Maaf baru update sekarang, padahal chap 3 nya udah jadi dari dulu juga, tp karena saya remake lg, n mogok ditengah jalan, jadinya lama deh T_T
Makasih buat yg udah Follow n Favorite cerita ini, Silent Readers jg makasih udah nyempetin baca FF aneh ini^^
Special Thanks to :
Chingudeul yg udah RCL di akun Facebook saya, n Chingudeul yg meninggalkan jejaknya di Chap kemarin
CuteXIAH, farla 23, Dipa Woon, YunJae - ssi, twink, dianaes, Nony, alvida the dark knight, Sirayuki Gia, ifa p arunda, NevvYunJeJe, riska0122, Yuusan90, Willow Aje Kim, EMPEROR – NUNEO, dian930715ELF, Taeripark, lipminnie, JungJaema, yoon HyunWoon, nhajoonie, hanasukie, manize83, 6002nope, YunHolic, kim anna shinotsuke, Vic89, Angel Muaffi, Yenyen Yanuar, haruko2271, missjelek, eve91, My beauty jeje, Zheyra Sky, n Guests.
Ini untuk kalian... Hope you like ;)
Title : It's Fated
Writer : Nickey Jung Rae Suk
Cast : YunJae-Min, YooSu, Kim Jaehee (Jaejoong's Nuna), Shim (Jung) Jaeyoon, Jessica Jung (SNSD), Joseph Cheng, Park Bomi, etc.
Rating : T (PG 17)
Genre : YAOI, Straight, Friendship, Romance, MPreg ^^
Lenght : 3 of ?
Disclaimer : YunHo MILIK JaeJoong, JaeJoong MILIK YunHo, Cerita ini ASLI MILIK saya.
Warning : YAOI, BOY x BOY, Boys Love, OOC tingkat DongBang, Typo(s), Ide pasaran, EYD kacau, Judul ga sesuai dg cerita, No Majas, Alur lambat-kadang cepet, TIDAK SUKA JANGAN BACA - NO BASH.
..
..
..
Sebelumnya...
"Jessica membohongiku, dan kali ini kesalahannya tak bisa aku tolelir. Dia sudah membuatku kecewa. Dan perceraian adalah jalan yang terbaik"
Jaejoong hanya bisa terdiam mendengar ucapan Yunho. Sebagai sahabat ia bisa merasakan kekecewaan Yunho, meski ia sendiri tak tahu apa masalahnya. Tapi entahlah.. ia sendiri tak mengerti.
Drrtt... Drrrtt...
Jaejoong merogoh ponselnya yang bergetar di saku celananya.
Ternyata Changmin mengirimnya pesan.
"Jaejoonga-ah... aku menemukannya.. dan kali ini aku yakin jika dia adalah belahan jiwaku. Cepat pulang, aku ingin bercerita banyak^^"
Jaejoong menatap lekat layar ponselnya yang masih menampakkan pesan dari suaminya.
Changmin menemukan belahan jiwanya? Apa itu berarti pernikahannya cukup sampai di sini saja?
Jaejoong melirik Yunho yang tengah memandang kosong bangunan bertingkat di bawah sana.
'Sepertinya aku juga akan menyusulmu Yun... menjadi duda...' Batin Jaejoong.
..
..
..
~*It's Fated by nickeYJung*~
Chapter 3
#Paris Lima hari yang lalu
Cklek
Yunho membuka pintu kamarnya. Kamar yang hampir empat tahun dihuninya bersama Jessica, istrinya. Seperti biasa, sepulang dari kantornya namja tampan itu akan langsung membersihkan diri, lalu ia akan tidur. Kebiasaan yang bahkan sudah menjadi rutinitasnya.
Jika ada yang bertanya kemana istrinya? Tentu saja yeoja cantik itu sibuk dengan pekerjaannya sebagai model papan atas.
Kepindahan Yunho dan Jessica ke Paris dulu membuat karier Jessica di dunia model semakin melejit. Banyak perusahaan yang mengontraknya untuk bekerjasama. Dan tentu saja Jessica menerimanya dengan senang hati, karena cita-citanya dulu adalah menjadi artis internasional. Dan hal itu membuat ia mengkesampingkan suaminya, mungkin bisa dibilang menelantarkannya.
Namun, entah mengapa Yunho menerima begitu saja keputusan istrinya. Apa mungkin ia terlalu mencintai istrinya itu?
Padahal tujuan ia menikah muda karena ingin ada yang mengurusnya, dan tentunya ingin cepat-cepat menjadi seorang ayah. Well, Yunho memang sangat ingin menjadi seorang ayah di usia muda, dan mungkin itu sudah menjadi obsesinya dari sejak ia duduk di bangku SMU.
Yunho merebahkan tubuhnya yang sudah bersih di tampat tidur. Entah kenapa kahir-akhir ini ia selalu merasakan pusing. Mungkin karena pekerjaannya yang setiap hari semakin menumpuk, mengingat sebentar lagi dirinya akan menggantikan posisi ayahnya sebagai Presiden Direktur.
"Argh!" Yunho mengerang sakit. Kepalanya sungguh terasa berat. Harusnya saat ini ada istrinya yang menemani atau mungkin merawatnya. Tapi tadi siang Jessica memberitahunya akan pulang pagi. Jadi mau tak mau Yunho harus mengurus dirinya sendiri.
Yunho bangun dan berjalan ke arah meja rias istrinya. Ia membuka laci meja rias itu dan mengobrak-abrik isinya, berharap bisa menemukan obat sakit kepala –karena setahunya Jessica selalu menyiapkan obat-obatan untuk jaga-jaga jika mereka sakit.
"Dimana obat itu.." Gumamnya masih terus mencari. " –Oh, apa ini?" Yunho mengambil toples kecil berbentuk silinder berisi obat berupa pil yang ukurannya kecil-kecil " Estrogen, progestreon.. Obat apa ini" Gumamnya lagi membaca komposisi obat tersebut, merasa sedikit familiar, namun ia tak pernah melihat obat seperti itu sebelumnya.
Karena rasa penasarannya, Yunho pun menggambil iPad miliknya dan mengetikkan nama obat tadi di situs pencarian internet.
Dan apa yang ia lihat membuat dadanya bergemuruh. Wajah tampannya tiba-tiba mengeras menahan amarah. Tangannya mengepal hingga mencengrkram erat iPad yang digenggamnya. Ia membaca dengan seksama keterangan kegunaan obat yang ditemukannya tadi. Dan ia yakin, selama ini Jessica mengkonsumsi obat itu tanpa sepengetahuannya.
