Title : It's Fated

Writer : nickeYJcassie

Cast : YunJae-Min, YooSu, Kim Jaehee (Jaejoong's Nuna), Shim (Jung) Jaeyoon, Jessica Jung (SNSD), Park Bomi, etc.

Rating : T (PG 17)

Genre : YAOI, Straight, Friendship, Romance, MPreg ^^

Lenght : 8 of 8

Disclaimer : YunHo MILIK JaeJoong, JaeJoong MILIK YunHo, Cerita ini ASLI MILIK saya.

Warning : YAOI, Boys Love, Typo(s), Ide pasaran, EYD kacau, Judul ga sesuai dg cerita, No Majas, Alur lambat-kadang cepet, yg tidak suka genre, pairing, atau other pairingnya, lebih baik tidak memaksakan membaca daripada nanti menyesal dan berakhir marah-marah, saya cinta damai. Jadi,

TIDAK SUKA? JANGAN BACA! - NO BASH!

..

..

..

~*It's Fated by nickeYJung*~

Final Chapter

"Aku... aku menolak... maaf..."

Seketika wajah Yunho berubah sendu. Ia ditolak? Padahal ia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang, apa karena lamarannya tidak romantis seperti yang dikatakan Jaejoong? Tapi ia merasa ini sudah cukup romantis.

"Arrasseo..." Lirihnya kecewa.

Mengabaikan rasa malu karena puluhan mata menyaksikan lamarannya yang ditolak, dengan perasaan kecewa, Yunhopun segera turun dari stage meninggalkan Jaejoong yang masih berdiri di sana, serta Yoochun dan Junsu yang juga masih berdiri di samping gran piano dengan raut terkejut keduanya. Yunho sungguh tak menyangka jika Jaejoong akan menolaknya, padahal ia sudah yakin jika Jaejoong akan menerimanya mengingat hubungan mereka yang semakin dekat akhir-akhir ini, tapi ternyata...

Bisik-bisik terdengar mengiringi langkahnya yang hendak meninggalkan hallrom, namun Yunho seolah menulikan telinganya dan terus saja berjalan tanpa menoleh.

"AKU MENOLAK JIKA TAK MENIKAH DENGANMU!"

Suara teriakan Jaejoong menggema menghentikan langkah pria Jung itu. Semua orang juga mendadak bungkam.

Yunho mengepalkan kedua tangannya. "Arrasseo, aku tak akan memaksamu untuk menikah denganku lagi, kau berhak memilih pasangan hidupmu sendiri!" Sahutnya tanpa menoleh.

"A-apa?" Jaejoong mengerjapkan matanya seperti orang bodoh. Apa ia salah berbicara?

Yunho hendak melangkahkan kakinya kembali jika saja suara lengkingan Junsu tak menggema. "JUNG YUNHO PPABO NAMJA!"

Dengan cepat Yunho menoleh ke arah pria bersuara khas itu, mata rubahnya melotot seolah bertanya 'Apa maksudmu bebek?'

"Kau tidak dengar apa yang Jaejoong katakan HAH? Dia bilang menolak jika tak menikah denganmu, itu berarti dia menerimamu bodoh! Apa dulu kau tak pernah belajar bahasa Korea yang baik di sekolah eoh?" Teriak Junsu menjelaskan maksud perkataan Jaejoong tadi.

Yoochun memuji keberanian istrinya yang berani memaki Yunho di tengah acara resmi seperti ini. Tapi Yunho benar-benar bodoh 'sih, jadi jangan salahkan istri tercintanya kalau tiba-tiba mengamuk seperti ini.

Sejenak Yunho hanya mematung mencerna ucapan Junsu baik-baik. Dan seketika matanya melebar. "Jadi-?!" Pekiknya terkejut dan segera menoleh ke arah Jaejoong. " –Kau menerimaku Jae?"

Jaejoong hanya memutar bola matanya malas. Menyesal, seharusnya tadi ia benar-benar menolak Yunho saja. Hah... kenapa juga ayah biologis puterinya itu harus mempunyai otak dengan kapasitas seperti Yunho? Semoga saja Jaeyoon mewarisi kejeniusannya. Cukup hobby anehnya itu saja –party addict- yang menurun pada Jaeyoon, harapnya.

"Ne..." Jawab Jaejoong malas.

"Jeongmal? Kyaa! Gomawo Jaejoong-ah... Hahahaha...! " Yunho berteriak dan tertawa girang membuat semua tamu yang hadir tercengang dengan tingkahnya itu. Namun merekapun akhirnya ikut tertawa sambil menggelengkan kepala. Tak pernah terlintas di benak mereka sebelumnya jika seorang Jung Yunho bisa bertingkah seperti itu. Akhirnya mereka bisa melihat sisi lain sang GM YJ Group yang terkenal berkarisma itu.

Tuan dan Nyonya Jung hanya berdecak melihat kelakuan putera semata wayang mereka. Malu? Tentu saja. Entah Nyonya Jung mengidam apa dulunya hingga Yunho bisa seperti itu.

Yoochun, Junsu dan Changmin serempak menghela nafas. Sedangkan Jaeyoon yang entah sejak kapan sudah duduk di pangkuan Bomi hanya menggendikkan bahunya tak mengerti apa yang terjadi dengan kedua orangtuanya, terlebih ayahnya yang tertawa seperti orang gila yang kerap ia jumpai di pinggir jalan (?)

Sementara Jaejoong, sungguh, jika di depannya ada jurang, ia ingin melompat saja. Yunho sungguh memalukan, bagaimana bisa dia berteriak dan tertawa kencang di acara seperti ini?

"Ya Tuhan... tolong beri aku kesabaran..." Ucapnya sambil menundukkan wajahnya malu. Tsk!

._.

._.

~*It's Fated by nickeYJung*~

Seoul, 3 Juni 2014

"Ummaaaaa... salapannya manaaaa? Yoon udah telat nih~~~~"

Dengan tergesa Jaejoong menuruni anak tangga kediamannya ketika suara menggelegar itu terdengar dari arah ruang makan. Tak lupa pria cantik itu mengancingkan kembali kemeja yang dipakainya sambil menggerutu tidak jelas. Sesekali ia mengusap tubuh bagian belakangya –bokong- yang terasa perih.

"UMMAAAA!"

"Iya, Umma datang..." Jaejoong berlari kecil ke arah dapur menghampiri sang anak yang sudah duduk di kursi makan dengan wajah seram namun terlihat menggemaskan di matanya.

