Konichiwa minna-san, sebelumnya Author ucapin buat readers yang udh ngikutin cerita ini dan yang udh review. Arigatou-Arigatou.
seperti biasa, Author mau balesin Review anonim dulu ya ^^.
- Merry-Chan : Ok merry-chan! nih udh dilanjut ^^.
- yudi : Hehe.. makasih yudi-san ^^.
Kalau gitu langsung aja di simak ceritanya, selamat menikmati ^^.
Chapt. Sebelumnya :
"Naruto, Ada yang ingin ku katakan padamu. Malam ini, aku akan menemuimu di ruanganmu. Pastikan tidak ada yang mengganggu kita!" Lalu Neji pun kembali berjalan.
Naruto mengernyit dan memiringkan kepalanya, "Menemuiku? Mengatakan sesuatu padaku? Jangan ada yang mengganggu?" Naruto menutup matanya seolah berfikir, "Apa maksudnya?"
"MASSAKA!"
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : Naruto and Hinata.
Genre : Romance, Fantasy (mungkin), Supranatural (sedikit), Advanture, Drama
Warning : sorry masih Newbie jadinya typo, EYD yang ga beraturan, Chara juga OOC, Pasaran pastinya :v.
Don't Like Don't Read ^^
Summary: Hinata adalah seorang calon dokter yang baru akan mengikuti ujian akhir dari sekolah tingginya. Suatu hari , ia dimintai tolong oleh jendral berambut kuning yang barasal dari masa lalu untuk menyembuhkan seorang Ratu kerajaan. Tapi setelah menyelematkan Sang Ratu, mereka malah menghadapi suatu intrik kerajaan yang membuat mereka harus mempertaruhkan nyawanya. / Bad Summary / Newbie punya :D
RnR please..
and
Happy Reading
The Shogun and The Doctor.
Chapt. 7 : Jatuh Cinta?
Malam hari di kediaman Naruto, tampak pria pirang jabrik itu sedang menggenggam sebuah buku usang tebal berukuran dua inchi. Sepertinya buku tersebut adalah buku sejarah kuno kerajaan Konoha.
"Buku ini sangat usang, lebih baik ku buang saja," ucap Naruto tanpa membaca sedikit pun membaca buku tersebut mengingat ia adalah orang yang paling malas membaca.
"Atau ku baca saja ya, siapa tau ada yang menarik dari buku ini," selidik Naruto
TOK.. TOK..
Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu di kediamannya ketika ia hendak membuka halaman pertama buku tersebut.
"Masuk!" Seru Naruto dari dalam ruangan.
"Sumimasen, Dono!" ujar pria berambut nanas setelah membuka pintu kayu di kediaman Naruto.
Anggukan kepala di berikan Naruto sebagai respon.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda, Dono," tutur Shikamaru.
Naruto hanya bisa membeku di tempatnya mengingat orang yang ingin bertemu dengannya sudah pasti adalah Neji.
"Bi-biarkan dia masuk!"
Shikamaru sempat menaruh pandangan curiga pada gelagat aneh jendralnya. Namun, merasa hal tersebut bukan hal yang penting. Shikamaru menepis pikiran negatifnya.
"Selamat malam, Naruto-dono!" desis Neji dingin memberi salam.
"Se-selamat malam. Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Naruto.
Sebelum Neji mengatakan maksud dan tujuannya datang menemui Naruto. Pria beriris lavender tersebut ingin memastikan bahwa dirinya dan Naruto benar–benar dalam keadaan berdua. Lalu, ia pun melirik kebelakang. Tepatnya ke arah Shikamaru yang sedang berdiri didepan pintu.
Naruto pun mengerti akan arti dari lirikan Neji tersebut, "Shikamaru."
"Ha'I, Dono!" ucap Shikamaru sambil menundukkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut setelah menutup rapat pintunya.
"Si-silahkan duduk, Neji!" cicit Naruto dengan kegugupan yang sangat terlihat.
Neji menaikan sebelah alisnya, lalu tersenyum kecut, "Kenapa kau terlihat gugup begitu? Tenanglah, aku tidak akan memperkosamu, Dono!"
