Silence In The Dark

Chapter 2

.

.

.

Bel pulang sekolah telah berbunyi dan para murid pun bersorak menyambutnya. Guru yang masih di depan hanya bisa menggelengkan kepalanya maklum melihat pemandangan yang amat biasa ini. Setelah membereskan bukunya di meja, sang guru berparas cantik tersebut keluar dari kelas setelah mengucapkan salam.

Ketika setiap orang dikelasnya sibuk dengan teman-temannya, berbeda dengan Sakura yang masih membereskan bukunya. Ia sama sekali tak berminat untuk berbaur bersama teman-temannya meski hanya seorang. Setelah selesai, Ia mengambil sebatang lollipop yang tinggal satu di tasnya dan menikmatinya.

"Sakura, mau pulang bersama?" tanya Ino. Ia sudah siap pulang dengan tas jinjing di tangan kanannya.

"Tidak," jawabnya tanpa basa-basi dengan dingin. Setelahnya Ia bangkit dan meninggalkan Ino yang masih berdiri memandang punggungnya dengan sebuah kekehan geli.

"Dasar gadis dingin," ucapnya di sela kekehannya sambil menggeleng.

Setelah sampai di depan pintu kelasnya, melalui ekor matanya yang tajam, gadis ini melihat Sasori dan Gaara yang sedang bersender dan bersidekap. Ia menghampiri keduanya yang langsung disapa dengan wajah datar mereka.

"Ayo pulang," titah Sakura.

Keduanya mengangguk lalu berjalan disisi kanan dan kiri Sakura. Masing-masing berjalan dengan gaya khasnya. Sakura dengan lollipop di mulutnya. Sasori yang sibuk dengan yoyo merah gelap miliknya dan Gaara dengan kedua tangan yang terselip di saku celananya. Meski begitu ekspresi mereka tetaplah sama. Datar tanpa lirikan.

Mereka berjalan dalam keheningan dengan aktifitas masing-masing sampai Sasori mulai bosan dan memutuskan membuka percakapan.

"Sakura," panggil Sasori.

Yang dipanggil hanya bergumam sebagai jawaban.

"Apa tak masalah membiarkan mereka selalu mengikuti kita?"

Gaara yang berjalan di sebelah kiri Sakura melirik gadis itu sejenak. Berusaha mencerna dan menebak raut wajah yang akan ditunjukkan si pemilik sebelum Ia kembali mengarahkan pandangannya ke depan.

"Kurasa tak masalah," sahutnya datar. "selama mereka tak berbuat apapun,"

"Kau menunggu sampai mereka bertindak lebih dulu?" kali ini Gaara angkat bicara.

Sakura menggeleng singkat sebelum menjawab pertanyaan Gaara. "Tidak. Aku hanya tak ingin kita terlalu terburu-buru,"

"Tapi faktanya kita terlalu santai," imbuh Gaara datar.

"Mereka sudah mengetahui keberadaan kita sampai sejauh ini sedangkan kita belum melangkah sama sekali," sambung Sasori. "sebenarnya apa rencanamu?"

Gadis misterius ini menghela nafas singkat sebelum akhirnya menamatkan kalimat Sasori. "Aku sudah memikirkannya, Sasori. Kaa-sama dan Tou-sama akan segera memberi kita perintah,"

Sasori tak menjawab kalimat Sakura barusan. Ia kembali melanjutkan perjalanannya dalam diam sambil bermain yoyo merah tua miliknya. Gaara juga mulai memainkan keitai hitamnya untuk membalas beberapa email yang Ia terima entah dari siapa.

Selama perjalanan mata Sakura tak pernah berhenti melirik setiap orang di jalan yang tak terlalu ramai ini. Ia masih fokus pada jalan di depannya meski sesekali tangannya yang bebas mengusap bekas luka yang ada di leher kanan dan kirinya.

Gaara yang sudah selesai dengan keitainya, rupanya menyadari hal itu dan berjalan mendahului Sakura lalu berhenti tepat di depan gadis itu. Sakura langsung mendongak begitu tubuh Gaara yang lebih tinggi darinya menghalangi langkahnya. Sasori yang daritadi sibuk dengan yoyo nya pun ikut berhenti dan memandang kedua orang tersebut dalam diam.

