"Tolong cium aku lagi."

Permintaan Miku membuat rambut halus di tengkuk Kaito meremang. Akal sehat Kaito dengan sangat tegas menjeritkan penolakan. Namun tubuhnya mengingkari, lebih memilih mengikuti insting yang telah meliar. Pada akhirnya, gairah dalam netral biru pirus Miku adalah sesuatu yang tidak mampu ia tolak.

"Kaito…" bisik Miku kala Kaito menempatkan telapak tangannya di dagu kecilnya. Mengangkat wajah gadisnya agar lebih pas saat ia menempatkan bibirnya nantinya. Jarak kian menipis. Pipi Miku merona saat menatap mata Kaito dalam jarak dekat. Ia tenggelam dalam iris sewarna laut dalam tersebut.

Perlahan, kelopak matanya menutup. Miku telah menemukan jawaban atas keraguannya. Bagaimana tubuhnya mendamba Kaito, bagaimana jantungnya berdegup cepat hingga ia dapat merasa detaknya di kulit pelipisnya yang tipis, dan bagaimana nadinya mengalir semakin cepat saat jarak di antara mereka kian memprihatinkan. Tanpa harus membuka web browser di smartphone miliknya, ia tahu arti dari setiap petunjuk tubuhnya.

Hatsune Miku, positif jatuh cinta pada Shion Kaito.

Ceklek! Suara bukaan pintu bagai mem-pause pergerakan Kaito. Hasrat sirna. Berganti kecemasan. Hanya berselang beberapa detik, saat seorang gadis bersurai biru gelap masuk dari luar menuju ruang tamu, lalu ruang tengah. Di sanalah si gadis berumur 13 tahun menemukan keduanya duduk berjauhan di ruang tengah yang sempit.

"Tadaima! Lho, Onii-chan bawa siapa ke rumah?"


-oOo-

BAGIAN DELAPAN

-Shion Family-

-oOo-


"Wah, kue ini enak sekali!"

Hatsune Miku tertawa riang saat menyantap satu piring penuh berisi kue kering di atas meja pendek di ruang tamu. Peristiwa menegangkan yang mengguncang sistem kardiovaskuler-nya seakan terlupakan olehnya.

"Benarkah?" suara lembut mengalun dari lawan bicaranya. Namanya, Shion Kaiko, adik kandung satu-satunya milik Kaito.

"Hu'um! Ternyata Kaiko-chan jago masak, ya?"

Kaiko tersipu-sipu. "Hehe! Makasih, Hatsune-san."

"Aduh! Jangan panggil aku Hatsune-san juga dong." Miku memprotes. "Panggil saja aku Miku."

Kaiko menggaruk kepalanya dengan canggung. "Mau bagaimana lagi. Hatsune-san 'kan lebih tua dari Kaiko."

Satu kata bergema hebat dalam telinga Miku. Tua? Gerakan mengunyah Miku langsung terhenti. Dirinya tersindir.

"Ano, Hatsune-san, kau baik-baik saja?"

"Jangan terlalu kau khawatirkan dia, Kaiko." Suara berat Kaito membuat Miku dan Kaiko menoleh ke arahnya. Kaiko dengan pandangan bingung. Sementara Miku dengan pandangan kesal.

"Apa maksudmu?!" Miku bertanya emosi.

Kaito memutar bola matanya dengan malas. "Entahlah," ketusnya. Ia lalu mengambil piring yang sudah kosong dan membawanya ke belakang. "Aku akan mencucinya. Bersama tumpukan piring dan peralatan memasak lainnya karena adikku ini paling malas kalau disuruh cuci piring."

"Onii-chan, cuci piringnya nanti saja. Temani aku mengobrol dengan Hatsune-san dulu!" Kaiko protes, namun tidak dihiraukan oleh sang kakak. Selanjutnya, ia menghela napas dan menatap Miku dengan pandangan menyesal. "Maafkan Onii-chan ya, Hatsune-san. Kau pasti kesulitan selama ini, ya?"

Miku mengerucutkan bibirnya. "Tentu saja aku kesulitan!" ucapnya dengan suara lantang. Matanya menyipit menatap pintu yang mengarah ke belakang, berharap menemukan respon dari orang yang kini tengah berada di dapur.

"Aku bisa mendengarmu, Baka!" Dan ia memang mendapatkannya!