Bingo, layaknya orang yang bisa membaca pikiran. Neji berhasil menebak apa yang sedang Naruto pikirkan pada saat ini dengan amat sangat tepat.
"A-apa maksudmu, Pria Cantik!" cerocos Naruto.
"Cih!" cibir Neji. "Baiklah langsung saja!"
Neji melangkah ke arah kursi satu dudukan yang ada di depan meja Naruto, "Kapan kami bisa kembali?"
Merasa lega pikiran anehnya tidak terjadi, Naruto menghela nafasnya, "Kau terlihat terburu–buru, Neji?"
"Sudah cukup lama Hinata berada disini. Aku tak mau terjadi sesuatu yang berbahaya pada adikku!" tutur Neji
"Sesuatu yang berbahaya? apa kau meragukan pengamananku?"
"Maaf, Jika kau tersinggung dengan ucapanku. Tapi, aku melihat ada sedikit gelagat aneh di istana ini!" lanjut Neji menjelaskan.
"Gelagat aneh? Apa maksudmu?"
"Sesuai dugaanku, Orang bodoh sepertimu pasti tak akan pernah menyadari hal ini!" Neji mulai meninggikan nada kalimatnya.
"Apa maksudmu, brengsek!" Naruto pun ikut meninggikan suaranya karena merasa tak terima.
Sebelum melanjutkan kalimatnya ia menghela nafas malas, "Orang yang menjadi Raja di istana ini sepertinya menyukai Hinata."
"A-apa? Tidak, itu tidak mungkin!" seru Naruto.
"Aku juga belum memastikannya. Ini hanya pendapatku, lagi pula aku hanya ingin berjaga–jaga sebelum semua ini berjalan lebih jauh lagi."
"Ya, aku mengerti perasaanmu sebagai kakak dan sebagai orang yang pernah terjebak di jaman ini. Kau pasti tidak mau melihat adikmu ikut terjebak di masa ini, bukan?" ungkap Naruto memastikan.
"Benar," Neji menganggukan kepalanya.
"Baiklah, aku sudah mengatur waktu kehadiran kalian disini. Tapi aku minta waktu beberapa hari lagi, supaya Hinata bisa memastikan kondisi Paduka Ratu benar–benar sembuh," Jelas Naruto dengan wajah sendu.
"Baiklah" sahut Neji setuju, "Kalau begitu aku permisi!" sambungnya sambil melangkah ke luar.
"Sepertinya kau sangat menyayangi adikmu ya, Neji!" Gumam Naruto sambil memperhatikan punggung Neji yang perlahan menghilang dari balik pintu kediamannya.
Selepas kepergian Neji, Naruto hanya melamun. Sepertinya Jendral termuda di konoha tersebut sedang memikirkan sesuatu. Tak ada satu pun orang yang tahu apa yang tengah di pikirkan olenya. Tetapi, wajahnya menyiratkan sebuah kekhawatiran.
OOO
"Seperti biasa kau selalu terlihat cantik, Hinata," Kata seorang pria berambut raven yang tak lain dan tak bukan adalah Sasuke.
Seketika wajah Hinata memanas dan memerah. Bukan karena sinar matahari yang membelai kulitnya pada siang hari ini, melainkan perkataan Sasuke barusan.
Karena cuaca yang sangat bagus hari ini, Sasuke memutuskan untuk mengajak Hinata berjalan-jalan disekitar istana. Tak banyak yang mereka perbincangkan, hanya bercanda ringan, sesekali mereka juga membahas tentang kondisi Sakura, Ratu sekaligus istri dari Sasuke.
"Hinata, Terimalah ini." Ujar Sasuke saat membentangkan lengan kanannya ke samping sebagai isyarat untuk dayang kerajaan.
Dayang yang bersama Sasuke itu pun menyerahkan sebuah kotak yang berisi kain berwarna cerah. Kain indah berwarna merah muda dengan corak bunga sakura sebagai penghiasnya.
"Apa itu, Paduka?" respon Hinata sembari sedikit memiringkan kepalanya.