"Jessica..." Desisnya tajam setajam silet #Plakkk
..
..
Pagi harinya...
"Aku pulang..." Dengan langkah gontai Jessica memasuki kediamannya yang hampir empat tahun dihuninya bersama Yunho. Ia merasakan lelah yang luar biasa. Belum lagi rasa kantuk yang sedari tadi ditahannya. Meskipun setiap kali ia merasakan lelah karena aktifitasnya, namun Jessica tetap menyukainya dan tak pernah menyesalinya. Yeoja model itu berfikir, inilah resikonya menjadi seorang model terkenal dengan banyak job.
Jessica membuka pintu kamarnya. Namun ia sedikit terkejut karena langsung disambut tatapan tajam suaminya.
"Oh, Yunho.. kau sudah bangun?" Jessica menghampiri suaminya bermaksud untuk memberikan morning kiss, namun sebelum bibirnya mendarat di bibir hati itu, Yunho terlebih dulu menghindar, membuat Jessica mengerutkan keningnya, tak biasanya suaminya itu menolak ciumannya.
"Kenapa?"
"Bisa kau jelaskan ini"
DEG
Tubuh Jessica mendadak kaku. Lidahnya tersa kelu. Bagaimana bisa Yunho menemukan obat itu?
Oh, shit! Ia baru ingat kalau kemarin dirinya terburu-buru meminum obat itu dan asal memasukkannya ke laci meja riasnya.
"Y-yun..." Panggil Jessica gugup.
"Sejak kapan kau meminumnya?" Yunho menatap tajam istrinya itu, membuat Jessica semakin gugup. "Wae? Kenapa diam eum?" Tanyanya dengan menggunakan bahasa Korea. Meskipun keduanya lama menetap di Paris, namun tak membuat mereka melupakan bahasa asalnya. Yunho dan Jessica selalu berbicara bahasa Korea jika tengah berdua.
"Itu... a-aku.. setelah kita menikah..." Jawab Jessica tanpa memandang Yunho.
Yunho mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Jadi selama itu eoh?
Pantas saja mereka tak bisa memiliki anak. Padahal selama ini Yunho sangat mengharapkan kehadiran buah hati dalam pernikahannya.
PRAKK!
Yunho membanting toples kecil itu hingga isinya berceceran di lantai.
"Yun!"
"WAE? KENAPA KAU MELAKUKANNYA SICA-YAH?" Teriakan Yunho menggema di kamar yang cukup luas itu. " –Kau tahu bukan jika aku sangat menginginkan seorang anak?"
Jessica hanya menunduk. Ia tak pernah melihat Yunho marah sebelumnya, karena jarang sekali namja tampan itu marah padanya, bahkan bisa dibilang tidak pernah.
"Aku pikir selama ini kau belum hamil karena Tuhan memang belum mengijinkan kita untuk memiliki anak, tapi ternyata- ... Kau meminum obat pencegah kehamilan itu? WAE SICA, WAE?"
"Mianhae..." Jessica mulai terisak. Rasa lelah dan kantuknya menguap begitu saja. Ia sungguh merasa takut sekarang.
"Shit!" Yunho mendudukkan tubuhnya dengan kasar di tepi ranjang. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Sungguh, ia tak bisa mempercayainya. Selama ini ia selalu menuruti apapun keinginan Jessica, tapi tak pernah sekalipun terlintas di benaknya jika Jessica akan membuatnya kecewa seperti ini.
"Apa ini karena pekerjaanmu?" Yunho mulai berbicara kembali dengan nada yang lebih tenang.
Jessica masih menunduk. Isakan kecil masih terdengar dari mulutnya. "Nde..." Jawabnya nyaris berbisik.
"Wae? Apa kau tak ingin memiliki anak dariku?" Lirih Yunho sendu.
Jessica mendongkakkan kepalanya cepat. Ia menggeleng. "Bukan, aku ingin memiliki anak darimu tapi... tapi tidak sekarang..." Ucapnya dengan nada lirih di akhir kalimatnya.
"Lalu kapan? Ini sudah empat tahun. Bahkan orangtuaku sudah menanyakan kapan mereka akan memiliki cucu. Kau sendiri tahu bukan kalau akau sangat ingin memiliki seorang anak? Aku bahkan merelakan masa mudaku demi bisa mewujudkan keinginanku itu." Nada suara Yunho kembali naik. " –Kau membuatku kecewa Sooyeon-ah..."
"Aku melakukannya karena tak ingin menghambat karierku. Kau juga tahu bukan kalau aku sangat ingin menjadi model yang tidak hanya dikenal oleh masyarakat Korea saja? Dan ini kesempatanku... aku sedang berada di puncak, tidak mungkin jika tiba-tiba aku hiatus karena kehamilanku"
"Jadi kau lebih memilih kariermu daripada pernikahanmu?"
"Kau tidak mengerti Yun..."
"Kau yang tidak mengerti! Selama ini aku selalu berusaha memahamimu. Aku tak membatasai pekerjaanmu. Aku menyibukan diri dengan pekerjaanku agar aku tak bosan selalu menunggu kepulangan istriku yang tak menentu. Kau bilang aku tidak mengerti? Hal apa yang tidak kumengerti?!" Yunho kembali membentak Jessica. Namja tampan itu menarik nafas mencoba menormalkan emosinya.
Jessica sendiri hanya terdiam mendengar penuturan Yunho –yang memang benar- itu.
"Baiklah... aku sudah memutuskan... kita pulang ke Korea besok"
"Yun"
"Aku akan segera menggantikan posisi Appa di YJ Group, dan kita akan menetap selamanya di Seoul"
Ucapan Yunho membuat Jessica terkejut. Jika mereka pulang ke Seoul dan menetap di sana, bukankah kariernya di Paris akan berakhir?
"Pikirkanlah baik-baik... Besok kau sudah harus memutuskan" Setelah berkata itu Yunho keluar meninggalkan Jessica yang masih terpaku di tempatnya.
..
..
Keesokan harinya Yunho sudah bersiap akan pulang ke Korea. Namja tampan itu menyeret kopernya yang berisi beberapa helai pakaian dan dokumen-dokumen penting perusahaannya. Semalaman ia sudah berfikir keras. Dan kali ini keputusannya sudah bulat. Ia tidak ingin mengalah lagi pada Jessica. Bukankah dalam pernihakan ini dia yang memimpin? Ia ingin bersikap tegas sekarang.
"Kau sudah siap?" Tanya Yunho yang melihat Jessica berdiri di ambang pintu kamarnya.
"A-aku..." Jessica meremas kedua tangannya gusar. " –Maaf Yunho-yah, a-aku tidak bisa..."
