Bila ada kontes pemilihan manusia paling tidak tahu berterima kasih, maka Leon akan menunjuk Honne Dell sebagai nominasi utama. Bila ada kontes pemilihan manusia paling tidak berperasaan, maka Leon masih akan menunjuk Honne Dell sebagai nominasi utama. Dan bila ada kontes pemilihan manusia paling kurang ajar, maka Leon tetap akan menunjuk Honne Dell sebagai nominasi utama. Leon berani bersumpah!
Setelah empat hari berlalu sejak Kiyoteru menambah pekerjaan mereka dengan tugas yang mustahil dilakukan secara mandiri, Leon akhirnya sering bercakap-cakap dengan Dell dan menyadari sesuatu. Kesampingkan penampilan suram Dell, dan lihat lebih dekat karakter beserta sikap pemuda bersurai perak tersebut. Bila kalian benar-benar memperhatikan, kalian pun akan sependapat dengan Leon. Daripada disebut menyeramkan, Honne Dell itu sebenarnya lebih tepat disebut—
"Bisa kauulangi idemu tadi? Tunggu! Kau yakin kita akan menggunakan itu untuk penelitian kita? Apa tidak ada yang lebih buruk? Tidakkah kaupikir itu tidak cukup menarik? Mungkin kita bisa menemukan yang lebih baik di internet."
—menyebalkan.
"Eh? Maaf, tadi aku bicara apa ya?"
Leon terbakar amarah. "Kau baru saja menghina ideku, Dell Teme! Sudah kuduga aku memang tidak bisa berada satu kelompok denganmu!"
"Ha? Apa-apaan kau menyebutku "teme"?! Perlu kauketahui, aku pun tidak merasa yakin bisa berkelompok denganmu!"
"Kau tahu, seandainya Kokone dari kelas XI-D ada di kelas kita, aku akan minta ganti pasangan pada Kiyoteru-sensei!"
"Kau kira kalau Momo dari kelas XI-D ada di kelas kita, aku mau-mau saja begitu dikelompokkan denganmu? Tentu aku akan protes ke Kiyoteru-sensei dan minta dikelompokkan dengan Momo!"
"Kau pikir- Eh?" Leon menahan ucapannya. Sepertinya ia menemukan kecocokan dengan Dell. "Kau menyukai Momo dari kelas XI-D?"
Pipi Dell memerah dengan cepat. Ups! Dia baru saja kelepasan bicara. Cepat, ditolehkan kepalanya ke samping, menyembunyikan noda merah di pipi yang nakal. "Iya. Kau sendiri menyukai Kokone dari kelas XI-D, 'kan?" ucapnya. Nada suara sedatar tripleks khas Honne Dell mendadak hilang.
"Ehem!" Leon menyentuhkan ujung-ujung telunjuknya dan sesekali menekuknya. "Kalau itu sih… hehe, iya," jawabnya malu-malu. "Ano, Dell!"
"Hm?"
"Bagaimana kalau kita meneliti sejauh mana pengetahuan para murid kelas XI-D mengenai kelainan pada organ kelamin pria? Selain mudah, kita bisa main ke kelas XI-D setiap hari."
Mata Dell melebar. Secepat cahaya, kepalanya bergerak fokus kembali ke Leon. "Ide bagus, Bung!"
Maka, berangkatlah dua pejuang cinta kita menuju kelas XI-D. Namun sebelum sampai di lokasi, mata mereka menangkap sang pujaan hati berjalan ke arah mereka. Tangan kedua gadis yang tengah memegang roti memberi informasi bahwa keduanya baru saja dari kantin. Sungguh timing yang tepat!
Leon dan Dell bersandar di dinding terdekat dan memasang pose terbaik yang mereka punya. Mulut mereka bersiap dibuka untuk menyapa dua siswi manis tersebut. Dengan alasan "kami juga mau ke kelas XI-D", keduanya berharap bisa berjalan bersama pagi ini. Namun sebelum selesai memikirkan impian suci mereka, suara cempreng seorang gadis telah menghancurkan kesempatan yang ada.
"Kokone-chan! Momo-chan! Konnichiwa!"
