Untuk pertama kalinya, Leon dan Dell merasa bahwa dua jam itu terlalu singkat. Kalau bisa, dua pemuda ini ingin mengulangi kejadian hari ini—terjebak dalam ruang kelas XI-B bersama delapan orang lainnya dalam rangka memenuhi permintaan Kaito dan Miku yang ingin menjadikan mereka sebagai objek penelitian.

"Shion-san, Hatsune-san, kami pulang dulu, ya?" itu suara Sora, mewakili Yufu, Oliver, Sai, Miko, dan Ruko—orang-orang yang Leon sengaja kumpulkan.

"Ha'i! Otsukaresama!" Kali ini suara Miku. Seperti biasa, terdengar ceria dan penuh semangat. Enam murid yang terdiri dari tiga laki-laki dan tiga perempuan itu tersenyum balik pada Miku.

"Ano, Miku?" Momo, gadis bersurai pink panjang yang tengah berdiri di samping Kokone bersuara. Kedua gadis inilah penyebab adrenalin Leon dan Dell malas bekerja. "Kami juga akan segera pulang." Dan ucapan inilah yang menyedot sisa-sisa kehidupan kedua remaja pria tersebut.

"Hu'um!" Miku mengangguk ceria. Tak paham dan tak melihat kesedihan yang tercermin jelas dalam iris Leon dan Dell. "Terima kasih banyak untuk bantuannya, Kokone-chan, Momo-chan!"

"Sama-sama, Miku." Momo membalas. Keduanya lalu keluar dari kelas XI-B, mengikuti jejak ke-6 remaja sebelumnya.

Dell dan Leon, layaknya pengantin baru yang ditinggal pasangannya pergi ke medan perang, memandang kepergian Kokone dan Momo dengan raut wajah merana. Desahan kecewa pun mereka lontarkan.

"Yeah, setidaknya kita sudah melewati masa-masa menyenangkan bersama mereka selama dua jam hari ini," ucap Dell, mencoba bijak.

"Hiks, kau benar." Leon sudah terisak. Rasa sakit di hati telah memaksa seorang Leon melupakan harga dirinya sebagai seorang pejantan dan menumpahkan air mata. "Kenangan ini tidak akan pernah kulupakan. Aku berjanji!"

Shion Kaito, yang tak betah melihat dan mendengar drama melankolis Leon dan Dell mendengus. Bila Miku dalam suasana ceria, Leon dan Dell dalam suasana duka, maka dirinya dalam suasana muak.

"Oi!" Suara berat Kaito membuat Kokone dan Momo yang merasa dipanggil menoleh ke belakang. Kaito melirik ke jendela yang memantulkan cahaya lembayung yang kian menggelap. "Sebentar lagi malam. Walaupun kalian berdua, tapi kalian sama-sama wanita. Kurasa…" Dalam sekali gerakan, Kaito mendorong Leon dan Dell maju ke depan. Senyum melengkung di wajah tampannya. "…akan lebih aman bila kalian ditemani oleh mereka."

Leon dan Dell mengedipkan mata berkali-kali. Dua keuntungan akan mereka dapatkan sekaligus bila mereka menemani Kokone dan Momo pulang sore ini. Pertama, mereka dapat bersama dengan pujaan hati lebih lama. Kedua, mereka dapat mengetahui alamat rumah sang pujaan hati. Dan bila diizinkan, mungkin mereka bisa bertemu dengan orang tua kedua wanita yang mudah-mudahan dapat menjadi mertua di masa depan.

Dalam benak, mereka meyakinkan diri bahwa tiga detik ke depan peristiwa ini belum akan berubah. Saat mereka telah yakin pada kenyataan yang telah terpapar, mereka berbalik, menatap si pemuda bersurai biru yang kini sedang bersandar malas di kusen pintu kelas. Pesan tersirat terpantul dalam iris aquamarine dan ruby yang kini menatap Kaito berkaca-kaca.

Terima kasih, Kaito. Kami berhutang padamu.

Sementara itu di tempat lain pada jam yang sama, Akita Yohio tengah memeloloti ganas layar laptop tak bersalah di atas meja. Ada SeeU juga di sana. Gadis belia itu tengah duduk malas di sofa merah sambil membaca buku. Matanya menatap Yohio dengan simpati. Sebut mereka kelompok terbaik. Karena mereka sudah nyaris menyelesaikan tugas dari Kiyoteru-sensei. Ucapkan terima kasih pada Yohio yang begitu ulet mengerjakannya. Tapi tetap saja….

"Kita tinggal membuat kesimpulan saja, kan?" secara tiba-tiba SeeU bertanya. Yohio tak banyak menjawab. Hanya bergumam membenarkan.

"Kalau begitu, bagaimana jika kita lanjutkan besok saja." Sadar ucapannya belum mampu membuat Yohio berhenti bergulat dengan tugas, SeeU menambahkan. "Sekarang, sebaiknya kau istirahat. Aku sudah membeli es krim, kau tahu? Tolong hargai perjuanganku melawan panas untuk membelinya."

"Hah," Yohio menghela napas. "Baiklah jika kau berkata begitu."

SeeU mengulum senyum kecil. Keduanya lalu duduk bersama di sofa dalam diam sembari memakan es krim yang setengah meleleh karena terlalu lama ada di suhu kamar. Berdeham sekali, SeeU berusaha membangun percakapan kembali.