Yunho tak bereaksi apa-apa. Ia hanya terdiam.
"Aku merintis karierku dari nol di sini, dan aku tidak bisa menghancurkannya begitu saja..."
"Jadi kau lebih memilih kariermu daripada aku?"
"Maaf..." Lirih Jessica menundukan kepalanya lagi.
"Arrasseo... Kau boleh tinggal di sini dan melanjutkan kariermu. Tapi aku akan tetap pulang, dan mungkin..." Yunho menggantungkan ucapannya. " –Tidak akan kembali lagi"
"N-nde?"
"Bolehkah aku bertanya?" Yunho menatap dalam mata Jessica. " –Apa selama ini kau mencintaiku?"
"..."
"Apa selama ini kau pernah menganggapku suamimu?"
Jessica menggigit bibirnya tak tahu harus menjawab apa.
"Aku ingin jawaban jujur..."
Selama beberapa saat Jessica hanya terdiam. Sementara Yunho masih terus menatap wajah di depannya, memastikan Jessica akan menjawab pertanyaannya dengan jujur.
"Aku mengagumimu..." Jessica membuka suaranya. " –Pertama kali bertemu denganmu di pesta waktu itu, aku langsung menyukaimu. Tapi saat kau mengajakku menjalin hubungan, aku menahan diri dengan tak langsung menerimamu cintamu. Meski kau menyebalkan karena terus mengejarku, tapi aku tetap menyukaimu... Dan saat Appa mengatakan jika aku akan dijodohkan dengan anak temannya, aku sempat menolak, tapi... setelah melihat fotomu, aku menyetujuinya... Aku rasa tak ada salahnya menjadikanmu suamiku... apalagi aku tahu kau sangatmenyukaiku, aku pikir kau akan terus mendukung karierku di dunia modeling... Mianhae Yunho-yah, mungkin aku terkesan memanfaatkanmu..."
Penuturan Jessica itu sangat menohok perasaan Yunho. Jadi selama ini Jessica tak pernah mencintainya? Dia bersikap layaknya seorang istri itu hanya karena sebuah kewajiaban?
Yunho tersenyum getir. "Ada yang harus kau ralat. Aku tak hanya sangat menyukaimu, tapi sangat mencintaimu"
Jessica mendongkak membalas tatapan Yunho.
"Tapi sepertinya itu dulu... Sekarang aku merasa kecewa... dan bukan tidak mungkin kekecewaan ini bisa membunuh rasa cintaku padamu" Imbuh Yunho. Ia menghela nafasnya sejenak. " –Baiklah... sepertinya pernikahan kita cukup sampai di sini saja.."
"Yunho aku—"
"Yang aku inginkan dalam sebuah pernihakan itu adalah cinta. Kita saling mencintai, ani- meskipun kita berdua belum bisa saling mencintai, tapi jika ada keinginan dan niat dari hati mungkin aku masih bisa menjalaninya. Tapi sepertinya kau tak pernah berniat mencintaiku..."
"Tidak, kau salah"
"Sudahlah, ini sudah menjadi keputusanku. Kau yang memilih bertahan di sini. Jadi aku akan melepaskanmu... Selamat tinggal Sica, samapai bertemu di pengadilan..." Yunho berjalan melewati Jessica yang masih mematung di tempatnya. " –Jaga dirimu baik-baik..."
Jessica masih membatu, mencoba menangkap makna dari semua kata-kata yang diucapkan Yunho. Dan perlahan kristal bening itu jatuh membasahi pipinya.
Bruk!
Jessica terduduk di lantai. Ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bibirnya tak berhenti mengucapkan maaf. Namun ia pun tak bisa melakukan apa-apa. Ia sangat mencintai pekerjaannya, tapi Yunho... "Mianhae... mianhae Yunho-yah..."
..
..
..
..
~*It's Fated by nickeYJung*~
Jaejoong memasuki rumah yang hampir empat tahun dihuninya bersama Changmin itu dengan langkah gontai. Samar-samar ia mendengar suara gelak tawa suaminya dari living room. Ia pun melangkahkan kakinya ke sana.
Bisa Jaejoong lihat suaminya tengah tertawa keras dengan mulut penuh popcorn, tangannya mendekap erat toples popcorn tersebut, seolah takut ada yang mengambil. Matanya fokus menatap layar televisi yang tengah menayangkan acara variety show. Entah apa yang membuat Changmin tertawa, namun sepertinya namja tinggi itu tak menyadari kehadiran istrinya.
Jaejoong hanya bergidik ngeri. Bagaimana kalau tiba-tiba Changmin tersedak, lalu mati? Apa yang akan ia jelaskan pada keluarganya nanti? Apa Changmin akan menghantuinya?
"HAHAHAHA ! Nyam~ nyam~ nyam~"
Dan sepertinya apa yang Jaejoong khayalkan terbukti. Karena...
"Huwahahhaha...! Uhuk! Uhuk, uhuk..."
Changmin terbatuk, namja tinggi itu menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Dengan cepat ia menyambar gelas yang berisi jus melon di meja. Meminumnya dengan rakus hingga tak meninggalkan jejak.
Bugh!
"Kapchagi!" Changmin terlonjak ketika tiba-tiba saja punggungnya dihantam sesuatu yang keras, membuat popcornnya sedikit berhamburan.
"Jae, kau membuatku kaget!" Changmin mengusap punggungnya yang sedikit ngilu. Bagaimana tidak, Jaejoong memukulnya dengan tas yang berisi buku-buku tebal yang dibawanya.
"Makanya kau jangan makan seperti gelandangan begitu"
Dengan gaya tak pedulinya Jaejoong duduk di samping suaminya. Untung saja Changmin tidak mati seperti yang khayalkannya, pikirnya. Namja cantik itu meminum jus semangka milik Changmin yang ada di atas meja. Kebiasaan rakus suaminya itu sedikit berguna juga, jadi ia tak perlu repot mengambil atau membuat minuman jika haus. Changmin memang selalu membuat minuman itu dua atau tiga macam, dan biasanya ia sendiri yang menghabiskannya.
"Kenapa baru pulang?" Changmin merebut kembali gelas itu dari genggaman Jaejoong.
"Yya, aku belum selesai!"
"Kalau masih haus bikin saja sendiri, aku juga masih haus" Ucap Changmin cuek. Lalu ia kembali meminum jusnya sampai habis.
Jaejoong yang melihat itu hanya menggerutu sebal. "Pelit!"