"Kenapa lama sekali? Emangnya Appa tidulnya di kutub eoh?" Omel Jaeyoon sambil menatap tajam sang 'umma' dengan mata rubahnya.

"Maaf, tadi appamu susah sekali dibangunkan, makanya umma lama.." Menghiraukan tatapan puterinya, dengan cepat Jaejoong menyambar wajan. Menaruhnya di atas kompor, lalu menyalakan kompor itu dan mulai meneruskan kegiatannya yang sempat tertunda tadi.

Tadi saat ia hendak memasak –baru memotong sayuran serta bawang- Jaejoong pergi membangunkan suaminya. Ia menunda acara memasaknya karena tahu kalau suaminya itu sangat susah dibangunkan. Jaejoong menyuruh Jaeyoon yang saat itu sudah rapi dengan seragam TK nya untuk menunggu sebentar, tapi ternyata butuh waktu tiga puluh menit untuk bisa membuat sang suami turun dari tempat tidur.

Awalnya Jaeyoon tak mempermasalahkannya karena gadis kecil yang sekarang sudah berusia empat tahun lebih empat bulan itu asik dengan PSPnya, tapi setelah merasakan perutnya sudah lapar dan melihat jam berbentuk kepala gajah di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, akhirnya Jaeyoon sadar kalau ibunya terlalu lama pergi.

"Cepat masaknya umma~ Yoon ga mau sampai kesiangan, Yoon itu anak yang disiplin!" Suruh Jaeyoon sambil mengetuk-ngetuk meja makan dengan sendok.

"Iya, sebentar lagi..." Jaejoong mengaduk-aduk nasi gorengnya yang sudah diberi bumbu. Kemudian ia mematikan kompor dan menuangkan nasi goreng itu ke mangkuk besar yang sudah disiapkannya tadi.

"Jja... makannya pelan-pelan, ini masih panas..." Jaejoong menyodorkan piring yang sudah terisi nasi goreng buatannya tepat di hadapan Jaeyoon, lantas ia sendiri menarik kursi dan duduk dengan hati-hati mengingat pantatnya sedang 'cidera'.

Jaeyoon meniup nasi gorengnya dengan semangat. Aroma lezat sudah tercium saat makanan itu masih di wajan tadi, dan ia sudah tidak sabar untuk melahapnya.

"Kenapa appa belum tulun?" Tanya Jaeyoon di sela acara makannya.

"Appa masih mandi." Jawab Jaejoong sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

"Belalti sekarang Yoon ga diantal appa?"

"Ini masih ada tiga puluh menit sayang, sebentar lagi appamu pasti turun... sudah cepat habiskan makanannya..." Jaejoong mengambil remah yang menempel di pipi Jaeyoon.

"Pagi semua..." Sapa Yunho yang langsung mendudukkan dirinya di samping Jaejoong.

"Pogi appha.." Balas Jaeyoon dengan mulut penuh.

Yunho mencubit gemas pipi chubby anaknya. Lantas pria yang sudah sah menjadi suami Jaejoong setahun yang lalu itu meminum kopi yang telah disediakan Jaejoong di meja makan.

"Kau tidak makan Yun?" Tanya Jaejoong yang melihat Yunho tak segera menyentuh nasi gorengnya.

"Aku sudah sarapan tadi."

"Tadi? Di mana?" Lelaki cantik itu menautkan alisnya bingung.

"Di kamar saat kau membangunkanku tadi, itu adalah sarapan terlezatku, hehehe..."

Jaejoong yang mengerti langsung saja mendengus. Ingin sekali dirinya menjedotkan kepala Yunho ke tembok jika mengingat lagi kejadian empat puluh menit yang lalu itu.

Ketika Jaejoong hendak membangunkan Yunho, beruang besar itu malah menariknya ke dalam selimut, dan dengan segala bujuk rayu sang beruang, akhirnya Jaejoong pasrah saja saat Yunho menjamah tubuhnya, mungkin jika Jaeyoon tadi tidak berteriak, mereka akan melakukannya hingga siang nanti.

"Gara-gara kau Jaeyoon hampir terlambat!"

"Makanya aku tidak sarapan takut Jaeyoon makin terlambat.."

"Tapi kau harus tetap makan ini pervert Bear... aku sudah membuatnya, kalau tidak aku tak akan mau memasak lagi untukmu. Selamanya!" Ancam Jaejoong serius.

"Aigoo... segitunya... Baiklah.. aku akan memakannya nanti di kantor. Tolong bungkus saja ya.."

"Cih, kau pikir di sini warung nasi?"

"Ah, sudah hampir terlambat, ayo sayang kita berangkat!" Ajak Yunho pada Jaeyoon yang terlihat sudah menyelesaikan sarapannya. Ia berpura-pura tak mengacuhkan Jaejoong yang tengah menggerutu, namun tak ayal lelaki cantik itu mematuhi perintahnya –menuangkan nasi goreng ke kotak bekal untuk dibawanya ke kantor.

Jaeyoon meneguk susu sampai gelasnya kosong. " –Kkajja appa, nanti Yoon telambat... Umma Yoon sekolah dulu ya..." Jaeyoon menghampiri Jaejoong dan mengecup pipi putih ibunya.

Yunho mengambil kotak bekal itu. "Aku berangkat." Dan setelah mengecup kilat bibir cherry sang istri, ia pun segera pergi menyusul Jaeyoon yang sudah lebih dulu keluar mansion mereka. Jaejoong sendiri hanya menggelengkan kepalnya melihat tingkah kedua anggota keluarganya itu. Sebuah senyuman tipis tersungging dari bibirnya.Sepertinya ia menikmati perannya sebagai seorang istri dan ibu. Terbukti dengan dirinya yang sekarang mau dipanggil 'Umma' oleh Jaeyoon. Padahal jika mengingat dulu, Jaejoong paling anti dipanggil dengan sebutan itu.

._.

._.

~*It's Fated by nickeYJung*~

All Jaejoong's Pov

Seoul, 5 Juni 2014

Jung Jaejoong...

Ya, sekarang itulah namaku, setahun lalu tepatnya tanggal 10 juni, aku resmi menikah dengan Jung Yunho, ayah biologis anakku.

Setelah pesta ulang tahun Jaeyoon tahun lalu, kehidupanku mulai berubah, meskipun tak banyak yang berubah, tapi kehadiran Yunho di sisiku sedikit demi sedikit mulai meleburkan egoku, apalagi setelah aku resmi menjadi istrinya.

Jika aku yang dulu masih belum sepenuhnya menerima takdirku karena tak bisa menikahi seorang wanita, kini perlahan mulai menerimanya.

