Konichiwa Minna-san, Chapter 4 udpate nih :D. (Ngarep di baca #plak). seperti biasa Auhtor balesin review dulu disini ya. ^^

- mery-chan : hehe.. curhat juga boleh kok merry-chan. :p. huum ini juga udh di panjangin kok wordnya :p keep reading ya :v *ngarep.

- Guest1 : hmm.. Kurama ya? idenya boleh juga tuh. nanti Author usahain deh si kurama bisa nongol apa engga :D. hehe..*garuk-garuk kepala

- Guest2 : Author bakal usahain rada beda kok sama drakornya :D. kalo masalah triangle lovenya ttp ada kok, hehe. trus kalo masalah kcptan, ok bakal Author perlambat alurnya. ^^ thx sarannya :D

- fbalinz : hehe *garuk-garuk kepala. makasih senpai. gpp kok yang penting udh di baca fict gajenya Auhtor :v. sekali lagi sankyu senpai ^^

- Misti chan : hmm.. kalo buat ending Author belum kepikiran bakal sad atau happy. hehe *garuk - garuk kepala. hu um, Hinata pasti kawaii bgt kalo pake kimono :D (senyum-senyum mesum #plak)

- Sena Ayuki : apakah wanita berambut panjang sepinggang itu Hinata dari masa lalu? Auhtor juga masih bingung sebenernya itu siapa :v. Woaahhh! Sena-senpai keknya suka yang berbau lemon nih (O.O).

- Cicikun : buat senpai yang satu ini. Author bener - bener salut deh. hehe..*garuk - garuk kepala. soalnya sampe detail banget fict gaje ini di perhatiin. Author bener - bener ngucapin makasiiiiiiiiiiiihhhh yang sebesar - besarnya buat Cici-senpai. dan di chapter ini, Author udh usahain memperbaiki kesalahan - kesalahan yang kemaren. buat Cici-senpai jangan lupa dibimbing trus ya Author newbie ini. hehe :D

- The KidSNo OppAi : sippo ^^.

Sekali lagi, Author ucapin Hontouni Arigatou buat readers dan senpai - senpai yang udh review. langsung aja, kita simak Chaptter 4. Happy reading minna-san ^^.


Chapt. Sebelumnya :

"Jadi, sudah dimulai?" Ujar Wanita berkimono tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.

"Benar, Ojou-sama. Sekarang apa langkah anda selanjutnya?" Tanya pria bertopeng.

"Kita lihat, bagaimana reaksinya. Setelah itu, kita akan bergerak!" Sahutnya sambil melangkah.

"Baik, Ojou-sama." Jawab pria bertopeng dengan hormat.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : Naruto and Hinata.

Genre : Romance, Fantasy (mungkin), Supranatural (sedikit), Advanture, Drama

Warning : sorry masih Newbie jadinya typo, EYD yang ga beraturan, Chara juga OOC, Pasaran pastinya :v.

Don't Like Don't Read ^^

Summary : Hinata adalah seorang calon dokter yang baru akan mengikuti ujian akhir dari sekolah tingginya. Suatu hari , ia dimintai tolong oleh jendral berambut kuning yang barasal dari masa lalu untuk menyembuhkan seorang Ratu kerajaan. Tapi setelah menyelematkan Sang Ratu, mereka malah menghadapi suatu intrik kerajaan yang membuat mereka harus mempertaruhkan nyawanya. / Bad Summary / Newbie punya :D

RnR please..

and

Happy Reading

The Shogun and The Doctor.

Chapt. 4 : Shogun Vs Stranger

"Kirei," ucap seorang wanita cantik berambut pirang pucat dengan gaya ponytail, "Yukata itu sangat cocok untukmu Hinata-chan."

Wanita itu adalah Ino. Seorang warga sipil di kerajaan konoha dan juga salah satu kenalan Naruto yang berada di luar istana. Pertemuan mereka pertama kali saat Ino diserang oleh beberapa samurai liar, dan Naruto lah satu-satu nya orang yang menolongnya pada saat itu. Dan semenjak peristiwa tersebut, Ino menganggap Naruto sebagai adiknya sendiri.

