Yang mau kutemui bukan Mikuo. Tapi kamu, Shion Kaito!
Sekali lagi, kalimat itu bergema dalam kepala Kaito. Dipandangnya gadis yang menyebabkan dirinya menjadi pusat tatapan sinis seluruh anggota klub sepak bola. Darahnya kembali mendidih. Terlebih saat melihat si gadis memasang tampang malaikat—tanpa dosa.
"Kau sadar tidak, sih dengan ucapanmu?!"
Dari menelengkan kepala, Miku mengerucutkan bibir. Ini sudah lewat setengah jam sejak ia ditarik oleh Kaito dan diomeli. Sungguh! Miku tak mengerti mengapa Kaito jadi sebegini emosi padanya. Miku hanya mengungkapkan isi kepalanya saja. Tak perlu sampai seheboh ini, 'kan?
"Tentu saja aku sadar! Aku memang ke lapangan karena ingin menemuimu, bukan Mikuo-nii."
Astaga! Kaito mengurut pelipis. Piko yang berkata, percuma marah dengan orang bodoh memang ada benarnya. Kaito putuskan untuk membuang amarahnya saat ini juga. Persetan dengan klub sepak bola. Ia bolos saja hari ini. Kalau perlu, pindah klub sekalian.
"Memang kenapa kau ingin menemuiku?"
"Tugas, Shion-san! Tugas dari Kiyoteru-sensei! Kau sudah janji akan membahasnya sepulang sekolah."
Lho, memang siapa yang berjanji? Seingat Kaito, ia tidak memberi janji. Ia hanya mengatakan "mungkin" saat Miku bertanya apakah lain kali (waktu untuk membahas tugas Kiyoteru) bisa hari ini.
Kaito bersandar pada tembok pagar di belakangnya tubuhnya. Lelah. Ia memandang ke arah langit yang berawan. Tugas, ya? Sejujurnya, Kaito malas membahas hal yang membutuhkan kemampuan kognitif pada orang yang selalu mendapat remidi di kelasnya.
"Tugas yang diberikan Kiyoteru-sensei, hm?" gumam Kaito. Teringat olehnya, bahwa tugas mereka kali ini cukup sulit. Kaito menghela napas. "Sebelum mengerjakan tugasnya, coba aku bertanya dulu padamu. Sistem indera itu apa?"
Miku mengangkat alis, bingung. Namun ia menjawab juga. "Sistem indera itu seperti mata, hidung, mulut…"
Yak, bahkan menyebutkan daftar sistem indera saja Miku salah. Kaito buru-buru mengoreksi jawaban Miku. "Mulut bukan sistem indera, Hatsune-san."
"Panggil aku Miku!"
Kaito mengerutkan dahi. Omongannya disela? Apa-apaan ini? Menyelanya dengan ucapan tidak berguna lagi!
"Baiklah. Mulut itu bukan sistem indera, Hatsu-"
"Miku!"
Sumbu kemarahan Kaito terpicu. Kaito tidak terbiasa memanggilmu Miku, Miku!
Dan dengan seenak hatinya, Miku malah menggumamkan sebuah lagu. Membuat Kaito jadi merasa lebih sebal dari sebelumnya.
"Namae nante iranai yo… kimi ga yonde kurenai nara… Namae nante ira nai yo… kimi ga kotaete kurenai nara."
Melihat Kaito yang tak memiliki niat untuk memenuhi permintaannya, Miku menghela napas panjang. Ia mulai mengungkapkan alasannya hingga menginginkan Kaito memanggil nama kecilnya. "Aku ingin kau memanggilku Miku, seperti yang lainnya. Kalau kau memanggilku Hatsune-san, aku khawatir nanti keliru membedakan nama panggilanku dan Mikuo-nii." Alasanmu nyerempet ke kata masuk akal, Miku. Good job!
Akhirnya pemuda bersurai blue ocean ini menyerah menghadapi sikap keras kepala sang lawan bicara. "Baiklah! Mulai sekarang aku akan memanggilmu Mi…ku?" Rasanya kok aneh di ujung lidah, pikir Kaito dengan wajah masam.
"Ehehe!" Miku malah tersenyum lebar. "Jadi, apa yang mau katakan tadi, Kaito-kun?"
