Helaian coklat seperti remah tanah, mata sewarna solid Bumi itu.
Seijuuro serasa terkunci, sampai orang didepannya itu menelengkan kepalanya bingung.
"Ano?"
Seijuuro kembali tersadar. Ia kembali pada posisinya.
"Maaf. Aku tadi tidak melihatmu, jadinya menabrakmu." Seijuuro mencoba berbicara senormalnya—walau detak jantungnya tidak seirama dengan wajahnya. Pria didepannya terdiam sebentar sebelum menggeleng.
"Aku juga minta maaf karena tidak berhati-hati, " Ia membungkuk sopan, membuat Seijuuro bungkam sebentar.
"Namaku Furihata Kouki." Pria bernama Furihata itu mengulurkan tangannya, menjabat udara seraya tersenyum gugup, "Na—namamu?"
Manik hetero itu menatap penuh selidik pada tangan kurus yang terulur hampa memegang udara. Entah, getir apa yang dirasakan Seijuuro. Seluk hati terdalamnya menerbitkan rasa itu lagi. Apakah ini tanda sifat manusianya sedang berusaha menguasainya?
'Ibu, ini maksudnya apa?' Walau sakit, tapi entah mengapa sudut bibirnya tertarik keatas. Inikah salah satu sifat manusia yang paling kuat, yang selalu mengalahkan semua jenis bahkan para tetua sekalipun?
Sepertinya Seijuuro mengerti.
Ia balas tangan yang lebih kecil darinya—dan hangat, "Seijuuro…Akashi.."
.
.
SEIJUURO; WHEN DEMON LEARNS ABOUT LIFE
Genre : Supernatural/romance
Rate : T…?
Pair : Demon!AkashixHuman!Furihata
Setting : AU, Demon!Akashi
Warnings : Typo(s) , alur berantakan, fluffless, bahasa berceceran, amburegul, emeseyu, de-el-el
.
.
#HappyReading!
.
.
Kuroko no Bauske © Fujimaki Tadatoshi
FanFiction © Ameru Sawada
.
Dish 002: WHEN DEMON'S MASK CRACKS
.
Ternyata tidak mudah menjadi manusia.
.
"Kemanakah Seijuuro?"
Suara itu bergaung dingin diantara bata fana, merusup diantara lantai chekerface keramik serta dinding pastel cream yang redup. Didalamnya hanya ada satu jendela. Besar, dan cahaya menyilaukan menyeruak masuk dengan agresif.
Sosok terpantul disana memandang kearah jendela. Sayap hitamnya tertutup rapi, sementara kedua tangan dilipat dibelakang. Menanti seseorang yang nampaknya hilang dalam kawanan.
"Kalau kau mencari Seijuuro, " Seorang lain yang tengah meminum dari gelas tinggi berujar, "Sepertinya ia sedang mencari makan.." Lidahnya seduktif menjilati pinggiran gelas. Sosok pertama masih keukeuh pada posisinya.
"Mencari makan tidak boleh lebih dari enam jam, " Kelereng hitam itu bergulir pelan kebawah, menelisik lekuk papan catur yang menaungi kaki, "Seijuuro sudah pergi lebih dari enam jam, ia harus kembali.."
Pintu menyeblak, seorang lain muncul. Kemeja hijau lumut bersembunyi dibalik jas formal hitam. Pemuda itu membungkuk hormat sebelum angkat suara.
"Ada apa, Shintarou?"
"Aku sedang iseng mencari makan tadi, " Menaikkan bingkai lensa yang merosot, "Dan aku melihat Seijuuro bersama seorang manusia.." Mata sehitam malam itu memincing.
"Mangsa?" Shintarou menggeleng, membangkitkan atensi kemarahan, "Memang susah mengatur iblis yang berupa setengah manusia.." Ia berbalik dari memunggui sekawannya.
"Kau berpikir begitu, Shuuzo?" Sosok yang terpanggil Shuuzo masih diam.
"Sesedikit apapun darah manusia yang mengalir dalam darahnya, pastilah akan berpengaruh…" Shuuzo berjalan perlahan, melewati rupa Shintarou dan membuka perlahan pintu besar bercat coklat tua itu, "Itulah mengapa Seijuuro perlu diawasi."
Pintu lalu tertutup.
Inikah perasaan yang ditinggalkan ibu hingga mengubah ayah..?
Seminggu berlalu, kini Seijuuro menambah intensi waktunya bertemu Furihata. Dan entah, secara perlahan, ia mulai mengenal kehidupan manusia—walau tidak semua. Ia mulai mengenal yang namanya sekolah, tempat dimana Furihata menempa pendidikan dunia. Ia juga mengenal—walau sebatas nama dan data formal—mengenai teman Furihata. Ia memang punya sedikit teman, namun Seijuuro melihat tidak ada sesuatu yang berbahaya mengenai mereka. Seijuuro juga mempelajari salah satu permainan manusia yang sangat digemari Furihata,
Yaitu basket.