"Ah~~ segarnya..." Changmin meletakkan kembali gelas itu di meja. " –Ah, geurae.. Jaejoong-ah, aku sudah menemukannya. My Soulmate" Beritahu Changmin dengan wajah senang.
Jaejoong hanya mendelik. "Kali ini kulkas siapa lagi yang kau jadikan soulmate?"
"Yya, kau tega sekali berkata seperti itu.."
"Waeyo? Bukankah selama ini kau selalu bilang kalau lemari es itu adalah belahan jiwamu? Hidup dan matimu?"
"Aishh... kau pikir aku tidak normal sampai harus menjadikan benda mati itu jiwaragaku?" Changmin memutar bola matanya.
'Ck, kau memang aneh Shim' Batin Jaejoong. "Lalu..."
Changmin tersenyum mengingat kembali pertemuannya dengan seseorang yang disukainya tadi pagi. "Park Bomi... Dia bekerja di Zion Restaurant sebagai chef... Dia adalah hoobae kita saat di universitas dulu, hanya saja kita berbeda jurusan. Dan kau tahu? Sebenarnya dari dulu aku sudah menyukainya, tapi... aku terlalu larut dengan kalian -YunJaeYoosu. Jadinya aku sedikit melupakan hasrat ingin memiliki kekasih" Jelas Changmin dengan bahasa yang sedikit sulit dimengerti. " –Dan aku percaya pertemuan kita kembali adalah takdir" Imbuhnya tersenyum penuh percaya diri.
"Park Bomi?"
"Nde... dia yeoja yang sangat cantik"
"Yeoja?"
"Uhm, waeyo?" Changmin menoleh ke arah Jaejoong.
"Ku kira kau sudah tak menyukai yeoja" Cibir Jaejoong seraya terkekeh.
"Tks, kau pikir aku gay?" Changmin mendelik tak suka.
"Aku pikir namja yang menyukai lubang namja itu, ya... gay. Hahahaha..." Ucapan frontal Jaejoong itu sukses membuat Changmin mati kutu. Namja tinggi nan tampan itu hanya mendengus mendengar Jaejoong yang seolah mengejeknya.
"Asal kau tahu saja, aku melakukannya karena kebutuhan biologisku. Berhubung yang menjadi istriku adalah seorang namja, jadi aku terpaksa melampiaskannya pada namja itu. Sebenarnya aku bisa saja membayar yeoja-yeoja diluar sana. Tapi aku tak mau melakukannya tanpa ikatan. Untuk apa bermain di luar jika kita sudah memiliki seseorang yang bisa memuaskan kita dirumah. Lagi pula—"
"Arrasseo, arrasseo" Potong Jaejoong cepat tak ingin mendengar ceramah suaminya lagi. Ck, Shim Changmin memang paling bisa memutarbalikan keadaan. " –Jadi, kita akan bercerai?" Tanya Jaejoong langsung pada intinya.
Mendengar itu Changmin jadi terdiam. Jujur saja, ia juga belum berfikir ke arah sana, tapi entahlah. Selama membina rumah tangga dengan Jaejoong ia merasa nyaman. Tentu saja karena Jaejoong selalu memanjakannya dengan makanan enak. Tapi diluar itu, ia juga merasakan susah senangnya menjadi seorang suami sekaligus ayah. Tak bisa dipungkiri, Changmin ingin pernikahannya dengan Jaejoong tetap utuh. Tapi dibalik itu semua ia merasakan kekosongan. Mereka memang menjalaninya seperti sepasang suami istri lainnya, meski selalu diwarnai dengan perdebatan kecil, ia merasa bahagia. Namun hanya satu masalahnya.
Cinta.
Ya, cinta. Changmin tidak merasakan itu. Perasaan berdebar, cemburu atau takut kehilangan itu seolah tak ada –tidak seperti ketika ia bersama Bomi. Entah apa yang dirasakan Jaejoong. Namun Changmin yakin jika Jaejoongpun merasakan hal yang sama dengannya.
"Itu... aku... molla..." Jawab Changmin setelah terdiam cukup lama. Jaejoong yang mendengar itu hanya menghela nafas.
"Kau tidak mencintaiku 'kan?"
"Nde?" Changmin cukup terkejut dengan pertanyaan Jaejoong itu.
"Kalau kau tak mencintaiku, kurasa kita bisa mengakhiri pernikahan kita sekarang"
"Jae"
"Mianhae Changmin-ah, selama ini aku sudah berusaha menerima kau sebagai takdirku. Aku bahkan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku. Kau tahu bukan kalau aku tak akan pernah bisa menikah dengan wanita?... Setelah menikah denganmu aku mulai bisa menerima takdirku. Dan sepertinya aku berhasil, kerena keinginanku menikah dengan wanita kini menipis... Dan aku sempat berpikir akan mengikatmu selamanya dalam pernikahan ini, tapi ternyata aku tak bisa. Aku tak bisa karena hatiku sendiri tak menginginkannya.." Lirih Jaejoong menundukkan kepalanya.
Mendengar itu Changmin terdiam. Berarti benar apa yang dipikirkannya selama ini.
Changmin membawa Jaejoong dalam pelukannya. Jaejoong sendiri tak menolak, ia membiarkan dirinya direngkuh tubuh kekar Changmin.
"Gwaenchana..." Changmin mengusap pelan punggung Jaejoong. " –Menangislah jika kau ingin menangis..." Changmin tahu, selama ini Jaejoong cukup menderita dengan takdirnya. Dan ia sungguh salut pada namja cantik itu, karena sedikit demi sedikit bisa menerima takdirnya, yang ia tahu pasti sangat berat.
"Shirreo... nan namja ya~" Jaejoong menggeleng.
"Tks, dasar keras kepala" Decak Changmin. Padahal ia tahu jika Jaejoong tengah menahan tangisnya, hanya saja namja cantik itu terlalu malu jika harus mengeluarkan airmatanya. Dan Changmin cukup tahu kalau Jaejoong sangat keras kepala, meskipun kenyataannya Jaejoong berbeda dengan namja lainnya, namun namja cantik itu bersikukuh mengatakan jika dia adalah seorang namja tulen yang tampan dan keren. -_-
Jaejoong terlebih dulu melepaskan pelukan Changmin. Dengan kasar ia mendorong tubuh Changmin hingga namja pecinta makanan itu sedikit terhuyung.
"Yya!"
"Wae? Kau pasti mencari kesempatan ingin memelukku 'kan?"
"Apa? Tks, percaya diri sekali... Maaf ya, aku tidak mabuk" Changmin mendengus melihat Jaejoong yang menyilangkan kedua tangannya di depan dada. " –Aku hanya ingin menenangkanmu saja"
Jaejoong memicingkan matanya tak percaya.
