Kepulan asap mengembang, melambung menantang langit. Ratusan rumah hancur rata dengan tanah terinjak-injak kaki dengan ukuran raksasa. Disana puluhan tubuh raksasa telanjang, masuk dan menebar teror bagi para pengecut yang berlindung di balik dinding.

Teriakan keputus asaan menggema disetiap sudut kota. Darah mengenang, danging dan bagian tubuh tak utuh lainnya yang tercecer, menjadi hal yang biasa sejak jebolnya tembok Maria di Shinganshina District.

dan tidak berselang lama...

Banyak pasukan militer yang berdatangan dari arah gerbang utama. Berayun indah di antara atap rumah dan celah rumah, berusaha menghabisi para penebar teror dan berusaha mengamankan Shinganshina District.

Tapi... mereka yang datang. Hanya datang bagaikan mengantar nyawa pada sang Malaikat maut. Para pasuka militer yang awalnya di elu-elukan kedatangannya... sekarang keadaan mereka tak ubah bagaikan nyamuk yang mudah dihabisi oleh para Titan yang masuk.

Bagaikan tenggelam dalam laut yang dalam. Bagaikan terdampar di dasar hati yang suram. Tatapan mata mereka kosong melihat awal kekalahan mereka, mereka berlari sekuat tenaga. Menjauh. Menjauh sejauh yang mereka bisa untuk tetap bertahan hidup.

Bagaikan mimpi buruk,... semua yang hidup hingga saat ini. Berharap seseorang di dunia sana membangunkan meraka. Bangunkan dengan cara apapun, tolong keluarkan mereka dari mimpi buruk ini...

Tapi...

Inilah kenyataan. Kenyataan yang tak bisa mereka elakan, kenyataan bahwa apa yang mereka selama ini banggakan hancur dalam hitungan detik. Hancur bersama hancurnya semua ego mereka. Manusia. Hancur bersama datangnya para mahluk, yang sejak kemunculannya tidak pernah bisa mereka kalahkan.

Bagaikan sebuah tusuk gigi yang tidak berharga. Mereka, manusia dengan segala keangkuhannya. Tidak berdaya melawan mahluk yang bakal tidak berakal seperti mereka. Perbedaan yang besar membuat hati mereka kecut, kekalahan demi kehilangan membuat mereka menyebut bahwa para raksasa adalah kutukan dari Tuhan.

Ya... setidaknya itulah yang di ucapkan para pendeta.

Namun... seperti kata pepatah. Habis gelap terbitlah terang.

Jauh, sebelum tembok Maria bagian Shinganshina Districtjebol. Tujuh puluh tahun yang lalu, seorang wanita dari sekte pemuja Titan. Memberikan ramalan akan masa depan, jauh dalam penglihatannya. Ketika Tuhan dalam kemurkaannya, satu dari lima Jendral akan merubuhkan dinding ini tanpa alasan yang jelas. Dan segaris takdir, kelima jendral itu dipertemukan dalam satu tempat. Dan mereka akan di pimpin oleh seorang yang tidak datang dari masanya.

Entah apa maksudnya... tidak ada yang tau apa maksud dari ramalan itu. banyak spekulasi mengatan itu hanyalah hayalan. Dan tidak sedikit juga yang mencari permimpin dan kelima jendral dalam ramalan itu. hingga pada masanya, kebosanan melanda tekad mereka. Keraguan menggoyahkan pencarian mereka. Dan pada akhirnya... ramalan itu terkikis di telan waktu, dan terlupakan...

Sampai saat ini.

0o0o0

Banyak orang yang tidak mengerti akan keadaan. Tidak sedikit yang membiarkan ego mereka keluar, berharap untuk bisa mengendalikan keadaan. Berusaha entah bagaimana caranya mencapai apa yang mereka mau.

Tenggelam dalam gelapnya takdir. Hati mereka takut akan hal yang menyapa dibelakang mereka, mereka ribut akan suara bangunan runtuh yang juga meruntuhkan semua mimpi dan anggan mereka.

Walau begitu mereka masih mencoba memengang bumi. Mencari setiap serpihan kebanggan yang bisa menambah ego mereka, tetap mencari hingga akhirnya langitpun mencela.

0o0o0

Bagaikan terbangun dari tidur panjang. Iris mata milik pemuda itu tak kuat menatap lautan Manusia di tepi sana. Mengalihkan pandangannya berharap agar rasa kemanusiaanya tidak tersiksa... tapi dia harus kembali mencoba bertahan, ketika dari tepi sana tangisan manusia mulai mencominasi pendengarannya.

Suara tangisan berubah menjadi protes kekecewaan dan berlabuh pada ketidak puasaan. Sumpah serapah meluncur dari mulut mereka, namun tangisan murni dari hati yang takut masih terdengar.

"Semuanya harap tenang..."

