Diclaimer: Kalian pasti sudah tau siapa pemilik kedua Anime ini bukan?
Author Note: Hmm... tidak ada yang mau disampaikan sebenarnya, selamat menikmati chapter kali ini.
Panas. Adalah satu kata yang terlintas di benak Naruto ketika dirinya dipaksa untuk berbaris tegap di bawah Matahari yang sedang terik-teriknya. Dan jauh di depannya, bisa dia lihat seorang pria botak dengan pakaian militer. Mendatangi satu per satu calon prajurit dan menanyai namanya dan kemudian membentak mereka. Ah.. biasa, mereka para pebimbing memang terlebih dahulu akan menguji setiap mental calon prajurit sebelum terjun kemedan perang.
Bahkan menurutnya, bentakkan si botak di depannya ini masih kalah dengan bentakan pengawas ujian Chuuninnya ketika dia masih hidup di Dunia Shinobi dulu. Baki sensei... ya kalau tidak salah itu namanya. Hm... atau kalau dia salah... ah dia tidak ingat lagi.
Namun cacian sibotak pada setiap calon prajurit makin dan mulai keterlaluan di telinga Naruto. Apa yang coba dia buktikan? Apa itu kesenangan tersendiri ketika mempermalukan mereka semua di depan yang lain? Atau apa? Namun ketika pikirannya yang lain saat itu juga membenarkan akting sangar sibotak pada calon murid. Menatap kosong kedepan, menurut presepsinya yang lain dengan membuat calon prajurit mengingat kenangan buruk mereka, maka secara perlahan sistim akan memupuk dan melatih setiap mental lemah mereka. Dan pada akhirnya bisa dilihat, para prajurit bukan hanya memiliki fisik yang kuat, tetapi mental yang juga kuat.
Setidaknya Naruto lebih memilih opini keduanya.
Pada pandangan selanjutnya, Naruto bisa melihat seorang pemuda bersurai coklat tersujud dengan memengang keningnya yang sakit. Menghela nafas, Naruto mengenalnya... oh tidak baru saja mengetahui namanya ketika sibotak menanyainya tadi. Jean Kirstein atau lidahnya lebih bisa menyebukan Jan Kirushutain [bagi orang Jepang], bergabung dengan pelatihan Militer dan kemudian bergabung dengan Military Police agar dapat berada di pusat kota.
Malirik wajah-wajah yang mendengar alasannya tersebut, Naruto mendapati terdapat banyak raut wajah yang menunjukan seakan membenci dan memandang rendah seorang Jean seakan dia tak punya kejantanan. Dirinya bisa memaklumi keadaan, dimana para remaja tanggung di sekitarnya masih memiliki hormon dan adrenali yang belum bisa dikendalikan, dan memandang alasan Jean sebagai alasan seorang pengecut.
Namun setelah beberapa tahun hidup di Dunia ini dan sekaligus telah belajar dan menyaksikan realita yang ada. Naruto menarik kesimpulan bahwa Jean bukanlah seorang pengecut, sekilas dia memang seperti seorang pengecut dengan alasannya. Namun dari sudut pandang yang lain alasannya adalah alasan yang paling masuk akal bagi dirinya. Dengan berada di pusat kota, Jeal bisa memperpanjang usianya dan mungkin bisa melakukan banyak hal sebelum para Titan merobohkan tembok terakhir... apa lagi wall Sina kabarnya memiliki ketebalan yang paling tebal.
Ah... dia tidak tau, dia terlalu pesimis dengan semuanya... bahkan hanya dengan melihat sebagian besar raut wajah calon military ini. Naruto sudah menangkap banyak yang beralasan seperti Jean, namun tidak mengungkapkannya secara terang-terangan... setidaknya Jean jujur pada dirinya sendiri. Dan tidak munafik dengan menjadi sok-sok berani.
"Selanjutnya, Siapa namamu?"
"Oi nak siapa namamu?"
Seketika Naruto kembali ditarik paksa dari Duninya dan kembali ke Dunia nyata dimana, di hadapannya telah berdiri seorang berbadan tegap dan semakin keatas...
Ah~ dia sibotak ternyata.
"Namikaze Naruto."
Bisa dia lihat sibotak sedikit tertegun, tertegun? Tertegun kenapa? Entahlah dia tidak peduli, namun sepertinya Pembimbingnya itu kembali sadar dan mendekatkan wajahnya.
