Kelas menjadi ramai begitu Yuuma kembali dari ruang guru dan mengatakan bahwa guru yang mengajar pelajaran Bahasa Jepang, Sakine Meiko-sensei hari ini tidak dapat hadir karena sakit. Beberapa siswa sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang mengobrol, ada yang main game di ponsel, dan ada juga yang tidur.
Di antara meriahnya kesibukan tersebut, Miku adalah satu-satunya murid yang bingung harus melakukan apa. Antara bermain game ponsel dan jajan di kantin, ia justru memilih melamun yang tidak jelas keuntungannya.
Suara manis IA tiba-tiba terdengar dengan nada beberapa oktaf lebih tinggi dari biasanya. Hanya menyebut nama, perlukah memakai suara yang bahkan bisa membuat Piko yang hijrah ke bangku paling belakang untuk tidur sampai terbangun?
"HATSUNE MIKU!"
"E-eh?!" Miku gelagapan. "A-ada apa, Aria?"
IA berkacak pinggang. Baru Miku sadari, si cantik nan imut yang menjadi dua-duanya teman (satunya lagi Luka) di kelasnya ini sudah berdiri di samping bangkunya. "Hatsune Miku, berhentilah melamun seperti orang bodoh!" Harga diri Miku tersinggung di sini. Namun ia malah menanyakan hal lain.
"Mana Luka?"
IA menyelipkan rambutnya di balik telinga. "Ke toilet. Membentur kepala."
"Oh." Lima detik berlalu baru Miku merespon dengan lebih tepat. "Ha?! Membenturkan kepala?"
"Itu katanya." IA menjawab ringan. "Kau tahu," IA mencondongkan tubuhnya pada Miku. "Partner biologinya—Kamui Gakupo—tidak membiarkannya hidup tenang. Si ungu dari klub kendo itu susah sekali diajak mengerjakan tugas. Setiap Luka ingin mengajak, tiba-tiba dia sudah menghilang."
"Sou ka?" Miku kira hanya ia yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas biologi karena partner. Ternyata tidak.
"Hei, kenapa kau melamun lagi?"
Miku memasang tampang bodohnya. Memang tadi dia melamun lagi ya? "Maaf, aku tidak sadar kalau aku melamun."
IA menggembungkan pipinya. "Kenapa teman-temanku hari ini bersikap aneh, sih?" ucapnya lirih, bertanya pada diri sendiri. Tepat setelah itu, bel istirahat berbunyi. IA putuskan untuk mengajak Miku menggerakkan tubuh agar berhenti melamun.
"Mau menjenguk Luka?"
Miku terkesiap. IA hanya membatin. Benar 'kan, dia melamun lagi?
Setelah IA mengulang kembali ajakannya, Miku mengangguk cepat. Ia bangkit dari bangkunya dan beranjak mengikuti IA keluar kelas. Begitu sampai di toilet wanita, keduanya langsung disambut wajah suram Luka.
"Kenapa kalian ke sini?"
IA mendekat dan mencolek lengan Luka. "Kami hanya ingin melihat keadaan sahabat kami. Tidak tahukah kau bahwa kami mungkin saja mengkhawatirkanmu?"
Luka berdecak. Ia kemudian melirik ke arah Miku yang diam seolah menjadi patung di sudut toilet. "Kau kenapa, Miku? Wajahmu lusuh sekali."
Miku menarik napas dalam dan memandang lantai keramik yang balik memelototinya. "Kaito sepertinya tidak mau mengajakku mengerjakan tugas Kiyoteru-sensei lagi." Miku akhirnya mengutarakan keluh kesahnya. IA menatap Miku prihatin. Gadis beriris biru pucat ini kemudian duduk di meja wastafel, membelakangi cermin besar yang biasa dipakai para wanita untuk berhias dan berpangku tangan.
"Aku mengerti perasaanmu, Miku. Yuuma juga berkata akan mengerjakan sendiri tugasnya. Katanya aku hanya mengganggu saja. Arghh!" IA meremas kepalanya. Frustasi. "Bodohnya, karena terlalu syok aku hanya mengangguk saja!"
