"Cantiknya~~ Jadi namamu Luka, ya?"

Luka berjengit memandangi tiga orang siswa di hadapannya. Salah satunya tengah memegang dan membelai, bahkan mengendus rambut panjangnya. Luka tidak mengerti. Seingatnya beberapa menit yang lalu, ia tengah mencari Gakupo yang lagi-lagi kabur. Dan selanjutnya, ia disapa tiga murid—yang jelas-jelas—berandalan sekolah.

"Aku ingat sekarang. Kau ini sang primadona sekolah itu, 'kan?"

Seorang bocah yang tengah merokok bicara sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Luka. Hidung Luka mengernyit. Ia tidak suka bau mulut bocah ini. Astaga! Tinggi bocah ini saja masih kurang 10 sentimeter untuk sama dengan Luka. Dan dia sudah berani merokok?

Luka lebih menghormati Miku yang jadi penggemar negi daripada bocah songong di hadapannya ini. Setidaknya, negi mempunyai manfaat potisif tersendiri untuk tubuh. Lha, rokok? Positif gagal jantung, positif mandul, positif gangguan kehamilan, begitu?

"Asyik! Kita dapat mainan bagus."

Pemuda ini yang paling Luka benci. Si Mohawk pink. Kenapa? Karena pria ini membuat kesan warna pink yang feminim dan romantis jadi tercemar!

"Aku merasa tidak mengenal kalian. Jadi bisakah kalian pergi?" Luka menggertak. Tangannya menepis tangan kurus si lelaki kuncir satu tinggi. Suaranya dibuat sedatar mungkin. Ia tahu, percuma menangis di depan berandalan. Yang ada kau akan semakin diinjak-injak.

Meski Luka sudah berusaha meraih posisi dominan, tetap saja ia-lah yang ditindas. Bocah bernapas rokok itu sekali lagi mencondongkan tubuhnya mendekati Luka. Sedikit berjinjit agar matanya bisa bertatapan lurus dengan iris biru lembut Luka.

"Hei, aku ingin mencicipi tubuhmu."

oOo

BAGIAN LIMA

-Another Love-

oOo

Luka terbeliak mendengar penuturan tak bermoral dari bocah perokok di hadapannya. Detik itu juga, si pemuda kuncir satu dan si Mohawk mencengkram pergelangan tangan Luka dan membawanya terpojok di dinding. Luka meronta, namun sia-sia. Kelihatannya Luka terlalu meremehkan orang yang dalam hati ia sebut bocah. Daging setinggi 5 kaki itu pemimpinnya!

"Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Luka, panik.

Bocah brengsek di hadapan Luka tidak terpengaruh dengan suara tinggi Luka. Ia lebih mengeluhkan perbedaan tinggi yang membuatnya capai berjinjit. "Hei, rendahkan dia, dong!"

Tangan Luka ditarik ke bawah sementara kakinya dipaksa ditekuk. Kini ia duduk di bawah tanah. Mendongak untuk tetap melihat apa yang akan bocah ingusan di hadapannya lakukan. Dan alangkah terkejutnya Luka saat ia melihat bocah yang sudah membuang puntung rokoknya itu melangkah maju sambil memegangi bukaan resletingnya.

"Tidak! Berhenti di sana, Brengsek! Kubilang berhen-"

PLAK! Sebuah tamparan mampir di pipi Luka. Tersangka utamanya adalah si Mohawk pink.

Sakit. Luka merunduk menahan sakit di pipi kanannya. Matanya terpejam untuk menghentikan aliran air mata yang entah sejak kapan mengalir. Ia kini pasrah saja. Kondisi sekolah sudah sepi. Berteriak seperti orang kerasukan pun percuma saja, 'kan?

Namun bukannya mendengar suara 'sreeett' khas resleting yang dibuka, Luka justru mendengar suara 'duaakkk' yang kemudian disusul dengan suara 'bruukkk!' Heran bercampur bingung, Luka mengangkat kembali kepalanya. Iris aquamarine-nya melebar.

"Ga…kupo?"

