Mendekati Kaito merupakan sebuah kesalahan besar yang Miku lakukan. Pertama, ia sudah berpacaran dengan Mikuo. Pria normal pasti akan merasa cemburu bila kekasih mereka dekat dengan pria lain. Dan itulah yang terjadi pada Mikuo sekarang.
Kedua, Kaito memiliki banyak penggemar wanita yang terlalu fanatik. Mereka tak segan-segan mengancam dan mem-bully karena mereka tidak rela Kaito dekat dengan wanita lain selain mereka. Kaito adalah milik mereka; itu yang mereka yakini.
Ketiga—Miku benar-benar tidak pernah memperhitungkan ini sebelumnya—dengan terus berada di dekat Kaito, ia sendiri bisa terjebak dalam pesona pemuda tersebut. Dan begitu ia tersadar, ia sudah jatuh cinta padanya.
.
oOo
BAGIAN SEPULUH
-You are The King of My Heart-
oOo
.
Kuncir satu di atas, tangan terkepal, dan wajah tegas tanpa senyum. Juga tak lupa, tatapan tajam dan sinis. Karena hari ini adalah hari penting dalam hidupnya, Miku memutuskan untuk tampil seperti itu ke sekolah. Ia tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang sejak ia melangkah memasuki gerbang sekolah. Miku butuh tampilan berbeda untuk hari semacam ini.
Melewati lapangan yang diisi klub baseball yang sedang berlatih karena mendapat hukuman sebab kalah dalam kejuaran di musim panas belum lama ini, Miku sempat-sempatnya berhenti sebentar untuk merasakan angin bertiup. Musim gugur rupanya telah membuatnya jadi lebih dingin. Bibirnya membentuk lengkungan pertanda senang. Ia merasa lebih segar sekarang!
Di saat membahagiakan tersebut, sebuah teriakan keras yang hanya berisikan satu kata memasuki indera pendengarannya.
"Menjauh!"
Berkat kapasitas otak Miku yang terbatas, ia tidak cukup cepat memproses peristiwa yang terjadi. Setelah bunyi teriakan terdengar, yang ia lakukan selanjutnya hanyalah menoleh ke arah si peneriak yang rupanya adalah Kagamine Len. Dan, melongo. Memandang lelaki shota itu dengan tatapan mengatakan, memang ada apa?
Syuut! Duak!
Miku tak banyak melihat ketika bayangan gelap dan besar menyelubunginya, lalu menyelimutinya dan mendekapnya. Bunyi bola yang memantul pada benda padat terdengar. Tak berapa lama, bayangan—atau tepatnya seseorang yang mendekap Miku mulai menjauhkan diri. Terkejut ketika matanya dapat melihat lagi dengan jelas, Miku spontan melangkah mundur dengan terburu hingga terjatuh terduduk.
Tak perlu berpikir hingga rambut rontok untuk mengetahui siapa orang yang tadi memeluknya defensif. Dari surai biru sewarna laut dalam itu Miku sudah bisa menebak.
"Kenapa kau diam saja, Baka! Kau kira bola akan menjauhimu kalau kau berpura-pura tidak melihatnya?!"
Shion Kaito, pukul 7.31 pagi, marah besar.
"Eh? Eh?"
"Jangan eh, eh! Sana masuk ke dalam kelas, berhenti melamun di lapangan!"
Karena didorong-dorong, akhirnya yang mampu Miku lakukan adalah menuruti perintah tersebut. Namun tidak sepenuhnya, sih. Setibanya di koridor menuju kelas, gadis itu kembali melamun. Jendela yang menghadap langsung ke lapangan menjadi objeknya kali ini.
Di ujung sana, tepatnya di pinggir lapangan, Kaito tengah berjalan menuju ke tempat Len, Gumiya, Piko, dan Gakupo. Langkahnya diiringi seorang pemain berpakaian seragam baseball lengkap. Begitu tiba di sana, Gakupo memukul punggung Kaito yang langsung meringis sementara si pemain baseball itu membungkukkan tubuh berkali-kali.
