Tak seperti pagi lainnya, Kaito yang biasanya sibuk berpacaran dengan buku berjudul I Love Fisika atau Chemistry is My Soul kini duduk berhadapan dengan Miku. Sesekali bertatapan, sesekali bicara, dan sesekali—ini yang paling sulit untuk dipercaya—bercanda.

"Kaito hari ini beda ya?"

Sudah tiga kali Kaito mendengar celotehan ini. Terganggu sih. Tapi setiap kali netra biru lautnya menatap wajah pemilik surai teal, Kaito jadi tak peduli.

"Kaito, kau mendengarkan aku, 'kan?"

Kaito berkedip. Menghentikan hipnotis yang mengikatnya. Posisi duduknya diperbaiki agar lebih nyaman. Tapi diperhatikan oleh Miku tetap saja membuatnya gelisah. "Ya, aku mendengarmu," suaranya diusahakan terdengar sedatar mungkin.

Dalam keadaan seperti ini, Kaito bersyukur juga. Terima kasih Tuhan, Kau buat Miku bodoh sehingga tidak menyadari kegugupan Kaito.

"Oh, baguslah kalau begitu. Nah, sampai di mana tadi aku bicara?"

"Kau tersesat di game center." Terakhir yang Kaito dengar sih, sampai di sana. Kalau yang terakhir diucapkan oleh Miku, Kaito tidak ingat karena pikirannya terlanjur melayang.

"Nah, saat itu Mikuo-nii yang menemukan aku." Jantung Kaito bergejolak di sini. Dan Miku tentu saja tak akan menyadarinya. "Kau tahu, ia nyaris menangis begitu melihatku."

Kaito tertawa hambar sebagai respon. Sekali lagi, ada celotehan di belakangnya yang terdengar. Apa tak ada seorang pun yang tahu bahwa ia kini mulai bosan? Suara bel kemudian berbunyi. Namun bukan menandakan jam pelajaran pertama dimulai, melainkan jam pulang. Suara ketua OSIS, Suiga Sora dari kelas XI-A, terdengar kemudian.

"Karena urusan dinas yang mengharuskan semua guru tidak bisa mengajar, maka hari ini kegiatan sekolah ditiadakan. Para murid dipersilakan untuk pulang sekarang."

Seluruh penghuni kelas XI-B bersorak mendengar pengumuman tersebut. Kecuali Kaito yang sedang kalian-tahulah dan Piko yang (lagi-lagi) tidur. Len adalah yang paling heboh. Ia berlari ke muka kelas dan berteriak, mengalahkan suara keras speaker OSIS yang mengulang pengumuman dari Suiga Sora.

"Teman-teman, dari pada kita melamun tidak jelas di rumah, bagaimana kalau kita karaoke saja?!"

Setengah dari penghuni kelas mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke atas. Koor kompak terdengar. "Setuju!"

"Oi, Shouta! Kau mencuri ideku, ya? Aku 'kan mau mengajak karaoke juga!"

"Oi, siapa yang shouta di sini, ha?! Lagipula, ide ini murni dari kepalaku."

"Sudahlah." Yohio melerai, malas juga sebenarnya. Tapi ini kewajibannya. "Bukannya lebih baik kita bahas karaokenya dulu?"

Lui kali ini bertindak lebih cepat untuk mengumpulkan perhatian. Ia berdiri dan menepuk tangannya dua kali. Saat semua kepala menghadap ke arahnya ia berkata, "Yohio benar! Jadi siapa yang mau ikut?"

Rin mengangkat tangannya dengan semangat. "Aku!"

Ring pun tak mau kalah. "Aku!" Ia bahkan mengangkat tangan orang yang duduk di sekitarnya, Ring dan Sweet Ann.

"Eh?" Sweet Ann nyaris memekik. "Aku tidak mau ikut!" protesnya. "Aku harus belajar di rumah setelah ini!"

"Aku juga." Piko ikut bicara. Seisi kelas memandang Piko skeptis. Tatapan diam mereka seolah bertanya, "memang kau belajar?" Piko hanya terkekeh. "Kalau aku, sih, karena mau tidur lagi di rumah." Sekelas langsung depresi.

Colekan di lengan atas Kaito membuat pemuda itu mengalihkan pandangannya ke arah kiri. Tak ada siapapun di sana. Kaito menoleh ke arah sebaliknya dan lengan berotot milik Leon mampir dan bersandar di pundaknya. Wajah Leon yang tersenyum, entah mengapa mengundang firasat tak nyaman dalam benak Kaito.

"Kau ikut tidak?" tanya pemuda itu.

"Tidak," jawab Kaito cepat dan lugas.

Leon menggeleng-gelengkan kepalanya. Prihatin. "Hei, Bro! Sekali-sekali nikmatilah hidupmu seperti aku."

"Aku akan jadi sampah bila mengikuti cara hidupmu," sahut Kaito, sarkastik.

