Asari Family

—drabbles collection—

[ chapter 07 : brocon and siscon ]

.

.

Katekyo Hitman Reborn! © Amano Akira

This fic and Gokudera Hayato © Kazue Ichimaru

(Hayato unyu punya saya /nggak deng/)

.

Rate T for colorful language

Warning for the MPREG, AU, OOC, sho-ai, typos, jayus, etc!

U02? Definitely. 8059? It depend on readers thought. Kufufu

.

.

Enjoy!


Hayato memperhatikan helai-helai perak sebahunya di hadapan cermin. Menyentuh helai-helai itu dan memelintirnya perlahan dengan jari.

"Aneh…" ucapnya pelan. Lalu tiba-tiba sebuah ide muncul dari kepalanya yang pintar. "Oh! Aku tanyakan saja pada papa!"

Bocah itu segera berlari mencari papanya. Tak lama, ia menemukan G sedang bersender santai di bahu Ugetsu yang sedang menonton televisi. "Papaa papaa!"

"Ada apa, Hayato? Jangan berisik di dalam rumah." G menjawab malas.

"Pa, aku mau tanya sesuatu!"

"Tanya apa?"

"Uhm, 'kan rambut sama warna mata papa itu merah, kalau ayah rambutnya hitam dan warna matanya biru gelap… terus kenapa aku punya rambut dan warna mata yang berbeda sekali dari ayah papa?" Hayato bertanya dengan tatapan polos.

Sejenak, Ugetsu dan G terdiam berpikir.

"Hahaha, kenapa, ya? Ayah juga bingung."

"Mungkin kamu menurunkan rambut dan iris Lavina," jawab G. Ngomong-ngomong, Lavina itu adik perempuannya yang memilki warna rambut dan iris yang sama seperti Hayato.

"Ooh, gitu ya." Hayato manggut-manggut tanda mengerti. "Ngomong-ngomong, pa. Papa udah nggak pundung lagi semenjak bibi Lavina menikah?"

Yang ditanya langsung menegakkan duduknya, "a-apa maksudmu, Hayato! Kata siapa papa pundung?" ucap G dengan sedikit rona merah menghiasi pipi, malu disebut pundung oleh anak sendiri.

"Habis waktu bibi Lavina bilang mau menikah entah kenapa papa jadi lebih mudah marah dari biasanya…"

( Papa kamu mungkin lagi PMS, Hayato. )

"Terus, papa waktu mau berangkat ke pernikahan bibi Lavina malah merajuk nggak mau pergi sampe ayah ngebujuk papa…"

( Papa kamu mungkin lagi pingin manja aja kali, Hayato. )

"Lalu waktu itu papa bilang rela cerai sama ayah asal bibi Lavina nggak jadi nikah, terus bibi Lavina malah marah-marahin papa, dan papa makin pundung setelah itu…"

( Papa kamu mungkin… tunggu, HA?! )

Hayato menatap G dengan binar-binar iris emerald-nya; memasang wajah sekepo dan sepolos yang dia bisa (Dan Hayato memang polos, ngomong-ngomong). Sang objek cerita tiba-tiba saja berwajah panik dengan keringat dingin mengucur di pelipisnya. Apalagi… di sebelahnya ada hewan buas yang siap menerkamnya kapan saja.

( Dan nun jauh disana, Lavina tiba-tiba bersin tanpa ada alasan yang jelas. )

"Oh, menceraikanku demi adikmu ya, G?" Ugetsu bertanya seraya tersenyum. Dibalik senyum itu, G melihat ada aura menyeramkan muncul dari belakang seme-nya.

Uh-oh. Be careful, G. The devil has awakened.

"Bu-bukan begitu maksudku Ugetsu! Aku hanya bercanda waktu itu. Sungguh!"

"Hm, begitu…" Ugetsu memalingkan wajah pada putra bungsunya, "Hayato, menurutmu waktu itu papamu ini terlihat bercanda tidak?"