Miku penasaran. Jadi ia mencoba memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Kemungkinan paling mungkin adalah seorang pemain baseball memukul bola yang mengarah pada Miku. Len, Gumiya, Piko, Gakupo, dan Kaito yang menonton latihan tim baseball melihat dan Len memperingati Miku dengan berteriak. Sadar Miku tidak cukup pintar untuk segera menjauh dari sekitar lapangan baseball sesuai arahan Len, Kaito berlari dan melindungi Miku dengan memeluknya.
Kaito melindungi Miku dengan memeluknya.
Miku mengangkat tangan dan menyentuh kedua pipinya yang memanas. Astaga! Gagasan macam apa itu? Ini gagasan paling gila yang muncul dari kepalanya.
Mendadak, keraguan muncul dari dalam sanubarinya. Dari pipi, tangannya memegang kunciran rambut. Luka dan IA salah bila mengatakan Kaito tidak peduli. Kejadian pagi ini sudah membuktikannya. Dilepasnya kunciran tersebut lalu dikuncirnya kembali menjadi style twintail. Ia harus bertemu Mikuo sekarang.
.
oOo
.
Anehnya, saat terdesak dan mencari sesuatu, sesuatu tersebut sulit sekali ditemukan. Namun kita dapat menemukan barang lain yang hilang sejak bertahun-tahun yang lalu. Itulah yang terjadi pada Miku. Di saat ia mencari keberadaan Mikuo, yang ia temui malah teman satu SMP yang ia cari keberadaannya sewaktu masa orientasi.
"Astaga! Di manakah dikau berada, Mikuo-nii?" Miku mendadak puitis.
Di ujung koridor kelas XII, Miku melihat seorang dari seksi keamanan berjalan mondar-mandir. Berjaga. Berlari di koridor adalah sebuah pelanggaran. Namun desakan waktu istirahat yang tidak seberapa, belum lagi Miku belum mengisi perut, memaksa gadis yang kuncirannya sudah diperbaiki oleh Luka untuk terus berlari. Alhasil, Miku membelokkan langkah, mencoba peruntungan di koridor lain dan—sialnya—menabrak pejalan lain.
"Aduh."
Suara ringisan mengaduh ini…?
Miku mengangkat kepala dan melihat sosok Kaito yang memegangi bahunya. Déjà vu? Lagi-lagi ia menghantam bahu pemuda itu.
"Maafkan aku, Kaito. Aku sedang buru-buru dan melihat anggota OSIS dari seksi keamanan di ujung koridor sana. Jadi aku berbalik tanpa mengetahui ada kau di belakangku. Akhirnya, aku jadi menabrakmu," jelas Miku, sejelas-jelasnya.
Kaito hanya berdecak singkat. Tak peduli dan tak mau tahu alasan Miku membenturkan kepala ke bahunya lagi. Ia, masih sambil menempatkan tangan di bahu, berjalan melewati Miku dan terus menuju koridor kelas XII. Namun langkah kakinya terpaksa berhenti saat tangannya yang lain ditahan Miku dari belakang.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Kaito," ucap Miku tegas. "Tapi aku harus menemui seseorang dulu."
Kaito berucap tanpa berbalik. "Aku tidak punya waktu untuk bicara. Aku mau belajar dengan salah satu senpai di kelas XII-A. Lagipula-"
"Aku janji tidak akan lama," potong Miku, keras kepala. "Tunggu aku di sini!"
Miku kemudian melepaskan tangan Kaito. Begitu pelan dan lembut. Seolah sebenarnya tidak berniat melepasnya. Dan efeknya cukup kuat bagi Kaito. Begitu tangannya terbebas, ia harus menahan diri mati-matian agar tidak berlari dan menangkap tangan kecil yang tadi menggenggamnya.
.
oOo
.
Penghujung bel istirahat, dewi fortuna yang (mungkin) sedang menikmati roti melon di kantin akhirnya kini kembali bertugas. Iris turquoise Miku menemukan sosok serupa dengannya sedang membicarakan pertandingan bola tadi malam dengan semangat.
"Mikuo-nii!"
Mikuo mengarahkan tubuhnya ke arah si pemanggil. Senyum lembut lalu terukir di wajahnya. "Ada apa, Miku?" tanyanya dengan suara yang juga lembut. Memancing pukulan ringan dari ketiga temannya yang tersenyum nakal.