Leon akhirnya menyerah membujuk Kaito. Ia melepaskan diri dan kembali pada rombongan sesat buatan Len dan Lui yang terdiri dari Yohio, SeeU, Rin, Ring, Al, Gakupo, Luka, dan Leon sendiri. Berjalan meniti kebahagiaan menuju tempat karaoke. Dasar!

Saat penghuni kelas tinggal setengah, Hatsune Mikuo datang. Bagai takdir, kemunculannya di ambang pintu tepat berbarengan dengan saat Miku hendak membuka pintu. Jadilah mereka berhadap-hadapan sekarang.

"Eh? Mikuo-nii?"

Mikuo hanya tersenyum lebar. Lengan kanannya ditekuk. "Pulang?"

Salah satu hobi Miku adalah menonton drama. Berdasarkan film drama tentang kerajaan yang ia tonton, ia mengerti bahwa Mikuo ingin ia menyelipkan tangannya di lengan Mikuo sehingga mereka bisa berjalan sambil bergandengan tangan. Pipi Miku memanas membayangkannya. Ia tidak mau!

"Gomen, Mikuo-nii! Aku tidak langsung pulang hari ini. Aku mau ke tempat karaoke bersama teman-teman!"

Alis Mikuo terangkat. Miku berdebar karena takut ketahuan berdusta. Entah tubuhnya dirasuki kekuatan dari mana hingga ia berbalik, berlari menuju sosok Kaito yang sedang memasukkan buku ke dalam tas, dan menariknya.

"Oi! Apa yang kau-"

"Nee, Mikuo-nii, aku pergi dulu ya!"


oOo

BAGIAN SEMBILAN

-Take Cover-

oOo


Kepala Kaito berdenyut memikirkan banyak hal. Ya, banyak hal. Dimulai dari mengapa Miku menarik dan mengajaknya berlari? Bukannya menuju tempat karaoke seperti ucapannya pada Mikuo tapi justru menuju sebuah jalan yang entah akan mengarah ke mana.

Berhubung sang tersangka—Miku—sedang kelebihan asam laktat, Kaito memutuskan untuk membiarkan gadis itu beristirahat di bangku halte bus yang kosong sementara ia membeli minuman kaleng di sebuah mesin penjual minuman.

"Terima kasih," ucap Miku kala menerima sekaleng minuman berperisa melon.

"Hm," respon Kaito, tak tersampaikan dengan jelas karena sedang meneguk minumannya sendiri. Namun persetanlah! "Jadi, bisa kau jelaskan sekarang?" tanyanya begitu selesai membasahikan kerongkongan.

Miku, seusai minum, menarik napas cepat dan pendek berkali-kali. Ia masih lelah. Lututnya pun masih lemas. Ditatapnya Kaito yang telah duduk berkelang satu kursi darinya. Napasnya lancar dan tak ada titik keringat di pelipis, seperti tidak ada tanda bahwa mereka baru saja berlari sejauh 30 meter—atau 30 meter itu hanya perasaan Miku saja?

"Kalau tidak berlari, nanti Mikuo-nii bisa mengejar kita."

Bukan jawaban itu yang Kaito butuhkan!

Gerakan menjitak menyertai pertanyaan Kaito. "Maksudku kenapa kau mengajakku kemari, Baka!"

"Ittai!" Miku meringis. Tangan kirinya yang tak memegang kaleng minuman bergerak untuk mengusap dahinya yang malang. Ia menatap sengit pada Kaito. "Aku melakukannya secara refleks, kok!"

Itu tidak bohong. Sungguh! Namun Kaito menolak alasan tidak rasional semacam itu. "Jadi kau mau mengatakan kalau kau menarikku dan membawaku kemari secara tidak sengaja?"

Miku mengangguk. Kaito meremas kepalanya frustasi. Seharusnya ia ingat; alasan Miku tidak ada yang cukup logis. Sejak dulu!

Entah mengapa, beberapa menit ke depan suasana membeku. Sebuah bus berhenti di depan mereka, namun karena tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak, sang supir menginjak pedal gasnya kembali. Miku menunduk. Menatap kakinya yang saling menindih. Sedang Kaito, berusaha mencari tahu jawaban dari pertanyaan lain yang berputar dalam kepalanya. Sayang sekali, jawaban penentunya ada di kepala orang lain—kepala si rambut teal.

"Nee, Miku?" Yang bersangkutan menolehkan kepalanya ke arah Kaito. "Apa kau melakukan ini karena ingin menghindari Mikuo-senpai?"

Mata Miku mengerjap. Jiwanya seakan lenyap sesaat. Menghindari. Kenapa kata itu terasa begitu berefek?

"Apa maksudmu… menghindari?"

