Guardian Angel

.

.

.


Casts : Jongin, Sehun

Pairing : KaiHun (Kai x Sehun)

Genre : fantasy, romance

Rated : T Length : chaptered

Warning : boys love, don't like don't read, don't plagiarism please


Chapter 2


"Jatuh dari langit?" Kai tertawa keras ketika Sehun menceritakan bagaimana dia bisa terjatuh di samping Kai pada waktu itu. Dia berkata bahwa waktu ia sedang dalam perjalanan dari Dunia Langit untuk mencari Kai, ada sekumpulan bebek terbang yang sedang bermigrasi, karena takut menabrak –dengan insting malaikatnya, jadinya dia menghindar. Tapi sialnya kemudian ada segerombolan burung lain yang bermigrasi dan menabraknya hingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh begitu saja.

"Kenapa tertawa?! Kau pikir itu tidak sakit hah?!" Sehun berkata sambil melotot. Dia tiba-tiba teringat pinggangnya yang terasa ngilu. Ini benar-benar sakit.

"Dasar bodoh. Itu cara jatuh terkonyol yang pernah kudengar." Kai tertawa kembali. "Bukankah kau punya sayap? Kau bisa terbang kembali ketika jatuh dengan mudah. Aku sekarang benar-benar ragu, kau benar-benar malaikat atau bukan. Kau benar-benar bodoh, haha."

"Tsk. Diam kau." Sehun menunjuk Kai dengan kesal. "Itu karena aku lapar tau, kau tidak pernah merasakan rasa lapar ya? Rasanya benar-benar menyiksa. Itu membuat seluruh energiku rasanya terserap habis oleh rasa lapar itu, dasar bocah menyebalkan." Sehun melanjutkan perkataannya dengan gaya yang dilebih-lebihkan sambil menggerutu.

Kai menahan tawanya. Sehun benar-benar bodoh.

"Hei, aku bisa membaca pikiranmu. Berhenti mengataiku bodoh anak nakal!" Sehun menjitak kepala Kai.

"MWO?!" Kai terkejut, dan memegangi kepalanya protektif. " Jangan bercanda, mana ada yang seperti itu. Kau pikir kau percaya?" lanjutnya meremehkan. Mana mungkin seseorang bisa membaca pikiran orang lain bukan? Pikiran ada dari reaksi kimia yang terjadi di otak. Sel-sel saraf di otak membentuk sistem tertentu sehingga kita bisa mengolah rangsangan yang kita terima lalu kita persepsikan. Otak jugalah yang membuat emosi. Mana mungkin keseluruhan peristiwa menakjubkan yang terjadi murni hanya di dalam diri kita sendiri itu dapat diketahui oleh orang lain? Mereka kan...

"Berhenti berpikir terlalu ilmiah seperti itu. Kenapa di pikiranmu terus menyebut otak, persepsi, saraf?" Sehun terlihat terganggu. Dia memegang bahu anak yang dijaganya itu lalu berkata kepadanya, "Mulai sekarang kau harus belajar memercayai sesuatu yang 'tidak ada' itu, arachi? Semua yang tidak terlihat sebelumnya bukan berarti tidak nyata."

Kai menahan napas. Sehun bersinar lagi, dia bersumpah. Tapi selang beberapa detik kemudian dia tersadar dan menepis tangan Sehun di pundaknya. "Aku tidak percaya! Aku tak percaya hal-hal itu dan tidak akan pernah!" ucapya keras kepala. Dia lalu memilih untuk meninggalkan Sehun sendiri dan mengambil beberapa cemilan di dapur daripada mendengar nasihat konyol dari Sehun.

Tapi Sehun tentu saja mengekor di belakangnya padahal Kai sedang berusaha menghindarinya!

"Kenapa kau tidak terbang saja sekarang? Lihat! Sayapmu benar-benar memenuhi rumahku dan hampir saja menjatuhkan gelas kesayanganku! Apa benar kau malaikat sih?" Kai berkata kesal. Dia mendekap gelas kesayangannya dengan protektif dan menjauhkannya dari Sehun.

"Maafkan aku, Sehun berkata lemah. Aku lapar." Kelihatannya dia bersungguh-sungguh ketika mengatakannya. Raut wajahnya benar-benar pucat seperti orang yang tidak makan berhari-hari.

Kai mendengus. "Kenapa tidak bilang dari tadi?" dia lalu berjalan menuju kulkas dan mengambilkan beberapa cemilan untuk Sehun. "Makanlah"

Sehun menatap makanan itu dengan raut wajah tidak berminat, matanya terasa semakin berkunang-kunang akibat kelaparan.

