Seijuuro masih terdiam. Furihata masih pingsan.
Tetsuya, masih dengan tatapan datarnya dan minim ekspresi, ikut hanyut dalam lautan keheningan. Angin sore-lah yang menjadi pemisah antara Seijuuro dan Tetsuya. Hanya terdengar desiran angin yang menerpa dedaunan dan menerbangkannya jauh ke selatan.
Seijuuro yang selesai bergulat dengan batinnya bertanya, "Apa maksudmu, Tetsuya?"
Seijuuro tidak melihatnya, namun Tetsuya berjengit. Berterima kasih pada wajahnya yang stoic, sehingga rasa aneh yang menjalar dalam dirinya tidak diketahui dengan mudah oleh Seijuuro. Tetsuya masih diam, membiarkan pertanyaan Seijuuro terpatri dalam benaknya, belum siap menjawab. Perasaan yang ia pendam ini semakin membuatnya tidak nyaman. Ia harus segera menyelesaikan ini.
"Furihata-kun tidak akan aman bila ada didekatmu, Seijuuro-kun…" Itulah yang keluar dari celah mulut Tetsuya. Kini Seijuuro menggeram marah. Taringnya terlihat. Ingin rasanya Seijuuro meninju wajah tidak berdosa itu.
"Tetsuya—"
"Ketahuilah, Seijuuro-kun, bahwa tidak hanya kau yang mengincar Furihata-kun, " Tetsuya memotong ucapan Seijuuro, "Dan aku disini juga untuk melindungi Furihata-kun dari sebangsamu…" Tambahnya. Kini terlihat di keping blue aqua itu. Kilat kemarahan.
Seijuuro tergelak, lalu tertawa. Tawanya membahana di antara udara. Melengking rendah dan mengejek. Kilatan hetero-nya semakin menjadi, "Dan sebangsaku mengajarkan bahwa mangsa yang sudah diincar tidak bisa dilepaskan, " Kini manik emasnya menatap nyalang pada sang malaikat, "Bahkan kepada seorang malaikat sepertimu." Ia melanjutkan.
Tetsuya menghela napas, "Ini berarti pertempuran, Seijuuro-kun." Disambut senyuman khas Seijuuro.
"Tentu saja."
Sekali hembusan angin berderu, Seijuuro telah menghilang dari tempatnya. Furihata ikut dibawa bersamanya. Namun Tetsuya tidak bergeming. Ia mendongakkan kepalanya dengan pelan, menatap tirai orange bercampur ungu dan merah yang meraja seluruhnya di bingkai langit. Ia menghembuskan napas, lalu menatap tempat tadi sang iblis berdiri. Tetsuya merasakan riak yang menjalari tubuhnya semakin menjadi.
Aku melindungi Furihata-kun, Batin Tetsuya berkata, seiring keping blue aqua-nya yang meredup, sarat akan kesedihan, bukan hanya sekedar tugas dan tanggungjawab, namun… Tetsuya kini mengigit bawah bibirnya dengan kencang. Ia ingin teriak dan membiarkan angin membawanya.
…karena Furihata-kun tidak akan lama lagi.
.
.
SEIJUURO: WHEN DEMON LEARNS ABOUT LIFE
Genre : Romance, supranatural, hurt/comfort
Rate : T…?
Pair : Demon!AkashixHuman!Furihata
Setting : AU, Demon!Akashi, Angel!Kuroko, Demon!GoM
Warnings : Typo(s) , alur kecepetan, OOC, fluffless, bahasa kasar input, ancur, amburegul, emeseyu, de-el-el
.
.
#HappyReading!
.
.
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
FanFiction © Ameru Sawada
.
DISH 004: WHEN THE ANGEL FORCES THE DEMON
.
Tidak ada yang bisa menghentikanku, bahkan seorang malaikat sepertimu.
.
Seijuuro menapaki tanah hampa dan terdiam di depan rumah bergaya sederhana, minimalis namun terkesan luas. Pepohonan rimbun menutupi rumah itu dan memberi kesan sejuk dan hijau padanya. Ia menatap papan nama yang dipaku di depan pagar rumah itu.
Furihata.
Inilah rumah Furihata Kouki. Seijuuro menapak tanah sebentar, lalu menghilang dari depan halaman. Dan sekejap ia telah sampai di depan kamar Furihata. Seijuuro membuka pintu kamar itu, dan kegelapan segera menguasai pandangannya. Ia menekan steker lampu kamar itu dan seketika ruangan itu terang dihujani cahaya.
