Konichiwa minna-san. Chapt.2 update. Sebelumnya Author ucapin makasih yang segede gede nya buat readers & senpai2 yang udh ngereview Fict Author yang gaje ini. *hehe.
Ok, sebelum Author lanjut ke chap. selanjutnya, Author balesin reviewnya di sini aja ya :D. biar ga ribet :p
- mery-chan : Hai juga merr-chan, Apa kabar? hehe.. *garuk - garuk kepala. yuk - yuk kita liat, apa aja tingkah yang bakal di buat sama Naruto. :p
- uzumaki : thx, Uzumaki-san :D.
- Cicikun : hehe *garuk - garuk kepala. makasih senpai udh ngereview fict Auhtor :D. hmm... sengaja kok Author bedain dikit ceritanya. soalnya ini fict gabungan dari anime sama alur game juga, senpai :D
- hiru-neesan : seperti biasa, Hiru-nee selalu bisa menebak - nebak :p. Tapi boleh juga tuh Hiru-ne, kalo Si rambut chicken butt jadi orang ke 3 nya :v.
- oxcid : Hehe. makasih udh nungguin fictnya :D
- Misti chan : Harus mau donk :p, kan Naruto yang ngajakin :v
- neot : Salam kenal juga senpai :D. Hu uh hu uh, tapi rada beda kok ntar Author buat. hehe.
- The KidSNo OppAi : ok senpai :D.
- sebunno16 : ok Senpai :D. sankyu :D
- virgo24 : udh update nih virgo-san :D. disini NaruHina bakal bertualang kayaknya, makanya Author masukin ke Adventure juga. tapi romance nya masih ada kok. :D
Sekali lagi Author ucapin Hontouni Arigatou buat yang udh review. kalo gitu, langsung aja kita simak kelanjutannya :D
Chapt Sebelumnya :
"Aku hanya seorang mahasiswa kedokteran, jadi aku tak bisa membantumu."
Naruto semakin tak mengerti apa yang di katakan Hinata. "Tapi kau bisa menyembuhkan lukaku kan?"
Hinata menghela nafas pasrah. "Siapa saja pasti bisa menyembuhkan luka itu Uzumaki-san! Apa lagi luka yang kau derita hanya luka kecil!"
"Hmm.." Naruto mulai berfikir. "Luka kecil ya?" Ucapnya lalu di balas dengan anggukan kecil oleh Hinata.
"Kalau begitu bagaimana kalau.." Naruto tiba – tiba menarik pedang dari dalam sarungnya. Kemudian mengarahkan bilahnya ke lengan kirinya.
"Begini…"
SYAATTT….
Dengan santainya Naruto menyayat lengannya sendiri tanpa ada rasa dosa sedikitpun.
Hinata membelalakan matanya tak percaya. 'Orang ini pasti sudah gila!'
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : Naruto and Hinata.
Genre : Romance, Fantasy (mungkin), Supranatural (sedikit), Advanture, Drama
Warning : sorry masih Newbie jadinya typo, EYD yang ga beraturan, Chara juga OOC, Pasaran pastinya :v.
Don't Like Don't Read ^^
Summary : Hinata adalah seorang calon dokter yang baru akan mengikuti ujian akhir dari sekolah tingginya. Suatu hari , ia dimintai tolong oleh jendral berambut kuning yang barasal dari masa lalu untuk menyembuhkan seorang Ratu kerajaan. Tapi setelah menyelematkan Sang Ratu, mereka malah menghadapi suatu intrik kerajaan yang membuat mereka harus mempertaruhkan nyawanya. / Bad Summary / Newbie punya :D
RnR please..
and
Happy Reading
The Shogun and The Doctor.
Chapt 2 : Aku Percaya.
"A-apa yang kau lakukan Uzumaki-san?!" Ucap Hinata masih membelalakan matanya.
"Memotong lenganku." Jawab Naruto enteng.
Naruto meringis setelah menyayat lengannya cukup lebar dan dalam. Layaknya air sungai yang mengalir, darah yang keluar dari lengan Naruto terus bercucuran dan membasahi tanah dengan noda merah.
"Bagaimana sekarang? Seorang tabib pasti tidak akan membiarkan seorang pasiennya mati kehabisan darah bukan?" Tanya Naruto sambil tersenyum kecut menahan sakit.
"Ya ampun.. kau memang orang gila!" Cecar Hinata tak habis pikir. Sementara Naruto hanya mengangkat pundaknyanya dan menatap Hinata tanpa dosa.
Hinata menepuk pelan dahinya lagi, mengambil sapu tangan yang cukup besar dari dalam tasnya lalu mengikat pangkal lengan Naruto dengan tujuan memperlambat pendarahan di lengan kekar tersebut.
"Cepat ikut aku sekarang!" Ujar Hinata mulai panik sambil menarik tangan Naruto.