"Akhir-akhir ini, Len dan Lui jadi semakin sering berdebat, ya?"

"Hm. Begitulah."

"Aku bertanya-tanya, kenapa Yohio selalu berusaha menengahi mereka."

Yohio berdecak. "Kalau bukan aku yang melerainya, memang siapa lagi yang mau? Sekarang, Len dan Piko sudah seperti tanggung jawabku."

SeeU menggigit bibir. "Apa kau kesulitan?"

"Tentu saja!"

"Kalau kau mau, aku bisa membantumu kok." SeeU membungkam mulutnya. Ia kebablasan memberi sinyal perihal perasaannya! Tapi memang dasar Yohio adalah makhluk polos. Ia hanya mengerti tentang cowok dan buta mengenai cewek. Jadilah ia menjawab, "Rasanya tidak perlu. Saat ini, aku masih mampu sendiri."

Patah hati, SeeU tak membalas ucapan Yohio lagi. Bunyi gedoran keras kemudian terdengar memecah keheningan. Yohio, sang pemilik rumah yang ditinggal orang tua pergi dinas memutuskan untuk membuka pintu malang. Setelah meminta sang tamu untuk berhenti mencoba merusak pintu rumahnya, Yohio memutar kenop dan membuka lebar sang pintu dan melihat gadis bersurai pirang berkuncir side ponytail berdiri di sana sambil menguarkan aura merah bara—marah.

"Kora, Yohio! Beritahu aku siapa cowok paling tampan di kelasmu atau kugantung kau di pagar rumahmu!"

Yohio melongo. Akita Neru, sang sepupu, bertanya apa tadi? "Ha? Bisa kauulangi ucapanmu tadi, Neru-neesan?"


oOo

BAGIAN TUJUH

-Became Closer, Closer, and More-

oOo


Luka mengecek berlembar-lembar kertas ukuran A4 yang ada di tangannya. Tahu isinya berhubungan dengan pelajaran, IA tidak tertarik untuk mengintip apalagi membaca tulisan yang diberi spasi 1,5 di sana. Ia lebih memilih mengeluarkan headset dan ponselnya lalu mendengarkan musik di daftar putarnya. Miku beda lagi. Di saat Luka sibuk dan IA bosan, ia memilih untuk tidak mengganggu keduanya dengan menggambar abstrak di halaman terakhir buku tulisnya. Sungguh kegiatan yang tidak berguna.

"Arghh!" Luka menggeram secara tiba-tiba. "Ada lebih dari 20 typo! Apa yang Luki-nii kerjakan sampai banyak salah ketik begini sih?!"

Miku menepuk punggung Luka dengan lembut. "Luka tidak boleh menyalahkan Luki-nii. Setidaknya, dia mau mengetik buat Luka. Bukannya itu saja sudah bagus?" Dalam kepalanya, Miku membandingkan kakak Luka—Luki, dengan kakak sepupunya—Mikuo.

Bibir Luka mengerucut. "Iya, sih. Tapi kalau banyak salah begini…"

Luka belum selesai bicara karena suara pintu kelas yang dibuka menginterupsinya. Sebenarnya penyebabnya bukan hanya suara pintu yang dibuka terlalu keras, namun juga si pembuka pintu.

"Luka-ku cintaku manisku! Aku datang membawa pelukan untukmu!"

"Tidaakkkk!" Luka histeris. IA yang tengah mendengar lagu mellow tersentak karena suara Luka mengalahkan suara di headset-nya."Aria, bawa aku pergi dari sini! Cepat!"

IA yang tak tahu-menahu mengenai kelainan Gakupo hanya menurut saat Luka menarik tangannya. Kertas yang susah payah dikoreksi oleh si gadis bersurai pink, berceceran saat ia berlari. Miku yang ditinggal berusaha memungut sebelum ada orang yang menginjaknya. Mirisnya, tetap saja ada orang-orang yang tidak belajar ilmu padi dan menginjak salah satu halaman.

"Oh, Miku! Apa kertas ini punyamu? Maaf."

Miku menggeleng, antara ingin menjawab "tidak apa-apa" dan "itu bukan kertasku". Ia menatap Ted yang ikut berjongkok dan menyerahkan selembar kertas yang tak sengaja diinjaknya dengan wajah menyesal. "Terima kasih sudah mau memungutnya."

Ted tersenyum kecil. Ia lalu menoleh melewati bahunya dan memperingati. "Kaito! Yohio! Hati-hati langkah kalian!"

Kedua pria yang masih menjinjing tas itu berhenti melangkah dan menunduk. Syukurlah mereka belum menginjak kertas yang bertebaran tepat di dekat kaki mereka. Keduanya lalu memungut kertas tersebut.

Miku yang mendengar nama Kaito disebut melupakan kertasnya dan berseru, "Kaito!"

Yang dipanggil menoleh ke arah Miku. "Hm?"

Yohio yang berada di sebelah Kaito, melirikkan matanya dengan tatapan 'sejak kapan kalian jadi akrab begini?'

"Begini… kemarin 'kan kita sudah melakukan eksperimennya. Jadi…"

Paham arah pembicaraan yang dimaksud Miku, Kaito berkata, "Laporannya kita kerjakan hari ini sepulang sekolah."