Pemuda tampan itu menjauhkan tangan Sakura dari lehernya. Ia menatap bekas luka yang entah kenapa malah belum ada tanda-tanda penyembuhan sama sekali. Matanya menatap lekat-lekat bekas gigitan hasil karyanya bersama Sasori siang tadi saat istirahat.

Setelah beberapa lama memandang bekas gigitan itu, Ia berganti memandang lekat emerald kelam yang memandangnya datar. "Berapa lama kau tidak makan?" tanyanya datar. Tapi entah kenapa mengandung sebuah nada introgasi di dalamnya.

Sakura mengernyitkan alisnya bingung. "Tiga jam?" sahutnya ragu.

"Kau tahu bukan itu maksudku," tepis Gaara. Nada bicaranya menjadi lebih serius.

"Terakhir kali aku makan itu tiga jam yang lalu, Gaara. Dan itu dari Sasori, kau tahu."

"Gaara, Sakura, aku tak bermaksud menyela." Kata Sasori membuat kedua orang yang sedang bersitegang tersebut menoleh dan menatapnya. "tapi lebih baik kita membahasnya di tempat yang lebih sepi,"

Keduanya mengangguk dan mulai berjalan menjauhi keramaian. Mereka berjalan ke sebuah gang terdekat yang juga sepi dari orang-orang lalu-lalang. Gang yang memang sudah beberapa bulan ini sepi dari manusia.

Sasori yang tak begitu tertarik bersandar pada dinding kayu sambil memainkan yoyo miliknya. Sesekali melirik pada dua orang yang tampak seperti sepasang kekasih tersebut sampai seulas senyum tipis nampak di sana. Sebuah senyum tipis karena geli dengan tingkah keduanya.

"Jad—"

"Kau belum menjawab pertanyaanku," potong Gaara cepat. Matanya berkilat tajam.

Sakura memandang Gaara sambil memegangi lehernya. Tak lama kemudian Ia menghela nafas lelah. "Enam bulan,"

"Dan kau hanya mengkonsumsi lollipop itu?"

Satu anggukan menjadi jawaban.

Satu tatapan datar menjadi balasan.

Sasori yang memang saat itu mendengarkan langsung menoleh saat mendengarnya. Ia sangat terkejut Sakura bisa bertahan tanpa makan selama enam bulan. Harus Ia akui, kemampuan gadis itu untuk menahan godaan patut diacungkan jempol. Namun yang menjadi pertimbangan atas kehebatan gadis itu adalah kesehatannya yang sekarang mulai menurun. Terlihat jelas dari bibirnya yang pucat dan tubuhnya menjadi sedikit lebih kurus sejak beberapa hari lalu.

Berbeda dengan Sasori, Gaara hanya memandangnya datar. Ia memang tak menunjukkan ekspressi apapun saat ini. Tapi Sakura tahu benar jika dalam diamnya Gaara mengandung sebuah kemarahan. Ia dapat merasakan hal itu saat merasakan aura kelam yang ada di sekelilingnya. Berteman dengan Gaara lebih dari separuh hidupnya membuatnya mengerti saat-saat dimana pemuda itu marah dalam diamnya.

Tangan putih milik lelaki itu terulur dan menyentuh luka di leher sebelah kanan Sakura. Ia menariknya kembali dan memperlihatkan telunjuknya yang terdapat noda darah segar. Hal itu tentunya membuat Sakura kaget dan dengan segera menyentuh lukanya. Dan benar saja, darah masih mengalir meskipun hanya sedikit. Entah kenapa Ia sama sekali tak menyadari hal itu.

"Lihat bagaimana kau memperlakukan tubuhmu," ucap Gaara sarkatis.

"Tapi.. aku sama sekali tak tahu akan sefatal ini," elak Sakura.

"Kau bukannya tidak tahu, Sakura." Sasori menyela sambil menghampirinya. "kau yang tidak mau tahu,"

Sakura terdiam.

"Kaa-sama dan Tou -sama sudah berkali-kali mengingatkanmu agar jangan menuruti egomu untuk tidak minum darah. Aku tahu kau kuat, kau spesial. Berbeda denganku ataupun Gaara yang hanya bisa bertahan tiga minggu tanpa darah. Tapi itupun ada batasnya dan kau tidak bisa terlalu sering seperti ini. Bagaimanapun, kau harus tetap minum darah. Suka ataupun tidak," Sasori menjelaskan dengan nada datarnya yang mengintimidasi.

Kini Sasori mulai menghela nafasnya dan menatap Sakura sekali lagi dengan tatapan memperingatkan.