Jangan tertawa! Walaupun aku bisa mengandung dan melahirkan, tapi aku masih lelaki tampan yang normal, ingat! Tampan dan normal. Saat melihat wanita yang berpakaian minim pun aku masih tergoda. Apalagi jika tak sengaja –walaupun sebenarnya aku sengaja- membuka 'dokumen rahasia' di laptop Changmin saat di restoran. Melihat adegan itu aku pun tertarik dan penasaran ingin melakukannya dengan wanita. Kadang aku pernah berpikir, tidak apa-apa 'kan kalau aku menyewa wanita bayaran untuk ku tiduri? Aku hanya penasaran saja, bagaimana rasanya bersetubuh dengan wanita? Aku juga laki-laki bukan? Aku juga ingin merasakan menjadi pihak yang di atas. Ah, aku jadi menyesal kenapa dulu saat aku berpacaran dengan banyak wanita, aku tak menidurinya? Tapi saat itu aku hanya berpikir, wanita itu makhluk yang harus dihormati, jika kau melecehkannya itu sama saja kau melecehkan ibumu. Maka dari itu dulu aku tak sampai 'merusak' pacar-pacarku.

Kembali ke kehidupanku. Tapi seiring berjalannya waktu, keinginan konyolku –meniduri wanita- itu mulai memudar. Bukannya aku sudah mengakui kalau aku gay, tapi... entah kenapa melihat Yunho yang berkeliaran di sekelilingku, rasa terhadap wanita itu kian menipis. Ah, aku juga tak mengerti ada apa dengan diriku? Hah... yang aku percaya ini sudah ditakdirkan Tuhan, jadi mau tak mau, suka tak suka aku harus menjalaninya. Hidup ini hanya sekali bukan? Aku ingin membuat hidupku dan hidup puteriku dipenuhi dengan kebahagiaan, dan aku percaya Yunho bisa memberinya.

Tanggal 5 februari Yunho melamarku saat dipesta ulang tahun Jaeyoon, awalnya dia mengajakku segera menikah tapi aku menolakknya dengan alasan tak ingin terburu-buru. Dan baru tanggal 10 Juni kita resmi menjadi sepasang suami istri. Istri ya? Ya, aku kembali menjadi seorang istri, mau bagaimana lagi, ini sudah takdirku. (v_v)

"Apa semuanya sudah siap?"

Ya Tuhan.. kenapa makhluk satu ini senang sekali membuatku terkejut? Tiba –tiba saja Yunho sudah berada di belakangku yang kini tengah menyiapkan bekal untuk piknik.

"Kau mengagetkanku!"

"Salah sendiri kenapa melamun.." Balas Yunho cuek. Aish.

"Jaeyoon mana?"

"Sudah menunggu di mobil." Jawabnya sembari membantuku memasukan keperluan kami ke dalam tas yang cukup besar.

"Ya sudah, ayo berangkat...!"

Yunho berjalan lebih dulu membawakan tas yang berisi keperluan kami. Di hari libur ini aku dan Yunho memutuskan untuk mengajak Jaeyoon berpiknik di taman. Meski terdengar tak istimewa, tapi moment seperti ini sudah menjadi rutinitas keluarga kecilku jika hari minggu tiba, setidaknya sebulan sekali supaya hubungan di antara kami tetap terjaga dengan baik.

._.

._.

Ternyata di taman ini cukup ramai, aku tak menyangka banyak juga keluarga yang datang. Kami duduk menggelar tikar di bawah pohon yang cukup rindang. Aku mengeluarkan semua bekal yang tadi ku bawa, dan kamipun mulai makan dengan lahap dan tenang.

Setelah selesai makan, aku mengupas beberapa buah-buahan sebagai cuci mulut. Mangga untuk Jaeyoon dan apel untuk Yunho.

"Yoon pengen adik bayi."

Uhuk-uhuk!

Aku dan Yunho sontak terbatuk mendengar ucapan Jaeyoon barusan.

"Yoon bilang apa?" Yunho menepuk dadanya yang mungkin terasa sesak, terang saja tadi dia tengah minum, untung saja airnya tak menyembur.

"Yoon bilang, Yoon pengen adik bayi. Yoon pengen punya dongsaeng, sepelti Jaeho oppa, dia juga punya baby Siwan, Yoon juga mau~~~"

Ommo! Kenapa tiba-tiba anak itu menginginkan seorang adik?

"Kalau gitu minta sama umma, kalau appa sih mau saja..."

Aku mendelik tajam Yunho yang dengan seenak jidat Yoochun berbicara begitu, namun beruang itu tak mengacuhkanku dan kembali minum.

"Jinjja?"

"Ne.."

Jaeyoon langsung menatapku. "W-wae..?"

"Umma mau buatin Yoon adik bayi 'kan?" Mata rubah Jaeyoon berbinar persis seperti seekor anak kucing.

Yunho terkekeh mendengar pertanyaan polos Jaeyoon. "Membuatkan bagaimana maksud Yoon?"

"Jung Yunho..." Desisku tajam, terlalu bahaya jika dia membahas hal yang tidak-tidak dengan anak seusia Jaeyoon. Namun sekali lagi, dia menghiraukanku.

"Kan, Yoon bilang sama Min papa pengen adik bayi sepelti baby Siwan, telus kata Min Papa, suluh minta appa sama umma buatin.. jadi umma sama appa mau 'kan buatin adik bayi buat Yoon? Bial Yoon ada temennya kalau main..."

Yunho tertawa sambil menutup mulutnya. Sementara aku hanya menggeram kesal.

Shim Changmin!

Jadi namja itu yang sudah meracuni pikiran polos puteriku eoh?

Lihat saja nanti, akan ku buat perhitungan. Aku akan memecatnya dari restoran, meski dia direkturnya, tapi aku juga punya hak memecatnya karena itu restoran milik kami berdua. Aniya, tapi aku akan menculik Kyuhyun.

Jika kalian bertanya siapa itu Kyuhyun? Dia adalah bayi laki-laki yang baru berusia lima bulan. Shim Kyuhyun, putera pertama Changmin dan Bomi. Tepat sebulan setelah pesta ulang tahun Jaeyoon dulu, Changmin menikahi Bomi tanpa lamaran. Hah, lagi-lagi pria itu terburu-buru menikah. Tapi semoga saja pernikahannya kali ini langgeng.

"Jangan berkata yang aneh-aneh, sudah sana main... Yoon ga mau main ke sana?" Mengalihkan pembicaraan, aku menunjuk permainan anak-anak seperti perosotan, ayunan, jungkat-jungkit dan ada beberapa lagi di sudut taman sana.