Naruto hanya bisa mengikutinya sambil tersenyum penuh arti pada Hinata.
Disebuah ruangan, lebih tepatnya seperti laboratorium. Tampak Hinata sedang mengeluarkan peralatan medis yang tersedia disana. Setelah meletakkan peralatannya di atas meja. Hinata mulai membersihkan luka Naruto dengan Alkohol murni.
"Ittaaiii..!" Naruto memekik kesakitan saat cairan Alkohol mulai membasahi lukanya.
"Tahan.." Ujar Hinata dingin.
Setelah itu Naruto hanya bisa terdiam melihat Hinata yang kini surai indigonya sudah di sanggul dan menyisakan poni rata di keningnya. Sesaat Naruto tersenyum melihat wajah cantik Hinata. Tapi ketika Hinata meliriknya, Naruto menjadi salah tingkah dan mengalihkan pandangan kearah lain.
"Selesai.." Ucap Hinata setelah menyelesaikan jahitan terakhir di kulit lengan Naruto yang terbuka cukup lebar.
"Sugoi!" Naruto berdecak kagum. "Kulit ku bersatu lagi!"
Hinata sweerdrop. Kemudian..
Bletakk…
"Ittai.. Kenapa kau memukulku, Nona?" Naruto meringis tak terima.
Hinata berdiri tanpa sepatah kata pun sambil membereskan peralatan medis yang baru saja di gunakan olehnya. "Kau gila!" Ujarnya sedikit menahan amarah.
Naruto memiringkan kepalanya. "Kalau aku gila, tidak mungkin aku menjadi jenderal divisi perang di umur semuda ini!"
Hinata menghela nafas pasrah, "Memangnya berapa umurmu?."
"15 tahun." Sahut Naruto sambil mengerucutkan bibir pertanda kesal.
"A-apa?" Tanya Hinata tak percaya.
"Kau tak percaya?" Naruto balik bertanya.
"Terserah kau saja lah!" Balas Hinata sedikit frustasi.
Naruto tak membalas ucapan Hinata. Ia masih merasa takjub merasa kulit lengannya yang sudah di satukan di dalam balutan perban.
"Uzumaki-san.." Ucap Hinata memanggil Naruto
"Nani?" sahut Naruto sambil menoleh kearah Hinata yang masih membelakangi dirinya.
"Kenapa kau melakukan hal itu?"
"Aku hanya mengujimu." Celetuk Naruto enteng.
Kemudian Hinata berbalik dan berjalan kearah Naruto dengan aura kegelapan yang menyelimuti tubuhnya. "Apa maksudmu dengan munguji?" Hinata bertanya sambil memberikan deathglare terbaiknya kearah Naruto.
"Mengujimu kalau kau benar – benar tabib yang sedang ku cari."
BLETAKK…
Lagi – lagi kepala Kuning Naruto di jadikan pendaratan untuk jitakan Hinata.
"Ittaii… kenapa kau suka sekali memukul kepalaku!?" Naruto hanya bisa meringis kesakitan.
"Karena Kau gila! Lagi pula kenapa kau sangat yakin kalau aku adalah orang yang sedang kau cari?" Hinata balas bertanya.
Naruto diam sesaat, lalu memberikan cengiran khas miliknya kearah Hinata. "Karena aku percaya padamu."
Hinata terpaku melihat senyuman hangat Naruto. Saat Hinata melihat sapphire indah Naruto, Hinata seakan tenggelam di dalam keindahan biru laut yang di pancarkan dari iris indah tersebut. membuat jantung Hinata berdebar semakin cepat dan membuat rona di pipi Hinata mulai menampakkan diri.
"Ba-baka.." Ujar Hinata pelan. Sementara Naruto masih dengan senyuman mentari miliknya.
"Jadi bagaimana? Kau mau menolongku?" tanya Naruto
Hinata lagi – lagi menghela nafas pasrah. "Sebelum itu, aku ingin bertanya banyak hal padamu!."
"Baiklah akan kujawab semua yang kau tanyakan."
Kini mereka sedang duduk berhadapan. Hinata duduk bersandar sambil meyilangkan kakinya. Sedangkan Naruto duduk santai dengan kepala yang bertumpu pada tangan kanannya yang terletak di atas meja. Dan Dua buah gelas berisi jus jeruk yang entah di dapat dari mana juga setia menemani obrolan mereka.
"Maaf, sebelum kau bertanya boleh aku tahu namamu?" Tanya Naruto sebelum Hinata bertanya padanya.
"Hyuuga Hinata." Sahut Hinata datar. Sementara Naruto hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti,
"Baiklah, sebenarnya siapa kau?" Tanya Hinata dengan tatapan mengintimidasi.