Seijuuro berjalan perlahan menuju tempat tidur single di sudut ruangan itu dan membaringkan Furihata disana. Ia perhatikan Furihata sejenak. Tubuhnya sudah sembuh seperti sedia kala, dan wajah Furihata menunjukkan kedamaian dalam balutan bunga tidur. Perlahan, tangannya meraih helaian solid tanah itu dan menyisirinya. Sangat lembut, itu yang terlintas dalam pikiran Seijuuro.
Furihata menggeliat, agaknya terganggu dengan tangan Seijuuro. Namun kembali ia hanyut dalam asyiknya belaian mimpi. Sudut bibir Seijuuro tertarik. Lega melihat Furihata baik-baik saja. Lega karena Furihata masih di sini, tidur dengan damai seperti bayi.
Tolong pergi dari hadapan Furihata-kun.
Batin Seijuuro seakan terinjak kaki badak. Sakit. Mengingat kata-kata malaikat atas itu membuat amarah Seijuuro memuncak. Kalau saja kesadarannya tidak memeringatkan ada manusia yang tengah terlelap di sana, Seijuuro pasti sudah mengamuk dan menghancurkan rumah keluarga Furihata. Namun untuk saat ini amarah itu hanya bisa menari-nari dalam pikiran dan hati Seijuuro. Sakitnya sama seperti menyimpan dendam kesumat.
"Kouki, " Kini fokus Seijuuro kembali pada Furihata. Manusia, yang telah membangitkan kembali sifat terdalam diri iblis Seijuuro. Manusia, yang mengajarkan kembali pada Seijuuro bahwa selamanya, hidup tidak hanya didasari oleh nafsu saja, "Kau manusia yang suci, Kouki. Benang putihmu itu, adalah senjata terkuat. Daiki pantas mendapatkan itu."
Tunggu,
Daiki?
Seijuuro terpekur. Ia merenungi kalimat yang baru saja meluncur dari mulutnya. Benang putih Furihata, sesuatu yang disebut 'ikatan' . Itu senjata terkuat Furihata dan benang itu berhasil melelehkan wujud bayangan hitam Daiki. Bila Daiki saja bisa dihempaskan dengan benang itu, apalagi dengan Seijuuro? Kemungkinan Seijuuro untuk terhempas oleh benang ikatan itu juga besar. Apakah ini artinya—
"Kouki, "
Apakah ini artinya, Seijuuro tidak bisa mendekati Furihata lagi?
Tidak bisakah?
Tapi, bukankah Seijuuro sudah bersemayam di salah satu sudut hati Furihata? Berarti, tentu ia bisa tetap bersama dengan Furihata?
Ini menyakitkan. Ini membuatnya bingung. Otak genius-nya tidak bisa mencerna satupun intisari dari kalimatnya itu. Furihata sudah menjadi milik Seijuuro, dan Seijuuro terpaksa harus melepaskannya karena sesuatu yang banyak iblis takuti?
Tidak. Bukan Seijuuro namanya bila menyerah akan sesuatu. Ia absolute.
Furihata-kun tidak akan aman bila ada didekatmu, Seijuuro-kun.
Persetan bila nantinya Furihata akan menjauhinya atau tidak, Seijuuro akan mendapatkan Furihata. Apapun yang terjadi, iblis akan mendapatkan mangsanya.
"Tidak akan kubiarkan malaikat itu menyentuhmu, Kouki."
.
.
"Makoto-kun, apa Dai-chan baik-baik saja?!"
"Satsuki tenanglah, Chihiro masih ada di dalam."
Namun Satsuki tidak mendengarkan omongan Makoto. Dengan gelisah ia berjalan bolak-balik di depan pintu besi besar berwarna keabuan pucat. Lantai di bawahnya sama dengan dinding di sekitarnya, hitam pekat. Gadis itu terus bolak-balik sementara Makoto, rekannya yang beralis tebal dan berwajah sangar, tetap diam sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana hitamnya.
Kemudian pintu besar itu menjeblak terbuka. Seorang berambut keabuan nyaris putih keluar dari ruangan remang itu. Tampangnya tidak kalah datar dengan lantai di bawahnya, dan selama beberapa saat ia hanya menatap gadis berambut pink itu dan si alis tebal. Hingga teriakan Satsuki memecahkan atmosfer tersebut.
