Konichiwa Minna-san. Chapter 3 update :D. seperti biasa sebelum lanjut ceritanya, Author balesin reviewnya disini aja ya :D.
- Understand : Thx Sarannya senpai ^^.
- Guest : hmm.. buat ntar Author buat beda kok jalan ceritanya :D.
- yare - yare : hu uh, hu uh. Yuk kita simak gimana reaksinya naru :D
- Mimi Tea : Sankyu udh di perhatiin senpai :D
- darkcitrus : pengennya sih bikin lebih lucu lagi senpai. cuman masih newbie :p. ini juga sekalian belajar bikin genre comedy. hehe *Garuk - garuk kepala.
- mery-chan : hmm.. Author baik dan sehat selalu kok merry-chan. makasih perhatiannya :p. buat next chapt kayaknya bakal lebih panjang lagi kok merry-chan :D
- oxcid : Ga salah kok oxcid-san, Author segaja bikin Narutonya setengah bocah setengah dewasa :v. hehe. *garuk - garuk kepala. yuk - yuk kita simak kelanjutanya. kira - kira umur hina-chan brp ya. Author juga kepo nih :v
- virgo24 : Sankyu Virgo-san. Disimak trus ya ceritanya ^^ (*ngarep). nih udh update kok :D.
- uzumaki : woah.. menarik juga tuh kalo dijadiin syarat buat bawa pergi Hina-chan :p
- Generasi Muda : hehe. gpp kok senpai kalo banyak tanya :v. hmm, sengaja Author bikin Naruto ga lama - lama di dunia modern. ntar dia ditangkep polisi kan repot. trus kalo ratunya keburu mati gimana? :v #plak
- Musti Chan : Kalo jaman dulu umur 15 tahun udh itungan dewasa musti-chan :p. ternyata bukan Naruto aja yang nekat motong tangannya. Hina-chan juga nekat ngakuin Naruto sbg pacarnya ke om Hiashi :v.
- Cicikun : ntar di jelasin kok senpai. hehe. and thx buat perhatian dan saran - sarannya :D. kalo buat Hinata, hmm. Author sengaja bikin Charanya agak ooc :v.
- The KidSNo OppAi : OK :D
Sekali lagi Author ucapin Hontouni Arigatou buat yang udh review. Ok, Mari kita simak chapter selanjutnya. Happy reading Minna-san :D.
Chapt. sebelumnya :
"Tadaima, Tou-san, Hanabi." Salam hinata saat mereka sudah di depan pintu utama rumah bergaya tradisional tersebut.
"Okaeri." Balas pria paruh baya yang sepertinya adalah Ayah Hinata
"Okaeri, Hinata-nee. Siapa dia?" Kali ini gadis kecil yang bernama Hanabi yang membalas ucapan salam tersebut sambil menunjuk kearah Naruto yang kini sudah mengenakan pakaian yang cocok pada zaman itu.
"Ah, Souka. Tou-san, Hanabi. Perkenalkan, dia adalah Uzumaki Naruto. Pacarku!" Ucap Hinata dengan senyum kikuk. Hanabi membelalakan matanya terkejut karena mendengar penuturan dari kakaknya. Sedangkan ayahnya tidak memberikan ekspresi sedikitpun, menjaga wibawa.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : Naruto and Hinata.
Genre : Romance, Fantasy (mungkin), Supranatural (sedikit), Advanture, Drama
Warning : sorry masih Newbie jadinya typo, EYD yang ga beraturan, Chara juga OOC, Pasaran pastinya :v.
Don't Like Don't Read ^^
Summary : Hinata adalah seorang calon dokter yang baru akan mengikuti ujian akhir dari sekolah tingginya. Suatu hari , ia dimintai tolong oleh jendral berambut kuning yang barasal dari masa lalu untuk menyembuhkan seorang Ratu kerajaan. Tapi setelah menyelematkan Sang Ratu, mereka malah menghadapi suatu intrik kerajaan yang membuat mereka harus mempertaruhkan nyawanya. / Bad Summary / Newbie punya :D
RnR please..
and
Happy Reading
The Shogun and The Doctor.
Chapt 3 : Are You Ready?