Kai terlihat tersinggung. "Dengar ya, walaupun saat ini kau berhasil sedikit meyakinkanku kalau kau benar-benar malaikat tapi ekspresimu saat ini benar-benar terlihat menyebalkan tahu. Kau kira makanan ini tidak enak ya? Malaikat tidak sudi memakan makanan manusia ya? Huh?!" Kai berjalan meninggalkan Sehun dengan kesal.

"Hei, bukan begitu maksudku..." Sehun menghentikan langkah Kai dengan susah payah. Rasa lapar ini benar-benar menyiksa dan membuatnya pusing. Sehun termasuk malaikat yang suka makan dan selama di dunia malaikat dulu, dia tidak pernah pergi jauh-jauh dari pohon Star Apple yang banyak terdapat apel manis dan segar di sana. Anehnya, Sehun pernah pingsan selama beberapa hari ketika dia tidak makan buah tersebut akibat seluruh buah Star Apple pada waktu itu sedang dipanen tanpa menyisakan buah satupun di pohonnya. Sehun benar-benar kelaparan pada waktu itu dan berakhir dengan pingsan.

Kai menatap Sehun aneh dan membawanya kembali ke realita. "Lalu kenapa tidak mau makan?"

"Star Apple..." Sehun bergumam lirih, dia memegangi perutnya yang sudah benar-benar kelaparan akibat seharian ini belum makan sama sekali. "Apa kau punya?"

Kai mengernyit. "Benda macam apa itu?" Kai berjalan menuju kulkasnya kembali. "Apa yang kau maksud ini?" lanjutnya sambil menunjukkan sebuah apple merah yang terlihat lezat yang diambilnya dari dalam kulkas.

"Apa itu?" kini giliran Sehun yang heran.

Kai mendekat dan menyerahkan apel itu pada Sehun. "Makanlah, ini apel. Sama saja dengan star apple bukan? Hanya ini yang kupunya asal kau tau."

Sehun mengambil apel dari tangan Kai dengan enggan. "ugh, apa boleh buat..." katanya seperti tidak rela lalu mulai memakan apel tersebut.

Kai menghembuskan napas lalu berjalan pergi meninggalkan Sehun di ruang tamu. Namun, lagi-lagi baru beberapa langkah suara Sehun menginterupsinya kembali.

"Kai..."

Kai mendengus kesal. "Apalagi?" katanya sambil berbalik. "Rasanya tidak enak? Terserah kau saja. Hanya itu yang kupunya!" lanjutnya ketus.

"Bukan seperti itu." Sehun menjawab antara sadar dan tidak sadar karena matanya terus fokus menatap apel itu dengan tatapan kagum. Matanya berbinar-binar cemerlang. "Ini makanan terenak yang pernah kumakan!" jeritnya senang, tubuh Sehun terasa penuh dengan energi sekarang.

Kai speechles.

Apa dosa yang diperbuatnya di masa lalu hingga saat ini dia harus bertemu dengan malaikat penjaga bodoh bernama Sehun?

.

.

"AAAHHHHHHHH!" Kai berteriak kencang di pagi itu ketika melihat 'sesuatu' di depannya yang bahkan tidak bergerak sedikit pun mendengar teriakan menggelora membahana Kai.

Sehun tertidur.

Tubuhnya melayang setinggi 50cm dari lantai dan dia tertidur dengan posisi melayang. Sayapnya terlipat rapi di belakang pungungnya dan wajahnya terlihat damai.

Sekilas Sehun terlihat seperti patung porselen berbentuk malaikat yang sering Kai lihat di gerejanya ketika Natal tiba. Malaikat yang sama sekali dia ragukan keberadaannya tapi sekarang justru muncul dalam kehidupannya.

Dia bangkit dari tempat tidurnya dan menenangkan dirinya sejenak dari keterkejutannya melihat Sehun di pagi ini. Setelah beberapa saat, dia lalu bangkit dan menghampiri Sehun. "Bangun, aku harus pergi hari ini." Katanya. Dia menunggu Sehun merespon selama beberapa menit, tapi tidak ada yang terjadi. Mata Sehun masih terpejam dan dia tidak bergerak sama sekali.

Sebersit rasa takut mulai menghampirinya. Apa Sehun mati?

Konyol.

"Hei, jangan menakutiku. Bangunlah." Kai menarik lengan Sehun untuk membuatnya terjaga.

Mata Sehun perlahan terbuka. Bola mata merahnya seketika melebar di balik kacamatanya karena terkejut mendapati tarikan tiba-tiba di lengannya, membuatnya kehilangan keseimbangan dan...

"Ugh," Kai meringis karena tubuh Sehun tiba-tiba kehilangan keseimbangan karena bangun dengan tiba-tiba dan kemudian terjatuh menimpa tubuhnya.