Kokone dan Momo menoleh ke belakang bersama-sama. Senyum menghias wajah ayu mereka saat mereka berlari mendekat ke arah sang pemanggil.
"Konnichiwa, Miku-chan!"
Leon dan Dell melongo di tempat.
oOo
BAGIAN ENAM
-Research and Hatsune Miku-
oOo
Satu hari sebelumnya.
Shion Kaito depresi. Waktu kian mendesak namun ia dan Miku belum juga menyelesaikan tugas mereka. Di hari minus tiga ini, Kaito kembali pada prinsipnya. Mengerjakan tugas seorang diri. Setidaknya, untuk mencari ide penelitian saja. Jadi begitu bel pulang sekolah berbunyi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Miku, pemuda bersurai gelap ini langsung pergi menuju perpustakaan.
Namun seharian di perpustakaan rupanya tidak memberi pencerahan pada anggota kelompok 10 bentukan Hitler Kiyoteru-sensei ini. Yang ada Kaito malah tenggelam dalam keputusasaan karena meski matahari telah berhasil dibayangi tingginya bangunan beton pencakar langit setinggi 20 lantai, dirinya belum jua mendapatkan ide untuk tugas penelitiannya.
Oh, memang penelitian macam apa yang diharapkan dari siswa kelas XI SMA? Mengukur kecepatan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, sih, mungkin. Tapi kalau penelitian yang berhubungan dengan sistem indera?
Shion Kaito, siap harakiri. Ia tidak sanggup!
Suara penjaga perpustakaan memberi informasi bahwa perpustakaan akan segera ditutup. Kaito memutuskan untuk mengikuti instruksi—keluar dari perpustakaan. Langkahnya gontai. Dewa malas sepertinya tengah bersemayam dalam tubuhnya. Percakapan tidak penting terdengar saat Kaito menunggu lampu lalu lintas berganti warna di perempatan jalan. Asalnya dari stan makanan yang membuat sebuah game menebak bumbu masakan. Bila berhasil menebak, maka bisa makan gratis sepuasnya.
"Bodoh! Dari baunya jelas-jelas ini jahe kok."
"Ah, benarkah? Bukan sirih, ya?"
"Ha? Sirih bagaimana? Coba kau cium lagi baunya!"
"Aku menyerah. Aku tidak tahu ini bau apa."
"Iih, kalau tidak menebak benar, kita harus bayar, lho!"
Percakapan selanjutnya, Kaito sudah tidak mendengarkan lagi karena konsentrasinya teralih pada sebuah ide yang melintas cepat dalam kepalanya. Lampu lalu lintas telah berganti, pejalan kaki diperbolehkan untuk berjalan. Tapi Kaito justru bergeming di tempatnya. Bibirnya mengembangkan sebuah senyum. Nyaris menyerupai seringai.
"Aku tahu sekarang," ucapnya. Antusias dan misterius.
.
oOo
.
Keesokan harinya, pukul 9 pagi, penghuni kelas XI-B tidak ada yang berada di kelas. Jika kalian (atau mungkin salah satu dari kalian) bertanya-tanya, "Mengapa?" maka jawabannya sederhana; mereka sedang ada pelajaran olahraga. Jadi mari kita pindah setting menuju lapangan sekolah.
Lima orang murid laki-laki saat ini tengah melakukan pemanasan di lintasan masing-masing. Yup! Materi mereka hari ini adalah lari. Sorak-sorai penonton yang seluruhnya terdiri dari murid perempuan terdengar. Tak terkecuali Miku.
"Ada Len, Piko, Gakupo, Yuuma, dan Gumiya. Siapa yang akan kita dukung?" tanya Miku. Wajahnya berbinar ceria.
"Yu-yuuma," IA menjawab sambil memalingkan wajahnya.
"Oke!" Miku mengangguk lalu kemudian berteriak. "Yuuma, semangat, ya!"
Yang bernama Yuuma, yang setia memasang topi kupluknya yang sayang sekali tidak maching dengan seragam olahraga sekolah (ini pendapat SeeU yang mengungkapkan bahwa nekomimi lebih maching untuk segala jenis pakaian), menoleh sebentar pada Miku. Ia tersenyum kecil dan mengangkat tangan. Mulutnya bergerak tanpa suara. Arigatou.