Sekejap, Kaito dapat melihat kilatan semangat pada mata biru pirus Miku. Gadis itu mengangguk sekali dengan riang. "Ah, tolong bantu aku memungut kertas yang ada di dekat kalian," pinta Miku.

Yohio mengangguk. "Dengan senang hati," ucapnya. Sementara Kaito tak menjawab namun juga melakukan perintah Miku. Yohio yang tanpa sengaja melihat lengkungan kecil di bibir Kaito tertawa kecil. Ia menyenggol bahu Kaito.

"Kelihatannya kau cukup akrab dengan Miku," godanya.

"Hm."

"Apa kau menyukainya?"

Kaito tak menjawab. Dan seharusnya percakapan pagi itu berakhir di sana. Namun suara memanggil yang begitu keras membuat percakapan pagi itu tak selesai hingga bel berbunyi.

"Kau yang namanya Shion Kaito!" Itu Akita Neru dari kelas XI-C, sepupu Yohio. Kaito mengangkat alis sembari melempar tatapan heran pada gadis berkuncir side ponytail tersebut. "Pacaranlah denganku!"

Siswa yang kebetulan lewat di sekitar mereka mendadak berhenti berjalan. Miku sendiri terbelalak. Kaito menyipitkan mata. Kepalanya ditolehkan ke samping, pada Yohio yang memucat.

Yohio menatap Kaito balik dengan tatapan memelas. "Maafkan aku, Kaito. Sepertinya, ini salahku."

.

oOo

.

Jam istirahat, Shion Kaito dihujani pertanyaan.

"Apa maksud semua ini,Kaito? Aku tak mengerti."

"Katanya hari ini kita mengerjakan tugas kita. Kenapa kau tiba-tiba mengubah rencana?"

"Apa ini karena Akita Neru?"

"Jadi, permintaan Akita Neru lebih penting dari tugas kita, begitu?"

"Kaito~~ jangan diam saja. Jawab pertanyaanku."

Geraman kesal terdengar dari mulut Kaito. Giginya bergemelutuk. Miku membuat darahnya mendidih. Gadis itu, dengan tanpa perasaan memaksa Kaito menggunakan cadangan energi yang harusnya dipakai Kaito untuk menghitung deret aritmatika di pelajaran ketiga nanti hanya untuk menemani gadis ini bicara.

"Hatsune-san-"

"Miku!"

Urat di pelipis Kaito membentuk. Ini lagi!

"Baiklah. Jadi…, Miku."

"Ya?"

"Bisa kita bahas masalah ini nanti saja? Aku mau fokus ke pelajaran hari ini dulu."

Miku menggeleng. "Mana bisa!" Nona Hatsune mengerucutkan bibir dan melipat tangan di bawah dada. "Aku tak paham dengan dirimu!"

Kaito meringis. "Kuakui, kau memang tidak paham." Tentunya, Miku memang tidak tahu apa yang sebenarnya menimpa seorang Shion Kaito.

Setelah aksi pengakuan cinta tadi pagi, Neru membawa lari Kaito menuju tempat yang sepi. Jangan kira Neru tengah malu dan ingin meminta jawaban Kaito di tempat yang lebih sepi. Neru adalah gadis tsundere, silakan kalian cap begitu. Yohio sang sepupu pun mengatakan hal yang sama. Namun Neru juga punya sisi yandere. Buktinya Neru berani menodongkan cutter ke mata kanan Kaito sembari berkata santai.

"Aku terjebak dalam taruhan yang memaksaku memiliki pacar siang ini. Jangan salah sangka, ya. Aku hanya tak punya pilihan selain dirimu." Kaito mengumpat dalam hati saat Neru mengatakan ini. Hello, anybody anywhere you are! Di kelas XI-B saja ada 12 laki-laki. Neru punya banyak pilihan selain Kaito!

"Siang ini, sepulang sekolah, jadilah pacarku dan kencanlah denganku. Tenang saja—" dinginnya cutter menyentuh alis Kaito. "—hanya untuk hari ini kok."

Grrrm! Kaito mengutuk nasibnya yang sial. Dunia seperti tengah berkoalisi untuk menghambat pengerjaan tugas biologi Kaito saja. Dan Miku tidak mengerti hal itu!

"Hatsune, aku—"

"Miku!"

Mata Kaito memancarkan petir kecil-kecilan. Sabar juga ada batasnya. Begitu pula dengan ketidakpedulian. Jika sudah sangat menganggu, Kaito pasti akan menyahut.

"Sial! Aku bertanya-tanya apa yang bisa membungkam mulut aktifmu itu," ucap Kaito, sebal.

"Sebuah ciuman mungkin bisa."

Mata beriris biru laut Kaito melebar. Pipinya bersemu merah. "Ap-! Apa-apaan ucapanmu itu, ha?!" tanyanya, malu luar biasa. Yang ditanya malah biasa-biasa saja.

"Lho, kau tadi bertanya, 'kan? Di film yang kutonton kemarin malam juga aktor prianya bertanya sepertimu. Karena aktor wanitanya-"

"Hentikan, Hastune-san!" Kaito tidak yakin mentalnya akan tahan mendengar cerita Miku. Saat Miku akan membuka mulut—kemungkinan besar untuk memprotes, Kaito buru-buru menyelanya. "Film macam apa yang kautonton? Dan kau menontonnya malam hari? Pantas saja kau bodoh di kelas. Mestinya kalau malam kau belajar saja!"