Melihat tekanan aura dari sang ayah, Hayato bergidik ngeri, "ku-kurasa tidak…" Please, kalau ia mencoba berbohong di saat begini bisa-bisa ia mati.

"Anak kecil tidak pernah berbohong, G…" Ugetsu mengalungkan sebelah tangannya ke leher G, membuat wajah pria bersurai magenta itu mendekati wajahnya.

'AAAAAAA HAYATOOOOO KENAPA KAU BERKATA SEPERTI ITU SIALAAAAN!' G berteriak frustasi dalam hati. "U-ugetsu! Mau apa kamu?!" Pria bersurai magenta itu lalu berusaha melepaskan dekapan lengan suaminya.

"Hm, mau apa ya? Kupikir kau bisa menebaknya?" Manik biru gelap itu menatap dalam wajah G yang semakin memerah.

"Bo-bodoh! Hayato masih ada disini!"

Ugetsu mengerjapkan matanya, tersadar dari devil mode on-nya, "kau benar. Nyaris saja aku lupa, hahaha."

Lalu sang ayah melepaskan dekapannya pada G dan menatap Hayato sambil tersenyum seperti biasa, "Hayato, sekarang kamu main di luar rumah dulu saja, ya. Kalau ada Takeshi mau masuk ke rumah, larang dia. Apapun alasannya, kamu dan Takeshi tidak boleh masuk ke rumah sampai aku menyuruh kalian masuk. Mengerti?"

Hayato menatap ayahnya bingung. Ia tidak mengerti apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi karena tatapan Ugetsu lebih seperti ke mendesak, Hayato lebih memilih mengiyakan lalu pergi ke luar rumah.

"Nah, G, Hayato sudah pergi. Jadi, kau benar-benar serius mau menceraikanku demi adikmu, heh?"

"Sudah kubilang itu bercanda, bodoh!"

"Aku sekarang curiga kalau Hayato itu anak hasil hubungan gelapmu dengan Lavina…"

"Kau bego?! Jangan memfitnahku seperti itu. Mana bisa aku me-menghamili adikku, hah?! Dan kalau memang benar aku menghamilinya, seharusnya yang hamil itu Lavina! Bukan aku, bego!" bentak G, tangannya berusaha melepaskan tangan Ugetsu yang saat ini sedang merayap ke punggungnya.

"Hahaha, tapi tetap saja aku cemburu. Nah, karena sekarang aku kesal padamu, aku akan menghukummu, G…" Ugetsu membisikkan kata-katanya tepat di telinga G, membuat wajah sang uke nyaris mirip dengan surai magentanya.

"Ugh, sialan kamu, Ugetsu!"

.

.

Sekarang sepertinya kita tahu darimana sifat brocon Takeshi berasal, ya? Kufufufu.

.

.

.

end of chapter 7


A/N : PLEASE TUNGGU JANGAN BUNUH SAYA DULU. Saya nyadar kok kalau U02 nya OOC :"D Yaudah, maklumin aja ya, saya kan emang otaknya agak miring jadi hasilnya kaya gini deh /sobs/ Saya juga nyadar kalau chapter ini jayus abis. Zzz.

Saya juga meng-update chapter ini lebih cepat beberapa hari dari yang saya janjikan ini karena saya mau meminta maaf. Chapter selanjutnya kayanya bakal di-update bulan depan karena UKK. Argh, cuma UKK tapi saya stress nya kaya yang mau UN -_- Jadi, maafkan saya yaa m(_ _)m

Btw, karena saya sudah mulai kehabisan ide, ada yang mau request prompt? Tapi saya nggak janji bakal di wujudin semuanya yaa ._.V

Oh, maaf juga saya jadi nggak sempet ngebalesin review satu-satu di PM seperti kemarin, nggak sempet :"D Dan terimakasih banyak pada semua readers yang sudah mau membaca fic ini! Setiap ngeliat Traffic Graph pasti jantungan deh, haha.

At last, mind to RnR? XD