Guardian Angel
.
.
.
Casts : Jongin, Sehun
Pairing : KaiHun (Kai x Sehun)
Genre : fantasy, adventure, romance
Rated : T Length : chaptered
Warning : boys love, don't like don't read, don't plagiarism please
Chapter 3
"Kau mau kemana?" Sehun bertanya penasaran ketika melihat Kai begitu terburu-buru.
"Ke sekolah"
"Aku ikut!" Sehun menyahut cepat dan langsung memosisikan dirinya tepat di samping Kai. "Ayo berangkaaaat!"
Yang mau bersekolah sebenarnya siapa coba?
.
.
"Sekolahmu bagus," komentar Sehun ketika melihat sekolah Kai yang terbilang mewah. Gedungnya terdiri dari 6 lantai dan terdapat halaman depan yang hijau dan luas di depan sekolahnya.
"Aku tahu."
"Sombongnya, hehe" Sehun cengengesan. Kai menghela napas pelan. Dia harus sabar karena Sehun bawel sekali dan mengomentari hampir semua benda yang ditemuinya.
"Di mana kelasmu anakku?" Sehun celingukan kesana kemari mencoba menerka mana kelas Kai.
Kai bersungut-sungut dalam hati. 'Anak' katanya? Heh? Memangnya Sehun tidak sadar umur apa? Jelas-jelas dia lebih tua -_-
Kai berjalan lurus tanpa memerduikan Sehun. Kenapa malaikat itu menjadi banyak tingkah begini setelah makan apel? Mungkin besok Kai tidak harus memberinya makan, mungkin?
"Hey, hey jawab aku. Kau tidak sopan sekali pada pelindungmu," Sehun menjewer telinga Kai, membuatnya mengaduh kesakitan.
"Aarrgghh, bisakah kau diam? Ini di sekolah, aku ingin tenang dan belajar, kau begitu berisik!" Kai mengucapkan kata yang begitu menyakitkan tanpa sadar. Sehun sih, berisik sekali, membuatnya kesal setengah mati. Untung tidak ada orang di sekeliling mereka, kalau tidak, bisa-bisa Kai dikatai gila karena dikira marah-marah sendiri.
"Maaf..." Sehun menunduk dalam. Dia tidak sadar kalau sikapnya tadi sangat mengganggu Kai. Sehun mengutuk dirinya sendiri saat itu juga. Bukankah ia seharusnya bertugas memberi kenyamanan pada Kai?
Kai berdecih lalu melangkah dengan angkuh melewati Sehun. Memang siapa yang peduli dengan malaikat itu? Dan Sehun mengekor di belakangnya seperti orang bisu karena dibentak Kai tadi.
Kai membuka pintu kelasnya.
"Pagi" sapanya pada seluruh penghuni kelas. Tidak ada yang menyahut, semua orang hanya memandangnya dengan tatapan sulit diartikan. Kai melangkah cuek ke bangkunya. Bukankah itu sudah biasa baginya?
Ya... tak diangap itu sudah biasa bukan?
Kai baik-baik saja...
Tapi, benarkah begitu?
Sehun terhenyak ketika tak satupun teman sekelasnya menjawab sapaan Kai. Ada apa sebenarnya?
"Hei idiot, masih berani masuk kelas ya? Apakah yang kemarin belum cukup hah?!" seorang anak laki-laki gendut, tinggi besar tiba-tiba datang menggebrak meja Kai. Sehun memandang ngeri pada anak laki-laki itu, tapi Kai justru tidak bergeming. Bayangkan saya, anak lelaki gemuk itu begitu besar dan gemuk sedangkan Kai? Tipis seperti kertas. Dia dalam posisi yang tidak menguntungkan seandainya terjadi perkelahian.
"Memang apa masalahmu gendut?" tanya Kai menantang, dia menatap anak gendut itu dengan tajam. Sudah lama sekali dia ingin membalas perlakuan sombong anak itu kepadanya. Dia bahkan sudah cukup bersabar menerima perlakuan tidak adil selama 2 tahun ini dari anak gendut tersebut. Sekali saja membalas perkataannya tidak apa bukan?
Hal itu bermula di semester 1 kelas 1 SMA. Padahal Kai rasa ia tidak melakukan kesalahan apapun dan tiba-tiba suatu hari anak gendut itu menceritakan sesuatu tentang latar belakang keluarganya yang susah payah ia sembunyikan itu ke seluruh sekolah hingga berakhir dengan ia yang kehilangan kendali dan memukuli anak gendut itu hingga pingsan.
Setelah peristiwa itu, anak gendut itu menjadi sangat membencinya dan itu merupakan masalah besar bagi Kai karena ternyata anak gendut itu adalah anak kepala yayasan pemilik sekolah dan ayahnya marah besar pada Kai waktu itu karena berani memukuli anaknya. Beruntung Kai tidak dikeluarkan dari sekolah.
Tapi ada suatu persyaratan yang dibuat...