Ini lebih parah lagi! Telinga Kaito serasa terinfeksi mendengar Miku memanggil nama kecilnya! Ada yang aneh dan menggelikan saat namanya disebut Miku. Dan semua keanehan itu memicu rasa panas di wajahnya.
"Ah," Kaito menggaruk tengkuknya dengan canggung. Menghilangkan perasaan-perasaan yang tidak beres dalam dirinya. Namun berakhir dengan kegagalan.
"Aku lupa tadi mau mengatakan apa."
oOo
BAGIAN EMPAT
-Gossiph-
oOo
Disclaimer tambahan: "Anata ni hana o watashi ni uta o", Kuroko Tetsuya, majalah Playboy, ITB dan IPB juga bukan punya saya.
Satu hari berlalu. Namun tatapan sinis masih menghantui Kaito. Kelihatannya tak ada seorang pun yang melupakan kejadian kemarin. Yang ada malah semakin banyak orang yang mengingat dan membahasnya. Ini semua salah si gadis Hatsune bernama Miku. Mirisnya, sang tersangka malah tidak memikirkannya sama sekali.
"Ha? Masa'? Jadi itu karena kejadian kemarin?"
Atau lebih tepatnya tidak kepikiran sama sekali?
Megurine Luka dan IA menggelengkan kepala berkali-kali. Dalam benak masing-masing, mereka membatin prihatin.
"Kamu ini, ya!" Luka menekan dahi Miku hingga yang bersangkutan nyaris terjungkal ke belakang. Saat ini mereka bertiga tengah berbicara di depan kelas mereka, menghindari keramaian karena koridor jauh lebih sepi dibanding kelas setelah bel masuk berbunyi—kondisi sekarang. "Kamu sadar atau tidak, sih bahwa kalimatmu itu membuat orang-orang jadi berpikiran buruk tentangmu dan Kaito, huh?"
"Tentu saja tidak," jawab Miku cepat, ngotot pula. "Aku hanya mengatakan apa yang ada dalam kepalaku saja. Aku tidak bermaksud membuat orang jadi berpikiran buruk tentang kami, apalagi tentang Kaito. Aku menghormatinya, tahu!"
"Ha?" IA berseru tiba-tiba. "Coba kauulangi ucapanmu barusan."
Miku dengan polosnya mengulangi ucapannya. Seusai mengulang dengan kalimat yang sedikit berbeda namun bermakna sama, IA membulatkan bibir dan menggumamkan "Oh". Namun detik berikutnya ia menarik kerah seragam seorang siswa yang kebetulan melintas di dekatnya.
"APANYA YANG "OH", HUH?!" IA menjerit di depan wajah sang kambing hitam, siswa tak bersalah dengan nama Keine Ron dari kelas XI-E.
"Eh? Ap-apa?" Keine Ron tergagap. Rasa takutnya melihat IA sekarang mengalahkan rasa takutnya akan hukuman karena datang terlambat hari ini.
"Aria, sebaiknya kau tenangkan dirimu dan lepaskan orang itu. Dia tidak ada hubungannya dengan pembicaraan kita." Luka bicara sambil melipat kedua lengan di bawah dada. IA menurut, dan Keine Ron langsung berlari tunggang langgang menuju kelasnya.
"Miku, jawab pertanyaanku!" pinta IA dengan nada kesal. "Sejak kapan kau memanggil Kaito dengan nama depannya? Selama ini kau memanggilnya "Shion-san" 'kan?"
Alis Miku menukik tajam. "Kemarin. Memang kenapa?"
"Astaga! Aku mulai khawatir gosip itu ada benarnya!" ucap IA. Dan saat itulah Luka melebarkan mata dan berkata, "Oh, sekarang aku mengerti maksudmu!"
IA dan Luka, secara serempak mencondongkan tubuhnya mendekati Miku. Keduanya bertanya kompak. "Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Kaito?" suara mereka terdengar skeptis. Penuh kecurigaan dan sarat antusiasme.
Miku menatap ngeri kedua temannya. "Te-teman satu kelompok. Se-sebenarnya, ada apa dengan kalian—Aria, Luka?"
Luka menempatkan ibu jari dan telunjuk di bawah dagunya. "Sepertinya kita tidak akan mendapatkan jawaban yang sesuai harapan dari Miku. Ia terlalu bodoh untuk memahami status dan hubungannya bersama pria."