"Chihiro-kun, bagaimana dengan Dai-chan?!" Dengan penuh murka Satsuki maju dan menarik kerah kemeja putih Chihiro. Yang ditarik kerahnya masih mempertahakan stoic-nya.
"Tenang saja, namun sebagian tubuhnya hancur. Dua hari, dan ia akan pulih."Namun perkataan Chihiro tidak membuat Satsuki lantas tenang dan menghela napas lega. Sebaliknya, taring Satsuki tertarik keluar, dan aura membunuh keluar dari dalam tubuhnya.
"Manusia brengsek! Beraninya ia melukai Dai-chan sampai segitunya, AWAS—"
"Satsuki, tenanglah!" Dengan susah payah Makoto mengunci lengan Satsuki. Selama beberapa menit Satsuki meluncurkan sumpah serapah, sampai ia lelah dan mulai terisak pelan, menggumamkan nama Daiki.
"Manusia itu lumayan berbahaya." Celetuk Chihiro. Makoto mendengus.
"Kau juga harus tahu, seorang malaikat kelas atas juga menjaga manusia itu…" Tambah Makoto. Ia masih dengan sigap mengunci lengan Satsuki.
"Bukan itu masalahnya, " Chihiro menyipitkan matanya, memandang waspada Makoto, "Itu karena…"
"Jangan bilang kau kini ada di sisi yang sama dengan Seijuuro."
"Apa?" Chihiro mengerjap.
Makoto menyirengai, "Kau tahu, dia iblis pengkhianat. Ia jatuh cinta pada manusia, dan menolongnya saat ia diserang Daiki. Iblis bodoh, itulah mengapa aku tidak setuju saat tetua mengambil paksa ia dari sisi Ayame Hiiga(*) itu." Makoto mengakhirinya dengan dengusan mengejek. Chihiro masih diam.
"Seijuuro-kun…berkhianat..?" Kini Satsuki yang berbicara, dengan volume yang pelan dan masih terisak.
"Aku menganjurkan agar kau tidak membahas ini, Satsuki, " Sergah Makoto, ia kembali memandang Chihiro, "Kami akan kembali. Lebih baik kau cepat dengan pemulihan Daiki. Bumi akan sepi tanpanya." Dan mereka berdua segera lenyap. Meninggalkan Chihiro yang masih memandang langit kelam yang terbentang luas di matanya.
Jadi, desas-desus itu benar, Batin Chihiro, ia melangkah pelan ke sisi salah satu jendela besar yang membingkai langit neraka yang bergemuruh, penuh petir dan kelam, aku kecewa, tapi prihtatin disaat yang sama.
Keping abu pucat Chihiro menerawang, seakan jauh menembus langit neraka waktu itu, pisau iblis Daiki telah menyayat seorang manusia, beruntung sekali ia selamat. Tapi setelahnya…aku tidak yakin, Itulah yang dibatinkan Chihiro kali ini.
Inilah pilihan, dan inilah konsekuensi.
.
.
Kouki, kau baik-baik saja di sana…?
Pagi keesokan harinya, saya menyorot pemandangan sebuah padang rumput. Di seberangnya terdapat sebuah sungai kecil, dan di atasnya terbangun sebuah jembatan beton kokoh, yang menyatukan dua tanah berbeda sehingga manusia dapat lewat di antaranya. Angin kembali yang mengisi indahnya pagi ini.
Tiba-tiba sebuah kabut hitam terbang mengitar, sebelum membentuk sosok yang solid. Rambut hitam malamnya agak berantakan dimainkan angin. Sosok itu masih berdiri tegak, seakan menunggu sesuatu.
"Kau sudah datang."
Berikutnya angin agar ribut berputar, berpusar, dan membentuk satu sosok solid lainnya. Rambut biru terang dengan sepasang keping blue aqua yang bertampang teflon.
"Maaf, " Ia berkata dengan nada sopan, "Ini pertama kalinya kita bertemu, " Sosok berjubah hitam itu berbalik, "Shuuzo-san. Pimpinan para iblis."
"Selamat pagi, malaikat kelas atas, Tetsuya, " Shuuzo balas dengan sopan, membungkuk hormat, "Aku ingin…membicarakan tentang kejadian kemarin."