Jaeyoon mengikuti arah telunjukku, dia tersenyum lebar. "Yoon boleh ke sana?"

"Boleh, tapi jangan pergi ke mana-mana lagi ya..."

"Yeyy...!"

Setelah mendapat ijin dariku, Jaeyoon langsung saja bangun dan berlari menghampiri kerumunan anak-anak yang lain. Sepertinya usahaku mengalihkan perhatiannya berhasil.

"Kau memang selalu pintar mengalihkan perhatian.."

"Aku hanya tak ingin Jaeyoon berpikiran yang aneh-aneh."

"Apa menurutmu permintaan Jaeyoon itu aneh?"

Ada rasa kecewa dari nada bicara Yunho, dan aku tahu dia pasti merasa tersinggung dengan ucapanku tadi. Tapi bukan begitu maksudku.

"Bukankah kita sudah membahasnya? Aku masih belum mau mempunyai anak lagi, aku—"

"Arrasseo." Potong Yunho cepat. Dia tersenyum padaku, tapi aku tahu senyum itu dipaksakan. " –Ah, bagaimana kalau lusa kita berlibur?" Tanyanya sambil memakan apel yang ku kupas tadi. Mengalihkan pembicaraan eoh?

"Kita? Jaeyoon juga?"

"Aniyo, tapi hanya kita berdua, kau dan aku.. bagaimana?"

"Kenapa tiba-tiba mengajakku berlibur?" Aku mengambil buah anggur lalu memakannya. Berusaha bersikap tak terjadi apa-apa sebelumnya.

"Kau lupa? Astaga Jung Jaejoong... aku tahu kau tidak- ani, belum mencintaiku, tapi apa kau sungguh tak ingin mengingat hari bersejarah kita?" Yunho merengut. Wajahnya mirip sekali dengan Jaeyoon jika tengah merajuk.

"Hari bersejarah?" Aku mencoba mengingat-ingat, dan " –Maaf, aku bukannya lupa, kemarin-kemarin aku ingat, hanya saja hari ini aku lupa... Um, jadi maksudmu kita akan berbulan madu lagi, begitu?" Aku berkata sambil tersenyum manis, mencoba membuat Yunho tak marah. Aku jujur, kemarin aku mengingatnya, bahkan saat tadi pagi menyiapkan bekal aku mengatakan kalau kami menikah tanggal 10 juni 'kan?

"Nde," Jawab Yunho ketus.

"Baiklah aku mau, kita akan kemana?" Tanyaku ceria supaya Yunho tak marah lagi.

Yunho terlihat berpikir meski wajahnya masih merengut. "Bagaimana kalau ke Paris? Atau Italy? Guam? Bora-bora? Turki?—"

"Kita pernah kesana Yun, aku ingin pergi ke tempat yang belum pernah kita –ani, aku kunjungi."

"Lalu kau mau kita kemana?"

Aku terdiam berpikir. Di mana kira-kira tempat indah yang belum aku kunjungi? Sebenarnya belum semua tempat di dunia ini aku datangi, hanya saja tempat yang Yunho sebutkan tadi memang pernah ku kunjungi.

Dan seketika aku teringat dengan pasangan Yoochun dan Junsu yang minggu kemarin baru pulang dari Bali. Hah, mengingat Yoochun dan Junsu aku jadi ingin bertemu dengan anak angkat mereka, Park Inhwan. Bocah laki-laki yang Yoochun dan Junsu adopsi, tepatnya mereka mengadopsi bayi Inhwan setahun yang lalu saat Inhwan baru berusia tiga hari, sekarang bocah itu pasti sudah bisa berjalan, atau mungkin masih merangkak? Tapi ku dengar dari Junsu, Inhwan sudah bisa berjalan dengan berpegangan. Urgh... aku benar-benar merindukan bocah gembul itu.

" –Joong! Jaejoong!"

"Ah, ye?" Aku cukup terkejut saat Yunho memanggil namaku dengan cukup keras.

"Kau ini kenapa? Aku bertanya, kau ingin kemana tapi malah melamun. Waegeurae?"

"Aniyo... tiba-tiba saja aku teringat Yoochun dan Junsu. Minggu kemarin mereka juga baru pulang dari Bali untuk liburan 'kan? Bagaimana kalau kita juga ke Bali saja? Kebetulan aku belum pernah ke sana."

"Bali?"

"Nde, eottae?"

Yunho kembali terlihat berpikir. "Baiklah, lusa kita ke Bali, aku akan menyiapkan semuanya.."

"Tapi Jaeyoon bagaimana?" Aku teringat Jaeyoon, bagaimana kalau dia ingin ikut?

"Abeoji dan eommoni pasti akan sangat senang kalau Jaeyoon menginap di rumah mereka, kalau untuk sekolah, dengan senang hati eommoni pasti mau mengantarnya.." Jawab Yunho tersenyum penuh keyakinan.

Ya, aku juga percaya, kedua mertuaku memang sangat menyayangi Jaeyoon, dan aku sangat bersyukur untuk itu.

"Ya sudah, ayo kita pulang.. ini sudah sore..." Ajak Yunho melihat jam di pergelangan tangannya.

Akupun memanggil Jaeyoon dan membereskan kembali bekal yang kami bawa.

._.

._.

._.

~*It's Fated by nickeYJung*~

Bali, 7 Juni 2014

Julukan surga dunia untuk tempat ini memang tak salah. Bali sungguh indah. Aku tak akan pernah menyesal pernah datang ke sini. Tempat wisatanya sangat mengagumkan, penduduknya juga sangat ramah, wanita-wanitanya juga cantik, tapi entah kenapa sekarang aku sudah tak begitu tertarik lagi melihat makhluk ciptaan Tuhan yang satu itu.

"Kau suka?"

Lagi-lagi pria ini mengejutkanku, tiba tiba saja dia sudah berada di belakangku dan memeluk tubuhku. Bibir hatinya mengecup pundakku yang sedikit terbuka karena aku memakai kaos lengan panjang dengan bagian bahu yang lebar.

"Um.." Aku hanya bergumam menjawab pertanyaannya. " –Kau pintar sekali memilih kamar..." Pujiku sambil mengelus lengan kokohnya yang memeluk pinggangku.

Kami berdiri di balkon yang mengarah ke pantai. Kebetulan balkonnya menghadap ke arah barat, jadi kami bisa setiap hari -selama disini - melihat matahari terbenam dari sini.

