Konichiwa mina-san ^^. Maaf karena sempet hiatus dan baru bisa update sekarang soalnya Author sibuk belakangan ini#plak (ngerasa dicariin :v)
sebelum lanjut chapter berikutnya, Author balesin Review di chapter sebelumnya ya ^^.
- : haha... maap - maap . soalnya Author mesti ngumpulin ide dulu buat ngelanjutin ini chapt .
- btybty : ok bty-san ini dilanjutin kok ^^
- Misty Chan : haha.. Tsunder+Tsunder = kira kira jadi apa ya :v
- .5 : Makasih banyak ^^
- Mery Chan : iya nih mery-chan, tiba-tiba hina-chan jadi OOC gini #PLAK :v. nih udh di lanjut, biar tau kenapa kakaknya Hina-chan kok bisa ngikut kesono :v.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : Naruto and Hinata.
Genre : Romance, Fantasy (mungkin), Supranatural (sedikit), Advanture, Drama
Warning : sorry masih Newbie jadinya typo, EYD yang ga beraturan, Chara juga OOC, Pasaran pastinya :v.
Don't Like Don't Read ^^
Summary : Hinata adalah seorang calon dokter yang baru akan mengikuti ujian akhir dari sekolah tingginya. Suatu hari , ia dimintai tolong oleh jendral berambut kuning yang barasal dari masa lalu untuk menyembuhkan seorang Ratu kerajaan. Tapi setelah menyelematkan Sang Ratu, mereka malah menghadapi suatu intrik kerajaan yang membuat mereka harus mempertaruhkan nyawanya. / Bad Summary / Newbie punya :D
RnR please..
and
Happy Reading
The Shogun and The Doctor
Chapt. 5 : Cure The Queen
Hinata pun akhirnya menceritakan semuanya pada Naruto, kenapa tiba–tiba ia menghilang dari tempat yang sudah dijanjikan. Termasuk pria asing yang tiba-tiba muncul bersamanya.
Pria tersebut adalah Hyuuga Neji, kakak HInata. Yang juga berasal dari masa depan. Pria bermata senada dengan Hinata tersebut tiba–tiba pergi ke masa lalu dan terjebak disana saat ia sedang pergi mendaki gunung bersama teman–temannya.
Peristiwa itu terjadi sejak 5 tahun yang lalu. Tepatnya, saat Hyuuga Neji mengikuti kegiatan mendaki gunung dari kampusnya.
Flash Back On
"Sepertinya Tali ini tidak akan kuat menahan berat tubuh kita semua!" seru Neji pada kedua temannya, gadis bercepol dua dan seorang pria dengan rambut seperti mangkuk.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Neji?!" tanya Lee yang posisinya berada paling atas.
"Tebing ini sangat curam dan licin! Kita tidak bisa berpegangan pada tepiannya!" pekik wanita yang bernama Tenten.
Neji diam sejenak mencoba berfikir, "Tenten?!" teriaknya memanggil.
Tenten hanya menoleh kebawah memperhatikan wajah Neji yang sangat sulit untuk di artikan.
"Kau harus memotong tali ini!" seru Neji yang membuat Tenten dan Lee terbelalak.
"TIDAK!" teriak Tenten, "Kau bisa Mati Neji-kun!"
"Itu benar Neji! Apa kau sudah Gila?!" Lee ikut berteriak.
"Tapi, jika kau tak memotongnya. Tali ini akan putus dan kita semua akan mati disini."
"Lebih baik kita mati bersama, dari pada harus melihatmu mati konyol!" seru kedua teman Neji serempak.
"Cih! Bodoh!" umpat Neji.
Tiba – tiba, tali yang menyangga bobot tubuh mereka tampak sudah mulai terputus.
"LIHAT!" bentak Neji, "Talinya sudah mulai putus! Tenten, cepat potong talinya!"
"Ti-tidak! Aku tak akan memotong talinya."
"CEPAT POTONG!"
"TIDAK!"
"Tenten, dengarkan aku. Aku berjanji padamu aku tidak akan mati walaupun aku jatuh," ujar Neji mulai melunak berusaha meyakinkan Tenten.