"Baik aku maupun Gaara sama-sama ditugaskan untuk menjagamu. Aku tahu kau kuat terhadap serangan sinar bulan purnama dan tahan sengatan sinar matahari yang terik. Tapi.." Sasori menggantungkan kalimatnya. "..semakin sering kau menahannya, jangka waktu ketahananmu tanpa darah akan semakin berkurang. Penyembuhanmu akan melambat. Meskipun kau seorang darah murni,"

Sakura mendengarkan semua ucapan Sasori, sebenarnya. Namun saat ini otaknya terasa tidak bisa mencerna sepatah katapun untaian kalimat yang terbalut apik oleh lidah si pemuda berambut merah bata tersebut.

Tak ada satupun dari mereka bertiga yang berniat membuka lagi pecakapan. Keheningan masih mendominasi. Sakura terlihat melamun sambil mengeratkan pegangannya pada tali tas yang di gunakannya. Sedangkan Sasori dan Gaara menunggu gadis itu angkat bicara.

Mungkin ini memang sudah batasku.

"Gaara," panggil Sakura dan yang dipanggil hanya menatapnya datar. "bisa kau gendong aku?" pinta Sakura.

Gaara sontak dibuat heran. Terutama nada lelah yang tersirat di dalamnya. Tapi begitu melihat Sasori memberi tanda anggukkan sekali padanya, akhirnya Gaara mengiyakan permintaan Sakura.

Ia mengambil tas sang gadis dan melemparkannya pada Sasori, lalu menggendong gadis itu ala bridal style. "Kau terlalu memaksakan diri," ungkapnya datar.

Gadis berrambut merah muda itu tak menjawab. Ia merasakan tubuhnya sangat lelah. Ia menggeliat untuk mencari kenyamanan dalam gendongan Gaara yang begitu hangat menurutnya. Matanya terpejam. Dan tak lama kemudian Ia sudah pergi ke dunia mimpi.

.

"Anak itu.."

Disebuah rumah bergaya Eropa klasik yang megah, sepasang suami istri tampak sedang pusing karena suatu hal. Sang suami yang berrambut merah memijit-mikit pangkal hidungnya, sedangkan sang istri yang berrambut coklat panjang tak kalah pusing dengan sang suami.

Di depan mereka, tampak Sasori dan Gaara yang sedang menggendong Sakura berdiri menatap kedua orang tua yang masih tampan dan cantik diusia mereka yang tak lagi muda.

"Bagaimana bisa anak itu tak makan sampai enam bulan? Apa kalian tidak mengawasinya?" tanya Rei, sang kepala keluarga.

Sasori menghela nafas lelah dan meletakkan tas Sakura di sofa terdekat. "Kami mengawasinya, tentu saja. Tapi gadis ini.." Ia menunjuk Sakura di gendongan Gaara dengan dagu lancipnya. "..terlalu pintar menyembunyikannya,"

"Terlalu pintar kau bilang? Kau mengakui kalian bodoh?" tanya wanita bernama Mei tersebut sarkatis.

"Bukan itu maksudku," elak Sasori. "dia bertingkah seolah-olah sudah makan. Kulitnya juga masih bersinar layaknya vampire yang sehat. Kita sama-sama tahu bahwa Sakura itu spesial. Tak mudah untuk membedakan dia sudah makan atau belum. Lagi pula, bukankah setiap hari pelayan di sini selalu memberinya darah segar?"

Sepasang suami itu saling berpandangan satu sama lain. Apa yang di bilang Sasori memang ada benarnya. Sakura berbeda dengan vampire darah murni kebanyakan. Oleh karena itu sangat sulit membedakannya.

"Lalu, apa yang menyebabkannya sampai seperti ini? Dan juga.." Mei menghentikan ucapannya. ".. kenapa bau darahnya bisa menguar sekuat ini?"

"Penyembuhannya melambat. Saat istirahat sekolah kami meminum darahnya," ucap Gaara datar.

"Yappari.." ucap Mei. Ia menyenderkan tubuhnya pasrah di sofa yang di dudukinya. "apa dia juga meminum darahmu?"

"Tidak. Dia hanya meminum darah Sasori."

"Jadi selama enam bulan, makan pertamanya adalah tiga jam yang lalu?" Sasori mengangguk. "dan kupastikan itupun tak lebih dari dua puluh tegukan. Kami-sama.."

