Konichiwa Minna-san, Ch.6 update nih :D. Seperti biasa Author mau balesin review Anonym dulu ya ^^.

- Lluvia Pluviophile : hehe makasih .. udh dilanjut nih Lluvia-san :D.

- yudi : makasih ^^. woah kira-kira sapa ya yang di sukain ama hinata :D Author jg penasaran :p.

- Mery-Chan : hehe.. gomen-gomen merry-chan, mudah2an Author ga hiatus lagi deh buat next nya .. Yosh.. udh dilanjut silahkan di nikmati merry-chan :D

Ok, sekian dulu balesan reviewnya, dan Author ucapin makasih yang udh ngikutin cerita dan yang udh ngereview ampe sekarang. Domo arigatou ^^.

silahkan dinikmati ^^.

Chapt Sebelumnya :

"Kau menyukainya?"

"Kau terus memperhatikannya. Sampai–sampai kau mengabaikanku."

"A-apa maksudmu, Nii-san?"

"Go-gomen,"

"Aku akui dia berwibawa, kuat, dan juga bertanggung jawab," Neji menggantungkan kalimatnya, "aku tidak keberatan jika dia memenangkan Hatimu,"

"Ma-mana mungkin aku bisa jatuh hati pada bocah bodoh sepertinya,"

"Haha.. Kenapa kau harus gugup begitu, Imotou-chan."

"Nii-san!"

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : Naruto and Hinata.

Genre : Romance, Fantasy (mungkin), Supranatural (sedikit), Advanture, Drama

Warning : sorry masih Newbie jadinya typo, EYD yang ga beraturan, Chara juga OOC, Pasaran pastinya :v.

Don't Like Don't Read ^^

Summary : Hinata adalah seorang calon dokter yang baru akan mengikuti ujian akhir dari sekolah tingginya. Suatu hari , ia dimintai tolong oleh jendral berambut kuning yang barasal dari masa lalu untuk menyembuhkan seorang Ratu kerajaan. Tapi setelah menyelematkan Sang Ratu, mereka malah menghadapi suatu intrik kerajaan yang membuat mereka harus mempertaruhkan nyawanya. / Bad Summary / Newbie punya :D

RnR please..

and

Happy Reading

The Shogun and The Doctor.

Chapt.6 : Danau?

Sinar rembulan purnama yang temaram kini setia menemani gelapnya malam, tampak disana sebuah bangunan seperti menara terpencil di dalam hutan yang sangat gelap. terdengar suara nyanyian burung hantu yang seperti sebuah lullaby pengantar tidur.

Angin malam yang bersemilir lembut pun tampak menerpa bulu–bulu putih seekor burung elang yang sedang bertengger di salah satu kayu pembatas teras balkon bangunan tersebut.

Sepertinya, burung elang putih itu merasa terganggu akibat langkah kaki yang sedang berjalan mendekatinya. Burung elang itu pun menoleh untuk melihat siapa yang sedang mengganggu ketenangannya.

"Maaf mengganggu ketenangan anda, Hikari-sama," terdengar suara baritone seorang pria berambut panjang yang menggunakan topeng menyerupai wajah monyet.

"Ada apa, Saru?" paruh burung elang tersebut terbuka dan mengeluarkan suara seorang wanita yang sangat lembut dan indah layaknya senandung lagu.

"Ada berita penting yang ingin saya sampaikan."

Detik itu juga, burung elang itu terbang pelan menghampiri pemuda yang sedang mengganggu ketenangannya. Mendadak burung elang yang memiliki bulu putih indah itu diselubungi oleh pusaran angin yang diiringi oleh helai dedaunan.

Pusaran angin tersebut tidak terlalu kuat. Namun, semakin lama semakin membesar hingga mencapai ukuran tubuh manusia. Perlahan tapi pasti, pusaran angin mulai menghilang dari atas hingga kebawah. Seiring hilangnya pusaran angin tersebut, tampaklah sosok wanita berambut panjang yang menggunakan topeng burung elang yang hanya menutupi wajah bagian atasnya.

Sama seperti sebelumnya, wanita yang bernama Hikari tersebut diselimuti oleh Kimono indah. Kimono putih bersih dan bercahaya dengan selendang putih transparan yang dibalutkan di kedua sisi lengannya. Bagian tengah selendang tersebut menari diudara, lebih tepatnya di atas kepala HIkari sebagai hiasan kepalanya.