"Sudahlah, kau memang keras kepala"
"Ap—"
"Ah geurae, Sulli bilang kau pergi dengan teman lamamu yang berkunjung ke restaurant, memang siapa teman lamamu?" Potong Changmin cepat sebelum Jaejoong kembali berkicau, karena ia tahu setiap berdebat dengan Jaejoong, istrinya itu tak pernah mau kalah.
Wajah Jaejoong berubah datar ketika mendengar pertanyaan Changmin. "Jung Yunho" Jawabnya singkat.
"Ohh... MWO? JUNG YUNHO? Yunho Si muka alien?"
"Aish... kenap kau berteriak?" Ringis Jaejoong mengusap telinganya.
"Si mata rubah itu?"
"Kenapa julukanmu padanya sama dengan Jaeyoon?" Gerutu Jaejoong pelan.
"Yya Shim Jaejoong?" Teriak Changmin lagi karena Jaejoong malah berbicara sendiri.
"Aish, nde, nde... Jung Yunho si beruang pecinta pesta. Tadi dia menemuiku, dan katanya dia juga sudah bertemu dengan Yoochun dan Junsu. Dia kembali ke korea karena mau menggantikan jabatan ayahnya di YJ Group, dan lagi dia akan bercerai dengan istrinya" Jelas Jaejoong dalam satu tarikan nafas, dengan menambah satu julukan lagi untuk Yunho. " –Dan jangan bertanya lagi, aku lelah ingin tidur!" Imbuhnya seraya berdiri. " –Ommo Jaeyoonie! Changmin-ah, kau menjemput Jaeyoon 'kan?" Jaejoong baru ingat jika ia belum menjemput anaknya. "Yya, Shim Changmin!"
"Nde...dia sudah tidur di kamarnya" Jawab Changmin tanpa melihat Jaejoong. Ia masih bergelut dengan pikirannya tentang Yunho.
Jaejoongpun bergegas pergi menuju kamar malaikat kecilnya yang berada di lantai atas, meninggalkan Changmin yang masih bergumam tidak jelas. Entah apa yang dipikirkan suaminya itu.
"Yunho kembali...? Dia akan bercerai...? Kenapa bisa...?" Pikir Changmin bergumam.
..
..
..
Yunho tak berkedip melihat pemandangan yang membuat suhu tubuhnya mendadak panas di depannya.
Mulutnya menganga dengan air liur yang hampir menetes dari sudut bibirnya. Dadanya berdetak kencang. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.
Di depannya. Tepatnya di sofa yang berada di living room apartement Yoochun. Yunho melihat Yoochun dan Junsu tengah bergumul panas. Junsu yang duduk di pangkuan Yoochun terlihat sangat menikmati kegiatannya menaik turunkan pantat seksinya. Sedangkan Yoochun, dengan nafsunya mengulum nipple istrinya dengan keduan tangannya yang meremas bongkahan pantat bebek Junsu. Meskipun mereka membelakanginya, namun Yunho bisa melihatnya jelas.
Keduanya bergerak seirama. Junsu yang naik turun, sedangkan Yoochun membobol hole namja imut itu. Desahan dan eranganpun bergema di ruangan yang tidak terlalu luas itu.
Dengan susah payah Yunho menelan ludahnya. Tiba-tiba ia merasakan sesak pada tubuh bagian bawahnya. Bagaimana tidak, ia bahkan dengan jelas melihat pusaka Yoochun timbul tenggelam dilahap oleh manhole Junsu.
Apa segitu nikmatnya bercinta dengan sesama jenis? Pikirnya, lupa jika dia sendiri pernah melakukan hal yang sama dengan sahabatnya dulu.
"Y-ya!, kalian!" Teriak Yunho dengan susah payah. Sungguh, ia tak sanggup lagi jika harus melihat lebih lanjut adegan dewasa di depannya.
Teriakan Yunho itu sontak membuat pasangan yang tengah diselimuti nafsu itu membuka mata dan menghentikan aktifitasnya. Mereka menoleh ke arah Yunho yang tengah mematung dengan muka memerah.
"Ommo!" Dengan cepat Junsu menyambar bathrobe yang berada di pingir sofa, kemudian memakainya dan tanpa hati-hati langsung bangun dari pangkuan Yoochun, hingga membuat Yoochun meringis. Tak lupa Junsupun mengambil bathrobe milik Yoochun dan melemparkannya untuk menutupi tubuh telanjang suaminya.
"Jung Yunho, kau mengganggu kesenangan orang saja" Gerutu Yoochun masih merasa ngilu karena Junsu melepas 'sambungan' mereka begitu saja.
"Kalian yang merusak kesucian mataku!... Apa tidak bisa kalian melakukannya di kamar?" Sahut Yunho setelah menormalkan gejolak di tubuhnya.
"Ini apartementku, terserah aku mau melakukannya di mana" Balas Yoochun tak peduli.
"Sudahlah... kalian tidak perlu berdebat lagi. Lagipula kenapa kau langsung masuk saja? Kenapa tak menekan bel terlebih dulu?" Junsu mencebilkan bibir tipisnya. Jujur saja ia juga merasa sebal karena Yunho mengganggu kesenangannya. Namja imut itu jadi menyesal sudah memberitahu kode pintu apartementnya pada Yunho tadi pagi.
"Tks, rasanya aku bisa gila kalau terus berlama-lama di sini"
"Lalu kenapa kau tidak cepat pergi?!" Yoochun membentak kesal.
"Jangan beralasan Ayahmu takut mencarimu lagi? Kau sudah tua Yun, jangan menghindar dari masalah. Tunjukan kejantananmu, atau selama ini kau bukan namja melainkan yeoja tomboy yang menyamar?"
Krek
Sepertinya urat kesabaran Yunho sudah putus menghadapi ucapan konyol sahabat bebeknya itu.
"Yya! kau jangan sembarangan ya? Kau bilang aku tua? Aku masih 26 tahun Kim Junsu!"
"Park Junsu" ralat Junsu cepat.
"Whatever! Dan lihat dengan jelas. Aku ini namja tulen, kau tidak bisa lihat ini eoh?" Yunho menepuk bangga bagian tubuh bawahnya yang sudah mengembang. " –Bahkan milikku jauh lebih besar dari milik kalian. Kalau kalian tidak percaya tanyakan saja pada Jaejoong"
"Jaejoong? Apa hubungannya?"
DEG
Seakan tersadar. Yunho mengerjapkan matanya berkali-kali. Apa dia baru saja menyebut nama Jaejoong?