Tarikan napas yang terburu-buru terdengar dalam suasana yang mendadak sunyi. Jantung Kaito dirambati suluran perasaan yang aneh begitu sebuah pertanyaan memasuki benaknya. Buat apa juga aku peduli?

Miku yang terdiam, mengangkat kepalanya. Bibirnya terbuka, dan anehnya—Kaito menanti hingga suara gadis itu memasuki indera pendengarannya.

"Jadi, Kaito. Bagaimana dengan tugas Kiyoteru-sensei? Masa kau abaikan hanya kau ingin berkencan dengan Akita Neru. Pokoknya, aku tidak setuju!"

"Sialan!" Kaito memaki. Ucapannya tadi tidak didengarkan sama sekali! "Memang kenapa juga kau harus tidak setuju, sih?!"

"Karena…" Miku mendadak bisu.

"Kenapa?" Kaito mengejar. Miku menggeleng pelan.

"Entahlah. Kenapa, ya?"

Bel masuk lalu berbunyi. Kaito mengusap wajah dengan telapak tangannya yang kini berkeringat gugup. Jangan tanya gugup karena apa. Ia memandang wajah Miku yang menggelap.

"Sekitar pukul tiga, mungkin aku sudah menyelesaikan urusan—maksudku, kencan, dengan Akita-san. Setelah itu, aku akan langsung ke perpustakaan. Kau tunggu aku di sana."

"Ha? Untuk apa? Perpustakaan?"

Kaito meringis. Bicara dengan Miku memang tidak ada habisnya. Dengan segala keterbatasan pengetahuan yang dimiliki gadis itu, sulit hanya berbicara dengan dua kalimat singkat.

"Kau daritadi mengoceh tentang tugas tapi sepertinya kau tidak benar-benar ingin mengerjakannya, ya? Kita harus menyusun laporan penelitiannya, Miku! Dan untuk menyusunnya kita membutuhkan landasan teori yang akan kita dapatkan dari buku. Di perpustakaan. Jadi karena itulah kita ke perpustakaan hari ini."

Miku terdiam. Kaito kira, Miku sudah cukup paham. Nyatanya…

"Kenapa harus di perpustakaan? Kenapa bukan ke toko buku saja? Atau internet, yang lebih gampang? Ngomong-ngomong, kencanmu dengan Akita Neru itu bagaimana? Aku masih tidak setuju dengan itu!"

Tuhan, Kaito ingin dicabut nyawanya saja daripada bicara dengan Miku!

.

oOo

.

Kaito sudah pernah berpacaran. Jadi saat dihadapkan pada situasi khas yang dilakukan oleh sepasang kekasih bernama "kencan", Kaito tidak seharusnya merasa gugup lagi. Sayang sekali, Kaito gagal. Bahkan sejak melihat wajah Akita Neru di gerbang sekolah setengah jam yang lalu rasa gugup telah menjerat sekujur tubuhnya. Sekarang, keduanya tengah duduk di café. Menunggu teman Neru.

"Oi, aku ini pacarmu." Neru berucap sambil memandang tajam Kaito. "Ajak aku mengobrol, kenapa sih?"

Kaito bertopang dagu dan memandang ke jalanan. "Kau jadi pacarku jika temanmu sudah datang."

Srettt! Suara pisau cutter terdengar. Kaito buru-buru meralat ucapannya. "Ma-maksudku, kau pacarku mulai hari ini. Maaf, Akita-san. Tadi mulutku kelepasan bicara."

Neru tersenyum manis pada Kaito. "Baguslah," ucapnya. "Ah iya. Panggil aku Neru. Aku telah mengizinkanmu untuk hari ini. Lagian, mana ada orang pacaran masih memanggil nama marga."

Kaito merengut. "Iya, iya."

Pintu café kemudian terbuka. Seorang gadis bersurai pirang dengan poni dicat tiga warna muncul. Neru berdiri dari bangkunya dan melambai.

"Galaco! Di sini!"

Yang bernama Galaco kemudian mendekat. Diperkenalkanlah gadis itu oleh Neru. Kaito tak terlalu memperhatikan. Ia lebih memilih mendengar suara musik yang diputar di café tersebut. Selesai dengan sesi perkenalan, Galaco duduk di samping Neru. Sepasang matanya meneliti Kaito.

"Jadi ini pacarmu?" tanya Galaco pelan. Sikunya diletakkan di atas meja kemudian bertopang dagu. "Hm, boleh juga. Dia tampan."

Kaito tersenyum—kelihatan sekali—pura-pura. "Terima kasih pujiannya."

Jika boleh memuji balik, sebenarnya ada banyak kelebihan yang dimiliki Galaco. Gadis itu cantik. Gaya berpakaiannya juga modern. Kecuali untuk beberapa aksesoris dan cat rambut yang begitu mencolok. Apa Galaco bukan orang Jepang? Tapi bahasa Jepangnya lancar sekali. Tetap saja, sepertinya ada kemungkinan Galaco bukan orang Jepang. Apakah—

Sekarang Kaito menyesal tidak memperhatikan perkenalan yang dilakukan oleh pacar pura-puranya. Ia bisa dihantui rasa penasaran hingga alam mimpi.

"Sudah berapa lama kalian pacaran."

Baru saja.