Maka dari itu, setiap Naruto membutuhkan pertolongannya, maka Ino akan dengan senang hati menolong Naruto sekalipun hal tersebut akan sangat merepotkan untuk dirinya.

"Apa kau yakin Ino-chan?" sahut Hinata ragu, "aku belum pernah mengenakan pakaian seperti ini, jadi terasa aneh bagiku."

Ino juga salah satu orang yang sangat cepat akrab dengan siapa pun. Apa lagi orang tersebut adalah teman dari orang yang sangat dikenalinya, seperti Naruto. Karena itulah, setiap ada orang yang Naruto bawa bersamanya ke tempat Ino, terutama seorang wanita. Sudah pasti Ino akan sangat senang seperti saat ini.

"Percaya lah padaku, Hinata-chan. Kau sangat cantik," Ino berusaha meyakinkan, "dan aku yakin, Naruto-dono pasti akan langsung jatuh cinta padamu."

"A-apa yang kau katakan?! D-dia itu hanya bocah 15 tahun! Ji-jika dia berani jatuh cinta padaku, akan ku pukul kepalanya!"

Ino menatapnya dengan tatapan menggoda, "Kenapa kau jadi gugup begitu, hmm?"

"Cukup, Ino-chan!" seru Hinata dengan semburat merah yang mulai menari di pipi putihnya, "Jangan menggodaku!"

"Ahahaha. Kau sangat manis jika malu seperti ini, Hinata-chan."

"Mou.." Gerutu Hinata.

"Baiklah, Ayo kita keluar? Aku yakin Naruto-dono pasti sudah lelah menunggu," ajak Ino yang hanya di balas dengan anggukan oleh Hinata.

Di ruangan yang tidak terlalu besar, tampak Naruto sedang duduk dengan raut wajah yang sangat kesal. Karena pria berambut kuning tersebut kini tengah menunggu seseorang sambil menikmati secawan sake.

Menunggu adalah hal yang paling di benci Naruto, karena dalam hidupnya ia sama sekali tak pernah membuat orang menunggu. Jadi, jika ia dibuat menunggu seperti ini. Sudah pasti Jendral muda tersebut akan sangat merasa kesal.

Tapi, penantiannya sepertinya berakhir sudah saat mendengar kikikan kecil dua orang wanita yang sedang berjalan keluar dari sebuah ruangan. Atau lebih tepatnya sebuah kamar.

Naruto pun menoleh kearah mereka, "Kalian lama seka.."

Perkataan Naruto terhenti seketika saat tatapannya beralih pada sosok Hinata yang kini sudah mengenakan Yukata pemberian Ino.

Dipandangan Naruto, kini Hinata seperti Kaguya-Hime yang siap di bawa ke kahyangan oleh sang dewa. Mata Naruto tak henti–hentinya menatap tubuh mungil Hinata yang kini dbalut oleh Yukata indah berwarna lavender dengan corak bunga di setiap sisinya.

Ino menyenggol lengan Hinata pelan dengan sikunya,"Lihat, benar 'kan? apa yang ku katakan padamu barusan," ucapnya sedikit berbisik.

Semburat merah di pipi Hinata semakin menampakan dirinya pertanda ia sedang malu dan gugup.

"Bagaimana, Naruto-dono? Cantik seperti permintaanmu, bukan?" Ino mulai menyadarkan keterpakuan Naruto pada sosok Hinata yang telah berubah 180 derajat dari segi penampilan.

"Sug.." Naruto menggantung perkataannya.

"Suram," celetuk Naruto asal kemudian meneguk sakenya kembali.

Hal itu sukses membuat Ino sweetrop. Sedangkan Hinata, urat empat siku keluar dari kepalanya. Dengan anggun ia berjalan ke arah pria beriris sapphire tersebut. Naruto hanya bisa mengerjapkan kedua matanya ketika Hinata sudah berjarak tidak lebih dari setengah meter darinya.