Yaitu Kai tidak boleh berkelahi atau melawan anak laki-laki gendut itu selama ia bersekolah di sekolah tersebut. Apabila ada satu luka kecil saja yang dia buat pada anaknya, maka berakhirlah kehidupannya di sekolah tersebut karena kepala sekolah pasti akan mencabut seluruh beasiswa Kai dari sana dan dia tidak mau itu terjadi karena seluruh hidupnya sangat bergantung pada beasiswa itu semenjak kedua orangtuanya meninggal.
Mungkin tidak masalah jika harus menghindari satu orang saja, tetapi yang menjadi masalah adalah peraturan yang dibuat anak laki-laki gendut itu dengan seenaknya.
Seluruh siswa sekolah tidak boleh ada yang berteman dengan Kai, dan jika ada yang melanggar maka anak itu juga akan dikeluarkan.
Itulah penyebab Kai sama sekali tidak memiliki teman sampai saat ini...
"Berani sekali kau mengataiku gendut, idiot!" anak laki-laki itu menggeram marah dan langsung melayangkan pukulannya pada Kai.
Ah ya...dia tidak boleh melakukan perlawanan...hampir saja Kai melupakannya...
Bugh
Kai berdecih. Sudut bibirnya berdarah akibat pukulan tersebut. "Tidak sakit" komentar Kai meremehkan, dia mengusap darah di sudut bibirnya dengan kasar. Biar saja dia memukulinya sepuasnya, Kai tidak peduli, yang penting dia berhasil membuat anak gendut itu kesal.
"Dasar, bodoh! Tidak ada yang boleh menentangku di kelas tak terkecuali kau, idiot yang bahkan lahir dari seorang pelacur dan pemabuk!" anak laki-laki itu mencengkeram kerah baju Kai kasar dan tertawa penuh kemenangan dan kembali memukulinya tanpa ampun. Hati Kai berdenyut sakit, lagi-lagi kedua orang tuanya...
Sehun membulatkan bola matanya mendengar perkataan anak laki-laki tersebut. Jadi Kai...
"Cukup!" teriak Sehun, dan Sehun tau walaupun ia berteriak sekeras apapun tidak akan ada seorangpun yang mendengarnya kecuali Kai. Dia tidak tahan melihat pemandangan mengerikan ini. Bagaimana bisa tak seorangpun di kelas itu berusaha menghentikan anak laki-laki gendut itu? Dia bahkan terus memukuli Kai yang bahkan sama sekali tidak melawan. Anak itu diam saja ketika anak laki-laki gendut itu terus memukulinya.
Kenapa?
Kenapa seperti ini?
Sehun tidak mengerti...
Dia bersiap melangkah untuk menolong Kai ketika tiba-tiba pemuda itu menatapnya tajam. "Jangan mendekat atau aku akan membencimu Sehun," ujarnya dingin.
Sehun terpaku. "Tapi..."
"Kubilang jangan mendekat!" bentak Kai ketika Sehun hendak berusaha melangkah kembali. Dia meringis kesakitan ketika satu pukulan mendarat kembali tepat di rahangnya.
Dan Sehun membatu di tempatnya sekarang.
"Hei, kau bicara pada siapa idiot? Jangan-jangan kau gila juga ya?" ujar anak lelaki gendut itu sambil tertawa penuh kemenangan. Dia lalu melanjutkan memukuli Kai tanpa mengetahui bahwa Sehun ada di belakangnya hendak mengayunkan sebatang tongkat yang entah dia dapatkan darimana ke anak gendut itu untuk menolong Kai tadi. Tapi dia cukup beruntung karena Kai sudah menghentikan Sehun.
"Ugh.." Kai merintih ketika satu pukulan terakhir dilayangkan ke perutnya dengan sekuat tenaga sebelum ia di dorong dengan keras hingga terjatuh.
"Itu akibatnya jika kau berani menentangku Kim, kurasa kau cukup beruntung karena kau tidak kuadukan ke ayahku untuk dikeluarkan. Orang yang lahir dari orangtua kotor sepertimu tidak pantas bersekolah di sini," dan dengan itu anak laki-laki itu pergi dengan angkuh meninggalkan Kai yang bahkan kesulitan untuk berdiri karena dia memukulinya dengan begitu keras.
Kai tidak mengatakan apapun untuk membalas pernyataan menyakitkan itu. Walaupun sekesal atau semarah apapun dia sekarang, dia tidak boleh melakukannya...
Sehun terbang secepat kilat untuk menolong Kai, tapi Kai justru menampik tangannya.
"Jangan sentuh!" Kai berujar dingin. Sehun melangkah mundur dan menatap prihatin pada luka-lukanya. Wajahnya dipenuhi oleh lebam yang mulai membiru dan terdapat percikan darah di sana-sini.
Malaikat itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Tidak ada seorangpun yang menatap mereka. Tak seorangpun peduli. Semua hanya diam dan sibuk dengan kegiatan masing-masing tanpa menengok keadaan salah satu teman mereka yang tengah terluka sedikitpun.
Sebenarnya kelas iblis macam apa ini?
.
.
.