"Sejak seminggu yang lalu. Benar 'kan, Kaito-kun?"

Kaito mengangguk. Cari aman.

"Wah! Lalu, siapa yang menembak duluan? Bagaimana caranya?"

Gadis di sampingmu yang menembak. Caranya begitu memalukan sampai-sampai aku berharap hari itu aku tidak pernah datang ke sekolah. Ia berteriak di koridor tak peduli banyak orang di sekitar. Setelahnya, ia mengancamku dengan cutter.

"Kaito-kun yang menyatakan cinta padaku." Kaito tersedak ludah sendiri. Maunya protes. Tapi sudahlah. Kaito ucap "iya" saja.

Lama waktu berlalu. Perlahan, pembicaraan seputar kisah cinta palsu karangan Neru beralih menjadi girls talk yang tak melibatkan Kaito sedikit pun. Jarum pendek pada jam yang bertengger di dekat kasir menunjuk angka tiga. Kaito bimbang. Apa Miku sudah ada di perpustakaan? Menunggu Kaito?

"Ada apa, Shion-san?" tanya Galaco. Senyum masih terpoles di bibir. "Kau kelihatan khawatir. Apa yang kaukhawatirkan?"

"Tidak. Aku hanya kepikiran dengan seseorang." Kaito menatap Neru. "Neru, boleh aku pulang duluan?"

"Ha?!" Saking kagetnya, Neru sampai berdiri dari bangkunya. "A-ada apa? Ki-kita 'kan…"

Kaito mendesah. Sekali lagi melirik pada jam dinding yang tak cukup pengertian padanya. Jam tiga lewat sepuluh menit. Tak ada jaminan Miku menunggu Kaito di perpustakaan saat ini. Namun mengingat cara pikir Miku, Kaito mulai khawatir Miku memang menunggunya.

"Aku benar-benar harus pulang, Akita—maksudku Neru-san. Jaa nee."

Dahi Galaco mengerut. Ia melirik curiga pada Neru. Membuat yang dilirik terjangkit sesak mendadak. Meski dipanggil berkali-kali, Kaito tak menoleh ke belakang. Desakan waktu membuat Kaito tak bisa berbalik. Galaco makin menatap skeptis pada Neru yang pucat pasi.

"Sepasang kekasih pulang sendiri-sendiri saat berkencan." Galaco menyindir. "Bisa kau jelaskan, sebenarnya ada apa ini?"

.

oOo

.

Hatsune Miku membolak-balikkan halaman buku berjudul Berkenalan Lebih Dekat dengan Biologi. Padahal sudah menyiasati dengan memilih buku bergambar dan full color, namun ia masih kesulitan memahami isi buku tersebut. Pada akhirnya, yang ia lakukan adalah melempar buku tersebut kembali ke dalam keranjang bukunya dan mengerang dengan kesal.

"Kenapa isinya berat sekali sih?!"

Miku, yang benar itu kenapa otakmu lambat sekali sih?

Lelah menghantui Miku. Namun ia mengambil satu buku lagi dan membuka daftar isi. Begitu materi sistem indera terlihat, ia langsung membaca. Lima menit berlalu, matanya mulai terasa panas lagi. Dialihkannya pandangan pada pintu perpustakaan yang terbuka lebar. Mulutnya merengut.

"Sudah satu jam dan Kaito belum datang," keluhnya. Sekali lagi, Miku mencoba membaca. Meski dadanya yang sesak membuatnya tak pernah bisa berkonsentrasi. Tuhan, kenapa tubuh Miku terasa tidak nyaman begini, sih? Dan kenapa mengingat sosok Akita Neru membuat napas Miku terbakar?

Apa Miku membenci Neru?

Apa ini yang disebut iri iri? Tapi iri untuk apa?

Lalu, apa ini cemburu? Miku buru-buru menggeleng.

Rasa kantuk kembali menyerang. Seandainya Miku tidak mendengar suara kursi yang berderit, mungkin gadis belia itu sudah membiarkan bukunya tegak begitu saja di depan wajahnya, menempelkan pelipisnya di atas meja, dan mengucapkan "oyasumi" lalu memejamkan mata.

"Sudah lama menungguku?"

Itu suara Kaito. Kaito sudah datang! Akhirnya kau datang!

Sebenarnya, saat Miku memutuskan untuk menutup buku di tangannya, ia hanya ingin menyapa sosok yang identik dengan warna biru lautan itu. Gelap, tetapi anehnya terasa lembut dan menenangkan. Namun pemandangan siluet sang pemuda yang dibanjiri sinar matahari pukul empat sore dari jendela di belakangnya membuat Miku justru bergeming dengan pupil mata yang melebar. Terlebih, saat ini Kaito tengah memasang kacamata baca ber-frame tipis hitam. Miku baru tahu kalau mata Kaito sudah minus.

Pemikiran sesat namun tak salah melintas dalam kepala Miku.

Ternyata Kaito itu tampan, ya?

Tamparan mampir di pipi chuuby Miku. Kaito yang sedang serius dengan bukunya sampai terganggu dengan suara keras tersebut. Sepasang netra biru lautnya bergerak untuk melihat Miku. Menyampaikan pertanyaan tanpa berkata-kata. Kau kenapa?

"Eh? A-aku tidak apa-apa kok. Hanya… tadi ada nyamuk tadi di pipiku. Iya, nyamuk!" Nyamuk? Pada saat bersamaan di kedua pipinya, begitu?