"Tidak bukan seperti itu!" telinga Naruto sedikit berdengung saat dia berteriak. "Kau lahir di kandang ternak bahkan lebih buruk dari ternaknya!"
Naruto kembali terdiam ketika mendengar kalimat itu, perkataan itu... tidak yang itu... kata yang pernah diucapkan Eren waktu itu. kata yang membuatnya memandang setiap Manusia yang hidup saat ini seperti itu. kembali, secara paksa ingatannya mengulang setiap memori yang ada, dipaksa untuk mengingat kapan dan bagaimana atau dalam kondisi apa Eren berkata demikian. Dipaksa mengulang sebanyak apa Eren berucap kalimat itu... kalimat. Hewan ternak.
"Benar... kau benar!"
-!
Dengan cepat pandangan Naruto lurus menatap kedua mata Pebimbingnya, tatapannya kosong menatap kedepan. Bisa dia rasakan Pebimbingnya mengambil langkah mundur selangkah. Dia tidak peduli, dia hanya inggin menyampaikan apa yang ada di pikirannya saat ini. "Kau benar, aku seorang tenak! Tidak bukan hanya aku, bahkan kau... dan seluruh yang ada disini merupakan tenak, bukan? Aku benar bukan?"
Diam semua diam keheningan terjadi setelah sebuah kalimat meluncur begitu mulusnya dari seorang remaja, bersurai kuning. Semua diam tak bergeming atau sekedar bersuara. Bahkan Eren yang notabenya adalah sahabat sipirang melebarkan matanya pertanda shok dengan apa yang diucapkan Naruto, dia tau Naruto sedikit bertingkah aneh sejak beberapa tahun terkhir, sejak para Titan menjebol dinding Naruto sering terlihat seperti orang yang mengalami depresi berat... namun jika dia berkata seperti itu... ah sial.
Bahkah dia merasa Naruto belum berhenti sampai disitu.
"Bukankah tembok yang menjulang tinggi itu adalah kandang bagi kita? Bukankah para Titan adalah predator alami kita? Berarti kita ternak bukan?" Naruto kembali diam, pandangannya beralih pada yang lain. Mengakhiri kontak matanya dengan sang pebimbing yang masih mematung. "Aku benar buk— tidak Anda benar... kita semua Hewan Ternak."
Semua hanya bisa terdiam, dan kembali terdiam... hingga waktu yang tidak ditentukan mereka masih terdiam di dalam pikiran masing-masing. Mencoba setidaknya berfikir tentang ucapan yang diucapkan oleh seorang remaja di hadapan mereka. Dalam batin mereka, mereka meyakini bahwa mereka bukanlah hewan ternak. Mereka adalah seorang Manusia. Namun entah mengapa remaja ini mengatai mereka semua adalah hewan ternak... dia tidak bisa menyimpulkan. Inggin rasanya untuk menampar wajah dengan ekspresi blank tersebut, namun sebuah fakta dari perkataan selanjutnya menghentikan aksinya.
Masih berdiri di sana, matanya kembali mencoba untuk menatap iris biru kusam tersebut. mencoba mencari cela untuk membentaknya. Namun nihil mata itu, mata yang menunjukan bahwa sang pemilik telah menjalani pengalaman hidup yang panjang, mata yang menegaskan bahwa dia telah mengalami berbagai jalan cerita hidup, mata yang menunjukan bahwa dia tidak hanya pernah mencoba manis pahitnya sebuah kehidupan, lebih dari itu... mata yang mengukuhkan bahwa sang pemilik telah mencoba sesuatu yang sangat jarang bagi Manusia untuk sampai kesana... sebuah episode tergelap dalam sebuah kehidupan.
Keputusasaan.
0o0o0
"Aku bilang kan, aku sudah melihatnya."
Malam hari ini tidaklah terlalu istimewa, makan bersama dengan menu makanan yang sama pula. Namun yang membuat malam ini istimewa adalah Eren yang menceritakan pengalamannya yang telah bertemu para Titan.
"Benarkah?"
"Seberapa besar dia terlihat?"