"Bukankah sudah ku katakan? Aku ini Jendral divisi perang dari kerajaan Konoha!." Jawab Naruto dengan santai.
Hinata mengkerutkan dahinya. "Kerajaan?" Naruto hanya menganggukan kepalanya masih santai.
"Apa kau bercanda? Sekarang tahun 2012, tidak ada yang namanya kerajaan di jepang pada saat in!."
"Untuk apa aku bercanda padamu." Naruto menyilangkan lengannya.
'Kerjaan konoha? bahkan aku tidak pernah mendengarnya.' Batin Hinata mulai beranya – tanya. 'Mungkinkah dia dari datang dari masa lalu? Tidak tidak! Pasti tidak mungkin. Tapi, ada baiknya jika aku bertanya padanya.'
"Dari tahun berapa kau berasal?" Tanya Hinata pada Naruto yang kini sedang memainkan alat suntikan.
Naruto menoleh, menutup matanya sejenak. "Tahun 983."
Hinata terbelalak, tak percaya pada indera pendengarannya sendiri. 'Zaman Heian, abad pertengahan, sesuai dugaanku. Tidak – tidak, Ini tidak mungkin. Pasti pria ini bercanda.'
"Pasti kau bercanda?!" Ucap Hinata sambil menggelengkan kepalanya tak percaya. "Bagaimana manusia bisa melintasi waktu?"
Kemudian Naruto berdiri setelah menyeruput minumannya. "Minuman ini enak!" Celotehnya. "Baiklah, akan ku jelaskan."
Hinata masih menatap heran tanpa mengedipkan matanya sekalipun.
"Aku adalah jenderal Uzumaki Naruto yang berasal dari kerajaan Konoha, aku berasal dari tahun 983. Lalu bagaimana aku bisa sampai di tempat aneh ini adalah, dengan cara menggunakan sebuah portal yang menghubungkan satu dimensi ke dimensi lain. Lalu kesimpulan ku, portal itu adalah sebuah portal untuk melintasi waktu!"
Hinata tak bosan – bosan mebelalakan matanya. "Po-portal?"
Naruto menganggukan kepalanya. "Ya, portal! Portal itu terbuka setiap setahun atau beberapa tahun sekali. Tapi aku tak tahu kapan pastinya. Yang aku tahu, aku merasa beruntung bisa menemukan portal itu di saat yang tepat seperti sekarang."
"Lalu apa tujuanmu melintasi waktu?" tanya Hinata yang masih penasaran.
"Aku di utus Raja untuk mencari seorang tabib sepertimu!"
"Tabib? Untuk apa?"
"Ratu dari kerajaan ku diserang oleh musuh kerajaan konoha, dan sekarang ia sekarat. Berdasarkan rumor yang beredar selama beberapa dekade, portal itu dapat menghubungkan tempatku berasal dengan tempat tinggal seorang tabib dewa yang dapat menyembuhkan penyakit apapun." Jelas Naruto panjang lebar.
Hinata sekarang megerti maksud dari perkataan Naruto sejak pertama kali mereka bertemu. "Dan menurutmu tabib dewa itu adalah aku, begitu?"
Naruto tersenyum kearah Hinata lalu mengangguk semangat. "Tepat sekali!"
Hinata menupuk dahinya pelan dan menghela nafas frustasi. "Astaga! Uzumaki-san, boleh aku mengakui sesuatu?"
Naruto mengernyit. "Silahkan."
Hinata menghirup nafas dalam – dalam sebelum ia berbicara. "Aku adalah Hyuuga Hinata seorang mahasiswa fakultas kedokteran dari Konoha Gakuen University! Dan aku sama sekali bukan ahli pengobatan atau pun tabib dewa seperti yang kau katakan barusan! Jadi aku tak bisa memenuhi permintaanmu. Dan akhir kata, aku ucapkan Hontouni Gomenasai!"
"Kumohon.." ujar Naruto tiba – tiba yang kini sudah bersujud di depan HInata. "Ikut dan selamatkanlah Ratu Uchiha Sakura?!"
Hinata sedikit terkejut melihat perlakuan Naruto. Lalu ia tertegun dan berdiri kemudian berjalan kearah jendela diruangan tersebut.
"Aku tak punya banyak waktu, Nona Hinata!" Lanjut Naruto.
Kemudian, Naruto mengeluarkan Jam pasir yang diberikan oleh Sasuke saat sebelum kepergiannya dan meletakkannya di atasmeja.
Hinata menoleh dan memperhatikan jam tersebut. "Apa itu?"
"Tabib dari tempat ku berasal mengatakan. Jika aku belum kembali setelah jam pasir ini habis, maka Ratu Sakura akan meninggal dunia karena pendarahan yang di deritanya."
Hinata lagi – lagi terbelalak di buat Naruto. "Ta-tapi, bagaimana jika aku tak bisa menyelamatkan Ratumu?"