Miku tahu alasannya tidak rasional. Jadi sebelum ucapannya makin tidak jelas, Miku kembali bersembunyi di balik bukunya dan menutup mulut.

"Em," gumaman Miku terdengar. Mencari topik pembicaraan lain yang dapat membuat Kaito lupa akan tingkah bodohnya. "Aku baru tahu kalau Kaito memakai kacamata." Tak ada respon. "Kenapa di kelas Kaito tidak pernah memakainya."

Kaito mendesahkan napas panjang. Beginilah kalau belajar dengan orang bodoh. Lebih banyak diajak mengobrol. "Cukup Ted yang disebut putra Kiyoteru-sensei."

Jawaban tersirat Kaito tentu membuat Miku bingung. Karena itu si gadis bersurai teal itu tidak bisa bicara lagi. Kaito memandang ke arah buku yang menjadi dinding antara ia dan Miku. Tatapannya tajam, seolah mampu menembus tebalnya buku dan melihat wajah yang masih merona milik Miku. Bibirnya tanpa diperintah membentuk lengkungan—sebuah senyum simpul.

Mengambil satu buku di atas meja, Kaito bertanya, "Kau sudah lama menungguku?"

Miku menggeleng. "Tidak juga." Hanya satu jam. "Bagaimana kencanmu dengan Neru?"

Kaito menaikkan pandangan dari bukunya. "Asal kau tahu, aku tidak berkencan dengan Akita-san."

"Terus?"

"Aku dipaksa jadi pacar pura-pura saja untuk hari ini. Pernyataan cinta, kencan, tolong kaulupakan saja itu."

"Benarkah? Yokatta! Aku lega mendengarnya."

Jantung Kaito berdebar. Miku bersyukur? Untuk apa?

"A-aku rasa ini sudah sangat sore." Kenapa kosakata Kaito menjadi kacau? Dan suaranya barusan terlalu lirih! Berdeham sekali, Kaito melanjutkan. "Sebaiknya kau segera pulang, Hatsune-san."

"Ha?" Miku menutup bukunya. "Apa?"

"Aku tadi mengatakan bahwa sebaiknya kau pulang. Biar aku saja yang mengerjakan laporannya di rumahku."

Miku berdiri dari bangkunya dan berkacak pinggang. "Tidak bisa!" tolaknya tegas. "Kau ingin mengulang apa yang terjadi pada tugas sebelumnya? Kau tahu aku ini bodoh dan tidak bisa mengerti hanya dalam sekali baca sepertimu, 'kan?" Demi mengerjakan tugas Kiyoteru-sensei, Miku bahkan harus mencoreng abu di wajahnya sendiri dengan mengakui kekurangan utamanya.

Akan tetapi, Kaito juga keras kepala. "Jadi maumu apa? Perpustakaan sebentar lagi ditutup jadi kita tidak bisa mengetik laporannya di sini! Di rumahku setidaknya ada komputer yang bisa kugunakan."

"Lalu kenapa tidak kauajak saja aku ke rumahmu jadi kita bisa mengerjakannya bersama?"

"Laporannya tidak akan selesai dalam lima menit, Bodoh! Dan aku tidak bisa membiarkanmu pulang malam nantinya! Juga, bagaimana kalau keluargamu marah, huh?"

"Aku-" Miku mendadak terdiam. Oh, ia paham sekarang. Tiba-tiba ia merasakan kehangatan dari sosok dingin Kaito. Bibirnya mengulum sebuah senyuman.

"Apa? Senyum-senyum tidak jelas begitu."

Miku justru memperlebar senyuman. "Tenang saja. Aku bisa menelepon ayahku nanti. Jadi Kaito tidak perlu mengkhawatirkan aku."

Pessshh! Kaito memerah. Sialan! Ia bahkan tidak sadar bahwa ia sebenarnya hanya khawatir.

.

oOo

.

Di hadapannya, berdiri sebuah rumah berbahan kayu tanpa cat. Pagarnya pendek, hanya sepinggul, dan pada bagian bawahnya ditumbuhi rumput perdu. Sekejab, Miku merasa dibohongi. Kaito serius membawa Miku ke rumahnya 'kan? Bukan ke lokasi syuting 'kan?

"Ini rumahmu?" Miku buru-buru menutup mulutnya yang tidak sopan. Harusnya ia menyimpan pertanyaan sarat ketidakpercayaan itu tetap ada dalam kepalanya.

"Hn." Kaki Kaito yang telah lepas dari sepatu sekolah kini mengenakan sandal rumah. "Kenapa? Jelek ya?" Sebuah senyum tanpa makna tersungging di wajahnya.

Miku terkesiap. Ia menggeleng dengan cepat. "A-aku tidak berpikir seperti itu kok." Beberapa menit yang lalu sih, memang iya.

"Ha'i, ha'i." Kaito berucap malas. "Cepat pakai sandalmu," ucapnya seraya memberikan sepasang sandal pada si gadis teal.

Miku mengangguk dan mengenakan sandalnya. Sebuah sandal berwarna pink lembut. Cukup feminim, batin Miku. Ia kemudian berjalan masuk menuju ruang tamu. Kaito sudah berada di dapur, meninggalkannya untuk mengambil minum. Ditinggal sendiri, Miku memindai isi ruangan tempatnya berpijak saat ini.

