Tsuna-nii and His Siblings

Prompt: Worry


Tsuna menggenggam erat tangan itu. Tangan milik I-Pin yang terbaring lemah di kasur rumah sakit semenjak dua hari yang lalu.

Lambo yang menundukkan kepalanya duduk di samping Tsuna seraya menggenggam tangan Tsuna yang satunya.

Fuuta mengusap kening I-Pin perlahan dengan wajah cemas.

"Seandainya sewaktu itu aku menemaninya," lirih Tsuna menatap wajah I-Pin, seakan air matanya hendak keluar dan siap menangis.

"Tsuna-nii…" Fuuta menatap Tsuna khawatir.

Lambo mengangkat wajahnya dan melepaskan genggaman pada tangan Tsuna dan kemudian memeluknya.

"Ini bukan salah Tsuna-nii," bisiknya sedikit terisak.

Tsuna tersenyum sekilas melihat tingkah Lambo yang berusaha menghiburnya.

"Terima kasih, Lambo." dan dia pun mengusap kepala Lambo yang sudah menangis di bahu Tsuna.

Fuuta hanya tersenyum melihat saudaranya seraya masih menggenggam tangan I-Pin yang satunya.

"Cepatlah sembuh, I-Pin. Tsuna-nii sangat mengkhawatirkanmu. Bahkan Lambo menangis melihatmu seperti ini." bisik Fuuta menatap saudara perempuannya yang masih terbaring.