Yak, pemirsa! Kamui Gakupo telah muncul diiringi backsound "Strong and Strike" ciptaan Toushiro Matsuda. Oke, itu efek yang terlalu berlebihan. Intinya, Kamui Gakupo telah datang dan memukul si bocah perokok hingga terpental dan menghantam taman kecil berisi bunga mawar biru hasil rekayasa genetika klub kimia yang berkolaborasi dengan klub berkebun dua minggu yang lalu.

"Luka!"

Suara cempreng yang Luka kenal betul merangkak memasuki sepasang gendang telinganya. Ia menoleh ke arah Miku yang berlari menuju ke arahnya seraya berteriak, "Astaga! Akhirnya kami menemukanmu!"

Mohawk pink yang tadinya memegang tangan kanan Luka menghalangi si gadis teal dan berusaha menangkapnya. Luka jelas tidak terima, namun si kuncir satu masih menahan tangan kirinya hingga tak banyak yang bisa Luka lakukan untuk menyelamatkan sahabat baiknya tersebut.

"Miku!"

Di saat itulah, Kaito muncul dalam pengelihatan Luka. Pemuda bersurai biru itu menarik tangan Miku dan membuat gadis itu tersembunyi di belakang tubuhnya. Pukul-pukulan pun terjadi. Namun Kaito cerdik. Syal yang senantiasa berada di lehernya, tak peduli akan isu global warming, dijadikannya senjata. Akhir kisah, si Mohawk pingsan kehabisan napas karena leher berukiran tato perpaduan naga dan monyetnya terlilit syal biru kesayangan Kaito.

Gakupo telah selesai menghajar si bocah pimpinan mereka sementara si Mohawk sudah ditangani Kaito. Kini tinggallah si kuning kuncir satu yang ketar-ketir ketakutan. Tangannya gemetaran dan cengkramannya melemah sehingga Luka dapat membebaskan diri dari si kuning pirang.

"Oi," Gakupo berseru dengan suara yang membuat si kuncir satu berjengit bak kucing disiram air.

"Y-y-y-y-ya?"

"Singkirkan teman-temanmu dan pergi dari sini."

Si kuncir satu mengangguk kaku. Ia melangkahkan kakinya dan tepat pada saat itu, hasil ekskresi dari organ ginjal mengotori celana abu-abunya. Miku menutup mata karena malu sementara Luka, seakan tidak pernah ada badai sebelumnya, tertawa keras sampai si kuncir satu berhasil lepas dari pandangannya.

"Hahaha! Kau lihat Miku? Dia ngompol! Dasar laki-laki tidak berguna!"

Miku menggelengkan kepalanya. "Aku tidak lihat! Aku tidak lihat!"

"Bohong! Kau lihat, 'kan?! Lihat, 'kan?!" todong Luka.

"Tidakkk!" Miku menjauh dari Luka dan berlari bersembunyi ke belakang Kaito. "Luka no ecchi!"

"Berhenti menggodanya, Megurine-san," pinta Kaito dengan pipi merona, membela Miku yang berada di pihak yang benar. Tidak tahan merasakan geli akibat pergerakan kepala Miku ke punggungnya. Namun karena Luka tidak mendengarkan, ia memilih untuk bersikap tidak peduli saja. Ia lalu melirik pada Gakupo yang tengah membersihkan debu yang menempel di seragamnya, bekas perkelahiannya. Sebuah pertanyaan melintas dalam benaknya dan tak sengaja terucap.

"Bukannya para berandalan tadi temanmu? Kenapa kau malah menolong Megurine-san dan malah memukuli mereka?"

Gakupo melirik sebentar pada Kaito, kemudian kembali pada aktivitasnya. "Mereka bukan temanku," sangkalnya. "Dan jawaban untuk pertanyaan keduamu itu hanya karena aku ingin saja."

Kaito menaikkan alisnya. "He?" Ia mendenguskan napas dengan keras. "Sulit dipercaya."

Gakupo berdecak. Matanya berputar jengkel. "Oke. Sebenarnya alasan tadi belum lengkap," akunya.

Miku yang merasa tertarik dengan topik pembicaraan kedua lelaki yang ada bersamanya memutuskan ikut serta dan bertanya. Kepalanya menyembul dari balik punggung Kaito. "Memang alasan lengkapnya apa?"

