Ini sangat panjang, jd siapkan aja camilan ;)

Yg lupa sm ceritanya, silahkan ubek-ubek aja chapter sebelumnya ^^

Title : It's Fated

Writer : nickeYJcassie

Cast : YunJae-Min, YooSu, Kim Jaehee (Jaejoong's Nuna), Shim (Jung) Jaeyoon, Jessica Jung (SNSD), Park Bomi, etc.

Rating : T (PG 17)

Genre : YAOI, Straight, Friendship, Romance, MPreg ^^

Lenght : 6 of 7

Disclaimer : YunHo MILIK JaeJoong, JaeJoong MILIK YunHo, Cerita ini ASLI MILIK saya.

Warning : YAOI, Boys Love, Typo(s), Ide pasaran, EYD kacau, Judul ga sesuai dg cerita, No Majas, Alur lambat-kadang cepet, yg tidak suka genre, pairing, atau other pairingnya, lebih baik tidak memaksakan membaca daripada nanti menyesal dan berakhir marah-marah, saya cinta damai. Jadi,

TIDAK SUKA? JANGAN BACA! - NO BASH!

..

..

..

~*It's Fated by nickeYJung*~

Chapter 6

"Selamat pagi hyung.."

"Pagi Oppa.."

"Pagi Jae,"

"Morning Mrs. Shim.."

"Annyeong Jaeyoon daddy..."

Sapaan beruntun terus diterima Jaejoong ketika ia menginjakkan kaki di Restorannya.

Jaejoong yang pagi itu terlihat sangat menawan dengan pakaian semi formalnya hanya mengangguk dan tersenyum membalas sapaan beberapa karyawan/watinya itu. Kemudian dengan senyuman yang masih mengembang, pria cantik itu langsung masuk ke ruangan kerjanya.

Jaejoong yang hendak duduk di kursi kebesarannya berhenti sejenak ketika matanya menangkap sebuket bunga yang tergolek di atas meja kerjanya.

Perlahan tangannya terulur mengambil bunga itu, kemudian membaca memo yang terselip di sana.

'Bunga cantik, untuk orang yang cantik'

"Tsk.." Jaejoong berdecak, namun bibir penuhnya mengukir senyum.

Sudah tak asing lagi. Hampir seminggu ini, setiap pagi ia selalu mendapatkan kiriman bunga dengan memo yang tertulis kata-kata rayuan –yang menurutnya justru sangat kekanakan dan lebay. Dan yah, ia tahu siapa pengirimnya.

Drrttt Drrrtt...

Merasakan getaran, Jaejoong merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya yang bergetar. Pria cantik itu kembali tersenyum saat nama seseorang yang baru saja terlintas dibenaknya berkedip-kedip di layar ponselnya.

"Wae?" Tanpa basa basi ia langsung bertanya.

["Apa kau sudah menerimanya?"] Sahut seseorang di line seberang.

"Apa kau tak bosan setiap hari mengirimiku bunga?" Jaejoong balik bertanya seraya duduk di kursinya. Pria cantik itu menyimpan bunga tadi di pangkuannya dan memainkan kelopak bunga lili putih yang terlihat cantik itu.

Benar, seperti yang di tulis di memo itu, bunga cantik untuk orang yang cantik.

["Aku tak akan pernah bosan jika yang ku kirimi itu kau."]

Jaejoong tertawa renyah mendengar jawaban orang itu. "Sejak kapan kau jadi gombal eoh? Mr. Jung?" Ia kembali memainkan kelopak bunga cantik itu dan menghirup wanginya yang sangat menenangkan.

["Sejak aku mencintaimu Jaejoongie.."] Sahut Yunho. Terdengar kekehan di seberang sana.

"Aish, berhenti berbicara konyol seperti itu!" Jaejoong membentak, sungguh tak sesuai dengan keadaan pipinya yang merona. Untung saja tak ada orang lain di ruangannya. Jika ada, ia pastikan akan memaki dan menyuruh orang itu keluar demi menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Yunho yang mendengarnya hanya tertawa. ["Hahaha...Kalau aku tahu menggodamu sungguh menyenangkan, pasti aku sudah melakukannya sejak dulu.."]

"Tsk," Jaejoong mendengus. Sedangkan Yunho semakin tertawa keras.

["Hahaha... Ok, maaf..."] Yunho terdengar berusaha menahan tawanya. [" –Apa nanti siang kau sibuk?" Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Nanti aku menjemputmu."] Imbuhnya bertanya.

"Kalau aku menolak, apa boleh?"

["Kau pasti tahu jawabannya."]

"Lalu kenapa kau bertanya aku sibuk atau tidak hah?!" Jaejoong jadi emosi. Jung Yunho ini benar-benar senang membuatnya meledak-ledak.

["Hahaha..."] Yunho kembali tertawa keras. [" –Jangan marah, nanti tambah cantik loh.."]

"Yya!"

["Ok, ok, jam satu nanti aku jemput. Bye Joongie, saranghae.."]

PLIP

"Yya! Yobosseo? Yob—aish..." Jaejoong menggerutu sebal ketika dengan tidak sopannya Yunho langsung mematikan sambungan teleponnya, padahal ia sudah bersiap-siap akan memarahi namja Jung itu karena sudah mengatainya cantik. Apakah dia lupa jika dirinya paling anti dibilang cantik eoh? Dan lagi, apa Yunho bilang? Saranghae?

Sa..rang..hae...?

"Aish.." Jaejoong menggelengkan kepalanya cepat. 'Tidak. Yunho pasti hanya menggoda saja mengatakan itu, dia tidak serius!' Kata hati namja cantik itu mencoba mengelak.

._.

._.

Seperti janjinya. Yunho mejemput Jaejoong ke restorannya tepat jam satu siang. Dan saat ini keduanya tengah menunggu pesanan makan siang mereka di sebuah cafe sederhana di seberang gedung SMU mereka dulu.

"Kenapa kau membawaku kemari?" Jaejoong mengedarkan pandangannya ke sudut ruang cafe. Tempat itu tak berubah meski sudah lama ia tak menginjakkan kaki di sana. Mungkin hanya kursi dan mejanya saja yang terlihat baru, selebihnya, penempatan kursi dan meja, juga cat dindingnya masih sama seperti dulu. Entah kenapa cafe bernama Purple Line itu senang sekali memakai cat tembok warna ungu. Ah dia lupa, namanya juga Purple Line 'kan?

"Karena di sini tempat yang penuh kenangan." Jawab Yunho ikut melihat ke sekeliling.

Jaejoong membenarkan. Dulu ketika mereka masih SMU, mereka berlima –YunJaeYooSuMin- sering menghabiskan waktu di cafe itu, malah tak jarang saat mereka bolos, tempat itu menjadi tempat favorite kelimanya untuk bersembunyi dari amukan guru kedisiplinan.

"Kau benar.. di sini penuh kenangan..." Desah Jaejoong sambil menerawang mengingat kembali kenangan indah ketika ia SMU dulu.

"Pesanannya Tuan..." Seorang pelayan menyimpan makanan pesanan Yunho dan Jaejoong di meja.

"Gomapseumnida.." Yunho dan Jaejoong menunduk ramah.

