Makasih untuk responnya di chap 1, ternyata banyak jg yg suka
Special Thank's to:
gothiclolita89, gwanshim84, yoon HyunWoon, Setyaeryna, lipminnie, KimYcha Kyuu, riska0122, Nevv YunJeJe, Vic89, kim eun neul, Nony, Gyujiji, Vivi, kim anna shinotsuke, ifa. , twink, Taeripark, Handa92YJ, mimi, CuteXIAH, n Guests.
Silahkan tinggalkan jejaknya lagi jika berkenan. But, ini Geje tingkat Dong Bang, so.. DON'T LIKE DON'T READ okay!? ;-)
Title : It's Fated
Writer : Nickey Jung Rae Suk
Cast : YunJae-Min, YooSu, Kim Jaehee (Jaejoong's Nuna), Shim (Jung) Jaeyoon, Jessica Jung (SNSD), Joseph Cheng, etc.
Rating : T (PG 17)
Genre : YAOI, Lil bit Straight, Friendship, Romance, MPreg ^^
Lenght : 2 of ?
Disclaimer : YunHo MILIK JaeJoong, JaeJoong MILIK YunHo, Cerita ini ASLI MILIK saya.
Warning : YAOI, BOY x BOY, Boys Love, OOC tingkat DongBang, Typo(s), Ide pasaran, EYD kacau, Judul ga sesuai dg cerita, No Majas, Alur lambat-kadang cepet, TIDAK SUKA JANGAN BACA - NO BASH.
.
.
.
~*It's Fated by nickeYJung*~
Chapter 2
Incheon, Juny 2009
Namja cantik bermata bulat itu menatap nanar selembar kertas di genggamannya. Sebuah surat hasil pemeriksaannya yang ia lakukan tadi pagi.
Tiga hari yang lalu Jaejoong mengeluh sakit perut dan pusing. Memang sejak seminggu terakhir, Jaejoong sering muntah di pagi dan malam hari, terlebih saat ia selesai menyikat gigi.
Awalnya namja cantik itu mengira hanya masuk angin biasa, namun Kim Jaehee –Nunanya menyuruhnya untuk diperiksa ke dokter , apalagi Jaejoong sering mengeluh sakit pada bagian perut bawahnya, seperti keram.
Dan tadi pagi dengan sangat terpaksa Jaejoong pun pergi ke rumah sakit.
Awalnya namja cantik itu merasa sedikit bingung saat dokter yang didatanginya malah merujuknya ke dokter spesialis kandungan. Meskipun merasa aneh, namun Jaejoong tak mau ambil pusing, ia pun menurut. Dan setelah diperiksa selama hampir satu jam, dengan proses yang sangat berbelit –menurutnya, akhirnya dokter itu memberitahukan tentang 'penyakitnya'.
Kim Jaejoong
22 Years old
Male Pregnancy
.
.
.
Jaejoong menunduk dalam-dalam. Namja cantik itu sungguh tak kuasa untuk sekedar melihat wajah sang kakak. Bukannya Jaejoong takut, hanya saja ia tak tega jika harus melihat raut kekecewaan nunanya.
Hampir lima belas menit Jaejoong menundukan kepalanya, namun ia tak mendengar sepatah katapun keluar dari mulut Jaehee. Hanya suara helaan nafas yang terdengar normal.
Apa nunanya sangat kecewa hingga ia tak mampu berucap sepatah katapun?
PLAK!
"Ouch!" Jaejoong mengerang sakit ketika tiba-tiba saja Jaehee memukul kepalanya. " –Weiresseyo?~~" Jaejoong mengusap-usap kepalanya, meskipun tidak begitu sakit, namun ia cukup terkejut dengan tindakan Jaehee itu.
"Kenapa kau melakukannya sebelum menikah eoh? Apa aku pernah mengajarkanmu berbuat mesum?!" Cecar Jaehee berkacak pinggang. Yeoja cantik yang berselisih lima tahun dari Jaejoong itu menatap sangar adiknya.
"Itu... Aku..."
"Aigoo~ Jadi selama ini Umma tak berbohong kalau kau memang bisa mengandung?" Ujar Jaehee menghela nafas. Yeoja cantik yang hampir mirip dengan Jaejoong itu menghempaskan tubuhnya ke sofa dan memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja merasa berdenyut.
Jaejoong sendiri hanya diam, ia memang mengaku salah. Tapi...
"Chamkkan! Kau bilang apa? Umma tak bohong? Maksud nuna, Umma tahu kalau aku..."