"Yo, Mikuo, kami cabut dulu ya?" ujar Rinto. Miku yang baru sampai ke kerumunan mereka terperangah. Kedatangannya mengganggu mereka, ya?
"Iya. Tidak enak ganggu orang pacaran," sambung Tsukishiro Hakupo sambil cekikikan. Miku berubah tersipu di tempatnya. Oh, ia paham. Tatapannya lalu jatuh pada Mikuo. Pria itu masih tertawa, membuat Miku merutuki dirinya sendiri. Sialan kau, Miku. Kau ingin merusak tawa pria sebaik dia?
"Setelah selesai, nanti temui kami di kelas, ya?" ucapan dari Sakine Meito mengakhiri obrolan mereka. Setelah terpisah cukup jauh, senyum Mikuo memudar. Wajahnya berganti ke mode serius. Meski begitu, kelembutan tetap terpancar dari matanya yang selalu lurus menatap Miku.
"Ada apa, Miku?"
Miku menarik napas panjang. Lalu membungkukkan tubuh. Ini hal pertama yang harus ia lakukan.
"Gomen nasai, Mikuo-nii!" ucapnya setengah menjerit karena rasa sakit di pangkal tenggorokan. "Aku sudah memutuskan pilihanku. Kuakui, Mikuo-nii sangat baik padaku, Mikuo-nii juga sangat peduli padaku. Tapi… tapi…" Miku menelan ludah. Matanya mulai panas dan basah. Dari balik poni, ia mengintip Mikuo yang berwajah patah hati.
Padahal Mikuo yang diputuskan, tapi kenapa dada Miku ikut sakit? Apa ini iba? Kasihan? Persetan! Miku tidak boleh mundur hanya karena perasaan tidak tega. Menunduk! Jangan lihat wajahnya atau kau akan menyesal, Hatsune Miku!
"Mikuo-nii, aku-"
"Stop, Miku."
Tubuh Miku menegang. Hatinya menjerit. Oh, ayolah! Kenapa kau menghentikannya, Mikuo?
"Kenapa?"
Senyum kecil yang lemah tercipta di wajah Mikuo. Sinar di matanya berpendar lemah. Kini, tak ada lagi sinar ceria dari kolam turquoise miliknya. Jantung Miku teremas oleh perasaan bersalah.
"Aku tahu lanjutan kalimatmu." Mikuo bicara sambil menyandarkan tubuh ke tembok di belakangnya. "Tak apa. Temuilah Kaito."
Air mata Miku akhirnya jatuh. Kenapa ia bukan jatuh cinta pada pria ini, sih? Bukan para pria berambut teal lurus yang baik hati dan menyanyangi Miku sepenuhnya? Kenapa ia justru jatuh cinta pada Kaito dan bukan Mikuo?
Mikuo menoleh ke arah Miku. Matanya terpejam saat senyumnya makin dilebarkan. "Aku mendukungmu, Miku-chan."
Tuhan.
.
oOo
.
Berurai air mata, Miku berlari menuju kelasnya. Bel masuk sudah berbunyi lima menit yang lalu. Dan terima kasih pada arsitek yang merancang bangunan sekolahnya. Mengapa kelas XII dan kelas XI jaraknya jauh sekali? Dua kali turun tangga karena di antara lantai kelas XI dan lantai kelas XII dibuat lantai khusus untuk kantin, kamar mandi, dan tempat ibadah!
"Kaito!"
Seisi kelas XI-B menoleh ke arah pintu. Mereka menemukan Miku yang berdiri berpegangan pada kusen pintu. Wajahnya pucat dan penuh keringat. Matanya yang sayu menjelajahi seisi kelas.
"Mana Kaito?" tanyanya, begitu tak menemukan sosok yang dicari.
Len yang duduk di dekat pintu menjawab ringkas. "Belum masuk kelas."
Mata Miku mengerjap. Sudah lewat lima menit sejak bel masuk berbunyi. Rasanya aneh bila Kaito belum masuk kelas. Miku memutar otak. Kira-kira di mana Kaito sekarang?