"Ehehe!" Kaiko terkekeh. Ia mendekatkan duduknya dengan Miku dan berucap dalam volume suara yang kecil. "Hatsune-san dan Onii-chan sepertinya lebih akrab dari dugaanku. Apa kalian benar-benar hanya berteman?"

Deg! Detak jantung Miku berdetak terlalu keras. Ia hanya berharap Kaiko tidak mendengarnya. Namun Kaiko tidak butuh mendengar detakan keras itu. Melihat perubahan warna wajah Miku saja Kaiko bisa menyimpulkan sendiri. Senyum nakal tercipta di wajahnya.

"Hatsune-san kenapa diam? Hatsune-san tidak perlu malu, kok."

"A-aku tidak malu!" sangkal Miku, membela diri. Miku hanya kaget. Dan bingung. Bagaimanapun juga Miku tak bisa menyangkal ia memiliki perasaan pada Kaito. Meskipun….

"Asal Kaiko tahu saja ya, aku dan Kaito tidak mungkin pacaran!"

"Kenapa?"

"Karena aku sudah berpacaran dengan orang lain!"

Kaiko terperangah. Ia duduk kembali di tempatnya semula dan menunduk. Matanya menerawang. "Kalau begitu Onii-chan tidak punya kesempatan, ya?"

"Kaiko, ada apa?"

"Tidak ada kok, Hatsune-san," sahut Kaiko. Air wajahnya tak seceria sebelumnya. "Hatsune-san, ini kedua kalinya Onii-chan membawa teman wanitanya ke rumah, lho. Dan wanita yang pertama itu pacar Onii-chan."

Ucapan bernada datar Kaiko membuat pipi Miku bersemu. Jadi maksudnya, Kaiko mencurigai Miku merupakan pacar Kaito, begitu? Astaga! Sampai kapan Kaiko baru puas memacu detak jantungnya?

"Nee, Hatsune-san. Setelah kau melihat rumah kami, apa kau merasa jijik dengan kami?"

Miku melotot mendengar pertanyaan Kaiko. "Tentu saja tidak. Kenapa Kaiko bisa berpikir begitu?" tanpa sadar, Miku meninggikan suaranya.

Kaiko tersenyum. Begitu kecil dan getir. "Karena kami miskin," jawabnya. Kemudian melanjutkan, "Sementara Hatsune-san orang kaya. Aku bisa menebak dari penampilanmu."

Napas Miku mendadak berat. Ia menggelengkan kepalanya. Pertama, Miku merasa penampilannya tidak terlalu berlebihan—menor. Penampilannya tergolong biasa, kok. Dan kedua—

"Aku tidak merasa seperti itu. Aku menyukai Kaito dan Kaiko."

Diam sejenak. Miku tersentil kalimatnya sendiri. "Ah, maksudku, bukan suka yang seperti itu. Sukanya itu… ya suka. Tapi…" Tangannya bergoyang kanan dan kiri dengan cepat. Suaranya mulai gemetar. Kaiko tertawa. Melihat Miku yang kebingungan dengan wajah bodoh membuatnya lupa dengan cerita sedihnya sendiri.

"Aku mengerti suka yang Hatsune-san maksud itu suka yang bagaimana."

"Kaiko tidak mengerti!" histeris Miku. Ia ingin menangis saja, deh. Wajar bila Kiyoteru-sensei dengan blak-blakan mengatakan Miku bodoh. Bahkan bocah berusia 13 tahun bisa menggodanya dengan satu kalimat.

"Hatsune-san tahu? Pacar Onii-chan dulu adalah orang yang cantik, baik, pintar, juga berdada besar." Kaiko tiba-tiba bercerita. Dan ceritanya membuat Miku tersindir. "Tapi saat Onii-chan membawa pacarnya ke rumah, dia terkejut melihat rumah kami. Ketika aku mengajaknya bicara, dia marah-marah padaku. Katanya dia tidak mau bicara denganku. Bahkan ia juga berkata tidak mau lagi pacaran Onii-chan karena kami ini miskin."

Kaiko mendongakkan kepalanya dan menatap lurus Miku. "Hatsune-san tahu Shion Nigeito?"

Miku bimbang. Haruskah ia jawab?

"Em, yah, aku tahu." Karena Shion Nigeito adalah rekan kerja Papa Beru—maksud Miku, ayahnya. Beliau adalah seorang direktur dari perusahaan yang kini mengadakan kerja sama dengan ayah Miku.