Gakupo mengalihkan pandangannya kepada Miku, lalu ke langit. Tangan kanannya menggaruk pipi dengan canggung. "Itu…"

"Itu… apa?" kejar Miku.

"Karena aku sepertinya suka pada Luka."

Jawaban malu-malu Gakupo disambut wajah melongo dari Miku dan Kaito. Luka sendiri terperangah.

"HA?!"

Miku menunjuk Gakupo dan Luka secara bergantian dan berkali-kali. "Jadi… Gakupo… menyukai Luka?"

Gakupo cengengesan. "Iya. Aku menyukai Luka-chan," ucapnya enteng. Tidak menyadari bahwa Luka bisa meledak kapan saja dengan wajah super merahnya. "Karena itu aku tidak suka mereka melakukan hal-hal yang buruk pada Luka!" Gakupo bicara penuh amarah dan berapi-api. Pemuda bersurai ungu panjang itu menggerakkan kedua tangannya meremas udara. "Habisnya aku sendiri belum pernah melakukannya pada Luka."

PLAK!

Sebuah tamparan mampir di pipi kanan Gakupo. Luka beringsut menjauh. "Kau tidak ada bedanya dengan mereka! Menjauh dariku, Dasar Mesum!"

Namun jiwa Gakupo tetaplah jiwa pelanggar. Meski pipi kanan sudah memerah, ia masih memasang wajah tersenyum dan kembali mencoba mendekati Luka.

Kaito dan Miku terperangah (lagi). Mereka kemudian berpandangan, bertukar gagasan melalui tatapan. Setelahnya, menghela napas.

"Terserahlah," gumam mereka bersamaan.

Jadi, beginilah Gakupo ketika disentuh oleh cinta. Dari seorang Hitokiri Battousai pembela kejahatan kini bermetamorfosis menjadi seorang pria mesum yang (kemungkinan) masokis.

..

oOo

..

Sore hari, sekitar pukul empat lewat, Hiyama Kiyoteru memasuki perpustakaan pusat untuk mengembalikan buku soal yang dipinjamnya. Setelah mengembalikan buku tersebut, ia berkeliling perpustakaan untuk mencari buku baru yang menarik minatnya.

Dalam pencariannya, Kiyoteru tanpa sengaja melihat dua anak didiknya sedang duduk berhadapan di meja di sudut perpustakaan. Mungkinkah anak didiknya itu berada di perpustakaan karena mengerjakan tugas darinya?

Oh, Kiyoteru jadi tersanjung. Senyum mengembang di bibir tipisnya. Padahal 'kan, tugas itu dikumpul dua minggu lagi tapi murid-muridnya sudah mulai mengerjakan dari jauh-jauh hari.

Selang beberapa detik kemudian, senyum manis Kiyoteru luntur. Berganti dengan raut wajah penuh gurat kebingungan saat lensa rangkapnya menangkap keanehan pada kedua anak didiknya tersebut.

Yang pertama, Shion Kaito. Murid nomor satunya itu tengah membaca buku dengan tenang. Oke! Itu tidak salah. Bagus, malah. Tapi jelas Kaito tidak mengerjakan tugasnya. Mana mungkin mengerjakan tugas biologi kalau yang dibaca saja majalah Home Diary—majalah arsitek dan interior? (sekedar pemberitahuan, majalan Home Diary bukan milik saya)

Yang kedua, Hatsune Miku. Setidaknya, buku yang dipegang Miku berjudul Biologi dalam Tubuh Manusia. Karena buku yang dipegang gadis itu terlalu lebar hingga menutupi wajah, Kiyoteru harus berpindah tempat menuju rak buku yang lebih dekat dengan sosok gadis bersurai teal itu. Dan saat ia dapat melihat dengan lebih jelas, urat amarah di pelipis Kiyoteru tercetak.

Kuso! Buku tebal berjudul Biologi-bla-bla-bla di tangan gadis itu hanya kamuflase. Nyatanya, Hatsune Miku tidak membaca sama sekali. Gadis itu malah tidur!

Kiyoteru menggeram di tempatnya. Aura gelap menguar dari balik punggungnya yang tegang. "Jadi kalau belum dekat dengan deadline, tugasku belum akan dikerjakan, ya?" gumamnya, mendadak lupa dengan tujuan utamanya memberikan para muridnya tugas berkelompok. Matanya memicing menatap Kaito dan Miku. "Baiklah. Kalau begitu akan kubuat kalian kelabakan."