"Sengaja, biar kesannya semakin romantis..." Yunho terkekeh, hembusan nafasnya membuat sesuatu di bawah tubuhku bereaksi. Ya Tuhan... sejak kapan seorang Kim –eh, Jung Jaejoong jadi mesum begini?

"Kau tak berencana bercinta di balkon 'kan?" Aku menolehkan wajahku ke belakang hingga kini wajahku hanya berjarak selembar kertas saja dengan wajah tampan Yunho. Tampan? Ya, aku mengakuinya, Yunho memang sangat tampan.^^

"Kalau kau mau, kita bisa mencobanya sekarang?" Yunho tersenyum mesum.

Aku melepaskan rangkulan tangannya di pinggangku. Ku balikkan tubuhku hingga kini tubuh kami merapat, lalu mengalungkan kedua tanganku ke lehernya. "Kau menggodaku Tuan Jung?" Tanyaku sambil mengusap rambut brunettenya ke belakang.

"Apa terlihat seperti itu?"

Wangi mint tercium dari mulutnya, sepertinya Yunho habis menyikat gigi. Kedua tangannya kembali merangkul pinggangku.

Ku jilati bibir bawahku dengan sensual, sengaja biar beruang mesum ini tergoda. Perlahan tanganku bergerak ke arah dadanya. Ku mainkan kancing kemejanya seraya mataku tetap menatap mata rubah yang terlihat mesum itu. Ah, aku tahu! Mungkin aku jadi mesum karena tertular oleh Yunho. *Emaak Plisss deh -_-*

"Aku juga ingin mencoba sensasinya..." Ucapku sambil mendesah. Wow! Bagian selatan tubuhnya cepat sekali bereaksi.

"Kalau begitu, ayo lakukan.."

"Mmmphh..."

Yunho langsung membungkamku dengan ciuman. Bibir hatinya mengulum bibirku penuh nafsu. Tak mau kalah, aku pun membalasnya dan ingin mendominasi, tapi sepertinya lelaki ini tak mau memberiku kesempatan yang memegang kendali.

"Mmckpckpmhp..." Bunyi kecapan bibir terdengar sangat jelas. Yunho memeluk tubuhku, kedua tangannya menggerayangi punggungku. Ck, kebiasaannya kalau sedang berciuman denganku, tangannya tak mau diam, membuatku merinding.

"Yunmph.." Aku berusaha mendorong tubuhnya untuk melepaskan ciuman kami. Dadaku sesak, aku butuh oksigen.

Yunho lebih dulu melepaskan tautan bibir kami, dia menatapku kecewa.

Aku tersenyum seraya mengusap lelehan saliva di ujung bibirnya.

"Aku tak mau masuk angin, jadi kita lakukan di dalam saja..."

Dia terkekeh. Lantas dengan cepat memangkuku seperti seorang pengantin wanita.

"Yya!"

"Aku sudah tak tahan Jae... maaf kalau besok kau tak bisa berjalan.."

BRUK!

Yunho menghempaskan tubuhku ke ranjang. Sungguh! Ini sakit sekali. Tapi sepertinya pria ini tak peduli. Dia langsung menindih tubuhku dan mencium bibirku kembali.

Ciuman kali ini lebih bernafsu lagi, karena akupun sama sudah menginginkannya.

Kami terus saling menyerang, hingga tak sadar jika baju yang tadi kami kenakan sudah terlepas semuanya.

"Ughh..."

Yunho bangun. Tangannya menggapai sesuatu yang tersimpan di meja nakas. Aku tahu dia mau apa.

"Bisakah kali ini kau jangan memakainya?"

Yunho menghentikan kegiatannya membuka bungkusan di tangannya.

"Waeyo?"

Aku duduk dan merebut benda itu kemudian melemparkannya ke sudut kamar. Yunho hanya diam kebingungan.

"Aku ingin mengabulkan permintaan Jaeyoon."

Sejenak pria itu terdiam mencerna ucapanku, dan seketika mata rubahnya langsung menatapku.

"Maksudmu, kau sudah siap hamil lagi?!" Serunya terlihat terkejut sekaligus senang.

Aku hanya mengangguk pelan.

Dan tiba-tiba, dia kembali menubruk tubuhku hingga kembali terlentang dengan tubuhnya yang berada di atas tubuhku. Lantas dengan semangat dia menciumi seluruh wajahku, membuatku sedikit geli. "Gomawo Jaejoongie... aku sangat bahagia..."

Cup

" –Ayo kita buatkan adik untuk Jaeyoon..!" Dia mengerling genit, kemudian mencium kembali bibirku. Kali ini ciumannya sangat lembut tak sekasar tadi.

"Eunghh... ahhh..."

._.

._.

Matahari siang ini sangat cerah. Ini adalah hari ke tiga liburan kami di Bali. Lusa kami sudah harus pulang. Kasihan Jaeyoon, dia pasti sedih kalau tahu ayah dan ibunya bukan pergi untuk berbisnis di luarkota melainkan pergi berlibur. Awalnya aku ingin mengajak Jaeyoon tapi Yunho melarangnya. Betul juga, ini adalah liburan 'spesial' kami, kasihan juga kalau Jaeyoon ikut. Tapi aku sudah membeli oleh-oleh untuknya, dan dia pasti suka.

"Makanan Indonesia tak kalah enak dengan makanan kita.." Kata Yunho di sela makannya, terlihat sekali jika dia sangat menyukai makanannya, makannya lahap sekali.

"Um, aku juga menyukainya... kapan-kapan kita ajak Jaeyoon ke sini, dia pasti suka, apalagi melihat pemandangan lautnya yang indah."

"Pasti, tapi setelah kau melahirkan nanti."

Alisku menyatu. Apa maksudnya?

" –Aku yakin bulan depan kau positif hamil."

Uhuk!

Aku tersedak mendengar ucapannya barusan. "Yya! kau pikir bisa secepat itu?"

"Siapa tahu. Dulu saja saat membuat Jaeyoon hanya butuh satu malam, sekarang kita sudah dua malam disini, jadi..." Beruang mesum itu menyeringai.

"Jangan terlalu percaya diri!" Ketusku sambil kembali makan.

"Tapi aku yakin Boo... saaaangat yakin.. umm, bagaimana kalau kita bertaruh?"

Aku memicingkan mata. Bertaruh?

"Baiklah, apa taruhannya?" Tanyaku menantang.

"Kalau kau menang, kau boleh bercinta denganku sepuasnya. Dan kalau aku menang, aku ingin bercinta denganmu sepuasnya. Eottae?"

Aku terdiam memikirkan kata-katanya.

Tunggu, sepertinya ada yang ganjil?