"Itu adalah Kimono yang terbuat dari benang sutra terbaik di konoha. Aku harap kau menyukainya," tutur Sasuke.
Dengan semburat merah yang masih melekat di wajahnya, Hinata menerima pemberian Sasuke dengan senang hati, "Arigatou gozaimasu, Paduka"
"Hn.. Sama–sama, Hinata!" balas Sasuke dan suasana pun menjadi hening.
"Malam ini, aku berencana untuk mengajakmu makan malam berdua saja di beranda timur istana," kata Sasuke mencoba mencairkan suasana, "Apa kau keberatan?"
Hinata sedikit terkejut, "Makan malam? Maksud anda tempat yang ada danaunya itu, Paduka?"
"Danau?" tanya Sasuke sambil memiringkan kepalanya.
"Ah, maksud saya telaga yang dikelilingi pohon bunga sakura," ralat Hinata.
"Bagaimana kau tahu tempat itu?" Sasuke kembali memberikan pertanyaan untuk Hinata.
"Kalau itu, kemarin Naruto mengajak saya berjalan-jalan disana, Paduka," sahut Hinata
"Begitu?" Sasuke lalu melangkahkan kakinya kedepan, "Tapi kau benar, itu adalah tempat kesukaan Sakura," ucapnya kemudian.
Hinata hanya diam mendengarkan kata-kata yang dilontarkan oleh Sasuke.
"Jadi bagaimana? Apa kau mau? Sekaligus aku ingin berterima kasih karena kau telah menyelamatkan nyawa Ratu," lanjut Sasuke.
"Sa-saya tidak mengerti maksud anda, Paduka." Hinata sedikit gugup dan bingung, "Kalau hanya berterima kasih, kenapa harus makan malam berdua saja?"
Sasuke tersenyum setelahnya, "Tenanglah, tak perlu merasa gugup begitu. Aku tidak akan berbuat macam–macam padamu."
Mendengar penuturan Sasuke, Wajah Hinata semakin memerah dan memanas. Ia juga merasakan sebuah perasaan aneh di dalam hatinya. Perasaan Hangat seperti yang ia rasakan saat bersama Naruto. tapi perasaan hangat yang sangat berbeda tentunya.
Jika perasaan Hangat saat bersama Naruto adalah perasaan nyaman yang dapat membuatnya tertawa bahagia. Maka, Perasaan hangat saat bersama Sasuke adalah sesuatu yang dapat membuatnya salah tingkah dan malu. Sekalipun ia merasa sedikit tidak nyaman saat di samping Sasuke.
"Dan jangan lupa, aku ingin melihatmu mengenakan pakaian itu malam ini. Aku yakin, kau pasti akan terlihat sangat cantik!" sambung Sasuke.
"Baiklah, Paduka," bersamaan ucapan Hinata, Angin sepoi–sepo mulaii menerpa mereka. Bunga–bunga sakura pun ikut beterbangan karenanya.
Sehelai kelopak bunga sakura tampak terbang kearah Hinata dan melekat pada kepala indigonya. Sasuke merasa risih saat melihat kelopak sakura itu mengotori kepala HInata. Dengan perlahan dan pasti, Sasuke meraih bunga tersebut dan membuangnya. Hinata pun hanya bisa tersenyum gugup.
OOO
Waktu pun terus bergulir, dari malam ke pagi, dari pagi ke siang, dan kini malam pun kembali menyelimuti istana. Langit cerah yang di temani bulan sabit sangat mendukung penampilan Hinata malam ini. Gadis indigo itu kini mengenakan Kimono yang di berikan oleh Sasuke. Sebuah kimono indah berwarna seperti permen kapas dengan Obi yang berwarna merah menyala.
Hinata terlihat sangat cantik malam ini, apa lagi dengan Hanakanzashi pemberian Naruto yang melekat di kepala indigonya. Keanggunan gadis itu sudah tidak diragukan lagi. Barang siapa bagi kaum adam yang melihat Hinata pada saat ini tidak jatuh cinta. Maka, Pria tersebut pantas di vonis sebagai pengidap penyuka sesama jenis.