Sudah sejak lama Manusia sering berpeerang untuk ego mereka. Menyerang wilayah lain untuk menguras hasil bumi daerah tersebut. memperbudak penduduk kalah perang, akhirnya meninggalkan daerah yang sudah gersang tersebut.

Masih! Dan dalam cerita, kisah keberanian bangsa mereka diceritakan turun temurun. Menimbulkan kebanggan dan ego baru bagi generasi mendatang. Menimbulkan perang baru dimasa datang... memandang rendah bangsa lain.

Dan meninggikan kebanggaan akan apa yang mereka miliki. Atau, mendendam atas kekalahan bangsanya. Kemudian bersumpah untuk menang.

Semua terus terjadi. Darah, teriakan, mati. Menjadi hal yang biasa jika kau berada di lapang gersang itu. menjadi kewajiban bagimu untuk menang atau mati dari pada malu. Selama masih ada keingginan mereka terus berperang..

Hingga...

Mereka datang dari arah yang lain. Mereka para Raksasa...

"Akanku bunuh... akan kubunuh..."

Sekali lagi dia hanya diam ketika mendengar ucapan anak lelaki di sebelahnya. Pikirannya melayang jauh di saat untuk kedua kalinya dia kehilangan sosok ibu baginya. Lemah... lemah hanya menatap bagaimana mulut besar itu meremukkan sukma jiwanya, bagaimana potongan tubuh itu jatuh. Dan dari wajah atas tubuh tak utuh itu, terlukis senyum tulus bercampu lumuran darah.

Tidak ada yang dapat dilakukannya... dia tidak sekuat dulu. Dia tidak setangguh dulu, dimana dia bisa mengatakan 'semua baik-baik saja'. Dia tidak bisa mengucapkan atau menepati setiap janji. Karna dia tidak senaif dulu, kerasnya hidup telah mengajarkannya. Dan terlebih...

Dia hanyalah seorang bayangan... pendukung dari sang cahaya.

Kapal telah lama bergerak, meninggalkan ratusan wajah putus asa dan sumpah serapah. Dia lebih memilih menutup matanya... berusaha mengapai dunia mimpi, dibanding mendengar teriakan sunyi dari tepi sana.

Namun... dia tidak bisa menutup matanya... dia inggin rasanya terjun kesana. Menolong, atau setidaknya menukar satu posisi yang ada di sana dengannya. Membiarkannya mati untuk melepas beban.

Tapi... sekali lagi dia tidak bisa. Dia tidak bisa melakukan hal-hal luar biasa di sini, ini bukan kehidupan lamanya dimana dia merasa superrior dengan kekuatannya. Ini adalah masa selanjutnya, di mana dia di tugaskan. Dimana dia tidak tau, apa yang harus di lakukan. Tidak tau, dengan sesuatu yang telah dijanjikan padanya.

Anubis ya bajingan itulah yang telah mengirimnya kemari... disaat dia sudah damai dengan kematiannya. Rohnya kembali di tarik oleh sang dewa kematian yang memiliki berbagai nama dari agama maupun mitologi itu. dan dengan mudahnya dia dihidupkan kembali untuk mengembang sebuah tugas...

Tugas melindungi Manusia entah bagaimana caranya.

0o0o0

Seiring berlalu bergulirnya waktu, kapal yang membawa merekapun akhirnya menepi. Turun Naruto dan yang lain berjalan berkelompok dengan yang lain. Banyak, banyak sekali wajah keputus asaan, wajah-wajah yang tak menerima kenyataan yang ada... begitu banyak, samapai dia tak merasa akan ada harapan lagi di hati setiap manusia.

Panas terik menerpa perjalanan ini, ketika Matahari telah menancap tinggi di langit. Fatamorgana perlahan tercipta ketika melangkah kekota selanjutnya, dari kejahuan kembali terdengar suara gemuruh. Sesuatu yang roboh. Juga terdengar beberapa tembankan meriam, berulang kali... bahkan mungkin sudah puluhan kali. Asap mengapung dari dinding lapisan pembatas dengan Shinganshina District. Dengan begitu Wall Maria telah tertembus seutuhnya.

Sepertinya tembok kembali tertembus... para pasukan militer yang mengawal memerintahkan untuk mempercepat langkah ke bagian dinding yang lapisan kedua. Wall Rose.

Keraguan itu terjawab ketika disana menunggu puluhan kereta kuda. Seorang prajurit dengan lambang Military Police mendekati mereka, Naruto heran melihat pasukan kerajaan itu bersusah payah datang kemari...

Namun dia tidak peduli, semua pengungsi termasuk dirinya menaiki kereta kuda itu... segera menjauh dari sana. Dan tak lama jauh dalam pandangan mata para Titan sudah bermunculan. Menambah kengerian, ketika tubuh raksasa telanjang itu bewarna merah samar...