Miku berteriak histeris begitu sebuah gagasan paling mungkin melintas dalam benaknya. Brengsek kau, Dewi Fortuna! Jangan katakan Kaito masih menunggunya di koridor kelas XII!
Mengusap keringat di pelipis, Miku balik kanan dan lanjut berlari menaiki tangga. Ia mengabaikan pertanyaan dan wajah heran dari seisi kelasnya. Ternyata benar. Pemuda bersurai biru itu tengah bersandar di tembok dan menatap keluar jendela di sebelah kirinya. Saat ia menyadari Miku berlari ke arahnya, wajah datar pemuda itu berubah cemas.
"Kenapa lari-lari? Kau baik-baik saja?" Kaito sedikit menunduk karena Miku yang lebih rendah darinya justru berdiri sambil kedua tangan diletakkan di lutut, membuat tubuhnya makin pendek dan wajahnya sulit dilihat. "Oi, Miku! Kau mendengarku, 'kan?"
Bukannya jawaban, Kaito justru mendapat sebuah pelukan. Kaget? Of course. Namun untuk bertanya, Kaito kehilangan suara.
"Aku tak menyangka kau masih menungguku!" ucap Miku. Perasaan senang tercermin meski suaranya sengau sehabis menangis.
"Miku, bisa kau jelaskan-"
Miku tak pernah membiarkan Kaito menyelesaikan ucapannya. Setelah pelukan, Miku memberi kejutan lainnya pada Kaito berupa tarikan di tangan kanan pemuda itu.
"Ikut aku!"
"Ha? Kau mau membawaku ke mana? Sekarang sudah masuk jam pelajaran ketiga!"
Lagi-lagi tak ada jawaban. Miku hanya tersenyum kecil. Lagipula, Kaito akan segera tahu jawabannya. Dan Kaito memang tahu. Apalagi setelah melihat sebuah pintu yang pada bagian atasnya ada papan kecil bertuliskan XI-B.
Pintu geser kelas itu dibuka Miku. Yang pertama Miku lihat adalah meja guru. Masih kosong. Bagus!
"Teman-teman!" ucapnya, meminta perhatian. "Mulai hari ini, aku-" Miku menunjuk dirinya sendiri. "-dan dia-" Miku menarik Kaito mendekat ke arahnya dan menunjuk tepat di dada pria itu. "-resmi berpacaran!"
Awalnya, semua hening. Detik kemudian, wajah semua orang berubah heran. "HA?!"
Kaito mendelik pada Miku. "Apa yang kaukatakan, Miku! Kau-"
Seharian ini, Miku tak pernah membiarkan Kaito benar-benar menyelesaikan kalimatnya. Dalam sekali tarikan pada dasi sang pemuda, Miku membungkam Kaito dengan sebuah ciuman. Ya, ciuman. Tunggu. CIUMAN?!
Suzune Ring, selaku anggota klub koran sekolah buru-buru mengambil kamera dari dalam tas dan bersiap menjepret. Aksinya mendapat dukungan dari Rin. Namun Luka dan IA dengan cepat merebut kamera tersebut dan akhirnya terjadilah aksi kejar-kejaran yang tidak perlu hingga naik ke meja dan melompat bak adegan pengejaran teroris di film Hollywood.
"Luka-ku sayang, jangan meloncat di atas meja! Nanti semua orang bisa melihat celana dalam garis-garis pink-putihmu!"
PLAK! Kamera Ring berakhir menghantam wajah Gakupo.
Leon dan Ted, entah memang sepikiran atau kebetulan saja, bergerak menuju meja Piko dan memaksa pemuda yang setengah terlelap itu menyingkir dari kursinya sendiri. Ratusan kertas warna-warni dalam ukuran amat minimalis alias confetti bekas perayaan jadiannya Miku dan Mikuo yang mereka bereskan atas perintah Kiyoteru-sensei—laci meja Piko yang tidak pernah dipakai dijadikan tempat sampah dadakan oleh kelas—mereka ambil dan tebarkan ke sekeliling Miku dan Kaito.
Sorakan kompak lalu terdengar.
"SELAMAT, MIKU, KAITO! KAMI TUNGGU TRAKTIRANNYA!"
.
oOo
-Epilog-
oOo
.
