Silence In The Dark
Chapter 3
.
.
.
Ada beberapa factor mengapa kondisi pagi ini begitu berbeda dengan pagi hari biasanya. Bukan hanya karena dua orang misterius yang mulai bergabung dengan Sakura, Sasori dan Gaara, namun pernyataan Sasuke yang mampu menarik hampir seluruh atensi yang ada di koridor barat lantai dua ini.
Uchiha.
Mereka semua tak mungkin tak kenal dengan klan tersebut, terlebih saat beberapa dari mereka yang saat ini sedikit membungkukkan badannya pada Sasuke. Sedangkan sisanya, para manusia, yang tak mengerti dan hanya tahu sedikit tentang Uchiha memandang pemuda berparas rupawan itu dengan mata berbinar —tanpa membuat kedipan mata sama sekali.
Uchiha adalah klan yang katanya klan paling tua di Jepang, disusul dengan Hyuuga, Nara, Uzumaki dan Haruno. Klan yang masuk dalam legenda nyata meliputi sejarah berdirinya Konoha. Memiliki banyak relasi bisnis di segala penjuru. Bukan hanya itu, keelokan rupawan setiap anggotanya bukan lagi rahasia pribadi. Bercirikan rambut dan mata hitamnya yang amat kelam, juga kulit pucatnya yang kontras dengan warna tadi.
Maka jika sekarang banyak orang-orang di sini yang kaget, itu bukanlah suatu hal yang luar biasa. Seorang anggota klan Uchiha mendapat sambutan seperti ini adalah hal yang lumrah.
Yang membuatnya luar biasa adalah, ketika dengan entengnya Sasuke mengumumkan bahwa Sakura adalah tunangannya. Berita ini banyak yang enggan untuk mempercayainya. Haruno Sakura, si gadis es itu memiliki tunangan yang bahkan tak main-main statusnya. Dibawa langsung ke sekolah yang sangat amat jelas membuat siswa dan siswi langsung undur diri sebelum maju untuk mendekati salah satu diantara keduanya —pagi yang indah hari ini harus diisi dengan berbagai macam kejutan.
Idate sendiri harus mengalirkan keringat dingin di pelipisnya. Bukan, bukan karena mata merah Sasuke yang kali ini aktif secara terang-terangan, —beruntung para manusia tak sadar— namun karena auranya sebagai vampire penguasa begitu kental. Idate mulai mengatur dirinya yang bergetar dan —suara bel mengusik aksi lempar aura tersebut.
Sasuke dan Sakura kembali berjalan tanpa memperdulikan Idate dan yang lainnya —menoleh pun enggan. Idate menghela nafas untuk ini. Sejujurnya Ia takut menghadapi Sasuke, terlebih tentang kekuatan turun-temurun klan Uchiha yang begitu dahsyatnya. Ia juga tak menyangka Haruno membangun kerja sama dengan Uchiha. Dan tentunya akan semakin sulit baginya untuk menjalankan rencananya jika Sakura sudah di lindungi oleh Uchiha.
.
.
Temui aku di tempat biasa.
Pesan Sasori di terima oleh Sakura saat pelajaran berakhir. Di sampingnya duduk Sasuke yang tengah memandang keluar jendela dengan wajah tanpa ekspresinya.
Sakura segera mengambil persediaannya dan berdiri. Sasuke menoleh dan mendongak menatap Sakura yang mulai berjalan. Tanpa gadis itu berkata pun, Sasuke tahu kalau gadis itu akan bertemu dengan Sasori. Ia berdiri dan mengikuti gadis itu dan berjalan di sampingnya. Sedangkan gadis-gadis yang tadi hendak menghampirinya langsung mendesah kecewa atas kepergian si anak baru itu.
Di jalan pun beberapa orang memberi hormat dengan membungkuk pada keduanya. Sasuke dan Sakura hanya berjalan lurus tanpa memberi balasan. Mungkin ini terdengar begitu frontal, namun dalam bangsa lain pun etika tak bisa dipatahkan hanya karena masalah tempat umum. Maka dari itu beberapa yang sejenis dengan mereka tetap menunjukkan rasa hormatnya —meskipun setelahnya mereka akan mendapat pertanyaan dari teman-temannya.