Kaito yang tadinya bersandar di bangku, merubah posisi menjadi sedikit membungkuk dengan kedua tangan bertumpu di atas paha. "Menghindari ya menghindari. Seperti kau tidak ingin bertemu dengannya." Sedetik kemudian, ia merasa bodoh telah menjelaskan definisi "menghindari" pada Miku. Memang apa yang asing dari kata tersebut?

Miku tiba-tiba menghadapkan tubuh pada Kaito. "Apa menurutmu aku menghindari Mikuo-nii, Kaito?"

Awalnya, Kaito hanya menaikkan alis dan menatap Miku dalam diam. Kemudian ia menghela napas dan menjawab kalem. "Yang dapat menjawabnya tentu dirimu sendiri, Miku. Bukan aku."

Miku menghembuskan napas kesal. Ia tidak suka dengan jawaban Kaito. Namun harus Miku akui, saat ia mengingat kembali bagaimana ia mencari-cari alasan agar tidak pulang bersama Mikuo, ia memang dalam fase tersebut; menghindari. Ia tidak ingin berjalan bersama dengan Mikuo.

"Kaito benar. Sepertinya aku memang sedang menghindari Mikuo-nii." Kehampaan terefleksi dalam iris biru pirusnya saat ia menatap bumi. "Entah mengapa, aku merasa tidak nyaman bersama Mikuo."

Kaito melebarkan mata. Pipinya memerah. Miku menghindari Mikuo karena ia merasa tidak nyaman bersama sepupu—ralat: kekasihnya tersebut. Mengingat keadaan Miku saat ini bila dihubungkan dengan teori tersebut, maka…

Bolehkah Kaito membuat sebuah konklusi?

"Berarti, karena saat ini kau sedang bersama denganku—tidak menghindariku—kau merasa nyaman denganku, benar?" Astaga! Pipi Kaito memerah luar biasa. Ia mengucapkannya!

"Eh? Apa menurutmu begitu?" Ekspresi yang ditawarkan Miku justru mematahkan harapan Kaito. Gadis itu bingung bak orang bodoh. Kenyataannya, Miku memang tergolong murid kurang pandai di kelas.

"Lupakan saja kata-kataku tadi," sahut Kaito sambil berdiri. Ia merasa percakapan ini tidak ada gunanya. Lebih baik ia menghabiskan satu jamnya dengan belajar, bukan menemani Miku yang dirundung gelisah.

"Mou, Kaito!" Miku yang menyadari dirinya ditinggal, berusaha mengejar Kaito. "Kau mau ke mana?"

"Pulang."

"Ha? Tapi kita sudah terlanjur ke sini."

"Hm?"

"Jangan menbalas ucapanku dengan dengungan, Kaito. Kau tahu aku tidak akan mengerti maksudnya."

Kaito buru-buru berbalik dan menatap ke wajah Miku. "Apa maumu?!" bentaknya. Miku terkejut bukan main. Menyadari kesalahannya saat Miku menampilkan mata berkaca-kaca hendak menangis, Kaito menampar inner-nya sendiri.

"Miku, maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu."

Miku mengusap pelupuk matanya yang tergenang. Juga berkedip beberapa kali agar air mata baru tak mengangkat wajah, lalu tersenyum—terlihat jelas—dipaksakan. "Hehe." Bahkan tawanya pun hambar. "Iya. Aku tahu kok," ucapnya, berbohong. Dan mudah saja bagi Kaito untuk menemukan kebohongan tersebut.

"Ah! Aku ingat," seru Kaito tiba-tiba. "Kalau tidak salah, ada toko kue di dekat sini. Kau mau menemaniku ke sana? Aku mau membelikan beberapa untuk Kaiko." Sekali lagi, Kaito menampar inner-nya.

"Toko kue?" Miku terdiam sebentar. Lalu, matanya bersinar antusias. "Aku mau!"

Langkah per langkah. Miku berjalan riang beriringan dengan Kaito, sambil kakinya menapaki satu per satu batu ubin gelap yang bersusun di sepanjang trotoar. Ajakan Kaito membuatnya kembali gembira. Dan Kaito tak peduli apapun lagi setelah Miku kembali tertawa riang.

.

oOo

.

Kagane Rinto, 17 tahun, sedang berkencan dengan wanita yang bukan kekasihnya. Dengan kata lain, selingkuhannya. Lily namanya, mahasiswi jurusan psikologi tahun kedua.

Rinto memang dikenal playboy. Dan sebagai tambahan, ia menyukai wanita yang lebih tua darinya. Tapi sekalipun mendapat cap playboy yang melekat abadi, sebenarnya Rinto sudah memilih satu wanita untuk menjadi pendamping hidupnya. Dan wanita itu adalah saudara sepupunya sendiri, Kagane Lenka, 20 tahun yang sayang sekali tidak memiliki perasaan khusus apapun pada Rinto.