"Kau benar!" imbuh IA, dengan wajah tak kalah serius dari Luka—tangan kanan memegang dahinya dengan sedikit meremasnya di sana. "Kita harus menanyakan hal ini pada Kaito juga. Mungkin mereka memang memiliki hubungan-"
"Oi," seseorang menginterupsi ocehan IA. Dan orang itu adalah Yuuma. IA jelas tak memprotes tindakan ini untuk beberapa saat karena tubuhnya terlalu sibuk beradaptasi dengan keberadaan Yuuma yang terlalu tiba-tiba. Hingga…
"Kau! Apa-apaan sih, menyela orang lain yang sedang bicara penting?!"
Yuuma memutar kedua bola matanya dan melirik Luka. Tak peduli sedikit pun pada IA. "Aku hanya ingin menyuruh kalian segera masuk ke dalam kelas. Itu saja."
"Oh," gumam Luka. "Baiklah. Ayo, Miku, Aria."
IA adalah yang pertama mengiringi Luka masuk ke dalam kelas. Namun ia berhenti sebentar tepat di depan Yuuma. Tatapannya tajam pada sosok pemuda bersurai pink setengkuk itu.
"Kenapa?" tanya Yuuma, tidak senang.
IA menggeram lirih. "BAKA!" Oke, itu tidak lirih sama sekali.
Selanjutnya, IA berlari berlari masuk ke dalam kelas sehingga tinggal Miku dan Yuuma saja yang ada di luar kelas.
"Apa-apaan sih sifatnya itu?" gumam Yuuma dongkol. Miku tertawa kecil, "Maafkan Aria, ya? Dia memang suka begitu kalau sedang malu."
Sumpah demi Kuroko Tetsuya yang hawa keberadaan selalu tidak terasa! IA bisa saja merajammu karena mengatakan hal setabu itu (menurut IA, itu memang tabu) pada Yuuma, Miku!
"Malu?" Yuuma membeo dengan nada tidak mengerti. Seolah kata "malu" ada nama penyakit yang baru ditemukan oleh peneliti dari ITB dan IPB.
"Yup!" Miku membenarkan. "Ah! Ayo kita masuk ke kelas, Yuuma."
.
.
"Yang mau kutemui bukan Mikuo. Tapi kamu, Shion Ka~i~to?"
Suara berat Leon yang bicara dengan nada manja dan diayun-ayun membuat Kaito ingin muntah. Dan kalimat yang diucap sepersis mungkin dengan ucapan yang disebar gosip membuat Kaito jadi ingin menonjok pemuda berdarah campuran itu.
"Hentikan ocehanmu, Leon!"
"Haha! Aku tak menyangka ketampananmu bahkan bisa membuat seorang gadis lupa pada pacar yang berdiri tepat di depan matanya. Kau pakai susuk jenis apa, sih?"
Kaito menggeram. Oh, ayolah! Ini bukan obrolan sesama pria di kantin. Obrolan mereka harusnya lebih seru. Entah itu olahraga, band rock, atau wanita yang kini menjadi sampul dari majalah sesembahan makhluk homo sapien berkromosom Y; Playboy.
"Bisa kita hentikan girls talk ini?" ucap Kaito, setengah menyindir, entah itu pada Leon atau pada Len yang memulai obrolan. Ted yang duduk tepat di samping Kaito menepuk pelan pundak pemuda itu. Mencoba menyalurkan kesabaran.
"Sudahlah, teman-teman. Sebaiknya kita memang menghentikan obrolan ini," ucapnya bijak. Disambung pula oleh Gumiya, "Ted benar. Lagipula, aku yakin Miku pasti tidak memiliki motif tersembunyi saat mengatakannya."
Len menggebrak meja kantin tempat mereka berkumpul. "Memang dari mana kau tahu?" Ia melipat kedua tangan di bawah dada dan mengangkat dagu. Memandang angkuh Gumiya dan Ted yang membela objek bully-an hari ini. "Kita 'kan tidak tahu isi hati perempuan, termasuk Miku. Iya, 'kan?" Len menyenggol bahu Lui.
"Yah," Lui mengangkat kedua tangannya ke udara. "Kali ini aku setuju dengan Len."
Baru saja Len hendak tertawa karena mendapat sekutu, sebuah suara berat menginterupsi obrolan ringan mereka. Membuat keenam pemuda yang duduk melingkar di meja kantin itu kaget.