"Sebelum saya mengakhiri pelajaran hari ini, apa ada pertanyaan?" suara Kiyoteru-sensei yang berat disahuti oleh gelengan kompak seisi kelas. "Baiklah. Kalau begitu, saya-"
"Pak!" Leon, karena duduknya di belakang dan merasa mengangkat tangan saja tidak cukup untuk menarik perhatian sang guru, berdiri dari bangkunya. "Saya boleh bertanya tidak?"
Sebenarnya, Kiyoteru merasakan firasat tidak enak. Namun sebagai seorang guru yang profesional, ia mempersilakan anak didiknya itu bertanya.
"Ya. Kau mau menanyakan apa?"
Leon mengulum senyum. "Saya dengar dari Meito-senpai, katanya Bapak sekarang sedang pacaran dengan Meiko-sensei, ya?"
Kiyoteru tersipu. Dengan gaya terkeren yang ia punya, ia menaikkan frame kacamatanya, namun tetap saja rona merah di pipinya membuat para murid berkoor kompak.
"Cieee, Kiyoteru-sensei dan Meiko-sensei!"
"Cuit! Cuit!"
"Ahem! Ahem!"
"Kiyoteru-sensei sudah bisa move on dari Yowane-sensei ternyata."
"Luka! Ayo kita juga jadian!"
Sorakan berakhir dengan sebuah kamus biologi setebal 653 halaman menghantam Gakupo.
"Maaf, Leon. Tapi sebagai guru, saya hanya menanggapi pertanyaan yang bersifat ilmiah. Bukan pribadi." Ngomong-ngomong juga, ini bukan cerita roman antara Kiyoteru dan Meiko. Itu kisah cinta yang lain.
"Tapi, Pak- Oi, Pak! Tunggu!"
Kiyoteru buru-buru kabur sebelum murid lain menanyakan pertanyaan serupa. Seandainya tidak ada yang menghentikan, mungkin para murid kurang ajar itu akan mengejar Kiyoteru. Jadi Hiyama Kiyoteru, ucapkan terima kasih pada Len. Kok Len? Karena….
"Teman-teman!"
Suara Len tertahan sampai sana. Cukup lama hingga akhirnya ia bersuara lagi. Namun alih-alih melanjutkan kalimat sebelumnya, Len malah menghadapkan tubuh ke bangku di belakangnya.
"Berhenti mengikutiku, Lui! Aku yang bicara duluan!"
"Mana mungkin! Jelas-jelas aku yang duluan!"
—Yah, karena Len memicu pertengkaran tidak penting lain yang menciptakan kesempatan kabur untuk Kiyoteru. Saat sang Kagamine bicara barusan, rupa-rupanya Lui juga melakukan gerakan yang sama.
"Kau mau membodohiku?!"
"Aku tidak, Baka! Aku hanya mengatakan kenyataan!"
Yohio selaku pihak penengah hendak bersuara untuk melerai. Namun baru saja membuka mulut Rin sudah mendahuluinya dengan sebuah teriakan dari suara cemprengnya. "Lui, kau yang salah! Akuilah kesalahanmu!"
Ring berdiri dari duduknya dan mengarahkan telunjuk ke arah Rin. "Memang kau lihat darimana kalau Lui yang salah?! Jelas-jelas Len yang salah!"
SeeU, yang duduk tepat di belakang Yohio berdiri. Dengan suara yang lebih cempreng dari Rin ataupun Ring, berteriak balik. "DIAM, KALIAN BERDUA!" Ia lalu menghadapkan tubuh ke depan. "Dan kalian, Len dan Lui, bukankah lebih baik kalian melanjutkan ucapan kalian daripada bertengkar tidak penting?"
Satu kelas, terdiam.
"Oi, Shiyu-"
SeeU menatap Yohio yang tadi memanggilnya lirih. Ia mengangkat tangan dan menempatkannya di samping wajah, menyembunyikan pergerakan bibirnya dari seisi kelas dan hanya fokus pada Yohio.
"Mulai sekarang, kita hentikan mereka bersama, ya?" Kedipan sebelah mata melengkapi kalimat persuasif tersebut hingga membuat Yohio harus mengalihkan pandangannya untuk menutupi rona merah di pipi.
