Another Life Story


Disclaimer : Snk dan Naruto bukan milik saya


Chapter 4 : Mencoba.


Berdiri dalam barisan seperti yang lain. Menatap kedepan deretan sepuluh lulusan terbaik tahun ini. Hari pelatihan yang telah berakhir, dalam malam dan bintang yang bertaburan di langit yang mencoba berdoa untuk Tuhan. Bangunan yang sama, yang diam melihat tahun-tahun yang lewat atas setiap kelulusan prajurit muda.

Kau akan melamar kemana?

Itu adalah pertanyaan logis untuk setiap lulusan... Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Banyak impian dan ambisi... Kebanyakan dari mereka akan mencoba bergabung dalam lindungan kerajaan sebagai anjing yang setia. Atau setiap yang gagal akan memilih untuk merawat dinding yang semakin rapuh dari waktu ke waktu.

Setidaknya kebanyakan memilih divisi militer mana yang akan membuat mereka tetap bisa hidup lebih lama. Naruto tidak menyalahkan... Dia bahkan tidak peduli, setiap orang itu berbeda.

Recon crops adalah kata lain untuk bunuh diri, sebagian dari mereka memikirkan itu dalam benak. Naruto tidak menyalahkan... Dia tidak peduli apa pemikiran orang banyak. Setidaknya dia hanya ingin Eren dan yang lain aman dalam perlindungannya... Mencoba memilah dan melihat kelompok pasukan mana yang bisa membuatnya bergerak bebas. Dan juga kolompok mana yang akan dipilih Eren.

Untuk sebuah janji akan menjaga mereka. Janji yang dia buat secara egois.

Masih ingat sebelum ke lulusan, seseorang mendatanginya. Rambut pirang yang disisir rapi, jubah hijau berlambang dua buah sayap. Tatapan yang teramat tajam bagaikan elang, dia adalah pimpinan atas kelompok yang menjadi mimipi Eren.

Erwin Smith.

Dan malam itu gelap, sangat gelap... Bahkan sebuah lilin yang ada di antara mereka tidak bisa untuk menembusnya. Dua tatapan yang berbeda, saling menilai satu sama lain.

"Jadi..." Erwin mencoba membuka pembicaraan, menopang dagu dengan kedua tangannya. "Naruto... Tidak ada nama keluarga?"

Mata yang sejenak beralih pada dokumen di depan sebelum menatap pemuda di depan kembali. Menunggu...

"Hanya Naruto, tidak ada yang lain." Tatapan itu, Naruto tau bahwa pria itu sedang menilai dirinya. Tapi tidak semuda itu... Dia tidak akan menunjukkan celah untuk itu. Tidak walau hanya untuk sedikit saja.

Dan mendengar jawaban itu datang dari mulut pemuda itu, mencoba mencari celah. Namun menyadari bahwa pemuda minim ekspresi di depannya tidak menunjukkan akan itu. Alis yang naik, saat menyadari bagaimana adanya nada aneh dalam suara itu. Sesuatu yang disembunyikan... Ada di dalam mulutnya. Apa itu...

"Naruto..." Mencoba memberi intimidasi, menguji. "Apa yang ada di dalam mulutmu."

Dan hanya diam. Naruto menutup rapat mulutnya saat menyadari bagaimana pria di depannya tau akan hal yang ada di mulut. Memilih diam, menjawab dengan kebisuan... Berharap, agar pria itu tidak menanyakannya lagi.

Namun dia salah.

"Buka mulutmu!" Sebuah perintah, nada mutlak yang keluar memaksa siapapun untuk mematuhi. Namun pemuda itu tetap memilih mengabaikan, memberikan tatapan lurus. Tidak pernah terpengaruh.

"Dia berkata untuk membuka mulutmu brengsek!" Berjalan dari sudut ruangan, seseorang kembali datang. Mata yang lebih tajam.

"Kenapa anda ingin tau?" Naruto membuka suara, menaikkan sebelah alisnya.. "Ini tidak ada hubungannya dengan Anda, apa yang aku sembunyikan juga tidak akan membahayakan Anda."

Suara itu jawaban tanpa rasa takut.

"Hanya penasaran..." Erwin memilih mengangkat kedua tangannya menyerah. Raut wajah itu.. "Diantara lulusan yang lain hanya kamu yang membuatku tertarik, aku sangat ingin memasukanmu dalam squadku Naruto."

Stap!