Beberapa pertanyaan keluar dari mulut orang-orang yang mengelilingi mereka. Raut ketidak percayaan keluar dan terlihat jelas di sana, semakin jelas ketika Eren menceritakan tentang seekor Titan yang tingginya mencapai tidak bahkan melewati tembok buatan Manusia itu. mengenang kembali, itulah saat terakhir Naruto untuk kedua kalinya kembali kehilangan sebuah keluarga.
"Seperti apa dia sebenarnya?" seorang gadis di sampingnya bertanya dengan raut wajah penasan sakaligus ngeri di sana.
"Dia tidak memiliki kulit, seperti Manusia yang dikuliti. Dan dia memiliki mulut yang besar." Naruto menjawab pertanyaan gadis itu seraya menikmati makanan masal mereka, yang bahkan tidak layak untuk disebut makanan.
"Dan bagaimana dengan Titan yang ku dengar menembus tembok dengan berlari?"
"Seperti Titan biasa, namun memiliki sesuatu seperti lempengan emas di tubuhnya" kali ini Eren membuka suara, menjawab pertanyaan tadi.
"Lalu dengan Titan yang biasa bagaimana?"
Naruto tersentak dengan pertanyaan itu, dengan cepat pandangannya beralih pada sang penanya dan kemudian dengan sangat cepat beralih kepada Eren. Bisa dia lihat remaja itu terdiam, dan kemudian menjatuhkan sendoknya, sepertinya Eren mengingat kenangan itu, kenangan di mana ibu kandungnya dibunuh dan dimakan tepat di depan matanya.
Dan hal itu membuatnya tidak suka.
"Apa yang kau lakukan!?"
Untuk sesaat sterjadi sebuah keributan yang dimulai dengan Naruto yang entah bagaimana telah berada di hadapan seorang pemuda yang melontarkan pertanyaan tadi. Pemuda yang tidak diketahui namanya itu bergetar takut, sangat takut ketika melihat sepasang iris mata yang tidak menunjukan emosi itu mengintimidasinya. Ditambah dengan sebuah pisau yang entah dari mana datangnya dan telah bersarang tepat di depan lehernya. Sedikit menggores dan mengalirkan sedikit darah.
"Hentikan Naruto!" semua menoleh kearah sumber suara, semua termasuk Naruto yang akan melakukan kegiatan eksekusi lansung terhadap orang di depannya ini. "Titan bukanlah masalah bagiku. Setelah kita belajar menggunakan Three Dimensional Manuver Gear, mereka akan mudah dikalahkan. Kita akhirnya memiliki kesempatan untuk menjadi anggota tentara. Aku bergabung dengan militer untuk membasmi semua Titan, membunuh mer—"
"Oi oi... apa kau sudah gila?" semua kembali menoleh kearah sumber suara, dan menemukan seorang Jean memotong ucapan Eren. "Bergabung dengan kemiliteran hanya untuk membasmi para Titan?"
"Kau yang inggin bergabung dengan Military Police, dan hidup enak di pusat kota?"
"Setidaknya aku jujur..." Jean pemuda itu berucap dengan nada sinis di sana. Gertur tubuhnya santai dengan menatap lawan bicaranya dengan tatapan ketidak sukaan. "... bukan sepertimu yang hanya berakting sok kuat, dengan berkata 'aku akan membasmi para Titan' aku tanya apa kau sanggup? Tidakkah otak dangkalmu itu berfikir bahwa kita tidak tau berapa jumlah pasti Titan di Dunia ini? Berakting kuat padahal dalam dirinya ketakut—"
Tepat sebelum ucapannya selesai, sebuah tendangan keras telak menghantam perutnya dan memaksanya terangkat terbang tingga terhenti memantul tembok. Mencoba untuk bagkit dan berdiri seraya menyeka air liur yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya dipaksa untuk terhuyung kebelakang ketika sebuah hantaman kembali telak menghantam pipinnya dengan keras. Jean belum sempat beraksi banyak ketika sebuah pisau telah bersarang di depan lehernya, sedikit menggores kulit lehernya hingga menghasilkan luka di sana. Menatap kedepan, bisa dia pastikan sipirang yang duduk di samping Eren ini menatapnya kosong namun penuh intimidasi. Dia kenal sipirang ini, orang bodoh yang mengatakan bahwa semua Manusia hewan ternak siang tadi... ya dia tau dengan jelas, siapa sipirang ini.