"Sasori?" tanya Sasuke pada Sakura yang berjalan di depannya.
Sakura hanya mengangguk sekali sebagai jawaban. Emerald nya melirik Sasuke yang sekarang nampak memperhatikan lapangan dibawah yang cukup luas dengan wajah dataranya seperti biasa.
"Sepertinya penting," Sakura memulai.
"Hn," Sasuke menggumam. Mereka mulai menaiki tangga menuju ke atap sekolah tempat mereka akan bertemu dengan Sasori. "Hanya kita berdua?"
"Gaara mungkin masih di kelasnya." Kata Sakura. "bagaimana dengan Itachi?"
"Sasori pasti bersamanya,"
Kalimat datar Sasuke tak disahuti oleh Sakura. Mereka telah sampai di depan pintu atap dan Sasuke membukakan pintu tersebut. Angin-angin panas sekaligus sejuk langsung membelai kulit mereka. Dan disanalah dua orang pemuda berperawakan tinggi sedang berbicara sesuatu yang nampak begitu serius.
Sasori lebih dulu menyadari kehadiran dua sejoli itu diikuti dengan si pemuda berkuncir di sebelahnya. Ekspresi keduanya sama sekali tak berubah sedikit pun.
Sakura dan Sasuke berjalan kearah mereka berdua. Gadis berparas pucat itu nampak begitu mungil diantara tubuh tiga orang laki-laki yang menjulang ini. Setelah berdiri tepat di depan Sasori dan Itachi, Sakura segera berojigi sebagai tanda hormat pada Itachi. Bagaimana pun juga, keluarganya mengajarkan etika yang membuatnya harus tetap hormat pada sesama darah murni. Terlebih Itachi beberapa tahun lebih tua dari padanya.
"Tak perlu seformal itu," kata Itachi. Suaranya terdengar begitu ramah yang selaras dengan seulas senyum tipis diwajahnya. Berbeda dari saat bertemu pertama kali. "kita sama-sama darah murni,"
Sakura mengangguk sekali sebagai jawaban dan mengalihkan emeraldnya ke Sasori. "Ada apa?"
"Idate sudah semakin bertindak." jawab Sasori. Ia bersender pada kawat jaring dibelakangnya. "Apa rencanamu sekarang?
Dahi Sakura berkerut. "Semakin bertindak?"
"Aku sudah memperingatkanmu dari jauh-jauh hari. Tapi kau tak mengacuhkannya." Kini Sasori melirik Sasuke yang berdiri di sebelah Sakura. "Apa kau sudah menemukan cara untuk membantu gadis kecil ini?"
"Aku belum tahu banyak mengenai sekolah ini." Kata Sasuke datar. "Kau tak pernah bilang banyak vampire bangsawan disini. Itu akan menyulitkanku untuk membantu kalian."
Sakura menoleh dan mendongak menatap Sasuke yang jauh lebih tinggi darinya. "Bukankah itu hal bagus? Mereka akan menjadi pion kita."
"Mungkin. Para bangsawan tak pernah memihak jika tak ada yang memprovokasi. Kita memang berkuasa, tapi dibalik kekuasaan kita selalu ada yang berusaha mendorong hingga jatuh dengan cara mengendalikan apa yang ada dibelakang kita. Dan para bangsawan itu salah satunya." Itachi menginterupsi.
"Idate sudah mengetahui semua tentang bangsa kita. Yang jelas, jika ada darah murni, pasti ada vampire bangsawan di sekitarnya. Dan menurutku kita hanya harus mencari cara mengendalikan mereka," Sasori menyahut.
"Tak perlu ambil pusing akan masalah itu." Gadis merah jambu itu mendesah lelah lalu berjalan menghampiri Sasori yang bersender pada kawat berjaring. "Kita hanya perlu mendoktrin mereka." Lanjutnya. Ia mengalungkan tangannya pada Sasori dan segera menancapkan taring tajamnya pada leher Sasori.