Hinata menyikut pelan lengan kanan Naruto saat mendapati pemuda berambut kuning tersebut diam dan tak bereaksi.
Naruto menoleh kearah Hinata lalu mengerti maksud kode yang diberikan oleh Hinata. "Ah, maaf. Uzumaki Naruto, Yoroshiku." Ucapnya lalu membungkukan tubuhnya 90 derajat.
Ayah Hinata menatap dengan tatapan intens. Namun, hal itu tak memberikan sesuatu yang berarti bagi Naruto. "Hn.. Yoroshiku. Aku Hyuuga Hiashi, ayah Hinata."
Hinata menghela nafas lega karena merasa rencananya untuk mengelabui ayahnya berhasil.
"Baiklah, silahkan masuk!" Ucap Hiashi sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Mereka pun memasuki rumah besar bergaya tradisional tersebut dengan sedikit perasaan lega. Tapi, Hinata tak henti – hentinya mengingatkan sesuatu kepada Naruto untuk meminta izin pada ayahnya dengan sedikit mengelabui ayah dari 2 anak tersebut.
"Ingat Uzumaki-san. Kau adalah pacarku, dan kau berasal dari Kyoto! Lalu orang tua mu adalah seorang pengusaha mebel dari kyoto. Jadi mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan Naruto-kun. Dan kau juga harus memanggilku dengan Hinata, mengerti?"
"Baiklah – baiklah, ." Balas Naruto tersenyum sambil menepuk pelan dadanya dengan bangga. Sementara Hinata menghela nafas masih merasakan ketegangan. "Tapi, kalau dipikir - pikir kenapa aku harus menjadi pacarmu?" Lanjut Naruto yang sukses membuat Hinata memerah.
"E-etoo.. Kau mau Ratumu selamat atau tidak?!" Sahut Hinata kebingungan.
"Ya tentu saja!" Timpal Naruto tak mau kalah.
"Kalau begitu, lakukan semua yang ku katakan! La-lagi pula, hanya itu satu - satunya cara untuk mendapatkan izin dari ayahku." Suara Hinata mulai terdengar pelan di akhir.
"Naruhodo!" Ucap Naruto menganggukan kepala kuningnya.
"Kau tunggulah di ruang tamu bersama ayahku. Aku ingin membersihkan badan terlebih dahulu, lalu kita meminta izin pada ayahku sesuai rencana!." Naruto hanya menganggukan kepalanya mendengar penjelasan dari Hinata.
Setelah mengantar Naruto ke ruang tamu, Hinata beranjak ke kamarnya dan ingin melakukan ritualnya untuk membersihkan diri. Tapi, langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Hinata-nee." Hanabi memanggil kakak satu – satunya.
Hinata menoleh kebelakang. "Ada apa Hanabi?"
"Kenapa kau tak pernah cerita padaku kalau kau sudah memiliki pacar?!" Cecar Hanabi sambil mengkerucutkan bibirnya merasa kesal.
"E-eto.. aku hanya tidak ingin membuat kalian khawatir tentang sekolahku Hanabi." Sahut Hinata dengan senyuman yang di paksakan.
"Huft.. Tetap saja Hinata-nee sudah berbohong padaku."
"Maaf- maaf, lagi pula kau sekarang sudah tahu kan? Ya sudah, selagi aku mandi tolong buatkan Tou-san dan Naruto-kun Teh ya, Hanabi."
"Baik, Hinata-nee."
Sementara, tempat dimana Naruto dan Hiashi berada. Terciptalah suasana tegang di antara mereka. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Naruto untuk memecah keheningan. Gugup, itu lah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan yang sedang di rasakan oleh jendral muda tersebut. Karena, sekalipun Naruto seorang jendral terhebat sepanjang masa. Ia tetap menghormati seorang ayah seperti Hiashi.
"Ini tehnya, silahkan diminum." Hanabi datang memecahkan keheningan.
Demi ramen kesukaan Naruto, Ia sangat bersyukur akan kedatangan Hanabi yang telah memecahkan keheningan di ruangan tersebut.
"Te-terima kasih, Hanabi." Ucapnya Kikuk.
"Chan. Jangan lupakan itu, Naruto-niisan."