Luka menggelengkan kepala melihat kedua sahabatnya yang murung. Ia berkacak pinggang. "Kalian baru segitu saja sudah sedih. Kalian harusnya bersyukur, tahu!"
IA memandang Luka dengan ekspresi heran. "Kenapa kami harus bersyukur?"
"Hu'um," imbuh Miku. "Kenapa? Kenapa?"
Luka memutar kedua matanya. "Setidaknya rekan kalian mau mengerjakan tugasnya. Mungkin bila kalian bujuk sedikit, mereka mau mengerjakannya bersama. Kasusku beda! Rekanku ini susahnya minta ampun kalau diajak mengerjakan tugas. Alasannya beragam. Mulai dari dipanggil guru sampai harus menyerahkan absen ke wakil ketua klub kendo. Lalu pada akhirnya malah kabur!"
Tangan Luka terkepal di depan dada. Bila ini adalah sebuah animasi, maka kita akan bisa melihat background toilet wanita berubah menjadi gunung Merapi yang sedang meletus.
"Kita tidak boleh begini terus!" Luka memprovokasi. Menatap nyalang kedua sahabatnya yang kini menatapnya balik. "Sebagai wanita, kita tidak bisa ditindas seperti ini oleh pria! Mereka pikir mereka siapa? Mereka hanya pelajar, sama saja seperti kita! Tak akan kubiarkan mereka bersikap seenaknya!"
Telunjuk Luka teracung lurus pada IA. "Kau, Ia Aria, katakan pada Yuuma bahwa dia tidak bisa mengerjakan tugas itu seorang diri! Ini kerja kelompok, bukan tugas individu! Dan bila tugas lambat selesai, jangan menyalahkan orang lain saja. Lelaki autis itu juga harus instropeksi diri! Siapa tahu kesalahan terletak padanya."
Telunjuk Luka berpindah ke Miku. "Dan kau, Hatsune Miku!"
Miku mengangguk cepat berkali-kali. "Ya?"
"Kau harus bicara tegas pada Kaito! Kuakui, kau tidak dapat diandalkan untuk diajak mengerjakan tugas bersama. Tapi bila kau tidak ikut mengerjakan sama sekali, aku khawatir kau tidak mengerti sedikit pun mengenai isi makalah kalian. Bisa-bisa saat presentasi hanya Kaito saja yang bicara, sementara kau lebih banyak diam. Saat Kaito dapat nilai A+, kau malah dapat remidi lagi. Kau harus bersikap keras padanya!"
Luka lalu berjongkok membelakangi teman-temannya dan menggigit jari. Dalam volume suara yang lebih kecil, ia menambahkan, "Dan aku khawatir bila kau ketahuan tidak mengerjakan tugas itu lagi, Kiyoteru-sensei akan menambah tugas kita."
IA yang secara tidak sengaja mendengar desisan Luka membatin. Dasar!
Miku mengangguk dengan pelan pada Luka. Namun bibirnya tak memberi jawaban yang lebih tegas. Ia tidak berani memberi janji. Kemarin setelah Mikuo menyuruhnya saja, gadis bersurai teal ini masih belum melakukan pergerakan.
"Berhubung masih jam istirahat," IA bersuara. Mengungkapkan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan topik pembicaraan mereka. "Bagaimana kalau kita ke kantin? Aku lapar."
Luka berdiri dan merapikan rambutnya di depan cermin. Sebagai seorang wanita, tentunya ia harus terlihat rapi dong? Bahkan bila hanya pergi ke warung. "Tidak. Aku mau langsung ke kelas. Kau ajak saja Miku." Setelah selesai, ia keluar. Alhasil, hanya IA dan Miku yang ke kantin.
Beberapa langkah lagi menuju kantin yang ada di ujung lorong, Miku menangkap sosok Kaito yang tengah memakan roti melon sambil menatap keluar jendela. Sendirian. Miku pikir, ini saat yang tepat untuk menjalankan perintah Mikuo dan Luka.
"Ah, Aria! Aku titip milkshake vanilla, ya?" ucap Miku sambil menangkup tangan IA dan menempatkan uang di sana.
IA terperangah. "Kau tidak jadi ke kantin?"