"Yya! Bukankah itu sama saja? Kalau seperti itu, kau untung sendiri!"

"Hahahaha..." Yunho tertawa keras membuat sebagian pengunjung restoran yang tengah menikmati makan siang mereka menoleh ke arah kami.

"Tentu saja itu berbeda."

"Apanya yang beda? Jelas kalau aku ataupun kau yang menang, kita akan tetap berakhir di ranjang. Aku tidak mau!" Aku tak peduli dengan pengunjung lain yang mendengar suara teriakanku, aku yakin mereka tak akan mengerti apa yang tengah kami bicarakan karena kami berbicara bahasa Korea, kecuali jika diantara mereka ada yang mengerti bahasa kami.

"Hahahaha..." Pria itu masih saja tertawa meski tak sekeras tadi. " –Mungkin sekarang kau menolak, tapi aku tahu, kau tak akan menolak kalau sudah ada di bawahku, malah yang ada kau akan meminta lebih. Iya 'kan Jaejoongie?" Yunho mengerling menggodaku.

Ingin sekali aku menenggelamkan pria ini di lautan jika saja aku tak ingat kalau dia ayah dari anakku. Jung Yunho memang orang yang punya kepercayaan diri yang tinggi. Hah.. sudahlah, aku tak mau meladeninya, karena ku akui, untuk perkataan terakhirnya memang ...ummm... be..nar... Yya, Jangan ada tertawa! *readers mingkem*

._.

._.

Hah hah... hahhh...

Bruk

Tubuh polos Yunho terhempas ke samping. Terdengar suara nafasnya yang memburu. Dadanya yang burcucuran keringat itu naik turun.

Ku sambar selimut yang tergolek di lantai, kututupi tubuh polosku dengan selimut itu, tak mempedulikan tubuh Yunho yang masih polos di sampingku.

Ugh, ini sangat lengket. Sebenarnya sebelum tidur aku ingin membersihkan diri dulu, tapi aku sudah benar-benar mengantuk, jadi kuputuskan untuk tidur saja. Yunho benar-benar brutal malam ini, tapi entah kenapa aku selalu tak bisa menolaknya. -_-

Aku tidur membelakanginya. Mataku sudah sangat berat.

Kurasakan dia membuka kembali selimutku, dia menariknya hingga punggungku terasa dingin.

"Yun.. aku ngantuk..." Aku bergerak hingga tubuhku kini tengkurap.

"Tidurlah...aku hanya ingin memelukmu..."

Dia mengecup punggungku. Dan setelah itu, kurasakan dadanya yang basah menyentuh punggungku. Yunho mendekapku, tangan kirinya menyusup kedalam selimut dan mendekap pinggangku. Dan setelah itu, aku tak ingat lagi karena sudah berlayar ke alam mimpi.

._.

._.

Kurasakan panasnya sinar mentari pagi menerpa wajahku. Aku mencoba menghalaunya dengan tanganku.

"Hoaaam... Jam berapa sekarang?"

Ku ambil ponselku yang tergeletak di atas nakas. Pantas saja ini sudah jam sembilan.

Aku mencoba untuk bangun. Ugh.. lubangku terasa perih. Semalam Yunho benar-benar menghajarku habis-habisan. Maka pantas jika aku bangun kesiangan, tapi tumben Yunho sudah bangun? Biasanya dia baru bangun kalau sudah tercium bau sarapan.

Ku lihat pintu balkon terbuka. Yunho berdiri di luar membelakangiku. Sepertinya dia sudah mandi karena terlihat sudah rapi dengan kemeja putih –yang tangannya digulung, serta jeans selututnya yang memperlihatkan bulu-bulu betisnya yang terlihat menggoda. Ya Tuhan... apa yang kau pikirkan Jung Jaejoong? Sebaikanya aku cepat mandi sebelum pikiranku melayang kemana-mana.

._.

._.

"Maaf aku kesiangan..." Ku hampiri Yunho yang tengah duduk di kursi malas yang ada di balkon. " –Tapi itu juga karena kau semalam menghajarku habis-habisan!" Hardikku menyalahkannya.

Yunho hanya terkekeh ringan mendengar omelanku. Kemudian dia menarik tanganku dan menyuruhku duduk di pangkuannya.

Aku menurut dan duduk di antara kedua kaki Yunho. Langsung saja pria itu melingkarkan kedua tangannya ke pinggangku. Ck, kenapa dia suka sekali memelukku dari belakang? Tapi ketika aku bertanya begitu padanya, dia bilang punggungku hangat, dan dia suka pinggang rampingku.

"Rambutmu wangi.." Dia mencium puncak kepalaku dan membelai rambutku yang masih sedikit basah karena tadi aku keramas.

"Tentu saja, memang rambutmu. Bau ayam!"

"Mwo? Tega sekali kau menyamakanku dengan ayam.."

"Memang itu kenyataannya 'ko."

"Sepertinya kau sengaja memancingku supaya menghukummu.." Ucapnya sambil tertawa. Aku yakin pasti sekarang dia tengah menyeringai mesum, dan aku mengerti hukuman apa yang dia bicarakan. Ku cubit lengannya dengan keras, membuat dia mengerang sakit.

"Ouch! Kau sangat ganas Boo.." Gerutunya sambil mengusap lengannya yang ku cubit tadi.

"Salah sendiri kenapa selalu berpikiran mesum." Ucapku tak acuh. " –Oh ya, kau bangun jam berapa? Tumben bangun sebelum aku?" Tanyaku sambil ikut mengusap-usap lengannya, membantu supaya rasa sakitnya hilang.

"Aku tak bisa tidur."

"Maksudmu kau tidak tidur semalaman?"

Ku tolehkan wajahku ke belakang. Salah satu tangannya terangkat mengusap poniku.

"Nde, aku lebih senang melihat wajah damaimu ketika tidur, rasanya nyaman sekali.."

Blush

Aku yakin pipiku sekarang merona. Sial! Yunho selalu saja bisa membuat dadaku berdetak lebih cepat seperti ini. "J-jangan merayuku.." Dengan cepat ku tolehkan kembali wajahku ke depan. Aku tak mau dia mengolok-olokku jika melihat warna pipiku sekarang.

Kedua tangannya kembali bertengger nyaman di pinggangku. Yunho menarik tubuhku lebih merapat ke dadanya. Dia menaruh kepalanya di pundakku. Kulirik dengan sudut mataku, matanya terpejam.

Selama beberapa menit kami berdua hanya terdiam.

Entah apa yang Yunho pikirkan, namun pikiranku berkelana kebelakang. Sampai sekarang aku masih belum percaya jika aku sudah menikah dan menjadi seorang istri dari Jung Yunho.