Itu bukan jawaban, mata kedua orang itu melebar sejenak sebelum kembali normal. Itu sebuah pisau kecil, tertancap cukup dalam di atas permukaan meja. Menatap kedepan Erwin tau pisau itu berasal dari pemuda di depannya. Dari dalam mulutnya. Mengejutkannya.

"Hanya itu yang bisa aku perlihatkan. Jangan mengungkit terlalu dalam, kebanyakan orang tidak akan suka." Itu benar, lima tahun terlewat dalam pelatihan ini dan dia telah belajar banyak bagaimana cara untuk bertahan. Belajar bagaimana cara menyembunyikan senjatanya tanpa banyak yang tau. Sudah terlalu lama, terlambat... Namun dia kembali mencoba untuk bangkit. Masa kosong yang fatal kembali coba untuk diisi, mencoba kembali melangkah seperti apa dia dahulu... Walau sudah berkarat, setidaknya dia mencoba kembali.

"Dan tidak perlu mengundangku," raut wajah yang berubah dari Naruto. Sebuah senyuman kecil terpasang di wajah. "Tanpa di undangpun aku akan bergabung dengan Organisasi militer yang Anda pimpin."

Berdiri dan memberi hormat pada pria di depannya. Berbalik arah sebelum langkah kaki yang mulai berayun pelan meninggalkan ruangan tersebut.

"Ada apa?" Itu suara Erwin yang tersengar. Saat sadar langkah kakinya terhenti di depan pintu keluar.

"Tidak ada..." Tidak, ada seseorang yang menguping... Namun untuk apa dia juga tidak tau. Naruto menggelengkan kepala kembali melanjutkan langkah kakinya untuk keluar.

Menutup mata sejenak saat kejadian malam itu kembali terlintas dalam pikiran. Remang cahaya api yang menyinari... Teriakkan si botak penuh dengan semangat. Naruto tak ingin mengingat ini, tapi instruktur botak itu menangis.

Sungguh dia tak ingin mengingat itu.

Upacara kelulusan bukanlah akhir dari perjuangan mereka. Mencoba menyadari bahwa ini adalah awal bagi mereka untuk perang yang sesungguhnya. Mencoba mencari arti, apa mereka ini bagi Dunia.

Xxxxxxxx

"Aku harus pergi."

"Apa yang terjadi?" Eren tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tau miliknya. Mata yang menatap menantang pada pemuda di depannya.

Naruto tersenyum, menyadari tatapan Eren yang tidak bersahabat. "Jangan menatap ku seperti itu. Masih terlalu cepat bagimu seperti itu."

"Kau dan kesombonganmu." Seperti yang dia duga Eren tidak akan mudah terima dengan apa yang dia ucapkan. "Perlu ku ingatkan aku adalah lulusan ke-5 terbaik tahun ini. Kau bahkan tidak masuk dalam itu Naruto."

Eren dan rasa percaya dirinya.

Naruto memasukkan jari kelingking kedalam telinganya. Memberikan tatapan menghina kepada Eren. "Oh... Benarkah? Itu adalah ucapan dari seseorang yang bahkan tidak bisa memakai Three Dimensional Manuver Gear di tahun pertama dengan benar."

"Kau... Itu sudah lama Naruto! Dan benda sialan itu rusak."

"Alasan.."

"Kau..."

"Kemana?" Suara itu membuat mereka terdiam, Mikasa membuka suara. Menatap Naruto dengan tatapan khawatir, tak ingin kehilangan tak ingin ada yang pergi lagi.

Membuat Naruto diam, tangan yang bergerak mengenggam tangan gadis itu... Meremasnya jemari itu pelan. "Recon [Survey] Crops, mereka mengundang ku."

"Bagaimana bisa?" Adalah jawaban tidak percaya dari Eren. Mengabaikan Armin yang coba menenangkannya.

"Mereka berkata aku cukup untuk bergabung lebih awal dengan mereka." Naruto melepaskan genggamannya dan mulai menatap tiga remaja di depannya. Sadar mereka akan segera terpisah setelah ini. "Mungkin saat kalian datang aku sudah berada dalam posisi kapten." Mencoba memberikan sedikit candaan walau itu tidak lucu.

"Aku harus segera pergi, pertemuan pertama rasanya tidak baik jika harus terlambat bukan

Aku akan menunggu kalian di sana."

Naruto berbalik pergi, meninggalkan tiga remaja itu. Langkahnya tetap dan mulai menjauh dan memudar bersatu dengan malam. Memang, sebelum pagi datang dia harus ada di sana. Erwin sudah menunggunya lama.