"Hahhh..." Jaehee menghembuskan nafas berat. " –Sebelum meninggal uri Umma pernah memberitahuku jika kau itu namja istimewa. Kau mempunyai rahim dan bisa mengandung jika ada yang membuahi. Maka dari itu Umma memintaku agar menjaga dan menghindarkanmu dari namja-namja penyuka sesama sebelum waktunya..." Terang Jaehee. " –Tunggu!... Kim Jaejoong, apa kau gay?"
"Mwo? Michyeonya? Aku ini normal! Aku masih menyukai yeoja berpantat sexy. Nuna jangan sembarangan yah!"
BUGH!
Kali ini sebuah bantal kursi melayang dan tepat menghantam kepala Jaejoong.
"Yya!"
"Kau bilang normal eoh? Lalu kenapa kau bisa hamil? Memangnya siapa wanita yang bisa menghamilimu? Ppabo Kim!"
Jaejoong tak bisa menjawab, namja cantik itu hanya mengerucutkan bibirnya. Perkataan Jaehee memang ada benarnya. Mana ada yeoja yang bisa menghamili seorang namja.
"Lalu... apa yang harus aku lakukan?" Lirih Jaejoong. " –Ah, aku tahu! Aku akan mengugurkannya"
BUGH!
Untuk yang kedua kalinya, Jaehee melemparkan bantal kursi ke arah Jaejoong. "Jika kau melakukan itu, akan kupastikan nyawamu melayang Kim Jaejoong!" Teriak Jaehee mengancam.
"Lalu aku harus bagaimana? Membesarkan anak ini sendiri? Oh ayolah Nuna, aku ini namja. Bagaiman mungkin aku harus membiarkan jabang bayi ini tumbuh di perutku? Apa kata yeoja-yeoja nanti? Mereka pasti akan merasa jijik padaku. Dan lagi... perut sixpack-ku..." Jaejoong menatap iba perutnya yang kini terlihat sedikit melar.
"Katakan, siapa yang menghamilimu?" Tanya Jaehee membuat Jaejoong tertegun.
"Itu... Aku tak bisa mengatakannya" Jawab Jaejoong menggeleng.
"Wae?~~ Apa kau diperkosa?"
"Ye? Aniya~~"
"Lalu kenapa kau tak mau mengatakannya eoh?"
"Itu... dia... itu... Aish... Aku tak bisa mengatakannya!" Ujar Jaejoong sedikit menghardik.
"Kalau kau tak mengatakannya, bagaimana bisa kita meminta tanggung jawabnya?" Teriak Jaehee tak kalah nyaring. Rumah sederhana itu menjadi ramai karena teriakan kedua kakak beradik itu.
Sejenak keduanya terdiam. Jaehee menormalkan nafasnya yang menderu.
"Hahh ... Baiklah, kalau kau tak mau memberitahuku siapa ayah dari janin itu, gwaenchana.. tapi Kim Jaejoong, kau harus mencari namja yang bersedia menikahimu untuk menjadi ayah dari bayimu kelak." Putus Jaehee.
"Mwo?"
"Kau tahu Jaejoong-ah... Kau itu berbeda dari namja kebanyakan. Tuhan menitipkan rahim di tubuhmu, dan hampir semua hormon yang ada ditubuhmu pun sama seperti hormon yang dimiliki yeoja. Mungkin bisa dibilang kau yeoja yang terperangkap di tubuh seorang namja.. Dan kita tahu, Tuhan tak akan begitu saja memberimu kelebihan jika itu hanya akan membuatmu susah, karena Tuhan mempunyai cara yang berbeda dalam menyayangi umatnya." Ceramah Jaehee dengan nada yang lebih lembut. " –Kalaupun sekarang kau menolak, pada akhirnya kau tetap harus menikah dengan seorang namja" imbuhnya membuat Jaejoong melongo tak percaya.
"Bukankah aku bisa menikah dengan seorang yeoja? Mungkin sekarang aku... aku terpaksa akan melahirkan anak ini, tapi nanti aku akan mencari yeoja yang mau menjadi ibu dari anakku" Jaejoong mengeluarkan pendapatnya, meski ia tak yakin akan ada wanita yang mau, tapi itu lebih baik bukan daripada harus menikah dengan seorang pria?
"Kalau ada yang mau, bagaimana kalau tidak ada?" Tanya Jaehee membuat Jaejoong menatapnya. " –Setiap wanita yang sudah menikah pasti menginginkan memiliki keturunan yang ia lahirkan dari rahimnya. Kecuali jika wanita itu bodoh. Dan kau, kau tak akan bisa membuat istrimu hamil nanti. Karena kau hanya bisa dibuahi, tidak bisa membuahi."
"A –apa?"