Rei tampak geram dengan tingkah Sakura. Kalau terus seperti ini, keadaan akan memburuk. Sakura seharusnya bisa menjalani tugasnya dengan baik sebagai putri tunggal keluarga vampire darah murni Haruno. Bukannya memperburuk keadaan yang sudah buruk dengan tidak menkonsumsi darah selama enam bulan. Meski harus diakuinya, ini juga sebagian dari kesalahannya karena tak mengawasi putrinya secara langsung.

"Gaara, lebih baik kau bawa dia ke kamarnya. Pastikan dia istirahat dengan cukup." titah Rei.

Gaara mengangguk dan langsung pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamar Sakura. Sasori juga meminta izin untuk istirahat di kamarnya. Kini tinggallah Rei dan Mei yang masih duduk di tempat dengan menahan kesal.

"Bagaimana ini? Gaara bilang mereka sudah tau siapa Sakura," ucap Mei pada suaminya.

"Ini sulit." Sahut Rei. Ia memijat pangkal hidungnya pelan. "terutama jika keadaannya belum membaik,"

"Tidak adakah orang lain yang lebih pantas melakukannya?"

"Jika ada, aku lebih memilih orang lain itu dari pada Sakura, putri kita satu-satunya. Tapi nyatanya, Sakura lah yang terpilih."

Sebenarnya Sakura adalah vampire spesial yang dipilih oleh para tetua di klannya. Saat lahir, terdapat segel Yin-Yang berwarna hijau di pusat dahinya. Persis seperti leluhur mereka dahulu, Tsunade. Itulah yang membuat para tetua sangat yakin dan bersikeras agar Sakura lah yang menjadi pelindung roh leluhur meskipun dia dilahirkan sebagai perempuan.

Sebagai vampire yang terlahir berbeda, Sakura pastinya memiliki daya tahan berbeda dari vampire kebanyakan. Ia mampu bertahan tanpa darah lebih dari tiga tahun. Tergantung dari usianya. Penyembuhannya jauh lebih cepat dari vampire yang lain. Tapi untuk seusia Sakura, enam bulan tak makan akan membuat kekuatan spesial ataupun daya tahan tubuhnya melemah dalam jangka waktu tiga hari.

Mendengarkan penjelasan ulang dari Rei, Mei terdiam. Ia memikirkan bagaimana beratnya menjadi satu-satunya vampire yang diberi tugas untuk menjaga roh leluhur yang sudah hidup tersegel jutaan tahun di sebuah guci yang sekarang bertempat di kastil besar. Namun pada pertengahan musim panas nanti, segel tersebut akan melemah. Bahkan bisa di pastikan akan ada banyak vampire di luar sana yang mengincar guci tersebut. Dan Sakura harus melindunginya apapun yang terjadi.

"Sebenarnya aku masih belum mengerti tugas anak kita. Jika memang hanya harus melindungi roh leluhur yang berumur jutaan tahun, tidakkah para tetua berpikir untuk memberikan tugas itu pada Gaara atau Sasori?"

"Tugasnya bukan hanya untuk melindungi roh leluhur, istriku. Tapi dia juga harus menjauhkan, tidak, lebih tepatnya membunuh siapapun yang mencoba merebutnya. Jika jatuh di tangan yang salah, kita sebagai bangsa vampire tak bisa berbuat apapun." terang Rei.

Wanita bermata emerald ini merenungkan ucapan suaminya. Tugas anaknya bukan hanya melindungi, tapi juga Sakura tak boleh segan-segan untuk membunuh siapapun yang mencoba merebut apa yang Ia lindungi. Ini lebih dari sekedar sulit, melainkan beban berat yang harus ditanggung anak seusianya.

"Dia tak bisa melakukan hal ini seorang diri." kata Mei. "resikonya terlalu besar,"

"Ya," sahut Rei sambil menerawang. "kita butuh bantuan mereka."

.

.

Keesokan harinya, saat matahari masih malu-malu untuk muncul ke permukaan, Sakura sudah bangun dari tidur lelapnya. Ia mengucek mata vampirenya pelan dan merenggangkan tubuhnya setelah itu. Barulah ketika seluruh nyawanya sudah berkumpul, Ia beranjak untuk bersih-bersih dan kembali ke aktifitas rutinnya.

Namun ketika Ia hendak turun dari ranjangnya, pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka dan muncullah Sasori beserta Gaara yang sudah rapih dengan seragam mereka. Tak lupa dengan segelas cairan merah di tangan Gaara.