"Hehe. Gomen, Hanabi-chan." Balas Naruto sambil menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Nah, begitu lebih enak didengar. Niisan kan pacarnya Hinata-nee, jadi Niisan sudah resmi menjadi kakak laki – laki ku juga." Jelas Hanabi antusias kemudian duduk di sofa yang berbeda dengan Naruto
"Hn. Jadi, Uzumaki-kun. Dari mana kau berasal?" kali ini Hiashi mulai angkat bicara.
Naruto menoleh kearah Ayah Hinata. "Eto, saya berasal dari Kyoto, Hiashi-san."
"Hn.. Kyoto.. apa orang tua mu bekerja disana?" Tanya Hiashi lagi dengan tatapan mengintimidasi.
"Te-tentu saja, Hiashi-san."
"Apa pekerjaan orang tua mu?"
"Ayahnya seorang pengusaha mabel, Tou-san." Tiba – tiba suara Hinata menyele pembicaraan mereka.
Semua orang yang ada diruangan tersebut pun menoleh ke sumber suara, "Hn.. baiklah kalau begitu. Karena Hinata sudah ada disini, langsung saja apa yang kalian inginkan?" Ujar Hiashi bertanya to the point.
"Begini, Tou-san.." Saat Hinata hendak melanjut kan kata – katanya. Naruto menggemgam tangan Hinata yang kini sudah duduk di sebelahnya. Genggaman itu seperti sebuah kode yang sudah di mengerti oleh Hinata.
"Begini, Hiashi-san. Saya ingin meminta izin dari anda untuk membawa Hinata ke Kyoto." Tegas Naruto.
"ke Kyoto? Untuk apa?" tanya Hiashi heran.
"Saya ingin memperkenalkannya pada orang tua saya, karena besok sore mereka akan pergi ke amerika dalam waktu yang cukup lama. Jadi sebelum mereka pergi kesana, saya ingin memperkenalkan Hinata terlebih dahulu."
Hiashi menutup matanya, memikirkan permintaan kekasih dari anak sulungnya. "Berapa lama kalian di Kyoto?"
"kemungkinan 1 minggu." Sahut Naruto tanpa getaran di setiap katanya.
"Baiklah kalau begitu, kalian aku izinkan. Jadi kapan kalian akan berangkat?"
"Jam 9 malam ini menggunakan kereta, Hiashi-san."
Hinata sangat takjub mendengar perkataan Naruto untuk mengelabui ayahnya. Semua ucapannya saat perjalanan pulang tadi diingat oleh Naruto dengan sempurna. Karena melihat kesungguhan yang di berikan oleh Naruto, membuat Hinata merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Padahal yang mereka lakukan hanyalah sebuah acting belaka. Tapi, entah kenapa bagi Hinata semua itu seperti sebuah kenyataan.
Flash Back on
"Waaah.. hebat sekali. Benda ini bisa berjalan tanpa di tarik oleh kuda. Sugoi!" Naruto terkagum – kagum didalam dalam mobil sambil melihat kesana kemari.
Hinata sweetdrop melihat tingkah pria bersurai kuning yang ada disebelahnya. Tak henti – hentinya ia menggelengkan kepala meliat tingkah Naruto yang seperti orang bodoh.
"Hei. Kau dengar aku?" Hinata mulai kesal melihat tingkah Naruto yang selalu mengabaikannya.
"Waaaah.. bangunan itu tinggi sekali! Sampai mencakar langit!" Seru Naruto yang masih mengabaikan perkataan Hinata.
CKIIITTT… DHUUAKKK..
kepala Naruto sukses menghantam dashboard mobil saat Hinata mengerem mendadak.
"Ittaii.." Naruto meringis kemudian menoleh kesamping hendak melihat Hinata. Tapi, setelah ia berhasil menoleh. Disana Naruto dapat melihat aura gelap yang sedang menyelimuti Hinata. Hal itu sukses membuat Naruto menelan ludahnya berkali – kali.
Hinata pun ikut menoleh kearah Naruto masih dengan aura gelap yang masih menyelubunginya. "jangan mengabaikanku." ucapnya dengan nada dingin seperti srigala yang siap melahap mangsanya.
Naruto lagi – lagi menelan ludahnya dengan kasar. "I-iya."