"Aku tak mengarang cerita... kalau kau masih tak percaya, aku akan menunjukkan surat kesehatanmu yang dititipkan umma dulu. Kau memang seorang namja Jae, tapi seperti itulah keadaanmu... dan ini sudah ditakdirkan."
Seperti tersengat ribuan lebah, Jaejoong tertegun mendengar semua penuturan Jaehee.
Ditakdirkan?
Takdir yang seperti apa ini?
'Ini benar-benar konyol!' Batin Jaejoong tertawa meremehkan.
Mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing. Sejatinya Jaehee merasa kasihan pada adik semata wayangnya itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini memang takdir Jaejoong.
"Aku bersedia menjadi ayah dari anak itu"
DEG
Jaejoong dan Jaehee spontan menoleh ke arah pintu depan, dimana suara itu berasal. "Kau- Apa yang kau lakukan di sini Shim Changmin?" Ujar keduanya kompak seperti paduan suara.
Namja tinggi yang di panggil Shim Changmin itu hanya menggaruk tengkuknya salah tingkah.
"Err... Aku ke sini untuk bertemu Jaejoong, dan... aku minta maaf karena mendengar perrcakapan kalian" Changmin tersenyum lima jari.
Jaejoong dan Jaehee berpandangan.
"Lalu, apa maksudmu bersedia menjadi ayah dari anak Jaejoong?" Tanya Jaehee mengulang ucapan Changmin sebelumnya.
"Itu... aku, aku akan menikahi Jaejoong"
"Mwo? Jangan gila Changmin-ah" Jaejoong terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Tapi aku serius" Ucap Changmin tegas.
"Geundae wae? Apa kau menyukaiku?"
"Aniya.. hajiman...." Changmin menggigit bibir atasnya. " –Pokoknya aku bersedia menikahimu. Geokjeonghajima Jaejoong-ah... kita akan membesarkan anak itu bersama" Imbuh Changmin kembali tersenyum. Sementara Jaejoong dan Jaehee hanya bisa menganga mendengar ucapan namja tinggi itu.
.
.
.
Upacara pernikahan itu berjalan lancar. Tak ada pesta mewah yang mereka gelar. Pernikahan Jaejoong dan Changmin terkesan sederhana. Hanya orang tua dan kerabat dekat Changmin serta kerabat dekat Jaejoong, termasuk Yoochun dan Junsu yang hadir.
Awalnya Yoochun dan Junsu terkejut saat tahu Jaejoong dan Changmin akan menikah. Pikiran mereka sama 'Kapan Jaejoong dan Changmin berbelok seperti mereka?'. Namun setelah mendengar kalau Jaejoong sudah hamil, mereka bisa mengerti meski masih merasa aneh karena Jaejoong yang jelas-jelas seorang namja bisa mengandung.
Begitupula orangtua Changmin. Awalnya mereka ragu, namun setelah tahu jika anaknya menghamili namja cantik itu, akhirnya mereka menyetujui, toh yang penting mereka mendapatkan penerus keluarganya kelak. Dan lagi orangtua dan kakak-kakak Changmin tidak begitu mempermasalahkan kehidupan Changmin, mereka terkesan membebaskan apa yang ingin Changmin lakukan, selama namja tinggi itu tidak terjerumus dalam kejahatan.
Ya, yang mereka tahu, bayi yang dikandung Jaejoong adalah darah daging Changmin. Karena Jaejoong tetap menutup mulut tak mau memberitahu siapa ayah biologis anak itu, maka Jaehee dan Changmin sepakat untuk merahasiakan identitas asli jabang bayi itu.
"Kenapa kau harus mengaku, kalau kau yang menghamiliku eoh?" Jaejoong menggerutu. Jujur saja ia tak setuju dengan Jaehee dan Changmin yang bilang pada semua orang jika jabang bayi yang ia kandung adalah darah daging Changmin.
"Waeyo? Bukankah aku yang menjadi suamimu? Apa kata orang nanti kalau tahu kau mengandung anak –yang entah siapa ayah dari bayi itu, tapi malah aku yang menikahimu. Apa kau tak malu?" Jawab Changmin balik bertanya seraya menekan kalimat 'yang entah siapa ayah bayi itu'. Namja tinggi itu membuka tuxsedonya dan menyampirkannya di sofa yang ada di kamar pengantin itu.
"Tapi..." Jaejoong menggantungkan ucapannya. Ucapan Changmin memang benar, ia akan lebih malu jika orang –orang tahu dirinya mengandung anak orang lain tapi malah menikah dengan Changmin.
