Story 1 part 2: Pengakuan Akashi x Cerita Horror
"Sebenarnya aku... Apa kau tahu apa yang ku pikirkan atau apa yang ku rasakan saat ini?"
"Tentu saja tidak. Kau pikir aku Tuhan bisa tau segalanya.." tegas Pinky kepada Akashi.
"Baiklah biar ku jelaskan, sebenarnya.. aku menyukaimu!"
"(What?..)" Pinky shock mendengar pengakuan Akashi, wajahnya memerah. "(Seorang seperti Akashi menyukaiku? Itu mustahil. Akashi pasti sedang bercanda.)"
"Lupakan saja!" Akashi pun segera bangkit dan bergegas pergi kembali menuju ke ruang latihan.
"Akashi..." ucap Pinky pelan.
Skip
Latihan hari ini sudah selesai. Sebelum pulang Riko meminta Ayahnya atau pak pelatih Kagetora untuk membiarkan mereka membuat games kecil-kecilan untuk membangun kekompakan atas saran dari manager tim Pinky. Pak pelatih menyutujuinya dan meninggalkan mereka sendiri. Pertama-tama mereka menceritakan pengalaman pribadi selama mengenal dunia basket, setelah itu saat waktunya semakin malam Pinky memberikan usulan untuk menceritakan cerita horror. Yang menunjukkan ekspresi takut pertama kali adalah Kise.
"Aku tidak suka cerita horror Pinky-chan, kenapa tidak cerita yang lain saja.."
"Kau payah sekali Kise, seorang laki-laki harusnya tidak takut dengan hantu! Apalagi hanya cerita horror. Iya kan Aomine?" Ucap Midorima.
"Eh?... Iya kau benar." Aomine mengiyakan, padahal dalam hatinya ia sudah mulai panik karena Aomine pun juga takut hantu.
"Sebaiknya kita dengarkan saja ini akan jauh lebih menarik. Cerita horror itu seru apalagi suasananya sudah sangat mendukung. Sekarang sudah malam dan cerita horror itu asik kalau diceritakan malam-malam." Kagami menunjukkan ketertarikannya terhadap usul Pinky.
"Murasakibara matikan lampunya sekarang!" Pintah Akashi.
"Baik Aka-chin" Mukkun bergegas mematikan semua lampu di hall basket.
"Kenapa lampunya harus dimatikan Akashi-chi?" Kise memelas.
"Ini jauh lebih baik." Ucap Kagami.
"Pinky manis ini ku bawakan lampu senter biar lebih seru!" Papa Mbaye memberikan senter ke Pinky.
"Apa maksudmu berkata seperti itu Papa Mbaye? Jaga ucapanmu!" Tegas Akashi.
"Ide bagus Otousan. Terima kasih senternya." Ucap Pinky.
"Benar kata Akashi, mulutmu harus dijaga Papa Mbaye." Bela Midorima.
"Sudah.. sudah.. sebaiknya kita mulai dengarkan cerita Pinky." Kuroko melerai pertengkaran dan meminta untuk bersiap mendengarkan cerita Pinky.
"Iya Tetsu benar. Ayo kita dengarkan Pinky sekarang" dukung Momoi.
"Baiklah semuanya sudah berkumpul. Aku mulai ceritanya.. Di malam hari yang gelap di sebuah hall basket suatu sekolah terjadi insiden bunuh diri seorang pemain basket dikarenakan kecewa tidak diterima sebagai pemain reguler sekolah tersebut. Padahal setiap harinya sebelum seleksi para pemain reguler, dia selalu berlatih keras tiap harinya sampai tengah malam di hall basket sekolah tersebut. Akhirnya setelah impiannya gagal dia memutuskan bunuh diri di hall basket tersebut dan bersumpah bahwa arwahnya akan gentayangan di sana dan mengganggu setiap pemain basket yang ada. Setelah insiden tersebut, malam harinya lapangan basket tersebut setiap malamnya selalu terdengar bunyi drible basket seseorang, padahal tidak ada seorangpun di sana. Sampai suatu saat saat seorang pemain reguler mengeceknya. Tiba-tiba.. Dwarrrr!..." Pinky memberi kejutan di akhir cerita sambil menyalakan cahaya senter ke wajahnya.