Miku memberi jempol pada IA, sebagai isyarat bahwa ia sudah melakukannya—memberi semangat pada Yuuma—dengan sempurna. Kemudian menoleh ke samping kirinya, di mana Luka duduk tenang dengan wajah menerawang. "Kalau Luka?"
Luka mendelik tajam pada Miku. "Kenapa kau bertanya padaku?"
"Eh?" Miku bingung. "Ku-kupikir, ada seseorang yang ingin kaudukung. Maksudku, aku juga agak membantumu mendukungnya."
"Aku ikut dengan kalian saja," jawab Luka, ketus.
"He? Kau tidak ingin mendukung Gakupo?"
Sontak wajah Luka memerah. "A-a-a-apa maksudmu?! Kaukira aku akan mendukung si Mesum Ungu itu?! Jangan bercanda Miku! Aku tidak akan pernah mendukungnya! Menyebut namanya pun aku tidak sudi!"
Di lapangan, jauh dalam hatinya, Gakupo menangis tersedu-sedu. Gumiya yang jalur lintasannya tepat di samping Gakupo memberi tepukan semangat di punggung pemuda yang patah hati tersebut.
"Sabar, man!" Len ikut menyemangati. Tapi hanya melalui kata-kata karena jarak yang memisahkan mereka tak memungkinkan bagi Len untuk ikut menepuk bahu Gakupo.
Guru olahraga mereka, Utanomiyatsuko Tsubame, muncul dalam balutan kaos abu-abu dan celana training. Sederhana, tapi setengah dari siswi perempuan yang ada langsung berteriak tidak jelas. Pihak sekolah memang pintar. Menyiasati para siswi yang malas mengikuti pelajaran olahraga, maka diutuslah Utanomiyatsuko Tsubame yang notabene lulusan fakultas keguruan jurusan Fisika untuk mengajar pendidikan jasmani dan rohani. Dasar!
Kelima murid laki-laki yang sudah bersiap itu langsung mengambil posisi start jongkok. Begitu Tsubame-sensei meniup peluit, berlarilah kelima murid pria itu sedang para siswi menyorak penuh semangat. Di antara para penyorak tersebut, ada satu yang menonjol.
"UTATANE PIKOOO! JANGAN TIDUR SAAT BERLARIIII!"
Sebut penonton terbaik itu Ritsu. Putri tunggal pasangan kaya raya yang mengikuti klub cheerleaders dan paduan suara. Biasanya, ada Rin yang sama besar mulutnya dengan Ritsu, mendukung Kaito seperti orang gila. Namun hukuman skorsing yang diberikan pada putri keluarga Himekaga beserta sahabat kentalnya, Suzune Ring, memberi Ritsu kesempatan untuk menjadi satu-satunya saat ini.
"Aku mulai curiga dengan Ritsu." Ungkap Luka, skeptis. Miku dan IA langsung menoleh padanya.
"Maksudmu?" tanya IA.
"Kalian sadar tidak, semenjak satu kelompok dalam pelajaran Kiyoteru, Ritsu jadi sering menyebut nama Piko?"
IA membulatkan mulutnya. "Aku paham!" ucapnya. Miku menelengkan kepalanya. "Aku tidak mengerti."
"Kau tidak akan mengerti!" Luka dan IA menyahut kompak.
Miku menekuk wajah. Kesal karena kedua temannya bukannya menjelaskan malah mematahkan semangatnya. Saat ia akan melancarkan jurus puppy eyes andalannya, seseorang menyentuh bahunya.
Miku menoleh ke belakang. Matanya melebar saat melihat bahwa Kaito-lah yang baru saja menyentuhnya.
"Bisa ikut aku sebentar?"
Miku gelagapan. "Eh, ah, anu…"
Luka menampilkan evil smile miliknya. Terkekeh sebentar, ia mendorong Miku. "Sudah sana pergi. Aku bisa mendukung Gakupo sendiri." Ups!
"Iya! Kaito pasti punya hal penting yang ingin dibicarakan denganmu. Hehehe." IA ikut-ikutan.