"Apa yang kalian bicarakan? Kelihatannya seru sekali."
Len yang bangkunya menghadap langsung pada sang penginterusi menyebut nama pemilik suara berat itu dengan wajah horor. "Mi-Mikuo-senpai?!"
Mikuo tersenyum ramah. "Ya, ini aku. Bersama Rinto," Mikuo menunjuk pemuda bersurai pirang di sebelahnya. "Boleh aku bergabung?" pintanya kemudian. Yang tanpa menunggu jawaban langsung duduk begitu saja di sebelah Kaito, sedang Rinto duduk di sebelah Mikuo.
"Oi, Len!" Leon menarik kerah seragam Len dan membalikkan tubuh kecil Len ke belakang. "Apa tidak apa-apa nih? Mikuo-senpai duduk sebelahan dengan Kaito."
Len menggaruk kepala, bingung. "Entahlah."
Ted tiba-tiba ikut nimbrung. "Apa perlu kita pisahkan Kaito dan Mikuo-senpai, nih?"
Ternyata bukan hanya Ted yang ikut-ikutan. Gumiya pun turut serta dan muncul dari bawah dengan membawa pertanyaan, "Aura kantin tiba-tiba jadi berat. Kita harus bagaimana?"
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Mikuo kepada Len, Leon, Ted, dan Gumiya yang benar-benar mencurigakan—dan juga tidak sopan. Masa' Mikuo datang mereka langsung memisahkan diri dan bicara dalam volume rendah begitu?
"Kurasa kita tidak perlu melakukan apapun selama Mikuo-senpai tidak membicarakan Miku," putus Ted. Mengakhiri forum dadakan yang awalnya hanya diciptakan oleh Leon dan Len.
"Aku benar-benar penasaran dengan apa yang kalian bicarakan tadi," Rinto berceloteh setelah Leon, Len, Ted, dan Gumiya duduk kembali di bangku masing-masing.
"Hehe, itu obrolan sesama pria. Jadi senpai tidak boleh mendengarnya!" ujar Gumiya. Bermaksud menyindir wajah cantik Rinto, Len dan Lui malah kena getahnya.
"Bukannya kedua temanmu itu lebih shouta dari aku?"
Mampus! Meledaklah pertempuran di atas meja makan kantin antara Len, Lui, dan Rinto. Ucapkan terima kasih pada Gumiya.
Mikuo terkekeh di bangkunya melihat tontonan menarik di depan mata. Pertempuran sesama shouta, lucu pikirnya. Ia lalu menyenggol pundak Kaito secara sengaja. Padahal pemuda itu sedang saling pandang mesra dengan es krim pesanannya.
"Mereka akrab sekali, ya?"
Tidak penting!
Kaito mengangkat bahu. "Hm," jawabnya datar. Percakapan keduanya berjeda selama beberapa detik. Lalu….
"Nee, Kaito, bagaimana keadaan Miku? Apa tugas kalian mengalami perkembangan yang cukup berarti?"
Akhirnya pertanyaan yang menyinggung nama Miku keluar. Ted dan Gumiya langsung bersiaga. Dalam kepala, mereka sudah mempersiapkan berbagai alasan untuk membawa Kaito menjauh dari kantin. Mulai dari yang paling normal hingga yang paling absurd. Namun kekhawatiran mereka itu sia-sia. Karena Kaito tidak memicu jawaban yang akan membuat mereka baku hantam.
"Miku belum memulai tugasnya sama sekali. Ia lebih bodoh daripada dugaanku."
"Hahaha! Benarkah? Kuharap kau bisa mendongkrak nilainya."
Ted memasang wajah heran. Ia menatap Mikuo tepat ke matanya. "Apa Senpai tidak keberatan Kaito dan Miku… etto…"
"Mengerjakan tugas?"
"Bukan! Tapi itu juga termasuk," Ted bimbang memilih kosakata. "Pokoknya, apa Senpai tidak keberatan Miku dekat-dekat dengan Kaito?"
Mikuo tersenyum lembut. "Mungkin keberatan sih. Kau tahu, aku sedikit cemburu pada Kaito." Kaito mendengus di sini. "Tapi tidak apa-apa. Toh tujuannya untuk tugas sekolah, 'kan."