Seijuuro lumayan menikmatinya. Dalam basket, banyak teknik dan permainan menipu yang bisa digunakan untuk mencetak kemenangan. Dan dalam sekejap, Seijuuro menjadi mahir dalam basket. Membuat Furihata melenguh karena kalah tanding merupakan salah satu hiburan tersendiri bagi Seijuuro.
Dan hari ini untuk ketiga kalinya dalam seminggu Seijuuro kembali mengalahkan Furihata.
"Akashi-san hebat, " Furihata meneguk habis minumannya—setengah kesal, "Padahal baru pertama kali main…" Pipi Furihata memerah antusias. Membuat Seijuuro tergelitik.
"Biasa saja, " Seijuuro memainkan botol minuman yang terpegang padanya, "Basket punya banyak teknik menipu, aku suka menipu.." Bibirnya mencelos lancar, ia segera tersadar dan menatap Furihata walau masih menjaga image.
Tak disangka antusiasme sang solid Bumi meningkat, "Wuah, berarti Akashi-san itu orang pintar!" Seijuuro sempat sweatdrop dalam hati, "Hebaat!" Pipi Furihata makin merah.
'Pipinya lucu juga..' Bagi Seijuuro, melihat pipi yang memerah adalah hal baru. Wajar, karena iblis mempunyai darah biru dan mungkin tidak akan memerah.
"Pipimu memerah, Kouki, " Seijuuro menempelkan batang hidungnya pada Furihata, menggeseknya pelan, "…dan hangat.." lalu menjilatinya seduktif. Mengakibatkan Furihata menggeliat tidak nyaman.
"A—Akashi-san—" Ucapannya terpotong lagi kala Seijuuro menjilatinya lagi, "…ngh…ge—geli.." Erangannya lepas.
Saat itu Seijuuro berusaha menahan libidonya agar tidak menyerang Furihata segera. Ia segera membuat jarak, melepas pagutan maut, "Kau manis sekali, Kouki." —pasti rasanya enak.
Pipi merona semakin jadi, terlihat geliat malu sekaligus kesal, "Akashi-san, a—aku 'kan bukan perempuan…, aku tidak manis.." Lalu bibir mengerucut kesal, menimbulkan kekeh anomali dari yang menggoda.
Apakah Seijuuro pernah terkekeh sebelumnya?
.
Seijuuro mungkin tidak menyadari, sesosok bayangan hitam tengah mengawasinya jauh diatas salah satu pencakar langit. Jauh, kelereng hitam menyipit tipis, tergurat kemarahan namun nampak teduh secara bersamaan. Sayap hitam terbentang, hendak bermobil ke destinasi lain.
"Seijuuro, kalau kau begini terus, kau harus menghadapi konsekuensinya."
Rasanya hangat. Mengalir tenang, sensasinya berbeda.
Kini biru cerah perlahan tertelan oleh laskar kilat orange. Tanda jam waktu menunjukkan sore menjelang. Para insan yang telah berjuang berjalan pulang, hendak mengistirahatkan diri. Seijuuro telah berpisah dengan Furihata beberapa menit lalu (tentu Seijuuro mengantarnya pulang, walau Furihata menolak) .
Berjalan perlahan pulang, Seijuuro berbelok kearah kanan, dan ia terkejut melihat sosok sekawannya tengah bersandar pada dinding rumah yang nampak remang.
"Kau mencariku, " Kilat hitam terpancar, " Shuuzo?" Shuuzo melepas sandaran pada dinding, masih melipat tangan depan dada, dan membelakangi Seijuuro.
"Aku melihatnya, " Atensi waspada naik, "Apa yang bisa kau dapat dari sosok manusia polos itu? tidakkah kau lihat benang hitam padanya?" Masih memunggungi, Shuuzo naik nada bicara, "Aku bahkan tidak melihat apapun pada manusia itu." Terdengar dingin dan menusuk.
Seijuuro masih kalem.
"Justru dengan mendekati manusia itu, " Seijuuro mulai angkat bicara, "Paling tidak aku bisa memangsa teman-temannya, dan tinggal menunggu waktu, sampai manusia incaranku itu punya cukup benang hitam.."
Seijuuro hanya bisa berlindung dibalik topengnya, berharap tak retak.
Shuuzo tertawa renyah, sejenak setelahnya, hening melayang diantara mereka.
Shuuzo berbalik, seketika jarinya mengacung didepan batang hidung Seijuuro, "Kau mungkin bisa menipu tetua payah itu dan seluruh kaum, " Dalam hati Seijuuro berharap seniornya ini mati saja, "Tapi kau tidak bisa berbohong, Seijuuro."