Setelah pusaran angin menghilang sepenuhnya, tampak Hikari tersenyum manis dengan bibir peachnya yang menawan. Bersamaan senyum manisnya, api mulai menyala di beberapa obor di sekitar mereka berdua secara satu persatu.

"Apakah ada sesuatu yang menarik untuk kau sampaikan padaku, Saru?" tanya Hikari masih dengan senyuman misteriusnya.

Pria yang bernama Saru itu menganggukan kepalanya, "Naruto-dono dan rombongannya telah tiba di istana, Hikari-sama. Dan Ratu Sakura juga telah berhasil diselamatkan."

Senyuman semakin terbentuk di bibir peach Hikari. Sambil melangkah ke arah yang berlawanan dari Saru ia mengadah keatas. Menatap rembulan yang kini bersinar terang, "Bagus, semua sesuai rencana. Tapi, tetap awasi mereka!"

"Ha'I, Hikari-sama," bersamaan dengan kepulan asap, pria bernama Saru pun menghilang dari tempatnya.

Hikari terlihat memejamkan mata dari balik topengnya, "Setelah ini, apa yang akan kau lakukan, Hm?" gumamnya entah pada siapa.

OOO

Esok Siangnya, Naruto, Hinata, Neji dan Sasuke beserta beberapa penghuni kerajaan lainnya sedang berbincang disebuah ruangan yang biasa digunakan anggota kerajaan untuk bersantai. Mereka sedang berbincang–bincang ringan dengan posisi duduk berbaris di lain sisi yang saling berhadapan.

Disisi kiri, tampak Naruto, Hinata, dan Neji sedang duduk berbaris dari depan kebelakang. Di sisi kanan, Tampak Tsunade, Shikamaru, dan Kabuto. Sedangkan di sisi tengah paling depan, Sasuke duduk menghadap ke arah mereka.

Tapi, sedari tadi Sasuke terus memperhatikan Hinata dengan tatapan yang penuh arti. HInata sempat salah tingkah dengan tatapan Sasuke. Sedangkan Neji, terus memperhatikan gelagat yang di lakukan oleh Sasuke dan adik perempuannya.

Bagaimana dengan Naruto? Naruto sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitar. Yang ia lakukan hanya meminum sake suguhan dari pelayan istana.

"Naruto, Sudah berapa kali ku katakan padamu! Jangan terlalu banyak minum sake! Kau masih di bawah umur!" bentak Tsunade melihat tingkah Naruto yang sudah di anggap anak olehnya.

"Baa-chan! Tidak bisa kah kau memandangku dari sudut pandang yang lain?" cerocos Naruto, "Kau selalu saja memandangku dengan usia!" lanjutnya dengan bibir yang sudah dikerucutkan.

Urat empat siku mulai keluar di kepala Tsunade, "Siapa yang kau panggil Baa-chan, bocah!"

Naruto hanya bisa memandang Horor pada Tsunade saat ia di berikan deathglare yang sangat mematikan. Hinata terkikik geli melihat tingkah Naruto. Sementara Sasuke semakin tertarik melihat senyuman manis yang diberikan oleh HInata.

"Bodoh," gumam Neji sebelum menegukkan sake ke dalam mulutnya.

DRAP.. DRAP..
"Sumimasen, Paduka!" seru Shion menyela pembicaraan Naruto dan kawan–kawan.

"Ada apa, Shion?" ucap Sasuke merasa terganggu.

"Paduka Ratu telah siuman, Paduka."

"Benarkah?" Sasuke tersentak saat mendengar berita yang di sampaikan oleh salah satu dayangnya. Begitu juga orang–orang yang ada di dalam ruangan tersebut.

Sesaat Naruto dan Hinata saling pandang. Lalu, Naruto menganggukan kepalanya seolah memberikan kode untuk gadis lavender itu.

"Saya akan memeriksa keadaannya, Paduka," ujar HInata menyela.

Sasuke menganggukan kepalanya tanda mengerti, "Kuserahkan padamu, HInata-san," yang di balas anggukan juga oleh Hinata.

Tanpa menunggu lagi, Naruto dan lainnya pergi keruangan perawatan Ratu Sakura. Setelah sampai disana, Hinata langsung memeriksa keadaanya.

"Konichiwa, Paduka Ratu," sapa Hinata ramah pada Sakura yang kini telah membuka matanya.

"Ko-konichiwa," balas Sakura. "Siapa kau?"