Sasuke dan Itachi melihat betapa hausnya gadis itu. Sejak awal mereka melihat kulit sang penerus Tsunade, Uchiha bersaudara itu dapat menyimpulkan kalau Sakura kelaparan. Terlebih Itachi yang baru saja mendengar betapa keras kepalanya Sakura yang ternyata tak pernah makan hampir enam bulan.
Sasori sendiri mulai heran dengan Sakura yang tiba-tiba kelaparan seperti ini. Hazel nyamelirik Sakura yang kepalanya terbenam pada lehernya. Padahal baru pagi tadi Ia meminum darah dari Gaara dengan cara yang, yah, menurutnya diluar dugaan. Tapi setidaknya darah itu cukup untuk tiga hari tanpa makan.
Ia menggulirkan pandangannya pada Sasuke dan Itachi yang sedang berbincang serius.
"Maaf, adikku sedang tak sehat akhir-akhir ini." Sasori berkata. "Ku harap kalian tak menaruh nafsu karna bau darah ini."
Itachi mengangguk maklum. Berbeda dengan Sasuke yang memandangnya datar seolah meminta alasan lebih.
"Kurang makan." Kakak Sakura itu menjawab tuntutan mata Sasuke. Tangannya mengelus helai-helai pink adik tercintanya.
Sasuke tak menyahut dan hanya memperhatikan punggung kecil gadis mungil yang sedang memeluk leher Sasori. Namun tak berapa lama perhatiannya terpecah saat pintu terbuka dan menampakkan sesosok pemuda berkepala merah dan gadis dengan surai yang sama.
"Maaf kami terlambat," kata si gadis. Ia menyibakkan rambut merahnya dengan gaya angkuh. "Kami harus berhadapan dengan Kurenai-sensei. Ya tuhan, ku pikir ada masalah penting sampai-sampai aku harus berhadapan dengan wanita itu." Bibir merah itu terus saja mengoceh tanpa mengucapkan salam seperti biasanya.
"Maaf soal itu." Kata Gaara datar meneruskan permintaan maaf si gadis merah. "Karin terlalu nafsu sampai tak bisa menahan diri untuk makan di rumah."
Karin hanya memutar bola matanya. "Tak perlu kau jelaskan, Panda." Lalu iris rubynya menangkap dua orang asing yang sedang menatapnya datar. "Siapa kalian?"
"Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke." Sasori menjawab. Membuat Karin menaruh perhatian padanya. "Mereka yang akan membantu kita dalam misi ini,"
"Wah, jadi kalian?" Karin menghampiri keduanya dengan mata berbinar. "Kenalkan, aku Haruno Karin. Kembaran Sasori dan kakak Sakura."
Setelah membungkuk hormat pada Uchiha bersaudara yang maha agung itu, Karin mendapati Sakura yang masih asik dengan leher Sasori. Beberapa minggu tak bertemu dengan adik tercintanya membuatnya mau tak mau mengernyitkan alisnya heran. Ia sudah mendengarnya dari ayah dan ibunya tadi pagi dan cukup kesal dengan tingkah adiknya yang seolah tak ingin hidup. Tangan lentiknya membenarkan letak kacamatanya. Tapi Ia tak mau ambil pusing dan membuat perkumpulan mereka sekarang ini sia-sia karna sudah banyak waktu yang terbuang. Baginya, asal Sakura sehat dan baik-baik saja, itu lebih dari cukup.
"Jadi, apa kita sudah punya rencana? Aku sudah menyelidiki Idate dan mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Tapi sebagai gantinya, aku sudah membuat chip kecil dan berhasil aku letakkan pada gelang yang dia pakai setiap hari," Kata Karin membuka topik yang mulai serius.
"Kami belum memutuskan apapun. Sakura masih belum pulih benar. Apa yang kau dapat?" Sasori menyahut.