Tak lama, Kaito muncul sambil membawa nampan berisi dua cangkir air putih. Diletakkannya nampan tersebut di atas meja pendek di tengah ruangan. "Maaf, hanya air putih."

"Wah! Ini foto pacar Kaito, ya?" Suara Miku yang sedang berada di sudut ruangan—Kaito baru sadar Miku ada di sana—membuat Kaito nyaris menumpahkan air dalam gelas yang tengah dipegangnya. Ia menatap Miku yang kini mengarahkan foto seorang wanita dalam balutan dress berwarna biru langit padanya.

"Ini fotonya, 'kan?"

"Bukan!" sahut Kaito cepat. Ia mengambil foto tersebut dan meletakkannya kembali di atas lemari kayu di sudut ruangan. "Itu ibuku."

Wajah polos Miku terlihat kaget. "Wah! Ibumu masih muda sekali! Beda dengan ibuku. Aku jadi ingin bertemu. Di mana dia? Apa dia ada di rumah sekarang?"

Ada jeda lama sebelum Kaito menjawab, "Dia sudah tidak ada." Suaranya memelan. "Dua tahun yang lalu ia meninggal."

Suasana berubah hening. "Maaf," ujar Miku. Namun Kaito mengalihkan pembicaraan dengan memerintahnya. "Berhentilah bersikap sungkan begitu. Cepat keluarkan buku-buku yang kaupinjam tadi."

"Eh, ba-baiklah."

Tiga tumpuk buku keluar dari dalam tas bermotif daun bawang milik Miku. Kaito sendiri mengeluarkan lima tumpuk buku. Berhubung Miku lebih mengerti komputer daripada Kaito—inilah kelebihan Miku—, maka Miku mendapat tugas untuk mengetik. Sedang Kaito membaca buku-buku tebal yang mereka bawa. Tangannya bergerak mengambil pensil dan menggaris bawahi beberapa kalimat.

"Sudah kaunyalakan?"

Miku mengangguk.

"Kalau begitu tolong ketik tulisan yang sudah kugaris bawahi ini. Formatnya seperti menulis kutipan. Kau masih ingat cara menulis kutipan pada karya tulis, 'kan?" tanya Kaito, meragu di akhir.

"Tentu! Aku ingat kok." ujar Miku. Tapi kemudian ia menambahkan, "Mungkin."

Kaito sudah menduganya. "Yah, pokoknya kau ketik saja dulu. Nanti biar aku yang mengeditnya."

Kegiatan mereka selanjutnya berlangsung dalam keheningan. Miku sibuk dengan komputer dan Kaito sibuk dengan tiga tumpuk buku lagi di atas pahanya. Tak jarang ia merangkai kalimat sendiri di buku tulisnya dan memberi tanda di mana Miku harus mengetiknya.

"Monoton dan membosankan," gerutu Miku dalam hati. Kalau main game sih, menatap layar PC sampai tengah malam juga tidak masalah. Tapi kalau yang dipelototinya adalah Microsoft word, Miku menyerah untuk bertahan selama dua jam. Satu jam saja, dia pasti sudah merana dan memilih membuka browser untuk mencari hiburan. Bahan yang harus diketik Miku belum selesai, tapi ia ingin dan harus bergerak supaya tidak larut dalam suasana menyebalkan ini!

"Kaito, boleh aku pinjam toiletnya?" Miku bertanya. Dalam hati sudah berniat. Sesampainya di toilet, ia akan melakukan perenggangan tubuh sebentar.

Kaito menjawab tanpa melihat ke arahnya. "Ya. Toiletnya di belakang. Kau jalan lurus saja dari sini."

"Ha'i!" Miku berdiri dan segera beranjak menuju ke belakang. Namun baru tiga langkah memasuki pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah, gadis itu menjerit tertahan. "Kyaaa!"

Kaito menoleh sebentar. Apa dia merasa cemas? Jawabannya tidak. Kaito yakin dengan sangat bahwa rumahnya aman. Tidak ada bongkahan mayat yang akan membuat ibu-ibu menjerit ketakutan. Juga, meskipun rumahnya memberi kesan tidak elit, bagian dalamnya cukup rapi dan bersih. Tak akan ada kecoa atau tikus di sana.

"Ada apa, Hatsune-san?" tanya Kaito dengan nada datar. Terdengar tak peduli dan malas. Saat itu, ia sudah menegakkan tubuh dan berjalan menuju asal suara.

"A-ada kucing…" suara Miku gemetar karena takut. Gadis Hatsune ini sedang berdiri diatas kursi pendek di sudut ruangan. Posisinya berlawanan arah dengan si kucing hitam bertubuh gemuk milik tetangga Kaito.

Kaito menghela napas pendek. Sudah ia duga hal yang tidak penting. "Kau takut kucing?" tanyanya. Miku mengangguk lemah.

"U-usir dia, Kaito," pinta Miku. Matanya memerah dan berair. Namun sekuat yang ia mampu, tangisan itu tetap ditahan. Melihat Miku yang seperti itu membuat Kaito merasa iba.

Ia berjalan santai menuju sang kucing. Rencananya simpel. Ambil kucingnya, lalu bawa keluar. Setelah itu, tutup pintu agar kucing tersebut tidak masuk lagi. Namun kejadian yang terjadi malah lebih rumit. Terlebih saat kucing itu melompat secara tiba-tiba ke arah Miku.