"Rinto, aku ke toilet sebentar ya?" Sehabis berciuman—ya, Rinto dan Lily sempat berciuman—Rinto jelas tahu mengapa wanitanya meminta izin ke toilet. Jadi ia tersenyum saja dan menganggukkan kepala.

Terbebas dari Lily yang bergelayut manja di lengannya, Rinto duduk di bawah pohon terdekat. Ia menatap sekeliling dengan pandangan bosan. Matahari yang disembunyikan awan, daun yang berangsur rontok, dan orang-orang yang mulai berpakain tebal. Dalam hati, Rinto mengeluh. Apa serunya musim gugur? Ia semakin kesulitan melihat paha-paha mulus para siswi karena suhu mulai menurun. Bagaimana musim dingin nanti?!

Sebuah pemandangan janggal mengembalikan Rinto ke realita. Di ujung jalan, ia bisa melihat dua orang murid berpakaian seragam sekolah yang sama dengannya sedang duduk di dalam halte bus. Seorang pria dengan rambut biru gelap dan seorang lagi wanita dengan surai teal berkuncir ganda.

"Kaito dan Miku?" gumamnya bertanya. "Apa yang sedang mereka lakukan? Mengerjakan tugas dari Kiyoteru-sensei lagi?"

Rinto hendak berdiri, ingin menyapa keduanya. Namun sebuah pemikiran membuat ia batal mewujudkan niatnya dan justru bergerak sembunyi di balik pohon.

"Tidak! Seingatku tugas mereka sudah dikumpul di hari setelah mereka berjalan malam bersama." Ia mencoba menerka kemungkinan lain. Tiba-tiba matanya terbeliak. "Masaka! Jangan katakan mereka... sedang berkencan?"

Rinto menggeleng ngeri dengan pemikirannya sendiri. Pasalnya, Miku itu milik Mikuo. Dan ia percaya Miku tidak cukup brengsek seperti dirinya yang hobi berselingkuh agar bisa melupakan sakit hati . Begitu fokusnya ia pada pikirannya, ia bahkan tidak menyadari bahwa Lily sudah berdiri di dekatnya.

"Rinto sayang, kau kenapa? Kau terlihat pucat."

"… Aku harus mengikuti mereka."

"Ha?" sentakan keras diterima Lily. Berikutnya ia sudah diseret sang kekasih. "Uwaa! Kita mau ke mana, Rinto?"

.

oOo

.

Esok harinya, Miku yang hanya perlu menaiki tangga menuju lantai dua agar dapat sampai ke kelas berjengit ngeri. Sepanjang jalan, ia terlalu banyak melamunkan hal yang tidak jelas sehingga baru menyadari keberadaan Mikuo di belokan tangga. Buru-buru ia kembali ke ruang loker. Na'asnya, ia justru menabrak seseorang ketika berbalik.

"Aduh!"

Miku yang tengah memegangi kepala bagian depannya terbelalak. Ia kenal suara yang tengah mengekspresikan rasa sakit tersebut. Matanya lalu menemukan sosok pemuda bersurai biru yang tengah memegangi bahunya. Itu Kaito! Dan sepertinya, Miku baru saja menghantamkan kepalanya pada bahu pemuda itu.

"Apa yang kaulakukan, Miku? Berjalan sambil menutup mata?!"

Miku membelalakkan mata. Terkejut dengan volume suara Kaito yang tumben keras. Kepalanya menderingkan alarm bahaya. Bila Kaito bicara lebih banyak dengan suara menggelegar seperti ini, Mikuo pun bisa mendengarnya dan rencana bersembunyinya hingga bel masuk berbunyi berakhir sia-sia. Jadi buru-buru diajaknya sang pemuda lari bersamanya menuju ruang loker sepatu.

"Sstt!" suara berbisik dan isyarat telunjuk di bibir diterima oleh Kaito. Ia mengerti. Namun tetap saja ia butuh penjelasan.

"Ada apa?" tanyanya lirih.

Miku menggerakkan telunjuk ke belakang, menuju ke arah kelasnya. "Ada Mikuo-nii di kelas. Aku tidak mau bertemu dengannya."

"Kenapa tidak mau bertemu denganku?" suara lain menginterupsi.

Miku terbeliak. Kaito pun demikian. O,ow! Mikuo kini tengah berdiri angkuh di belakang mereka.

"Miku, kita harus bicara!" kata Mikuo.

Suara tegas Mikuo membuat Miku bergidik. Jatungnya berdegup keras. Dari balik poninya, Miku mengirim telepati melalui mata pada Kaito. Meminta pertolongan. Bawa aku lari! Aku tidak mau ada di sini!

Sayangnya, Kaito hanya diam. Semua berkat pelototan Mikuo yang dengan jelas mengatakan, diam di sana dan jangan ikut campur!

"Ayo Miku!"