"Tentang gosip itu juga, Senpai." ujar Gumiya cepat. "Apa Senpai tidak terganggu?"
Tangan Mikuo bergerak untuk menopang dagu di atas meja kantin. Tangan lainnya bergerak untuk meraih sedotan agar ia bisa menyedot es limun pesanannya. "Kurasa tidak. Alasannya sama dengan yang tadi. Kalau demi nilai, sebagai pacarnya aku malah berniat untuk mendukung Miku!"
Mikuo melirikkan matanya pada Kaito. Ada isyarat tidak suka di sana. "Lagipula, kurasa—kuharap—Kaito tidak memiliki perasaan semacam itu pada Miku."
.
.
Sementara itu, di tempat lain.
"Oi, Hatsune-san!"
Miku mengangkat wajahnya dan menemukan tiga wajah wanita cantik dari kelas sebelah. Miku mengenal ketiganya dari fokotopi buku kesiswaan yang dimiliki Mikuo sewaktu menjadi ketua OSIS. Wanita-wanita manis itu bernama Lapis, Sonika, dan Miki.
"Ya? Ada apa?"
Sonika mencondongkan tubuhnya. "Bukankah kau sudah mendapatkan Mikuo? Kenapa kau mendekati Kaito-kun juga?"
"Eh?"
"Jangan malah 'eh'!" bentak Lapis. "Kau ini sadar diri dong!"
Miku ingin mengatakan eh sekali lagi. Tapi teringat perintah Lapis yang baru juga terucap beberapa detik yang lalu, Miku buru-buru menutup mulutnya.
"Kami peringatkan, Hatsune Miku!" si manis Miki menunjuk hidung Miku dengan telunjuknya. "Berhentilah sok cari perhatian pada Kaito-kun! Karenamu, Kaito-kun jadi kesulitan menghadapi gosip-gosip tidak jelas yang mengatakan kalau Kaito-kun menikung Mikuo-senpai!"
"Iya! Padahal itu sangat tidak mungkin!" sambung Lapis.
Suara bel masuk kemudian terdengar. Sonika, Lapis, dan Miki berdecih bersamaan.
"Hanya itu yang ingin kami bicarakan padamu!" ucap Sonika sambil memandang angkuh pada Miku. "Kami peringatkan sekali lagi, jangan dekat-dekat dengan Kaito-kun! Paham? Yang kaulakukan hanya membuat Kaito-kun berada dalam kesulitan saja, dasar Jalang!"
Miku yang polos dan setengah tak menangkap ucapan ketiga fans Kaito itu tak menjawab. Perilakunya membuat Lapis jadi semakin geram. Namun suara-suara penghuni kelas XI-B yang terdengar membuat ketiganya menjadi gentar. Terlebih ketika suara Kaito juga tertangkap oleh indera pendengaran mereka. Alhasil, mereka memutuskan untuk keluar dari kelas tersebut setelah sebelumnya berhasil melirik dan menangkap sosok Kaito dari dekat.
"Huwaaa! Kaito-kun tampan sekali, ya?" suara Sonika yang belum terlalu jauh terdengar.
"Kau benar! Aku beruntung berjalan di sisi kiri, jadi bisa melihatnya dengan lebih dekat dibanding kalian!" kali ini suara Miki.
"Yah! Lain kali aku jalan di sebelah kiri juga kalau begitu." Nah, yang ini Lapis.
Gakupo yang dipertengahan jalan bertemu dengan rombongan Kaito, Len, Ted, Gumiya, dan Leon menepuk bahu Kaito. "Fansmu aneh banget sih?" Bibirnya menyunggingkan senyum meledek.
Kaito mendengus. "Daripada kau yang tidak punya fans."
Gakupo bermuram durja di balik pintu kelas. Niatnya meledek Kaito berubah menjadi senjata makan tuan.
Kembali ke Miku yang kini tengah terpengkur di kursinya. Gadis yang selama satu hari ini menjadi buah bibir seluruh siswa di sekolah sedang mencerna ulang ucapan ketiga siswa yang tadi melabraknya.
"Kata mereka, Kaito jadi kesulitan karena aku. Benarkah?" Miku menggigit bibirnya. "Tapi aku 'kan hanya ingin mengajaknya membahas tugas Kiyoteru-sensei yang sampai hari ini belum juga kami kerjakan." Miku mengacak rambutnya.