"Tidurmu nyenyak, eh, tuan putri?" sindir Sasori.

Sakura menghela nafas lelah. "Apa yang kau inginkan?"

Sasori hanya mengendikkan bahu dan bersender pada dinding, sedangkan Gaara menghampiri Sakura yang masih duduk di sisi ranjang. Ia lalu menyodorkan gelas berisikan darah tersebut pada Sakura yang hanya dibalas dengan naiknya sebelah alis pink gadis itu.

"Kami harus memastikanmu makan dengan benar," ucap Gaara seolah mengerti mimik wajah Sakura.

Sakura langsung menepis pelan gelas yang di sodorkan Gaara. Membuat sang empunya tangan menaikkan alis tipisnya.

"Aku tak mau meminumnya,"

"Kau harus." tegas Gaara.

"Apa yang membuatku harus?" balas Sakura sengit.

"Tubuhmu," sahut Gaara mantap dan tegas.

"Tubuhku baik-baik saja,"

"Hanya sampai siang hari,"

Sakura menatap sinis Gaara yang sangat bersikeras menyuruhya makan. Inilah yang Ia tak suka dari Gaara. Sifat keras kepalanya dan sangat sulit untuk dibantah. Tak perduli siapapun lawan bicaranya.

Sasori hanya tertawa singkat mendengar perdebatan keduanya. "Lagipula, Sakura, apa yang membuatmu begitu membenci darah?"

Sakura menyisir rambutnya ke belakang yang sedikit berantakkan dengan sebelah tangan. Ia jengah. Sungguh jengah. Selalu dipaksa untuk minum cairan yang memang seharusnya dia minum. Selama ini Ia selalu membuangnya di wastafel dan tentu saja Ia menyembunyikan hal itu dengan apik. Akhirnya, dengan nada datarnya Ia menceritakan alasannya.

Alasan kenapa dirinya tak mau meminumnya? Sebenarnya hanya karena hal sepele. Yaitu ia menemukan belatung dalam darah yang di sediakan oleh pelayannya. Untung saat itu dewi fortuna sedang berpihak padanya, sehingga Ia tak sempat meminumnya. Detik itu juga Ia langsung membanting gelas itu ke lantai dengan amarah menggebu yang sontak membuat nyali pelayannya ciut seketika. Maka mulai saat itu juga Ia enggan meminum darah lagi, kecuali langsung dari leher-leher yang bersedia memberikannya kepuasan.

Sasori tertawa renyah mendengarnya. Sedangkan Gaara hanya mendengus.

"Kenapa kau tak bilang pada kami?"

"Kau hanya akan mentertawakanku seperti sekarang." desis Sakura.

Pemuda bermata hazel itu menghentikan tawanya perlahan sambil menatap Sakura. "Tentu tidak, aku pasti membantumu,"

Sakura yang mendengarnya mendengus geli lalu menatap Gaara. "Aku tetap menolak,"

"Aku memaksa,"

"Lalu? Apa yang kau akan kau lakukan untuk memaksaku?" tanya Sakura sarkatis lalu berdiri. "minggir, aku mau mandi." titahnya pada Gaara yang berdiri menjulang dihadapannya.

"Tidak sebelum kau meminumnya," ujar Gaara tak mau kalah.

"Gaara.." Sakura berujar. Nada bicaranya tak bisa dibantah. Tapi sayangnya hal itu tak berpengaruh sama sekali bagi Gaara.

Pemuda bermata jade ini akhirnya jengah juga. Dengan sekali hentakan Ia mendorong Sakura yang langsung jatuh ke ranjang. Ia meminum darah tersebut tanpa menelannya lalu naik ke ranjang Sakura setelah meletakkan gelas di meja.

"Gaa—hmmph,"

Aksi protesnya terhenti begitu bibir Gaara bertamu dibibirnya. Tangan pemuda itu menahan belakang kepala Sakura agar tak lepas. Sebelah tangannya bertumpu pada ranjang menahan berat tubuhnya. Kedua matanya tertutup. Ia menggigit bibir bawah Sakura agar darah dalam mulutnya berpindah ke mulut gadis itu. Darah pun mengalir dari sudut bibir keduanya.