BLETAKK…

"Baka gaki!" seru Hinata sewot, "Setidaknya pujilah seorang gadis yang sudah berpenampilan cantik untukmu."

"Ittaii!" Naruto mengerang, "kenapa kau suka sekali memukul kepa.. Cotto.. Kau bilang berpenampilan cantik untukku?"

"Ma-maksudku u-untuk pergi ke istana sebagai tabib bersama mu," elak Hinata, "yah, sebagai tabib! Tidak lebih!" kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Ino yang melihat keakraban mereka ikut tersenyum, "Ne, Naruto-dono. Bukan maksud untuk mengusir, lebih baik kalian bergegas sebelum kondisi Ratu Uchiha semakin memburuk."

"Baiklah, Ino-nee!" sahut Naruto. "Arigatou, ittekimasu."

"Itterasai," balas Ino

"Arigatou, Maaf sudah merepotkan, Ino-chan." tutur Hinata yang merasa tidak enak karena sudah merepotkan Ino, "lain kali aku akan membalas semua perbuatan baikmu, Jaa"

Ino hanya tersenyum maklum sambil melambaikan lengannya kearah mereka berdua. Kini, Naruto dan Hinata masih harus berjalan lagi melewati hutan bambu, baru setelahnya mereka akan tiba di sebuah kota kecil di daerah tersebut. Karena, rumah Ino berada cukup jauh dari keramaian kota, sehingga butuh sedikit perjalanan kaki untuk sampai ke sana.

"Ne, Gaki-chan?" ucap Hinata memanggil Naruto dengan sebutan bocah.

"A-apa? Kau memanggilku apa?"

"Ga-Ki-Chan~," ungkap Hinata dengan penekanan yang lebih jelas.

"Sialan. Berani sekali kau menyebut seorang jendral hebat seperti ku dengan kata, gaki!" Naruto mulai sewot tak terima.

"Tapi itu kenyataan 'kan?" balas HInata dengan wajah tanpa dosa sedikitpun.

Naruto menggertakan gigi–giginya menahan amarah kemudian menghela nafas pasrah, "Terserah kau sajalah, Oba-chan?"

"Siapa yang kau panggil Oba-chan?" Aura gelap pun mulai menyelimuti tubuh Hinata.

Naruto hanya bisa menelan ludah dengan paksa saat merasakan aura gelap yang dingin di sebelah kirinya. Kemudian, dengan gerakan patah – patah ia menoleh. Dan tepat sekali, kini tubuh Hinata tengah diselimuti aura gelap yang sangat berbahaya.

"Go-gomen," cicit Naruto ketakutan dengan tatapan horror.

"Ne, seberapa jauh lagi jarak istana?" Hinata mulai bertanya serius.

"Kalau menggunakan kuda, sekitar 2 jam kita akan tiba disana," sahut Naruto disela–sela perjalanan mereka.

"Kuda? Dimana kita bisa mendapatkan kuda?" tanya Hinata lagi.

"Disana," Naruto menunjuk ke arah depan mereka. Awalnya, Hinata hanya memiringkan kepalanya tanda tak mengerti. Lalu ia mulai mengikuti arah tunjukan jari tersebut. tak lama setelah itu, senyum simpul tercipta di bibir peach Hinata saat melihat sebuah kota tradisional yang belum pernah dilihat olehnya.

Kota tesebut cukup ramai dengan orang–orang yang berlalu–lalang di sekitarnya. Ada yang menjajakan barang dagangannya, ada yang hanya melihat–lihat, ada yang membeli, bahkan ada juga yang hanya melintasi kota tersebut.

Kota yang tidak terlalu besar itu juga memiliki beberapa penginapan, restoran, dan juga toko–toko senjata serta penyewaan kuda.

layaknya anak kecil yang sedang berlibur bersama keluarganya, Hinata tampak sangat senang saat berada disana. ia sesekali berputar memandangi tempat itu. terkadang ia juga menghampiri kios–kios kecil yang menjual beberapa makanan dan pernak–pernik.