"Ne.. silahkan dinikmati..." Balas pelayan pria itu tak kalah ramah. Kemudian ia pergi untuk melayani tamu-tamu yang lain.

"Wah... keliatannya enak... Ommo... ini makanan favorite kita dulu, benar 'kan?" Tanya Jaejoong antusias.

Yunho hanya tersenyum sambil mengangguk.

"Aku tak percaya kau masih mengingatnya." Dengan semangat Jaejoong memasukkan makanan ke mulutnya.

"Aku pasti ingat jika itu berhubungan dengan kalian." Sahut Yunho dan mulai ikut menyantap makanannya.

"Tapi kenapa setelah kau pergi ke Paris, kau melupakan kami? Bahkan satu emailpun tak pernah kami terima."

"Uhuk.. uhuk..." Yunho tersedak mendengar ucapan jujur Jaejoong. Sedangkan Jaejoong sendiri hanya tak acuh dan kembali makan tanpa berniat memberikan Yunho minuman.

"Uhuk, uhuk... Kenapa kau bahas itu lagi?" Yunho menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Ia mengambil segelas air putih dan langsung meneguknya hingga tak bersisa.

"Faktanya 'kan memang seperti itu.." Ucap Jaejoong masih bersikap cuek.

"Geurae, untuk yang kesekian kalinya aku minta maaf.. aku memang sudah keterlaluan, okay?" Namja Jung itu jadi sedikit emosi. Apa yang dikatakan Jaejoong memang benar. Tapi mau bagaimana lagi? Itu sudah terjadi. Jika bisa, ia pun ingin mengulang waktu. Mungkin dengan begitu, ia tak akan sampai putus komunikasi dengan sahabat-sahabatnya, dan juga, mungkin ia bisa tahu kalau Jaejoong mengandung anaknya, lalu ia akan menikahi Jaejoong hingga Jaejoong dan Changmin tak perlu menikah. Dan Jessica...

Yunho tertegun dengan pemikirannya sendiri. Apa benar jika ia lebih dulu tahu tentang kehamilan Jaejoong, ia akan bertanggung jawab menikahi Jaejoong dan menceraikan Jessica? Bukankah pernikahannya dengan Jessica saat itu baru beberapa bulan saja? Bukankah dulu ia juga sangat mencintai Jessica?

Yunho terdiam dengan berbagai pemikiran yang berkelabat di kepalanya.

Jaejoong menghentikan kunyahannya ketika melihat Yunho hanya diam melamun. Apa karena ucapannya yang menyindir, ayah biologis puterinya itu jadi kembali merasa bersalah?

Hah.. Bukan begitu maksudnya. Perkataan sarkastiknya itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Jangan salahkan dia, Yunho sendiri yang mengungkit masalah itu.

"Err... aku minta maaf kalau ucapanku menyinggungmu.." Ujar Jaejoong pelan merasa tidak enak. Namun sepertinya Yunho tak mendengarnya, pria tampan itu masih tetap diam. " –Yunho.." Panggil Jaejoong mengibaskan tangannya di depan wajah Yunho. " –Jung Yunho!" Kali ini suaranya lebih keras. Namun Yunho tetap bergeming.

Jaejoong berdecak. Sebenarnya apa yang tengah Yunho pikirkan eoh? " –JAEYOON APPA!"

Suara menggelegar Jaejoong langsung membuat Yunho terkesiap dan refleks menatap namja cantik itu. Tapi sepertinya, tak hanya Yunho, lihatlah hampir semua orang yang ada di cafe itu menoleh ke arah mereka berdua. Bahkan beberapa karyawan cafe itupun sempat menghentikan pekerjaan mereka sejenak.

Merasa menjadi pusat perhatian, Jaejoong segera berdiri dan membungkuk sambil bergumam meminta maaf karena sudah mengganggu ketenangan. Namja cantik itu kembali duduk dan langsung menatap nyalang tersangka yang sudah membuatnya merasa malu.

"Apa sebenarnya yang kau pikirkan eoh? Aku memanggilmu dari tadi, tapi kau hanya diam seperti orang bodoh. Aish.. kau membuatku malu.." Omel Jaejoong kesal.

"Kenapa kau menyalahkanku..?" Sahut Yunho tak terima.

"Mwo?" Mulut Jaejoong menganga, mata bulatnya mengerjap-ngerjap tak percaya. Sudah jelas alasan dia berteriak tadi karena pria Jung itu, tapi sang tersangka malah tak terima?

Jaejoong kembali menutup mulutnya. Pria cantik itu menghirup nafasnya dalam. Kali ini ia tak ingin berdebat dengan ayah puterinya itu. "Sudahlah, lebih baik cepat habiskan makanannya, lalu kita pulang." Ucapnya kesal. Lantas Jaejoong kembali menyuapkan makanannya dengan kasar.

Yunho hanya menggendikkan bahunya tak acuh. Sepertinya tadi ia terlalu larut dalam lamunannya hingga membuat otaknya sedikit bekerja lambat. Tsk, namja Jung itu benar-benar tidak peka.

"Ah, geurae, Jaejoong-ah.. besok aku ingin membawa Jaeyoon ke rumah, abeoji dan eommoni merindukan mereka, katanya sudah lama mereka tak bertemu Jaeyoon, boleh 'kan?"

Jaejoong menatap Yunho sinis.

"Err.. Gwaenchana.. abeoji dan eommoni sudah merestui kita.." Ucap Yunho seolah mengerti arti tatapan Jaejoong.

Jaejoong tak menjawab. Jujur saja, ia masih belum yakin jika orangtua Yunho mau menerima begitu saja kenyataan jika Jaeyoon adalah cucu kandung mereka, karena sampai saat ini Jaejoong dan orang tua Yunho belum pernah bertemu lagi sejak saat dimana ia datang untuk memberitahu status Jaeyoon dulu. Ia pikir orangtua Yunho belum bisa menerimanya.

"Eottae?" Yunho masih berharap Jaejoong akan mengijinkannya. Ia hanya berpikir, ini saatnya membuat hubungan Jaeyoon dan orangtuanya lebih dekat lagi, karena bagaimanapun Jaeyoon adalah puteri kandungnya, cucu mereka, dan penerus keluarga Jung.

"Baiklah.. kebetulan besok aku tak bisa menjaga Jaeyoon karena besok sidang perceraianku dengan Changmin."

"Besok sidang perceraian kalian?" Yunho nampak terkejut.

"Nde... setelah semuanya selesai, aku akan memulai kehidupan baruku bersama Jaeyoon..." Jaejoong tersenyum simpul, namun hatinya merasa lebih lega.

Yunho terdiam. Dalam hati ia ikut tersenyum. 'geokjeonghajima Jaejoong-ah, aku akan menemanimu, kita akan memulai kehidupan baru itu bersama.. aku, kau dan Jaeyoon... kita akan bahagia, aku janji...' Dan mulailah ia berimajinasi tentang kehidupan bahagianya bersama Jaejoong dan Jaeyoon.