"Apa kau mendengarkan semua perkataanku?"
"i-iya." Jawab Naruto ketakutan seperti seekor kancil yang siap di telan hidup – hidup.
"Kalau begitu ulangi semua yang kukatakan padamu barusan." Hinata masih dalam mode membunuhnya.
Naruto tak henti – hentinya menelan ludah kemudian menghirup nafas dalam – dalam. "Aku adalah pacarmu yang berasal dari Kyoto. Orang tua ku adalah pengusaha mabel dari Kyoto dan besok mereka akan pergi ke Amerika dalam waktu yang sangat lama. Jadi aku harus meminta izin pada ayahmu untuk memperkenalkanmu ke orang tua ku sebelum mereka berangkat ke Amerika besok."
Hinata menatap lama pada Naruto kemudian ia tersenyum manis. "Baguslah, ternyata kau pintar." Ucapnya lalu mengusap surai kuning milik Naruto lalu menjalankan mobilnya kembali.
Naruto hanya bisa terdiam dan memasang wajah cengo ketika melihat ekspresi Hinata yang sangat cepat berubah.
"Oh iya, sebelum itu sebaiknya kau kebelakang dan mengganti pakaian! Tadi aku sudah membeli 1 set pakaian pria untukmu." Ujar Hinata sambil menunjuk kearah belakang jok mobilnya.
"Ganti pakaian? Untuk apa?" tanya Naruto heran.
"Pakaian mu terlalu mencolok, Baka." Sahut Hinata dengan deathglare terbaiknya.
Naruto hanya bisa mengerjapkan matanya dan menuruti perintah Hinata.
Flash Back Of.
"Waah, Hinata-nee. Boleh aku ikut ke Kyoto?" Hanabi tiba – tiba ikut ke dalam pembicaraan.
"Eeh.." Hinata kaget mendengar permintaan adik kecilnya. "Ettoo…"
"Hanabi.." Hiashi memberikan kode pada anak bungsunya untuk bersikap sopan.
"Ha'I, Tou-san." Sahut Hanabi sambil mengkerucutkan bibirnya.
"Baiklah, kalian berhati – hatilah disana. Dan jangan macam – macam. Ingat?" Kalimat terakhir ditujukan untuk Naruto dengan deathglare sempurna yang di berikan oleh Hiashi.
"Ba-baik." Naruto hanya bisa tergagap saat membalas ucapan Ayah Hinata.
OOO
Seletah mendapatkan izin dari Hiashi untuk membawa Hinata pergi, Tanpa membuang banyak waktu, mereka langsung berangkat menuju tempat dimana portal waktu berada.
"Hahaha.." Gelak tawa Naruto terdengar nyaring.
Merasa aneh dengan tingkah Naruto, Hinata pun mengkerutkan dahinya. "Kau kenapa?"
"Aku masih tak menyangka kalau ayahmu sangat mudah ditipu." Naruto masih merasa geli mengingat kalau Ayah Hianata sangat mudah untuk ditipu.
"Jangan menghina Ayahku!" Ujar Hinata sambil mengkerucutkan bibirnya merasa tak terima ayahnya di jelek – jelekan oleh Naruto. "Selain itu, siapa tadi yang berkeringat dan tergagap saat berhadapan dengan ayahk?."
"A-aku hanya kepanasan makanya berkeringat. Lagi pula tampang ayahmu sangat seram." Bela Naruto.
"Huft." Hinata membuang muka saat matanya berhadapan dengan Naruto.
Suasana pun menjadi hening setelah perdebatan kecil mereka dan tak terasa mereka kini sudah berada di tempat dimana Naruto datang pertama kali ke zaman modern. Mereka sekarang berada di sebuah museum kota Konoha yang di halamannya terdapat sebuah patung unik dan memiliki 4 buah pilar dengan ukiran yang menawan.
"Kalau tidak salah ini tempatnya." Tutur Hinata.
"Kau yakin?" Tanya Naruto memastikan
Hinata menganggukan kepalanya. "Aku yakin! Karena seingatku, tadi pagi aku menabrakmu disana." Ucapnya sambil menunjuk ke arah jalan raya.
