Asari Family

—drabbles collection—

[ chapter 13 : me or paperwork? ]

.

.

Katekyo Hitman Reborn! © Amano Akira

This fic and Gokudera Hayato © Kazue Ichimaru

( Abaikan kata-kata setelah tulisan 'and' )

.

Rate T for romance in this chapter!

Warning for the MPREG, AU, OOC, sho-ai, typos, jayus, etc!

U02? Definitely. 8059? It depend on readers thought. Kufufufu

.

.

Chapter Special U02!

[ request prompt dari Aoki-san. Dan sekaligus request bagi orang-orang yang kehabisan asupan untuk U02, mwehe ]

Enjoy!


"Ayah pulang~!"

Ah, ini dia kata-kata yang selalu Ugetsu nantikan jika sudah tiba di rumah. Setelah dua minggu berada di Kyoto untuk keperluan syuting film, akhirnya ia bisa bernapas lega saat sampai di rumah tercinta. Biasanya, jika ia sudah berteriak seperti tadi, Takeshi dan Hayato pasti akan langsung datang dan mengerubuninya dengan berbagai pertanyaan —biasanya tentang oleh-oleh, sih— namun yang paling ia tunggu adalah senyuman malaikat dari kedua buah hatinya.

Tapi, ada yang aneh setelah ia menunggu dua menit di genkan*, kok mereka belum datang juga ya? Apa mereka sedang bermain di luar rumah?

"Takeshi? Hayato?" panggil Ugetsu seraya terus melangkah ke dalam.

Saat sampai di ruang keluarga, bibirnya tak bisa menahan senyum saat melihat kedua anaknya itu sedang tertidur dengan pulas di atas karpet tebal depan televisi. Dengan crayon dan kertas yang berserakan di sekitar mereka. Ugetsu melangkah lebih dekat; rencananya ingin memindahkan mereka ke kamar. Namun terhenti sejenak begitu melihat kertas paling mencolok yang terletak di antara kedua anaknya.

Kertas itu memuat gambar khas anak kecil. Terlihat ada gambar dirinya, G, Takeshi dan Hayato, di atasnya terdapat tulisan besar-besar 'Selamat Datang Ayah!' dengan warna-warni meriah. Senyumannya semakin melebar sambil mengucapkan, "Terimakasih. Ayah pulang." Lalu berlanjut dengan memindahkan keduanya menuju kamar, menyelimutinya, dan memberikan kecupan selamat tidur.

Ngomong-ngomong, ia baru sadar, G kemana ya?

Memang, biasanya kalau ia pulang di siang hari begini G masih belum ada di rumah. Saat itu, Takeshi dan Hayato akan dititipkan di rumah Giotto agar bisa bermain bersama Tsuna, atau Daemon kalau situasinya mendesak —hey, begitu-begitu juga Daemon punya istri yang bisa mendidik anak secara baik dan benar, Ellena. Tapi jika Takeshi dan Hayato ada di rumah, berarti G juga ada di rumah, kan?

"G? Aku pulang." Ugetsu terus melangkah hingga memasuki kamar dirinya dan G. Begitu masuk, ia melihat G sedang memunggunginya, berhadapan dengan laptop untuk mengurus… yah, biasa, pekerjaan dan segala paperwork-nya.

G nampaknya tidak menyadari ada dirinya masuk ke kamar. Hm, apakah Ugetsu perlu memberikan sedikit kejutan?

Ugetsu berusaha tidak membuat sedikitpun suara saat melangkah, beruntung lantai kamarnya terlapisi karpet hingga suara langkahnya masih bisa teredam. Begitu sampai tepat di belakang G, Ugetsu perlahan mengalungkan lengannya ke leher pria bersurai magenta itu, mengecup pipinya lalu membisikkan kata-kata dengan nada rendah seolah menggoda, "Tadaima, G."

G nampak sedikit terlonjak saat Ugetsu berbisik di telinganya, mungkin karena geli. Lalu menoleh untuk balik menatap wajah Ugetsu. "Kau mengagetkanku!"

"Hm? Itukah balasanmu dariku yang baru pulang ke rumah setelah dua minggu lamanya berdiam di Kyoto?"

G sedikit mengalihkan pandangan. "A-ah, iya, Okaeri, Ugetsu." Dan kembali memusatkan perhatiannya pada laptop. Ugetsu tidak tahu kalau G sedang berusaha menyembunyikan semburatnya di balik surai magenta. "Sekarang cepat lepaskan pelukanmu. Aku sedang bekerja, kau tahu."