"Sepertinya ini sudah lewat jam makan siang. Lebih baik kita kembali." Jaejoong membereskan peralatan makannya. Ia mengambil air putih dan meminumnya pelan. Ekor matanya melirik Yunho yang kembali mematung seperti tadi. Tapi kali ini berbeda, bibir hati itu melengkung. Mata musang itu mengarah ke arahnya. Yunho menatapnya sambil tersenyum seperti orang bodoh.

" –Yunho..!"

See, benar 'kan? Yunho bahkan tak mendengar panggilannya. Jaejoong memutar bola matanya malas. " –Baiklah, daripada aku kembali malu, lebih baik kau ku tinggal..." Jaejoong berdiri. " –Teruslah melamun seperti orang bodoh Jung, kalau perlu sampai pagi!" Imbuh Jaejoong sarkastik. Lantas pria cantik itu pergi meninggalkan Yunho yang masih melamun sambil tersenyum. Ckck.

Yunho memang melihat Jaejoong berdiri dan pergi, namun di dunia khayalnya ia seperti tengah melihat Jaejoong tersenyum berpamitan padanya hendak pergi berbelanja.

Dan ketika tubuh Jaejoong menghilang dari pandangannya –keluar cafe, barulah Yunho tersadar kembali ke alam nyata. Dan dia cukup terkejut saat mendapati dirinya ternyata masih berada di cafe dengan seorang pelayan yang berdiri di hadapannya, bukan di halaman rumah seperti di dunia khayalnya.

Yunho mengedarkan pandangannya ke sekeliling cafe mencari Jaejoong, namun ternyata Jaejoong sudah benar-benar pergi meninggalkannya.

"Wae?" Tanya Yunho pada pelayan itu dengan nada sedikit ketus.

"Umm.. maaf Tuan, tapi teman anda sudah pergi, apa anda juga akan pergi sekarang, ini billnya." Pelayan wanita itu menyerahkan nota pembayaran pada Yunho dengan sedikit ragu, mungkin ia merasa pandangan mata musang Yunho cukup menusuk.

Yunho mengambil kertas itu dan melihatnya. Pria tampan itu mengeluarkan beberapa lembar won dan menyerahkannya pada pelayan itu. " –Kembaliannya untukmu saja.." Yunho berdiri dan sedikit merapikan jasnya, kemudian dengan gaya layaknya Presiden Direktur, ia melangkahkan kakinya –berjalan keluar cafe itu. Ck, tak tahu saja, jika tadi Presiden Direktur YJ Group itu bersikap seperti orang autis. (-_-)

"Terimakasih Tuan!" Seru pelayan cafe itu girang. Terang saja, kembaliannya masih sangat banyak. Ah, Tuan tampan itu benar-benar baik, walaupun sedikit menyeramkan. Pikir pelayan wanita itu.

._.

._.

~*It's Fated by nickeYJung*~

Cuaca hari itu sangat cerah. Tidak terlalu dingin meskipun masih musim dingin. Semalam salju memang tidak turun, hingga pagi ini tak banyak kendaraan pembersih salju beroperasi.

Changmin dan Jaejoong sedang dalam perjalanan menuju pengadilan.

Hari ini sidang perceraian mereka. Keduanya sepakat berangkat bersama dalam satu mobil. Meskipun mereka akan berpisah dan mengakhiri pernikahan mereka, namun hubungan Changmin dan Jaejoong tetap baik. Mungkin karena diantara keduanya tidak ada rasa cinta, hingga perceraian tak menjadi sebuah beban. Justru dengan bercerai, mereka yakin akan menemukan kebahagiaan yang selama ini mereka impikan. Bukannya selama pernikahan, mereka tak bahagia. Mereka cukup bahagia, namun kebahagiaan itu rasanya tak cukup jika rasa cinta itu tidak ada. Pernikahan tanpa cinta memang masih bisa dijalani dan bukan tidak mungkin akan berakhir bahagia jika kita saling mendukung dan menyayangi. Namun dalam pernikahan, cinta juga hal yang penting, karena kebahagiaan itu tak akan mutlak kita dapatkan jika kita masih membohongi perasaan kita sendiri.

._.

"Kau sudah siap?" Tanya Changmin. Kini keduanya sudah berdiri di depan ruang persidangan mereka. Jaejoong dan Changmin memang sengaja tidak menyewa jasa advokat, yang mengurus semuanya hanya mereka berdua saja.

"Um," Jaejoong hanya mengangguk mantap. Lantas keduanya masuk ke ruangan itu.

Proses perceraian mereka berjalan kurang lebih satu jam. Changmin dan Jaejoong keluar dari ruangan itu setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih dan berpamitan pada petugas di sana.

Kini mereka sudah resmi bercerai. Jaejoong tidak lagi menyandang status Nyonya Shim. Kini ia kembali menjadi Kim Jaejoong.

Keduanya berjalan berdampingan menuju tempat parkir dengan perasaan yang lebih lega.

"Kau merasa lega?"

"Nde, aku merasa lega.. awalnya aku takut, tapi..." Jaejoong menghentikan langkahnya, ia menoleh menatap Changmin. " –Boleh aku memelukmu Changmin-ah..?" Entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

Sejenak Changmin tertegun, namun tiga detik kemudian ia tersenyum dan merentangkan tangannya.

Grep

Jaejoong memeluk tubuh tinggi itu. "Gomawo Changmin-ah... kau orang yang sangat baik, maaf jika selama menjadi istrimu aku kurang baik."

"Haha..." Namja tinggi itu tertawa renyah. " –Kau tahu Jae? Kau adalah ibu sekaligus istri yang paling sempurna, aku selalu puas dengan pelayananmu, hanya saja aku—"

"Kau tak mencintaiku. Arrasseo, jangan katakan lagi!" Jaejoong melepaskan pelukkannya dan berpura-pura marah.

Changmin mengacak-acak rambut Jaejoong. Ia tahu Jaejoong hanya berpura-pura merajuk. Jika harus jujur, Changmin sangat menyayangi Jaejoong, maka dari itu dulu ia mau membantu Jaejoong dengan menikahinya meskipun alasan utamanya karena Jaejoong pandai memasak tentu saja. Baginya sekarang Jaejoong seperti adiknya, padahal secara usia Jaejoong lebih tua beberapa bulan darinya. Maka dari itu juga Changmin bersikukuh ingin Jaejoong dan Yunho bersama, karena ia yakin hanya Yunho yang mampu menggantikan posisinya "Kau tenang saja, sekarang ada orang yang sangat mencintaimu."

"Nugu?"

"Jung Yunho, sudah saatnya kau membuka hatimu untuknya Jae.."

"Tsk, kenapa kau memaksa sekali?" Jaejoong kembali melangkahkan kakinya.

"Kau akan tahu jawabannya jika hatimu sudah bicara." Senyuman manis tersungging dari bibir namja tinggi itu.

"Changmin oppa!" Seruan seorang yeoja menginterupsi percakapan keduanya.

Jaejoong dan Changmin menoleh ke sumber suara. "Bomi-yah..." Changmin tersenyum melihat kekasihnya berjalan menghampirinya.

"Kalian sudah selesai? Mianhae, aku terlambat..."

"Gwaenchana.." Sahut Changmin lembut.