Miku meringis saat pergelangan tangannya dicengkram Mikuo. Terlebih saat ia ditarik paksa oleh Mikuo. Bel masuk berbunyi, namun Mikuo tak terlihat memiliki niat untuk menunda percakapannya dengan Miku. Untuk pertama kalinya, sang mantan ketua OSIS yang dikenal tegas dan patuh aturan, membolos kelas.

.

oOo

.

Sampailah kedua Hatsune yang sedang dalam status berpacaran ke ruang OSIS yang kosong. Miku didorong untuk duduk di sofa sementara Mikuo tetap berdiri di hadapannya.

"Jawab!" titahnya. "Apa benar kemarin kau dan Kaito berkencan?"

Mata Miku membulat sempurna. Tanpa keraguan ia menjawab, "Tentu saja tidak!" namun kemudian suaranya mencicit. "Kemarin aku hanya… berjalan sebentar dengannya."

Mata Mikuo memicing. Tak suka pada wajah Miku yang sedikit merona saat menjeda kalimatnya. "Tidak diragukan lagi. Kau berkencan dengannya."

"Tidak!" pekik Miku. Tak terima.

"Lalu kausebut apa acara kalian kemarin?!" Mikuo murka. Miku menunduk ketakutan. Namun Mikuo belum berhenti sampai di sana. "Hanya berjalan sebentar? Apa yang Jum'at malam itu juga hanya berjalan sebentar?"

Temperatur darah yang mengalir dalam nadi Miku terasa menurun drastis. Ketakutan menjeratnya. "Darimana Mikuo-nii tahu aku dan Kaito…"

"Seseorang," sela Mikuo, misterius. "Itu bukan sekadar berjalan sebentar, Miku. Kalian menghabiskan dua jam bersama dengan berjalan bersisian dan masuk ke toko roti! Saat keluar dari toko roti kalian bahkan bergandengan tangan."

Oke. Miku tak akan pernah bisa menyangkal fakta ini. Saat itu ia memang bergandengan tangan dengan Kaito. Tapi semua mereka lakukan tanpa motif tersembunyi. Ketika di dalam toko Miku kembali ditimpa nasib sial dan tergelincir di lantai yang baru dipel. Kakinya keseleo dan ia menjatuhkan beberapa kue yang ada di nampan saat menggapai pegangan. Alhasil, ia harus berjalan dibantu Kaito dan membeli semua kue yang ia jatuhkan.

"Kau dan Kaito juga terlihat senang saat itu. Sesekali berdebat! Sesekali tertawa! Sesekali saling mengejek." Ini juga tidak akan bisa Miku sangkal. Kaito menghiburnya, dan ia merespon. Itu saja. Tidak salah 'kan? Ngomong-ngomong, dari mana Mikuo mengetahui ini semua, sih?!

"Kau terlihat begitu bahagia berkencan dengannya! Tapi kenapa kau tidak pernah terlihat bahagia bila berkencan denganku?"

Miku terperangah. Ditatapnya Mikuo yang menggigit bibir bawahnya, terlihat menahan sesuatu. Pundaknya yang biasa tegap, kali ini terlihat lemas. Oh, Miku mengerti sekarang. Seulas senyum menghias wajahnya. Ada yang sedang cemburu di sini.

"Mikuo-nii tak perlu khawatir. Aku dan Kaito-"

Tangan Mikuo terangkat dan menyentuh pundak Miku, menghentikan suara Miku dengan gerakannya. Miku bingung, tentu saja. Namun kebingungannya terjawab saat Mikuo kembali bicara.

"Sejak awal, aku tahu bahwa kau tidak pernah mencintaiku. Kukira, seiring berjalannya waktu, aku bisa membuatmu merasakan itu. Tapi sekarang aku mengerti. Bukan aku yang bisa membuatmu merasakannya." Mikuo mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke mata yang beriris sama dengannya. "Kapanpun, aku siap kauputuskan."

Jantung Miku serasa berhenti berdetak saat itu juga. Ia merasa lemah saat Mikuo melepaskan pegangan di bahu mungilnya. Rasa bersalah menghantuinya. "Aku tidak mau putus dengan Mikuo-nii."

Pria yang secara fisik amat mirip dengan Miku itu hanya tersenyum kecil. "Kalau begitu jauhi Kaito," suaranya terdengar pelan dan putus asa.

Miku menggeleng. Hatinya dihujam tombak baja. "Aku juga tidak mau menjauhi Kaito."

Senyum Mikuo kembali luntur. "Kau tidak bisa seperti ini. Pada akhirnya, kau harus memilih salah satu dari kami." Ia berangsur mundur. "Aku tunggu keputusanmu."

Detik berlalu, Mikuo yang tak mendapat sahutan dari Miku memutuskan untuk keluar dari ruang tersebut setelah menyuruhnya segera masuk ke dalam kelas. Mikuo tak pernah tahu, betapa tidak pandainya Miku dalam memilih keputusan.

.

oOo

.