"Kenapa bawa-bawa Jaejoong? Apa dia pernah melihat milikmu?" Tanya Junsu polos.
"Oh, keu-keugo... Apa tadi aku menyebut Jaejoong?" Tanya Yunho tergagap. " –Hahahaha, ah, maksudku Jessica, ya.. Jessica... kalau kalian tak percaya, tanyakan saja padanya" Ralatnya sambil tertawa canggung.
Oh My Boo... kenapa tiba-tiba ia teringat pada Jaejoong? Hmm... pasti karena tadi dirinya seharian bersama Jaejoong.
"Sudahlah, aku lelah...aku ingin tidur... dan kalau aku mendengar suara-suara aneh lagi, aku akan tidur dengan kalian arratji?"
"Yya! kau pikir ini rumah siapa eoh? Terserah kami mau melakukan apa, kalau kau tak nyaman, kau pergi saja!" Teriak Yoochun menggelegar. Namun Yunho tak menghiraukannya, namja tampan namun sedikit 'kurang' itu (#Plakk) melenggang pergi dengan santainya menuju kamar sebelah kamar pasangan suami istri itu, seolah apartement itu adalah miliknya. Ck, benar-benar tamu tak tahu diri.
"Sudahlah Chunnie... ayo kita tidur... harap maklum saja, Si Jung Ppabo itu sedang terpuruk karena perceraiannya... Kkajja aku ngantuk~~" Ajak Junsu pada suaminya. Ia tak mau suaminya itu mendadak hipertensi karena terus marah-marah.
"Hah... Baiklah... tapi kita lanjutkan yang tadi, ne?" Kerling Yoochun menggoda.
"Shirreo~~ Aku lelah..."
"Ayolah baby Su... kau tidak lihat aku masih hard?"
"Tapi aku sudah tak bernafsu lagi..." Junsu berjalan ke kamarnya diikuti Yoochun yang masih merayu di belakanngnya.
"Jagiya~~~"
"Shirreo..."
"Aishh... Jung Yunho, ini semua karenamu. Nappeun chingu!" Gerutu Yoochun mengacak-acak rambutnya, frustasi karena hasratnya malam ini tak bisa tersalurkan.
Sementara itu di kamar. Yunho tidak bisa tidur mengingat kejadian yang dilihatnya tadi.
Tangannya bergerak kebawah,mengelus pusakanya yang masih berdiri kokoh terselimuti celananya. Jika harus jujur, ia melakukan hubungan badan dengan Jessica tidak sesering pasangan suami istri pada umumnya, bahkan mereka terbilang jarang melakukannya. Apalagi Yunho teringat jika sudah hampir sebulan lebih ia tak melakukkannya dengan Jessica.
Hah.. mengingat Jessica membuat moodnya buruk. Meskipun begitu, tetap saja tak membuat adik 'kecilnya' di bawah sana tenang.
Yunho mengusap-usap pusakanya dari luar sambil memejamkan mata musangnya.
Membayangkan kembali bagaimana ekspresi kenikmatan Yoochun dan Junsu tadi.
"Jaejoong..." Desahnya. Namun sedetik kemudian Yunho membelakkan matanya. Ya Tuhan... kenapa nama Jaejoong yang keluar dari mulutnya?
Sepertinya pertemuan kembali dengan Jaejoong membuat Yunho terus menerus memikirkan sahabat cantiknya itu.
"Hah..." Yunho menghembuskan nafasnya berat. Bisa-bisanya ia mengingat namja yang sudah bersuami. Memikirkan itu Yunho tersenyum sendiri. Ia masih belum percaya jika sahabat-sahabatnya ternyata berbelok. Jaejoong dan Junsu menjadi seorang istri padahal mereka jelas-jelas namja tulen, well walaupun Jaejoong berbeda karena bisa mengandung dan melahirkan. Bahkan ia benar-benar melihat buktinya –Shim Jaeyoon. Gadis cilik yang memiliki mata yang sama dengannya.
Chamkkan!
Matanya mirip denganya?
Yunho mengingat-ingat kembali wajah Jaeyoon. Bibir dan bentuk wajahnya memang mirip Jaejoong, tapi matanya tajam setajam rubah. Padahal Jaejoong dan Changmin memiliki mata yang bulat.
Perlahan Yunho mulai berfikir keras merangkai beberapa potongan puzzle di otaknya.
Yoochun dan Junsu bilang Jaejoong dan Changmin menikah bulan Juli tahun 2009, sedangkan Jaeyoon lahir bulan Februari 2010, jika Jaeyoon lahir di bulan itu berati usia kandungan Jaejoong saat melahirkan Jaeyoon baru 6 atau 7 bulan. Bukankah normalnya seseorang melahirkan itu jika usia kandungannya sudah 9 bulan?
Yunho menaruh telunjuk kanannya di dagu dengan pose berfikir ala detectiv.
Ada dua kemungkinan. Jaeyoon lahir prematur, atau Jaejoong hamil sebelum menikah. Dan jika begitu, berarti ada kemungkinan Jaejoong hamil di bulan April atau Mei. Dan seingatnya ia dan Jessica menikah akhir April 2009. Berarti saat itu ia masih di Korea dan masih sering bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Tapi kenapa ia tak pernah menangkap kedekatan Jaejoong dan Changmin?
Kalau Yoochun dan Junsu, ia memang sadar mereka berdua dekat, tapi tetap saja ia tak menyangka jika kedekatan Yoochun dan Junsu itu 'sesuatu'. Tapi Changmin dan Jaejoong?
Dan seketika mata musangnya membelak. Yunho ingat, dirinya pernah melakukan sesuatu yang tidak wajar dengan Jaejoong. Dan ia ingat mereka melakukannya sehari sebelum pernikahannya dengan Jessica.
Jika Jaejoong memang memiliki rahim dan sel telur dan bisa hamil kapan saja jika ada yang membuahi. Apa mungkin waktu itu cairannya bisa membuahi rahim Jaejoong? Bukankah Jaejoong yang ada di pihak bawah? Dan ia tak memakai pengaman. Apa itu berarti Jaeyoon...
"Maldo andwe..." Yunho menggelengkan kepalanya. Tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi bukan?
Tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang. Yunho menelan ludahnya gugup. Sepertinya ia harus membuktikannya segera.
..
..
..
~*It's Fated by nickeYJung*~
Kediaman Changmin dan Jaejoong menjadi ramai karena gelak tawa lima namja tampan yang tengah berkumpul di living room rumah itu.