Namun satu hal yang membuat mentalnya jauh seketika, selain tatapan itu... kecepatan dan kemampuan sipirang di depannya ini tidak main, dia yakin bahwa orang di depannya sudah terlatih sejak kecil.
"A-apa-apaan ini?" dengan bergetar Jean mencoba untuk membuka suaranya. Entah dan tanpa dia kehendaki tubuhnya bergetar hebat saat itu juga.
Semua hening, bakan tidak ada orang yang mencoba untuk membuka suara. Ketika melihat bagaimana kecepatan remaja itu berpindah dari satu posisi ke posisi yang lain. Sungguh itu perpindahan yang sangat cepat. Dan melihat semua aksi pemuda itu malam ini membuat seluruh yang ada di sana membuat sebuah cacatan khusus dalam benak mereka.
Tidak akan pernah berurusan dengan orang yang bernama Naruto.
"Kau..." suara Naruto mengantung, berfikir sejenak mencoba untuk mencari kata—kata yang pas untuk orang di hadapannya ini. "Orang yang tidak mempunyai kelamin sepertimu tidak pantas bicara seperti itu."
Sungguh itu kata kotor yang pernah keluar dari mulut seseorang, Jean mengertakkan giginya namun percuma melawan. Saat ini pemuda sinting itu bisa saja membunuhnya dengan pisau yang ada di sana.
"Silakan kau mencari amam di dalam dinding, aku tidak pernah peduli. Namun ku tekankan sekali lagi. Jangan pernah menghina Eren dan ambisinya, berfikirlah dengan otak dangkalmu itu. jika wall Rose dihancurkan dalam satu kali tendangan, menurutmu berapa waktu yang diperlukan mereka untuk menendang semua dinding yang ada... jika semua orang mempunyai mental banci sepertimu... ku yakin umat Manusia sudah pada tamat."
"Harusnya kau bersyukur jika ada sekelompok orang gila yang mencoba untuk membasmi para Titan. Sehingga kau tidak perlu khawatir dan bisa melanjutkan hidupmu aman di dalam kandang yang lebih jauh... bahkan jika perlu segera kawin sebelum dinding terakhir jebol."
"Oi Naruto.." Eren mencoba berdiri dan berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu. dia tau Naruto tidak pernah main-main dengan ucapannya, bahkan ketika mereka masih hidup mengelandang di jalanan. Naruto sudah pernah membunuh hanya untuk mendapatkan sesuap makanan bagi mereka. Jadi kesimpulannya dia harus segera menenangkan Naruto sebelum pertumpahan darah terjadi di sini. "Hentikanlah... kau bisa membuat masalah di sini, kau sudah melukai dua orang dengan pisaumu." Inggat Eren seraya menatap orang pertama tadi dan kemuian Jean.
Pisau itu menjauh dari leher Jean, sedikit perasaan lega terlihat jelas di sana. Namun aura intimidasi itu masih terasa jelas baginya. Melirik sedikit, dia bisa melihat pemuda pirang itu berjalan keluar ruangan. Dan bisa dia lihat semua orang yang mengerumuninya karna kejadian tadi memberi jalan padanya. Dan sekarang tepat di hadapannya, Eren berdiri dengan tatapan merehkan yang dia tidak suka.
"Seharusnya orang sepertimu tidak pernah ada di sini."
"Cih." Jean mendecih tidak suka, dan melihat Eren yang juga ikut keluar menyusul sahabat psikopatnya itu. menyentuh lehernya, dia bisa merasakan lukanya masih mengalir dan itu sakit.
. . . . . .
"Ne... Mikasa, kenapa kau tak mehentikan aksi Naruto tadi?" Armin membuka pertanyaan ketika mengetahui Mikasa hanya diam ketika melihat bagaimana Naruto mengamuk untuk dua kali diwaktu yang sama.
"Tidak perlu." Dengan tenang gadis itu kembali menyendok makanannya dan memandang pintu tempat dua pemuda tadi menghilang. "Meski seperti kehilangan kendali, aku tau Naruto masih bisa mengendalikan dirinya... dan jika benar-benar tidak bisa... mungkin dari tadi sudah ada dua mayat di rungan ini"
0o0o0
Pagi hari seperti biasa, semua calon prajurit dikumpulkan untuk memulai latihan fisik yang menyiksa. Meski banyak dari mereka lansung tepar dipertengahan jalan, namun tidak sedikti dari mereka yang berhasil menyelesaikan hingga akhir.