Dua pelajaran terlewati. Miku tak menuruti perintah Mikuo dengan masuk ke dalam kelas dan mengejar pelajaran. Gadis bersurai teal ini lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di atas atap dengan merenung. Bel istirahat telah berbunyi. Dan orang yang paling dirugikan oleh tingkah Miku adalah Shion Kaito.

"Shit! Jadi dia dibawa Mikuo-senpai pergi, begitu?" Gebrakan meja mengiringi suara Luka.

"Brengsek!" Yang ini suara IA. Ia menarik kerah seragam Kaito dan menuding hidungnya. "Kenapa kau tidak mengikuti mereka, sih?!"

"Arrghhh!" Kembali pada suara Luka. "Saking cemasnya, aku sampai tidak bisa berpikir lagi! Ini semua karenamu, Kaito!"

Lalu, bagaimana Kaito meresponnya?

"Daripada mengoceh tidak jelas di depanku, bukankah lebih baik kalian keluar dan mencarinya?" Ia, dengan mudahnya, melontarkan kalimat pedas dengan nada suara tidak peduli. Membarakan emosi yang telah ada

Gakupo dan Gumiya yang berdiri di belakang kedua gadis yang tengah mengamuk itu menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri, meminta Kaito untuk jangan bicara lagi. Kaito menurut—tidak bicara lagi. Ia memilih untuk langsung menepis tangan IA di kerah seragamnya lalu berjalan keluar kelas.

"Lu-Luka, sebaiknya kau tenangkan dirimu dulu." Gakupo bicara dengan suara bergetar. Luka mendecakkan lidahnya sebal. Namun menuruti keinginan Gakupo dengan duduk di bangku Kaito yang kini kosong.

Gumiya, yang terseret dalam masalah ini karena Gakupo menariknya memilih untuk segera pergi. Toh Kaito juga sudah keluar.

"Aku… pergi dulu, ya?"

Gakupo buru-buru menahan lengan seragam Gumiya. "Jangan…" Ia bisa mati menghadapi dua macam liar ini—Luka dan IA—sendirian. Air mata Gakupo mengalir setetes.

IA tiba-tiba menendang kursi yang ada di dekat kakinya. Gakupo dan Gumiya berjengit kaget. "Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini!" serunya.

Luka berdiri lagi. "Kau benar, Aria! Percuma saja kita tetap di dalam sini! Ayo kita cari Miku di luar!"

Tanpa menghiraukan Gakupo yang melarang mereka pergi sebelum menghilangkan wajah beringas mereka, Luka dan IA beranjak menuju pintu kelas dan membukanya. Saat itu pula iris keduanya bersirobok dengan iris hijau gelap gadis bersurai teal yang berdiri lemas di muka pintu. Amarah menguap. Berganti kelegaan yang perlahan berubah menjadi rasa heran.

"Miku? Kenapa kau menangis?"

.

oOo

.

Berdiri di jendela yang menghadap ke lapangan sekolah, Kaito mendecakkan lidah. Ia baru saja dari kantin dan tengah memadu kasih dengan semangkuk kecil es krim rasa vanilla. Meski dinginnya es krim sudah melumer di kerongkongannya, hatinya tetap panas. Begitu pula dengan kepalanya.

"Shit! Memang mereka ke mana sih?! Pergi sampai bolos dua pelajaran!"

Bohong bila Kaito tidak cemas. Dan brengseknya, Luka dan IA tidak menyadari hal ini. Kedua wanita itu malah menuntutnya sebagai tersangka yang patut dieksekusi hari ini—saat ini. Padahal yang harusnya mereka lakukan cukup mencari Miku.

Ngomong-ngomong, bukannya Kaito juga tidak mencari Miku?

"Kaito?" Telinga Kaito menangkap suara Piko yang malas di ujung koridor. Berikutnya, suara Ritsu ikut menyerukan namanya. Kaito menghadapkan tubuhnya ke sumber suara. Terlihat Piko tengah membawa tumpukan buku tugas kelas mereka, sementara Ritsu asyik makan roti rasa melon. Bisa Kaito tebak, awalnya Ritsu diminta tolong oleh guru untuk membawa buku tersebut ke kelas, tapi yang bersangkutan memilih melimpahkan tugasnya pada Piko. Jadilah seperti sekarang!

"Ada apa, Kaito? Kok murung?" Dan di hidupnya yang mampu membuat Kaito geleng-geleng prihatin, Piko masih mengkhawatirkan Kaito.

"Aku tidak murung," sangkal Kaito, datar.

"Kau itu murung, BaKaito!" Ritsu mendukung Piko. Tangannya menuding Kaito. "Percuma bersikap sok keren saat ini. Wajahmu jelas-jelas melankolis begitu. Sudah, jangan mengelak kau!"

Kaito mengalihkan iris mata blue ocean miliknya. Malas sekali melihat Ritsu. "Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit mendapat masalah."