"Tidak mungkin kau tidak akan mati jika jatuh dari ketingian seperti ini!"
"Percayalah padaku, kalau hanya aku yang jatuh aku masih bisa bertahan dengan sisa peralatanku! Tapi, jika kita semua jatuh, aku tidak bisa menyelamatkan kalian berdua!" jelas Neji dalam satu nafas.
Akhirnya, dengan ragu tenten mengambil sebuah pisau kecil dari dalam saku tasnya dan hendak memotong tali tersebut.
"TENTEN! JANGAN LAKUKAN ITU! NEJI BISA MATI!" tiba – tiba suara Lee mengagetkan tenten, dan alhasil pisau tersebut jatuh kebawah. Namun, pisau itu berhasil di tangkap oleh Neji.
"Baiklah, kalian harus bertahan hidup. Aku akan memotong talinya," tutur Neji.
"Neji! JANGAN!" teriak Lee Histeris. Sementara Tenten hanya menatap kosong kearah Neji.
"Sampai jumpa teman-teman!" seru Neji setelah memotong tali tersebut.
Tubuh Neji akhirnya jatuh terhempas kebawah tebing yang sangat tinggi dan gelap.
"NEJII!" Teriak Lee masih histeris.
Neji sudah merasa pasrah dengan nyawanya yang sebentar lagi akan hilang. Saat beberapa inchi lagi ia menghantam tanah yang tidak beraturan bentuknya. Sebuah pusaran cahaya tiba–tiba muncul tepat di bawahnya dan melahap tubuh Neji sampai hilang tanpa bekas.
Flash Back Off.
"Jadi begitu ceritanya?" Naruto menganggukan kepalanya seolah mengerti.
"Iya, dan setelah itu. Tiba–tiba saja Neji-nii sudah berada di tempat ini."
"Aku mengerti," cicit Naruto merespon, "Hoi, pria cantik! Kenapa kau tak mengatakannya dari tadi!"
"Diam kau, bodoh!" desis Neji.
"Apa kau bilang?!" Naruto mulai emosi dengan respon Neji.
"CUKUP!" Hinata berteriak mencoba menengahi mereka, lalu kembali berjalan dengan santai bersama dua pria yang ada di sebelanya.
"Oh iya, Neji-nii. Tenten sangat merasa bersalah saat kau menghilang. Dia selalu saja menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematianmu," Ungkap Hinata pada Neji.
Neji tertegun, tatapannya pun menjadi sendu seperti menerawang sesuatu, "Setelah ini berakhir, aku akan langsung mengunjungi dan meminta maaf padanya."
Hinata tersenyum mendengar penuturan kakaknya, "Syukurlah."
"Ano, Hinata. Lalu bagaimana kakakmu yang cerewet itu bisa sangat mahir menggunakan senjata? Sedangkan dia berasal dari tempat yang sama denganmu," kata Naruto bertanya.
Hinata mencoba berfikir dan memiringkan kepalanya sambil menutup mata, "Kalau tidak salah, dia juara satu Kendo sejepang di tempatku berasal."
"Kendo? Apa itu?" Tanya Naruto polos.
"Itu seperti olah raga bela diri yang menggunakan pedang. Bisa dibilang teknik bela diri yang digunakan oleh Samurai"
"Ooh, begitu."
"Dan tuntutan hidup!" sela Neji menegaskan.
Seketika Naruto dan Hinata menoleh ke arahnya dengan tatapan heran, "Apa maksudmu, Nii-san?"
"Akan sangat memakan waktu jika aku menjelaskannya pada kalian," jelasnya malas.
"Ne, Naruto-kun. kau bilang, portal waktu itu akan terbuka dan tertutup dalam waktu tertentu, bukan?" tanya Hinata mulai penasaran. Karena bagaimana jika suatu waktu terjadi sesuatu yang buruk ketika ia masih berada di masa lalu.
"Benar," balas Naruto menganggukan kepalanya.
"Lalu bagaimana seandainya, jika portal itu tertutup saat tugasku belum selesai?"
"Kau akan terjebak disini seperti dia," Jawab Naruto sekenanya sambil menunjuk ke arah Neji yang kini sudah memberikan deathglare terbaiknya.