..

oOo

..

Di sebuah café yang para pelayannya adalah para pelajar dan mahasiswa dalam balutan tuxedo lengkap alias butler café, tiga orang siswi yang menyebut diri mereka fans Kaito dengan lantang duduk berdekatan di meja bundar di pojok. Setelah seorang butler datang dan membawakan pesanan mereka plus sebuah senyuman ramah nan mematikan, yang berambut hijau kuncir satu tinggi memulai pembicaraan mereka.

"Meski aku, Lapis, dan Miki sudah mengancamnya, gadis Hatsune itu masih saja berusaha mendekati Kaito-kun." Garpu di tangan gadis bersurai hijau itu ditusukkan dengan cepat pada kue kecil bernias krim vanilla dan strawberry merah di atasnya. Ia memandang dua orang gadis yang bersurai kuning pendek dan sky blue panjang di hadapannya.

"Kali ini, masalah si gadis Hatsune akan aku serahkan pada kalian, Rin, Ring."

Seringai muncul di wajah kedua gadis yang disebut si hijau. "Kau bisa mengandalkan kami, Sonika-taichou."

..

oOo

..

Koridor sedang ramai di pagi hari. Kaito menguap tanpa menutup mulutnya. Piko yang berjalan bersamanya memberengut melihat tingkah Kaito.

"Kenapa kau menguap? Yang hobi ngantuk di kelas 'kan aku?" ucapnya tak terima. Memang penting, ya?

"Urusai! Kemarin aku lelah sekali."

Piko menggeleng prihatin. "Lama-lama aku khawatir denganmu."

"Kau tak perlu khawatir padaku. Lebih baik kau khawatirkan saja dirimu sendiri. Setidaknya, untuk sat ini."

"Ha?" Piko mendadak panik. "Kenapa?"

Telunjuk Kaito terangkat. "Karena aku yakin wanita yang sedang berlari ke arah sini dapat mempersuram hidupmu."

Piko mengikuti arah telunjuk Kaito. Di ujung koridor yang mereka tuju, sosok gadis bersurai pirang strawberry bernama Ritsu tengah berlari mendekati mereka. Lebih tepatnya, mendekati Piko.

"UTATANE PIIKKOOOO!" Suara emas Ritsu bergema di koridor. "KITA HARUS SEGERA MENGERJAKAN TUGAS KIYOTERU-SENSEI!" Hanya berselang satu kedipan mata, Kaito telah melihat teman berjalannya diseret seperti margasatwa langka yang hendak ditangkarkan oleh Ritsu.

Kaito berotak cerdas dan bernalar tinggi. Tentu tidak sulit baginya untuk mengingat bahwa Namine Ritsu, putri tunggal dari keluarga kaya raya yang menguasai perekonomian Jepang saat ini, adalah seorang siswi yang tak patut dicontoh. Hobinya adalah berdandan dan shopping. Tujuannya datang ke sekolah pun hanya ingin mencari murid laki-laki yang high speech sesuai seleranya. Isi tasnya lebih didominasi kosmetik daripada alat tulis. Intinya, mustahil Ritsu mau mengerjakan tugas sekolah secepat mungkin!

Kaito menduga, ada yang salah di sini. Sambil berpikir, rupanya Kaito telah sampai di depan pintu kelas. Tangannya terangkat memegang handle pintu namun tak berniat membukanya. Firasatnya tidak enak. Namun akhirnya, dengan tangan bergetar Kaito buka juga pintu kelas.

Suasana ramai menyapanya. Namun ramai ini karena setiap orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Contohnya SeeU yang sedang berkutat di depan laptop atau Al yang kini tengah membenturkan kepalanya ke dinding terdekat dengan wajah frustasi.

Dari sekian banyak anak manusia dalam kelas tersebut, hanya satu orang yang menyadari kehadiran Kaito. Dia si gadis bersurai teal panjang yang hari ini tampil dengan tatanan rambut baru. Twintail rendah.

"Ohayou, Kaito!" sapanya sambil berjalan mendekati Kaito.