"Ya ampun, sebenarnya yang gaki itu dia apa aku?" gumam Naruto sambil menepuk dahinya pelan, kemudian menyusul Hinata yang sedang melihat kios pernak–pernik tradisional buatan tangan.

Setelah menghampiri Hinata, dapat dilihat oleh Naruto gadis yang dianggapnya sebagai tabib dewa itu sedang menggenggam Hanakanzashi (Hair Stick) unik yang terbuat dari kayu maple dan berhiaskan manik–manik pelangi di bagian atasnya.

"Kau suka?" tanya Naruto menginterupsi lamunan Hinata.

"Ti-tidak," bohong Hinata.

"Ji-san, berapa harganya?" Naruto bertanya pada penjual Hanakanzashi tersebut.

"500 Ryo tuan," balasnya.

"Aku ambil satu," ujar Naruto sambil menyerahkan sejumlah uang yang dimaksud.

"Ayo," Naruto lalu menarik lengan Hinata pergi dari tempat tersebut.

Sembari mencari tepat penyewaan kuda, Hinata terus memandangi penghias rambut yang barusan dibelikan Naruto untuknya dengan senyum simpul di wajah ayunya.

"A-arigatou," cicit Hinata malu-malu.

"Hn?" Naruto menoleh, "oh, sama–sama. Ayo kita harus bergegas."

"Umm," Hinata menganggukan kepalanya dengan semangat lalu mengikuti Naruto dari belakang.

"Disini sangat ramai ya?" kata Hinata sambil melihat sekitarnya

"Begitulah, disini sebenarnya tempat persinggahan orang yang sering berkelana," ungkap Naruto.

"Oh, begitu."

"Nah, Kalau begitu kau tunggu disini. Aku akan menyewa seekor kuda untuk kita,"

"Baiklah," sahut Hinata menurut.

"Ingat, jangan kemana–mana!" tegas Naruto mengingatkan, lalu Hinata memberikan kode dengan sebelah tangannya yang membentuk huruf O memggunakan jari telunjuk dan jempolnya.

OOO

Seperti biasa di istana kerajaan konoha masih terlihat damai dengan orang–orang yang beraktivitas di dalamnya. Tapi tidak untuk Raja Uchiha Sasuke. Seperti kemarin ia masih saja resah menunggu kepulangan Naruto membawa seorang tabib dewa.

Di sebuah ruangan megah tempat Raja Sasuke sekarang, tampak dirinya sedang mondar–mandir dan mencemaskan sesuatu. Yang dicemaskan Sasuke adalah Naruto yang tidak kunjung datang juga.

"Ini sudah hari kedua kepergian Naruto," gumamnya, "Apa dia akan berhasil?" lalu ia berjalan menghampir sebuah meja yang sudah tersuguhkan sake disana.

"Paduka," suara seseorang menginterupsi kegiatan Sasuke.

"Ada apa Shikamaru?" ucap Sasuke setelah ia mendapati salah seorang anak buah Naruto menemuinya.

"Maaf atas kelancangan saya mengganggu pagi anda."

Sasuke menganggukan kepalanya pelan, "Tidak apa–apa. Ada apa kau menemui ku pagi–pagi begini?"

Shikamaru bangkit dari duduk berlututnya, "Anda terlihat cemas menunggu kedatangan Naruto-dono."

Sasuke tak memberikan komentar, ia hanya menghela nafas panjang dan berjalan ke arah singgasananya.

"Tenanglah Paduka! Naruto-dono pasti akan datang tepat waktu dengan hasil yang memuaskan," Shikamaru mencoba menenangkan Raja nya.

"Aku mengerti Shikamaru. Tapi, tetap saja aku khawatir pada keadaan Sakura." Akhirnya Sasuke mengeluarkan unek–unek tentang permaisurinya.

"Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa untuk kesembuhan Ratu, Paduka," Tutur Shikamaru mencoba membuat Rajanya kembali tenang.

"Selain itu, belakangan hari ini saya mendengar ada sebuah organisasi yang merekrut samurai liar untuk dijadikan pasukan."

Sasuke mengernyit, "Maksudmu?"