"Hohoho!" Ritsu malah tertawa keras. Membuat Kaito merasa dihina. "Shion Kaito punya masalah? Masalah apa sih yang membuat siswa panutan nomor satu di sekolah hingga kepala sekolah berniat menikah-mudakan putrinya sememelas ini? Katakan. Katakan!"

Piko yang menyadari bahwa urat Kaito sudah ada yang putus segera menengahi. Ia tahu, bicara pada Kaito hanya akan percuma. Jadi ia memilih untuk bicara pada Ritsu saja.

"Maaf, Ritsu. Kurasa kita sebaiknya mengantar buku ini secepatnya ke kelas. Jaa nee, Kaito."

Akhirnya! Berlalulah dua hama dalam kehidupan Kaito tersebut. Kaito mematung. Kemudian meremas kepalanya dengan kesal. Kenapa ia stres sendiri sih? Ini 'kan salah Miku!

Berhubung bel masuk sebentar lagi akan segera berbunyi, Kaito putuskan untuk melangkah kembali menuju kelas. Semoga saja Miku tidak membolos lagi. Bila gadis itu bolos lagi, maka ia akan jadi bulan-bulanan Luka dan IA lagi. Itu bisa merepotkan!

Oke. Itu bohong. Kaito berubah menjadi pembohong besar sekarang. Hebat!

Bila Miku membolos lagi maka Kaito akan dirundung gelisah. Siapa yang mau gelisah? Kaito, sih tidak mau. Dan bila ia terjangkit penyakit hati itu, ia pasti akan terpaksa mencari Miku, dan kemungkinannya bisa sampai keliling sekolah. Mengertikah gadis itu bahwa Kaito khawatir padanya?

Tanpa terasa Kaito sudah hampir mencapai pintu kelas. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti saat mendengar suara tangis Miku terdengar dari dalam. Diselingi oleh suara Luka dan IA yang mencoba menenangkannya.

"Mikuo-nii minta putus."

Leher Kaito terasa dicekik. Ia kesulitan bernapas. Sekalipun ini berita yang cukup menggembirakan bagi Kaito, kenyataan bahwa Miku menangis membuat Kaito tidak rela. Jadi Miku tidak mau putus, begitu?

"Jadi kau tidak mau putus dengan Mikuo-senpai?" Pertanyaan dalam kepala Kaito diucap langsung oleh Luka.

Kaito tak bisa mendengar jawaban Miku. Kemungkinan besar, Miku menggunakan bahasa tubuh. Kalau bukan mengangguk, berarti menggeleng. Pertanyaannya, Miku melakukan yang mana?

Ajaibnya, pertanyaan Kaito langsung terjawab menggunakan kata-kata oleh IA.

"Begitu. Aku mengerti kalau kau tidak mau putus dengan Mikuo-nii. Kalau jadi kamu, aku pun akan begitu."

Senyum lemah terukir di wajah Kaito. Sekarang, kakinya jadi terasa lima kali lebih berat dari seharusnya. Ia tidak mau masuk ke kelas. Namun ia rasa, ia tidak sebodoh Miku maupun Mikuo—Kaito tahu Mikuo juga bolos. Ia murid terhormat, dan ia tak akan mencoreng nama baiknya hanya karena seorang gadis pecicilan yang intelegensinya di bawah standar seharusnya murid SMA kelas XI. Hei, beasiswanya juga penting!

Jadi begitu bel berbunyi, ia membaur dengan murid lainnya masuk ke dalam kelas. Tanpa mengacuhkan tatapan Miku yang terus memandangnya hingga duduk di bangkunya. Dibangkunya, Kaito mengangkat tangan dan menyentuh dadanya. Rasanya sakit.

"Kaito?"

Kaito berjengit kaget mendengar suara Miku memanggilnya. Sejak kapan gadis itu sudah duduk di kursinya, di depannya, dan menatap ke arahnya? Meski rasa sakit yang menghujam dada membuat Kaito ingin menjerit, wajahnya tetap dingin. Bukannya menyahut panggilan Miku, ia justru menoleh ke samping dan mengajak orang lain bicara.

"Yohio, pinjam buku catatanmu. Ada materi yang belum kucatat."

Dalam diam, Miku memberengut. Jadi inikah yang ia dapatkan bila ia tak kunjung memutuskan? Mikuo dan Kaito, keduanya secara kompak menjauhkan dirinya darinya. Bahkan mereka menciptakan dinding tebal di antara mereka.

.

oOo

.

Berdiri di atas tanah seluas 50x60 meter, kediaman keluarga Hatsune lebih terlihat seperti sebuah bangunan istana milik pemerintah daripada sebuah rumah. Lantainya dua tingkat. Tapi dari jalan hanya lantai dua yang bisa dilihat karena terhalang tembok pagar beton yang tingginya melebihi tinggi orang dewasa.