Naruto sedikit melangkah kedepan, "Dia adalah tabib dewa yang telah menyelamatkanmu, Sakura-nee," celoteh Naruto menyela sambil tersenyum.

Setelah melihat senyuman sehangat mentari milik Naruto, Sakura mengalihkan pandangannya pada gadis lavender yang ada didepannya. 'Cantik.' Batin sakura setelah memperhatikan wajah ayu Hinata.

"Terima kasih, Sensei," ucap Sakura dengan suara yang masih terdengar parau.

Hinata tersenyum maklum, "Ini sudah menjadi tugas saya, Paduka. Selain itu, jangan panggil saya Sensei, Paduka. Saya belum pantas untuk di panggil seperti itu."

"Lalu? Siapa namamu, gadis cantik?" spontan rona merah di wajah Hinata menampakkan dirinya.

"Anda terlalu memuji, Paduka Ratu. Tapi, anda bisa memanggil saya Hinata."

Sakura tersenyum membalas ucapan Hinata, "Baiklah, Hinata-chan."

Melihat permaisuri yang notabanenya adalah istrinya sendiri, Sasuke terharu dan mulai menitikkan air matanya. Sekilas Naruto dapat melihat tangis bahagia dari Raja sekaligus sahabatnya tersebut.

"Ternyata Paduka Raja bisa menangis juga," celetuk Naruto menggoda Sasuke yang ada di sebelahnya.

"Diam kau, Dobe!" seru Sasuke sedikit merona karena wibawanya terlihat meluntur. Setelah itu mereka pun terus memperhatikan Sakura yang sedang di berikan perawatan oleh Hinata.

"Apa pembalut lukanya sudah diganti?" tanya Hinata pada salah seorang tabib yang merawat Sakura saat ia tidak ada.

"Sudah, Hinata-sensei," Hinata menganggukan kepala mendengarnya.

"Kondisi Paduka Ratu sudah Jauh lebih baik. Demamnya juga sudah turun. Tinggal menunggu jahitan di lehernya mongering dan Paduka Ratu akan sembuh seperti semula," tutur Hinata menjelaskan.

Semua yang ada di ruangan tersebut pun melengkungkan senyuman bahagia untuk kesembuhan Sakura. Termasuk Sasuke, Raja yang terkenal sangat dingin dan mahal akan senyuman.

"Sekali lagi, Terima kasih. Hinata-chan," Kata Sakura. Hinata hanya membalasnya dengan senyuman lembut.

Tak sengaja, ekor mata Sakura menangkap sosok suaminya yang sedang tersenyum kearahnya. Sempat terlintas di pikirannya, baru kali ini ia melihat suaminya, Uchiha Sasuke tersenyum lembut seperti saat ini. Karena ikut merasakan bahagia, Sakura pun membalas senyuman suami ravennya tersebut.

OOO

Tak terasa, hari sudah menjelang sore. Disebuah ladang tanaman obat–obatan, tampak dua orang wanita cantik yang sedang di balut oleh kimono indah dengan warna yang berbeda. Dua wanita tersebut adalah Hinata dan Tsunade, mereka sedang berbincang tentang obat–obatan herbal yang biasa digunakan oleh para tabib di kerajaan konoha.

"Woah!" seru Hinata, "Tanaman yang bentuknya seperti seledri ini gunanya apa, Tsunade-sensei?"

"Hm?" Tsunade menoleh ke arah tanaman yang sedang di pegang oleh Hinata, "Oh, tanaman itu bernama Ashibata. Sebuah tanaman yang bisa di pakai untuk menyembuhkan beberapa penyakit dalam yang ringan."

"Begitu," cicit hinata menggut–manggut seolah mengerti.

"Tanaman itu juga disebut sebagai tanaman penambah umur," lanjut Tsunade.

"Penambah umur?" Hinata terheran saat mendengar penuturan Tsunade.

"Iya, Leluhur kerajaan konoha selalu membudidayakan Ashibata secara turun temurun. Mereka mempercayai, kalau kandungan di tanaman tersebut dapat menyehatkan tubuh dan menetralkan racun yang ada di dalam makanan. Sehingga, orang–orang yang memakan Ashibata akan sehat walaupun umur mereka sudah sangat tua."

"Wakatta. Dengan kata lain, tanaman ini memiliki anti-oksidan yang sangat kuat sehingga dapat menyembuhkan penyakit?"