Jaejoong memperhatikan Changmin yang kini mulai melepaskan kancing kemejanya satu persatu. "Changmin-ah..." panggilnya lirih. " –Kenapa, kenapa kau bersedia menikahiku...?" Jaejoong mengulang pertanyaan yang sama seperti kemarin-kemarin sejak Changmin mengatakan bersedia menikahinya.
Changmin melirik Jaejoong yang tengah duduk di pinggir tempat tidur. Namja tinggi itu menyeringai melihat raut keingintahuan namja yang kini sudah sah menjadi 'istrinya' itu.
"Apa kau sangat ingin tahu hum?" Changmin menghampiri Jaejoong, senyum evilnya masih ia pamerkan.
"N-ne.." Jaejoong yang melihat seringai evil di wajah Changmin menjadi gugup.
Changmin semakin mendekat. Dan kini tubuhnya tepat berada di hadapn Jaejoong. Namja berwajah kekanakan itu membungkukkan badannya hingga kini jarak wajahnya dengan wajah Jaejoong hanya beberapa centi saja.
Jaejoong semakin gugup. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.
"Aku mau menikahimu karena..." Hembusan nafas Changmin sangat terasa sehingga Jaejoong bisa mencium bau beraneka makanan dari mulut Changmin (-_-) " –Karena aku menyukai—" Changmin ingin tertawa melihat wajah pucat di depannya. " –Karena aku menyukai masakanmu" Namja tinggi itu kembali menegakkan tubuhnya dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil handuk.
Jaejoong masih terdiam, ia mengerjapkan mata doenya berkali-kali –mencerna ucapan Changmin.
"Apa? Kau menikahiku hanya karena itu?" Seru Jaejoong setelah ia sadar dari lola-nya.
"Tks, tak usah terharu seperti itu Jae"
"Aku bukan terharu Shim!"
"Hahaha, arrasseo..." Changmin tertawa melihat Jaejoong yang marah seperti itu. " –Kau tahu Jae, aku sangat menyukai masakanmu. Aku sempat berpikir, bagaimana caranya aku bisa memilikimu agar aku selalu dimanjakan oleh masakan-masakanmu itu. Ck, kalau saja kita tak menikah, tadinya aku ingin menjadikanmu koki di rumahku"
"MWO?"
"Tapi ternyata Tuhan memberiku jalan seperti ini, menikahimu. Tuhan memang baik" Changmin terkekeh renyah.
"Apa kau pikir pernikahan sebuah main- main huh? Bagaimana bisa kau menikahiku hanya karena kau –kau.. menyukai masakanku...?" Jaejoong tak habis pikir dengan namja di depannya itu. Jadi itu alasan Changmin menikahinya? Oh Bear...
"Lalu, apa kau berharap aku menyukaimu?"
"Aniya!" Sergah Jaejoong cepat. " –Geundae... aishh... harusnya aku tak menyetujui untuk menikah dengan namja aneh sepertimu" Rutuk Jaejoong mengacak-acak rambutnya, merasa tertipu namja evil di depannya.
"Hahaha... tenang saja Jae.. kita buat kesepakatan. Eottae?" Changmin mengerling, sedangkan Jaejoong mendelik.
"Kesepakatan?"
Changmin menghampiri Jaejoong kembali dan duduk di samping namja cantik itu.
"Jika salah satu di antara kita jatuh cinta, maka kita harus mempertahankan pernikahan kita... yaaa walaupun aku tak yakin, karena aku hanya jatuh cinta pada masakanmu saja... Tapi jika kita sudah menemukan belahan jiwa kita, kita akan bercerai"
"Michyeo-"
"Dengarkan aku dulu" Potong Changmin. " –Bukankah kita berteman? Kita pasti bisa melakukannya dengan baik. Untuk kedepannya kita pikirkan nanti, yang pasti sekarang kau jaga kandunganmu dengan baik, lahirkan anak dengan sehat. Kau tenag saja, aku akan menyayangi anakmu seperti darah dagingku... Biarkan ini mengalir seperti air yang mengalir di tenggorokanku ketika aku minum"
Awalnya Jaejoong dibuat terharu mendengar ucapan Changmin, namun ucapan terakhir Changmin membuatnya sweetdrop, perumpamaan macam apa itu?
"Bagaimana?"
"Terserahlah..." Jawab Jaejoong akhirnya, ia hanya bisa pasrah pada takdirnya sekarang. " –Aku mau tidur" Jaejoong yang memang sudah berganti pakaian terlebih dulu langsung saja naik keatas ranjang dan merebahkan diri.
"Bukankah ini malam pertama kita? Bagaimana kalau kita bermain terlebih dulu?" Kerling Changmin membuat mata Jaejoong yang tadi sempat terpejam terbuka lagi.