Sakura sendiri kaget dengan perlakuan Gaara padanya, meski Ia akui ini cukup menantang. Tangannya meremas kemeja bagian depan Gaara hingga kusut dan berusaha mendorong pria itu agar melepaskan ciumannya. Matanya juga terpenjam erat. Tapi apa daya, Ia yang saat ini kehabisan tenaga tak bisa berbuat banyak selain mengikuti permainan Gaara. Ia reflek membuka mulutnya saat Gaara menggigit bibirnya. Setelahnya, ia merasakan manisnya darah yang cukup banyak masuk ke dalam mulutnya hingga sedikit tersedak.

Tapi Gaara tak perduli, Ia masih terus menawan Sakura hingga darah dalam mulutnya berpindah tempat. Selang dua menit kemudian Gaara melepaskannya dan menatap Sakura datar tanpa dosa sedikit pun. Darah masih terlihat mengalir di dagu keduanya. Sedangkan Sakura? Wajahnya memerah tak karuan antara menahan malu, kesal dan kehabisan nafas akibat perbuatan brutal Gaara.

Darah menetes dan mendarat di kulit mulus Sakura. Tangannya melayang hendak menampar pemuda yang baru saja memaksanya meminum darah, namun dengan cepat di tepis pemuda itu.

"Kau mau aku melakukannya lagi atau meminumnya langsung dari gelas itu?" ucap Gaara dingin.

Sakura lekas berdecih dan melepas paksa tangannya dari Gaara. Dengan kesal Ia mendorong Gaara dan meminum darah dengan brutal sampai habis. Setelahnya dengan langkah lebar-lebar Ia menyambar handuk dan melesat ke kamar mandi.

"Kau seharusnya lebih lembut sedikit pada adikku," ucap Sasori saat Gaara melewatinya.

Pemuda itu berhenti dan melirik Sasori. "Katakan itu padaku jika adikmu sudah bisa menjalankan tugasnya sebagai putri yang jinak,"

… dan Sasori hanya memandang punggung dingin yang menjauh tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.

.

.

.

"Ohayou, Sakura," Mei yang duduk di ruang tamu menyapa anaknya saat baru turun dari tangga dengan senyum manisnya.

Sakura hanya meliriknya sekilas, tak berniat menjawab sama sekali.

Di sebelah ibunya, tampak ayahnya sedang membaca surat kabar terbaru. Sedangkan di sofa yang terpisah, Sasori maupun Gaara duduk sambil menatapnya dengan wajah datarnya seperti biasa. Tapi kali ini ada seseorang yang belum pernah dilihatnya sedang memandangnya juga tanpa ekspresi berarti. Tidak, bukan hanya satu, tapi dua orang. Mereka tampak seperti pinang dibelah dua. Sangat mirip dan.. sama-sama memiliki ketampanan diatas rata-rata.

"Sakura, duduklah." titah Rei. Tangannya menutup koran dan meletakkanya di meja.

Tanpa banyak bicara Sakura duduk diantara Sasori dan Gaara. Meskipun Ia masih teramat kesal dengan Gaara karena ciuman tadi pagi, untuk saat ini Sakura tak memperdulikannya. Bisa-bisa kedua orang tuanya tahu dan memaksa Gaara untuk melakukan hal itu lagi jika ia tak bisa diatur.

"Seperti yang kita ketahui, Sakura adalah satu-satunya pelindung roh leluhur kita," ucap Rei membuka topik.

Keadaan menghening seketika. Tidak.. bukan hening karena tegang, tapi hening karena pada dasarnya mereka memang pendiam. Sedangkan Mei hanya bisa tersenyum geli disituasi yang terpaksa menghimpitnya diantara orang-orang pasif bicara.

"Tou-sama akan langsung ke intinya. Kau tak bisa bekerja sendiri, Sakura, aku pun tak bisa melepaskanmu menanggung beban ini begitu saja. Maka dari itu, atas persetujuan tetua, aku meminta bantuan dari klan Uchiha."

Uchiha?

Tentu Sakura bisa menebak kalau dua orang yang mirip ini pastilah keturunan Uchiha yang tersohor itu.

"Sakura, perkenalkan. Ini Uchiha Itachi.." ibunya menunjuk sopan pada pria berwajah ramah namun dingin dengan satu kunciran rendah di tengkuknya. ".. dan yang di sebelahnya adalah Uchiha Sasuke. Mereka berdua adalah kakak dan adik."