Seketika Hinata mematung dan membeku di tempat. Dan dia tak berani membayangan bagaimana seandainya yang dikatakan Naruto itu benar adanya.
Sementara Naruto terkikik geli melihat tingkah gadis indigo yang ada disebelahnya, "Tenanglah, soal itu serahkan saja padaku."
"Aku harap aku bisa mempercayai kata-katamu. Tapi, Arigatou, Naruto-kun!" Naruto hanya bisa sweetdrop setelah mendengar perkataan Hinata.
"Hn, sama–sama. Kalau begitu kita harus bergegas! Neji, Dimana kemahmu?" tanya Naruto
"Sekitar 10 menit lagi kita sampai," sahut Neji datar.
"YOSH!" ujap Naruto bersemangat.
OOO
Angin sepoi–sepoi berhembus menerpa bunga–bunga sakura yang masih melekat pada dahannya. Terlihat beberapa menara yang tidak terlalu tinggi berdiri kokoh diistana Kerajaan Konoha. Menara yang terbuat dari kayu dan beberapa bebatuan yang dipadukan menjadi satu.
Tapi, Suasana yang damai ini sepertinya tidak seiringan dengan keadaan panik penghuni istana kerajaan Konoha.
Tampak disana, Raja Uchiha Sasuke sedang berjalan terburu–buru menuju kesuatu tempat di istana bersama pengawalnya. Sasuke mendapat kabar bahwa keadaan Istrinya, Uchiha Sakura semakin memburuk. Wajah dan tubuhnya semakin pucat. Bahkan denyut nadi Ratu Sakura semakin melemah.
Setelah sampai di ruangan yang cukup besar ia langsung menemui istrinya yang sedang terbaring tak berdaya, Sasuke hanya bisa melihat nanar pada Ratu merah muda tersebut. Seketika wajahnya pun berubah menjadi sendu.
Helaan nafas pasrah lah yang bisa di lakukannya saat menghadapi keadaan seperti ini. Keadaan yang menjadi bencana dalam hidupnya. Keadaan yang harus membuat istrinya Sakura dalam kondisi di ujung tanduk.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" gumamnya entah kepada siapa sembari menjambak pelan rambut ravennya.
Semua pengawal dan beberapa tabib yang merawat Sakura ikut merasa iba seolah mengerti apa yang sedang di rasakan oleh Raja mereka.
"Paduka," ujar seorang wanita beriris coklat madu.
Sasuke menoleh, "Tsunade-sensei?"
"Bersabarlah. Ini belum berakhir," lanjutnya.
Sasuke kembali memandang permaisurinya yang sedang tak berdaya, "Tapi.. Sepertinya aku sudah kehilangan harapan."
DRAP… DRAP…
Suara berisik langkah kaki dari seorang prajurit semakin mengusik dan menganggu pikiran Sasuke yang sedang kalut. Apa lagi saat mendengar prajurit tersebut semakin keras memanggilnya.
Kalau saja ia tidak sedang menjaga wibawanya sebagai Raja, pasti tubuh prajuritnya itu sudah di tebas dan disayat-sayat olehnya.
"Paduka! Paduka!" Seru Salah satu prajurit kerajaan menghampiri Sasuke sambil berlari dengan terburu–buru.
"Ada apa, Konohamaru?!" Sasuke mengernyit setelah melihat pengawalnya yang tersengal–sengal.
"hahh.. hah.. Etoo.." Konohamaru mencoba mengatur nafasnya.
"Tenangkan dirimu! Jangan panik! Ada apa?!" tutur Sasuke menenangkan.
"Na-Naruto.. Naruto-dono," ucap Konohamaru dengan nada bicara yang sulit untuk di artikan oleh Sasuke.
Sasuke membulatkan matanya, merasa ada yang tidak beres dengan berita yang akan di sampaikan oleh Konohamaru, "Naruto? Ada apa dengan Naruto!?"
Sambil menunjuk kearah luar ruangan Konohamaru melanjutkan kata–katanya, "Naruto-dono telah kembali bersama seorang wanita dan seorang pria berambut panjang!"
Seketika ekspresi Sasuke bahkan orang–orang yang berada disana minus Konohamaru berubah menyiratkan perasaan senang, lega, dan bahagia.