"Begini Paduka. Sebenarnya ini masih kabar angin. Tapi, ada sebuah organisasi yang merekrut samurai liar untuk di jadikan pasukan tanpa sepengatuhan pihak kerajaan," Ungkap Shikamaru.

"Cih," Sasuke berdecak kesal, "kenapa di saat seperti ini masalah lain harus muncul."

"Lalu, berdasarkan kabar angin tersebut. Organisasi itu berasal dari konoha," sambung Shikamaru.

"Apa?! Kenapa hal ini bisa kita lewatkan?" Sasuke tidak terima karena merasa kepemimpinannya sebagai Raja kecolongan oleh sebuah organisasi yang bergerak tanpa izin.

"Mungkin karena kita terlalu fokus pada penyembuhan Ratu, Paduka."

"Cih," Lagi – lagi Sasuke berdecak kesal.

"Dan mungkin, ini semua ada hubungannya dengan kepergian Naruto-dono, Paduka," Shikamaru memberikan tanggapannya.

Sasuke diam mencoba berfikir. Mungkin ada benarnya yang dikatakan oleh Shikamaru, kalau kepergian Naruto membuat beberapa organisasi mencoba melakukan konspirasi akibat hasutan musuh kerajaan Konoha.

"Baiklah. Terima kasih atas informasimu, Shikamaru," ujar Sasuke.

"Lalu apa langkah kita, Paduka?"

"Sampai kembalinya Naruto. Aku perintahkan kau untuk menyelidiki masalah ini dan mencari informasi yang lebih spesifik di kota–kota terdekat."

"Siap, Paduka."

"Dan jangan lupa. Bayarlah beberapa ninja liar untuk mencari informasi tersebut."

"Ha'I, Paduka. Kalau begitu saya permisi," undur Shikamaru.

"Hn."

Setelah Shikamaru pergi dari tempat tersebut, Sasuke kembali meneguk sakenya. Pikirannya semakin kacau. Masalah Ratu yang sedang sekarat belum selesai, tapi sudah muncul lagi masalah tentang konsiparasi dari organisasi illegal. Semakin Sasuke memikirkan hal tersebut, semakin membuatnya emosi.

"Khuso!" umpat Sasuke. "Naruto, cepatlah kembali." Gumamnya setelah itu.

Hanya Naruto lah yang paling diharapkan oleh Sasuke sekarang. Karena, tanpa bantuan jendralnya tersebut. Sasuke pasti akan kewalahan untuk mengatur pemerintahannya. Apa lagi ditambah dengan masalah Ratu Sakura yang sampai sekarang terus mengganggu pikirannya.

Kembali ke tempat Naruto berada. Kini ia sudah mendapatkan kuda yang telah disewanya. Ia pun membawa kuda tersebut sambil berjalan ke tempat Hinata menunggunya tadi.

Tapi, setelah sampai di tempat tersebut. Sosok anggun Hinata malah mengihilang entah kemana.

"Hinata? Dimana kau?" ujar Naruto entah pada siapa.

Lalu Jendral muda itu pun mulai mencari disekitar. Nihil, Naruto sama sekali tidak menemukan sosok Hinata disana.

"Khuso!" umpat Naruto kesal.

Saat Naruto hendak menaiki kudanya, ekor matanya tak sengaja menangkap sebuah Hanakanzashi yang tadi dibelikannya untuk HInata. Naruto sedikit memiringkan kepalanya lalu mengambil benda unik tersebut yang sedang tergeletak di tanah.

"Sepertinya aku harus begegas. Dia pasti belum jauh," gumamnya kemudian.

Sementara itu, Hinata kini sedang bersama seorang pria asing. Pria tersebut tampak tak berbahaya bagi Hinata. Itu terlihat dari gelagatnya yang sama sekali tidak merasa ketakutan ketika berjalan di sebelahnya.

"Souka. Tapi, aku punya misi disini," tutur Hinata pada seorang pria kekar yang kini berjalan di sebelahnya.

"Misi, apa maksudmu dengan misi?" tanya Pria kekar tersebut..