"Ku kira aku sudah melampauinya dalam lima tahun ini." Eren tetap diam di tempat di mana dia berdri. Matanya kosong menatap di mana Naruto menghilang dalam malam... Meninggalkan tanah pelatihan ini.

"Tapi kenapa? Kenapa aku tetap merasa tidak bisa berdiri di tempat yang sama dengannya."

"Eren..." Mikasa mencoba menenangkan.

"Si pirang sialan itu... Memaksaku kembali untuk melampauinya..."

Mikasa diam dan membiarkan Eren bicara sesukanya... Bagaimanapun selain untuk menghabisi Titan. Eren juga mempunyai sebuah ambisi baru.

Melampaui Naruto.

Xxxxxxxxxxx

Suara gesekan tali... Dan suara gas yang juga berhembus bersamaan dengannya. Masih dalam malam yang sama, Naruto berhenti bergerak. Tidak berselang lama... Dua orang berjubah hijau telah menanti mereka.

"Lama.."

"Maaf, ada beberapa hal yang terjadi."

"Ini.. Segera pasang, kita akan segera pergi." Naruto mengangguk dan segera memasang. Mengikatkan sabuk pada pinggangnya... Memeriksa tekanan gas dan mengecek pisau pemotong dan cadangan yang tersedia.

"Selamat bergabung... Eh—" salah satu di antara mereka mencoba mencairkan suasana yang beku. Meski mencoba dia sepertinya lupa akan ketidak tahuan akan nama pemuda di depannya.

"Naruto.." Naruto menyebutkan namanya... Membuat wanita itu mengangguk kecil dengan sebuah senyuman di wajah.

Dia melompat kecil dan segera memeluk lengan pemuda di samping. "Perkenalkan aku Petra Ral dan di sebelahku Levi"

"Aku sudah mengenalnya." Naruto mencoba memberi senyum ramah. Namun menatap wajah Levi senyuman itu segera hilang, berganti dengan bibir yang membentuk garis lurus. "Jadi kemana?"

"Wall Maria..." Suara yang datar dari pemuda di depannya. "Kita akan mencoba menyusuri tanah itu dengan hati-hati... Tugas utama yang berubah! Kita ditugaskan untuk merebut Wall Maria kembali."

Naruto diam dan mengangguk kecil. "Aku mengerti."

Xxxxxxxxx

Jean meletakkan gelas minumannya dengan keras, menimbulkan suara keras yang tertutupi oleh kerasnya suara yang lain. Sejenak matanya menatap teman di sebelah dan menyeringai lebar.

"Jangan sok baik," Tepukan yang tidak bisa dikatakan pelan dia berikan... Tertawa sejenak saat melihat kawan di sebelahnya menumpahkan minuman itu. "Di wilayah terdalam kehidupan yang nyaman sudah menanti. Akhirnya aku bisa pergi ke sana dan meninggalkan tempat yang bau ini!"

"Tujuanku bukan untuk kenyamanan. Tujuanku adalah untuk melayani raja."

"Ah... Seakan aku peduli betul dengan itu."

"Hei tunjukkan kesopananmu!"

"Ah maafkan aku... Tapi masa depan yang cerah sudah menanti di sana." Jean mengangkat bahu dan kembali menikmati minumannya. "Masuk sepuluh terbaik, merupakan tiket bagiku untuk bisa ke sana. Terserah kalian semua mau jadi benteng Manusia atau mau bunuh diri keluar sana itu bukan urusanku."

Itu mungkin terdengar bagaikan seseorang yang berbicara dengan sombong dan yakin atas apa yang di ucapkan akan terjadi. Namun... Dia benar tidak ada yang salah dengan kesombongannya... Bagaimanapun dia—Jean merupakan enam dari sepuluh siswa lulusan terbaik.

Sepuluh besar merupakan tiket yang menjanjikan untuk masuk ke divisi polisi militer.

Bagaimanapun...

"Terasa nyaman..." Suara lain yang menggema... Semua yang diam saat mendengar suara itu. "Kota ini dulu juga pernah menjadi wilayah terdalam."

Eren bangkit dari kursinya dan memandang Jean dengan pandangan lurus, sangat tau jika Jean juga memberikan tatapan menantang padanya.

"Kau..."

"Aku yakin, kau isi otakmu akan tetap terasa nyaman tanpa perlu pidah ke dalam." Itu hinaan yang keras, siapapun tau itu. Membuat Jean bangkit dan melangkah ke hadapan Eren.