"Tapi setelah dipikir-pikir, aku memang jadi penghambat saja. Seandainya aku pintar dan bisa mempresentasikan tugas kami waktu itu, mungkin Kiyoteru-sensei tidak akan memberi tugas tambahan dan nilai Kaito jadi sempurna. Arrrgghh! Ya sudahlah. Lebih baik aku jauhi Kaito saja dulu. Nanti di hari -1 baru aku menanyakan tugasnya lagi."
Tepat bersamaan dengan peresmian keputusan akhir tersebut, Nekomura Iroha-sensei, guru Bahasa Inggris mereka masuk ke dalam kelas.
"Hoi, hoi! Kembali ke tempat duduk kalian! Pelajaran akan segera dimulai," ucapnya memerintah.
Para siswa langsung duduk ke bangku masing-masing. Termasuk Kaito. Namun saat melewati bangku Miku, pemuda itu membungkuk sedikit dan berbisik lirih.
"Pulang sekolah ini, jangan kemana-mana. Aku ingin mengajakmu mengerjakan tugas Kiyoteru-sensei."
Nah! Di saat Miku sudah memutuskan untuk menjauhi Kaito dan menanyakan kembali tugas tersebut di hari terakhir deadline, pemuda yang diduga mengidap es krim complex oleh teman-temannya itu malah mengajaknya.
Bagaimana ini?
.
.
"GAKUPO KAMPREEETTTT!"
Teriakan nyaring dan kasar dari suara manis Luka membuat Gakupo mati-matian menahan tawanya. Tiga menit yang lalu, gadis berambut soft pink itu menangkapnya dan menyeretnya hingga ke ruang kelas. Judulnya masih sama: menyelesaikan tugas Kiyoteru-sensei.
Namun bila menurut begitu saja bukan Kamui Gakupo namanya. Kamui Gakupo ingin berkelompok dengan wanita 'kan supaya dia bisa bebas tidak mengerjakan tugas? Kalau Gakupo sampai berkelompok dengan laki-laki—apalagi yang sama-sama malas sepertinya—maka mau tidak mau, Gakupo harus mengerjakan tugas. Lha, sekarang 'kan dia sedang berkelompok dengan Luka—seorang wanita?
Pokoknya, Gakupo memutar otaknya demi dapat kabur dari cengkraman bidadari bertabiat iblis seperti Luka. Dan dengan ucapan, "Aku mau pipis. Biarkan aku pergi ke toilet atau aku pipis di pojok kelas?" maka terciptalah kesempatan kabur untuk Gakupo. Kejar-kejaran memang tidak terhindarkan lagi. Namun dengan bersembunyi di belakang tangga, Gakupo berhasil lepas dari jeratan Luka.
"Arrrghhh! Brengsek!"
Gakupo terkikik lagi saat mendengar geraman kesal Luka sebelum gadis itu berjalan menjauh. Yah, Luka sudah pergi dan Gakupo telah bebas. Jadi pemuda itu memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya dan memandang punggung Luka yang tertutup helaian rambut pink yang bergerak riap-riap tertiup angin.
Saat memandangnya, raut wajah bahagia Gakupo luntur berganti dengan wajah tanpa ekspresi. Selalu saja begini, Gakupo membantin kesal. Ya, memang selalu begitu. Setiap kali ia dikejar-kejar oleh Luka, ia selalu merasa riang. Setiap kali mendengar Luka menggeram kesal saat Gakupo berhasil kabur, ia masih merasa riang. Namun setiap kali Luka menyerah mencarinya dan pergi begitu saja, Gakupo merasa hampa.
"Yo, Gackt!"
Gakupo menolehkan kepala pada pemuda pirang berkuncir satu tinggi yang tadi memanggil nama panggilannya di dunia persila-dunia kriminalitas remaja.
"Ada apa?" Gakupo tak tahu nama pemuda di hadapannya. Ia hanya tahu pemuda itu merupakan berandalan di sekolahnya. Begitu juga dengan dua pemuda lain yang mengikut di belakang pemuda itu.
"Kemarin aku ketahuan merokok di toilet. Bisa tolong ancam anggota OSIS yang rambutnya hitam klimis itu supaya tidak mengadukanku ke guru BK, tidak?"