Merah... darah.

Dan jelas dalam iris biru miliknya, Naruto menangkap suatu yang ganjil. Satu dari puluhan Titan itu, seperti memiliki armor emas... dia tidak tau apa itu, karna dia memang tidak pernah diberi tau.

0o0o0

Naruto memandang dalam sebuah kentang rebus yang saat ini dalam genggamannya, membuka mulutnya secara perlahan kentang itu mulai dimakannya. Para pengungsi yang berhasil selamat, semua di kumpulkan di tepi tembok Wall Rose untuk pembagian makanan. Jumlah pengungsi bertambah setelah Wall Maria benar-benar hancur, kehancuran yang di awali dengan jatuhnya Shinganshina District.

Banyak umpatan ketidak puasan yang di dengarnya, banyak raut putus asa yang dilihatnya. Semuanya yang membaur kusam bagaikan susu yang di tetesi nila. Tidak ada yang spesial dengan semua ini... rasa dan aura suram telah terlihat mematahkan ego manusia sejak jatuhnya Shinganshina District.

Semua diam, tidak ada tangisan penyesalan. Hanya ada teriakan ketidak puasan, keputus asaan. Atas kenyataan yang di laluinya.

"Berikan kami makanan, kami masih lapar!"

Teriakan itu kembali terdengar, ketidak puasan melahirkan pemberontakan. Dan akhirnya hanya akan ada perkelahian antara si kuat dan si lemah. Namun... tatapan Mata Naruto beralih pada seorang anak lelaki berambut coklat. Pupilnya melebar ketika dia mengetahui siapa anak itu.

Berdiri,... Naruto bergerak menuju kearah tersebut.

. . . . . . . .

"Kau tidak tau bagaimana Raksasa memakan orang!"

"DIAM!"

Sebuha tendangan melayang dan tepat mengenai seorang anak bersurai coklat, iris mata hijau milik anak tersebut menatap dua anggota pasukan dari Garrison Corps dengan marah. Tidak ada ketkutan dalam matanya.

Seolah dia tercipta tanpa rasa takut.

Tidak ada yang menolongnya. Orang-orang hanya terdiam melihat bagaimana dia di perlakukan layaknya binatang. Mereka terlalu sibuk dengan diri mereka sendiri, hanya ada bisik-bisik yang terjadi sesama mereka.

Tendangan tersebut masih di layangkan... seakan tidak pernah puas. Merka masih meluapkan kemarahan pada anak yang baru saja berani dengan keangkuhannya menantangnya.

"Apa yang kau lakukan Naruto!"

Dua prajurit tersebut terdiam ketika, seorang bocah bersurai kuning menarik paksa objek pelampiasan mereka. Bukan apa-apa, tapi yang membuat mereka terdiam adalah dua buah pisau yang melayang pada mereka dan mengores kedua pipi mereka hingga darah mengalir...

Melirik ekor mata mereka, dengan jelas kedua pisau itu menancap dalam di dua buah tiang kayu.

"Aku dengar dari tadi kalian berdua meributkan ini" Naruto memainkan kentang rebus yang sempat di gigitnya. "Ini ambillah.."

Dengan sekali lemparan, kentang rebus tersebut melesat dan mengenai tepat wajah salah satu diantara prajurit Garrison Corps.

"Lepaskan aku Naruto!"

Eren masih terus meronta-rontah. Tanpa mendengarkan ucapan anak tersebut, Naruto terus menariknya menuju Mikasa dan Armin yang telah menunggu.

0o0o0

Hari telah berganti dan tak bisa di hindari... para pengungsi yang selamat di kirim untuk bertani atau berburu mencari makan. Namun tetap saja itu tidak mengurangi kelangkaan makanan.

Tapi, bukan soal pertanian yang salahlah yang menyebabkan ini. Tapi, kerakusan manusialah penyebab bencana ini. Tidak pernah puas dan selalu inggin lebih. Dengan segala cara mereka memperkaya diri, walau harus dengan cara kotor dan hina. Menimbun makanan, kelangkaan menyebar makin luas... menimulkan kelaparan dimana-mana...

Dan berdalih serangan Titan dan menumpuknya para pengungsi. Mereka berlindung dan tetawa di balik alasan itu. kesengjangan yang terus berlanjut, dan pemerintahan yang kacau membuat Pemerintah pusat mengeluarkan sebuha kampanye gila.

Yaitu..

Menyuarakan untuk merebut kembali Wall Maria menggunakan pengunggsi. Gila. Hanya itu satu kata yang terlintas di dalam benakmu mendengar hal itu. perkajaan itu harusnya di lakukan oleh pihak Militer, bukan warga sipil.

Namun apa daya. Walaupun kehancuran sudah di depan mata. Mereka, para penguasa tetap yakin dengan peninggalan nenek moyang mereka. Tetap yakin, dengan dinding ini akan melindungi mereka selamanya...