Yoochun dan Junsu serta Changmin tertawa keras saat mereka bernostalgia bercerita kembali kejadian konyol yang pernah mereka alami saat masih SMU dulu, sedangkan Jaejoong hanya tersenyum simpul.
Posisi duduk Jaejoong sedikit merapat di samping Changmin, sedangkan di sofa samping kanannya, Junsu duduk sambil mengapit lengan kanan Yoochun. Sementara Yunho duduk di sofa terpisah di depan Changmin dan Jaejoong dengan mata yang terus menatap intens gerak gerik Changmin dan Jaejoong.
Seperti apa yang dikatakannya semalam. Ia harus menyelidiki kenapa Changmin dan Jaejoong bisa sampai menikah. Apa benar yang Yoochun dan Junsu katakan jika Changmin dan Jaejoong saling mencintai?
" –Ho, Jung Yunho!"
Yunho terkesiap saat Changmin memanggil namanya dengan cukup keras. "Wae?"
"Aishh... dari tadi aku menggilmu tapi kau malah diam seperti orang bodoh" Umpat Changmin.
"Sorry, aku sedang memikirkan sesuatu.."
"Lupakan dulu masalahmu Yun. Bukankah kau kembali karena ingin menenangkan diri eoh?" Ucap Junsu bijak. Imej polosnya seakan menguar saat ia berkata seperti itu.
"Nde..." Yunho mendesah pelan. Padahal ia tak sedang memikirkan masalahnya dengan Jessica sama sekali. Tapi sepertinya sahabat-sahabatnya menangkap seperti itu. " –Ah geurae, anak kalian kemana?" Tanya Yunho mengalihkan pembicaraan. Saat datang tadi ia tak melihat gadis cilik bermata musang itu.
"Pagi-pagi sekali dia dijemput Nunaku, katanya sudah lama tak bertemu Jaeyoon, jadi dia mengajaknya jalan-jalan, lagi pula Jaeyoon merindukan oppanya" Jawab Jaejoong yang teringat Jaeyoon selalu memintanya bertemu dengan JaeHo –anak kakak perempuannya.
"Maksudmu Jaehee nuna?"
"Nde"
"Aigoo... aku sudah lama tak bertemu dengannya... dia pasti semakin cantik sepertimu" Ujar Yunho pada Jaejoong. Tak sadarkah kau Jung, sudah menggoda istri orang?
"Aku tampan Jung!"
"Tks, masih marah eoh kalau dibilang cantik"
"Tentu saja!" Sengit Jaejoong sewot.
"Arrasseo, aku hanya bergurau agasshi..."
"Yya!"
"Hahahaha..." Yunho tertawa keras, puas karena menggoda Jaejoong hingga namja cantik itu marah.
"Jangan membuat dia marah Yun, jika masih sayang nyawamu" Ucapan Changmin itu sukses membuahkan delikan tajam dari istrinya.
Keempatnya terus tertawa tanpa mempedulikan raut wajah kesal sang korban.
"Kalian menyebalkan!" Jaejoong mengerucutkan bibirnya, membuat wajahnya semakin imut di mata Yunho dan Changmin.
"Hahahaha... Ok, ok sorry..." Yunho meminta maaf dengan menahan tawanya. " –Um... bicara tentang Jaeyoon... kenapa dia sama sekali tidak mirip denganmu Min?" Tanyanya pada Changmin. " –Well, bibirnya memang mirip bibir merah Jaejoong yang selalu minta dilumat itu. Kulitnya juga sama-sama pucat. Tapi... aku tak menemukan kemiripan denganmu.. Atau jangan-jangan Jaeyoon bukan anak kandungmu, Min? Hahahahaha..." Sekali lagi Yunho tertawa. Tapi kali ini keempat temannya tak ikut tertawa, mereka menatap Yunho aneh. Namun berbeda dengan Changmin dan Jaejoong, keduanya terkesiap mendengar pertanyaan Yunho –yang memang benar- itu.
"Kau jangan sembarangan Yun... Jaeyoon bahkan sangat mirip dengan Changmin. Sikap evilnya menurun, Kekeke..." Yoochun ikut terkekeh mencoba membuat Changmin tidak tersinggung.
"Aah~~ Geurae? Kalau begitu aku ingin bermain dengannya.. Aku ingin tahu seberapa evilnya dia. Apa lebih parah dari Changmin?" Yunho masih tertawa meski tak sekeras tadi.
"Jangan coba-coba. Walaupun dia masih bocah. Tapi sikap evilnya, sangat kuat. Bagaimana tidak, bumonimnya saja titisan iblis eu kyang kyang~~" Junsu menimpali ucapan suaminya. Mereka bertiga kembali tertawa keras. Namun tidak dengan Changmin dan Jaejoong. Mereka berdua hanya terdiam menatap Yunho. Terutama Changmin. Entah mengapa ia menangkap maksud lain dari ucapan Yunho tadi.
Namja evil itu tersenyum misterius.
"Aku kebelakang dulu" Tiba-tiba saja Jaejoong berdiri dan hendak pergi.
"Kau marah pada kami karena mengataimu Jae?" Tanya Yoochun.
"Aniya... Aku hanya ingin mengambil lagi minuman untuk kalian. Kalian pasti haus 'kan setelah puas menertawakanku?" Tanya Jaejoong sarkastik.
Yunho, Yoochun, dan Junsu hanya tersenyum innocent.
"Changmin-ah, kamar mandi sebelah mana?" Tanya Yunho tiba-tiba.
"Di belakang, di dekat dapur. Ikuti Jaejoong saja.."
"Ok, kalau begitu aku ke belakang dulu. Tak tahan ingin membuang sesuatu. Apa kalian mau ikut?"
"Yaishh... Pergi sana!" Koor Yoochun dan Junsu. Sedangkan Yunho tertawa renyah sambil berjalan menyusul Jaejoong ke dapur.
Sementara itu, Jaejoong tengah membuat sirup di counter dapurnya. Namja cantik itu memejamkan matanya dan menarik nafas pelan.
Pikirannya masih tertuju pada ucapan Yunho tentang Jaeyoon tadi. Tiba-tiba ia menjadi gusar. Mungkinkah Yunho tahu sesuatu?
Grep!
"Sedang apa?"
"Yun!" Jaejoong terkesiap saat tiba-tiba saja pinggangnya di peluk dari belakang oleh orang yang sudah ia tahu pasti adalah Yunho –kentara dari suara bass dan aroma tubuhnya yang maskulin.
"Le –lepas.." Jaejoong berusaha melepaskan rengkuhan tangan Yunho.
"Shirreo.. biarkan seperti ini.." Bukannya melepaskan, Yunho malah menyandarkan kepalanya dengan manja di pundak Jaejoong.