"Berarti, jauh sekali aku terlempar!." Ucap Naruto sambil berfikir ala albert Einstein. Sedangkan Hinata hanya memutar bola matanya malas.
Naruto mulai mengecek sekitar. Dan tepat sekali apa yang dikatakan Hinata. Naruto kini melihat sebuah pusaran cahaya yang berada di sekitar patung unik tersebut.
"Kau benar, ini dia portalnya!" Seru Naruto yang mengundang perhatian Hinata.
"Jadi ini portalnya?" Naruto hanya merespon pertanyaan Hinata dengan anggukan.
"Ayo?!" Ajak Naruto.
Tapi, Pria bersurai kuning tersebut dapat melihat dengan jelas keraguan Hinata. itu terbukti dari sorotan matanya yang kosong dan getaran tubuhnya seperti orang ketakutan.
"Kau takut?" Naruto mencoba berbasa basi namun Hinata hanya diam dan terus memperhatikan pusaran cahaya yang ada di depannya dengan tatapan kosong.
"Tenanglah. Aku akan tetap bersamamu sampai semuanya selesai! Setelah itu, aku akan mengantarkanmu lagi kesini."
Hinata menatap kedua iris sapphire Naruto. Ia dapat melihat tidak ada pancaran kebohongan dari wajah Naruto. Hinata yakin, kalau Naruto akan menepati janjinya kemudian ia menganggukan kepalanya.
"Kau siap?" Tanya Naruto lagi.
"Siap." Ucap Hinata sembari menganggukan kepala indigonya.
Setelah meyakinkan Hinata, mereka pun berjalan kearah pusaran cahaya tersebut. Perlahan, mereka terhisap kedalamnya dan menimbulkan sedikit terpaan angin. Naruto terus menggenggam tangan Hinata untuk menetralkan rasa takut yang gadis lavender itu rasakan. Didalam batin Hinata, ia merasakan sebuah kehangatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya saat Naruto menggenggam tangan mungilnya.
983, Kerajaan Konoha,
Malam kini telah menyelemuti kerajaan konoha. Seperti biasa, Kerajaan tersebut terlihat sangat damai. Tapi, tidak untuk kondisi Ratu Sakura yang masih belum ada kemajuan sedikitpun. Di singgasananya, tampak Raja Sasuke sedang duduk sambil menikmati sake dengan wajah frustasi. Tak lupa juga, seorang penasehat kerajaan setia menemani dirinya.
"Bagaimana jika Naruto kembali dengan tangan kosong, Kabuto?"
Kabuto sang penasehat tersenyum. "Jangan pesimis paduka. Jendral Uzumaki adalah yang terhebat di kerjaan Konoha. Aku yakin dia akan membawakan hasil yang baik untuk kita."
"Aku harap juga begitu. " Sahut Sasuke kemudian meneguk sakenya kembali.
Sementara itu. Naruto dan Hinata telah berhasil melewati portal dalam keadaan selamat.
"Ugh.." Erang Hinata ketika mendapati tubuhnya jatuh telungkup setelah keluar dari portal tersebut. Hinata langsung memperhatikan sekitar. Betapa terkejutnya ia saat menyadari bahwa kini ia sedang berada di tengah hutan.
Lamunan Hinata di kagetkan dengan tepukan pelan di pipinya. "Hei, Hinata. Aku memang tidak keberatan dengan posisi kita sekarang. Tapi, kita harus bergegas!" Suara baritone tersebut mengundang perhatian iris lavender Hinata untuk bergerak kearahnya.
Sesuai dugaannya, Kini tubuh mereka saling tumpang tindih. Hinata berada di atas dan Naruto sebagai alasnya. Dengan semburat merah yang tiba – tiba menghiasi pipi putih Hinata, cepat – cepat ia berdiri dari tempatnya, membersihkan pakaiannya yang kotor lalu membuang muka kearah lain.
Kini Hinata merasakan debaran jantungnya berpacu lebih cepat, lalu ia berusaha menguasai dirinya dengan segera. Namun, hal itu sepertinya sia – sia. Karena Naruto tiba – tiba berbisik di telinga mungil milik Hinata.
"Kau agresif juga ya?" Goda Naruto.
BUGHH..