Miku mengangguk. "Ada yang mau kulakukan."
IA masih memperhatiakan Miku hingga gadis berkuncir ganda itu tiba di hadapan Kaito. IA heran, tentu saja. Pikir IA, Miku ingin menemui Mikuo. Namun ternyata...
"Bisa minggir?"
Suara berat yang berbisik tepat di telinga membuat IA berjengit mundur beberapa langkah. Yuuma yang berdiri di hadapannya kemudian berjalan melewatinya begitu saja. Pria itu berhenti sebentar untuk menoleh pada IA yang sudah merona. Ya, menoleh sebentar dan mengoloknya.
"Kenapa kau berdiri seperti orang bodoh di sini?"
Sepertinya kata-kata IA dikembalikan kepada IA. Gadis bersurai lembut ini mengembungkan pipi dan bicara dengan volume tinggi, "Baka! Siapa yang kausebut bodoh, hah?!"
Setelah menjeritkan kekesalannya, IA berjalan cepat menuju kantin. Namun sesampainya di kantin, IA malah meringis. "Kenapa aku malah meneriakinya, sih? Dasar! Aria no baka, baka, baka…"
oOo
BAGIAN TIGA
-Not Him, It's You!-
oOo
"Cuacanya cerah ya, Shion-san?"
Kaito menelengkan kepalanya ke samping kiri. Alisnya mengerut melihat putri keluarga Hatsune berdiri di sana sambil menampilkan senyum ramah. Manis sih, tapi bukan itu yang dilihat Kaito.
"Ada apa?" tanya Kaito, to the point. Tak merespon pada pertanyaan Miku yang memang tak perlu direspon.
Miku memindahkan pandangannya ke samping. "Etto, kemarin aku belum minta maaf padamu. Jadi…" Miku membungkuk dalam-dalam, "Gomen nasai!"
Kaito memandang dingin memberi penegasan apakah ia memaafkan Miku atau tidak, Kaito bertanya lagi. "Lalu?"
Miku mengangkat tubuhnya dan menatap Kaito tepat ke matanya. "Tentang tugas baru dari Kiyoteru-sensei…" suara Miku mengecil, ragu. "Kapan kita akan mengerjakannya."
Kaito menatap keluar jendela. Ia tengah berpikir. Namun saat ia akan memberi jawaban, seseorang menyerukan namanya.
"Kaito, ayo kembali ke kelas!"
Pemanggilnya memang hanya satu. Kagamine Len seorang. Tapi yang menunggu Kaito lebih dari satu orang. Hampir seluruh laki-laki di dalam kelas XI-B menantinya. Kaito berseru balik, "Baiklah! Tunggu sebentar!"
Kaito menatap kembali ke Miku yang rupanya tak melepas sorotan mata padanya dari tadi. Pipi Kaito bersemu. Dan otaknya yang cerdas tak mampu memberi asumsi mengapa pipinya menjadi begitu. "Kita bahas lain kali. Aku ditunggu temanku."
Miku terdiam beberapa saat. "Lain kali itu…," ucapnya ragu, "apa bisa sepulang sekolah nanti?"
Kaito mengedikkan bahu. "Bisa saja." Lalu berbalik dan berjalan menjauh.
"Ah, Shion-san!" Pemuda itu berbalik lagi. "Boleh aku minta nomor teleponmu?" tanya Miku sambil secara refleks mengeluarkan ponsel dari saku seragam sekolah dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Sebuah senyum tercetak di wajah tampan Kaito. "Maaf. Tapi aku tidak ponsel," ujarnya dengan nada bercanda. Kaito lalu kembali menuju rombongannya dan berjalan—entah kemana.
Miku berkedip cepat berkali-kali. Sulur-sulur tidak nyaman merambati hatinya. Teringat kembali wajah Kaito ketika tersenyum tadi. Miku tidak yakin. Tapi baginya, senyum Kaito terasa begitu getir.
"Miku-chan!"
Miku tersentak bersama dengan kursi yang didudukinya. Duapuluh menit yang lalu, saat pelajaran Nekomura Iroha-sensei (contoh barang bahwa pepatah kecil-kecil cabe rawit itu memang ada benarnya), Miku keasyikan melamun. Sekarang, ia harus merasakan dinginnya keramik yang bersentuhan dengan pantatnya lantaran dikejutkan oleh sosok sang kekasih.