Buaghh!
Dengan sadis, Jaejoong melemparkan bantal yang tadi ditidurinya tepat mengenai wajah tampan Changmin. "Dalam mimpimu saja!"
Dan sejak saat itu Jaejoong dan Changmin menjalani kehidupan layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Selama Jaejoong hamil Changmin memang tak pernah 'menyentuh' Jaejoong. Lagi pula Jaejoong menolak. Dengan alasan ia seorang pria yang tak mau ada di pihak bawah. Cukup saat ayah bayinya saja yang 'menusuknya', ia tak ingin 'ditusuk' untuk yang kedua, ani entahlah yang keberapa kalinya –karena ia tak ingat berapa kali Yunho menusuknya malam itu.
Tapi seiring berjalannya waktu – tepatnya setahun setelah bayi perempuan yang diberi nama Shim Jaeyoon itu lahir, dengan dalih mereka adalah laki-laki yang mempunyai nafsu birahi, apalagi di usianya yang sedang ranum-ranumnya, Jaejoong dan Changminpun akhirnya melakukan hubungan suami istri juga –walau tidak sesering pasangan biasanya.
Awalnya Jaejoong menolak ada di pihak bawah (lagi), namun karena bujukan Changmin yang mengatakan 'Dirinya ditakdirkan untuk menjadi yang di bawah' akhirnya Jaejoong kembali pasrah. Namun sebelum melakukan hal yang bergairah itu, terlebih dulu mereka sengaja meminum minuman beralkohol tinggi sampai keduanya mabuk, hingga proses itu terjadi mereka tak mengingat apapun. Well, meski tak dipungkiri keduanya kadang mengingat remang-remang kegiatan yang menguras keringat itu.
.
.
.
~*It's Fated by nickeYJung*~
Yunho menatap bangunan di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Setelah beristirahat –tidur selama beberapa jam di apartement Yoochun, Yunho memutuskan untuk menemui sahabat lamanya yang lain. Sebenarya ia masih tidak mengerti, kenapa dirinya ingin cepat bertemu dengan sahabatnya itu, padahal ia masih merasakan sedikit pusing di kepalanya. Mungkin karena Yoochun dan Junsu bilang jika Jaejoong sudah menikah dengan Changmin, dan terlebih mereka sudah memiliki seorang anak yang terlahir dari rahim Jaejoong sendiri. Hey! Bukankah Jaejoong seorang namja? bagaimana bisa ia mengandung dan melahirkan?
Rasa penasaran itu membunuh rasa sakit di kepalanya, hingga Yunho memutuskan untuk menemui Jaejoong, atau mungkin Changmin di restoran yang tadi sempat diberitahu olehYoochun.
.
.
.
"Woaaa~ Xiao Zhong hao lihai yo..." (Woaa Xiao Zhong sangat hebat) Jaeyoon bertepuk tangan heboh melihat Xiao Zhong atau Joe yang sedang memasak dengan memamerkan keahliannya di depan yeoja cilik itu.
Dari pagi hingga siang hari Jaeyoon terus saja bolak-balik pantry dan ruangan 'Ummanya'. Yeoja cilik yang sebentar lagi berusia tiga tahun itu memang terbilang aktif, hingga membuat karyawan yang bekerja di restoran itu gemas dibuatnya.
"Xiao Zhong zhu de cai hen xiang.." (Masakan Xiao Zhong sangat harum)
"Ni yao?" (kau mau?) Tawar Joe pada Jaeyoon.
"Ke yi ma?" (Apakah boleh?) Tanya Jaeyoon antusias.
"Dengran le... Deng yi xia.." (Tentu saja.. Tunggu sebentar..) Joe mengambil sendok dan piring yang ada di samping kirinya. Mengambil sedikit masakan yang di buatnya tadi, lalu memberikannya pada Jaeyoon.
Jaeyoon menerimanya dengan senang hati. Dengan penuh semangat ia mengambil satu sendok penuh masakan itu dan meniupnya, kemudian mencicipinya pelan. "Em... hao chi, wo xihuan... xie xie ni Xiao Zhong..^^" (Em... Enak, aku suka, terimakasih Xiao Zhong) Seru yeoja cilik itu senang.
"Bu ke qi" Sahut Joe tak kalah senang. Ia senang jika yeoja cilik yang diketahui pengagumnya itu senang.
"Wah wah.. sepertinya anak appa sangat senang eoh?"
Rupanya sedari tadi Jaejoong melihat keakraban anak dan karyawannya itu.