Ugetsu mendengus sebal, namun mengabaikan perintah G untuk melepaskan pelukan. "Kau dingin sekali, G."

"Hh, itu karena aku sedang sibuk. Kalau begitu sekarang cepat lepaskan agar semua ini segera beres dan aku tidak akan bersikap dingin lagi," timpal G, semakin memusatkan fokus pada laptop.

"Baiklah, kulepaskan." Ugetsu dengan cepat melepaskan pelukan, lalu mengangkat kedua tangannya seolah tanda berkata 'aku menyerah'. "Huh, mementingkan paperwork di atas segalanya, ya. G sekali memang," gerutu Ugetsu sambil membuka mantel dan berjalan menuju kasur.

"Mau bagaimana lagi. Bukan mauku juga punya paperwork yang harus diselesaikan sebanyak ini." G berkata dengan nada datar.

BRUK

Suara badan dihempaskan ke kasur dengan keras terdengar. "Yah, seharusnya kau bisa me-manage waktu antara paperwork dan suamimu. Kau tahu waktu untuk kita berduaan saja sedikit. Dengan membawa pulang paperwork ke rumah sama saja mempersedikit waktu kita. Itu membuatku sedikit… ah, bukan, sangat terganggu. Jujur saja," omel Ugetsu panjang dan lebar.

G sedikit mengerutkan dahinya. 'Tumben Ugetsu mengomel sepanjang ini?' pikirnya heran. Lalu alasan yang muncul pertama kali adalah karena Ugetsu sedang badmood.

Ah, gawat, kalau seme-nya itu sedang badmood begini, lama-lama senggol sedikit saja sudah berubah menjadi devil mode. G harus segera menjelaskan semuanya! Masalahnya, jika Ugetsu sudah masuk ke devil mode maka dia akan terlihat menyeramkan —dalam berbagai arti.

"Dengar, Ugetsu, aku membawa paperwork ini ke rumah karena–"

"Sudahlah jangan beralasan lagi. Kerja saja sana tidak usah pedulikan aku."

'–DENGARKAN DULU, BEGO!' Rasanya G ingin sekali membalas seperti itu. Tapi ia harus memendamnya, menahan kekesalannya. Bertengkar itu merepotkan, sama saja seperti ia menuangkan minyak ke dalam api jika membalasnya dengan kata-kata itu.

'Fuuh, oke, G, sabar….' Ia menggumam sendiri dalam hati.

Setelah memutar otak bagaimana cara agar Ugetsu tidak marah lagi, G menemukan solusi: Jika kata-kata tidak mempan, maka tindakan lah yang akan membuktikannya! Biarlah pride sebagai seorang tsundere-nya runtuh dulu untuk sesaat, daripada Ugetsu keburu memasuki devil mode-nya dan malah ia yang jadi repot sendiri.

G berdiri dari tempat duduknya, berlanjut melangkahkan kaki menuju kasur dengan cepat, dan berhenti tepat di hadapan Ugetsu yang sedang berbaring sambil menutupi wajah dengan tangan.

Merasakan kehadiran G, Ugetsu sedikit menyingkapkan tangan untuk memperjelas pandangan. "Kau mau ap–"

BRUK!

Suara badan dihempaskan ke kasur kembali terdengar. Namun kali ini berbeda, karena sekarang G menghempaskan dirinya tepat ke atas badan Ugetsu; dalam kata lain, menindihnya.

"Dengarkan dulu alasanku, Ugetsu bodoh." G segera memeluk badan Ugetsu erat, membenamkan wajahnya ke dada Ugetsu. 'Ah, wangi Ugetsu,' pikirnya tanpa sadar, mendadak rasa rindu menyesakkan dada setelah sekian lama tidak mencium wangi ini.

"Aku tidak butuh alasan."

"Dengarkan dulu. Aku perlu menjelaskannya atau kau tidak akan pernah mengerti karena kapasitas otakmu yang minim itu." Mendengar G terus memohon, Ugetsu menghela napas, menyerah.

"Baiklah, kudengarkan."