"Bukankah sudah kukatakan padamu, Aku percaya kalau kau adalah tabib dewa yang di maksud." Ujar Naruto dengan senyuman hangat mencoba meyakinkan Hinata.
Hinata menutup matanya, mulai berfikir, dan mencoba mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan karena merasa tegang akibat penjelasan Naruto.
"Aku ingin bertanya satu hal lagi padamu." Ujar Hinata, Naruto tak mengeluarkan suara sedikitpun. Namun hanya melihat kearah Hinata dengan tatapan bertanya.
"Bagaimana seandainya, jika Ratu Sakura yang kau katakan tadi meninggal dunia karena kesalahanku saat merawatnya?"
"kepalamu pasti akan di penggal." Celetuk Naruto. Hinata hanya bisa menatap Horor padanya.
"Tapi tenanglah, aku akan menjamin keselamatanmu. Aku akan melindungimu dengan nyawaku sebagai taruhannya. Lagi pula aku yakin kau pasti bisa melakukannya."
Seketika Hinata menoleh cepat kearah Naruto kemudian tertegun melihat senyuman hangatnya. "Uzumaki-san.."
"Bagaimana?" Tanya Naruto
"Ta-tapi, aku belum tahu bagaimana penyakit yang di derita oleh Ratumu itu?!"
"Bukan penyakit!" Timpal Naruto.
"Lalu?" Tanya Hinata sweerdrop.
"Luka yang sama seperti ini!" Jelas Naruto sambil menunjuk lengan yang baru saja diobati oleh Hinata, "Hanya saja letaknya disini!" Lanjutnya beralih menunjuk leher bagian sebelah kirinya.
"A-apa?! Di leher!? Ba-bagaimana bisa?! Kau pasti sudah gila!" Hinata mulai kalang kabut mendengar penjelasan Naruto.
"Kan sudah kuilang, Paduka Ratu diserang oleh musuh kerajaan Konoha untuk menggulingkan kepimimpinan Paduka Raja!"
"Ta-tapi, itu pekerjaan yang sangat beresiko, Uzumaki-san! Aku hanya pernah membedah mayat, bukan manusia yang hidup!" Hinata mencoba berdalih.
Naruto berjalan mendekati Hinata, kemudian memegang kedua pundak gadis indigo tersebut dengan lembut. "Bukankah sudah kubilang, kalau aku percaya padamu? kau pasti bisa, Hinata-sensei!"
Hinata menatap sendu kearah Naruto, lalu menganggukan kepalanya sedikit ragu. "Baiklah akan ku coba! Tapi, sebelum itu kau harus meminta izin pada ayahku. Sekaligus menemaniku mengambil peralatan bedah dirumahku."
"Peralatan bedah? Ayahmu? Apa ayahmu juga seorang tabib?" Tanya Naruto berubi.
"Bukan! Tapi, Ibuku. Beliau seorang dokter bedah di Rumah Sakit Konoha, dan dia juga sudah lama meninggal. Mungkin ada beberapa peralatan bedahnya yang masih disimpan oleh ayahku."
"Baiklah." Ujar Naruto semangat. "Kalau begitu Ayo segera berangkat!"
Butuh waktu 30 menit dari Konoha Gakuen University menuju Rumah Hinata. Rumah besar yang bergaya tradisional jepang. Setelah turun dari mobil, mereka disambut oleh 2 orang manusia berbeda gender di depan pintu. Yang satu pria paruh baya dengan mata senada dengan Hinata namun memiliki rambut coklat panjang. Yang satunya lagi gadis kecil dengan kisaran umur 12 tahun yang memiliki mata seperti Hinata hanya saja warna rambutnya sama seperti pria paruh baya yang ada di sebelahnya
"Tadaima, Tou-san, Hanabi." Salam hinata saat mereka sudah di depan pintu utama rumah bergaya tradisional tersebut.
"Okaeri." Balas pria paruh baya yang sepertinya adalah Ayah Hinata
"Okaeri, Hinata-nee. Siapa dia?" Kali ini gadis kecil yang bernama Hanabi yang membalas ucapan salam tersebut sambil menunjuk kearah Naruto yang kini sudah mengenakan pakaian yang cocok pada zaman itu.
"Ah, Souka. Tou-san, Hanabi. Perkenalkan, dia adalah Uzumaki Naruto. Pacarku!" Ucap Hinata dengan senyum kikuk. Hanabi membelalakan matanya terkejut karena mendengar penuturan dari kakaknya. Sedangkan ayahnya tidak memberikan ekspresi sedikitpun, menjaga wibawa.
TBC
Sekian buat Chapt. 2.
Mohon bimbingan dan reviewnya buat readers dan para senpai sekalian.
Arigatou - arigatou.. *bungkukin badan 90 derajat.