"Ara...?" namun sepertinya ini bukan lagi latihan fisik. Ketika akan mulai berbaris seperti biasa, Naruto dibuat terbongong akan sebuah benda yang belum pernah dilihatnya. Sebuah benda yang terdiri dari tiga tiang kayu yang ditancapkan dan disatukan ujungnya. Ada tali yang mengantung di sana.
"Hari ini kita akan mulai melakukan latihan Three Dimensional Manuver Gear!" suara pebimbing menginstruksikan hal tersebut. "Kami akan menguji kemampuan kalian! Yang gagal bahkan tidak layak menjadi umpan. Mereka yang gagal akan dikirim ke daerah pembangunan!"
Ah latihan, sepertinya sesuatu yang baru. Ada banyak Three Dimensional Manuver Gear yang ditancapkan di tempat ini, para murid bergiliran menunggu bagian masing-masing. Armin. Dia melakukan dengan baik sedikit gugup namun dia bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan baik. Mikasa. Ah, Naruto tidak tau harus bekomentar apa ketika melihat gadis itu, dia bahkan bisa dengan baik melakukannya bahkan dia terlihat seperti boneka tali. Dia luar biasa sepert biasanya... namun dirinya sering terheran, kenapa Mikasa selalu menatapnya... supah itu bikin dirinya sedikit... merasa aneh. Apa ada yang salah di wajahnya?
Naruto? Jangan ditanya dia sudah biasa melakukan ini. Bahkan sejak di Academy ini sudah menjadi permainannya sehari-hari. Meski cakra sudah hilang dari tubuhnya, namun insting, kecepatan, reflek, dan fisik seorang shinobi masih membekas dapa tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan Eren!"
Dengan segera Naruto segera mengalihkan pandangannya dan mendapati Eren yang sedang dalam kondisi terbalik dengan kepala di bawah. Naruto terus menatap dalam posisi itu, dan melihat bagaimana Eren berusaha untuk berdiri. Turun dari alat Three Dimensional Manuver Gear tersebut, bisa dia rasakan banyak calon prajurit yang menertawakan sahabatnya. Dia tidak suka dan berusaha bergerak maju.
Tap
Namun, sebuah tepukan menghentikannya. Dia melihat Mikasa yang sudah ada di belakanganya dan menahan pergerakannya, gadis itu menggeleng lemah menyuruhnya untuk berhenti.
"Biarkan dia mencoba sendiri"
Mendengar ucapan itu, Naruto menjadi tenang. Dia mencoba untuk diam dan melihat Eren bagaimana berusaha sekuat tenaga. Meski sering gagal hingga kepalanya terbentur permukaan tanah berbatuan yang keras, namun sepertinya dia tak usah terlalu khawatir... Eren masih berusaha untuk mencoba... meski sering gagal dalam percobaannya dan mendapat tawa menghina dan ejekan. Pemuda itu tetap mencoba.
. . . . .
Sore hari dan semua mulai beristirahat, Naruto berdiri dan bersandar di tebing dinding buatan seraya menyaksikan Eren yang masih sibuk berlatih menyeimbangkan tubuhnya di Three Dimensional Manuver Gear berkali-kali. Terdengar Mikasa memberikan insruksi singkat, Naruto tidak tau apa yang diberikan Mikasa. Namun Eren terlihat siap dan akan mencoba.
'Semoga berhas—' namun sayang sebelum niatnya sempat terucap, kepala Eren sudah membentur tanah terlebih dahulu. Naruto inggin mendekat, namun langkah kakinya kembali terhenti ketika Eren berusaha bangkit dan inggin mencoba. Armin kembali memutar tuas itu dan secara perlahan pemuda itu kembali terangkat. Tapi...
Bukkk!
Seperti biasa baru beberapa inci terangkat kepalanya sudah membentur tanah terlebih dahulu.
"Mungkin kau harus melupakan mimpimu Eren." Suara itu, tidak berasal dari Mikasa maupun Armin. Melirik jauh, dia melihat Naruto yang berdiri sambil menatapnya dengan pandangan biasa.
"Apa maksudmu Naruto!?"