"Yah, aku harus menyembuhkan seorang Ratu dari kerajaan ini," ungkapnya.

Setelah mendengar penuturan dari Hinata, pria kekar yang mengenakan pakaian seperti samurai tersebut tiba–tiba berhenti dan menatap kosong ke arah depan.

"Kenapa?" tanya Hinata heran ketika menyadari pria yang sedang bersamanya sedikit tertinggal di belakang.

SYUUUT…. JLEEB..

Tiba–tiba saja sebuah pisau belati melesat dan melayang ke arah pria kekar tersebut. Belati unik dengan hiasan batu sapphire indah di bagian pangkal bilahnya itu berhasil dihindari olehnya dengan mudah dan berakhir menancap di sebuah batang pohon.

"Sesuai dugaanku! Ternyata ada seekor tikus yang sedang mencuri makanan!" suara baritone itu terdengar sangat familiar di telinga Hinata.

Perlahan Hinata menoleh ke sumber suara tersebut, "Naruto-kun?!" ucapnya.

Naruto kini sedang berjalan santai diatas kudanya mendekati mereka.

"Hinata, menjauhlah dari tempat ini," ucap datar pria asing itu yang kini mulai melangkah ke arah yang berlawanan dengan Hinata.

"Eeh? A-apa maksudnya?" Hinata tak mengerti, tapi ia menuruti perintah pria asing tersebut dan mundur secara perlahan untuk menjaga jarak.

"Naruto-dono, Apa aku benar?" ujar pria asing tersebut, "aku tahu kau seorang pembela kebenaran sekaligus jendral terhebat sepanjang masa dari kerajaan konoha."

Naruto mulai turun dari atas kuda lalu menatap pria asing yang ada di depannya dengan tatapan dingin dan sangat intens.

"Tapi, maaf saja. Aku harus membawanya pergi. Tempatnya bukan disini!" lanjutnya sambil menunjuk kearah belakang dengan jempol kirinya.

"Ara–ara?! Berani sekali tikus liar sepertimu mencuri sesuatu yang berharga milikku dan berkata seolah kau adalah pemiliknya," sahut Naruto dengan nada yang menantang.

Hinata yang jaraknya cukup jauh masih dapat mendengar percakapan mereka. Tapi, ketika mendengar penuturan Naruto, membuat wajah Hinata semakin panas dan memerah. Degupan jantungnya yang semakin cepat pun turut mendukung ekspresinya pada saat ini.

"Jika kau bersikeras membawanya kembali, aku rasa katana kita yang harus berbicara!" ucap pria asing tersebut lalu menunjukkan sebagian bilah katananya yang terlihat sangat tajam dari dalam saya (sarung) dengan tangan sebelah kiri.

"Wah–wah! Berani sekali kau mengancamku," celoteh Naruto, "kalau begitu, Ayo," ucapnya sambil mengangguk sambil tersenyum sinis.

WUUUUSHHHH..
Tiba – tiba angin menerpa mereka berdua yang kini jaraknya tidak lebih dari 10 meter.

1 detik, mereka masih saling menatap.

2 detik, tatapan mereka semakin intens.

3 detik, Naruto mulai memegang handle katananya.

Tepat di detik ke 4, tiba–tiba mereka hilang dari tempatnya masing-masing.

Sangat cepat. Itu lah hal yang bisa di gambarkan ketika mereka melesat kearah lawan masing–masing. Layaknya angin yang berhembus, tiba–tiba saja mereka sudah saling berhadapan pada jarak satu meter.

TRINGG…
Suara katana beradu dan mengakibatkan sedikit percikan api disekitarnya. Katana dari kedua samurai tersebut masih beradu dan bergesekan. Iris mata yang berbeda dari kedua pria kekar itu saling menatap intens. Seakan mereka berbicara hanya melalui tatapan mata.

Masih dengan kecepatan yang terbilang cepat, katana mereka terlepas dari peraduannya.

TRANG… TRING..
Kini dua senjata buah senjata tajam tersebut saling membentur dan beradu diudara. Mencoba mencari sisi kosong dari lawan masing–masing.