Di balkon kamar bercat feminim yang menghadap ke rumah kaca yang merupakan kebun bawang milik keluarga, Miku duduk berselonjoran kaki. Ia tengah termenung seorang diri.

Bila ada yang bertanya mengapa ia seorang diri padahal penghuni rumah ditambah para pelayan, pekerja, dan hewan peliharaan kesayangan mereka—dua ekor marmut—seluruhnya ada 30 orang, maka jawabannya mudah saja. Semua orang sedang ada di aula utama. Membahas keuntungan bisnis dengan memprediksi kenaikan harga bawang di pasaran bulan ini.

Kembali fokus ke Miku. Gadis bersurai teal yang kini diurai ini rupanya mulai dilenakan angin malam yang bertiup sepoi-sepoi. Ia mungkin akan segera tidur jikalau ponselnya tidak melantunkan senandung cinta berjudul Goodnight Sweet Heart yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi papan atas yang tengah ditimpa musibah lantaran tersebarnya fitnah yang menyebutnya seorang fetish wortel.

Memangnya aku kelinci? Begitulah ungkap sang penyanyi sambil mengembungkan pipi kesal.

Miku mengeluarkan ponsel dari saku terusan berwarna putih dengan lis ungu di pinggang dan bawah roknya. "Moshi moshi. Hatsune Miku desu." sapanya.

Di ujung sambungan, suara lembut menyahut. "Moshi moshi, Miku. Ini Luka. Apa kau baik-baik saja? Suaramu terdengar berbeda—agak serak—di telingaku."

Bila ini memang Luka, maka Miku tak akan bisa berbohong. Jadi ia jawab saja sejujurnya. "Aku tidak baik-baik saja. Mikuo-nii minta putus dan Kaito mengabaikanku. Aku rasa aku bisa gila, Luka."

"Oh, aku mengerti. Pasti sulit bagimu."

Alis Miku naik sebelah. Ia memeriksa nama yang tertera di ponselnya. Masih Megurine Luka. Lalu kenapa suara yang terdengar tadi lebih seperti suara IA daripada Luka? Apa mungkin ponsel Miku disadap oleh IA? Ponsel Miku error? Atau memang ada gangguan operator?

"Ah, Miku. Ada Aria juga di rumahku." Oke, itu menjelaskan segalanya.

"Jadi, Miku, mengenai hubunganmu yang kian rumit ini, apa kau sudah memutuskan sesuatu?"

Miku menggeleng pasrah. Sadar bahwa orang yang sedang bicara dengannya tak akan melihat gelengannya, ia berkata, "Belum. Aku bingung."

Komunikasi dua arah melalui perantara mereka berubah hening. Kemudian terdengar suara desahan sebelum Luka berujar, "Bagaimana kalau kau memilih Mikuo-senpai saja?"

Pupil mata Miku berdilatasi. "Ha?"

"Aku setuju dengan Luka." IA ikut berpendapat. Miku kacau oleh kedua sahabatnya.

"Tapi kalau aku memilih Mikuo-nii, aku harus menjauhi Kaito."

Suara agak keras menyahut. "Itu memang risikonya, Miku." Desakan ingin menangis membuat Miku hanya mampu terdiam. Luka melanjutkan, "Melihat bagaimana Kaito di kelas tadi, kurasa lebih baik kau memang memilih Mikuo-senpai. Setidaknya, meskipun hubungannya denganmu sedang tidak bagus, ia tidak mengabaikanmu seperti Kaito. Itu membuktikan bahwa ia peduli."

Setetes air mata mengalir turun ke pipi. Ia tidak tahu kedua sahabatnya sampai memperhatikan hal itu. Bagaimana Kaito mengabaikannya di kelas memang sangat menyakitkannya. Miku mengerjapkan mata. "Kalian yakin?"

Luka dan IA menjawab bersamaan dengan kalimat yang berbeda.

"Yakin."

"Tentu saja!"

Senyum kecil tersungging di wajah Miku. Air matanya masih mengalir. "Baiklah. Terima kasih teman-teman. Aku menyanyangi kalian."

"Kami juga, Miku."

Bep. Sambungan diputus.

.

oOo

.


A/N: Ada yang bertanya kenapa marga Rinto berubah? Itu karena di bagian 4, Len dan Rinto seperti orang yang tidak saling kenal. Makanya marganya saya ubah. Yah, itu alasan resminya. Alasan lain? Hehe, himitsu#dicincang#

Untuk Reo Toa Hikari dan Hikaru-san : Sudah update! Kali ini saya tidak telat update kan?#usap keringat# Terima kasih sudah review

Untuk mikicnc-san : di luar sana, pasti ada banyak lagi yang mengerti kita#tepuk pundak# Hehe. Pas ngertik lagi goodmood. Jadilah fluff bertebaran. Terima kasih review dan pujiannya!

Oke! Sampai jumpa di chapter depan yang lagi-lagi belum saya tentukan subjudulnya.