"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud mengejutkanmu!" Mikuo yang cemas buru-buru membantu Miku berdiri. "Kau tidak apa-apa?"
Miku menggeleng lemah. "Aku baik-baik saja," ucapnya. "Ada apa?"
Mikuo menampilkan senyum mautnya. Yang sudah bertahun-tahun terbukti ampuh membuat tiap wanita normal menoleh dua kali padanya. Sayang sekali, Miku bukanlah gadis normal. Miku adalah gadis dengan kecerdaan di bawah rata-rata.
"Ah, Mikuo-nii belum mengerjakan pr untuk pelajaran selanjutnya, ya? Maaf sekali, Mikuo-nii. Kalau yang itu, aku tidak bisa banyak membantu."
Senyum maut Mikuo berubah menjadi ringisan.
"Bukan, Miku. Lagipula sekarang sudah jam pulang. Pelajaran sudah habis."
"Hah?!" Miku terperangah. Ke mana saja ia dari tadi hingga jam pulang pun ia tidak tahu?!
"Kau tidak pulang, Miku?" Mikuo mencari topik lain.
Miku berdiri dan mengambil tasnya. "Tentu saja pulang. Masa' aku mau menginap di sekolah."
Mikuo tertawa kecil sekalipun ucapan Miku tidak mengandung unsur pembangkit humornya sama sekali. Garing sih, mungkin. "Kau tidak mengerjakan tugasmu bersama Kaito?"
Mendadak, tubuh Miku membatu. Nama Kaito terasa sensitif bila didengar oleh telinganya. Apalagi bila nama itu berada dalam satu kalimat yang sama dengan kata 'tugas'.
"Mikuo-nii, sekarang sudah jam berapa?"
"Baru jam dua lewat, Miku. Ada apa?"
"Gawat!" Miku mengacak rambutnya. "Aku 'kan mestinya menanyakan tugas itu padanya!"
Mikuo menggeleng prihatin. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa ia bisa jatuh cinta pada gadis seperti ini? Ditepuknya pelan pundak Miku yang bergetar karena sang gadis menangis putus asa.
"Kaito mungkin masih ada di lapangan sekolah. Mau ke sana bersama?"
oOo
Berapa kalipun Mikuo mengingatkan, anehnya Miku tetap saja lupa bahwa pacarnya ini adalah mantan ketua OSIS sekaligus kapten tim sepak bola di sekolahnya.
"Hah, aku tidak habis pikir dengan daya ingatmu itu, Miku."
Miku tertawa kecil. Tangannya terangkat untuk menutupi mulutnya. "Gomen, Mikuo-nii. Aku ingatnya Mikuo-nii itu ketua OSIS tahun lalu."
"Iya, itu juga kok. Aku ini mantan ketua OSIS dan kapten tim sepak bola. Lain kali kau tidak boleh lupa lagi, lho!"
"Hu'um!"
Untuk pertama kalinya semenjak resmi mendapat gelar pacar Hatsune Mikuo, baru kali ini Miku merasa nyaman berjalan berdampingan dengan Mikuo. Entahlah. Namun ia merasa percakapan kali ini mengalir dengan lebih lancar dari hari-hari sebelumnya, saat-saat mereka berkencan. Ini seperti… mereka kembali menjadi sepupu. Bukan kekasih. Eh?
Miku menampar pipinya.
"Ada apa, Miku?"
Miku tersenyum. "Ti-tidak apa-apa, Mikuo-nii. Hanya ada nyamuk di pipiku tadi."
Sejujurnya, alasan Miku terasa tidak masuk akal. Namun di saat Mikuo ingin menginterogasi lebih lanjut, seseorang menyerukan namanya.
"Mikuo! Bisa kemari sebentar? Ada anak kelas X yang ketahuan membolos eskul nih."
Mikuo terkekeh singkat. "Maaf, ya, Miku. Kamu cari Kaito sendiri saja." Miku mengangguk. Niatnya dari awal memang begitu, kok.