"Hatsune-san, bisa kaujelaskan, ada apa ini?" Kaito menanyakan keadaan kelas yang rancu hari ini.

"Panggil aku Miku, Kaito!" Miku malah membuat ubun-ubun Kaito panas. Didesak rasa penasaran, Kaito hanya mampu mengerang sebelum berkata, "Baiklah, Miku!"

Miku tersenyum lebar. "Ada apa~, Kaito-kun~~?"

Inilah yang membuat gosip jadi berkembangbiak! Caramu yang memanggil Kaito dengan manja inilah yang membuat berbagai masalah. Tahukah dirimu akan hal itu, Miku?

Miku pasti tidak tahu.

"Kenapa orang-orang di kelas jadi aneh begini?"

"Oh," Miku meletakkan telunjuk di bawah bibirnya. Mencoba mengingat dalam kepalanya. "Mungkin, itu karena Kiyoteru-sensei mempercepat deadline tugasnya jadi minggu ini."

Mata Kaito melebar. "Bisa kauulangi kalimatmu barusan?"

"Eh? Yang mana?" Miku balik bertanya. Tak mengerti sama sekali situasi yang terjadi.

"Arrghhh!" Kaito mengeram seraya mengacak rambutnya yang memang tidak ditata klimis. "Brengsek! Itu artinya waktu kita untuk mengerjakan tugasnya tinggal empat hari lagi, 'kan?!"

Miku menelengkan kepalanya. "Iya, ya?"

"Kenapa kau santai-santai saja?!" Kaito kesal terhadap sikap santai Miku.

"Lho? Memang aku harus bagaimana?"

Tahukah kalian? Terkadang, Kaito iri pada orang bodoh yang hidupnya jarang sekali mendapat tekanan.

"Kau ini mengerti tidak, sih? Kalau waktu mengumpulkan tugasnya dipercepat, itu artinya kita harus membuat tugasnya sesegera mungkin!"

"Ha?! Benarkah?! Bagaimana ini, Kaito? Kita belum mulai sama sekali!"

Kaito berdecak. Tabiat kecilnya yang bila sedang stres suka menggigit ujung kuku jari mengulang. Ia melakukannya di depan Miku yang tanpa sadar ikut-ikutan menggigit jari.

"Hatsune-san?"

"Miku!"

"Oke. Miku?"

"Ya, Kaito-kun?"

"Pulang sekolah nanti, kita kerjakan tugasnya!"

Miku mendongak sebelum mengangguk. Dalam manik turquoise-nya, ia dapat melihat wajah Kaito yang tegang. Darah Miku serasa mengalir lebih deras karena dorongan semangat yang berkobar dalam dirinya. Miku berjanji, kali ini ia tidak akan melakukan kesalahan lagi!

"Ha'i!"

..

oOo

..

Bel pulang sekolah berbunyi dan Miku adalah orang yang pertama kali selesai memasukkan alat tulis ke dalam tas. Cukup kemarin ia membuat Kaito menunggu lama karena Miku kerepotan memasukkan alat tulis dan kehilangan sepatu di loker sepatu.

"Ka~i~to!"

Sang pemuda bersurai biru mendongakkan kepala dan langsung bertemu pandang dengan Miku yang sudah berdiri. Gadis bersurai teal itu mengangkat tasnya dan berkata, "Aku sudah selesai membereskan alat tulisku."

Kaito mengangkat alis. Ia paham, senyum di wajah Miku seolah mengatakan bahwa gadis ini minta dipuji karena kegesitannya menyimpan peralatan tulis hari ini. Namun Kaito tak akan pernah memberikannya. Bisa repot!

"Kalau begitu ayo berangkat."

Baru juga mengatakan kalimat ajakan, seseorang memanggil nama Miku dengan keras. Melarang sang gadis untuk melangkahkan kaki lebih jauh dan menahannya. Rin dan Ring. Kepala Kaito berdenyut. Ia menatap dua gadis yang tadi memanggil Miku. Setelah IA, apa sekarang Rin dan Ring yang akan menjadi pemicu batalnya penyelesaian tugas kelompok mereka?

"Ada apa, Rin?" tanya Miku.