Pria asing yang menjadi lawan Naruto mencoba menyerang kaki Naruto. Namun, dengan satu lompatan berputar di udara, Naruto dapat menghindarinya dengan mudah.

Selama di udara, Naruto menatap kebawah dan mendapati lawannya sekarang sedang dalam keadaan kosong. Lalu, ia mulai menggerakan katana miliknya untuk menebas kepala pria tersebut. Hinata yang menjadi saksi bisu hanya bisa menyipitkan mata karena menduga pria yang menjadi lawan Naruto akan segera kehilangan kepala.

Sangat disayangkan, lawan Naruto berhasil menghindar dengan cara merebahkan tubuhnya kebelakang dengan cepat (ala film matrix #plak), hanya rambutnya lah yang menjadi korban tebasan senjata tajam tersebut.

Tapi, lengan kiri lawan Naruto berhasil menumpuh di atas tanah dan hal itu berhasil membuat tubuhnya berputar satu kali ke belakang sampai ia kembali berdiri dengan tegak.

Hinata mencoba membuka mata. Setelah mendapati tidak ada korban yang kehilangan kepala, gadis bersurai indigo itu menghela nafas lega sambil mengelus dadannya yang terbilang cukup besar.

"Hebat juga kau, bisa menghindari seranganku," ejek Naruto.

"Cih! Sebaiknya kau diam dan fokus pada pertarungan ini."

"Hoo~~," sebelah Alis Naruto terangkat.

Pria asing tersebut mulai menerjang Naruto dari depan. Begitu juga dengan Naruto, ia menerjang kedepan dengan kecepatan yang sangat tinggi kearah pria yang dianggapnya telah menculik Hinata.

TRANG..
Kembali, dua buah katana kini beradu dan kembali menimbulkan percikan api.

Setelahnya, mereka melompat mundur kebelakang. Masih posisi yang sama, kuda–kuda mereka terlihat sangat kuat. Hanya tatapan matalah yang menjadi alat komunikasi bagi mereka.

Naruto sedikit bergerak kesamping dan berjalan memutari pria yang kini menjadi lawan tandingnya. Ia berjalan membentuk seperempat lingkaran. Lalu berlari guna memancing pria tersebut agar ikut berlari bersamanya.

Benar saja, pria asing itu mengikuti arah lari Naruto dari sisi yang berlawanan. Dan kini mereka sedang berlari dari sisi yang berbeda namun dengan arah yang sama.

Naruto menyeringai, lalu ia menerjang pria tersebut dengan cepat. Merasa terkecoh, pria itu pun sedikit panik. Namun masih berhasil menghindari serangan Naruto.

TRIING.. Suara katana kembali beradu.

Sepertinya duel pedang antara Naruto dan samurai asing tersebut imbang. Karena sedari tadi, tidak ada satu pun dari mereka yang mendapatkan sebuah luka di bagian tubuhnya.

Mereka saling menerjang kembali. Naruto mengayunkan katana miliknya kesamping, tapi berhasil di ditangkis oleh pria asing itu. Saat senjata mereka saling menempel, merasa itu adalah kesempatan. Lawan Naruto mengepalkan tangannya dan mencoba meninju bagian ulu hati jendral kuning tersebut.

Dengan cepat, lengan kiri Naruto yang kosong menangkis pukulan itu dengan cara menangkapnya. Naruto kembali menyeringai lalu menggerakan kakinya untuk memberikan serangan menggunakan lututnya.

Tapi, dengan sigap sang samurai asing melepaskan diri dari Naruto sebelum serangan telak tersebut berhasil mengenainya. Pada saat yang sama sang samurai asing juga berhasil membuat jarak beberapa meter di antara mereka. Jika terlambat satu detik saja, pasti sang samurai asing akan terkapar tak berdaya di atas tanah.

"Terlalu cepat 100 tahun jika kau ingin mengalahkanku," lagi–lagi Naruto memprovokasi lawannya dengan sebuah olokan. Sementara Hinata yang melihatnya tak jauh dari sana hanya bisa bersweetdrop ria dengan kesombongan bocah 15 tahun tersebut.