"Nah, Shion Nigeito itu ayah kami."

Miku membelalakkan matanya. Ini baru informasi. Karena berdasarkan kabar yang Miku dengar, ceritanya cukup berbeda. Shion Zeito, dari almarhum istrinya yang pertama, tidak memiliki keturunan. Karena itulah ia menikah lagi dengan seorang aktris asal China. Kalau tidak salah namanya Luo… Tianyi, mungkin?

"Dua tahun yang lalu, saat ibu meninggal, ayah meninggalkan kami." Pandangan Kaiko tiba-tiba memburam. "Kudengar, ayah akan menikah lagi, ya?"

Sejujurnya Miku tidak ingin menjawab pertanyaan ini. Liquid bening yang tergenang di pelupuk mata Kaiko bisa turun kapan saja. Namun pandangan Kaiko yang begitu ingin tahu membuat Miku bimbang. Bagaimana bila Miku ada pada posisi Kaiko? Tentunya Miku juga ingin tahu bagaimana kabar terbaru dari sang ayah, 'kan?

Miku pun akhirnya mengangguk.

Tangis Kaiko pecah. Apa yang lebih menyakitkan dari mendengar orangtua menikah lagi? Melupakan mendiang istri sebelumnya dan bahkan menelantarkan anak dari pasangan sebelumnya?

"Aduh, Kaiko jangan nangis dong," pinta Miku. "Nanti aku bisa ikut nangis." Kau sudah menangis, Miku. Malah lebih heboh. Satu lagi kelebihan Miku yang cukup merepotkan dirinya sendiri; terlalu mudah iba.

"Hiks," Kaiko menuruti permintaan Miku. Ia menyeka air di sudut matanya dan menegakkan tubuh. "Aku mau ke belakang dulu. Sekalian menjenguk Onii-chan," pamitnya, sebelum beranjak membiarkan Miku menenangkan diri.

..

-oOo-

..

"Onii-chan, kok lama sekali?"

Kaito membalikkan tubuhnya menuju pintu dapur yang terhubung dengan ruang tengah. Di sana berdiri Kaiko dengan mata sembab dan hidung merah. Sekali lihat saja, Kaito tahu bahwa adiknya habis menangis.

"Kau menangis? Kenapa? Apa Miku melakukan sesuatu padamu?" tanyanya cemas. Kaiko menggeleng pelan.

"Tidak. Miku malah baik sekali padaku." Kaito menaikkan kedua alisnya, tidak percaya dengan ucapan sang adik. Namun pada akhirnya, ia menghela napas karena kenyataannya Miku memang baik. Sulit membayangkan Miku akan bicara dengan volume tinggi pada adiknya. Seingatnya, sekitar lima belas menit yang lalu, Kaiko dan Miku sedang terkikik bersama.

"Lalu kenapa kau menangis?"

Kaiko terdiam. Lalu tiba-tiba menggeram. "Onii-chan banyak tanya! Onii-chan tidak perlu mencemaskan aku. Hatsune-san juga nangis tahu!"

"Ha?" Kaito terperangah. Sebenarnya apa yang terjadi selama ia pergi?

Kaiko tiba-tiba mendorong Kaito keluar dari dapur. "Tugas kelompoknya sudah selesai, 'kan? Ini sudah malam. Sebaiknya Onii-chan antarkan Hatsune-san pulang. Sekalian suruh dia berhenti menangis. Biar aku yang melanjutkan cuci piringnya."

Kaito menggaruk kepalanya. Terlalu banyak keanehan. Tapi… ya sudahlah.

..

-oOo-

..

"Aku masih bertanya-tanya apa yang membuat kalian berdua menangis."

Suara Kaito menghilang begitu saja seakan ikut tertiup angin malam. Gadis yang tengah diantarnya pulang kali ini lebih pendiam dari biasanya. Oke, dia habis menangis. Tapi menurut perhitungan Kaito, setelah setengah jam berlalu harusnya Miku sudah kembali ceria.

"Tidak mau bicara, ya?" Kaito memberengut. Miku malah melengos.

"Seperti kata Kaiko, kau itu kepo, ya?" Miku tiba-tiba bicara.

"Seenaknya saja! Aku tidak kepo. Aku hanya heran dengan kalian berdua, Hatsune-san."