"Ah Jaejoong sunbae, apa kabar?" Sapa Park Bomi mengangguk ramah. Kekasih Shim Changmin itu memang sengaja datang untuk menghadiri proses perceraian Changmin dan Jaejoong, namun ia terjebak macet hingga datang setelah proses itu selesai.

"Seperti yang kau lihat? Aku sangat baik." Jaejoong tersenyum tak kalah ramah.

"Oremaniya.. kau terlihat semakin cantik, ah maksudku tampan.." Bomi tersenyum kikuk, ia lupa, Changmin pernah bilang kalau Jaejoong paling anti dibilang cantik. Tadi dia mengatakan itu karena memang kenyataannya seperti itu, Jaejoong terlihat sangat cantik, bahkan jika harus Jujur, ia juga mengaku kalah cantik dari namja di depannya ini.

"Aku memang selalu tampan Bomi-yah.." Jawab Jaejoong narsis, hal itu membuat mantan suaminya memutar bola matanya malas.

"Hahaha... aku setuju sunbae, kau memang tampan." Bomi mengcungkan satu jempolnya.

"Sudah, sudah kau membuatku cemburu.. aku juga tampan dan manly, kau tidak memujiku?" Changmin terlihat sewot.

"Oppa jangan terlalu percaya diri. Tapi tak apa, karena aku tak bisa memujimu, jadi kau puji saja dirimu sendiri."

"Yya!"

"Hahaha.. peace oppa, aku hanya bergurau.." Telunjuk dan Jari tengah Bomi membentuk huruf V.

Senyuman manis tercetak di wajah cantik Jaejoong saat melihat keakraban mantan suami dan kekasih baru mantannya itu. Hah... sungguh, ia merasa bahagia akhirnya bisa melihat Changmin mendapatkan belahan jiwanya.

"Aah, bagaimana kalau kita makan siang dulu di cafe seberang? Kelihatannya makanan disana lumayan.." Ajak Jaejoong sambil menunjuk sebuah kafe di seberang gedung pengadilan itu.

Dua orang yang tengah beradu mulut itu berhenti.

Changmin melihat ke arah cafe yang ditunjuk Jaejoong. "Ah, aku kenal pemiliknya, dan memang makanan di sana cukup enak. Baiklah.. kkajja..."

._.

._.

"Jadi kau berhenti dari pekerjaanmu?" Tanya Jaejoong sambil menyeruput jus strawberi-nya. Mereka bertiga sudah selesai makan siang, dan memutuskan untuk mengobrol sebentar.

"Nde, Bosnya sangat pelit. Aku tak betah kerja di sana.." Jawab Bomi seraya mengaduk aduk minumannya dengan pipet (sedotan).

"Um, bagaimana kalau kau bekerja di restoran kami saja Bomi-yah?" Tawar Jaejoong.

"Memangnya kita kekurangan chef?"

"Joe mengundurkan diri karena istrinya melahirkan, awalnya dia hanya cuti, tapi mungkin dia tak bisa kembali meninggalkan istrinya, apalagi sekarang sudah ada seorang anak,pasti berat kalau harus pisah negara." Jaejoong menjawab pertanyaan Changmin.

"Kau tertarik?" Changmin bertanya pada Bomi.

"Tapi aku belum begitu ahli, takutnya—"

"Tidak perlu takut, aku percaya padamu, pilihan Changmin tak akan salah." Sela Jaejoong tersenyum.

"Sunbae terlalu memuji, aku tak sehebat itu..." Rona merah mulai menjalar di wajah cantik Bomi.

"Kau tau Bomi? Kriteria wanita idaman Changmin itu bukan dari wajah dan bentuk fisik, tapi yang paling utama adalah... " Jaejoong melirik Changmin dengan ekor matanya, ia tersenyum sedikit menyeringai. " –Masakannya."

"Ye?"

"Gzz... Kenapa kau membuka kartuku..?" Desis Changmin pelan. Namun Jaejoong mengindahkannya dan berpura-pura tak mendengar.

"Bagaimana?"

"Um Jae, spertinya ini sudah sore, kau harus menjemput Jaeyoon di rumah Jung ahjussi 'kan?" Changmin mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin Bomi berpikir macam-macam. Changmin tak ingin Bomi mengira dirinya memilih gadis itu karena Bomi pintar memasak makanan yang lezat. Changmin benar-benar mencintai Bomi, dan untuk keahlian kekasihnya, menurutnya itu hanya sebuah nilai plus saja.

"Ah, aku lupa..kalau begitu aku duluan ya... Bomi-yah... ku harap kau mau menerima tawaranku." Jaejoong mengerling pada wanita itu. " –Baiklah..aku pergi... kau yang bayar ya Tuan Shim." Lantas Jaejoong bangun dan pergi meninggalkan sepasang kekasih yang entah kenapa menjadi merasa canggung.

"Uhm.. lebih baik kita juga pergi sekarang.." Changmin merasa kikuk. Jujur saja, ia takut Bomi akan meninggalkannya seperti yeoja-yeoja yang pernah ia dekati selama ini, hanya karena hobinya yang lain dari yang lain itu. Sungguh, ia sudah merasa nyaman dengan Bomi, hal itu juga yang membuatnya mengambil keputuskan untuk menceraikan Jaejoong. Changmin merasa, Bomi adalah yeoja yang tepat untuk menjadi pendampingnya. Dan terlebih, Bomi sudah berhasil mencuri hatinya, ia mencintai gadis itu.

Sejenak Bomi hanya terdiam memandang gelas kosong bekas minum Jaejoong tadi, jika boleh jujur, ia sedikit terpengaruh dengan perkataan Jaejoong sebelumnya, namun segera ditepisnya rasa itu. Perlahan bibirnya melengkungkan senyuman. "Oppa tak perlu khawatir, aku tau kau sangat menyukai makanan. Tapi aku percaya, oppa juga mencintaiku." Bomi menoleh dengan senyuman yang masih tercetak di wajahnya.

Perkataan Bomi itu membuat hati Changmin menghangat. Sepertinya kali ini ia tidak salah pilih. Bomi sangat baik dan mengerti dirinya. "Apa yang Jaejoong katakan memang benar, karena kau pandai memasak makanya aku menyukaimu, namun lebih dari itu. Hatiku memang sudah memilihmu, bukan karena keahlianmu atau wajah cantikmu, tapi karena... kau membuatku nyaman, kau sudah mengambil hatiku. Gomawo Bomi-yah... percaya padaku, aku sangat mencintaimu... "

"Oppa... kau membuatku malu.." Bomi menunduk menyembunyikan pipinya yang merona karena ucapan kekasihnya itu. " –Tapi terimakasih, aku juga mencintaimu..."

Dan keduanya saling melempar senyum. Hah... jatuh cinta itu memang indah..

._.

._.

~* It's Fated by nickeYJung*~

Ketiganya tengkurap di atas hambal yang digelar di ruang keluarga dengan posisi tubuh membentuk huruf Y.

Jung Dongha, Jung Raesuk dan Shim Jaeyoon terlihat asik dengan dunia mereka. Suara televisi yang tengah menyiarkan berita selebritis Korea Selatan itu pun tak diindahkannya. Mereka lebih memilih bercerita sambil memangku kedua tangan dengan dagu mereka.