"Kyaaa!" Miku menjerit sambil melompat-lompat di atas kursi. Berusaha untuk menjauh dari sang kucing yang menggoreskan cakarnya di beberapa bagian tubuh gadis itu untuk mencari pegangan yang tepat. Gerakannya membuat kursi oleng. Belum cukup sampai di sana, sang kucing melompat lagi lebih ke atas. Ke atas lemari yang berisi beberapa tumpuk kardus.

"Hatsune-san!" Kaito bergerak, melindungi Miku agar tak berbenturan dengan kardus-kardus yang kalau ia tidak salah ingat berisi hadiah—entah apa—yang didapat adiknya dari undian di sebuah supermarket. Mirisnya, gerakan Miku yang heboh di atas kursi membuatnya terjatuh saat Kaito berusaha melindunginya. Selanjutnya, bisa ditebak.

"Aduh," Miku mengaduh lirih. Saat itu ia belum sadar ada suara lain yang ikut mengalunkan kata yang sama. Ia baru mengetahui bahwa korban di sini bukan hanya dirinya setelah ia membuka mata dan bertemu tatap dengan blue ocean yang melebar.

"Ka… ito?"

Sesuatu menyentak dada Kaito saat Miku menyebut namanya. Dalam iris ocean blue miliknya, ia melihat Miku yang tampil lebih manis. Tanpa daya dan tanpa perlawanan. Untuk sejenak, tatapan tajam Kaito berubah menjadi tatapan sendu.

"Miku."

Mata Miku melebar karena terkejut. Untuk pertama kalinya, Kaito memanggil nama kecilnya tanpa harus ia suruh. Ia makin terkejut saat Kaito berangsur menunduk. Ia tak punya kesempatan untuk merespon apalagi menghindar hingga akhirnya, sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Dingin. Apa bibir laki-laki memang sedingin ini?

Ciuman itu tidak berlangsung lama. Hanya beberapa detik. Saat Kaito menghentikan perbuatannya, rona merah sudah menodai wajah Miku hingga ke telinga, sementara jantungnya berdebar tak karuan. Matanya tak terpejam sehingga semua terekam sempurna dalam kepalanya. Ada desiran aneh yang ikut mengalir dalam nadi gadis itu. Desiran yang membuat sekujur tubuhnya meriang.

Ada sesuatu yang berbeda dengan ciuman Kaito. Dan hal ini tidak ia dapatkan dari Mikuo. Apa mungkin karena Kaito menciumnya di bibir? Sedang Mikuo sendiri sampai sekarang hanya mencium dahinya?

Tidak! Miku menyanggah pertanyaan yang mengandung pernyataan tersebut. Bukan itu sebabnya. Lagipula, bukan hanya ciuman ini saja yang membekas dalam diri Miku. Saat Kaito berkencan dengan Neru pun, Miku dihantui rasa gelisah sepanjang hari. Mungkin akan lebih baik bila….

"Kaito." Di saat Kaito mulai menegakkan tubuh, memberi jarak di antara mereka, Miku justru mencondongkan tubuhnya untuk kembali mendekat. "Tolong."

Dahi Kaito mengerut. Posisi berbalik. Ia yang tengah menumpu punggung agar tetap tegak dengan kedua tangan berada di bawah, sedang Miku kini berada di atasnya. Merangkak pelan. "Tolong apa?"

"Tolong cium aku lagi!"

Ya. Mungkin lebih baik Miku memastikan sekali lagi.


.

.

A/N : Adakah yang menanti adegan ini? XD

Tentang pelajaran yang saya tulis di chapter ini, mungkin ada yang menyadari bahwa materi pelajarannya tercampur aduk, entah mestinya dipelajari di kelas 1, kelas 2, atau kelas 3 SMA. Sejujurnya saya sudah lupa materi pelajaran kelas XI itu apa saja. Mohon dimaklumi.

Untuk mikicnc-san : Terima kasih sudah review. Ha? Kenapa sebelumnya tidak bisa review? #kepo#ditampar# Hehe, terima kasih juga untuk semangatnya.

Untuk Rukami-chan-san : Terima kasih sudah review. Anda benar-benar beruntung! Di chap ini Neru muncul. Meski saya tidak bisa mengatakan ia dapat peran protagonist sih. Soal karakter, gomen! Tenang, di ending Miku sama Kaito kok. Oke! Terima kasih juga untuk semangatnya!

Untuk Akira-Bellachan-san : Salam kenal juga dan terima kasih sudah review! Genre aslinya memang itu. Tapi di ffn tidak ada ya#cengengesan# Mikou? Haha, saya tidak bisa jawab. Saya harus minta maaf dulu dengan Akira-san. Lenka hanya jadi cameo di sini jadi tidak muncul dalam cerita. Mungkin diselipkan dalam deksripsi saja. Sekali lagi, saya minta maaf. Untuk semangatnya, terima kasih, ya!

Untuk semua readers, Kalau ada typo, tolong beritahu saya. Saya sudah mencoba mengedit. Tapi karena akun saya ada yang salah, seperti banyak editan yang tidak tersave. Nah, sampai jumpa di Bagian Delapan : -A Story About Shion Family- (Jika belum berubah)