"Dimana dia sekarang?" tanya Sasuke antusias.
"Naruto-dono sedang menuju kemari bersama Shikamaru-dono, Paduka."
"Ternyata bocah bodoh itu memang tidak diragukan lagi," celetuk Tsunade menyela, Sasuke hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Sasuke pun berjalan keluar ruangan tersebut hendak menjemput Naruto. Tapi, setelah membuka Shoji yang ada di depannya. Betapa takjubnya ia ketika mendapati Naruto bersama dua orang yang sangat asing di matanya.
Sejenak, Sasuke memperhatikan kedua orang asing tersebut dengan intens. Tapi, tatapannya langsung berubah ketika melihat sosok cantik Hinata yang sedang menunduk dan tersipu malu saat berhadapan dengan dirinya.
Sasuke tersenyum simpul. Tapi, senyumannya pudar ketika Naruto memukul lengannya dengan pelan.
"Apa aku terlambat?" celoteh Naruto memecah keheningan.
Sasuke tersenyum kembali, "Kau tepat waktu, Jendral!"
Naruto membalasnya dengan senyuman pula, "Kenalkan, dia adalah Hyuuga HInata. Tabib dewa yang kau maksud, Paduka. Dan disebelahnya adalah kakak Hinata, Hyuuga Neji. Asisten tabib dewa."
"Yoroshiku, paduka," ujar Hinata lembut sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Yoroshiku," desis Neji dingin tanpa membungkukan tubuhnya.
"Hn. Terima kasih kalian sudah mau repot–repot datang kemari," sahut Sasuke dengan tatapan penuh arti ke arah Hinata. Gadis bermarga Hyuuga tersebut merasa salah tingkah dan berhasil mengeluarkan semburat merah andalannya.
"Maaf mengganggu. Tapi kita harus segera merawat Ratu, Paduka," Tiba-tiba Tsunade menginterupsi perkenalan mereka.
"Maaf," ujar Sasuke datar, "kalau begitu, saya mohon bantuannya Hinata-sensei, Neji-sensei,"
Setelah itu Tsunade membimbing Hinata dan Neji untuk memasuki ruangan guna melihat dan memberikan perawatan untuk Sakura. Naruto dan Sasuke hanya menunggu diluar ruangan dengan perasaan yang bercampur aduk. Antara cemas, senang karena akhirnya Sakura mendapat perawatan, dan juga takut jikalau perawatannya gagal dan mengakibatkan kematian untuk sang Ratu.
"Dobe," ujar Sasuke saat mereka berjalan menuju Singgasana.
"Hn?"
"Arigatou, kau telah membawa tabib dewa itu kemari," sambung Sasuke.
"Ini sudah menjadi kewajiban saya, Paduka," balas Naruto seformal mungkin.
"Sekarang kita hanya perlu berdoa untuk keselamatan Sakura," tutur Sasuke berharap.
"Kau benar, Paduka. Saya akan selalu memanjatkan doa untuk Ratu," Respon Naruto.
"Hn, Sekali lagi. Terima kasih, Naruto."
"Sama–sama Paduka."
"Kalau begitu, mari kita menunggu di ruanganku," ajak Sasuke pada anak buahnya.
"Saya akan menyusul, Paduka. Sebelumnya saya ingin memberikan perintah untuk pasukan agar memperkuat pengamanan di istana terutama untuk tamu kita," jawab Naruto.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggumu disana."
"Ha'I, Paduka."
Tanpa menunggu lagi, Sasuke bersama pengawalnya beranjak menuju ruangan dimana tempat Singgasananya berada dan menyisakan Naruto bersama anak buahnya.
"Shion!" Ujar Naruto memanggil.
"Ha'I, Dono," sahut wanita bermata violet yang hampir mirip dengan Hinata dengan suara yang amat sangat lembut, hanya saja rambutnya pirang pucat dan panjang.
"Siapkan tamu kita dua buah kamar, dan pastikan mereka nyaman disana," perintah Naruto.
"Siap, Dono. Kalau begitu saya permisi," ujarnya.