"Itu kan kepo, Kaito! Dan lagi, jangan memanggilku Hatsune-san. Sudah kukatakan berkali-kali panggil aku Miku. Kau de-" ucapan Miku terpotong saat kakinya terjegal batu trotoar yang tidak rata.

"Hei! Hati-hati!" Kaito berseru memperingati Miku. Namun si gadis bersurai teal sudah terlanjur jatuh.

"Aduh! Kenapa kau tidak mengatakan kalau jalanan di sini tidak rata?!" omel Miku.

"Maaf, maaf."

Miku mencoba berdiri sambil memberengut kesal. Mengumpat sang trotoar yang tidak rata, juga Kaito. Saat ia telah tegak, pikirannya mengulang kembali percakapannya dengan Kaiko.

"Ka-Kaito?"

"Hm?" gumaman tertahan menjawab. Terdengar tak peduli dan fokus pada hal lain. Mendengar nada rendah itu, Miku jadi urung bertanya.

"Tidak. Tidak ada apa-apa. Hanya ingin memanggil namamu." Lagi-lagi alasan yang aneh. Miku yakin Kaito pasti heran. Namun ia tidak peduli. Hal lain menguasai pikirannya.

Ditinggal ibu di usia 14 tahun. Lalu ditelantarkan ayah kandung sendiri. Hidup melarat dengan seorang adik, sementara sang ayah membangun perusahaan dan menikah lagi… Bila cerita Kaiko adalah benar, Miku sekarang dapat mengerti mengapa Kaito kadang bersikap begitu dingin.

Kata guru, Kaito itu murid yang jenius. Olimpiade sains adalah kegiatan rutinnya tiap tahun. Matematika, fisika, kimia, biologi dan bahasa Inggris adalah keahliannya. Ia mendapatkan beasiswa penuh dan dielu-elukan sebagai murid terbaik sepanjang sekolah ini berdiri. Ia adalah panutan bagi siswa lainnya.

Kata para siswi, Kaito itu tampan dan keren. Seluruh siswi mendambakan Kaito. Sikapnya memang tidak terlalu ramah, namun justru di situlah daya tariknya. Beberapa siswi bahkan tak malu-malu saat mengatakan Kaito adalah suami idaman mereka di masa depan.

Kata para siswa, Kaito itu teman sekaligus rival. Dipuji oleh guru dan dikelilingi oleh para wanita adalah impian tiap murid lelaki. Dan selama Kaito masih berdiri tegak di dunia, mereka tak akan pernah mendapatkannya. Sungguh! Terkadang mereka merasa Kaito benar-benar menyebalkan.

Namun mengesampingkan apa kata orang mengenai Kaito, Miku tahu masih ada hal yang belum mereka ketahui tetapi begitu nyata terlihat.

Kaito itu begitu rapuh.

..

-oOo-

..

Hatsune Mikuo berjalan sedikit menghentak menuju loker sepatu kelas XI. Ia tengah mencari sosok pemuda bersurai biru laut di sana. Dan ia menemukannya sedang berganti sepatu bersama dua orang temannya yang Mikuo kenali bernama Rouro Yuuma dan Megpoid Gumiya.

"Oh, ada Mikuo-senpai!" ujar Gumiya. Yuuma menyambung, "Ohayou!"

Sejujurnya, kadar serotonin Mikuo sudah sangat rendah. Rahangnya mengeras sejak ia memasuki gerbang sekolah. Namun sebisa mungkin, ia membuat wajah yang ramah di depan para kouhai-nya.

"Ohayou, Gumiya-kun, Yuuma-kun!" Mikuo tersenyum lebih lebar pada Kaito. "Kaito mo, Ohayou."

Kaito menatap datar Mikuo. "Ohayou, Senpai."

"Suaramu terdengar lesu sekali, Kaito," ujar Gumiya, merasa heran. "Kau sedang sakit?"

Kaito menggeleng kalem. Melihat Kaito yang menolak untuk bicara lebih banyak, harusnya mereka—Mikuo, Yuuma, dan Gumiya—cukup bicara bertiga saja. Namun kelihatannya ada yang tidak mengerti dengan isyarat tanpa kata-kata sang pemuda ocean blue—atau mungkin begitulah ia mencoba terlihat?

"Hari ini kalian akan mempresentasikan tugas kalian, 'kan?"