Ringan sekali.

Kai bahkan tidak merasa terbebani oleh tubuh Sehun tetapi rasa sakitnya justru karena punggungnya membentur lantai.

"Ahh, maafkan aku." Sehun berkata cepat sambil berusaha bagkit dari atas tubuh Kai. Tapi...

Kretakkk

"Aakhhh, punggungku~ " Sehun memegangi pinggangnya yang terasa sakit. Dia terdiam beberapa lama sambil memejamkan matanya menahan sakit.

Kai shock. Lelucon macam apalagi ini?

"Ada apa denganmu?" tanya Kai sambil membantu Sehun berdiri. Malaikat itu mengepak-ngepakkan sayapnya pelan demi mengurangi rasa sakit di punggungnya, membuat Kai kesulitan untuk membantunya.

"Diamlah, kau benar-benar merepotkanku," sungut Kai. Dia membantu memapah Sehun yang melayang ringan beberapa senti dari tanah.

"Ini sakit tahu, tempat macam apa ini? Kenapa begitu mengerikan? Banyak hal-hal berbahaya!" Sehun berkata berlebihan dengan ekspresi cemas yang aneh. Sepertinya benar-benar ketakutan karena baru-beberapa jam di bumi dia sudah terkena beberapa kesialan. Bagaimana ke depannya nanti?

"Ck. Mengerikan? Rumahku istanaku tau. Kau jangan seenaknya menghina." Kai berkata tak terima.

"Bukan rumahmu. Tapi bumi. Bumi. Kau dengar, ha?" Sehun meralat dengan ekspresi menyebalkan.

"Aissshhh. Kau begitu menyebalkan." Kai melepas bantuannya di pinggang Sehun sehingga membuatnya otomatis kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang gara-gara sayapnya yang tidak cepat tanggap.

Kretaaakk

"Akhhh," Sehun berteriak keras ketika punggungnya kembali membentur lantai hingga menimbulkan suara yang terdengar begitu mengerikan. Ouch. Pasti sakit sekali ya?

"Hey, maafkan aku." Kai buru-buru hendak membantu Sehun berdiri, tapi tangannya di tepis dengan kasar oleh Sehun.

"Aku membencimu..." ujarnya dingin dia menatap Kai dengan tatapan menusuk. Dia mencoba bangkit, dan, hey, punggungnya tidak terasa sakit lagi~ "Ahh, kuralat, aku menyayangimu Kai-ah~" Sehun merubah ekspresinya dalam beberapa detik sehingga membuat Kai ternganga.

"Apa maksudmu?" Kai melangkah mundur ketika Sehun membuat gerakan ingin memeluknya. Dia menunjukkan sikap siaga 24 jam. Berlebihan sekali.

"Punggungku tidak terasa sakit lagi, hehe. Kurasa itu berkat kau tadi." Sehun terkekeh lalu terbang berputar-putar dengan riang di rumahnya. Menimbulkan semacam badai kecil yang cukup mengganggu karena kepakan sayapnya membuat tiupan angin yang cukup kencang ke sekelilingnya.

"Ya ya, terserah. Berhenti terbang dengan gila atau aku akan mengusirmu dari sini." ancam Kai sambil melangkah menuju dapur dan memasak sarapan untuk dirinya sendiri hari ini. Dia harus cepat sarapan, mandi, lalu berangkat ke sekolah.

Sehun mengikuti di belakangnya dengan pelan agar sayapnya tidak merusak benda apapun.

"Ini makanlah." Kai melempar sebuah apel merah untuk Sehun yang ditangkapnya dengan senang.

"Terima kasih. Kau yang terbaik." ujarnya gembira.

Kai memanggang roti lalu mengolesinya dengan selai cokelat sebelum membawanya ke meja makan.

"Kalau kau mau ambilah." kata Kai.

Sehun menggeleng. Dia meletakkan apel yang diberi Kai tadi di meja makan di depannya lalu duduk dengan tenang di kursi yang berhadapan dengan pemuda berkulit tan tersebut.

Kai menatapnya heran. Lalu mengangkat bahunya tak peduli. Tangannya perlahan terulur untuk mengambil roti bakar di depannya sebelum suara Sehun menginterupsi kegiatannya.

"Kemarikan tanganmu." kata Sehun lalu meraih kedua tangan Kai.

"M-mwo?" Kai berusaha menarik tangannya dari genggaman Sehun tapi tidak berhasil. Dia takut Sehun akan melakukan hal-hal bodoh sehingga melukai(?) tangannya tercinta.