"Dan.. Konohamaru!" ucap Naruto sambil menoleh kebelakang, "perketat penjagaan yang ada di istana, kalau perlu tambah pasukan menjadi dua kali lipat. Dan juga, pastikan penjagaan di sekitar kamar tamu kita benar–benar aman!"
"Ha'I, Dono!" Bersamaan Ucapannya, prajurit yang bernama Konohamaru tersebut pun undur diri dan segera melaksanakan perintah Naruto.
Naruto kembali melanjutkan perjalanannya bersama Shikamaru di sekitar istana. Dari gelagat mereka, sepertinya hendak membicarakan sesuatu yang penting.
"Shikamaru, Bagaimana keadaan selama aku pergi?" tanya Naruto sambil melanjutkan perjalanan mereka.
"Ada sesuatu yang mencurigakan, Dono!" mendengar penuturan Shikamaru, Naruto mengerutkan dahinya dan berharap sesuatu yang mencurigakan tersebut tidak akan berakibat fatal untuk kerajaan.
"Apa itu?"
Shikamaru sedikit memajukan langkahnya dan mendekati telinga Naruto, "Ini mengenai Tayuya, wanita yang menyerang Paduka ratu."
Naruto berhenti melangkah guna mendengar penjelasan shikamaru dengan jelas, "Lalu?"
Shikamaru Menganggukan kepalanya, "Informasi ini masih simpang siur. Tapi, informasi ini juga harus kita pertimbangkan matang-matang."
"Langsung saja ke intinya," Ujar Naruto tidak sabar.
Shikamaru mulai melihat kesekeliling, memastikan hanya mereka berdua saja di sana pada saat itu, "Dari informasi yang kita dapat, Bahwa Tayuya ada hubungannya dengan Orochimaru."
Naruto sedikit melebarkan matanya, "Sudah kuduga, dia berbahaya. Kalau begitu, kau lanjutkan investigasinya dan jangan lupa tetap prioritaskan keselamatanmu serta pasukan kita."
"Ha'I, Dono."
"Dan satu lagi, jangan sampai Sasuke tahu kalau Orochimaru ada hubungannya dengan ini semua. Karena ini masih berita yang belum pasti," sambung Naruto yang di balas dengan anggukan oleh Shikamaru.
Pada saat yang sama, di ruangan Ratu Sakura. Tampak Hinata mulai memberikan perawatan pada luka sang Ratu. Sebelum menyentuh permukaan kulit putih tersebut, Hinata sedikit ragu. Namun, Neji menepuk pundaknya pelan.
"Percayalah, Kau pasti bisa," ucapnya lembut dengan senyuman.
Hinata tersenyum menanggapi, lalu ia menganggukan kepala indigonya. Hinata pun mulai menyentuh permukaan kulit Sang Ratu dengan lembut dan sangat hati–hati.
Hinata mulai membersihkan lukanya dengan alkohol murni yang sudah di persiapkannya sebelum ia pergi bersama Naruto.
Setelah yakin lukanya bersih, Hinata memberikan obat bius melalui suntikan di bagian leher Ratu Sakura. Ternyata, dugaan Hinata benar. kalau pembuluh darah di bagian lehernya sedikit terkoyak dan mengakibatkan pendarahan yang cukup parah. Untunglah mereka tidak datang terlambat dan kemungkinan besar, nyawa Ratu Sakura akan selamat.
Obat bius pun berhasil disuntikan. Beberapa tabib yang sedang membantu Hinata, melihat bingung dengan perlakuannya yang menggunakan peralatan aneh di mata mereka.
Tapi, hal tersebut tidak untuk Tsunade. Wanita yang menjadi salah satu tabib terbaik di Konoha. Dia hanya mengira bahwa itu adalah sejenis pengobatan akupuntur dari dunia Hinata. Tsunade pun tersenyum melihat kelihaian Hinata dalam merawat seorang pasien.
Hinata kini mulai memperbesar luka luar di leher Ratu Sakura guna melihat dan menjahit pembuluh darah yang sedikit robek dengan benang khusus yang juga sudah dipersiapkan olehnya.