"Jadi... Yoon sangat suka pesta?" Tanya Jung Raesuk pada cucunya. Nyonya Jung itu menggerak-gerakkan kakinya naik-turun dengan tangan yang masih menopang dagunya. Sungguh seperti bukan Nyonya besar saja.

"Nde, halmoni.. Yoon sangat suka pesta, kalena di sana suka banyak makanan yang enak-enak, apalagi kalau pesta ulang tahun, pasti banyak balon sama badutnya.." Jawab Jaeyoon dengan ekspresi menggemaskan.

"Waah... kau seperti appamu nak, dia juga suka sekali pesta. Malah harabeoji masih ingat. Saat appamu berumur tujuh tahun, dia memaksa ingin dibuatkan pesta ulang tahun, padahal hari itu bukan ulang tahunnya. Tapi dia menangis sampai berguling-guling di halaman sekolahnya. Katanya dia ingin seperti temannya yang kemarin berulang tahun, temannya itu mendapat hadiah dari banyak orang. Mungkin dia iri.. "

"Hah? Jinjja?"

"Nde, halmeoni juga ingat. Setelah hari itu, appamu selalu antusias jika mendengar kata pesta. Dia akan ikut ke manapun selama itu acara pesta atau perayaan. Bahkan saat SMU dulu, appamu pernah di usir security karena datang ke pesta tanpa undangan. Katanya sepulang sekolah dia melihat pesta pernikahan di sebuah hotel, karena tertarik dia masuk saja, tapi ternyata itu pesta pernikahan anak mentri pertahanan saat itu, dan banyak security yang berjaga di sana, tentu saja appamu diusir karena sembarangan masuk tanpa membawa undangan." Nyonya Jung ikut bercerita tentang masa lalu Yunho yang menurutnya sungguh memalukkan, padahal dulu mereka merupakan keluarga terpandang, tentu saja hal itu membuat Tuan dan Nyonya Jung malu bukan kepalang.

"Apa sepelti itu?" Jaeyoon masih terlihat tak percaya. Apa benar appanya yang terlihat menyeramkan itu mempuanyai sifat seperti itu? " -Kenapa memalukan sekali?"

Kali ini Tuan dan Nyonya Jung terkikik mendengar komentar cucu mereka tentang ayahnya.

"Appamu memang seperti itu sayang, dia akan gila kalau sudah berhubungan dengan pesta. Malah pernah—"

"Sudah selesai ceritanya?"

Tanpa diduga orang yang tengah dibicarakan sudah berdiri di belakang Tuan Jung sambil melipat kedua tangannya di dada, membuat ke tiga orang yang tengah bersantai itu mendongkakkan kepala.

"Eh, kau... sudah pulang rupanya..." Tuan Jung tersenyum canggung.

"No wasseo? Kenapa eommoni tak mendengar suara mobilmu?" Dengan segera Nyonya Jung bangkit dan berdiri merapikan pakaiannya, ia juga tersenyum canggung pada anaknya, merasa ketahuan sedang membongkar aib sang anak pada cucunya.

"Tentu saja kalian tak mendengar, karena kalian sedang serius." Ucap Yunho menekan kata serius.

Melihat aura tak bersahabat dari anaknya, Tuan Jung segera duduk dan sedikit berdehem. "Um.. Jaeyoonie, nanti kita lanjutkan berceritanya yah.." Ujarnya pada sang cucu.

"Uh, appa nganggu aja, Yoon 'kan sedang selius dengelin celita halaboji sama halmoni." Jaeyoon cemberut, gadis kecil itu masih tetap pada posisinya –tengkurap.

"Annyeong..."

Tiba-tiba saja suara lembut itu mengalun menyapa keempat orang yang berada diruang keluarga itu.

Semuanya serempak menoleh, dan senyuman terkembang di wajah Nyonya dan Tuan Jung. Mereka pikir, kedatangan Jaejoong sangat tepat. Karena dengan begitu, mereka tak akan terkena amukan Yunho yang sedari tadi terus menatap tajam keduanya kerena mereka sudah membongkar aibnya.

"Jae.."

"Selamat sore eommoni, abeoji..."

"Kau datang..." Tuan Jung tersenyum pada Jaejoong.

"Daddy...!" Dengan cepat Jaeyoon bangkit dan langsung saja berlari menghampiri sang daddy.

Grep!

"Kenapa lama sekali?" Tangan mungil itu memeluk erat kedua kaki Jaejoong.

"Mian... tadi daddy bertemu teman dulu.." Jaejoong mengusap sayang kepala Jaeyoon.

"Sini.. duduklah.." Jung Raesuk mempersilahkan Jaejoong.

"Terimakasih eommoni, tapi aku langsung pulang saja, ini sudah sore.." Tolak halus Jaejoong.

"Aigoo... duduklah sebentar, atau bagaimana kalau kau makan malam di sini saja?" Tawar Tuan Jung.

"Maaf abeoji, tapi.."

"Eommoni masih ingin bersama Jaeyoon, jadi kalian makan malamlah disini, nde... jebal..." Nyonya Jung menangkupkan kedua telapak tangannya dengan ekspresi dibuat sememelas mungkin.

"Tapi..."

"Sudahlah Jae, bukankah ini bagus? Kita bisa makan sekeluarga. Sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini.." Sela Yunho menimpali.

"Yoon juga mau makan malam disini, masakan halmoni enak!"

"Hahaha... Yoon bisa saja.." Nyonya Jung merasa tersanjung oleh pujian cucunya.

"Sudahlah, pokoknya kau harus makan malam disini. Tidak ada penolakkan!" Ucap Tuan Jung tegas namun bibirnya menyunggingkan senyuman.

Dan Jaejoong hanya bisa pasrah. Dia memang tak akan bisa menolak jika kedua orang yang sudah seperti orangtuanya itu memerintahnya.

._.

._.

~*It's Fated by nickeYJung*~

Hahh...

Helaan nafas berat keluar dari mulut mungil Jaejoong.

Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari, namun Jaejoong masih belum bisa memejamkan matanya untuk berkelana ke alam mimpi.

Namja cantik itu kembali mendudukkan tubuhnya setelah sedari tadi hanya berguling-guling tak jelas di atas tempat tidur.

Perkataan orangtua Yunho tadi sore sungguh mengganggunya.

Setelah makan malam tadi, Tuan dan Nyonya Jung meminta berbicara serius dengannya. Dan kalian tahu apa yang dibicarakan?

Kedua orangtua Yunho itu melamarnya.

Yah, melamar. Melamar dirinya untuk dijadikan menantu, yang berarti istri dari anaknya Jung Yunho.

Tentu saja saat itu Jaejoong sangat terkejut, meskipun dia tahu orangtua Yunho kini sudah merestui jika dia menjadi istri Yunho, tapi tetap saja Jaejoong masih ragu untuk menerimanya.

Jaejoong memang sempat menolak dengan alasan masih belum mau berumah tangga lagi, namun Tuan dan Nyonya Jung tak kehabisan akal, mereka menyuruh Yunho dan Jaejoong bertunangan dulu, dan untuk pernikahan, mereka bilang tak masalah jika tak mau sekarang.