"Hu'um!"
"Nah, jadi apa yang ingin kalian katakan, Len, Lui?" Ritsu bertanya sembari memperbaiki posisi duduknya. Tangan terlipat di bawah dada dan kaki kanan di atas kaki kiri. Punggung bersandar di tembok dan mata mengintimidasi. Posisi duduk bak ratu ala Ritsu.
Dan sebelum memulai pertengkaran, Ted melakukan langkah konservatif dengan memberi giliran. "Mulai dari Lui dulu."
Lui tersenyum miring. Merasa puas dan menang atas Len. "Sankyuu, Kiyoteru no otoko."
Dahi Ted berdenyut tak suka. "Maaf. Maksudku, dimulai dari Len dulu."
"Oi?!"
"Oke!" Len berdeham, memperbaiki suaranya. "Jadi begini teman-temannya, berhubung hari ini aku sedang malas pulang cepat ke rumah-"
"Bagaimana kalau kita ke tempat karaoke saja?" Lui menyela sebelum kalimat habis. "Bagaimana? Bagaimana?"
Sweet Ann menggigit bibir. "Aku tidak mau, ah. Aku mau be-"
"Jangan begitu, Sayang!" potong Al cepat. Akhir-akhir ini, dia jarang muncul ya? "Ayo nikmati masa muda kita."
Hidung Sweet Ann kembang kempis. "Apanya yang 'kita', Big Al?!" Sepertinya ada yang disembunyikan oleh dua murid ini.
Ring dan Rin yang duduk di depan dan belakang meja Sweet Ann bangkit dan menangkap kedua pergelangan tangan wanita itu. Wajah mereka berubah menjadi wajah karakter yandere di anime Higurashi no Naku Koro ni. "Kau tidak pernah ikut! Sekali-sekali, ayo ikut!"
Apa yang bisa Sweet Ann lakukan? Selain menganggukkan kepala dan berkata, "Ha'i."
IA melirik malu-malu ke arah Yuuma. Di lirikannya yang ketiga, pemuda itu menangkap basah dirinya. Seperti biasa, IA mengubah tatapannya menjadi sebuah deathglare, dan seolah berkata apa lihat-lihat? Padahal jelas-jelas ia yang lihat-lihat ke arah Yuuma.
Sebagai seorang ketua kelas yang baik, Yuuma hanya menghela napas. Mencoba mempertahankan kesabaran yang kian terkikis semenjak memasuki kelas XI. Ia kembali fokus pada Len dan Lui, lalu berkata, "Kalau Aria ikut, aku juga ikut."
"Eh?" Sebuah panah menembak tepat di dada IA. Miku dan Luka yang menyadari IA bisa pingsan kapan saja berdiri dari bangkunya dan menangkap tubuh IA yang lemas.
"Tetap bernapas, Aria! Tetap bernapas!" pinta Luka.
Dell melirik pada Len. Tatapannya membuat Len serasa dilempari pisau detik itu juga. Tubuhnya menegang.
"A-ada apa, Dell-san?"
Leon menjetikkan jarinya berkali-kali. Dell menoleh ke arahnya. Dilihatnya Leon menempatkan tangan di sudut-sudut bibir dan menariknya ke atas. Dell mengerti. Dengan kaku, ia mengikuti Leon—menarik sudut-sudut bibirnya ke atas.
"Aku mau ikut." Jeda sejenak. Kelas ikut hening. "Dan Len, tolong panggil aku Dell saja-" suaranya mencicit. "-biar lebih akrab."
"Ha?!" Len melotot. Ia lalu berlari ke arah Dell dan mengalungkan tangannya di leher pemuda yang tingginya sama dengannya. Ia mengacak-acak surai perak pemuda itu dengan tangannya yang lain. "Astaga! Ternyata kau ini asyik juga, ya? Tidak kusangka."
Gumiya yang kebetulan sedang berdiri di dekat meja Kaito mendekat. Ia ikut mengacak rambut Dell. "Iya! Awalnya kami kira kau ini suram, lho, Dell," ujarnya.