Sang samurai asing kembali menyerang Naruto. Karena ucapannya yang takabur, alhasil Naruto terbelalak dan tak sempat membuat pertahanan untuk dirinya. 'Sialan,' batinnya.

Bagaikan slow motion, Hinata dapat melihat terjangan sang samurai asing kearah Naruto yang sedang dalam keadaan tidak siap untuk menerima sebuah serangan.

"Naruto-kun!" gumamnya khawatir.

Naruto terbelalak ketika serangan tersebut sudah sangat dekat dengannya. Namun, sedetik kemudian ia menyeringai. Masih dengan gerakan slow motion, Naruto mengikuti arah serangan yang menghampirinya.

Layaknya burung elang yang sedang bermanufer. Naruto berputar diudara searah putaran jarum jam, guna menghindari serangan yang datang ke arahnya. Di sela–sela putarannya, tangan kanan kekar Naruto menggerakan Katana ke arah pria tersebut.

Akhirnya, mereka pun terpental cukup jauh dari posisi eksotisnya. Saling tatap dan saling mengintimidasi satu sama lain. Sayangnya, Sisi telinga kiri Naruto terdapat luka sayatan yang di hasilkan oleh serangan barusan. Hal tersebut membuat pria asing itu tersenyum penuh kemenangan.

"Gelarmu tak sebesar mulutmu, Naruto-dono," ucapnya masih dengan senyuman kemenangan.

Naruto mengangkat sebelah alisnya lagi, "Benarkah?" sedangkan pria asing itu terbelalak.

Bersamaan dengan berakhirnya ucapan Naruto, tiba–tiba terciptalah luka sayatan yang lumayan panjang di pipi sebelah kanan pria asing itu.

"Cih," umpatnya, "BRENGSEK!" Teriakan pria tersebut penuh amarah yang disusul dengan terjangan kearah Naruto.

"MATI LAH KAU!" Teriak Naruto tak mau kalah dengan terjangan mautnya.

Tanpa di sadari mereka, ternyata ada seseorang yang berlari ke tengah pertempuran. Lalu berhenti tepat di antara mereka berdua.

"YAMETTEEE!" ternyata orang nekat tersebut adalah sosok Hinata yang kini ikut berteriak di tengah pertempuran sambil membentangkan kedua lengannya. Yang sebelah kiri kearah samurai berambut panjang. Dan yang sebelah kanan kearah Naruto.

Spontan mereka berdua terbelalak dan pada saat itu juga langkah mereka terhenti tepat di sebelah Hinata dari sisi yang berbeda.

Hinata menatap intens satu per satu ke arah mereka berdua, kemudian.

BLETAKK..
Jitakan telak mendarat di kepala samurai berambut panjang.

"Ke-kenapa kau membelanya?!" sewot samurai muda tersebut.

"Karena aku punya urusan dengannya!" seru Hinata

"Rasakan it.."

BLETAKK..
Jitakan kedua sukses mendarat di kepala kuning Naruto.

"ITTAII!" erang Naruto kesakitan, "KENAPA KAU MEMUKULKU."

"KARENA KAU MENCOBA MEMBUNUH KAKAKKU!" lengkingan Hinata menggema di daerah tersebut yang membuat samurai berambut panjang sweetdrop.

"Ara?" spontan Naruto memasang tampang bodohnya, "a-apa yang kau katakan?" lanjutnya memastikan.

"Ka-kak-ku," desis Hinata, "Apa kau puas?"

Masih tatapan yang sulit di artikan, Naruto merasa tak percaya apa yang di katakan oleh Hinata. Bahwa samurai yang dianggap Naruto telah menculik Hinata ternyata adalah kakak dari seorang Hyuuga Hinata.

TBC


Sekian buat chapter 4. hehe.*garuk-garuk kepala

Sekali lagi Author meminta bimbingan melalui review dari Readers dan Para senpai sekalian.

Arigatou - arigatou.. *bungkukin badan 90 derajat