Dan ketika senjata utama Jaejoong keluarkan, yakni dengan mengatakan kalau Yunho dan Jessica belum resmi bercerai, orangtua Yunho dengan tenang berkata bahwa mereka sudah mengurus semuanya, mereka sudah mengirimkan pengacara pribadi keluarganya ke Paris sana, dan mereka pastikan Yunho dan Jessica sudah resmi bercerai meski Yunho tak mengikuti prosesnya.

Drrttt... Drrrtt...

Lamunan Jaejoong terusik dengan getar ponselnya yang di simpan di atas meja nakas.

Dengan malas, Jaejoong mengulurkan tangannya mengambil benda elektronik itu.

"Ck.." Berdecak ketika nama seseorang muncul di layar ponselnya. "Wae?" Dengan malas Jaejoong menjawab.

["Jae, aku sakit..."] Terdengar suara lirih dari line seberang.

"Lalu?" Jaejoong masih bersikap tak peduli.

["Kau tak mau menjenguk?"]

"Sejak kapan kau sakit? Bukankah beberapa jam lalu masih baik-baik saja?"

["Aku juga tak tahu, setelah mengantarmu dan Jaeyoon pulang tadi, aku pulang ke apartementku, lalu tiba-tiba kepalaku terasa berat, dan sekarang tubuhku menggigil. Tapi sebenarnya sejak siang tadi aku sudah merasa tak enak badan.. sekarang, aku tak bisa tidur.."]

"Apa kau sudah menghubungi orangtuamu?"

["Belum, mereka pasti sudah tidur, ini sudah tengah malam."]

"Kau sendiri tahu ini tengah malam, tapi kenapa malah menghubungiku? Tks!"

["Kau 'kan sahabatku, lagipula saat kuliah dulu jika aku sakit kau akan segera datang ke apartemenku lalu merawatku."]

"Hahh..." Menghembuskan nafas lagi. " –Baiklah kalau begitu besok aku ke tempatmu."

["Jinjja? Gomawo Jaejoong-ah... saranghae..."]

Plip

"Yya! Aish... Kenapa orang ini suka sekali memutus sambungan tiba-tiba?" Gerutu Jaejoong. Hah... lagi-lagi dia mendapatkan kata cinta dari sahabat bodohnya itu.

._.

._.

Senyuman itu masih terus terkembang di wajah tegasnya. Yunho merasa senang karena Jaejoong menepati janjinya untuk datang ke aprtemennya. Dan yang membuat ia semakin senang lagi, karena Jaejoong datang dari pagi dan dengan telaten mengurusnya.

Dimulai dari membuatkan bubur untuknya, membantunya meminum obat, mengompres dahinya, menungguinya saat ia tidur. Dan sekarang saat malam sudah menyapa, Jaejoong masih berada di apartemennya tengah menyuapinya makan malam. Ahh ia sungguh merasa jadi seorang suami sesungguhnya.

"Jja... minum obatnya.."

Setelah selesai makan, Jaejoong menyerahkan beberapa butir obat kaplet pada Yunho. Sebelum ke apartement Yunho, Jaejoong memang mampir dulu ke apotek untuk membeli obat penurun panas dan flu, itu karena Yunho bersikeras tak ingin pergi ke rumah sakit atau memanggil dokter saat ia menelpon namja Jung itu pagi tadi.

"Gomawo Boo... Hah... aku sungguh merasa beruntung memiliki istri sepertimu.."

Pletakk

"Siapa yang istrimu eoh?" Jaejoong menjitak kepala Yunho pelan.

"Kau menginap 'kan?" Tanya Yunho sambil mengelus kepalanya yang dijitak Jaejoong tadi.

"Ani, sekarang juga aku mau pulang. Ini sudah malam, Jaeyoon pasti mencariku." Pria cantik itu berdiri dan pergi ke dapur untuk menyimpan piring kotor. Mencucinya di wastafel dan kembali menyimpannya di rak piring.

Setelah itu Jaejoong kembali lagi ke kamar Yunho untuk berpamitan. Namun pria cantik itu sedikit mengeryitkan keningnya ketika melihat Yunho yang berdiri di dekat jendela sambil melipat tangan di dada, tengah memandang hamparan bangunan di bawah sana. Pandangannya terlihat kosong.

"Y-yun... aku pulang dulu, sebaiknya kau segera istirahat.." Jaejoong tak beranjak dari tempatnya, namun ia melihat Yunho memandang ke arahnya dari pantulan kaca jendela.

"Apa usahaku selama ini sia-sia?"

"Ye?" Tanya Jaejoong tak mengerti.

Yunho membalikan tubuhnya, ia menatap jaejoong sejenak,lantas kakinya berjalan menghampiri tempat tidur. Ia naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya, tak lupa selimut yang dari siang tadi selalu membungkus tubuhnya ia tarik. Dan sekarang Yunho memejamkan matanya, menghiraukan Jaejoong yang masih berdiri di tempatnya seraya memandangnya heran.

"Apa tak ada kesempatan untukku untuk bersamamu?" Mata rubah itu kembali terbuka. " –Aku memang bodoh baru menyadarinya sekarang. Aku juga egois, dulu meninggalkanmu dan sekarang malah mengejar-ngejarmu. Tapi apa kau tahu Jae? Setelah aku tahu semuanya tentangmu, aku merasa sangat bersalah. Andaikan aku bisa memutar waktu, seandainya dulu kau memberitahuku tentang kehamilanmu, mungkin semuanya tak akan rumit seperti ini."

Jaejoong terdiam mendengar semua ucapan Yunho.

Keduanya larut dalam pikiran masing-masing hingga suasana menjadi hening.

"Baiklah... sepertinya aku harus menyerah saja... aku minta maaf jika sikapku akhir-akhir ini menggangumu. Aku tak akan memaksamu untuk menikah denganku lagi, kau berhak menentukan pilihanmu, kau berhak menolakku. Tapi kau harus tahu, aku tak pernah main-main dengan kata-kataku, aku mencintaimu Jae, mungkin sejak dulu saat kita masih sekolah. Hanya saja aku yang tak mau mengakuinya dan memilih menikah dengan orang lain dengan alasan ingin menghilangkan perasaan tak wajar itu dan membuktikan jika aku menyukaimu hanya sebatas sahabat. Tapi ternyata takdir berkata lain, dan sekarang membawa kembali perasaan yang sudah hilang itu. Sekarang aku mencintaimu..." Mata Yunho menerawang ke atas. " –Sepertinya aku terlalu banyak bicara ya? Kalau begitu, kau boleh pulang. Terimakasih untuk hari ini, aku merasa sudah cukup sehat.." Yunho tertawa di akhir kalimatnya.

" –Jumusseyo Jae, hati-hati mengemudinya..." Kemudian Yunho membetulkan posisi tidurnya jadi menyamping hingga kini membelakangi Jaejoong. Ia menarik selimutnya sampai sebatas dada.

Jaejoong masih bergeming di tempatnya. Sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu, namun perkataannya itu seolah tercekat di tenggorokannya.