Suara benturan tas Hinata menghantam wajah tampan Naruto.
"Ittai.." Naruto meringis.
"Ini." Hinata menyerahkan tasnya yang besar pada Naruto dengan cara melemparkannya pada Pria berkulit tan tersebut.
"Berat sekali." Gerutu Naruto saat menerima lemparan tas besar yang Hinata bawa.
"Apa yang kau bawa Hinata? Kenapa tas ini berat sekali?"
"Peralatan bedah dan beberapa obat – obatan sampai temanmu sembuh." Sahut Hinata enteng.
Naruto hanya ber-oh ria mendengarkan penjelasan dari Hinata. Tak membutuhkan waku lama mereka segera bergegas menuju istana kerajaan Konoha.
"haaahhh…. Udara disini segar segali!" Ujar Hinata saat menikmati udara disekitar mereka.
"Ne, Hinata. Sebelum ke istana kita harus merubah penampilanmu."
Hinata menoleh. "Me-merubah penampilanku? Memangnya aku terlihat aneh ya?"
"Pakaianmu terlalu mencolok disini, Hinata." Jawab Naruto Enteng.
"Oh begitu. Baiklah." Ujar Hinata dengan senyuman.
Ditengah Hutan yang tidak begitu lebat. Naruto dan Hinata memutuskan untuk mengungunjungi tempat tinggal kenalan Naruto untuk merubah penampilan Hinata yang terlihat terlalu mencolok pada tahun 983. Di perjalanan, Hinata tampak sangat senang dan Tak Henti – hentinya berteriak kegirangan. Apalagi saat melihat hewan lucu seperti tupai yang melompat dari dahan pohon ke dahan pohon layaknya seorang acrobat sirkus.
Naruto terus memperhatikan gadis indigo tersebut. Entah kenapa, senyuman dan tawa Hinata begitu enak di pandang olehnya. Seakan – akan ia ingin melihat hal tersebut lebih lama dan bahkan selamanya. Tapi, hal itu tidak akan mungkin bisa terjadi mengingat Hinata adalah seseorang yang berasal dari masa depan.
TAP.. TAP.. TAP..
Pada saat yang sama, tampak seorang pria yang mengenakan pakaian putih dan ketat sedang berjalan dilorong yang sangat panjang. Jika di perhatikan lagi, Pria tersebut seperti seorang Ninja. Memiliki rambut panjang sepinggang dan menggunakan topeng yang menyerupai wajah monyet.
Setelah itu, Pria bertopeng tersebut memasuki sebuah ruangan kemudian duduk berlutut di belakang seorang wanita yang menggunakan kimono indah berwarna putih yang di padu dengan corak bunga teratai. Selendang putih yang sedang mengelilingi tubuhnya juga ikut ambil bagian dalam melengkapi keanggunan wanita tersebut.
Sama halnya seperti pria bertopeng yang sedang berlutut di belakangnya, Wanita berkimono itu berambut panjang sepinggang dan menggunakan topeng yang menyerupai burung elang. Namun, hanya menutupi mata dan hidungnya saja. Sedangkan bagian mulutnya yang berwarna peach dan bentuknya yang tipis masih dapat terlihat jelas.
"Jadi, sudah dimulai?" Ujar Wanita berkimono tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.
"Benar, Ojou-sama. Sekarang apa langkah anda selanjutnya?" Tanya pria bertopeng.
"Kita lihat, bagaimana reaksinya. Setelah itu, kita akan bergerak!" Sahutnya sambil melangkah.
"Baik, Ojou-sama." Jawab pria bertopeng dengan hormat.
Kemudian Wanita yang di panggil Ojou-sama tersebut mengayunkan sebelah tangannya kedepan, hal itu menciptakan sebuah pusaran cahaya berukuran sesuai dengan tubuhnya. Tak lama, wanita tersebut pun masuk kedalam pusaran cahaya dan menghilang entah kemana.
TBC
Sekian untuk Chapter 3.
Tak bosan - bosannya Author meminta bimibingan melalui review dari readers dan para senpai sekalian, supaya bisa memperbaiki kesalahan - kesalahan yang ada. #plak
Arigatou - arigatou.. *bungkukin badan 90 derajat.