Karena tatapan Mikuo tertuju lurus padanya, Kaito tidak bisa mengelak. Ia mengambil napas sebentar lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia menjawab, "Ya. Kiyoteru-sensei pasti akan menyuruh kelompok kami hari ini."

Senyum miring tercipta pada wajah Mikuo. "Berarti, ke depannya nanti kau dan Miku tidak akan mengerjakan tugas bersama lagi 'kan?"

Kaito mengedikkan bahu. "Entahlah." Lepas berkata demikian, kerah seragamnya ditarik oleh Mikuo. Yuuma dan Gumiya menjeritkan nama Mikuo karena terkejut akan ulah sang senpai. Berbanding terbalik dengan kedua temannya yang panik, Kaito justru memasang lebih tebal tampang poker-nya.

"Sebenarnya apa yang ingin kaulakukan, Senpai?"

Mikuo menggeram. Kesal melihat wajah Kaito yang di matanya terlihat tengah meledeknya. "Aku hanya ingin mengingatkan padamu, bahwa aku adalah kekasih Miku sekarang." Dilepaskannya Kaito dengan sedikit melempar. Kepala Kaito membentur loker di belakangnya. Namun ia tidak mengeluhkan rasa sakit. Hanya wajahnya yang memperlihatkan nyeri yang ia rasakan. Gumiya dan Yuuma segera membantu Kaito berdiri.

"Inilah mengapa aku kadang menyesal membiarkan Miku memilihmu."

"Kaito, berhentilah," Gumiya mencoba menghentikan. Detik berikutnya, ia terbeliak. Pun yang lainnya.

"Akhirnya kau mengakuinya." Senyum miring tercipta di wajah Mikuo. Kini ia mendapatkan alasan untuk bertindak lebih lanjut.

Yuuma, setelah lepas dari rasa terkejutnya, menatap tajam pada Mikuo. Suaranya mengancam. "Kurasa sebaiknya Senpai pergi. Aku khawatir bila Senpai terus berada di sini, emosimu akan semakin labil. Aku tidak bertanggung jawab bila terjadi perkelahian, kecuali menjadi saksi bahwa kaulah yang memicu pertama kali."

Berdecak pelan karena tak bisa membalas ucapan Yuuma, Mikuo berjalan pergi setelah mengirim sebuah tatapan membunuh pada Kaito. Sepanjang jalan ia mengumpat. Kesal karena belum puas mengaumkan kekesalan.

"Aku bisa berdiri sendiri."

Ucapan Kaito membuat Yuuma dan Gumiya menjauh dari Kaito. Mereka berdua sama-sama menatap pemuda bersurai biru itu dengan pandangan menyelidik.

"Jadi Kaito," Gumiya adalah yang pertama akan melontarkan pertanyaan. "Kau… menyukai Miku?" tanyanya. Dan Kaito mengangguk, merasa tak ada yang perlu dirahasiakan lagi karena ia sudah mengatakannya secara tidak langsung di depan Mikuo.

"Apa? Sejak kapan? Aku tidak menyangka," ujar Gumiya tak percaya.

Yuuma mengambil posisi bersandar ke loker di belakangnya. "Itu menjelaskan mengapa Mikuo repot-repot memperingatimu. Juga, alasan mengapa kau lesu sekali hari ini." Kaito melengos, menolak untuk memberi komentar saat sepasang iris hijau terang Yuuma menatap wajahnya. "Nee, Kaito. Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Aku tidak berjanji akan menjawabnya."

"Kalau kau menyukai Miku, kenapa kau memperlakukan dia sama seperti gadis lainnya?"

Yuuma tidak mengerti mengapa Kaito tidak memberi perlakukan istimewa pada orang yang disukainya. Bagaimana mungkin Miku akan tahu bahwa Kaito menyukainya? Sebagai teman, Yuuma pun baru menyadari perasaan Kaito setelah yang bersangkutan mengakuinya.

Kaito menoleh ke arah Yuuma dan mendengus. "Kalau kukembalikan pertanyaan itu padamu, bagaimana kau akan menjawabnya?"

Alis Yuuma menukik dan nyaris menyatu. Entah mengapa, ia merasa tengah disinggung. "Maksudmu?"

"Ada gadis yang menyukaimu di kelas dan kau mengetahuinya," kata Kaito. "Aku tak melihat kau membenci gadis itu. Yang terjadi malah sebaliknya. Kurasa kau menyukainya juga. Lalu kenapa kau memperlakukannya sama seperti gadis lain?"