Menarik nafas pelan sambil memejamkan mata.

Hahh...

Perlahan kaki jenjang itu melangkah menghampiri Yunho yang sudah berbaring nyaman di ranjangnya.

Jaejoong berdiri di samping tempat tidur Yunho. Ia menatap gundukan selimut itu sejenak.

"Kau tahu kenapa aku bersikukuh tak mau menikah denganmu?"

Suara Jaejoong membuat mata terpejam Yunho kembali terbuka.

" –Karena aku masih takut. Aku takut dengan kegagalan. Aku sudah merasakan bagaimana kehidupan pernikahan tanpa cinta. Aku tak ingin jatuh ke lubang yang sama."

"..."

"Aku tak meragukan perasaanmu, tapi aku meragukan perasaanku." Entah kenapa nada bicara Jaejoong terdengar putus asa.

Perlahan Yunho bangun dan duduk. Kakinya ia turunkan ke lantai. Ia menggenggam tangan Jaejoong dan menyuruh namja cantik itu duduk di sebelahnya.

Jaejoong menurut. Ia duduk di samping Yunho.

"Kau tak mencintaiku?" Mata rubah itu menatap dalam mata bulat Jaejoong seakan mencari kebenaran disana.

"Molla... yang ku rasakan sejak dulu, aku nyaman berada di sampingmu."

Ucapan Jaejoong itu membuat bibir hati Yunho melengkung –tersenyum.

"Tapi aku juga nyaman saat bersama Changmin."

Dan senyuman itu pudar.

"Maka dari itu Yunho-yah, aku menolakmu, aku tak mau menyakitimu.."

Yunho menggenggam kedua tangan Jaejoong, ia tersenyum hangat. "Geokjeongma, selama kau mau berusaha mencintaiku, aku tak akan merasa tersakiti..."

"..."

"Pernikahanku dengan Jessica juga tak jauh berbeda, selama ini hanya aku yang mencintainya, dari awal dia tak pernah mencintaiku dan tak mau berusaha mencintaiku. Makanya aku memilih melepaskannya. Dan ternyata Tuhan sudah mengatur semuanya. Jadi... ayo kita mulai dari awal..! Aku tak peduli jika kau tak mencintaiku, asal kau mau berusaha membuat cinta itu ada, aku akan menunggu.. dan aku akan bersabar..." Sekali lagi Yunho tersenyum. Dan hal itu membuat hati Jaejoong merasa tenang.

"Terimakasih..." Jaejoong balas tersenyum. " –Kalau begitu aku menerimamu..."

"Kau menerima lamaranku?!" Pekik Yunho senang.

"Ani, ini bukan lamaran.. ini sungguh tak romantis, aku ingin dilamar secara serius... dulu saat menikah dengan Changmin tak ada lamaran sama sekali. Dan sekarang? Aku mau lamaran yang istimewa." Jaejoong mendengus.

"Haha... kalau masalah itu kau tak perlu khawatir. Akan ku pastikan kau terharu nanti...kkk..." Yunho terkekeh. Sementara Jaejoong kembali mendengus, kepercayaan diri namja Jung itu kembali. Pikirnya.

Tiba-tiba saja tangan kanan Yunho memegang pipi Jaejoong, mengelusnya pelan membuat pria cantik itu sedikit gugup.

"K-kau mau a-apa?"

Mata rubahnya menatap jauh ke dalam bola mata hitam Jaejoong. Jemarinya masih mengelus pipi halus ibu dari puterinya itu.

Perlahan Yunho mendekatkan wajahnya, mengeliminasi jarak keduanya.

Jaejoong semakin gugup, ia mencoba menahan dada Yunho. "Yunho..."

"Hmm? Aku hanya ingin membuktikan ucapan Changmin."

"Mwo? Memang apa yang –mmppphh..."

Dan ucapan Jaejoong terpotong oleh lumatan lembut bibir Yunho.

Awalnya Jaejoong mencoba memberontak, tapi tangan kiri Yunho sudah merangkul pinggangnya, dan tangan kanan Yunho menekan tengkuknya hingga Jaejoong hanya bisa pasrah saat bibirnya dijilat, dikulum dan digigit kecil oleh bibir hati Yunho.

Jaejoong tak ingin membalas, namun entah kenapa sesuatu dalam dadanya bergejolak. Darahnya berdesir. Sensasi ini sangat menyenangkan, hingga ia tak sadar mengalungkan lengannya ke leher Yunho.

"Mmckpckpmh..."

Tak ada pergulatan panas, mereka melakukannya dengan sangat lembut, seolah menyalurkan perasaan cinta. Hembusan nafas Yunho terasa masih lebih hangat dari suhu tubuh normal manusia. Ah.. semoga saja setelah ini Jaejoong tidak tertular penyakit flu Yunho.

Setelah merasakan sesak karena kehabisan oksigen, keduanya baru melepaskan tautan bibir mereka.

Yunho mengecup beberapa kali bibir Jaejoong sebagai acara(?) penutup. Dan Jaejoong hanya tersenyum geli dengan mata yang masih terpejam.

"Sekarang aku sudah tahu." Yunho menyeringai halus. Diusapnya sisa saliva mereka yang menempel di sekitar bibir Jaejoong yang kini membengkak.

"Apa?" Jaejoong memicingkan matanya menyelidik. Sedari tadi ia cukup penasaran kenapa tiba-tiba Yunho menciumnya dan berkata ingin membuktikan ucapan Changmin.

Dan seketika ia membekap mulutnya setelah tersadar. Oh My, apakah dia baru saja berciuman dengan Yunho?

Bagaimana bisa?

Bukankah dia pernah mengatakan jika dia hanya akan memberikan bibirnya pada orang yang dicintainya?

Bukankah dia tak mencintai Yunho?

Lalu kenapa dia sangat menikmati ciuman itu?

"Wae Jaejoongie?" Yunho masih menyeringai halus.

"Itu... aku... y-ya! Kenapa tiba-tiba kau menciumku eoh?" Teriak Jaejoong marah. Namun sepertinya tak sungguh-sungguh marah, kentara dari ucapannya jika namja cantik itu gugup dan salah tingkah.

"Waeyo..? Aku 'kan calon suamimu, jadi tak apa 'kan kalau aku menciummu?" Sahut Yunho terkekeh.

"Tapi—" Jaejoong kehilangan kata-katanya.

"Sudahlah... yang pasti sekarang aku bahagia.."

Grep

Bruk

"Yya..!"

Tiba-tiba saja Yunho memeluk Jaejoong dan menghempaskan tubuh mereka ke tempat tidur, hingga kini keduanya berbaring berdampinggan dengan tangan Yunho yang masih memeluk tubuh Jaejoong.

"Ini adalah hari yang paling indah untukku..."

Jaejoong berusaha melepaskan tangan Yunho dari pinggangnya, namun Yunho semakin mempererat pelukannya, hingga ia membiarkan saja tubuhnya dipeluk seenak jidat Yoochun oleh beruang pecinta pesta itu.

"Tapi aku cukup terkejut mengetahui kalau kau sudah menyuakiku sejak dulu.. bagaimana bisa?" Ucap jaejoong sambil menatap langit-langit kamar itu.