"Kau orang sinting! Aku mencoba menjadi Manusia yang realistis saat ini." Mencoba memberi pandangan yang mengintimidasi namun Eren tidak terpengaruh. "Setidaknya aku cukup pintar untuk dapat hidup lebih lama di sana."

"Dan kau hanya idiot yang mementingkan urusan kenyamanan dan keamanan tanpa tau apa realita yang terjadi di luar sana."

"Jawab aku... Pernahkah kita menang melawan para Titan itu? Pernahkah sekali saat kita menang? Salahkah aku jika mencoba melindungi diriku sendiri?" Kata itu terucap dengan nada yang keras. Jean berteriak di depan maniak seperti Eren.

Namun, pupilnya bergetar saat tatapan itu tidak pernah berubah. "Kau benar, kita memang tidak pernah menang... Tapi kita mendapatkan banyak informasi yang berharga dari mereka yang merangkak keluar dinding... Mungkin akan lama, tapi aku yakin Manusia akan segera bebas dari bayang Titan!"

"Kau dan ketidakwarasanmu itu!"

"Aku waras dan hanya kau yang tidak berfikir." Eren mendorong tubuh Jean dengan kasar. Mata yang menatap penuh kemarahan. "Mungkin Naruto benar, karna dalam pandangannya kau dan kelakuanmu hanya setingkat dengan hewan ternak."

Itu kasar, membuat Jean bangkit dengan cepat dan menuju Eren dengan raut muka yang memerah menahan marah. "Tarik kata-katamu brengsek!"

Eren mengangkat bahu dengan acuh.

"Aku mengerti..." Dan Eren masih berdiri di sana tanpa rasa takut.

.

.

.

""Brengsek""

Tangan bergerak, sebuah pukulan di wajah masing-masing. Saling menatap dalam amarah Jean mengambil langkah mundur sebelum kembali melompat maju meninju Eren.

"Ada apa Eren? Ada masalah dengan Manusia ini?"

Eren menyilangkan tangannya menahan pukulan itu, mata yang menatap Jean liar.

"Kau benar!" Kembali akan memukul namun Jean hanya menemukan udara kosong. Namun tidak perlu cukup lama untuk menyadari keberadaan Eren... Sebuah rasa sakit telah bersarang di punggungnya dan menerbangkannya menghantam tiang.

Memengang punggungnya yang sakit Jean menatap tajam Eren. Geraman kekuar darinya saat melihat wajah itu.

"Wuuuaaaa!" Pukulan kembali di layangkan, itu cepat. Tapi semua sia-sia saat Jean hanya kembali merasakan sakit saat sebuah tinju bersarang di perutnya.

Mencoba memukul Eren yang berposisi lebih rendah darinya. Tapi harus kembali marah saat pemuda itu sigap mengambil lompatan mundur.

"Oi oi Jean... Apa kau lupa bahwa Eren yang terbaik dalam pertarungan tangan kosong."

Tidak ada yang peduli dengan ucapan itu, Eren dan Jean kembali saling berlari menuju satu sama lain.

Namun...

"A-apa!" Itu memalukan saat bagaimana semua melihatnya. Tidak ini memang memalukan. "Mi-Mikasa turunkan aku!"

"Ya... Terbaik kedua setelah Mikasa.."

Eren di bawa bergi dengan paksa, sebanding dengan Jean yang di amankan ke sudut rungan.

"Ingat Eren jika bukan karna Mikasa sudah habis kau."

"Brengsek!"

xxxxxxxxx

Ini adalah malam sebelum kepergian.

Dalam ingatan dia sangat ingat mata biru itu menemuinya. Satu-satunya siswa di sini yang dengan lancangnya memanggilnya si botak. Mata dengan tatapan tenang yang sama, mata yang sama saat tatapan mereka bertemu lima tahun yang lalu.

Dan malam itu untuk terakhir kalinya mereka bertemu.

Naruto... Namikaze Naruto.

Atau sekarang hanya Naruto, tanpa nama keluarga.

Dan Keith Shadis, dalam pandangannya.

"Bagaimana apa kau sudah memilih?" Dia bicara pelan setelah pemuda itu keluar dari ruangan terakhir. Dengan tatapan yang biasa menatap dalam mata biru itu.

"Sudah," Naruto mengangguk, kedua tangannya saling mengosok satu sama lain. "Bagaimanapun Eren akan ada dalam Recon corps, aku juga akan ada di sana."