BRUK…
Tak sengaja Hinata menabrak seorang pria kekar ketika sedang berjalan di teras. Bagaikan penari salsa, pria yang memiliki dada bidang itu menahan bobot tubuh Hinata yang terbilang sangat ideal tersebut agar tidak jatuh.
"Hn?" suara itu terdengar familiar di telinga mungil Hinata.
Ternyata, pria tersebut adalah Naruto. Untuk yang kesekian kalinya, iris indah mereka saling bertautan. Membuat masing–masing empunya terpesona.
"A-ano, Naruto-kun?" ujar Hinata memecah keheningan.
"Uups, Maaf," sahut Naruto sambil membantu Hinata berdiri tegak kembali.
Ditatapnya Hinata dari ujung kaki hingga ujung kepala. Malam ini Hinata tampak berbeda dari biasanya. Penampilan gadis itu benar-benar sangat cantik. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal di hati Naruto ketika melihat penampilan cantik Hinata pada saat itu.
"Penampilanmu sangat berbeda! Mau kemana kau?" tanya Naruto.
Hinata mulai melangkahkan kakinya menuju suatu tempat yang diikuti Naruto dari belakang, "Aku ingin melihat keadaan Paduka Ratu," Jawabnya.
"Ooh.. Kebetulan sekali aku juga ingin menjenguknya," tapi Hinata hanya diam tak memberikan komentar.
"Ne, Hinata. Boleh ku katakan sesuatu?" kata Naruto mencoba mencairkan suasana.
"Apa?" tanya Hinata sambil menolehkan kepalanya.
"Pakaian itu tidak cocok untukmu!" jawab Naruto sekenanya.
"A-apa?" Hinata tak percaya dengan telinganya sendiri. 'Sialan, Aku kira dia akan memuji penampilanku!" gumamnya di dalam hati.
"Pakaian itu tidak cocok untukmu! Apa lagi warnanya, sangat tidak cocok untukmu! Lebih baik kau buang saja!"
BLETAK..
setelah sekian lama, akhirnya kepala jabrik Naruto menjadi sasaran untuk jitakan Hinata.
"ITTAI!" Naruto meringis kesakitan, "SAKIT TAHU!"
"Huft!" Hinata mempercepat langkah kakinya, "Lain kali jika kau melihat seorang wanita dengan penampilan yang berbeda, ada baiknya kau memujinya!"
"Ara? Jadi kau ingin mendapatkan pujian dariku, begitu?" sahut Naruto dengan nada yang menggoda sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.
"Bu-bukan begitu. Ma-maksud…" Hinata mulai gugup dan terbata–bata, "Mou! Sudah lupakan saja!" Seperti biasa, rona merah diwajah Hinata selalu menjadi perhiasan di wajah ayunya.
"Heeee… ayo mengaku saja?" Naruto semakin gencar menggoda gadis lavender tersebut.
"URUSAI, BAKA!" cecar Hinata yang disambut dengan tawa nyaring Naruto.
Setelah beberapa menit, mereka pun akhirnya tiba di ruangan Ratu Sakura. Naruto mengetuk pintu, lalu terbukalah Shouji yang bergeser kesamping dan menampakkan sesosok dayang istana sedang merawat Sang Ratu.
Dengan isyarat yang diberikan oleh Sang Ratu, dayang tersebut pun pergi meninggalkan mereka bersama Sang Ratu yang sedang terbaring di ranjang.
"Ara–ara, jarang sekali aku melihat kalian jalan berdua? Jangan–jangan kalian sedang kencan ya?" celetuk Sakura asal.
"TIDAAAK!" sahut Hinata dan Naruto bersamaan., Tak lupa dengan semburat merah yang sedang bersemayam di kedua wajah mereka.
"Araa? Kalian manis sekali jika seperti itu, hihihi," respon Sakura dengan tawa menggoda di akhirnya.
Masih dengan semburat merahnya, perlahan Hinata menghampiri Sang Ratu, "Saya ingin melihat kondisi anda, Paduka Ratu," ujarnya setelah itu.