"Salahkan dirimu yang bisa membuat pria normal menjadi belok. Kau terlalu sempurna Jae, malah kalau harus jujur kau lebih indah dibanding yeoja-yeoja yang pernah aku jumpai.."

"Tks gombal..."

"Aku serius.."

"Termasuk Jessica?"

"Ck, kenapa kau menyebut namanya? Aku sudah tak peduli lagi padanya. Aku tak ingin lagi mendengar namanya." Yunho melesakkan wajahnya ke lekukan leher Jaejoong, menghirup aroma tubuh Jaejoong yang menenangkan.

"Kau kejam Yun,"

"Salahkan dia, kenapa menyia-nyiakan perasaanku."

Dan Jaejoong hanya bisa menggeleng pelan. Yunho memang seperti ini, jika dia sudah membenci seseorang, dia akan sulit untuk memaafkannya meskipun orang itu sangat penting baginya dimasa lalu."

"Gomawo Yunho-yah... bantu aku... bantu aku mencintaimu..." Lirih Jaejoong sambil mengeratkan pelukan Yunho pada pinggangnya.

Hati Yunho menghangat mendengar itu. Kemudian ia segera bangun memerangkap dan menindih tubuh Jaejoong dengan sikut yang menopang tubuhnya.

"Mau apa lagi?" Jaejoong menatap tajam Yunho. Namun di mata Yunho, Jaejoong terlihat menggemaskan.

"Mau apa ya...?" Goda Yunho menyibak poni pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu. " –Menciummu lagi..."

"ANDWEEEEEE!"

"Ssssttt... kenapa berteriak? Aku bukan mau memperkosamu Jaejoongie...kkkkk..." kekeh Yunho.

"Kau menakutiku Jung! Sekarang cepat lepaskan! Aku mau pulang."

"Tidak. Kau harus menginap di sini."

"Mwo? Shirreo!" Jaejoong mencoba mendorong tubuh Yunho, dia seorang pria 'kan? Dia pasti bisa.

"Baiklah..." Yunhopun mengalah, ia menggulingkan tubuhnya ke samping hingga kini terlentang. Matanya terpejam, dadanya naik turun, mengerjai Jaejoong cukup melelahkan juga ya?

"Ugh..." Jaejoong berusaha bangun sambil menggerutu tidak jelas.

Ting Tong

Ting Tong

"Yunho, ada yang datang.."

Ting Tong

Ting Tong

Mata rubah itu kembali terbuka. "Siapa yang datang malam-malam begini?"

"Mana ku tahu? Cepat buka sana? Berisik!" Suruh Jaejoong karena sedari tadi bel itu terus berbunyi.

"Kau saja yang buka Jae, aku lelah..Hehe.."

"Kenapa harus aku? Yang tuan rumah siapa?" Sahut Jaejoong sewot.

"Tolonglah... aku 'kan sedang sakit..." Pria tampan itu berpura-berpura mengeluh.

"Sedang sakit tapi tadi kau menyerangku. Tks..."

"Ayolah Boo... anggap saja ini rumahmu sendiri, bukankah sebentar lagi kau juga akan menjadi Nyonya Jung dan tinggal di sini eoh?" Yunho menggoda dengan menaik-turunkan alisnya.

Jaejoong mendengus. "Chamkkan! Kenapa kau selalu memanggilku Boo? Apa itu Boo? Terdengar aneh.."

"Itu panggilan sayangku untukmu, Yeobo.. Boo, BooJae, BooJaejoongie.. Maniskan? Hoho.."

Jaejoong hanya menggelengkan kepala. "Terserahlah..." Tak mau ambil pusing namja manis itu segera keluar kamar untuk membuka pintu yang sedari tadi diketuk sesorang dari luar.

"Tamu tidak sopan! Tak tahu apa ini sudah malam?" Gerutunya sambil melihat interkom. " –Nuguya?" Ia melihat seorang yeoja berambut blonde panjang berdiri membelakangi pintu.

Cklekk...

Mendengar suara pintu terbuka, yeoja itu segera membalikan bandannya. Cukup terkejut juga karena yang membukakan pintu itu orang asing baginya.

"Siapa?" Jaejoong mencoba menyapa.

"Ah, maaf.. apa benar ini apartemen Yunho? Jung Yunho?" Tanya yeoja itu sopan.

"Nde.." Jawab Jaejoong singkat seraya menelisik wajah di depannya, rasanya ia pernah bertemu dengan yeoja ini, tapi dimana?

"Apa Yunho ada? Aku ingin bertemu dengannya?" Yeoja itu bertanya kembali.

Jaejoong memperhatikan yeoja itu dari atas sampai bawah. Penampilannya sungguh glamour, baju yang dikenakannya terlihat sangat mahal, apalagi dengan warna rambutnya yang tidak seperti kebanyakan orang Korea, dan dia membawa travel bag?

Travel bag?

"Siapa yang datang Jae?" Merasa Jaejoong sangat lama, akhirnya Yunho memutuskan untuk melihat siapa tamu yang datang berkunjung malam-malam begini ke apartemennya.

Yunho menghampiri Jaejoong yang masih terlihat berdiri di ambang pintu dan tengah bercakap-cakap dengan seseorang.

"Siapa yang—Jessica?"

Mata sipit Yunho terbelak melihat seseorang yang sudah tak diharapkan lagi berdiri di hadapannya. Orang itu juga menatapnya sebentar kemudian tersenyum hangat.

Sedangkan Jaejoong, namja cantik itu mendadak terpaku mendengar nama seseorang yang dipanggil Yunho.

"Annyeong... Yunho-yah..."

._.

._.

._.

._.

._.

~*It's Fated by nickeYJung*~

To be Continued

...

Maaf karena lama updatenya, mendadak mood hilang untuk melanjutkan cerita ini, padahal udah diketik n tinggal edit aja..

Ga mau banyak bercuap-cuap. Lupakan yang sudah sudah, ini masih suasana lebaran. Wlopun saya sudah mengucapkannya di FF sebelah, tapi ga ada salahnya saya mengucapkan kembali di sini.

Minal Aidzin Walfaidzin, Mohon maaf lahir dan bathin, mungkin selama saya jadi author di fandom screenplays ini saya pernah melakukan kesalahan, menyinggung, ato berkata yg menyakitkan hati sebagian reader baik disengaja maupun tidak, saya hanya manusia biasa yg masih punya banyak kekurangan, jadi saya mohon maaf ya...

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H. Untuk semua readers yg merayakan ;)

Semoga kita kembali fitri dan menjadi lebih baik lagi dari tahun lalu, aamiiin...

Ah iya, jika boleh, saya minta saran dan kritikannya, terutama tentang penulisan, jujur saja saya merasa masih banyak kekurangan dalam penulisan, terutama kata-kata yg digunakan kadang salah penempatan, jadi.. mari saling berbagi ilmu, saya akan menerima apapun saran dan kritikannya selama itu membangun dan disampaikan dg bahasa yg sopan. Makasih ^^

Chap depan mau end ga?Hehe...

YUNJAE IS REAL...!
Always Keep The Faith...^^