Ring maju beberapa langkah ke depan lalu menggapai tangan Miku. "Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan denganmu." Ring menoleh menatap Kaito. "Boleh aku pinjam dia sebentar, 'kan, Kaito-kun?"

Kaito menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Ayo beri selamat pada pemuda bersurai biru ini karena tebakannya benar. Dengan begini, ia harus menunggu Rin dan Ring selesai bicara pada Miku dulu baru bisa menyelesaikan tugas mereka.

"Baiklah. Tapi jangan lama-lama."

Rin mendekati mereka dan memegang tangan Miku yang satunya. "Kami janji tidak akan lama." Lalu menarik Miku keluar kelas. "Tidak akan lama, bila gadis ini tidak keras kepala," tambahnya dalam hati.

"Apa kita tidak berjalan terlalu jauh?"

Pertanyaan Miku rasanya bisa membuat Rin dan Ring tertawa terbahak-bahak saat ini juga. Oh ayolah. Yang akan mereka lakukan adalah pem-bully-an. Bagaimana mungkin melakukannya di tempat yang tidak cukup jauh dari keramaian?

"Di sini saja," ujar Ring sambil melepaskan cengkramannya pada tangan Miku dan membuka pintu sebuah gedung tua di balik tangga. Rin justru kebalikannya. Ia memperat cengkramannya dan membanting gadis itu hingga punggungnya menghantam dinding bagian dalam gudang. Mereka bertiga kini bukan lagi berada di koridor sekolah.

"Aduh!" ringis Miku. "Tadi itu sakit sekali, Rin," keluhnya. Belum sadar pada posisinya yang tidak cukup pantas untuk mengeluh.

"Hei, Miku!" Miku mendongak saat namanya dipanggil oleh Ring. "Apa kau sadar, kau itu sudah kelewatan dengan Kaito-kun."

Tanda tanya besar muncul di wajah Miku. "Ha?"

"Cih! Seperti kata Sonika-taichou, dia tidak bisa dibuat mengerti hanya dengan kata-kata."

"Kalau begitu apa boleh buat. Meskipun kita sekelas, aku tidak bisa membiarkan gadis yang sok dekat dengan Kaito-kun berbuat seenaknya lebih dari ini."

..

oOo

..

"Ck, lama sekali sih mereka."

Shion Kaito berdiri dari kursi yang telah didudukinya selama 30 menit ini dengan gusar. Ia merasa begitu bodoh sekarang. Kelas sudah kosong dan ia masih setia menunggu Miku selesai bicara dengan duo berisik versi wanita di kelasnya bersama beberapa tas yang ditinggal karena sang pemilik tengah melakukan kegiatan ekstrakulikuler.

"Memang apa yang dibicarakan wanita sampai selama itu sih?" geram Kaito, dongkol.

Ia putuskan untuk melakukan gerakan. Mengingat memori Miku yang lemah, Kaito khawatir jika ia menunggu lebih lama lagi nantinya Miku keburu lupa bahwa ada orang yang sedang menunggunya. Dan Kaito akan benar-benar mengutuk Miku bila itu terjadi. Jadi sebelum itu semua terjadi, sebaiknya Kaito menyusul mereka dan memberi sedikit peringatan agar mereka bicara lebih cepat.

Koridor kelas XI nyaris habis Kaito lewati, namun mata biru gelapnya tidak menemukan keberadaan tiga orang gadis yang membuatnya menunggu. Rasa janggal membuat dadanya bergemuruh cemas. Ada yang aneh. Ia menyakini hal itu.

Kejadian kemarin berputar kembali dalam hippocampus Kaito. Sepatu Miku menghilang. Dan gadis itu menemukannya di dalam kotak sampah kantin—cukup jauh dari kelas. Beruntung sepatu Miku tidak kotor karena isi pengumpul sampah tersebut hanya plastik dan botol minum yang sudah kosong. Ini penindasan. Entah mengapa, Kaito baru kepikiran. Miku sendiri mungkin terlalu bodoh untuk mengerti bahwa ia sedang menjadi target.

Lalu, kenapa Miku di-bully?

Karena gadis itu kini berpacaran dengan Mikuo? Oh, ayolah. Orang-orang bodoh itu terlalu lama menunggu untuk bergerak. Miku dan Mikuo, duo Hatsune tenar itu sudah berpacaran selama dua—atau mungkin tiga?—minggu. Apa orang yang menindas Miku adalah orang-orang kudet? Sulit dipercaya.