Sadarlah...

Tapi sayang mereka adalah orang-orang yang tak sadar.

Mereka ada 250 ribu. Mereka berangkat menuju medan perang hanya untuk mengantarkan nyawa. Tidak ada, walau sudah di elu-elukan pihak kerajaan. Tidak ada wajah semangat juang dari wajah mereka. Hanya ada raut putus asa dari wajah-wajah kosong itu.

Berjalan pelan seolah inggin memperlambat asa, para pejuang paksa ini berjalan kaki dari gerbang Wall Sina. Menuju daerah Titan Wall Maria.

Setengah populasi sudah pergi mengantar nyawa, keadaan tetap diam... sekan tidak terjadi apa-apa mereka menutup mata dan telinga. Berfikir bahwa semua baik-baik saja...

Tapi tidak... ini tidak baik. Walau dengan pengorbanan mereka dalam dalih perjuangan. Meski dengan semua itu kelangkaan dapat di atasi. Tapi untuk apa semua ini..?

Bagaikan tenggelam dalam pusaran air, dan kekal di dalam laut sana. Dia merasa sekali lagi dia tidak berguna... ini sudah berlansung dan terus berlansung di depan matanya. Iris biru yang selalu memancarkan cahaya dan harapan, perlahan meredup sebagaimana dia kehilangan pengangan.

Entah apa? Namun, dia merasa dia tidak punya arti disini... karna semua ini tidak adil. Dihadapkan pada sesuatu yang sejak awal tak bisa kau kalahkan adalah sebuah mimpi buruk.

Entah bagaimana... bagaimana semua bisa bertahan... bagaimana orang-orang dari masa lalu membangun tembok yang menakjubkan ini? Entahlah... bahkan sejak kejadian tujuh puluh tahun yang lalupun dia tidak paham.

Entah sejak kapan... namun secara perlahan dia mulai meninggalkan kepercayaan lamanya..

Seperti malam ini... malam gelap tanpa bintang. Hanya gelap. Bersandar di dinding rumah, ekor matanya menangkap Armin yang menangisi topi peninggalan kakeknya.

Berita kekalahan sudah sampai di telinga mereka. Naruto tidak terlalu terkejut dengan hasil yang di raih, karna sudah dia duga mereka semua hanya mengantar nyawa. Termasuk juga kakek Armin yang sedang sial terikat dengan pasukan itu.

"Para raksasa sangat kuat" Eren menundukkan kepalanya menatap tanah, entah mengapa tapi dia inggin bergitu.

Naruto hanya diam, sejak runtuhnya Wall Maria dia memang banyak bahkan terlalu pendiam. Pikiran yang berkecamuk dan rasa bersalah yang dalam karna gagal dalam tugasnya membuanya frustasi... bukan kegagalan. Tapi, keputus asaanlah yang membautnya frustasi.

Dan dia tidak meyalahkan Eren. Dia tau raksasa itu sangat kuat, bahkan Naruto sering melamun atara... apa yang akan terjadi jika para tubuh raksasa telanjang ini di oper kedunia shinobi?

"Aku akan medaftar pada Pelatihan Militer Tahun Depan"

Pupil mata Naruto melebar mendengar pengakuan itu. dia tau Eren adalah seorang bocah gila, tapi dia tidak menyangka akan segila ini. Pelatihan Militer bukanlah sesuatu yang bisa di anggap main-main. Namun, dia lebih terkejut mendengar Armin yang juga akan mendaftar. Mikasa... gadis itu menatap Naruto untuk sesaat dan kemudian memutuskan untuk Ikut.

Naruto hanya bisa menghela nafas berat melihat ketiga bocah tersebut. tidak di dunianya, tidak di dunia ini. Cahaya dan harapan akan selalu ada...

"Aku juga ikut"

Dia sudah mengambil keputusan... bahwa dia juga akan ikut. Karna mereka bertiga adalah cahaya di dalam dunia ini. Dan dia hanyalah bayangan... cahaya dan bayangan...

Tersenyum... dia akan menjadi bayangan kembali. Menjadi banyangan dari cahaya barunya... ketga anak manusia itu.

Bukankah semakin terang sebuah cahaya, makan semakin pekat bayangan yang membelakanginya.

Namun dia menatap sesuatu yang ganjil saat itu juga...

Mikasa tersenyum padanya.


Yosh akhirnya selesai juga... tak menyangka akan sesulit ini mengxover Naruto dan Attack on Titan. Bagaimana dengan chap ini apa tetap menarik?

Dan maaf untuk wordnya yang sedikit ... dan kesalahan dalam penulisan.

Dan seperti biasa jika masih penasaran dengan kelanjutannya. Reviewlah sebanyak-banyaknya.

Drak Yagami out~