Lima tahun lalu saat dokter mengatakan jika dalam tubuhku ada sebuah kehidupan. Aku shock dan rasanya ingin mati saja. Bagaimana bisa aku yang seorang pria memiliki rahim dan bisa mengandung? Padahal dari kecil aku tak pernah merasakan adanya ketertarikan kepada sesama jenis. Aku normal, aku menyukai wanita, walaupun mendiang ibuku dulu pernah berkata jika sifatku seperti perempuan, maksudnya, aku menyukai kerapihan, aku suka memasak, dan suka benda yang berbau ehem Hello Kitty dan gajah, namun bukan berarti orientasi seksualku menyimpang! Tetap saja aku ini laki-laki, bahkan aku sangat membenci wana merah muda. *Apa hubungannya Mak?*

Tapi kenapa aku bisa sampai memiliki rahim? Dan ibu serta Nunaku sudah mengetahui hal itu dari dulu, tapi kenapa mereka tak memberitahuku dari dulu?

Dan sehari setelah aku resmi menikah dengan Changmin dulu, sesuatu yang mengejutkan terlontar dari mulut nunaku. Dia bilang sebenarnya dulu aku terlahir dengan kelamin ganda. Saat dokter meminta ibuku memilih saat akan mengoperasi –menghilangkan salah satu alat kelaminku- ibuku memilihku menjadi seorang laki-laki. Dia bilang karena sudah memiliki anak perempuan –nunaku- jadi dia menginginkan anak laki-laki. Tapi takdir berkata lain, setelah aku berusia sepuluh tahun dan saat itu sakit keras, dokter memberitahu keluargaku jika di dalam tubuhku terdapat rahim yang subur.

Mungkin keterkejutan keluargaku dulu sama seperti yang aku rasakan, tapi mereka bisa apa? Mengangkat rahimku adalah hal yang mustahil, karena itu bisa membahayakan nyawaku. Dan akhirnya aku dibiarkan tumbuh menjadi laki-laki normal namun memiliki keistimewaan. Mungkin itu sebabnya dulu mendiang ibuku meminta nunaku agar menjagaku dari laki-laki mesum penyuka sesama, agar aku tidak sembarangan berteman dengan mereka.

Namun sepertinya Tuhan memilihkan Yunho untuk menjadi pendampingku dan ayah dari anak-anakku.

Meskipun jalan yang kami lalui penuh liku, namun pada akhirnya aku dan Yunho tetap bersama. Aku percaya ini adalah takdir yang telah Tuhan gariskan kepadaku. Sekeras apapun aku menolak, namun pada akhirnya aku tetap kalah. Jadi mulai sekarang aku hanya ingin menikmati takdirku ini, bersama Yunho dan Jaeyoon, juga...

Ku usap lembut perut rataku, semoga saja apa yang Jaeyoon inginkan dapat segera terwujud. Karena akupun merasa sudah siap sekarang.

Hembusan nafas yang teratur terasa di telingaku. Sepertinya Yunho tertidur. Dia pasti sangat mengantuk karena tak tidur semalaman.

Ku sentuh kedua tangannya, membantu semakin mengeratkan rangkulannya di pinggangku. Kedua mataku ikut terpejam.

Bolehkah aku mengatakannya sekarang?

Ini bahkan tak aku rasakan saat empat tahun berumah tangga dengan Changmin dulu, tapi hanya dalam waktu setahun bersama dengan Yunho, aku merasakannya... apa mungkin karena Yunho adalah ayah kandung Jaeyoon?

Entahlah, namun yang pasti sekarang aku ingin mengakuinya. Kalau aku...

"Aku mencintai Yunho..."

"..."

" –Entah sejak kapan, yang jelas sekarang aku mencintainya. Aku selalu merasa cemburu jika dia berdekatan dengan wanita atau pria lain, aku selalu merasa rindu jika dia tak berada di sampingku meski hanya sehari... Aku selalu merasa marah saat dia tak mengacuhkanku, aku merasa kesal namun hatiku menghangat saat dia selalu menggodaku dengan rayuan gombalnya, aku selalu terharu saat dia sudah memperhatikanku. Dan aku merasa dibutuhkan saat dia menyentuh tubuhku... Aku menyukai sifat posesifnya, aku menyukai sikap kekanakannya, aku menyukai sikap bodohnya, aku menyukai sifat ehem mesumnya. Aku menyukai wajah tampannya, dan beruntung, hanya aku yang memilikinya. Aku menyukai segala kekurangan dan kelebihannya. Yunho orang yang sangat bertanggung jawab sebagai suami dan ayah. Aku sangat bersyukur bisa memilikinya... Terimakasih Yunho, terimakasih sudah mau menungguku dan mengajarkan cinta untukku..."

"... –Saranghae.."

Rasanya sangat lega, namun aku masih belum bisa mengatakan secara langsung isi hatiku ini padanya. Aku pengecut 'kan?

"Nado sarangahae..."

DEG

Tubuhku meregang. Dengan cepat ku buka kedua mataku. Apa Yunho bisa mendengar isi hatiku?

Ku tolehkan wajahku ke samping. Dia tersenyum namun matanya masih terpejam.

Perlahan dia melepaskan rangkulannya dan menegakkan tubuhnya kembali –tak menyandarkan kepunggungku-

Dia tersenyum hangat. Dibelainya pipiku dengan lembut.

"Aku juga mencintaimu Boo, bahkan kau tahu sejak kapan.."

"Kau..." Aku masih tak mengerti kenapa Yunho bisa membalas pernyataan cintaku. Bukankah tadi aku hanya mengatakannya dalam hati?

"Kau bingung hum? Aku mendengarnya, kau mengatakannya... mungkin matamu terpejam tapi mulutmu..." Dia menyentuh bibirku. " –Mengatakannya dengan sangat jelas, well... walaupun tidak terlalu keras, tapi aku mendengarnya..."

Demi Tuhan aku ingin terjun saja dari lantai lima ini!

Aku malu. Sungguh!

Jadi tadi aku sungguh mengatakannya huh?

Padahal aku tak sadar, ku pikir aku hanya mengatakannya dalam hati.

"Sebenarnya aku sudah merasakan kalau kau memang memcintaiku. Perkataan Changmin dulu... dia bilang, kau hanya akan menyerahkan bibir ini—" Yunho mengusap bibirku dengan ibu jarinya. " –Pada orang yang kau cintai. Dan bukankah sejak dulu kau sudah menyerahkannya padaku?"