"Pegang pundakku, aku bisa membantumu berjalan," Sehun terbang dengan kecepatan rendah untuk mengimbangi kecepatan Kai berjalan. Pukul 7 malam adalah waktu pulang sekolah. Pemuda tan itu berjalan dengan sangat pelan untuk meredam rasa sakitnya, dan dia terus menerus menundukan kepalanya sambil memegangi perutnya dan tidak menjawab setiap Sehun menanyainya.
Sehun tidak habis pikir, mengapa anak itu tidak ke ruang kesehatan tadi? Bahkan selama di kelas, semua guru yang mengajar sama sekali tidak menanyakan keadaannya yang sudah hampir pingsan seperti itu. Sekolah yang benar-benar mengerikan...
"Kai," Sehun menyentuh pundaknya untuk membuat Kai. "Jangan mengacuhkanku..." Sehun tertunduk sedih.
Pemuda tan itu akhirnya mendongakkan kepalanya dan menatap Sehun untuk pertama kalinya seharian itu.
"Maaf aku malaikat penjaga yang buruk..."
"Maaf aku tidak berhasil melindungimu tadi..."
"Maaf karena selalu merepotkanmu..."
"Tapi tolong, jangan mengacuhkanku seperti ini..." Sehun menunduk. Dia menatap Kai dengan sendu dan setetes air mata berwarna merah darah terjatuh dari kelopak matanya.
Suasana hati malaikat terpancar lewat tubuh mereka, dan perasaan Sehun yang terluka terpancar lewat air mata sewarna darah yang keluar dari matanya.
Kai terkejut, dia tak menyangka Sehun akan menangis seperti itu. Para malaikat memang sulit ditebak. Dia menyesal telah membuatnya menangis.
"Maaf..." akhirnya sepatah kata keluar dari mulut Kai yang bungkam semenjak tadi. Kai tersenyum pahit. "aku tak bermaksud mengacuhkanmu, jangan menangis..." dia mengusap kepala Sehun lembut dan membuat malaikat itu menatapnya penuh tanda tanya.
"Aku akan menjagamu," Sehun berkata lirih.
"Aku tau," Kai tersenyum. "Tapi ini masalahku, kau tak perlu ikut di dalamnya," Kai menghela napas panjang dan memaksakan diri untuk tersenyum. Ya, dia akan bisa menghadapi seluruh kenyataan menyakitkan ini seorang diri bukan? Bukankah selalu seperti itu sejak dulu?
Semenjak masih kanak-kanak dia sudah tidak memiliki keluarga, apalagi yang bisa dia harapkan selain menghadapi semuanya seorang diri?
Walaupun sesesakit apapun perlakuan yang dia dapatkan, dia hanya bisa menahannya dan menyimpan seluruh rasa sakit itu seorang diri karena tak ada seorangpun yang peduli akan padanya...
"Jangan pernah berpikir seperti itu lagi kau tau?"
Dan Kai tidak menyadari seberapa cepatnya Sehun saat itu, dan yang dia rasakan kemudian adalah sebuah pelukan yang sangat lembut dan hangat yang belum pernah dia dapatkan selama hidupnya. Kai tercekat. Sehun memeluknya?
"Jangan berpikir seperti itu lagi karena aku di sampingmu sekarang"
Sehun mengeratkan pelukannya pada pemuda tinggi itu dengan lembut. Pemuda tan yang selalu menyimpan seluruh rasa sakit yang ia dapatkan seorang diri.
"Aku di sampingmu...biar kutanggung semuanya, seluruh rasa sakitmu. Karena itu, jangan seperti ini lagi..."
Setetes air mata tiba-tiba terjatuh begitu saja dari kelopak mata Kai tanpa ia sadari. Rasanya seluruh perlakuan menyakitkan yang pernah dia alami tiba-tiba merayap keluar dan membuatnya berkali-kali lipat lebih sakit daripada sebelumnya hingga membuatnya ingin mati.
Seluruh kehilangan, perasaan kesepian, perjuangan untuk menopang hidupnya sehari-hari, rasa sakit karena dibenci teman... dia tak sanggup lagi menahan semuanya.
Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Kai menangis.
Semuanya terasa begitu berat untuk ditanggung seorang diri.
"Sehun..." Kai berujar lirih, seluruh tubuhnya bergetar hebat seakan-akan seluruh beban berada di pundaknya, dia memeluk malaikat perak itu dengan erat seakan takut dia pergi. "Sehun, tolong aku..."
Sehun tersenyum. Dia menepuk punggung Kai yang bergetar dengan sayang.
Seperti keajaiban, sebuah perasaan hangat tiba-tiba merayap di hati Kai. Seluruh rasa sakit yang tadinya muncul menguap seketika dan berganti dengan perasaan hangat dan nyaman dalam sebuah pelukan.
"Akan kutanggung semua penderitaanmu..."
To be continued
Maaf ya lama update, hari-hari gue penuh dengan kesibukan (?) hahaha. Semoga engga lupa sama cerita sebelumnya ya.
Kuharap ini engga tambah aneh ceritanya hiks :"(
Makasih banget buat kalian yang udah pada baca dan review, itu satu-satunya penyemangat gue. Love you all :*
Love,
Momo