"Mungkin kau harus melupakan mimpimu dan hidup dengan tenang di dalam dinding" Naruto menajamkan pandangannya, menyipitkan matanya seakan menatap Eren bagaiman sampah. "Jika dengan kondisimu yang seperti ini kau hanyalah sebuah beban."
"K-kau.."
"Jika mimpimu inggin membunuh semua Titan, aku akan membuat mimpimu itu terwujud" Naruto masih dalam gestur yang sama. "Apa yang inggin kau buktikan jika begini saja kau tak bisa?" Naruto mengalihkan pandangannya kepada Armin. "Armin, bawa Eren kembali ke camp dan obati lukanya!"
"Baik." Dengan itu Armin, membopong Eren dengan perlahan. Meski mendapat perlawanan atas ketidak sukaannya, namun saat ini tubuhnya terlalu lemah untuk diajak kompromi. Dan dengan terpaksa dia membiarkan Armin untuk membopongnya.
Armin melangkah melewati Naruto dengan menampilkan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Disatu sisi dia inggin mendukung impian Eren untuk membasmi semua para Titan, inggin menolong pemuda itu dalam melakukan latihan Three Dimensional Manuver Gear yang entah kenapa tidak bisa dikuasanya. Namun disisi lain, dia juga membenarkan ucapan Naruto. Jika melakukan hal ini saja dia tidak bisa, maka Eren lebih baik berhenti untuk bermimpi... karna dia hanya akan menjadi beban.
"Apa kau serius dengan ucapanmu?"
Seketika Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap Mikasa yang berdiri disebelahnya dengan sebelah alisnya naik. Roda-roda otaknya berputar, dan sebuah pertanyaan terhasilkan. "Maksudmu?"
"Menyuruh Eren untuk membuang mimpinya?"
Mendengar pertanyaan dari Mikasa, Naruto paham kemana arah pembicaraan ini. Dirinya tersenyum dan menatap Matahari senja yang mulai pudar. "Tidak, aku tidak akan meyuruhnya membuang mimpinya. Bahkan tidak pernah terbesit sedikitpun pemikiran seperti itu."
"Tapi ucapanmu tadi..."
"Aku hanya menekan mentalnya." Naruto menatap Mikasa dengan penuh makna, dia bisa melihat Mikasa menghindari kontak mata dengannya dan menutupi sebagian wajahnya dengan shal pemberiannya. Namun Naruto tidak peduli dan melanjutkan opininya. "Dengan begitu, aku berharap dia bisa segera menguasai benda sialan ini."
"Kau memberinya motifasi, agak bisa membuktika padamu bahwa dia pantas?"
"Ya... kurang lebih seperti itu." Naruto mengangkat bahunya sendiri. "Namun aku tetap berharap dia bisa menaklukan Three Dimensional Manuver Gear ini."
0o0o0
Esok pagi menjelang dengan latihan yang sama, kali ini tahap dua pelatihan Three Dimensional Manuver Gear dimulai. Pertama dimulai dengan para murid yang belum mendapatkan giliran, dan disudahi dengan murid yang belum bisa menguasai Three Dimensional Manuver Gear dengan benar. Termasuk Eren di sini.
Ah... ngomong-ngomong soal Eren, menurut laporan Armin. Pemuda itu sudah bertanya kepada setiap siswa Pelatihan bagaimana cara menguasai Three Dimensional Manuver Gear dengan benar. Meski hampir semua murid yang didatanginya mengejek dirinya, namun tidak sedikit pula yang merasa simpati dan membantunya.
Dan kali ini Naruto melihat sekali lagi nama Eren dipanggil untuk maju kedepan. Entah mengapa dia merasa gugup sendiri disini.
"Eren apa kau siap?"
Bisa Naruto lihat Eren hanya mengangguk pertanda dia siap untuk ini, tuas telah dinaikan dan dia mulai secara perlahan terangkat keatas. Dan dia bisa, Eren berhasil melakukannya. Hampir semua bersorak kegirangan entah kenapa. Namun tidak terlalu peduli, Naruto juga ikut sedikit tersenyum pada moment ini.
Tapi, lebih dari insting siapapun dia menyadari sesuatu yang aneh. Eren tidak seimbang, dan sebentar lagi...
Bukkkk!
Benar dia kembali terjatuh.