Tsunade bingung dan memiringkan kepalanya. "Aku sedikit tidak mengerti apa yang kau katakan. Tapi, kata–katamu yang terakhir itu tepat sekali!" ucapnya yang dilanjutkan dengan kegiatan memetik beberapa buah-buahan.

"Baa-chan! Hoiii.. Baa-chan!" tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak dengan sangat keras sehingga menyebabkan kemunculan urat empat siku di dahi mulus Tsunade.

Tak lain dan tak bukan, Teriakan tersebut adalah suara Naruto yang sedang menghampiri Tsunade dan Hinata, "Sakura-nee memanggilmu, katanya ada hal penting yang ingin disampaikan!"

"Cih!" cibir Tsunade, "Bilang saja kalau kau ingin berduaan dengan Hinata!"

"A-apa maksudmu! Nenek sialan!" sewot Naruto.

"Apa kau bilang!?" Tsunade memberikan deathglare terbaiknya.

"Ti-tidak–tidak! Aku hanya bercanda," spontan Naruto merinding dengan senyuman yang terkesan sangat dipaksakan.

"Kalau begitu aku akan melihat keadaan Paduka Ratu, kau jaga Hinata disini! Jangan sampai ia tersesat!"

"Ha'i.. Ha'i.. Kau semakin cerewet saja!" cibir Naruto.

BLETAKK…
Jitakan mendarat di kepala kuning Naruto dengan sangat mulus dan tanpa ada hambatan sedikitpun.

"ITTAII!" Tanpa memperdulikan erangan Naruto yang sedang kesakitan, Tsunade pergi meninggalkannya begitu saja.

"SIALAN KAU, NENEK TUA!" cecar Naruto sembari mengangkat kepalan tangannya di udara.

Tsunade tiba–tiba menoleh saat ia sudah mulai menjauh dari Naruto dengan tatapan membunuh. Saat itu juga, Naruto membeku di tempatnya berpijak.

"Hoi, Naruto-kun!" seru Hinata.

"Hn?" Naruto menoleh kebelakang. Tapi, yang ia dapati malah sebuah tomat sedang meluncur dengan indah ke wajah tampannya.

SYAAATTT..
Dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, Tomat tersebut terbelah menjadi dua bagian sebelum mendarat mulus di atas tanah.

"Ah, Kau curang! Menggunakan senjata!" cerocos Hinata tak terima karena serangannya berhasil di gagalkan.

"Heh.. serangan seperti itu tidak akan bisa menyentuhku!"

"Huft!" Hinata membuang muka sambil mengkerucutkan bibirnya yang ranum tersebut.

"Ne, Hinata. Dari pada di ladang yang membosankan ini, lebih baik kita pergi ke danau di bagian timur istana. Tidak jauh kok dari sini!" tutur Naruto mengajak Hinata pergi.

"Danau?" tanya Hinata, "Istana ini memiliki danau?"

Naruto menganggukan kepalanya dengan semangat. "Tentu!"

"Kalau begitu Ayo!" seru Hinata semangat ssembari menarik lengan kanan Naruto bersamanya.

Diperjalanan menuju danau istana yang biasa di pakai Naruto untuk bersantai, Hinata terus menggenggam lengan Naruto. Hal tersebut membuat Naruto sedikit salah tingkah, tapi ia dapat merasakan kelembutan dan kehangatan tangan Hinata.

"Dimana danaunya, Naruto-kun?" tanya Hinata karena belum juga menemukan sebuah danau yang di maksud oleh Naruto.

"Lurus saja, lalu belok kanan. Danaunya tidak terlalu besar. Bisa dibilang itu seperti kolam!" ungkap Naruto yang masih menikmati genggaman tangan Hinata.

"Danau dan Kolam itu berbeda, baka!" cecar Hinata.

"Cih! Bagiku itu sama saja! Sama–sama kubangan air!"

Tak lama setelah itu, Mereka akhirnya sampai di tempat yang dimaksud oleh Naruto. Sebuah kubangan air jernih dan bersih yang terlihat seperti danau, sangat indah. Terlebih dengan tumpukan batu yang disusun rapi di pinggirannya.

"Kireii!" Seru Hinata lalu berlari ke arah danau tersebut.

Bunga–bunga sakura yang berguguran dan jatuh seakan menari-nari diatas air dan memberikan kesan indah tersendiri. Cahaya mentari di sore hari pun menjadi pelengkap keindahan danau tersebut dengan pantulan sinarnya yang berwarna kemerahan.