Dell mengerjap. Ada letupan kecil di dalam perutnya. Tapi bukan pertanda lapar atau mag. Letupannya terasa… menyenangkan? Ia melirik ke arah Leon. Dan pria itu hanya tersenyum lebar. Dada Dell bergetar. Okaa-san, akhirnya aku punya teman, batinnya menangis terharu.
"Baiklah, semuanya!" Lui berteriak. Len kemudian menambahi. "Ayo kita pergi sekarang!"
Miku yang berjalan tepat di belakang IA yang siap pingsan kapan saja, menoleh ke belakang. Dilihatnya Kaito mesih belum bergerak mengikuti yang lainnya.
"Luka, nanti aku menyusul, ya?"
Luka melirik ke arah pandang yang sama dengan Miku. Mengerti tujuan Miku, ia menganggukkan kepalanya.
"Kaito, kenapa diam saja? Ayo!"
Kaito terlihat tengah berpikir saat Miku mengulurkan tangan padanya. Ia mengangkat tangan, namun yang ia lakukan malah menggaruk tengkuknya. "Aku rasa aku tidak bisa. Aku harus pulang ke rumah dan belajar setelah ini."
"Mou~~" Miku menggembungkan pipinya. "Kau ini seperti Sweet Ann saja."
"Mau bagaimana lagi, Miku! Aku harus mempertahankan nilaiku supaya terus mendapat beasiswa."
Miku menjetikkan jarinya. Kaito tidak tahu bahwa pendonor beasiswa di sekolah adalah ayah Miku. Ssttt, ini rahasia Miku, lho! "Kaito tenang saja. Aku yakin meski tidak belajar satu minggu pun kau tetap akan mendapat nilai yang bagus."
"Miku-"
"Lagipula Kaito," sela Miku. Ia merapatkan tubuhnya dan sedikit berjinjit. Niatnya ingin berbisik tepat di telinga pemuda itu. Apa daya mulutnya hanya bisa sampai dagu. "Setelah pulang nanti, aku ingin minta ajari materi ulangan biologi minggu depan. Mau, ya?"
Kaito tertawa. Apa ini ajakan berkencan?
"Ada café yang baru buka. Kita belajarnya di sana, ya?"
Senyum simpul tercipta di wajah Kaito. Ini memang ajakan berkencan.
"Baiklah. Baiklah." Kaito membungkukkan tubuh. Salah satu tangannya disimpan di belakang tubuhnya sedang tangan lain bergerak ke muka tubuh. "Sesuai perintahmu, Ojou-sama."
Cubitan ringan mendarat di pinggang Kaito. Miku menjulurkan lidah. "Gombal! Cepat bereskan alat tulismua! Nanti kita ketinggalan!"
Kaito menuruti perintah Miku dengan membereskan peralatan tulis yang berhamburan di atas mejanya ke dalam tas. Setelahnya, ia mengulurkan tangan pada Miku. Mengajak sang gadis melakukan kontak fisik tanpa kata-kata.
Miku membalas. Terbiasa dengan kehangatan, jemari dingin Kaito membuat Miku bergetar. Meski begitu, Miku merasakan kehangatan luar biasa. Di dadanya.
.
.oOo.
-The End-
.oOo.
.
A/N: Pyuh! #usap keringat# Akhirnya fiction ini selesai juga. #tebar confetti# Di Author note terakhir fic ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para reviewer, follower, dan yang sudah memfav.
Reo Toa Hikari dan Hikaru/Hikari Toa/Kanagawa Family (akun Anda banyak sekali ^.^'), Kokonose Hanoko, xkagaminex, mikicnc, MiKai, Rukami-chan, Mizuki Hoshiro, agerazoides, CatPhones, kurohime, Akira-Bellachan, Sakamaki Kanda, megumi keiko, Ame Hikari Kagamine, Hay Anime14, Satsuki21as, O. Puspa .O.
Peluk dan cium untuk kalian semua. Tanpa kalian, saya pasti sudah kena writer block dan menulis kata discontinued. Hontou ni arigatou!
Yang merasa belum saya tulis, mohon konfirmasi. Saya update lewat hape jadi tidak mengecek ulang.
Dari sini, cerita dinyatakan tamat! Sampai ketemu di fanfic lain, minna! #kissbye#