Sakura memandang kedua orang tersebut dalam diam. Emerald nya menyambangi wajah keduanya. Pantas saja mereka mirip. Ternyata bersaudara. Onyx hitam, bulu mata yang panjang dan lentik dan wajah yang.. yah.. setidaknya membuat kaum hawa tak bisa berpaling dengan mudah setelah melihatnya.

"Mereka akan menjagamu seperti Gaara dan Sasori. Mereka juga akan bersekolah di tempat yang sama dengan kalian bertiga. Dan—oh ya, Itachi ini.." Rei menunjuk Itachi. "..dia adalah teman kecil Sasori saat di Suna,"

Sakura manggut-manggut tak perduli. Dia tak perduli siapapun yang menjaganya asalkan tak merepotkan. Dan menurut penilaiannya, baik Itachi maupun Sasuke bukan tipe orang yang masuk dalam kategori tersebut.

"Dan ada tugas lebih untuk Sasuke sebagai syarat untuk menjaga Sakura dari tetua Uchiha." Mei menggantikan suaminya bicara. Senyum jahil tertera di wajahnya. ".. aku tak menganggap ini sebagai syarat, sebenarnya. Justru aku menganggapnya sebagai keberuntungan."

Yang bernama Sasuke tak melepaskan matanya sedikitpun dari Sakura yang sedang menyesap teh. Ia bukan hanya memandang datar, tapi juga menelisik gadis itu lebih jauh dengan matanya yang berubah merah dengan tiga titik berputar.

Sakura memperhatikan gerakan bibir Ibunya. Matanya melebar begitu mengetahui apa yang ibunya maksud. Dengan sekali ucapan, Ia pasrah mengikuti perintah kecil dari ibunya juga seluruh keturunan Uchiha maupun Haruno.

.

.

.

.

Sekolah tampak ramai pagi ini. Siswa dan siswi nampak memperhatikan lima orang dengan karismanya yang tak terbantahkan meski tak mereka pungkiri aura kelam dan misterius melekat kuat pada kelimanya.

Koridor yang dilewati kelima orang itu nampak ramai. Penyebabnya hanya satu. Yaitu si dua siswa asing yang bergabung dengan tiga orang paling misterius di sekolah ini. Semua mata pun seolah tak bisa teralihkan dari objek hidup itu.

Itachi yang satu kelas dengan Sasori sudah lebih dulu mendahului tiga orang adik kelas mereka. Sakura, Sasuke dan Gaara masih berada di koridor lantai satu dan bersiap untuk menaiki tangga menuju lantai dua. Ketiganya berjalan dalam diam. Karena Gaara berbeda kelas dengan Sasuke dan Sakura, Ia pamit untuk ke kelasnya yang ada di koridor barat.

Kini tinggallah Sasuke dan Sakura yang berjalan berdampingan. Sasuke memasukkan kedua tangannya dalam saku celana depannya. Tak mengindahkan lirikan siswi yang memandangnya tanpa berkedip. Sedangkan Sakura berjalan dengan lollipop di dalam mulutnya.

"Halo, Sakura,"

Sang empunya nama berhenti saat seorang laki-laki yang berada dua meter di hadapannya memanggilnya. Sasuke pun juga ikut berhenti. Orang yang memanggil namanya menampakkan sebuah senyum misterius. Setiap orang yang ada di koridor tersebut memandang ketiganya dengan heran.

Tak lama kemudian, Sasuke melangkah mendekati orang tersebut diikuti Sakura, lalu berhenti tepat di depan pemuda bermata hitam itu.

"Apa yang kau inginkan, Idate?" ucap Sakura.

"Hehh," pemuda itu berucap dengan seringainya. "jangan dingin begitu,"

Sakura tak menanggapinya.

"Kau sudah tahu bukan.. Kami sudah semakin dekat,"

"Bukan urusanku," tukas Sakura. Matanya berkilat. Ia berjalan maju untuk lewat, tapi pemuda itu menghalangi jalannya masih dengan seringainya.

"Santailah sedikit, Sakura, bel masih lama berbunyi. Kita masih bisa berbincang sambil menunggu bel. Ah, atau mungkin.." Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Tangannya terulur hendak menyentuh pipi mulus gadis pink tersebut. "..kita bisa bicara sambil menikmati segelas coklat hangat di kantin,"

PLAK.

Sebuah tangan putih pucat menggenggam pergelangan tangan Idate. Sang empunya semakin memperlebar seringainya saat melihat Sasuke lah yang menangkap tangannya.