Gakupo berdecak. "Tentu saja! Lain kali kalau mau merokok jangan di depan anggota OSIS dong. Merepotkan saja."
"Oi, Gakupo. Aku juga mau minta tolong, dong." Pemuda yang bersurai pink berpotongan Mohawk bicara. "Aku ketahuan nonton video porno di toilet. Kejadiannya baru tadi pas istirahat dan sekarang ponselku disita. Aku malas bernegosiasi dengan ketua kedisiplinan. Kau bisa mengurusnya, 'kan?"
Gakupo menggeleng. Dipukulnya bahu pria Mohawk itu. "Kalian itu tidak berguna sekali sih!"
Pemuda satu lagi, bertubuh pendek dan sedang menghisap cerutu di sela-sela bibir. "Eh, cewek berambut pink itu mencarimu, ya?"
"Iya!" Gakupo melipat kedua tangan di bawah dada. "Kenapa?"
Si tubuh pendek menggeleng. "Tidak. Hanya bertanya," jawabnya kalem. Mohawk pink-lah yang justru nyolot. "Boleh kuganggu tidak? Sepertinya seru untuk dijadikan-."
"Tidak boleh!"
Jawaban tegas dari Gakupo memancing rasa heran dari tiga berandalan di hadapannya. Yang berkuncir satu tinggi bersiap membuka mulut ingin bertanya, namun Gakupo menyelanya dengan kalimat yang lebih tegas lagi.
"Kalau kalian berani mengganggunya, akan kupatahkan leher kalian!"
Tapi memang dasar kriminal. Yang dilakukan pastilah melanggar.
"Sepertinya seru kalau kita membuat Gackt marah."
.
.
Kaito berdecak sebal melihat Miku yang terlalu lama mencari sepatunya. Padahal baru saja ia berniat mengerjakan tugas bersama gadis Hatsune tersebut. Namun belum juga memulai (ia baru mengajak) musibah sudah menimpa mereka. Entahlah. Tapi sejak bersama Miku, yang Kaito rasakan hanya apes.
"Kaito, aku tidak bisa menemukan sepatuku."
"Ck! Aku bantu kau mencarinya."
Miku memberengut. Harusnya dari tadi Kaito mengatakan itu.
Sembari mencari, Kaito berpikir mengenai tugas yang akan mereka buat. "Sebuah penelitian yang berhubungan dengan materi presentasi mereka minggu lalu. Dengan kata lain penelitian yang ada hubungannya dengan sistem saraf. Apa di dalam kotak sampah sepatu Miku bisa ditemukan, ya?"
Arrghhh! Kaito mengacak rambutnya. Ia tidak bisa konsentrasi bila berpikir sambil mengerjakan sesuatu yang absurd seperti mencari sepatu Miku. Memang Kaito pernah memperhatikan sepatu Miku? Bagaimana ia bisa menemukannya bila ia bahkan tidak tahu apakah sepatunya bertali atau tidak? Apakah berwarna hitam polos atau ada list berwarna hijau sewarna rambutnya?
"Ah, sepatunya ketemu!"
Kaito melirik tajam ke arah Miku. Tatapannya nyalang kala memandang sepasang sepatu yang diangkat tinggi-tinggi oleh Miku di tangan kanannya. Dasar sepatu brengsek! Jadi memang harus membuat Kaito repot-repot ikut mencari baru bisa ketemu, ya? Kalimat Miku barusan akan segera ia masukkan ke dalam daftar kalimat yang paling dibencinya mulai sekarang.
"Cepat pakai! Kita harus segera-"
"MIKUUU!"
Kaito menatap tajam ke ujung koridor dengan cepat. Apa lagi sekarang?!
"Ada apa, Aria?"
Gadis yang namanya biasa hanya ditulis IA itu memegang pundak Miku sebagai penopang tubuh. Dari pernapasannya yang cepat dan pendek, Kaito bisa menduga gadis itu baru saja lari marathon—atau semacam itulah.
"Luka…"
"Kenapa Luka?"
"Luka…"
"Iya, Aria. Luka kenapa?"
Kaito menggeram kembali. Percapakan kedua gadis di hadapannya tidak akan berakhir bila yang mereka katakan hanya segitu saja. Ia tidak percaya gadis manis rupanya sangat menyebalkan.