"Kyahahaha.. Airnya dingin, Naruto-kun! Sini main air bersamaku!" ucap Hinata kegirangan sambil memainkan kakinya di dalam air dalam posisi duduk di tepi danau.

Naruto tersenyum dan melangkah mendekati Hinata. Ia dapat melihat, bahwa Hinata sekarang ini merasakan sebuah kebahagiaan tersendiri untuknya.

Melihat Hinata yang sedang senang, otomatis Naruto merasakan hal yang sama di dalam hatinya. kembali terlintas dalam pikirannya untuk tetap membiarkan Hinata tinggal disini. Tapi, hal itu tidak akan mungkin terjadi mengingat Hinata adalah seorang gadis yang berasal dari masa depan.

Senyuman Naruto pun mulai memudar saat menyadari hal tersebut, "Kau seperti anak–anak saja!"

"Huft! Terkadang seorang wanita itu bisa menjadi seperti anak–anak kalau sedang senang seperti ini, baka!"

"Terserah kau saja!" ucap Naruto lalu duduk di sebelah Hinata.

Tampak lengan Naruto sedang merogoh sesuatu kedalam lengan Hakama khasnya yang lebar, "Ini!" ucapnya sambari menyerahkan sebuah Hanakanzashi yang dulu pernah di berikan olehnya untuk Hinata.

"Ara? Ini kan Hanakanzashi ku yang hilang? Jadi kau yang mencurinya!?" Ujar Hinata asal.

TUKK..
Naruto memukulkan penghias rambut tersebut di kepala indigo Hinata dengan pelan.

"Itu terjatuh saat kau tiba–tiba saja pergi bersama dengan Neji waktu itu!" jelas Naruto.

"Ooh.." sahut Hinata.

Hening. Itu lah suasana yang tiba–tiba saja tercipta diantara mereka. Tidak ada seorang pun yang membuka suara. Sampai akhirnya..

BYURR..
Tampak Hinata tiba-tiba menyiramkan air ke wajah Naruto yang sedang melamun.

"Hei! Apa–apaan kau ini!" sewot Naruto.

"Ahahaha.. Wajahmu lucu sekali!" ledek Hinata.

"Kau menantangku!?"

"Ayo!" seru Hinata tak mau kalah.

Akhirnya, suasana pun mejadi riuh karena peperangan air. Mereka saling memercikan air ke arah masing–masing. Air pun mulai membasahi wajah dan pakaian mereka walaupun tidak sampai basah kuyup.

Hinata mulai mengambil ancang–ancang menyiramkan air yang lebih banyak menggunakan kedua tangannya. Tapi, Hal tersebut dapat dengan mudah dibaca oleh Naruto. Dengan gesit, Naruto pun menggenggam kedua lengan Hinata yang sedang bersiap–siap untuk menyerang.

"Hehe.. kau ter.." Naruto tiba-tiba saja terpaku ketika mendapati pemandangan yang luar biasa indah di depannya.

Kini, Amethyst bertemu kembali dengan Sapphire. Kedua iris indah tersebut saling menatap. Cukup lama mereka saling menatap, menikmati keindahan dari masing–masing iris yang ada di hadapan mereka. Perlahan dan pasti semburat merah di wajah Hinata mulai berani menampakkan dirinya.

Begitu juga dengan Naruto, Jendral berkepala kuning ini seakan terhipnotis kedalam iris Amethyst unik Hinata. Seperti mendapatkan sebuah ketenangan yang amat tentram di dalamnya.

Wajah Hinata mulai memanas. Dengan gerakan yang pelan dan pasti, Hinata mendekatkan wajahnya kearah Naruto.

10 cm

6 cm

2 cm.

Tidak lebih dari 1 cm bibir mereka akan bertemu, tiba–tiba saja Naruto tersentak oleh sesuatu. Dan dengan tidak elitnya, Naruto terjatuh, terperosok, dan masuk kedalam air yang menjadi saksi bisu adegan romantis kedua anak manusia berbeda gender tersebut.

BYURR…
Kini Naruto sukses tercebut kedalam air yang terbilang cukup dingin tersebut.

"Ahahaha.. Bodoh! Kau sangat mudah untuk dikecoh, Shogun No Baka!"

Tapi setengah menit kemudian Naruto belum juga muncul dan menampakkan dirinya dari dalam air. Hal itu sukses membuat Hinata sedikit was–was dan mencoba mencondongkan tubuhnya melihat ke dalam air dimana Naruto tercebur tadi.