"Ahhhhh...!" Kise teriak.
"Uwaaaaaaa..." Aomine ikut berteriak sambil terundur kebelakang saking kagetnya.
"Ahhhh~" Momoi reflek memeluk Kuroko erat yang sedang berada di sampingnya.
"Kyaaa~" Riko dan Hyuga juga ikut berpelukan bersama-sama.
Hanya Akashi yang tampak tenang sendiri.
Yang lainnya hanya kaget biasa. Kecuali Takao yang hanya ketawa cekikikan sendiri melihat ekspresi sohibnya Midorima yang kaget sambil mengangkat lucky itemnya diarahkan ke wajah Pinky.
"Lanjutkan ceritanya" teriak Kagami penasaran.
"Seorang Penampakan muncul memegang gunting! Tamat." Ucap Pinky mengakhiri ceritanya.
"Yahhh ceritanya hanya begitu saja?" Kagami kecewa.
"Walaupun begitu kau tadi juga sempat kaget Kagami-kun. Fufufu.." ledek Takao.
"Yasudah. Hari ini cukup sampai di sini!" tegas Pinky.
"Sampai kapan kau mau memelukku Momoi-san?" Tanya Kuroko pada Momoi.
"Maafkan aku Tetsu"
Sedang Riko dan Hyuga wajahnya memerah karena habis berpelukan.
"Ayo kita segera pulang" ajak Kiyoshi.
"Gunting gantung gunting gantung. Pasti Pemain itu mati karena gantung diri sambil memegang gunting!" Ucap Izuki.
Papa Mbaye tertawa. "Leluconmu lucu sekali. Sudah jelas dia mati karena menusuk dirinya dengan gunting. Hahaha"
"Teman-teman sebelum pulang, karena besok libur bagaimana kalau besok kita pergi ke Rumah Hantu di taman bermain Ucok Baba(author: "hiraukan")?" Usul Pinky.
"Aku setuju"
"Aku juga setuju"
"Kalau aku tidak bisa, aku harus ke suatu tempat besok" ucap Kiyoshi.
"Sama aku juga tidak bisa. Ada sesi pemotretan besok."
"Bilang saja kau takut" ledek Aomine.
"Ini benar kok. Besok ada sesi pemotretan! Kau juga sebenarnya takut hantu kan Aomine?! Lihat teriakanmu tadi bahkan lebih kencang dariku"
"Itu bukan karena aku takut. Tapi karena kaget!" Jelas Aomine.
"Yayaya aku percaya"
"Sungguh! Aku tidak bohong"
"Terserah kau sajalah. Yang jelas aku tidak bisa ikut besok" tegas Kise.
"Baik. Berarti yang tidak bisa pergi besok hanya Kise dan Kiyoshi. Jangan lupa kumpul di sini besok jam 10 pagi. Ok"
"Baik~"
Skip
"Pinky.." panggil Akashi.
"Akashi?"
"Sudah larut malam, sebaiknya kau ku antar pulang. Ayo naiklah mobil bersamaku. Biar ku antar sampai depan rumahmu" pintah Akashi.
"Tidak. Sebaiknya aku pulang sendiri saja." Tolak Pinky.
"Tidak baik kalau seorang gadis berada di jalan sendirian. Sebaiknya kau ikut bersamaku. Perintahku adalah mutlak!"
"Akashi..."
Pinky pun diantar pulang sampai depan rumahnya.
"Terimakasih sudah mengantarku sampai rumah"
"Bukan masalah. Aku bisa lebih lega dengan melihatmu sudah sampai di sini. Sekarang kau boleh masuk. Sampai jumpa besok." Akashi mengucapkan salam perpisahan.
"Sampai jumpa.." sekali lagi wajah Pinky memerah. Ucapan Akashi terekam jelas dibenahknya, "Tadi dia bilang Aku bisa lebih lega melihatmu sudah sampai di sini.. Akashi begitu mengkhawatirkanku?!" Pinky segera memegang pipinya yang kemerahan sepertinya dia mulai jatuh cinta.
TBC