"Sst, diamlah..." Sehun berkata dengan tenang lalu tersenyum. "Tutup matamu," perintahnya.

Sehun menutup matanya dengan pelan. Dia menggenggam tangan Kai erat-erat. Kai menghela napas pelan, sepertinya Sehun sedang tidak bercanda kali ini. Dengan malas dia menutup matanya mengikuti apa yang Sehun perintahkan.

Hening...

Kai bisa merasakan tangan Sehun menggenggam tangannya dengan lembut kali ini, menariknya mendekat. Kehangatan tiba-tiba melingkupi hatinya dan membuatnya nyaman.

"Ya Tuhan...terima kasih atas makanan yang Kau berikan pada kami hari ini. Berkatilah agar menjadi manfaat bagi kami dan orang-orang yang kami kasihi...Amin." suara Sehun terdengar begitu jernih seperti denting loceng. Dia sedang berdoa...

Kai perlahan membuka matanya yang kemudian diikuti Sehun yang menatapnya dengan senyum terukir di bibirnya. Dia merasakan aura Sehun yang terasa begitu menyenangkan. Seluruh tubuh malaikat itu bercahaya dan terlihat sebuah angel ring yang berkilauan di atas kepalanya, membuat Kai mempercayai Sehun sebagai malaikat untuk pertama kalinya sekarang di dalam hidupnya...

Dia benar-benar nyata...

.

.

.

"Kau sedang apa?" Kai bertanya pada Sehun yang sedang membetulkan letak kacamatanya dan terbang di sampingnya sambil sibuk membolak-balik buku bersampul cokelat yang dilihatnya tempo hari. Buku itu benar-benar aneh. Muncul dan menghilang begitu saja. Dan bagaimana Sehun menyimpannya? Apa dia punya kantong di bajunya?

"Aku sedang melihat catatan tentang hal berguna yang kulakukan semenjak menjadi malaikat penjagamu. Lihatlah, hiks, yang berwarna hitam lebih banyak, itu artinya perbuatan burukku lebih banyak. Bahkan di sini tertulis sayapku yang hampir memecahkan gelas kesayanganmu." Sehun terlihat merajuk.

"Pfft—dasar bodoh." Kai tertawa.

"Aisshhh, kau menyebalkan!" Sehun menggembungkan pipinya besar-besar karena kesal.

"Berhentilah melakukan hal-hal bodoh seperti itu, kau kekanakan sekali." Tawa Kai makin keras terdengar.

"Dengar ya, saat ini aku sedang berduka asal kau tahu. Kalau aku tidak dapat melakukan kebaikan dan memenuhi kertas berwarna putih ini lebih dahulu daripada kertas yang berwarna hitam maka aku akan berakhir dengan hukuman di Dunia Bawah tahuu.. hiks... menyedihkan yaaa?" Sehun berkata sendu.

"Ahaha,.. itu konyol sekali. Jadi itu tugasmu selama menjadi malaikat penjagaku? Memenuhi kertas yang berwarna putih dengan catatan kebaikan?"

"Jangan menertawai tugasku! Ini tugas mulia. Selain menjagamu, melakukan kebaikan, aku juga harus menemanimu dan menjadi seseorang yang dapat kau jadikan sandaran jika sedang mengalami masa-masa sulit." jelas Sehun.

"Tugasmu banyak sekali. Kurasa malaikat bodoh sepertimu tidak akan bisa melakukannya. Apalagi yang terakhir. Menjadi sandaran untukku ketika sedang dalam masa sulit, Hmmpft— itu mustahil." ejek Kai.

"Berhentilah mengejekku..." suara Sehun terdengar sedih. Kai terdiam. Ia jadi merasa bersalah telah mengejeknya habis-habisan tadi.

"Tugas utama seorang malaikat adalah menghubungkan manusia dengan Tuhan. Kami bertugas mengirim harapan dan impian yang coba mereka sampaikan pada Tuhan." Sehun menghela napasnya pelan sebelum melanjutkan ucapannya. "Intinya, kami bertugas untuk memberikan kebahagiaan. Dimana semua impian dan harapan menjadi kenyataan terlepas dari segala penderitaan yang selalu ada di setiap kehidupan manusia itu sendiri."

"Sehun..."

Sehun menatap Kai, "Oleh karena itu...sebagai malaikat penjagamu, tugaskulah untuk membuatmu bahagia..."

Dan Kai merasa Sehun bersungguh-sungguh ketika mengatakannya.


To be continued.


Chapter 2 update! yey! Semoga tidak membosankan ya.

Sehun jatuh dari langit itu terinspirasi dari salah satu iklan parfum yang tayang di TV. Itu iklan berkesan banget buat Momo :))

Love,

Momo