Sakura hanya ternsenyum menanggapi Hinata. Tapi dengan senyuman yang menggoda tentunya.
"Sakura-nee, Jangan bicara yang tidak–tidak! Kondisimu masih belum pulih!" Naruto menyela dan mengalihkan pembicaraan.
"Padahal kalian terlihat sangat cocok loh!" tak mengindahkan perkataan Naruto, Sakura terus saja menggoda mereka berdua.
"SAKURA-NEE!" Naruto mulai emosi.
"Ne, Naruto. Kau menyukai Hinata-chan, 'kan? Ya 'kan?"
"CUKUP! AKU PERGI!" Dengan luapan emosi, Naruto melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut menyisakan Hinata dan Sakura.
SREKK.. BLAM..
Beruntunglah Shouji di ruangan tersebut terbuat dari bahan berkualitas tinggi, sehingga masih dapat menahan bantingan kuat yang dilakukan oleh Naruto.
"Ahahaha.. Dasar, bocah kikuk!" Sakura terkikik sementara Hinata masih dengan rona merah di wajahnya, "Aku sangat suka menggodanya jika sedang seperti itu!"
Hinata membalasnya dengan senyuman yang dipaksakan di bibir ranumnya. Kembali ke tujuan awal, gadis berkimono merah muda itu mulai menggerakan tangan terampilnya untuk mengecek kondisi Sang Ratu.
"Kondisi anda sudah semakin baik, Paduka," tutur Hinata.
Sakura tersenyum, "Yokatta! Terima kasih, Hinata-chan!"
"Kalau begitu bisakah anda mencoba untuk duduk, Paduka?"
Sakura mengkerutkan dahinya, "Apa kau yakin, Hinata-chan?"
Awalnya Ratu permen kapas itu sedikit ragu, mengingat luka di lehernya yang masih belum sembuh sepenuhnya. Tapi Karena melihat raut wajah Hinata yang tenang, mau tak mau Sakura pun mengikuti perkataan Hinata.
"Biar saya bantu," ucap Hinata lembut sambil mengganggukan kepalanya.
Sakura pun mencoba untuk duduk dengan bantuan Hinata. Dengan usaha yang cukup keras, Sakura berhasil duduk di atas ranjangnya dengan senyuman bahagia.
"Lihat, Kondisi anda sudah jauh lebih baik!" Hinata juga merasa senang melihat peningkatan kondisi Sakura.
"Tapi ingat, Jangan terlalu banyak bergerak. Setelah meminum obat ini, saya sarankan anda untuk kembali beristirahat!" sambung Hinata menjelaskan.
Sakura menganggukan kepalanya, lalu meminum obat yang telah di sediakan oleh Hinata. Setelah meminum obat tersebut, Sakura mulai merebahkan tubuhnya kembali tak lupa dengan bantuan Hinata tentunya.
"Saya yakin, besok kondisi anda akan pulih sepenuhnya. Tapi, seperti yang saya katakan tadi. Anda belum boleh banyak bergerak mengingat jahitan yang ada di leher anda belum sembuh sepenuhnya!" Jelas HInata kembali.
"Siap, Hinata-chan! Sekali lagi, Hontouni Arigatou!" sahut Sakura.
Hinata mengangguk dan tersenyum, "Kalau begitu saya permisi, Paduka," Sakura pun membalasnya dengan anggukan.
Sepeninggalan Hinata dari tempat tersebut. Tanpa disadari olehnya, Naruto sedari tadi menunggu di luar ruangan. Memastikan kalau Hinata sudah cukup jauh, lalu pemuda itu memasuki ruangan Ratunya.
"Naruto? kenapa datang lagi?" Sakura sedikit terkejut melihat kehadiaran Naruto yang tiba–tiba.
"Hehehe..," tawa Naruto terdengar garing, apa lagi saat ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa aku mengganggu, Sakura-nee?" sambungnya.
"Tidak! Ne, Naruto. bisakah kau bantu aku duduk?" ucap Sakura sembari mengulurkan lengan kirinya meminta bantuan.