"Itu..."

Aish! Kenapa aku bisa lupa kalau pernah mengatakan hal itu pada Changmin dulu. Tapi apa yang Yunho katakan memang benar, aku tak pernah menolaknya setiap kali dia mencium bibirku.

"Kau tahu? Aku sangat menantikan saat-saat ini... saat dimana kau mengatakan kalau kau mencintaku. Dan perasaanku saat ini, sangat sangat sangat sangat bahagia... terimakasih..." Yunho kembali tersenyum hangat.

"Aku- itu.." Aku sungguh tak tahu harus berkata apa. Rasanya aku masih tak percaya jika barusan aku mengungkapkan isi hatiku padanya, entah kenapa aku selalu merasa belum siap jika harus mengatakannya langsung.

"Ayo katakan lagi.."

"Ye?"

"Katakan kalau kau mencintaiku..."

Sejenak aku hanya terdiam. Ku gigit bibir atasku, lidahku terasa kelu untuk mengatakannya. Yunho sendiri hanya memandangku dengan tatapan penuh harapnya.

Perlahan aku bangun dari pangkuanya dan berjalan ke sudut balkon. Aku menghirup udara sebanyak mungkin seraya memejamkan mata.

"AKU MENCINTAIMU JUNG YUNHO!"

Tak peduli orang lain akan terkejut dengan suara teriakanku. Tak peduli mereka akan menertawakanku atau memarahiku, aku hanya ingin berteriak mengatakan bahwa aku mencintainya. Mencintai Jung Yunho.

Perlahan kurasakan tubuh Yunho mendekatiku. Dia membalikkan tubuhku menghadapnya. Kedua tangannya menangkup wajahku.

Chu~

Dia mencium bibirku dengan lembut. Menyesap bibir atasku dengan penuh perasaan. Matanya terpejam seolah sangat menikmati kegiatan ini. Aku membalas lumatannya seraya ikut memejamkan mata. Entah mengapa kurasakan ciuman kami kali ini sangat lembut dan... penuh cinta.

Dia yang pertama kali melepaskan tautan bibir kami. Kening kami menyatu, hembusan nafasnya yang segar menerpa wajahku. Kami berdua masih memejamkan mata dengan nafas yang saling bersahutan. "Aku juga mencintaimu Jung Jaejoong... " Ucapnya dengan suara rendah yang membuat bulu-bulu di sekujur tubuhku berdiri.

Yunho membawaku ke dalam pelukan hangatnya. Tangannya mendekap punggungku. Mata kami masih terpejam. Aku balas memeluknya, melingkarkan kedua tanganku ke pinggangnya. Beberapa kali Yunho mengecup keningku yang tertutup poni membuatku terkekeh.

Perlahan ku buka kedua mataku. "Happy first anniversary..."

"Happy first anniversary too..."

"Aku mencintaimu..."

"Aku lebih mencintaimu..."

Kami berdua sama-sama tertawa tanpa melepaskan pelukan kami.

Semilir angin berhembus menggoyangkan dedaunan pohon-pohon yang menjulang tinggi di sekitar bangunan hotel ini. Suara ombak dari laut terdengar merdu meski tak terlalu jelas. Mereka seolah ikut merasakan kebahagiaan kami.

Terimakasih Yunho, maaf karena aku terlambat menyadari perasaanku dan membuatmu menunggu. Tapi aku berjanji, sebelum nyawa meninggalkan jasad, sebelum suri terbit dari barat. Aku ingin mencintai Jung Yunho. Hanya Jung Yunho. Karena takdirku, adalah Jung Yunho.

Tidak ada yang bisa mengulang atas semua cerita yang telah dilewati. Tidak ada yang bisa membantah atas semua takdir yang telah dilalui. Kita hanya bisa memilih, apakah tetap melaluinya dengan rasa syukur, atau terus mengutuk diri akan nikmat yang terlewati?

'Saranghae... Jung Yunho...'

._.

._.

Takdir bukanlah masalah kesempatan. Takdir adalah masalah pilihan. Takdir bukan sesuatu yang harus ditunggu. Namun Takdir adalah hal yang harus dicapai.

._.

._.

FIN

Akhirnya... Lap ingus #eh

Huwaaa... Maaf klo feelnya ga dapet, saya emang ga bisa bikin FF pake sudut pandang castnya, berasa gagal u_u tp gimana lg, dchap akhir ini saya ingin menceritakan perasaan Jaejoong, jd saya terpaksa pke Jaejoong pov.

Tp YooSudah lah, yg penting utang saya lunas untuk FF ini, hehe...

Utk quote di akhir, saya mengambilnya dari eyang Google, jd jgn heran klo merasa familiar :D

Btw, kemana neh readersnya? Ceritanya yg membosankan ato emang ga berminat? Hoho..

Tapi saya sungguh berterimakasih pada readers yg setia ngikutin FF ini dari awal, yg sudah meninggalkan jejaknya berupa review, yg follow, favorite ato sekedar SR, saya harap kalian suka meski tak bisa mengungkapkannya lewat kolom review. Dg begitu saya merasa mendapatkan penghargaan, karena bagi saya, penghargaan untuk saya adalah jika readers suka dengan cerita yg saya buat, dan jika saya mampu menyelesaikan cerita itu sampai akhir. Itu penghargaan terbesar buat saya. Tapi sebuah review jg tak kalah berharganya, karena dg membaca review dari kalian, semangat saya selalu berkobar. Hehe..

Special Thanks to, readers yg udah menyuntikan semangatnya untuk saya dichap kemarin.

littlecupcake noona, 3kjj, serenade senja, yoon HyunWoon, Thiiya, cminsa, SinushYJS, guest, jung hyun mi, Ristinok137, nam mingyu, vianashim, wiendazbica732, YunjaeDDiction, Yenyen Yanuar, zarasukaa, Puan Hujan, snow . drop . 1272, danactebh, dian930715ELF, Dewi15, Jung Jaehyun, nidayjshero, diahmiftachuiningtyas, ClouDyRyeoRez, manize83, minjaeboo, hanasukie, alby . chun, kim anna shinotsuke, shen, ren, afy az zahra, farla 23, akiramia44, triloveyunjae, jongindo, ranberz, zhoeuniquee, dea, Rly . C . Jaekyu, Kirena L, Joice Ang, icha . teppei, dan rinayunjaerina.

Terimakasih, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua.

Sampai bertemu lagi di FF saya selanjutnya, bye bye...

Tetap selalu percaya bahwa YUNJAE IS REAL!

Dan selalu Always Keep The Faith...^^