Miku memarahi kedua temannya terasa menjengkelkan hari ini, namun tetap pergi mengikuti Kaito. Kakinya ia paksakan bergerak lebih cepat dari biasanya agar dapat mengimbangi langkah lebar Kaito. Hingga tibalah mereka di taman samping sekolah. Dari sini, mereka masih dapat melihat ke arah lapangan.
"Kaito, kau mau mengatakan apa?" tanya Miku.
"Begini," kata Kaito sambil duduk di bangku taman. "aku sudah mendapatkan ide untuk tugas kita."
"He? Benarkah?"
Kaito mengangguk. "Aku kepikiran kemarin," akunya. "Bagaimana kalau kita membuat penelitian mengenai perbedaan sistem indera antara laki-laki dan perempuan?"
"Whoooaa! Kedengarannya keren!" seru Miku. "Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
Senyum kecil tersungging di bibir Kaito. Mempesona dan nyaris menjerat Miku. "Bukan aku, Hatsune-san. Tapi kita," ucapnya lembut. Dengan mata menyendu.
Oke. Miku terjerat dengan sempurna. Pipinya memanas. Ia bahkan lupa untuk menyuruh Kaito memanggil nama kecilnya saja. Seraya menundukkan kepala, Miku bergumam, "Em, iya. Aku mengerti."
"Baguslah kalau kaumengerti," ucap Kaito tulus. Ia lalu menengadah, menatap langit yang cerah berawan. "Jadi pertama-tama, kita harus mencari sampel untuk dijadikan objek penelitian." Ragu Miku akan mengerti ucapannya, Kaito buru-buru memperbaiki. "Maksudku, kita harus mencari beberapa orang sukarelawan untuk dijadikan bahan percobaan kita."
"Kenapa kedengarannya jadi seram begitu, Kaito?" tanya Miku, tak mengerti. Kaito tertawa. Mood yang bagus membuatnya bahkan merasa menarik bicara dengan orang bodoh. "Mereka tidak akan kubius dan dibedah seperti di televisi, kok. Mereka hanya akan kusuruh mencium rempah-rempah atau mendengar suara-suara yang frekuensinya kecil."
Tak sepenuhnya mengerti dengan ucapan Kaito, Miku malah menanyakan hal lain. "Lalu, berapa orang yang dibutuhkan?"
Kaito menempatkan ibu jari dan telunjuknya di bawah dagu. "Em, mungkin kita membutuhkan sepuluh orang dengan perbandingan yang sama."
"Jadi, kita harus mencari lima laki-laki dan lima perempuan, begitu?"
Kaito mengangguk. Membenarkan pernyataan dalam pertanyaan Miku.
"Apa ada ketentuan atau syarat tertentu dalam memilih mereka?"
Kali ini Kaito menggeleng. "Kau bisa memilih sampelnya secara acak."
Mulut Miku membentuk bulatan sempurna. "Aku paham!" ucapnya sambil tersenyum ceria. "Kalau begitu biar aku saja yang mencari mereka sekarang."
Khawatir Miku akan membuat kesalahan, Kaito menyanggah. "Kurasa lebih baik-"
"Kau tenang saja!" Miku menampilkan senyum termanis yang ia punya. Jantung Kaito menyentak sesaat.
"Aku punya banyak kenalan di kelas lain kok." Sebenarnya yang punya banyak kenalan itu Mikuo. Miku hanya kena imbasnya saja karena ia terkenal. Terkenal sebagai pacar Mikuo, maksudnya. "Kau percaya padaku, 'kan?"
Kaito mengerutkan kening. Netra biru lautnya berputar malas. Tidak ingin terganggu oleh mata berkaca-kaca penuh pengharapan Miku. Namun Kaito hanyalah manusia biasa. Punya nurani dan rasa tidak enak. Terlebih pada lawan jenis.
"Baiklah. Baiklah." Kaito mengalihkan pandangannya ke lapangan. Enggan melihat ke arah Miku. "Sesukamu sajalah."
Miku terkekeh. "Aye, aye, aye, Captain!"
"Tapi kita masih dalam pelajaran olahraga. Nanti saat istirahat saja kau menemui kenalanmu."