"Tidak aku masih bisa." Eren memberi pembelaan sebisanya, mencoba kembali untuk membuktika bahwa dia masih pantas. Namun instruktur mendekatinya dan hanya melihatnya.
"Turunkan dia." Tidak ada yang berucap, semua sudah selesai... dan Eren gagal menjalani sesi latihan terakhir. Naruto memang bisa menyembunyikan kekecewaannya, tapi tidak degan Armin dan Mikasa yang jelas terlihat kecewa di sana. Namun pemuda pirang itu mencoba untuk mengambil satu sisi positif, ya setidaknya Eren tidak perlu membuang nyawa.
"Ganti sabuknya"
-!
Perkataan terakhir itu membingungkan semuanya. Termasuk Naruto, namun mantan shinobi itu hanya diam dan membiarkan semua terjadi. Bahkan ketika Eren menukar sabuknya, Naruto hanya membatin... apa yang salah?
Eren. Pemuda itu kembali diangkat, terjadi kembali ketengangan diantara para murid ketika melihat Eren, ini kesempatan terakhirnya dan setiap orang tau akan tekad kuatnya. Dan hal itulah yang pada akhrnya menimbulkan simpati pada pemuda bersurai coklat itu. dan setelah beberapa waktu berlalu, tidak ada yang berubah... dia tidak berubah posisi, bahkan terjatuh... Naruto tersenyum Eren dia..
"Tak kusangka peralatanmu sudah berkarat." Instruktur tersebut, mengosok jarinya pada sabuk karatan itu. "Sepertinya ini harus masuk kedalam agenda selanjutnya."
"Selamat Kau berhasil."
"YEAHHHH"
Eren berteriak kencang, sepertinya merayakan kemenangannya. Dia menyeringai senang... dan berteriak sekali lagi. Sedangkan bagi Naruto dia cukup senang dengan semua itu, dia lebih memilih menutup matanya dan membiarkan Eren berteriak sesuka hatinya.
"Dia menantangmu dengan matanya." Naruto membuka matanya dan mendapat Mikasa yang sekali lagi berdiri di sampingnya. Dan menatap Eren sekali lagi... ah dia bisa tau tatapan itu.
"Itu bagus." Mikasa terdiam dan membiarkan Naruto menyelesaikan kalimatnya. "Dengan begitu, dia punya alasan untuk melampauiku."
"Kau secara perlahan membuat dirimu menjadi rivalnya?"
"Bukankah itu bagus, dengan begitu dia akan punya patokan. Dia akan terus giat berlatih hingga bisa mencapaiku..." Naruto berucap dengan intonasi datar dan memandang kosong kedepan. "Dan pada akhrinya dia akan mencoba untuk melompati batu sandungan itu yaitu..."
"...Aku"
Banyak yang bertanya apakah Naruto bisa menggunakan jurus Ninja... dan jawabannya adalah Tidak. Naruto tidak bisa menggunakan jurus ninja karena dia sudah tidak memiliki cakra lagi. Akan tetapi dia masih memiliki fisik seorang shinobi.
Soal pairing... ah saya kurang ahli dalam hal ini, saya belum menguasai Snk terlalu dalam namun sudah lancang dengan berani membuat Xover seperti ini.
Dan gaya tulisan yang membosankan dengan banyak makna kiasan? Jika kalian tidak tertarik saya mohon maaf, saya akan mencoba untuk mengubah gaya saya... dan di chap ini saya yakin saya sudah megubahnya.
Dan satu lagi... bukan saya sombong atau apa, namun saya minta maaf karna tidak bisa membalas rivew kalian dengan PM. Saya tidak sombong namun hanya keadaan yang menghalangi saya, selain itu kebanyakan pertanyaan readers adalah pertanyan yang mengandung spoiler yang tak mungkin saya jawab. Selain itu saya juga sudah menceritakan kondisi tubuh saya yang saya yakin reades akan mengerti.
Author note kedua saya adalah menjawab pertanyaan umum yang sering keluar, dan kebetulan peminat fic ini tidak banyak sehingga tidak menyulitkan saya membalas jawaban karna rata-rata periview mempunya pertanyaan yang hampir sama.
Namun bagaimanapun saya akan berusaha untuk menjawab, karna saya menghargai setiap pertanyaan readers.
Danke.
Drak Yagami.