Yuuma tak dapat menjawab. Kaito menghembuskan napas lalu memandang lantai keramik yang monoton. Merasa suasana jadi kian suram, Gumiya berniat mencairkan suasana. Namun belum juga ia membuka mulut, suara cempreng dari seorang gadis yang baru memasuki pintu gedung sekolah menyelanya.

"Gumiya! Yuuma! Kaito! Ohayou!"

Ketiga pria yang dipanggil menoleh. Namun hanya Gumiya yang membalas."Ohayou. Kau terlihat ceria sekali, Miku. Beda sekali dengan teman sekelompokmu," ujarnya blak-blakan. Tak lama setelah bicara, ia mendapat pelototan tajam.

"Hehe!" Miku tertawa renyah. "Aku hanya merasa ada hal baik hari ini."

"Hatsune Miku!" Panggilan dari arah belakang membuat Miku menoleh ke belakang. Di sana berdiri dua orang gadis. Rin dan Ring dengan tampilan yang kini sedikit berbeda. Mereka membungkukkan tubuhnya. "Kami minta maaf!" ucap mereka bersamaan.

Miku dan tiga pria di ruang loker sepatu itu terdiam. "Eh?"

Ring mengibaskan rambutnya yang kini dihias sebuah bandana hitam dengan satu tangan ke belakang. Dua kunciran kecil di sisi kepalanya berkibar. "Kami mau minta maaf padamu, Miku. Juga pada Kaito-kun."

"Tenang saja. Kami tidak akan menganggu kalian lagi. Kami juga sudah tidak bergabung dengan fans klub em… itu lagi." Rin menundukkan kepalanya yang kini juga diberi pita putih yang disimpul diikat atas kepala. Poninya disampirkan ke arah kiri dan dijepit simpel. Membuat lebih mudah bagi keempat anak manusia yang masih juga melongo heran untuk melihat pipinya yang memerah.

Ring mengepalkan tangan di depan dada. "Karena aku adalah satu-satunya rival Rin, maka ketika Rin mengundurkan diri dari fans klub itu, aku juga ikut keluar," jelas Ring, entah untuk apa.

"Miku," Rin mengangkat kepalanya lagi. Tatapannya berkaca-kaca memandang ke arah Miku. "Kau memaafkan kami 'kan?"

Miku menggigit bibir. Tentu saja ia akan memaafkan kedua teman sekelasnya itu. Tapi entah mengapa suaranya sulit keluar. Apa ini karena trauma alam bawah sadar?

"Rin, Ring…" Astaga! Miku mengeluhkan lidahnya yang mendadak kelu. Suasana berubah menjadi tegang secara perlahan. "A-aku-"

"Ohayou, minna-san!"

Batu besar menghantam kepala Miku. Kagamine Len berdiri di ambang pintu dengan senyum lima jari. Di sebelahnya ada Lui yang juga tersenyum lebar. Apa tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa mereka baru saja berbuat kesalahan?

"Lho? Lho?" Len dan Lui yang baru menyadari ada awan tebal menyelimuti ruang loker sepatu terheran. Yah, saat itu semua yang ada di sana memang sedang kelabu karena kedatangan Len dan Lui yang merusak suasana. Kecuali…

"Ohayou, Len-kun!"

—Himekaga Rin.

"Uwa!" Len melompat mundur ke belakang. "Siapa kau?!"

Rin menyeka air mata imajiner di sudut matanya. "Kau tidak mengingatku? Ini aku, Rin," ujar Rin, mendramatisir keadaan. Ia kemudian berjalan maju dengan cepat menuju ke arah Len dan menunjuk pita putih di kepalanya. "Sesuai dengan saranmu, hari ini memakai bando. Tapi karena aku jelek kalau tidak pakai poni, jadi aku menjepitnya saja. Bagaimana? Apa aku terlihat lebih cantik?"

Suasana sempat hening untuk beberapa saat sampai kemudian Lui merongrong. Ia berkata, "AKU TIDAK MENGERTI!" Mungkin lebih tepat disebut menjerit. "Len, bisa kau jelaskan apa yang sedang terjadi padaku? Mengapa kalian terlihat dekat begini? Apa kau memiliki-"

Telunjuk Len berdiri tegak di depan mulut Lui, membuat pemuda ini terdiam. Lui dapat melihat ada keringat mengucur di pelipis Len. Lui juga dapat melihat tubuh Len gemetar. Bahkan bibir pemuda yang telah menjadi teman dekatnya karena persamaan nasib sering dihina "shota" itu pun bergetar.