"Ara? Duduk? Apa kau sudah bisa duduk, Sakura-nee?" tanya Naruto bertubi
"Sudah cepat! Lakukan saja!" geram Sakura memaksa.
"Ba-baik," dengan sigap, Naruto membantu Sakura untuk duduk agar pembicaraannya dengan pria jabrik tersebut semakin nyaman.
"Nah, kalau begitu, apa yang ingin kau ceritakan?"
"Kenapa kau tahu kalau aku sedang ingin bercerita denganmu?" tutur Naruto kaget.
Empat urat siku pun muncul di dahi lebar Sakura, "Memangnya siapa lagi, orang yang berani mengusik ketenanganku selain Sasuke malam–malam begini!"
"Hehehe.. Gomen–gomen! Ternyata kau memang selalu mengerti aku!"
Sakura mengambil air putih di sebelahnya lau meneguknya dengan hati–hati. "Kali ini, tentang apa?"
Naruto pun bingung harus mengatakan apa, "Anoo.., sebenarnya aku hanya ingin menjengukmu dan ingin mengobrol denganmu saja, hehe…"
Sakura hanya bisa memasang tampang cengo di depan pria kuning tersebut, "Sungguh lancang kau, mengganggu ketenangan seorang Ratu hanya dengan alasan itu!"
"Go-gomen, Sakura-nee! Lagi pula malam ini aku merasa sangat bosan dan tak tahu harus melakukan apa!" bela Naruto sambil menyatukan kedua telapak tangannya kedepan dada.
Setelah mendengar itu Sakura pun hanya bisa menghela nafas pasrah, "Baiklah-baiklah! Kau menang, kalau begitu ceritakan lelucon yang bisa menghiburku!"
"Lelucon ya?" Naruto mulai berfikir sambil memegang dagunya ala detektif. "Dari pada lelucon, bagaimana kalau kau menceritakan kisah cintamu dengan si Teme?"
"Haa?" Sakura sedikit terkejut, "Tumben sekali kau ingin aku menceritakannya?"
"Ya dari pada aku harus menceritakan lelucon yang membosankan lagi padamu."
"Baiklah, tapi dengan satu syarat!?" ujar Sakura dengan tegas
"Syarat?" Tanya Naruto bingung.
Sakura pun menganggukan kepalanya, "Jika kau tidur saat aku sedang bercerita, maka kepalamu akan ku gantung di perapian!" ucapnya santai, mengingat dulu Naruto sering kali membuatnya kesal dengan tidur ditengah-tengah cerita tentang Sasuke.
Detik itu juga, seluruh tubuh Naruto menjadi dingin seketika. Apa lagi saat ia membayangkan kepalanya sedang digantung dan menjadi hiasan di perapian.
"Ba-baik, aku berjanji!" kata Naruto sedikit terbata.
Sejenak suasana menjadi hening, mereka hanya saling menatap satu sama lain. Hal itu berlangsung hingga lima menit. Sampai akhirnya Naruto pun membuka suara.
"Kenapa kau diam?" ucapnya sedikit kesal.
"Aku harus memulainya dari mana, bodoh?" balas Sakura tak mau kalah.
"Benar juga, kalau begitu saat kau mulai jatuh cinta pada Sasuke saja!"
Sakura pun mulai menceritakannya pada Naruto. Sebenarnya, ini sudah untuk yang kesekian kalinya Naruto mendengar cerita tentang bagaimana Ratu permen kapas itu bisa jatuh cinta dengan Sasuke dan disetiap Sakura menceritakannya, pasti berujung dengan suara dengkuran Naruto yang teramat keras.
Tapi entah ada angin apa, kali ini Naruto sama sekali tidak menunjukkan kalau dirinya mengantuk. Malah Naruto tampak semakin bersemangat mendengarkan cerita dari Ratunya tersebut.
"Jadi intinya, kau jatuh cinta padanya saat dia mengakui bahwa ternyata masakanmu itu enak?" tanya Naruto dengan wajah yang aneh.
"Benar sekali!" seru Sakura sedikit malu-malu.