Karin merogoh sesuatu dari kantung bajunya dan menunjukkannya sambil menggoyangkan ke kiri dan ke kanan pada semua orang yang ada di sana. "Idate tak bekerja sendiri." Satu pernyataan yang sudah diduga oleh semuanya. "Lebih tepatnya dia di perintah. Kupikir kita semua sudah tahu siapa orang ini, bukan?"
"Besok pagi, aku dan Gaara akan pergi ke lab dan mengintai Idate lewat chip yang sudah aku pasang secara diam-diam. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, chip ini bisa mendeteksi pergerakan sehingga jika Idate melepaskan gelang itu, benda kecil ini akan berpindah ketempat yang lebih aman sebelum gelang itu dilepas. Ini juga bisa merekam lokasi yang dikunjungi Idate jika kita belum terhubung dengannya. Tapi aku sedikit mengalami kesulitan."
"Apa itu?" tanya Sakura yang baru selesai dengan aktifitasnya dan menyeka sudut bibirnya.
"Hee, kau sudah selesai? Cepat sekali," Karin memandang heran adiknya beberapa detik sebelum melanjutkan penjelasannya. "Yah, setiap barang ciptaan memiliki kelemahan. Chip ini hanya tahan tiga hari dan akan lepas dari Idate."Ia berjalan menghampiri Sakura dan mengulurkan tangannya. "Kau mau darahku?"
Gadis pink itu menggeleng sekali. "Domo," Ia menyahut dan memikirkan ucapan Karin tentang chip tersebut. "Itu lebih dari cukup untuk mendapatkan sedikit informasi apa yang dikerjakannya." Sakura menoleh pada Sasori. "Bukankah Idate itu manusia? Untuk apa dia bekerja sama dengan orang itu?"
"Entahlah, tapi kupikir Idate hanya dimanfaatkan. Kau tahu, jika manusia selalu menginginkan keabadian dan vampire selalu bisa memberikannya. Mungkin dia menjanjikan hal itu pada Idate." Karin menjelaskan lagi.
"Aku dan Sakura akan mengikuti Idate sebagai langkah awal," Sasuke yang sedari awal diam mulai terlihat aktif. Permainan ini sedikit membuatnya tertarik. Terlebih orang itu pernah mengincar dirinya dan Itachi sebagai budak. Dan sebagai Uchiha dia tak pernah mau direndahkan sebagai budak. Maka dendam lah yang sekarang mulai mengakar dibenaknya.
Karin menjentikkan jarinya. "Ide bagus. Tapi sepertinya itu akan sulit mengingat kalian berdua mempunyai aura yang sangat kuat sebagai darah murni. Asal kalian semua tahu, Idate mempunyai kemampuan mendeteksi vampire darah murni dengan penciumannya. Karena itu dia langsung mengetahui keberadaan Sakura. Meskipun harus dipancing."
Gadis berwajah angkuh itu menoleh pada Sasori yang nampak tengah berbincang dengan Gaara dan Itachi."Sasori, kau tidak terlalu sibuk, 'kan? Temani kami saat di lab nanti."
Sasori langsung menoleh dan mengangguk singkat dan melanjutkan perbincangannya dengan dua orang tadi. Karin pun merasa informasi tadi sudah lebih dari cukup untuk diberitahukan kepada Sasori dan Sakura. Ia melirik jam tangannya lalu membetulkan letak kaca matanya.
"Sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin kusampaikan, tapi tadi aku terlambat dan membuat banyak waktu yang terbuang. Jadi kupikir pertemuan ini sudah waktunya dibubarkan."
"Baiklah. Besok pagi kita berkumpul dirumahku dan mulai mengintai Idate. Sasuke dan aku akan ikut ke lab untuk rencana selanjutnya," Kata Sakura sambil menatap satu persatu wajah yang ada di sana.
Semua mengangguk singkat dan berjalan meninggalkan Sakura dan Sasuke. Sakura menatap punggung mereka dengan tatapan datarnya
"Tugasku semakin berat," Sakura mendesah lelah dan menyandar pada tembok ketika yang lainnya sudah meninggalkan atap tersebut. Sasuke sendiri hanya menatapnya datar.
"Kau tak sendiri."