Bisikan lembut itu membuat Seijuuro membeku dibawah naungan langit sore.
Cinta? Apa rasanya enak..?
DUAKK
"…"
Seijuuro terdiam. Bata dingin yang baru saja ia pukul sama sekali tidak sakit—baginya. Walau begitu, memar samar nampak pada kepalan tangannya. Perkataan Shuuzo tadi, sedikit menyulutkan kemarahan Seijuuro.
.
"Kau tahu iblis tidak bisa jatuh cinta pada manusia."
Seijuuro membeku ditempat, terpekur seperti orang bodoh. Apa katanya tadi? Jatuh cinta?
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Seijuuro. Mungkin kau tidak mengakuinya, tapi aku melihat dan menyaksikannya sendiri, " Perlahan ia mundur dari sisi wajah sang emperor yang masih diam, "Kalau kau berbuat seperti yang Seishirou lakukan dulu, tidak akan memperoleh apa-apa."
"Apa maksudmu?" Seijuuro maju bertanya—walau lidah terasa kelu.
"Manusia punya batas hidup, Seijuuro. Seperti apapun kau melindunginya, maut tidak akan melepaskannya, " Shuuzo kemudian berbalik, mengembangkan sayapnya, lalu sekilas melirik Seijuuro, "Lebih baik aku mengatakan ini sebelum kau menyesal."
Detik berikutnya Shuuzo sudah lenyap dari sana, hilang bagai ditelan kegelapan.
.
'Aku jatuh cinta pada Kouki?' Otak Seijuuro yang jenius masih mencerna kalimat Shuuzo tadi. Seijuuro ini iblis. Ia hanya memanfaatkan Furihata sebagai mangsa. Seijuuro akan memanjakannya dengan kepuasan duniawi, lalu mencampakkan Furihata, dan dari sana, benang hitam lezat akan didapatnya.
Tapi, rasanya tidak begitu…
Telapak tangan itu meraba dinding bata didepannya. Memikirkan perkataan tadi, mungkin Seijuuro akan menemukan jawabannya nanti.
'Mungkin…' Batinnya lirih.
.
"Huaahhm, " Terdengar suara menguap dari atas tembok. Sesosok rupa lain muncul, diam dan memperhatikan gerak Seijuuro sendari tadi. Tangannya ia tumpukan pada lututnya, menopang dagunya dan memandang dengan bosan, "Apa yang si Seijuuro itu lakukan..?" Tanyanya dengan nada malas pada teman disebelahnya.
"Bukankah sudah kuceritakan, nodayo, " Sosok kedua menaikkan bingkai kacamatanya, "Belakangan Seijuuro tertangkap bersama dengan manusia.." Jelanya lagi. Yang bertanya hanya menguap bosan.
"Siapa namanya tadi, Furihata Kouki, " Lalu ia bangkit berdiri, dan membentangkan sayap gagahnya, "Mangsa yang menarik."
"Tunggu, Daiki, " Terlambat, sosok yang dipanggil sudah pergi, pria yang ditinggal tadi menghela napas lelah seraya menaikkan kembali kacamatanya, "Merepotkan saja, nodayo."
"Semoga saja Seijuuro mau mengampuninya." Lalu pria berkacamata itu menghilang dalam sekejap.
==TBC==
OBROL-OBROL—!
Ameru : ciaossu! Wah, fic ini bnyk yg suka rupanya owo dan trimakasih sudah menanti! maaf karena chapter ini kurang panjang, Ameru sdng ulangan mid semester, jdi belum bisa crita panjang2 (=w=") Chapter ini, Seijuuro mulai gundah oleh perasaannya sendiri (owo) kira2 apa yg bakal terjdi, ya?
Kuroko : ngomong2 Aomine-kun ngapain disana?
Ameru : ehm, belum terlalu tahu. Tapi dichapter depan, kujamin bakalan seru! /ngacung jempol/
Kuroko : /sweatdrop/ nggak yakin..
Ameru : pokoknya! Chapter depan akan apdet segera (semoga)! Bye2!
.
CHAPTER 003—!
Aomine Daiki, iblis arogan yang menggoda manusia untuk jatuh dalam nafsu duniawi.
"S—Siapa?"
"Ikutlah denganku bermain."
Seijuuro tidak menemukan apapun selain kekosongan,
"Kau bukan Kouki."
"Ahahahahaha, Seijuuro kau lemah! Lemah oleh seorang manusia!"
"Manusia itu, dia kuat. Ini menarik."
.
SEIJUURO; WHEN DEMON LEARNS ABOUT LIFE
DISH 003!
WHEN DEMON BEING ATTACKED