Mata Tetsuya agak membulat, lalu kembali ke posisi semula, "Ada apa?"
"Aku terkejut manusia itu, Furihata Kouki, bisa lolos dari sayatan pisau iblis Daiki, " Shuuzo memulai, "Dan aku cukup salut kau datang disaat yang tepat. Tadinya aku berpikir akan menghabisi manusia itu.." Lanjutnya.
"Lalu?"
"Jangan berpura-pura, Tetsuya, " Kini Shuuzo berbalik sepenuhnya, menatap Tetsuya dengan tenang, "Kau tentu melihatnya sendiri, bukan?" Manik Tetsuya sesaat kemudian meredup.
Seakan Tetsuya telah menjawab pertanyaannya, Shuuzo melanjutkan, "Kau datang melindungi manusia itu memang tanggungjawabmu, tapi kau punya tugas lain selain melindunginya…" Mata hitamnya menyipit.
"Memang benar adanya, Shuuzo-san."
"Dan memang semestinya, " Shuuzo kembali berkata, "Seijuuro itu masih terbilang yang termuda di antara kami semua. Dan karena darah manusia ibunya, perkembangannya agak sedikit terhambat, sehingga ia belum melihat itu."
"Aku mengerti." Balas Tetsuya.
Hening di antara mereka. Tetsuya tidak ingin meneruskan ini sebenarnya, dan Shuuzo tampak tenggelam dalam pikirannya yang rumit. Jeda lama, Shuuzo-lah yang kembali menyambungkan percakapan tadi.
"Kira-kira…berapa lama lagi?" Tanyanya. Kali ini Tetsuya tidak bisa menahan ketakutannya. Kini rautnya yang datar sudah mengeluarkan sedikit ekspresi.
"T-tidak lama…dua…dua bulan…paling lama…" Tetsuya menghindari tatapan menusuk Shuuzo, seakan tatapan itu akan menghabisinya.
"Sudah cukup. Ini hukuman bagi Seijuuro, sekaligus pelajaran baginya, " Kemudian Shuuzo berbalik, "Terima kasih atas waktumu, Tetsuya. Anggap saja pertemuan ini tidak pernah ada dan lanjutkan saja tugasmu." Dan beberapa detik kemudian Shuuzo telah lenyap.
" …. "
.
.
Kemana kau…?
Sudah lebih dari seminggu Seijuuro tidak menemui Kouki. Selama itu juga, ia terus menjatuhkan banyak manusia ke dalam dosa. Bukan sebagai penghilang bosan, namun lebih mengarah ke pelampiasan kekosongan dalam relung diri Seijuuro. Ya, Seijuuro merasakan kekosongan itu dan semakin didalami, hanya akan menaikkan amarahnya yang berujung ia menjatuhkan tiga manusia sekaligus ke dalam dosa.
Karenanya para malaikat kini mulai gencar melindungi para manusia. Tak jarang terjadi pertempuran antar iblis dan malaikat yang berakhir dengan kalau bukan kemenangan salah satu dari mereka, maka seri. Hal ini kadang membuat element Bumi tidak stabil dan banyak orang dari masing-masing kubu terluka akibat pertempuran melindungi-atau-menjatuhkan-manusia-tersebut.
"Ini semua karena Seijuuro, " Keluh Shougo suatu kali, "Semua malaikat itu jadi menyusahkan. Kuhabisi mereka sampai tuntas, baru tahu."
"Jangan, Shougo, " Shuuzo datang tepat ketika Shougo akan menyerang salah satu malaikat di dekatnya, "Bagaimanapun juga, pilihlah manusia yang benar. Hiraukan saja malaikat itu, ia hanya melindungi manusia yang kerempeng.." Tambah Shuuzo, perlahan Shougo mengangguk setuju.
Tapi Shuuzo tidak bisa menyalahkan perkataan Shougo tadi. Shougo benar. Sejak Seijuuro menyelamatkan manusia Furihata itu, intensitas munculnya malaikat ke Bumi semakin banyak dan semakin ketat. Mau tidak mau iblis harus memutar otaknya.
"Hey, Shuuzo, " Shuuzo tersadar dari lamunannya dan balik menatap Shougo, "Aku tidak sengaja melihat kau bertemu malaikat atas itu dan…"
"Kau menguping. Seberapa banyak?" Ada ketidaksukaan dalam nada bicara Shuuzo.