"Terimakasih." Dan Ugetsu merasa pelukan G semakin erat seiring waktu. "Aku membawa paperwork ke rumah karena aku ingin cepat pulang. Soalnya kalau tidak kubawa pulang pasti besok aku akan lembur dan waktu kita bersama akan semakin menipis. Lagipula, aku tahu hari ini kau akan pulang dari Kyoto, makanya aku ingin cepat pulang, agar bisa cepat bertemu denganmu…

Tidak tahunya kau pulang lebih cepat dari yang kuperkirakan. Aku kira kau akan pulang sore-sore, saat itu pasti paperwork-ku sudah beres semuanya jadi aku benar-benar bisa menikmati waktuku. Aah, kau menghancurkan rencanaku. Dasar menyebalkan!" jelas G, semakin melesakkan wajahnya ke dada bidang Ugetsu.

Sekarang, Ugetsu yakin wajahnya tengah merona. Masalahnya, G yang jujur dan bersikap tidak biasa seperti ini… terlalu manis. Gawat, ia pasti akan terkena diabetes. Kadar kemanisan G dipastikan tidak berefek baik pada kadar gula darahnya.

"G, maaf. Biasanya aku sabar menghadapimu. Tapi mungkin karena aku sedang capek, suasana hatiku jadi sedikit buruk. Maaf…." Ugetsu membalas pelukan G, mencium puncak kepala pemilik surai magenta.

"Tidak sepenuhnya salahmu juga. Sudahlah aku juga meminta maaf."

Ugetsu lalu sedikit menggulingkan badan sehingga sekarang posisi mereka saling berhadapan. "Ahaha, G, wajahmu merah sekali. Kau demam?" ledek Ugetsu, melihat wajah uke-nya memerah; kebiasaan G jika dirinya sedang malu berat.

"Berisik! Kautidaktahubetapamalunyaakukalauharusberkatajujurbegini, cih!" ucap G dengan cepat sehingga hanya 'Berisik!' dan 'Cih!' saja yang terdengar jelas di telinga Ugetsu.

Ugetsu tertawa. "Hahaha, G, kau terlalu manis." Lalu perlahan mendekatkan wajahnya pada G. Semakin dekat. Hingga bibir mereka bertemu dan tak ada lagi jarak di antara mereka.

Beberapa menit pagutan yang cukup dalam terjadi. Namun setelah melepas ciumannya untuk bernapas sejenak, Ugetsu tiba-tiba menyudahinya dengan berkata, "Baik, sudah cukup untuk hari ini~"

"…Eh?" G memasang wajah tak mengerti, bingung.

"Yap, sudah cukup untuk hari ini. Aku lelah, ingin cepat-cepat tidur, hahaha. Oh, atau G mengharapkan yang lebih dari ini?" tanya Ugetsu, menggoda G yang sekarang kalap karena ingin menyangkal.

"Te-tentu saja tidak! Bodoh! Argh, kau menyebalkan!" Kesal dan malu, G mencubit pipi Ugetsu sebagai pelampiasan kekesalannya.

"Www, jangan mencwubitku! Sakit! Oke, terimakasih telah berhenti mencubitku. Sekarang, temani aku tidur. Jangan banyak protes! Aku… sudah mengantuk, hoahmm," ucap Ugetsu diakhiri dengan menguap, lalu memeluk G erat seperti gulingnya. "Oyasumi, G. Aku cinta padamu."

"Hn, oyasumi, Ugetsu … aku cinta padamu juga."

.

.

.

end of chapter 13


A/N : HALO READERS! AKHIRNYA ASARI FAMILY UPDATE SETELAH SEKIAN LAMA NGGAK UPDATE! IYA! UPDATEEEEE! /teriak pake toa/ /nyante aja kamu/

Setelah tidak bisa menulis fic dua bulan karena laptop mati total dan WIP yang dikerjain di handphone kehapus SEMUANYA gara-gara keformat… akhirnya dengan segala usaha sana-sini fic AF ini update juga :"D Tapi saya merasa ini terasa kurang entah kenapa. Apa mungkin karena ngetik ulang dan malah kehilangan feels ya? Saya bingung. Yah, semoga readers puas dengan chapter special U02 ini ;)

Btw genkan itu lorong kecil begitu masuk rumah yang biasanya dipakai untuk tempat nyimpen sepatu. Tahu, kan?

Lalu, terimakasih sebesar-besarnya karena ternyata masih ada yang baca fic ini walaupun nggak update teroz. Hiks. Terharu. Sini aku kasih fanservice dicium di pipi sama Hayato bagi para readers! /heh/

Yap, akhir kata saya minta kritik dan saran jika ada yang kurang. So,

Mind to RnR? :D