"Daddy!" Seru Jaeyoon.
Jaejoong tersenyum menghampiri Jaeyoon dan mengacak rambut anaknya itu gemas.
"Annyeong Jaejoong-ssi.." sapa Joe ramah. Joe memang asli orang Taiwan, tapi ia mengerti dan sering menggunakan bahasa korea jika sedang berbicara dengan Jaejoong atau yang lainnya, kecuali dengan Jaeyoon. Terkadang mereka akan berbicara bahasa mandarin jika yeoja kecil itu memulainya. Memang ia sendiri yang mengajari Jaeyoon bahasa Cina itu sedikit-sedikit.
"Ne, pantas saja Jaeyoon mengagumimu, kau memang hebat Joe, aku tak menyesal mempercayakan jabatan koki utama padamu" Puji Jaejoong. Namja cantik itu memang mengagumi sosok Joe karena kelihaiannya dalam mengolah bahan makanan menjadi hidangan yang sangat lezat. Jaejoong memang paling senang jika ada namja yang menyukai kegiatan memasak, apalagi wajah namja itu tampan seperti Joe, tapi bukannya ia suka dengan namja keturunan Taiwan itu, ia hanya sebatas kangum saja.
"Ni tai tai ju wo le.." (Anda terlalu menyanjung saya)
"Tapi aku berkata benarkan? Haha.. sudahlah, silahkan kembali bekerja, aku akan mengamankan monster kecil ini"
"Shillo... Yoon masih mau di sini" Tolak Jaeyoon saat Jaejoong mengajaknya keluar pantry.
"Kita pulang sekarang, nanti Appa belikan gula kapas, ok?"
"Ga mau, Yoon mau di sini..." Rajuk Jaeyoon mencebilkan bibir cherrynya.
"Tapi—"
"Oppa, ada yang mencarimu" Perkataan Jaejoong terputus saat pekerja wanitanya menghampirinya. Semua karyawan yang telah lama bekerja di sana memang memanggil Jaejoong dan Changmin 'Oppa atau Hyung' , kecuali jika mereka lebih tua.
"Siapa?" Bingung Jaejoong.
"Molla... dia bilang teman lamamu, ah, dia menunggu di ruang VIP nomor 5"
Jaejoong mengernyitkan keningnya berusaha menebak, kira-kira siapa teman lamanya yang dimaksud? "Kkajja Yoon, Appa ada tamu"
"Tapi..."
"Shim Jaeyoon"
"Nde..." Akhirnya Jaeyoon menurut. Ia memang paling takut jika 'Daddy-nya' sudah memanggil dengan nama lengkapnya. "Yoon pelgi dulu yah.. bye bye Xiao Zhong.." Pamitnya melambaikan tangan pada pujaan hatinya.
Joe tersenyum melihat 'keakraban' ibu dan anak itu. Ah, ia jadi merindukan seseorang di tanah kelahirannya. "Yi Chen..." gumamnya, dan namja tampan itu kembali meneruskan pekerjaannya.
.
.
.
Entah perasaan apa Jaejoong rasakan sekarang, senangkah? Kecewakah? Marahkah?
Yang jelas ia seperti tengah berada di alam mimpi.
Jaejoong terpaku melihat seseorang yang hampir empat tahun tak bertemu dengannya itu, kini ada dihadapannya. Seseorang yang ia rindukan –sebagai sahabat, seseorang yang sudah mengubah kehidupannya, dan seseorang yang menyebabkan yeoja cilik yang kini duduk di sampingnya itu ada.
"Ini... anakmu?"
Setelah beberapa saat hanya terdiam, Yunho mengeluarkan suaranya. Matanya memandang dengan seksama yeoja cilik yang tengah bermain dengan boneka Hello kitty yang cukup besar di pangkuannya, seolah tak peduli dengan atmosfer yang terasa menegangkan di ruangan itu.
"Ne" Jawab singkat Jaejoong. Ia masih memandang lekat wajah Yunho yang entah mengapa menurutnya lebih tampan berkali lipat dari empat tahun yang lalu.
"Jadi benar jika kau bisa mengandung dan melahirkan?"
"Darimana kau tahu aku di sini?" Jaejoong bertanya mengabaikan pertanyaan Yunho sebelumnya.
"Yoochun dan Junsu, aku pergi ke apartement Yoochun, tapi ternyata aku dikejutkan dengan—" Yunho menghentikan ucapannya, ia sedikit gugup ketika mata bulat Jaejoong terus menatapnya seolah hendak menelannya bulat-bulat. " –Sepertinya aku ketinggalan banyak cerita.. Apa kau mau menceritakannya padaku?" Dengan sedikit kikuk Yunho membalas tatapan Jaejoong.
