Tsuna-nii and His Siblings
Prompt: Defeat
Setelah mengerjakan sebagian dari paperworknya, ruang kerja Tsuna terketuk tiga kali. Setelah mempersilakan masuk orang yang mengetuk pintunya, dia melihat Lambo dan I-Pin yang menjinjing tas sekolahnya seraya menatapnya.
"Tsuna-nii, apa kau sudah selesai?" tanya I-Pin.
"Oh, hanya sedikit lagi. Ada apa?"
"Lambo-san dan I-Pin ada PR. Tsuna-nii bisa bantu, 'kan?" Lambo menatapnya cerah.
"Uh… baiklah," jawab Tsuna sedikit ragu.
"Kalau begitu, Lambo-san dan I-Pin akan mengerjakannya disini, Tsuna-nii boleh sambil mengerjakan paperworkmu," ucap Lambo langsung duduk di sofa ruangannya bersama I-Pin seraya mengeluarkan buku-buku serta alat tulisnya.
Tsuna kembali mengerjakan paperworknya sampai sebuah buku menutupi kertasnya.
"Ada yang tak kumengerti," ucap I-Pin menunjuk sebuah soal Matematika yang cukup rumit.
Tsuna menatap sungguh-sungguh soal tersebut. Walau dia mempelajari Matematika langsung dari Reborn yang merupakan master dalam bidang tersebut, Tsuna selalu gagal mengerti. Tsuna cukup puas dengan nilai kelulusannya yang pas-pasan walau pada akhirnya Reborn membuatnya babak belur setelah melihat nilainya.
Tsuna menghela napas menyerah. I-Pin masih menatapnya.
Rasanya jika dia mengembalikan buku PR I-Pin tanpa tahu bagaimana mengerjakannya, Tsuna merasa harganya diri sebagai kakak seketika hancur. Tsuna ingin sekali menangis.
"Ah, Lambo-san tahu cara mengerjakannya," ucap Lambo tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
"EH?" Tsuna menatap Lambo kaget.
"Benarkah, Lambo?" tanya I-Pin berseri.
"Hum! Hayato-nii pernah mengajari Lambo-san dengan soal seperti ini," ucapnya bangga.
I-Pin mengambil buku yang dipegang oleh Tsuna dan kembali ke sofa. Tsuna menatapnya antara tak percaya dan merasa terkalahkan. Dia mendengar penjelasan Lambo yang mengajari I-Pin, membuatnya merasa kembali menjadi Dame-Tsuna.
Harga dirinya sebagai kakak hancur. Sekali lagi, Tsuna sangat ingin menangis.
"Lain kali aku akan meminta Reborn mengajariku Matematika lagi." ucapnya pelan dan penuh tekad.