Awalnya, para tabib termasuk Tsunade terkejut melihat hal tersebut. Namun, karena melihat kelihaian Hinata dalam menutup luka yang ada di pembuluh darah Ratu mereka. Akhirnya, mereka pun merasa bahwa Hinata adalah seorang tabib yang sudah tidak diragukan lagi.
Setelah pembuluh darah yang terluka sepenuhnya tertutup. Kini, giliran luka luar yang di berikan jahitan oleh gadis beriris lavender tersebut. Layaknya menjahit pakaian secara manual, Hinata memasukan jarum dan menarik benang dengan mudahnya tanpa rasa takut atau cemas sedikitpun.
Tarikan benang dengan arah yang senada, mengundang perhatian para tabib yang membantunya pada saat itu. Tatapan dan kepala mereka mengikuti arah jahitan Hinata. Seperti ke kiri dan kenanan secara berulang–ulang.
Disela–sela kegiatannya, peluh keringat mulai membanjiri dahi Hinata. Dengan penuh perhatian, Tsunade membantu menghapus peluh yang sedang membanjiri dahi Hinata. Gadis berkulit putih itu sedikit terkejut lalu menoleh. Kemudian mereka saling tersenyum
Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Hinata selesai memberikan perawatan intensif pada Ratu Sakura, "Yokatta! Akhirnya Selesai. Tidak ada luka yang mengancam dirinya lagi," ujarnya setelah menyelesaikan jahitan terakhir.
"Sugoi…," beberapa Tabib berdecak kagum saat melihat luka Ratu mereka kembali menutup.
"Kau memang seorang tabib dewa, gadis manis," ucap Tsunade memuji, "luka Paduka Ratu menutup kembali."
"Anda terlalu memuji, Sensei," sahut Hinata malu kemudian ia membalut luka tersebut dengan kain kasa dan kapas yang sudah steril dan diberikan obat merah.
"Besok, pembalut lukanya harus di ganti dengan yang baru secara berkala. Aku akan memberikan persediaannya pada kalian," tutur Hinata menjelaskan, "dan setelah itu, lukanya akan mengering dengan sendirinya."
Tsunade hanya menganggukan kepalanya sebagai respon, begitu juga dengan tabib yang lainnya.
"Neji, bisa tolong ambilkan tas ku?" tanpa banyak kata, Neji menuruti perintah Hinata.
Setelah tas tersebut berada di tangan Hinata, ia mengambil beberapa set obat Antibiotik dari dalamnya. "Berikan Ratu obat Antibiotik ini masing–masing satu butir. Sampai semuanya habis," ujarnya pada Tsunade yang dibalas dengan anggukan kepala kembali.
"Demam Ratu juga akan turun bersamaan dengan penyembuhan lukanya, jika ia rutin meminum obat itu tiga kali sehari," lanjut Hinata.
"Ha'I, HInata-sensei," ujar Tabib yang ada diruangan tersebut secara serempak.
"Dalam waktu satu hari, aku yakin Ratu akan siuman," cicit Hinata, "Kalau begitu, saya permisi."
Setelah memberikan penjelasan pada tabib yang akan merawat Ratu Sakura, Hinata dan Neji pergi meninggalkan ruangan tersebut diantar oleh Tsunade.
"Terima Kasih, Hinata-san. Anda telah menyelamatkan Ratu kerajaan Ini. Paduka Raja pasti akan sangat senang mendengarnya," ungkap Tsunade.
"Saya juga senang bisa membantu, Sensei," sahut Hinata, sedangkan Neji hanya memandang datar pada sekitarnya.
Diwaktu yang bersamaan saat Tsunade membuka Shoji ruangan tersebut, tampak disana Orochimaru dan Kabuto sedang berjalan melintasi teras. Orochimaru sempat terkejut melihat kehadiran orang asing yang keluar dari dalam ruang perawatan Ratu Sakura. Lalu ia menatap Hinata dengan Intens.
"Maaf, Orochimaru-sensei! Tamu kita hendak pergi kekamarnya," suara Tsunade membuyarkan lamunan Orichimaru, Sedangkan Kabuto hanya diam disebelah Orochimaru.
"Ah, maaf! Kalau begitu, bolehkah aku berkenalan dengan tabib dewa yang telah menyelamatkan nyawa Paduka Ratu?" ucap Orochimaru.