Tiba-tiba mata Kaito melebar. Sebuah gagasan melintas dalam kepalanya. Gagasan yang paling mungkin untuk memecahkan segala masalahnya saat ini. Namun Kaito menggelengkan kepala. Ia berharap ia salah. Karena bila ia benar, maka dua gadis yang sedang berada dengan Miku bisa menjadi musuh utamanya.

Miku ditindas karena terlalu dekat dengannya dan orang yang menindas Miku sedang berusaha menjauhkan Miku darinya sekarang.

..

oOo

..

"Apa yang mau kaulakukan, Rin?!" Miku memekik saat Rin mengarahkan cutter ke lehernya. Ujung yang tajam menyentuh nadinya yang berdenyut.

"Ini agar kau bisa mengingatnya lebih baik. Kudengar, bila suatu peristiwa membuatmu trauma maka alam bawah sadarmu bisa mengingatnya terus-menerus. Selama hidupmu."

"Aku tidak mengerti, Rin. Sebenarnya kenapa kau melakukan ini padaku?!"

Ring menjambak poni Miku hingga gadis itu memekik kembali. "Sederhana saja. Kami hanya ingin kau menjauhi Kaito-kun."

"Kenapa kau ingin aku menjauhi Kaito?" Miku melirih. Sakit membuatnya tak kuat untuk mengeluarkan suara lebih keras.

Rin menjauhkan cutter-nya dan mulai menceritakan alasannya. "Karena Kaito-kun hanya milik kami, Miku. Kaito-kun hanya milik kami, para fans yang juga menyayanginya. Kami tidak terima kalau kau yang bukan siapa-siapa dan bahkan tidak memiliki rasa pada Kaito-kun malah lebih dekat dengannya daripada kami."

Ring menarik poni Miku ke atas hingga pemiliknya mendongak dan meneteskan air mata. "Kau mengerti, 'kan?"

Miku terisak. "Aku mengerti." Jawabannya membuat Rin dan Ring tersenyum. Namun cukup lama karena Miku menyambung kalimatnya. "Tapi aku harus menyelesaikan tugas Kiyoteru-sensei bersamanya dulu."

Rin menggertakan giginya. Cutter-nya diangkat kembali. "Dia membuatku kesal saja! Minggir, Ring! Akan kubuat ia mengerti dengan-"

"Hentikan, kalian berdua!"

Suara berat yang menginterupsi membuat Rin dan Ring serasa tersentrum listrik. Jantung mereka berpacu. Dengan gerakan patah-patah seperti robot, mereka menoleh ke sisi kanan mereka dan menemukan Kaito berdiri di sana dengan wajah merah marah.

"Kaito-kun…" Rin mencicit. Sementara Ring buru-buru melepaskan jambakannya di rambut Miku. Membuat gadis itu merosot ke tanah begitu saja.

Kaito berjalan maju dan merebut cutter di tangan Rin. "Kau pakai untuk apa benda ini?"

Rin membuka mulut lalu menutupnya kembali. Kebingungan untuk bicara meski kata-kata sudah diujung lidah. Ia ketakutan di bawah tatapan blue ocean yang kini berkilat marah.

"Aku…"

"Kau menggunakannya untuk mengancam Miku?"

Rin menelan ludah. Ia mengangguk dengan susah payah.

"Mengancam apa?"

Atmosfir terasa berat di sekeliling Rin.

"Ceh!" Kaito tersenyum miring. Ia mendekati Miku dan membantu gadis itu berdiri. "Perlu kalian ketahui, bukan Miku yang mendekatiku. Tapi aku yang mendekatinya." Ucapannya tentu saja bohong. Memang siapa yang mengejar-ngejar hanya karena ingin mengerjakan tugas kelompok bersama? Miku 'kan? Tapi Kaito tak peduli. Cukup ia yang menyimpan kebenarannya.

"Tidak mungkin," lirih Ring. "Itu bohong, 'kan?"

Kaito menggeleng. "Kalian melakukan perbuatan yang sia-sia." Tatapan tajam Kaito layangkan pada Rin. "Dan kau, Himekaga Rin. Tak kusangka kau berbuat serendah ini."