"Megurine-san pingsan?" Kaito menerka. Siapa tahu benar. Miku menahan napas karena kaget mendengar ucapan Kaito. Sementara IA menggeleng.
"Jangan mendoakan Luka yang jelek-jelek dong, Kaito!" protes Miku.
"Aku hanya berusaha membantu dia bicara saja." balas Kaito, tak mau disalahkan.
"Aduh, Miku, Kaito! Daripada bertengkar lebih baik kalian dengarkan aku!" IA yang dapat bicara dengan lancar berusaha menengahi.
"Lalu, ada apa dengan Luka?"
"Aku dan Luka rencananya mau pulang bersama. Tapi dia mau mencari Gakupo sebentar untuk menyuruh si ungu itu mengerjakan tugasnya. Padahal ini sudah lewat setengah jam, tapi Luka masih belum kembali."
"Ha? Kau serius?!" Miku berteriak tak percaya.
"Apa wajahku terlihat bohong?!" sahut IA.
Miku menggeleng. Ia menggigit bibirnya. Bingung. Selanjutnya ia mengarahkan pandangan pada sosok pemuda yang membuatnya harus mendongak dulu karena perbedaan tinggi tubuh di antara mereka.
"Bagaimana ini, Kaito?"
Sejujurnya, Kaito sangat ingin mengatakan, "Ini tidak ada hubungannya dengan kita. Jadi mari pergi ke perpustakaan dan menyelesaikan tugas kita." Sayang sekali, Kaito tidak tega. Di rumah, Kaito memiliki seorang adik perempuan. Seandainya adik Kaito adalah Luka, dapat dipastikan Kaito pun akan uring-uringan bila Luka menghilang secara tiba-tiba ketika sedang mencari Gakupo—Gackt bila sudah jam pulang sekolah.
"Kita cari Megurine-san sekarang," ucap Kaito. "Ia-san, sebaiknya kau pulang saja, biar aku dan Hatsune-san saja yang mencarinya."
IA terbeliak. Kenapa dia disuruh pulang? "Kenapa?"
Kaito berdecak. "Kau hanya akan merepotkanku," katanya. "Luka mencari Gakupo, 'kan?" IA mengangguk. "Sepulang sekolah, Gakupo mungkin berandalan, namun ia tidak pernah berbuat jahat. Ia hanya melindungi orang-orang jahat, entah untuk apa."
Miku membulatkan bibirnya. Ia baru tahu. Berarti Gakupo baik dong? Eh?
"Kemungkinannya, Luka diganggu oleh teman Gakupo yang aku yakin tidak akan berani menyerang bila hanya sendiri," Kaito melanjutkan. "Jadi sebaiknya kau pulang saja, Ia-san. Aku bisa kesulitan kalau harus melindungi dua—tidak, tiga wanita sekaligus."
IA awalnya merengut. Namun ia sadar ucapan Kaito ada benarnya. Jadi ia menganggukkan kepalanya dan berkata, "Kumohon, jangan buat aku kecewa telah percaya padamu."
Kaito tersenyum miring. "Kau bisa memegang kata-kataku."
.
.
.
A/N:
Kyaaaaaa~~~! Kuroko no Basuke season 3 udah bisa didownload #salah fokus#
Oke, abaikan tulisan tadi. Lirik lagu yang Miku nyanyikan itu kira-kira artinya gini: "Aku tidak butuh nama jika kau tidak kunjung memanggil namaku. Aku tidak butuh nama jika kau tidak menjawab pertanyaanku." Saya tidak bisa menerjemahkan bahasa asing secara terstruktur. Jadi yah…, begitulah! #ditampar#
Pada chapter kali ini, ada begitu banyak pesan moral yang dapat readers ambil. Semoga tidak salah ambil, ya? #kedip sebelah mata#
Untuk Reo Toa Hikari dan Hikaru-san, terima kasih untuk reviewnya. Maaf saya jarang ngedit ulang. Saya siap harakiri! (Miku: JANGAN! Tamatin dulu ficnya). Karena takut kena wb, jadi saya lebih milih update cepat #hubungannya apa?#
Kemudian untuk CatPhones-san, terima kasih untuk reviewnya. Aduh, saya jadi malu dipuji terus #yang dipuji ficnya!# Jangan bosan membaca fic ini, ya?
.
Sampai jumpa di Bagian Lima yang akan memuat pairing lain : Another Love