"Tentu," balas Hinata setelah ia menoleh kearah Orochimaru, "Hyuuga Hinata, Yoroshiku. Dan orang ini adalah kakakku Hyuuga Neji."
"Yoroshiku," desis Neji sambil menatap Orochimaru dan Kabuto bergantian.
"Hn, Yoroshiku. Aku adalah pendeta kerajaan Konoha, Orochimaru," sahutnya.
"Dan aku, Yakushi Kabuto. Yoroshiku."
"Yoroshiku, minna-san. Kalau begitu saya permisi," ucap Hinata kemudian berlalu yang diikuti oleh Neji.
Sepeninggalan Hinata dan Neji. Orochimaru terus memperhatikan pemuda dan pemudi tersebut tanpa berkedip.
"Gadis yang sangat cantik," desis Orochimaru yang di sambut dengan seringaian licik oleh Kabuto.
"Jaga bicaramu, Orochimaru," cecar Tsunade lalu Orochimaru melirik kearahnya dengan tatapan licik dan berlalu meninggalkan Tsunade sendirian.
Kini, Hinata dan Neji sedang berjalan di sekitar teras bangunan yang ada di istana. Mereka berbincang ringan dan sedikit membahas tentang luka Sang Ratu. Lalu, indra pendengaran Hinata tidak sengaja menangkap suara lantang Naruto yang sedang mengatur pasukannya. Spontan Hinata pun berhenti dan menoleh ke sumber suara.
Tampak disana, Naruto sedang mengatur beberapa prajurit yang sedang bermalas–malasan. Sepertinya, Naruto sedang melakukan pemeriksaan mendadak terhadap semua prajuritnya.
Dengan lantangnya, Naruto menghukum beberapa prajurit yang telah melanggar aturan yang sudah dibuat olehnya. Tampak juga disana Shikamaru yang sedang mendampingi pria bersurai kuning tersebut.
Dimata Hinata, Naruto sekarang sangat berwibawa. Apa lagi saat ia mengatur dan menertibkan barisan prajurit–prajuritnya. Tanpa di perintah oleh otak, rona merah di wajahnya mulai menari–nari diatasnya. Seulas senyum simpul pun akhirnya tercipta di wajah ayu Hinata.
Pada saat yang sama, Neji memperhatikan adik perempuannya yang sedang memperharikan Naruto. Lalu Neji sedikit mendekati Hinata dan berkata, "Kau menyukainya?"
Spontan lamunan Hinata terbuyar karena suara kakak laki–lakinya, "A-apa maksudmu, Nii-san?"
Neji pun tersenyum melihat tingkah adiknya yang lucu,"Kau terus memperhatikannya. Sampai–sampai kau mengabaikanku."
"Go-gomen," ucap Hinata tergagap.
"Aku akui dia berwibawa, kuat, dan juga bertanggung jawab," Neji menggantungkan kalimatnya, "aku tidak keberatan jika dia memenangkan Hatimu," sambungnya dengan nada yang menggoda.
"Ma-mana mungkin aku bisa jatuh hati pada bocah bodoh sepertinya," bela Hinata.
"Haha.. Kenapa kau harus gugup begitu, Imotou-chan."
"Nii-san!" Seru Hinata sambil memukul bahu kakaknya pelan lalu mengalihkan pandangan kembali ke Naruto.
Tanpa disengaja, ternyata Naruto juga mengalihkan pandangannya ke arah Hinata. Amethyst bertemu dengan sapphire, iris indah tersebut saling bertautan. Seoalah mereka sedang berkomunikasi melalui tatapan mata.
Detik berikutnya, Naruto melengkungkan senyuman khasnya yang sehangat mentari. Pada saat itu juga, wajah Hinata kembali merona dan tak lupa ia membalas senyuman hangat Naruto dengan senyuman terbaiknya yang terlihat sangat manis di mata Naruto.
TBC
Sekian dulu buat Chapter 5 nya.
Mohon bimbingan dan reviewnya para readers sekalian ^^.
dan doain Author sehat terus ya supaya bisa ngerampungin nih fanfict :p
Arigatou.. Arigatou.. #bungkukin badan 90 derajat.