"Percayalah padaku," ujar Len."Aku juga tidak mengerti."

Ringkasnya, hari ini, Kagamine Rin dan Suzune Ring yang diskors karena melakukan pem-bully-an telah datang kembali ke sekolah berkat Kiyoteru yang ngotot bicara ke kepala sekolah bahsa ia ingin kedua anak didiknya hadir saat presentasi—Oke, sedikit tidak nyambung pada paragraf ini. Tapi biarlah.

..

-oOo-

..

Suara tepukan tangan bergema dalam ruang kelas XI-B setelah presentasi Miku mengenai Perbedaan Sistem Indera Antara Pria dan Wanita selesai. Bisa dikatakan, presentasinya kali ini sangat baik untuk orang yang tidak pintar di kelas—Kiyoteru mengatakannya dengan blak-blakan. Yah, meskipun dalam sesi tanya-jawab, Miku masih harus mendapat bantuan dari Kaito sih. Ngomong-ngomong mengenai Kaito….

Masih di muka kelas, hati Miku mencelos saat pandangannya teralih pada makalah yang kini tercantum tanda tangan Kiyoteru-sensei, pertanda bahwa tugas kelompok mereka telah dinyatakan selesai. Dan secara otomatis, kelompok 10 pun sudah tidak ada lagi.

"Nah, Hatsune-san, silakan kembali ke bangkumu. Kelompok selanjutnya, ayo cepat maju."

Miku berjalan setengah terseret menuju bangkunya. Anehnya, meski mendapat pujian dari Kiyoteru-sensei, Miku tak merasa bahagia. Ia justru merasa sedih. Tidak hanya sedih. Tapi juga… kehilangan.

Di bangkunya, Miku menekuk wajah. Ia tidak mau seperti ini. Saat Kiyoteru-sensei tengah memerhatikan presentasi penuh cinta yang dilakukan oleh Kamui Gakupo (urutan maju diacak lagi), Miku membalikkan tubuhnya ke belakang, menghadap ke Kaito yang konsentrasinya langsung buyar saat iris biru pirus di hadapannya menajam.

"Ada apa?" tanyanya.

"Presentasinya sudah selesai."

Alis Kaito naik sebelah. Ia tidak mengerti. "Lalu?"

"Meski sudah bukan satu kelompok lagi, boleh aku tetap berteman dengan Kaito?"

Mata biru gelap Kaito membesar. Pipinya memanas. Karena dulu ia dan Miku bahkan tidak pernah bertegur sapa, maka ketika Miku meminta sebuah hubungan Kaito jadi merasa malu. Bahkan bila itu hanya sebatas teman. Bagaimana ia harus membalasnya?

"Pertanyaan konyol. Bukannya semua yang ada di kelas ini adalah temanmu?"

..

-oOo-

..


A/N : Maaf telat update. Karena hari sibuk saya yang bergeser, kelihatannya saya bisa update di hari Jumat/Sabtu atau malah Minggu pagi.

Untuk Kanagawa Family-san : Senang melihat kalian lagi#meski tanpa login#. Hehe, ini sudah lanjut#walau telat#. Terima kasih sudah review.

Untuk Kokonose Hanoko-san : Kyaaaaa!#ikutan teriak# Saya yang bikin aja deg-degan. Maaf update-nya telat. Terima kasih sudah review.

Untuk mikicnc-san : Hoh, pantes. Internet positif memang menyebalkan#gigit buku##buat apa?# Haha. Terima kasih review dan semangatnya.

Dan terakhir, untuk kurohime-san : Benarkah? Wah, terima kasih pujiannya. Hehe, dan maaf untuk penggunaan tokoh yang terlalu banyak. Sebagai Author, saya sendiri juga sering lupa. #bisik-bisik# chapter kemarin, saya salah menuliskan Lui jadi Piko. Tapi sepertinya tidak ada yang sadar ya? Haha! #ngapain ketawa?# Ini sudah update. Terima kasih review-nya!

Yosh! Ngomong-ngomong, untuk kesalahan nama Lui dan Piko, (baru saja) sudah saya perbaiki kok. Nah, sampai ketemu di Bagian Sembilan yang belum saya tentukan judul sub-babnya.