Tepat setelah itu, Rin terisak dan berlari keluar dari gudang. Ring memanggilnya, namun diabaikan. Rin tetap berlari. Tujuannya tak menentu. Hanya alam bawah sadarnyalah yang membawanya kembali ke kelas. Tepat saat ia membuka pintu, ia terjenggal oleh kakinya sendiri dan menghantam lantai.

Err… mungkin bukan lantai.

"Adu-du-duh! Kalau jalan ponimu dibando saja dong! Biar jelas melihat ke depan!" kata Len yang jadi alas jatuh Rin, ketus. Tertatih ia berusaha untuk duduk. Namun ia nyaris kembali membentur keramik saat Rin dengan semena-mena menubrukkan kepalanya di dada Len.

"Hiks! Huwaaa!" Rin terisak. Cukup keras untuk didengar Len.

"Oi, kau kenapa?" Walau terdengar masih ketus, cemas terdeteksi ada dalam suara pemuda berwajah cantik itu.

Rin menggeleng berkali-kali. Kemudian memukul-mukul dada Len hingga pemuda itu terbatuk dan berniat mendorong gadis itu jauh-jauh darinya.

"Kaito no baka! Baka! Baka!" pekik Rin, meluapkan kekesalan.

Oh, Len mengerti sekarang. Setiap kali mengerjakan tugas kelompok (tentunya karena Len dipaksa ikut) Rin selalu mengatakan Kaito inilah Kaito itulah, yang kadang membuat Len jengah dan memilih untuk tidur saja (dan kemudian mendapat lemparan roller coster mini yang katanya merupakan mainan favorit gadis pecinta jeruk itu di kepala). Jadi…

Apakah Rin akhirnya menembak Kaito lalu ditolak?

Len geleng-geleng kepala. Daripada kasihan dengan Rin, ia justru lebih merasa maklum pada tindakan Kaito. Tentu saja Kaito tidak akan betah menghadapi wanita cerewet semacam Rin. Len saya belum tentu sanggup.

Pilihan bagus, Kaito! Besok Len harus memberinya selamat.

Sedikit tersentuh rasa iba (dan sisanya karena ingin segera pulang ke rumah) Len mengangkat tangan dan menepuk-nepuk puncak kepala Rin, mencoba menghibur dengan cara yang paling mudah dan sederhana. Namun hal sederhana seperti menepuk kepala telah berhasil membuat gadis yang ditepuk merasakan hal lain selain sedih.

"Sshhh. Sudah. Jangan menangis lagi."

Rin mendongakkan kepala. Saat itulah tatapan mata keduanya bertemu, membuat Len jadi kaku sesaat.

Perasaan hangat menyelimuti Rin. Ia memejamkan mata. "Tepuk kepalaku lagi," pintanya dengan wajah merona menahan malu. Mengubur diri lebih dekat di dada sang pemuda.

"Ha?!"


.

.

Chapter kali ini memang lebih banyak memuat slight pairingnya (GakupoxLuka, dan LenxRin). Apakah mereka cukup romantis? Saya sih, merasa kisah mereka cenderung konyol daripada romantis. #meratapi kembali tulisan#

Untuk Reo Toa Hikari dan Hikaru-san : Review panjang juga nggak apa kok. Saya suka yang panjang-panjang(?). Oke, terima kasih untuk review dan semangatnya.

Untuk Mikai-san : Terima kasih reviewnya. Phew. Syukurlah kalau chap kemarin sudah bisa bikin gregetan #lap keringat#.

Untuk Guest-san : Sekarang saya yang deg-degan baca reviewmu. Mohon maaf kalau alurnya lambat. Terima kasih review, cinta(?), dan pujiannya.

Sekadar memberitahu, dalam fic ini, sejak chapter satu sampai chapter ini, gaya rambut Rin itu diurai bebas tanpa aksesoris apa pun. Begitu pula Ring. Biar kesannya mereka garang gitu. Setelah ini, Rin dan Ring akan didiskors. (Jangan ada yang protes#ambil pisau)

Nah, sampai jumpa di BAGIAN ENAM : Research and Hatsune Miku