"Sangat di sayangkan, padahal Military Police sangat berharap padamu." Keith menutup mata sejenak dan tersenyum, "Menurut penilaian sesungguhnya kau adalah yang terbaik di angkatan 104 saat ini. Tidak memasukkan mu dalam peringkat adalah keputusan yang seharusnya aku ambil."

Naruto mengangguk, tidak ada kata protes yang keluar.

"Kemampuan, caramu memainkan setiap senjata yang terpengang oleh tanganmu... Terlalu tinggi untuk setiap yang ada di sini."

"Aku mengerti, aku juga tidak menuntut apa-apa."

Keith kembali tersenyum, guratan kasar yang terlihat di wajahnya sekilas memberikan kesan lain.

Namun sungguh dia orang baik, Naruto tau itu.

"Instruktur!"

"Senang mendengarnya, ini pertama kalinya bagimu." Keith menopang wajah dengan tangannya menatap pemuda itu. "Ada apa?"

"Anda mungkin tidak mengingatnya tapi, lima tahun yang lalu kita pernah bertemu."

Mata Keith melebar sebelum kembali normal, pemuda itu ingat.

"Tidak ada maksud untuk itu. Tapi saat aku melihat Anda merusak Three Dimensional Manuver Gear milik Eren. Aku sama sekali tidak mengerti."

"Kau melihatnya?" Keith tidak dapat menyembunyikan raut terkejutnya. Dan Naruto hanya mengangguk.

"Bukan hanya itu, banyak kelakuan aneh yang Anda lakukan selama ini. Saya sama sekali tidak mengerti, Anda menyelamatkannya, Anda menjatuhkannya... Lalu Anda menyelamatkannya lagi.

Mungkin itu yang membuat saya lemah... Saya tidak akan menanyakan alasan Anda melakukan itu. Saya belajar dan Saya sangat menghormati Anda walau bagaimanapun sikap Saya selama ini."

Naruto berdiri dan memberikan hormat atas Keith. Pria itu juga berdiri dan membalas hormat yang sama.

"Instruktur... Ini mungkin pertemuan kita yang terakhir. Dan tolong sampaikankan kepada Eren seandainya dia kembali datang kemari."

Tidak ada yang salah, tapi kenapa rasanya sangat aneh bagi Keith. Dan mulut itu terbuka... Bergerak mengeluarkan beberapa kata. Membuatnya terkejut, tidak sangat terkejut akan apa yang dia ucapkan... Mustahil... Tidak seperti dia menolak untuk mempercayainya.

"Instruktur. Aku..."

Xxxxxxxx

Trost.

Hari pertama bertugas setelah kelulusan. Dalam balutan seragan pelatihan, Eren berdiri tegap menatap cakrawala yang terbentang di depannya. Dari atas dinding Rose, matanya menatap seakan kembali ke masa lalu. Kembali menatap tanah yang telah hilang dari Manusia.

Kehilangan pertama setelah 100 tahun hidup dalam kedamaian semu. Tidak bisa berbuat apa-apa saat kandang yang melindungi Manusia di ambil alih para Titan. Kehilangan yang membuatnya bersumpah akan menuntut balas apa atas apa yang telah hilang darinya. Bukan... Bukan hanya dirinya tapi untuk semua orang yang merasakan beban yang sama dengannya.

Menutup mata dan mengingat malam sebelum dia dan Naruto berpisah. Naruto mengatakan bahwa mereka Recon corps mempunyai tujuan utama baru yang terpisah untuk merebut kembali Wall Maria. Eren mengakui itu akan sangat sulit, tapi jauh lebih dalam dia percaya itu akan terjadi.

Dia percaya.

Bagaimanapun.

Mengingat kembali bahwa dia tidak sendiri... Dia yang sekarang memiliki rekan yang akan membantunya. Membuatnya percaya akan keberhasilan yang akan tercapai dengan dukungan mereka semua.

Ya... Semua.

"Aku tidak percaya kau akan memasuki Recon corps?" Eren membalikkan badannya, mendapati seorang pemuda botak yang terlihat membersihkan meriam dengan teliti.

"Ya mau bagaimana lagi, pidato mu semalam membuatku terkesan," Pemuda itu menatap Eren sejenak sebelum tersenyum lemah dan kembali melanjutkan pekerjaannya. "Mau bagaimanapun, aku berfikir mungkin ucapanmu ada benarnya juga."