"Eh?" Miku melongo. Detik berikutnya ia memukul kepalanya. "Benar juga, ya. Kok aku bisa lupa sih? Ya sudahlah. Ayo Kaito, kita kembali ke lapangan!" ajak Miku.
Diam-diam, Kaito memperhatikan. Cara berbalik Miku yang berhasil membuat kuciran gandanya berputar mengiringi. Cara berlari Miku yang terkesan kerepotan, entah karena apa.
Satu helaan napas terbuang. Kaito memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana training. Senyum terukir tipis. Lirih, ucapan penyemangat ia lontarkan.
"Ganbatte, Miku!"
.
oOo
.
Hatsune Miku—akhir-akhir ini merasa begitu supel.
Saat diperjalanan mencari sampel penelitian ketika jam istirahat berlangsung, netra Miku menangkap sosok dua gadis manis yang nampak tidak asing baginya dalam radius 3 meter arah jam 3. Segera, setelah otaknya dapat mengingat kedua nama gadis tersebut, Miku memanggilnya.
"Kokone-chan! Momo-chan!" Kedua gadis itu menoleh. Bagus! Kelihatannya, ingatan Miku mulai dapat dipercaya! "Konnichiwa!"
Kokone, nama gadis bersurai cokelat gelap, dan Momo, gadis bersurai soft pink, menatap Miku secara berbarengan. Senyum riang menghias wajah keduanya saat keduanya berlari menghampiri Miku.
"Konnichiwa, Miku-chan!" ucap mereka. Satu per satu memeluk Miku. "Bagaimana hubunganmu dengan Mikuo-senpai?" tanya Kokone. Memulai bully time for Miku. Yang ditanya hanya dapat tersipu. Secara refleks Miku memegangi pipinya yang memerah.
"Iya. Iya. Kalian masih pacaran, 'kan? Belum putus, 'kan?" Momo ikut mengompori.
Panas! Miku kepanasan! Susah payah ia menatap Kokone dan Momo dan menjawab, "I-iya. Kami masih-"
"Huwaaa!" jeritan Kokone dan Momo menghentikan ucapan Miku. "Sudah kuduga kalian akan langgeng!"
"Ehehe," Miku hanya mampu tertawa renyah menanggapi godaan dari kedua temannya.
"Miku, boleh aku bertanya sesuatu?" Momo mendekatkan wajahnya pada Miku. Tangannya bergerak menutupi mulut, gaya orang yang akan berbisik. Tanpa menanti jawaban Miku, ia melanjutkan, "Bagaimana sih gaya berpacaran Mikuo-senpai?"
Raut wajah tersipu berganti raut wajah kebingungan. Level pertanyaan Momo terlampau tinggi bagi Miku. Bagaimana mungkin Miku mampu menjawab pertanyaan tersebut bila ia saja tidak tahu gaya berpacaran itu apa. Jadilah Miku terdiam mendapat pertanyaan tersebut.
"Huahahaha!" Kokone tertawa keras. "Kenapa kau terdiam, Miku? Kau tak perlu malu. Oh, jangan-jangan…."
Miku mendongak. Jangan-jangan apa?
"Hahahaha!" Kokone dan Momo malah tertawa lagi. Sudut mata kedua gadis ini hingga mengeluarkan liquid bening. Miku benar-benar dibuat bingung.
Saat suara bel masuk terdengar, Kokone dan Momo meminta izin untuk masuk ke dalam kelasnya. Dengan kesadaran yang menipis karena bingung, Miku hanya mengangguk. Miku pun akhirnya ditinggal.
Perasaan janggal menghampiri gadis manis ini.
Tunggu! Ia merasa ada yang kurang. Otaknya berpikir keras. Apa yang tidak lengkap dalam scene ini? Begitu tersadar, Miku langsung mengerang frustasi.
"Miku no baka! Apa yang kaulakukan, sih?!"
Hatsune Miku—tetap saja ceroboh.
Terngiang kembali dengan bunyi bel masuk, Miku melangkahkan kakinya dengan lunglai menuju kelas. Ia baru bertemu dua orang. Dan karena membahas hubungannya dengan Mikuo, ia malah melupakan tujuan utamanya. Uuh! Miku tidak mau melapor pada Kaito bahwa ia telah gagal mendapatkan kelinci percobaan!