"Ya. Memang. Kadang menjadi seorang titisan bukanlah hal yang menyenangkan, meskipun di sisi lain aku mendapat perlakuan spesial,"
Sasuke mengacak rambut Sakura singkat dan menatapnya. Sasuke memang bukan tipe pemuda yang peka akan perasaan seorang gadis, namun Ia berusaha untuk mengerti beban berat yang ditanggung tunangannya ini. "Bersabarlah. Semua ini takkan berlangsung lama,"
"Ku harap begitu." Sakura menatap Sasuke yang kini menurunkan tangannya. "Terima kasih untuk bantuanmu,"
"Kau tunanganku." Ucap Sasuke. "sudah sepantasnya,"
"Kita bahkan baru berkenalan."
"Pertunangan ini akan mengenalkan kita satu sama lain. Bukan satu hal yang perlu di pusingkan,"
Pemuda bermanik onyx ini tak pernah main-main dengan ucapannya. Didikan keras dari Uchiha dan kelembutan sang Ibu membuatnya harus menghormati wanita, siapapun itu. Meski Sasuke tak pernah mencerminkannya pada gadis lain, norma-norma itu tetap Ia pegang. Terlebih Sakura adalah tunangannya.
Sakura tersenyum tipis menanggapi perlakuan Sasuke padanya. Meski hari ini adalah hari pertamanya menyandang status sebagai tunangan resmi Sasuke, Ia merasa nyaman di dekatnya. Pribadi Sasuke yang bisa dikatakan setipe dengannya membuat Sakura bisa beradaptasi begitu cepat sampai-sampai Sasori yang hendak berbalik untuk memanggil Sakura berhenti di depan pintu dan menatap keduanya dengan senyum tipisnya.
Sasuke sendiri juga merasa nyaman dengan Sakura. Seolah semua ini adalah jalan hidupnya yang sudah di saring sampai bersih dari perasaan yang membuatnya tak nyaman. Padahal sebelum di tunangkan dengan gadis musim semi ini, Ia benar-benar anti berdekatan dengan seorang gadis. Menurutnya, Sakura adalah gadis tenang dengan tingkat intelengensi tinggi. Ia tak seperti gadis yang kebanyakan tebar pesona saat di depannya.
Dan kata manis untuk Sakura membuatnya tertarik mengenal gadis ini.
"Sebaiknya kita kembali ke kelas, Bel sudah berbunyi," ucap Sasuke.
Sakura mengangguk singkat dan mulai berjalan di samping Sasuke yang berjalan pelan demi mengimbangi langkah mungil Sakura. Kaki jenjang keduanya menuruni tangga. Mereka berdua tak berniat mencuri perhatian yang membuat khalayak menjatuhkan atensi pada sejoli ini. Keduanya nampak serasi dan sedap di pandang. Keelokan parasnya tak bisa di bantah. Keagungan pasangan darah murni yang mengeluarkan aura mencekam namun menarik perhatian siapapun yang melihatnya.
.. yang disambut dengan rasa hormat dari para pengikut setianya.
.
TBC
.
Sepertinya saya udah terlalu sering minta maaf atas keterlambatan n kegajean di setiap fic/chapter yang saya publish. #pelukdaiki.
Maaf deh sekali lagiii.. saya buruk kalo ngatur waktu. Nulis kalo lagi mood aja dan diksi lagi jalan-jalan dilingkungan kepala .
Saya percepet alurnya soalnya saya rencananya Cuma mau bikin kurang lebih 10 chapter. Semoga ga kecepetan alurnya.
Oya, disini Sasori dan Karin itu ceritanya kembar fraternal. Tau kan kembar fraternal itu apa? So, peran Karin di sini juga protagonis.
Kritik, saran sangat saya tunggu. Termasuk flame. Tapi yang membangun.
Apa endingnya gantung? Sasuke gimana? Keren dong pastinya /tsahhhh /geer.
Segitu dulu dari saya, kalo mau lebih jelasnya bisa review dan nanti saya bales lewat pm.
Jaaaa..
Sign,
M.