Cup! Kecupan singkat singgah kembali di dahinya.
Miku bergeming. Setelah bibir Mikuo menjauh dari wajahnya, mata Miku berkedip beberapa kali. Jiwanya berusaha mengumpulkan kesadaran yang mendadak tercerai.
"Jangan selingkuh dengan Kaito, ya?" ucap Mikuo sebelum akhirnya pergi.
Miku tak merespon. Setelah dirinya utuh, ia menghembuskan napas dengan begitu pelan. Secara tidak sadar, untuk beberapa saat yang menegangkan tadi ia lupa bernapas. Tangannya terangkat, lalu menyentuh dadanya. Oh, jantungnya yang sengsara kini ini harus bekerja ekstra lagi.
"Lho, Miku? Kenapa kau ada di sini?"
Miku menoleh dengan cepat. Utatane Piko dengan wajah mengantuk muncul dalam jarak pengelihatan Miku.
"Oi, Piko! Ayo jalan la…" Kali ini sosok Akaito dari kelas sebelah bersama Kaito yang muncul. Setelah memberi jeda lama, saudara jauh Kaito itu melanjutkan ucapannya sekaligus bertanya, "…gi? Kau Hatsune, 'kan? Kenapa kau ada di sini? Ara! Apa mungkin kau ingin mendaftarkan diri menjadi manager kami? Kalau begitu-"
Bletak! Jitakan (tak) pelan didapat Akaito dari saudara jauhnya sendiri, Kaito. "Kurangi kebiasaan cerewetmu yang seperti wanita itu," nasihatnya pada Akaito. "Jadi, apa yang kaulakukan di sini, Hatsune-san?"
Miku baru akan membuka mulut saat Kaito berkata sambil melirik ke arah Mikuo yang berdiri di tengah lapangan sambil berkacak pinggang menghadapi anak kelas X yang sedang mendapat hukum.
"Oh, aku mengerti. Ingin menemui pacarmu, 'kan?" Miku ingin menyangkal. Namun sekali lagi Kaito mendahuluinya. Kali ini bukan dengan bicara padanya.
"Ayo Piko, Akaito. Waktu istirahat kita sebentar lagi habis."
"Heh? Bukannya kita baru istirahat, ya?" Akaito yang tak mengerti situasi dan kondisi merongrong. Piko menepuk punggung Akaito sekaligus mendorong pemuda itu. "Sudahlah. Ayo kita pergi!"
Miku memberengut melihat Kaito pergi begitu saja setelah bicara tidak jelas mengenai dirinya. Ia tidak terlalu mengerti. Namun ia tahu kesalahan bukan melekat di posisinya. Kesalahan ada pada Kaito.
"Kau salah, Kaito!"
Kaito, Piko, dan Akaito berhenti berjalan. Suara Miku yang terdengar setengah berteriak berhasil memancing perhatian dari seluruh anggota klub yang ada di lapangan. Terkecuali Kaito, semua pasang mata menatap Miku heran.
"Yang mau kutemui bukan Mikuo!" jelas Miku. "Tapi kamu, Shion Kaito!"
.
.
.
Biar kesannya seru, maka akan saya hentikan chapter ketiga sampai sini #dihajar# Katakan saja kalau idenya sudah mampet#
Ah, untuk MiKai-san : gomen nasai! Kelihatannya alur fic ini malah makin lambat. Terima kasih untuk semangat dan reviewnya.
CatPhones-san : Terima kasih pujiannya #senyum lebar# Karena Anda, saya tidak menyesal sudah membuat Kaito pintar. Ini udah update! Terima kasih sudah review.
Reo Toa Hikari dan Hikaru-san : Hehe, keyboardnya licin #apaan?# Itu sepertinya kebiasaan jari, seperti saya sering salah ngetik "kau" dan "aku" (karena itu saya jarang memakai POV orang pertama) Tolong protes saya bila masih ada kesalahan meski sudah saya replace all. Kyaaa, kita sama! KaiMi juga pair fav saya! #peluk# Izin diberikan! Terima kasih sudah review, ya.
Oke, sampai bertemu di bagian 4: -Gossiph-