"Miku!"/"Hatsune-san!"
Miku menolehkan kepalanya ke belakang. Rupanya, ada penghuni kelas XI-B selain dirinya.
"Ada apa, Leon, Honne-san?"
Leon tersenyum lebar. Ia merangkul pundak Miku dengan akrabnya. "Kau berteman dekat dengan Kokone, ya?" tanya Leon.
"He?"
"Hatsune-san, kalau Momo!" Dell menyenggol lengan Miku, meminta perhatian si gadis. "Kau berteman dekat dengan Momo juga?"
"Tidak juga sih," jawab Miku polos. "Memang kenapa kalian bertanya tentang mereka? Kalian menyukai mereka?" Tepat sasaran!
Leon dan Dell terbeliak. Miku rupanya tidak sebodoh yang Kiyoteru-sensei duga! Leon melepaskan rangkulannya dan mengusap wajahnya. "Ti-tidak!" jawabnya gugup. "Kami hanya bertanya saja. Habis, kami baru tahu kau berteman dengan mereka."
"Kau tadi membicarakan apa dengan mereka?" Dell bertanya. Tujuan resminya, untuk menyelamatkan rekannya yang sudah merah padam karena malu dari pertanyaan menjurus Miku. Tujuan tidak resminya, karena dia memang kepo dengan pembicaraan yang melibatkan si pujaan hati.
"Oh, hanya membicarakan hubunganku dengan Mikuo-nii saja kok. Karena mereka memojokkanku, aku sampai lupa meminta tolong pada mereka."
Leon dan Dell tiba-tiba merasa tertarik. "Memang kau mau minta tolong apa?"
"Minta tolong jadi bahan penelitian untuk tugas Kiyoteru-sensei!"
"Whoa!" Leon berdecak kagum. "Kalian sudah membuat tugas penelitiannya?"
"Tentu saja!" Miku menjawab sombong. "Tugasnya 'kan sebentar lagi dikumpul, jadi harus segera dikerjakan. Kalian juga harus segera mengerjakan tugasnya," Miku sok menggurui. Padahal jika rekannya bukan Kaito, mungkin nasib Miku tak akan jauh berbeda dengan pejuang cinta ini.
Leon menggaruk tengkuknya. "Hehe, kami masih kesulitan mencari idenya. Begitu sudah dapat ide, Dell-teme ini dengan seenak perutnya menolak." Dell memukul perut Leon. "Aduh!"
"Nah, Miku," Dell mengambil alih konversasi. "Boleh aku tahu sudah sejauh mana pengerjaan tugas kalian?"
"Yah, sebenarnya kami baru saja mulai." Miku menjawab sambil terkekeh. "Kami sedang mencari lima laki-laki dan lima perempuan untuk membantu kami. Tadinya aku bermaksud mengajak Momo-chan dan Kokone-chan. Tapi begitu bertemu, aku malah lupa mengatakannya."
Leon dan Dell saling berpandangan, berbicara melalui tatapan. Senyum di wajah keduanya merekah. Untuk kedua kalinya, Leon dan Dell mencapai kesepakatan.
"Bagaimana kalau kami bantu?"
"Eh?" Miku terperangah.
"Tapi kau harus bisa mengajak Kokone dan Momo" ucap Leon. Dell kemudian menambahkan, "Kalau kau mengajak mereka, kami akan mencarikan sisa orangnya."
Hatsune Miku—ternyata sedang ditemani dewi Fortuna!
.
.
.
A/N : Stop dulu sampai sini! Ide sudah menipis sementara tugas mulai berdatangan #seka air mata#
Untuk Reo Toa Hikari dan Hikaru-san : Terima kasih telah review lagi! Gakupo mesum? Yah begitulah, sekali-sekali(?) saya ingin menistakan karakter. Oke! Terima kasih juga untuk semangat '45nya! #kibar bendera merah putih#
Untuk Kokonose Hanoko-san : Hai juga! Terima kasih sudah review! Senangnya kalau fic ini disukai. Ini sudah lanjut!
Oke! Sampai ketemu di Bagian Tujuh : Became Closer, Closer, and More