"Er…hampir semuanya, " Shougo menggaruk tengkuknya canggung, "Aku mendengar…tentang manusia incaran Seijuuro itu…semuanya…" Shuuzo agak membelalak, sebelum kembali memfokuskan pandangannya mencari mangsa baru.
"Lalu?"
"Aku, kemarin iseng mendatangi rumahnya, " Shuuzo semakin mempertajam telinganya, "Dan aku melihatnya…itu…sudah mulai terlihat…"
"Benarkah?" Pria berambut hitam itu merunduk sedikit, kemudian kembali mendongak, "Parah, kah?" Shougo menggeleng, "Biarkan saja. Ini akan menjadi hukuman dan pelajaran bagi Seijuuro." Katanya.
Shougo tidak berani lanjut. Kini ia memfokuskan matanya, sebelum menghilang dari sisi Shuuzo. Mencari makanan.
.
.
Shitarou masih fokus dengan bola kristal yang melayang dengan anggun di tengah ruangannya. Mata zamrudnya memandang entah apa di dalam kristal itu, namun ada kilatan yang aneh dimatanya. Dan ia baru mengalihkan pandangannya ketika pintu dibuka dan masuklah Chihiro.
"Chihiro?"
"Aku penasaran, dengan manusia incaran Seijuuro itu, " Lugas saja Chihiro bicara, dan kini ia berdiri sejajar dengan Shintarou, "Ceritakan padaku."
Shintarou menghela napas sebentar, "Sayatan pisau iblis pada manusia tidak akan menimbulkan efek langsung seperti kematian.., " Matanya memandang kembali cahaya bening kristal di depannya, "Tapi efeknya akan terlihat setelah beberapa hari…"
Chihiro menaikkan sebelah alisnya, "Efeknya?"
Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya, dan jari telunjuknya dengan anggun menunjuk bola kristal, "Coba kau lihat itu, Chihiro." Dan Chihiro menurut.
Raut wajah Chihiro langsung berubah horror, dipandanginya Shintarou yang masih bertahan dengan wajah datarnya, "Kalau Seijuuro tahu ini…Daiki akan habis.."
"Karena itu Shuuzo memerintahkan pada kita untuk tidak mengatakannya. Tapi Seijuuro baru akan melihat ini setelah dua minggu berikutnya…"
" … "
"Seijuuro gila hanya karena manusia, " Shintarou mengehela napas kembali, "Seperti yang dilakukan Seiishirou dahulu…dan akan berakhir sama pada ujungnya."
==TBC==
HAI PENGHUNI FANDOM KNB APA KABAR WAKAKAKKAKAKA-
AMERU KEMBALI! /peluk satu2/ /cium satu2/ senang rasanya bisa kembali ke sini QWQ ini saya apdet setelah sekian lama berusaha agar bisa mengetik kembali. Ide buntu demi pantat Merlin!
(*) Ayame Hiiga; err…itu cuma nama khayalan ibu Akashi. Sebenarnya saya bingung nama aslinya siapa, ngarang bae /kena tabok skenario/
Gimana ngemeng2 chapternya? Garing? Ngebosenin? Muter2 alurnya? Emang! Sama seperti kepalaku yang muter2 karena bentar lagi ngambil raport semester 1 QAAAAQ
Pokoknya trimakasih kepada yg sudah review, fav, dan follow! Terus nantikan apdetnya fic ini (tunggu sampe taun jabot aja wakkakaka /tawa jahat/)
Sampai ketemu di chapter brikutnya!
.
.
CHAPTER 005—!
"Kau sudah melupakan manusia yang kau cintai itu, huh?"
"Ada…apa ini..?"
Seijuuro dengan perlahan bergabung dengan kerumunan sahabat Furihata.
"Furi, ya? Sudah seminggu ini ia absen dari sekolah…"
"Kita bertemu lagi, Seijuuro-kun.."
"Tiga minggu sudah terlewat, tinggal minggu ini dan satu bulan terakhir…"
Shuuzo terkejut melihat kedatangan Seijuuro.
"Seijuu—"
"ADA APA DENGAN KOUKI!?"
.
SEIJUURO: WHEN DEMON LEARNS ABOUT LIFE
DISH 005!
WHEN THE HUMAN LOST