"Kenapa aku harus menceritakannya? Apa kita masih bersahabat?"
"Jae,"
"Bukankah kau sudah melupakan kami? Kau bahkan tak pernah membalas email dari kami satupun. Sepertinya kau terlalu bahagia dengan kehidupan barumu hingga melupakan sahabat-sahabatmu" Ucap Jaejoong sarkastik.
"Tidak. Bukan seperti itu. Aku memang salah tak pernah menghubungi kalian, tapi sungguh bukannya aku ingin melupakan kalian, aku—"
"Empat tahun. Apa semenitpun tak ada waktu untuk kami?"
"Itu.. aku—"
"Dad, Yoon mau pulang... ngantuk"
Lagi, perkataan Yunho harus terpotong, dan kali ini Jaeyoon yang menyelanya. Yeoja cilik itu menguap, menutup mulut dengan punggung tangannya.
"Maaf, aku harus pulang"
"Tunggu! Jaejoong-ah... jebal... temani aku lebih lama lagi. Aku janji akan menceritakan alasan kepulanganku padamu" Tahan Yunho memohon.
"Aku tidak peduli kau pulang atau tidak" Ketus Jaejoong. Sebenarnya ia merasa kecewa pada namja tampan itu. Bukan karena Yunho tak bertanggung jawab atas kehamilannya, hanya saja setelah Yunho pergi, namja tampan itu tak pernah memberinya kabar sedikitpun, seolah hilang ditelan tsunami. Mungkin ia merasa kecewa seperti Yoochun, kecewa karena merasa sudah tak dianggap sahabat. Yah, hanya itu (mungkin).
"Jae, aku mohon..." Yunho menagkupkan kedua tanggannya memohon, tak lupa ia berikan tatapan bear eyesnya agar Jaejoong luluh.
"Ajak saja ahjussi mata rubah ini ke rumah, Dad" Celetuk Jaeyoon membuat kedua orang dewasa itu sontak menoleh ke arahnya. Yunho mengangguk setuju sambil tersenyum seperti orang bodoh, sedangkan Jaejoong menatap horor anaknya.
"Tidak boleh!" Jaejoong mendelik sangar.
"Waeyo?" Heran Jaeyoon. " –Bukankah ahjussi mata rubah ini teman Daddy?"
Meskipun sedikit keberatan dengan panggilan 'ahjussi mata rubah' dari Jaeyoon, namun Yunho tidak bisa marah, toh secara tidak langsung Jaeyoon sedang mencoba membantu meyakinkan ibunya.
Tunggu! Kalau Jaejoong ibu kandung Jaeyoon, kenapa Jaeyoon memanggilnya Daddy, bukan Mommy atau Umma?
Sepertinya daftar pertanyaan yang akan diajukan Yunho pada Jaejoong bertambah.
"Tks.." Jaejoong mendengus, ia menatap tajam Yunho. " –Apa yang kau inginkan Jung?"
"Temani aku berkeliling Seoul..."
.
.
.
Setelah perdebatan yang tak berujung itu berakhir, dengan sangat terpaksa Jaejoong menemani Yunho berkeliling Seoul seperti keinginan namja tampan itu. Karena berhubung Shim Changmin suaminya tak dapat dihubungi, jadi Jaejoong terpaksa menitipkan Jaeyoon di rumah kakak iparnya.
"Seoul banyak berubah..." Gumam Yunho sambil terus menatap hamparan gedung-gedung pencakar langit dari atas bukit.
Setelah beberapa jam berkeliling dan makan malam di sebuah kedai makanan sederhana yanga ada di pinggir jalan, akhirnya Jaejoong mengajak Yunho melihat pemandangan malam kota Seoul dari atas bukit. Sekalian ia mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk di atas rumput di sana.
Yunho ikut merebahkan tubuhnya di samping Jaejoong, melipat tangannya di atas kepala sebagai bantal. Ia juga mengikuti arah pandangan Jaejoong yang tengah melihat hamparan bintang yang terlihat berkelap-kelip di atas sana.
"Kenapa kau pulang?" Tanya Jaejoong setelah keduanya terdiam cukup lama.
"Aku..." Yunho menggantungkan ucapannya mencari alasan yang tepat mengenai kepulangannya. " –Ah geurae, kenapa anakmu tak mirip dengan kalian? Um, maksudku, bibir dan bentuk wajahnya memang mirip denganmu, tapi kenapa matanya berbeda? Kau dan Changmin sama-sama memiliki mata yang bulat" Lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
"Lalu, masalah buatmu?" Tanya Jaejoong sinis.