"Jangan sentuh dia," ucap Sasuke dingin.

Idate memandang Sakura dengan mata berkilat ganjil. "Sekarang kau punya bodyguard, eh?"

"Dia bukan bodyguardku," kata Sakura. Pandangannya mengebor jauh pada mata hitam idate. "tapi.."

"Dia milikku," sambung Sasuke dingin. Ia melepaskan genggamannya.

Orang-orang yang ada di sana sontak tercengang dibuatnya. Seorang Haruno Sakura yang dikenal dengan pribadi dingin dan misterius dimiliki oleh seorang pemuda tampan yang mampu menyedot perhatian khalayak dalam kurun waktu lima menit? Tak ada yang menduga hal ini.

.

.

.

.

.

"Dia milikku,"

Suara baritone itu berucap. Sebuah pernyataan tegas atas statusnya dengan Haruno Sakura. Gadis yang disebut-sebut sebagai gadis paling dingin dibalik wajah manisnya yang kelam.

Idate tak sepenuhnya percaya. Terlebih pemuda ini baru pertama kali dilihatnya.

"Minggir." titah Sasuke.

"Milikmu?" tanya Idate tak menghiraukan perintah pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Meskipun Ia mengacuhkannya, entah kenapa hatinya merasakan suatu keanehan saat memandang mata sekelam jelaga tersebut. Sebuah rasa takut yang Ia sendiri tak tahu apa penyebabnya.

Dari postur tubuhnya, Idate seperti pernah melihat ciri-ciri tubuh seperti itu. Bermata Onyx, berwajah tampan,berkulit putih pucat, mata setajam elang dan berrambut raven. Tatapannya yang datar dan mengintimidasi. Pesona yang tak terbantahkan bahkan untuk lelaki normal seperti dirinya. Tapi di mana Ia pernah melihatnya? Atau setidaknya, mendengar ciri-ciri fisik pemuda yang sedang memandangnya dingin ini?

"Kupikir telingamu masih berfungsi dengan baik, Idate." tegas Sakura membuyarkan pikirannya. "Minggir." titahnya lagi

"Baiklah baik. Kalian memang menakutkan," ucap Idate dengan seringainya. "tapi sebelumnya, siapa namamu, eh, laki-laki dingin?"

Sasuke dan Sakura sama sekali tak mengindahkan pertanyaan Idate. Mereka langsung berjalan meninggalkan pemuda sinting tersebut di tempatnya berdiri membuat Idate sedikit jengkel.

"Kalian sombong sekali. Bukankah tak baik jika mengabaikan pertanyaan orang yang bertanya namamu?" tanya Idate seolah memancing keduanya.

Dan itu memang berhasil. Keduanya berhenti. Sasuke langsung berbalik badan dan menatap Idate dengan tatapan mengitimidasi. Sakura sendiri hanya memandangnya datar.

"Uchiha,"

Seketika Idate dan seluruh manusia yang ada di sana menegang mendengar nama Uchiha di sebut.

"Uchiha Sasuke,"

.

TBC

.

Iya tau ko tau.

Udah berapa lama saya gak nongol di sini?

Terlebih pas saya baca reviuw di fic sebelah yang cukup bikin saya ketawa terbahak-bahak.

Ga nyangka juga ada yang suka sama fic ini padahal dulunya saya pesimis banget buat publish. Tapi sayang reviuwnya Cuma sedikit *plak.

Haha oke saya juga ga mau terlalu banyak ngetik buat A/N ini. Cape broo ngetik berjam-jam sampe mata merah pula.

Sengaja ya saya nongolin Sasuke di chap ini. Oh ya ada yang ngira kalo yang nguntit SasoSakuGaa itu Sasuke ya? Haha bukan ko. Dia itu Idate. Saya bikin karakter dia di sini jadi orang yang ceroboh. Dan sebenernya di manfaatin sama seseorang wkwk.

Ending gimana? Ga maksa kan? Plis bilang ga! *nak

Semoga chap ini memuaskan ya. Ini bentuk maaf saya karena belum update dari chap terakhir. Saya kena WB parah.

Maaf juga ga bisa bales satu-satu. Maaf banget yaaa~~ makasih banyak buat yg reviuw. *pelukciumsatu-satu*

Kritik dan saran di tunggu. Flame juga boleh, tapi inget! Yang membangun! Bukan yang menjatuhkan.

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentarnya~

Sign,

M.