"Lepas Yun... bagaimana kalau ada yang lihat...?"
"Biarkan saja... mereka sudah biasa bukan melihatku memelukmu seperti ini?"
"Tapi itu dulu Yun.. sekarang aku sudah bersuami. Istri temanmu."
"Aku tak peduli, Changmin pasti bisa mengerti"
"Tks.." Jaejoong hanya berdecak. Ternyata Yunho masih tetap saja keras kepala dan manja. Namja cantik itupun tak mau ambil pusing. Ia meneruskan pekerjaannya yang sempat terhenti tadi.
Jaejoong menuangkan air es ke dalam gelas. Sementara Yunho masih asik mendekap tubuh ramping Jaejoong dari belakang sambil menghirup aroma yang membuatnya tenang. Aroma tubuh Jaejoong tidak berubah, masih seperti dulu, wangi vanilla. Maka dari itu, dulu Yunho sangat senang jika sudah bermanja-manjaan pada Jaejoong.
"Jae, apa kau mencintai Changmin?"
Pertanyaan Yunho itu kembali membuat Jaejoong menghentikan pekerjaannya –lagi. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" Sahutnya sambil mengaduk pelan cairan di gelas tadi.
"Hanya bertanya saja. Aku merasa heran kenapa kau bisa menikah dengan Changmin. Padahal yang aku tahu, hubungan kalian dulu tak ada romantis-romantisnya. Bahkan kalian lebih sering bertengkar. Aku malah menyebut kalian soulfighter"
"Tidak saling mencintai bukan berarti tidak bisa menikah 'kan?"
Yunho menegakkan kepalanya, namun tangannya masih tetap melingkar di pinggang Jaejoong.
"Jadi kalian sungguh tidak saling mencintai? Lalu.. kenapa bisa kalian..."
"Sudahlah. Ini bukan urusanmu" Sahut Jaejoong ketus.
"Apa karena Jaeyoon?"
"..."
"Apa Jaeyoon anakku?"
DEG
Dengan cepat Jaejoong menolehkan kepalanya kebelakang, hingga kini keduanya bertatapan.
Yunho dan Jaejoong saling menatap satu sama lain. Bahkan dari jarak sedekat ini Yunho bisa merasakan detak jantung Jaejoong yang tiba-tiba saja berubah cepat.
"A -apa itu benar, kalau Jaeyoon... a -anakku?"
"Kenapa kau mengira seperti itu?" Tanpa melepaskan tatapannya Jaejoong bertanya.
"Karena aku ingat pernah 'melakukannya' denganmu... Walaupun saat itu aku mabuk dan tidak ingat apa-apa. Tapi aku masih ingat, kalau malam itu kita..."
Jaejoong terdiam. Ia bisa melihat wajah keingintahuan Yunho karena mereka masih terus bertatapan dari jarak dekat.
"Jika aku berkata Jaeyoon memang anakmu, apa kau percaya?" Tanya Jaejoong datar, membuat wajah Yunho menegang.
"A-apa?... J-jadi..." Jantung Yunho serasa memompa darah lebih cepat. Ia merasa terkejut sekaligus saja. Bukankah selama ini keinginan terbesarnya terkabulkan?
Memiliki seorang anak di usia muda.
Perlahan Jaejoong melepaskan tangan Yunho dari pinggangnya. Kemudian ia berbalik dan melanjutkan kembali pekerjaannya tadi –mengaduk -aduk minumannya. Sedangkan Yunho masih membeku tak percaya. Namja tampan itu menatap punggung Jaejoong.
Benarkah Jaeyoon anak kandungnya?
Sementara itu, Changmin menyandarkan tubuhnya di balik tembok dapur. Kedua tangannya dilipat di dada. Tadi ia merasa penasaran dengan sikap aneh Yunho, dan memutuskan untuk mengikuti sahabatnya itu ke kamar mandi. Tapi bukannya kamar mandi yang dituju, Changmin malah melihat Yunho memeluk Jaejoong dari belakang.
Tentu saja ia tak merasa heran, karena memang dari dulu Yunho selalu bersikap manja pada Jaejoong. Namun yang membuatnya terkejut, keberanian Yunho yang bersikap seperti itu. Padahal sahabatnya itu tahu jika Jaejoong sudah menikah dengannya, tentunya sedekat apapun mereka dulu, Yunho harus menjaga jarak. Pikirnya.
Bukannya ia cemburu, tapi memang seharusnya seperti itu bukan?
Dan yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah pembicaraan keduanya. Changmin dengan jelas mendengar apa yang Yunho dan Jaejoong bicarakan dari awal.
Namja tinggi itu tersenyum menyeringai. "Jadi... ayah biologis Jaeyoon itu... kau, Yun?" Gumamnya seraya terkekeh. Kemudian namja yang masih berstatus suami Jaejoong itu pergi sambil bersiul dan memasukan kedua tangan ke saku celananya. " –Hahh.. Aku tak menyangka..."
..
..
..
..
..
~*It's Fated by nickeYJung*~
To Be Countinued
Udah tahu bukan perasaan YunJaeMin yg sebenarnya?
Yup, diantara mereka belum ada rasa cinta sama sekali.
Chap depan ato Chap depannya lagi, mungkin ending. Cz saya pengen bikin cerita ini ringan aja, ga banyak konflik, n tentunya berbeda dari FF saya yg kebanyakan gendrenya Hurt. Hehehe...
Eh takut ada yg nanya, kenapa saya pake cast cewe bukan cowo buat jd pasangannya Changminnie? cz di cerita ini Changmin ceritanya straight. Dan klo ada yg nanya, siapa itu Park Bomi?
Bomi itu, cewe yg selalu jd couplenya Changminnie di Banjun drama with TVXQ. Saya ga tahu nama aslinya siapa, tapi dia perannya sebagai Bomi. Yg udah nonton pasti tau.. Dia lumayan cantik ko, dan menurut saya, cocok-cocok aja sama Bang Min, wlopun Bang Min lebih cocok sama saya #Plakk *Inget suami sama anak Nik...* kekeke...
Klo ada yg nanya lg kenapa ga Victoria aja? Cz saya ga terlalu suka Victoria, tp bukannya saya benci loh yah, Cuma ga terlalu suka aja, cz kenyataannya saya suka F(x) terutama Amber ;)
Ok, sekian cuap-cuapnya.
Review lagi ya, biar saya semangat buat lanjutinnya :D *Modus lagi*
Salam cinta dari Nickey ;)
YUNJAE IS REAL...!
Always Keep The Faith...^^