Yunho menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aniya, aku hanya berargumen saja.." Ucapnya seraya tersenyum lebar.
"Tks..." Jaejoong hanya mendengus. Ternyata hanya penampilan saja yang berubah, sifat menyebalkan Yunho sama sekali tak berubah.
GREPP
"Yya!" Jaejoong terkesiap karena tiba-tiba saja Yunho memeluknya. Posisi Yunho yang kini berada di atas tubuh Jaejoong membuat namja cantik itu merasa bergidik. Meskipun Yunho menyangga tubuhnya dengan kedua sikutnya, namun tetap saja Jaejoong bisa merasakan sesuatu di bawah sana menegang. Apalagi hembusan nafas Yunho di tengkuknya membuat bulu-bulu(?) di tubuhnya meremang.
"Yunho.."
"Geuripda..." bisik Yunho tepat di telinga Jaejoong. Mendengar suara husky Yunho membuat dada Jaejoong berdebar kencang. Seulas senyum terpatri di bibir merahnya.
"Kau, Yoochun, Junsu, Changmin... aku merindukan kalian..."
GUBRAKKKK
Setelah merasa diterbangkan ke atas awan, kini Jaejoong merasa terhempas kembali ke bumi mendengar lanjutan ucapan namja Jung itu.
BRUK!
Dengan kasar Jaejoong mendorong tubuh Yunho hingga namja tampan itu meringis.
"Kau belum mengatakan alasan kepulanganmu setelah bertahun-tahun menghilang" Ketus Jaejoong seraya duduk kembali. Padahal tadi moodnya sudah membaik, tapi mendengar ucapan terakhir Yunho membuat moodnya kembali rusak.
"Hanya empat tahun Jae.." Ralat Yunho sambil kembali duduk di samping Jaejoong.
"Sama saja.."
"Ok, terserahmu lah.." Pasrah Yunho akhirnya, ia tahu Jaejoong sedikit keras kepala.
"Jadi..."
"Hahh..." Yunho menghembuskan nafasnya berat. " –Dari mana aku harus memulainya?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Intinya saja" Ucap Jaejoong tak sabaran. Ya, ia memang sedikit, (sedikit lho yah) penasaran kenapa Yunho yang seolah hilang bak ditelan gajah itu tiba-tiba kembali.
"Intinya aku kembali ke sini karena akan menggantikan posisi Appa di YJ Grup, dan aku akan kembali tinggal di sini, dan kali ini untuk SELAMANYA." Ujar Yunho menekan kata 'selamanya'.
"Lalu istrimu? Apa dia juga ikut ke sini?"
"Tidak. Dia akan tetap di sana. Dan mungkin untuk SELAMANYA." Kembali Yunho menekan kata 'selamanya'. Dan perkataan Yunho itu membuat Jaejoong mengernyitkan keningnya, bingung.
"Maksudmu, kalian..."
"Nde.. kami akan bercerai.." Jawab Yunho lirih.
Jaejoong terdiam melihat perubahan raut wajah Yunho. Kentara sekali jika namja Jung itu bersedih.
Tunggu!
Yunho bilang apa?
Bercerai?
"MWO? Bercerai?"
Sepertinya respon saraf motorik Jaejoong sangat lambat hingga ia baru menyadari apa yang Yunho ucapkan. "Bagaimana bisa? kalian..."
"Jessica membohongiku, dan kali ini kesalahannya tak bisa aku tolelir. Dia sudah membuatku kecewa. Dan perceraian adalah jalan yang terbaik"
Jaejoong hanya bisa terdiam mendengar ucapan Yunho. Sebagai sahabat ia bisa merasakan kekecewaan Yunho, meski ia sendiri tak tahu apa masalahnya. Tapi entahlah.. ia sendiri tak mengerti.
Drrtt... Drrrtt...
Jaejoong merogoh ponselnya yang bergetar di saku celananya.
Ternyata Changmin mengirimnya pesan.
"Jaejoonga-ah... aku menemukannya.. dan kali ini aku yakin jika dia adalah belahan jiwaku. Cepat pulang, aku ingin bercerita banyak^^"
Jaejoong menatap lekat layar ponselnya yang masih menampakkan pesan dari suaminya.
Changmin menemukan belahan jiwanya? Apa itu berarti pernikahannya cukup sampai di sini saja?
Jaejoong melirik Yunho yang tengah memandang kosong bangunan-bangunan bertingkat di bawah sana.
'Sepertinya aku juga akan menyusulmu Yun... menjadi duda...' Batin Jaejoong.
~*It's Fated by nickeYJung*~
To Be Continued