"Apa kau serius Connie? Ku kira kau akan masuk Military Police?"

"Lalu?" Connie bertanya tanpa melihat Eren.

"Kau peringkat delapan besar!"

Namun mengabaikan itu Connie tersenyum dan kembali mengosok meriam di depannya. "Itu hanya nilai, tidak akan menunjukkan dirimu yang sejati. Hanya saat bertindaklah dirimu akan terlihat seperti apa."

Pemuda itu berdiri dan menatap Eren. "Naruto..."

Meskipun Eren tidak tau kenapa nama itu disebutkan, dia memilih diam dan mendengar Connie melanjutkan ucapannya.

"Kita tau bagaiaman seorang Naruto memainkan setiap senjata yang dia punya bagaikan seorang pembunuh terlatih Naruto, memainkan senjata seakan itu adalah anggota tubuhnya sendiri. Bahkan Annie sampai mengatakan bahwa Naruto adalah yang terburuk sebagai lawannya baik bersenjata maupun tangan kosong. Tapi mengapa dengan segala yang dia miliki posisi puncak tak bisa di raih?" Connie kemudian mengangkat bahunya. Dan melihat Eren yang diam dia melanjutkan.

"Aku juga tidak tau, tapi saat mendengar kabar dia telah bergabung dengan Recon Corps bahkan sebelum ke lulusan, aku sadar mungkin dia sangat kuat... Terlalu kuat hingga penilaiannya adalah tersendiri dan terpisah dari kita."

Perkataan itu membuat Eren tersenyum masam. "Ya, mungkin ada benarnya... Lagi pula tujuan awalku juga akan bergabung dengan mereka semua. Recon Corps."

"Ya..." Connie tersenyum kecil, mendengar keributan di belakang... Dia melihat dan menemukan Tomas, Samuel, dan Sasha ribut di sana dan menbuatnya tertarik. "Aku ingin ke sana dulu." Tunjukknya dan kemudian melangkah pergi meninggalkan Eren sendiri.

"Ah... Ya, aku juga harus membersihkan ini juga."

Eren menatap distrik Trost dengan sebuah senyum di wajah. Setidaknya setelah kehilangan sepertiga wilayah, Manusia memutuskan kembali untuk merebut martabat yang telah diinjak oleh para Tita.

Meski tidak akan sebentar, dan meski dia mungkin tidak akan pernah dapat menikmatinya... Dia percaya suatu saat Manusia akan dapat kembali merebut apa yang hilang dari mereka.

Kebebasan.

-!

Dan Hawa panas yang tiba-tiba datang, sensasi lima tahun yang terlewat kini telah kembali.

"A-Apa!" Eren berbalik dan melindungi penglihatannya dengan lengan. Asap panas yang membutakannya sejenak. "Semua! Bertahan!"

Hanya sebentar memperlihatkan apa yang seharusnya tidak ingin dia lihatnya lagi. Raksasa yang melewati batas logika akan ukurannya, tubuh tanpa balutan kulit. Mimpi buruk itu. Sensasi lima tahun yang lalu telah kembali.

Mengabaikan semua temannya yang berteriak dan jatuh. Mengabaikan suara tembok yang roboh, dua pedang sudah berada di tangan. Tetap berdiri seakan tidak pernah jatuh. Dan mata yang menatap jauh, mengulang kilas masa lalu di mana dia kehilangan segalanya.

Mencoba untuk tidak terjadi lagi.

Masa lalu yang menyedihkan yang tidak akan pernah terulang. Mencoba untuk melindungi setiap mimpi yang lain walau bukan miliknya.

Mulut yang terbuka.. "Sudah lima tahun berlalu sejak saat itu." Suara yang terdengar penuh dendam.

Tangan merah tanpa balutan kulit itu bergerak lambat menuju Eren yang diam.

Namun Eren melompat lebih dulu, dua tali baja yang melesat dan menusuk permukaan otot tersebut. Dorongan gas dan melakukan manuver, indah berputar menuju punggung Titan. Bukan punggung, tapi bagian belakang Leher adalah incarannya.

"Dan ini adalah hari penghakimanmu!"


-bersambung-


Mohon maaf untuk semua review yang tidak bisa saya jawab, bukan bermaksud... tetapi kebanyakan pertanyaan hanya akan menghasilkan spoiler kedepan sehingga saya urungkan untuk menjawab.

sekali lagi maaf.

dan jika ada kesalahan silakan beri tau... saya ngetik pake hp lagi ^^

Drak Yagami.