasakan. Debar jantungnya makin tak karuan ketika ia mencuri pandang ke arah para pelayan yang tengah membersihkan pecahan keramik dengan sabar.
"Pak Perdana Menteri—"
"Nihon, Girisha... telah jatuh."
.
.
.
—P
R
A
N
G
G—
.
.
.
["Bagaimana pendapatmu, Iggy~?"]
England, atau lebih tepatnya Great Britain mengurut pelipisnya dengan erangan kesal. America yang mendengarnya melalui telepon terkekeh kecil.
"Anak itu—kenapa selalu mencari masalah dengan kakak serumpunnya sendiri?!"
England tak habis pikir, apa lagi yang direncanakan oleh mantan jajahannya, Malaysia, untuk Negara tetangganya Indonesia. Setelah kasus klaim budaya dan kasus-kasus lainnya, sekarang penyerangan langsung ke daerah perbatasan dan pengeboman di Ibukota Provinsi yang disebut-sebut paling maju di Indonesia?
England merasa seperti seorang Ayah yang terkena serangan jantung setelah mendengar putrinya dihamili pria biadab yang tak ingin bertanggungjawab.
"Bagaimana dengan kondisi Thailand? Autralia? Negara-Negara lainnya?"
America makin tergelak, ["Bagaimana kalau kau tebak sendiri, Iggy? Tidak seru kalau aku bocorkan informasinya secepat ini! HAHA!"]
England sudah nyaris memutus percakapannya ketika suara dalam America menyapa pendengarannya,
["Lagipula, aku memiliki rencana yang bagus untuk masalah ini. Kau ingin membantuku atau yang lain, Great Britain?"]
.
.
.
.
.
TO · BE · CONTINUE
*Kupingmu kopoken ta? Aku wes diserang ket mau iki jancuk!—Telingamu sedang (terlalu) kotor, ya? Aku sudah diserang sejak tadi ini sialan!
*Tatami—alas rumah khas Jepang. Gampangnya sih lantainya orang sana. Kalau gak salah, tatami itu dibuatnya dengan cara dianyam... bukan?
Pojok-Balas-Review(s) :
Mokakoshi :
Terima kasih banyak atas pujiannya! Wah, sebenarnya—iya, sebenarnya. Anda gak salah baca—saya juga tidak suka sama Negara satu itu. Tapi gimana, ya... wong barang-barang yang kita gunakan di NKRI itu pasti ada barang buatannya si Tetangga. Kartu SIM ponsel, misalnya. Nesianya gak mati, kok! XD Munculnya nanti di chapter 3, bersama para OC yang sudah disumbangkan oleh pembaca (maafkan saya yang gak masukin mereka di chapter ini!). Hehe,, 2 permintaan Moka sudah terkabul 'kan?
You-Know-Who (ebuset, serius kirain ini Voldemort yang ngeripiu kalau saya yang kece gak hafal gaya tulisan siapa ini) :
GYAAA~! MAMA AMPUNI SAYA! Tapi memang itu rencanaku... *mendadakdiserangolehmandau* iya gak pa-pa kakak~ Salam dari Surabaya!
FrankiezCrazy :
Nggak apa~ Hehe,, kejutaaaann~!
Konflik secara riil-nya aja belum selesai sepenuhnya. Aku sengaja soalnya semakin lama jumlah WNI yang anti sama Negara itu meningkat. Dan, itulah kenapa aku cinta Pak Karno! ;;w;; #langsunghormat Iya, itu benar. Guru Frank keren tuh. Jarang ada orang berani ngungkapin itu! 100% benar. Siapa aja coba yang ngebonceng mereka? Mereka yang 'berkuasa', bukan? Sipp,, sama-sama~
Males Login :
Sebenarnya, itulah yang ingin saya lakukan dari dulu... kalau saya nanti jadi penguasa. Wkwkwkwkwk otak Anda kelewat gore! Tapi si Nesia 'kan harus sadar sama posisinya dia. Indonesia sama tetangga itu lebih maju tetangga. Well, ini kenyataan pahit sebenarnya. Ada, monggo ditunggu kehadirannya di chapter depan... terima kasih atas reviewnya!
Kagamine Yukimur :
Karenanya, mari kita sebagai anak bangsa Indonesia mendobrak dunia dengan prestasi yang membanggakan! Jangan bangga dengan julukan Negeri Budak—ada yang tahu fakta ini?—atau Negara Nomor 3—kalau gak salah—Dengan Tingkat Korupsi Yang Tinggi! YEEAAAHH! Terima kasih atas reviewnya!
Amel Otaku :
Hehe, makasih~ (padahal kata orang-orang gaya bahasa saya itu antara unik sama uhukanehuhuk)
Okee,, silahkan tunggu di chapter 3 ya! Terima kasih atas reviewnya!
Yuu Matari :
Sejujurnya saya juga berpikir hal yang sama! /ditendangMalay Hehe, makasih~ Iya, ada. Tunggu saja chapter 3 yang SEMOGA GAK NGARET QAQ
Pojok-Author :
Maafkan saya yang tidak sempat memunculkan para OC! *bungkukdalam-dalamsampenataplantai*
Kehidupan RL saya sibuk. Setelah sebulan ini akhirnya saya bisa megang laptop sendiri tanpa membuka situs materi tugas. Fawk. Tapi saya janji chapter depan para OC sumbangan dari pembaca berikut state -nya muncul dan jumlah katanya lebih panjang! Sebagai gantinya, saya berikan spoiler :
Chapter depan akan memunculkan Nesia dan Malaysia. State yang muncul adalah para provinsi Kalimantan (meski gak semua) juga kondisi pulau-pulau di Indonesia—khususnya bagian Tengah dan Timur—lainnya.
Saya hanya berharap chapter ini dan yang mendatang tidak mengecewakan.
...no-flame-and-silent-readers-please...