'Kenapa dia tidak muncul juga? Apa dia tidak bisa berenang?' Hinata mulai berspekulasi tentang Naruto, karena pria beriris sapphire tersebut masih belum juga menampakkan dirinya dari dalam air.

Hinata semakin mencondongkan tubuhnya dengan posisi yang bisa dibilang cukup erotis. Yaitu, menungging dengan kepala yang sedang berusaha melihat kedalam air. Tapi karena cahaya mentari sore yang silau karena pantulan air, Hinata sama sekali tidak bisa menerawang kedalam air tersebut.

DIbawah pohon sakura yang sedang menggugurkan bunga–bunganya, Hinata terlihat semakin cemas. Ia takut kalau Naruto benar–benar tidak bisa berenang dan mati tenggelam di dalam air.

Raut wajah Hinata semakin pucat fasih, lalu sedetik kemudian…

"BWAAAAAA!" mendadak Naruto keluar dari dalam air dan mengagetkan gadis cantik yang tengah merasakan cemas tersebut.

"KYAAA!" pekik Hinata histeris dan menundukkan kepalanya, masih dalam posisi yang sama dengan mata yang terpejam.

"Gyahahahaha… Tak perlu takut begitu. Ini aku, jendral tertampan dan terhebat sekonoha!" seru Naruto bangga dengan kimono khas pria yang sudah basah kuyup.

Perlahan Hinata membuka matanya dan menoleh ke arah Naruto. Sama seperti tadi, mata mereka saling bertatapan dan menimbulkan suasana hening diantaranya.

Kalau tadi Naruto yang sangat terpesona dengan Hinata. Kini, justru Hinata lah yang terpaku saat melihat wajah Naruto yang sedang basah kuyup. Rambutnya yang tadinya jabrik, kini menjadi lepek dan membuat poni pendek di dahinya.

Keadaan Naruto yang sedang basah kuyup seperti ini, sangat menarik perhatian Hinata. Hingga ia terus terpaku melihat ketampanan Naruto dengan tiga garis disetiap sisi pipinya yang menjadi pelengkap ketampanan sang empu.

Naruto tersenyum hangat, Hinata juga tak mau kalah dan membalas senyuman yang sehangat mentari tersebut. Wajah mereka semakin mendekat, semakin mendekat, dan semakin mendekat.

"Ehem!" Lagi, Kegiatan sepasang sejoli ini terinterupsi oleh suara deheman yang sangat di sengaja oleh pria berambut panjang coklat bernama Neji.

Layaknya petir yang menyambar, suara pengganggu itu sukses mengagetkan Romeo dan Juliet versi jaman Sengoku ini. Debaran jantung dari sepasang anak manusia tersebut sangat cepat. Jika disamakan dengan kecepatan mobil, mungkin kecepatannya akan mencapai 200km/jam.

Masih dengan debaran jantung yang diatas rata–rata, Hinata menjauhkan dirinya dari tubuh Naruto dengan cepat. Melihat kebelakang, mendapati kakaknya yang sedang memperhatikan mereka, dan berdiri tegak serta berlari meninggalkan tempat itu.

"Jika kau ingin menyentuh Adikku? Langkahi dulu mayatku, Jendral!" ujar Neji dingin, tapi menyiratkan senyuman jahil disana. Kemudian berlalu mengikuti langkah Hinata.

"Cih!" Naruto mendengus kesal dengan wajah yang masih memerah.

Tapi, sebelum pria yang memiliki iris senada dengan Hinata tersebut benar–benar pergi. Ia berpaling kearah Naruto lagi, "Naruto, Ada yang ingin ku katakan padamu. Malam ini, aku akan menemuimu di kediamanmu. Pastikan tidak ada yang mengganggu kita!" Lalu kembali berjalan.

Naruto mengernyit dan memiringkan kepalanya, "Menemuiku? Mengatakan sesuatu padaku? Jangan ada yang mengganggu?" Naruto menutup matanya seolah berfikir, "Apa maksudnya?"

"MASAKA!" Sesaat Naruto membelalakan matanya lalu berdiri tegak karena merasa ngeri dengan pikiran aneh yang terlintas di otaknya.

TBC

Sekian dulu buat Chapter 6 ^^/

Ga bosen-bosennya Author minta bimbingan dan review dari para readers sekalian, karena saya sadar cerita ini masih jauh dari kata bagus .

Arigatou-Arigatou #bungkukin badan 90 derajat :D