"Kisah cinta yang aneh. Dan yang lebih aneh adalah Sasuke yang bisa jatuh cinta pada wanita cerewet sepertimu!" celoteh Naruto asal.
"Bisa kau ulangi perkataanmu yang barusan, Naruto?" ucap Sakura sambil memberikan senyuman yang amat sangat tidak enak dipandang.
"Ma-maaf, aku hanya bercanda Sakura-nee,"
Tiba-tiba, Sakura menyadari sesuatu ada yang aneh dari Naruto, "Araaa, sepertinya pria yang ada didalam ruangan ini sedang jatuh cinta," ucapnya menggoda dengan senyuman jahil.
"Haa? Siapa?" Tanya Naruto linglung dan melihat kesana-kemari, tapi tak menemukan siapa pun disana kecuali mereka berdua.
"Memangnya siapa lagi pria yang ada diruangan ini, bodoh!" ucap Sakura emosi.
Naruto menunjuk dirinya sendiri, "Maksudmu aku?"
BLETAK..
Dengan mulus kepala Naruto menjadi landasan jitakan Sakura.
"ITTAII!" erang Naruto. "Kenapa memukul ku, Sakura-nee!"
"Mau lagi?" balas Sakura santai sementara Naruto hanya bisa bersweetdrop ria sambil mengelus kepalanya yang masih sakit.
"Jadi siapa wanita yang amat sangat tidak beruntung itu, Naruto?" tanya Sakura menyindir.
"Jadi maksudmu jika aku mencintai seorang wanita, maka wanita itu akan bernasib sial!?" cerocos Naruto.
"Hahaha..," tawa Sakura terdengan nyaring. "Aku hanya bercanda, Jendral!"
"Dan itu tak lucu!" Sanggah Naruto.
"Apa wanita itu Hinata?" ucap Sakura kembali ke pokok pembicaraan.
"Haa!? Ke-kenapa kau bisa bilang begitu?" seketika wajah Naruto menjadi merah dan gugup.
"Jadi benar Hinata ya?" senyum Sakura semakin mengembang dan tampak menjengkelkan di mata Naruto.
"Hei… hei.. apa maksudmu!?"
"Lalu kenapa kau harus gugup begitu?" Tanya Sakura masih dengan nada menggoda.
"Siapa yang gugup!" sanggah Naruto lagi.
"Sudah jangan berbohong padaku, bahkan aku mengetahui isi perutmu itu apa!"
Merasa tenggorokannya kering, Sakura meneguk secawan air putih yang sudah dipersiapkan oleh dayang istananya tadi. Dengan bantuan Naruto tentunya.
"Aku rasa tidak ada salahnya jika kau mencintainya, Naruto," Ucap sakura setelahnya.
"Tapi itu tak mungkin, Sakura-nee?" mendengar ucapan Naruto kali ini, Sakura pun semakin mengembangkan senyumannya.
"Kenapa?" tanya Sakura mencoba menjebak Naruto yang sedari tadi terus menghindari argumen yang disampaikan olehnya.
"Kau tahukan? Dia bukan berasal dari sini! Dia dari masa depan! Aku dan dia tak akan bisa bersama, Sakura-nee!"
Sakura tertegun, lalu mengelus pelan punggung Naruto, "Cinta itu tak harus saling memiliki, Naruto,"
Naruto menoleh kearah wajah Sakura dengan tatapan bertanya, "Maksudnya?"
Sakura tersenyum simpul, "Suatu saat kau akan mengetahuinya."
Naruto pun hanya bisa terdiam di tempatnya, 'Cinta tak harus saling memiliki ya?' gumamnya dalam hati.
"Lalu, kenapa kau tadi mengatakan kalau kau tidak mencintai Hinata?" kata Sakura kembali menggoda Naruto.
"Me-memang tidak!"
"Haha… dasar!" ucap Sakura setelah tawa nyaringnya.
TBC
Sekian dulu untuk Chapter 7. ^^/
Dan tak bosan - bosannya Author meminta bimbingan dan reviewnya dari para Readers sekalian.
Sekali lagi Author ucapin Hontouni Arigatou #bungkukin badan 90 derajat.
