Tetsuya's Twin Sister
"Hei Kise. Bukankah itu saudaranya Tetsu?" lengan Aomine terangkat menunjuk ke seorang gadis yang sedang menunggu di depan stasiun.
Pandangan Kise menyebar bermaksud mencari orang yang di tunjuk Aomine. "Iya Aominecchi! Untuk apa dia disini-ssu? Sendirian pula" Aomine menatap sohib pirangnya itu. Lalu menepuk bahunya.
"Bagaimana kalau kita kesana? Lagipula kemarin kita belum memperkenalkan diri" Senyum Kise merekah. Ia mengangguk semangat menyetujui hal tersebut. Keduanya pun berjalan mendekati Tetsuna.
"Konichiwa(halo/selamat siang) Kuroko-san" ucap Aomine sopan dan lembut. Ia tak mau memiliki kesan pertama yang buruk kepada gadis itu.
Tetsuna mengangkat kepalanya kemudian mengangguk lemah. "Konichiwa teman SMPnya Tetsuya? Etto-"
"Aomine. Aomine Daiki" Tatapan Tetsuna kini beralih ke pemuda pirang di sebelah Aomine.
"Ah, Kise desu. Kise Ryota" Kise mengulur tangannya. Bermaksud ingin menjabat tangan Tetsuna.
"Tetsuna?"
GLEK!
Kise membatu. Mendengar suara terhoror yang sangat di kenalnya.
"Akashi-kun. Kau terlambat" gadis bersurai baby blue itu langsung menghampiri si sumber suara. Mengabaikan tangan Kise yang masih terulur.
Akashi mengelus lembut kepala Tetsuna. Membuat pipi gadis itu merona merah padam.
Tatapan Akashi kini beralih ke kedua pemuda naas yang akan menjadi 'mangsa'-nya. "Apa yang kalian lakukan disini, Ryota, Daiki?" Keduanya menelan ludah. Membiarkan keringat dingin menghujani kening mereka.
"Tadi aku melihat Tetsu—Kuroko-san berdiri sendirian. Karena akhir-akhir ini tingkat kriminalitas di daerah stasiun meningkat, aku dan Kise sepakat untuk menghampirinya" Aomine mencengkram kerah kaos oblongnya. Sementara Kise sudah memasang wajah bak anjing kecil yang tersesat.
"Benarkah seperti itu, Tetsuna?" Akashi memandang gadis baby blue-nya itu. Tetsuna hanya membalas tatapan Akashi dengan tatapan heran.
"Entahlah. Tapi Aomine-kun dan Kise-kun bersikap sangat gentle. Kurasa orang yang membuat seorang gadis menunggu tak pantas berbicara seperti itu,"
Kening Akashi mengkerut. Alisnya terangkat sebelah. "Akashi-kun. Kau harus minta maaf ke mereka berdua. Entah mengapa setelah kau datang, raut wajah mereka berubah ketakutan. Kau pasti sudah berbuat yang tidak-tidak lagi kan?" jelas Tetsuna lembut.
Seketika itu juga Aomine dan Kise langsung jatuh cinta kepada kembaran Phantom Sixth man.
Kurobas belong to Fujimaki Tadotoshi-sensei
Genre : Family, Romance, Comedy, Friendship
Pairing : AkaxFem!Kuro
Rate : T
All Chara OOC! Alur Gaje! Komedi garing!
*maaf apabila ada kesamaan ide. fic ini murni pemikiran Ha-Chan*
Happy Reading Minna~
"Nii-san. Apakah mereka tidak akan sadar kalau kita membuntuti mereka?" Tetsuya membenarkan letak kacamata hitamnya. Sedangkan Chihiro sibuk dengan Koran yang di tengahnya terdapat lubang untuk mengintip situasi yang terjadi. Keduanya duduk di sebrang tempat Tetsuna menunggu.
"Tetsuyaku sayang. Kita tidak membuntuti. Tapi menghancurkan kencan mereka. Dengan begitu Tetsuna akan menolak pernyataan cinta Akashi" Chihiro tertawa jahat disambut seringai-an licik dari Tetsuya.
Tak lama datang dua pemuda mendekati Tetsuna. "Siapa mereka?" tanya Chihiro khawatir.
"Tenang saja. Mereka temanku di SMP. Kemarin Tetsuna sudah bertemu mereka kok," jawab Tetsuya datar. Chihiro menghembuskan napas lega.
"Sepertinya 'hal' ini akan menarik" Tetsuya menatap lekat ketiga orang itu. Senyum sinis sekaligus prihatin menghiasi bibir plum-nya. Chihiro yang mengerti maksud Tetsuya langsung melipat Koran—yang menjadi obyek penyamarannya.
"Singa sudah datang rupanya" ucap Chihiro.
. . . . .
Akashi berjalan disamping Tetsuna. Langkahnya ia perkecil agar mereka berdampingan. Ingin sekali rasanya ia menggenggam tangan Tetsuna yang bebas itu. Tapi langsung ia urungkan niat tersebut. Tetsuna bukan pacarnya. Belum maksudnya.
Jika berada di dekat gadis itu, Akashi jadi lemah. Sifat otoriter dan abolutnya entah kenapa memudar tiba-tiba. Bahkan kadang, ia menjadi salah tingkah. Wajahnya selalu merona merah. Beruntung ia adalah pengguna poker face yang handal.
"Kita mau kemana Tetsuna? Bioskop? Taman? Atau mungkin," senyum nakal menghiasi wajah Akashi hotel?"
PRANG!
Kaca toko di samping Akashi pecah tiba-tiba. Membuat sang Emperor terjontak kaget. Tatapannya horror memandang jalan di seberangnya.
Dengan sigap Tetsuya dan Chihiro langsung menunduk bersembunyi di balik semak-semak. "Hampir saja" ucap Tetsuya lega.
"Apa yang kau katakan Akashi-kun?" Tetsuna memiringkan kepalanya. Membuatnya terlihat sangat imut. Tak sadar akan tragedi 'kaca pecah' barusan.
"Ah, tidak. Kau mau kita kemana dulu Tetsuna?" tanya Akashi hati-hati. Tak mau dirinya di terror lagi. Walau dalam hati ia sangat ingin memamerkan seni lempar guntingnya kepada si peneror. Namun apa daya, gadis kesayangannya ada di dekatnya.
"Bagaimana kalau Akihabara? Aku ingin membelikan Light Novel terbaru untuk Chihiro-nii," jari telunjuk tetsuna mengetuk-etuk dagu putih pucatnya. Chihiro yang mendengarnya dari kejauhan langsung Fanboying-an sendiri.
"Tapi diakan sudah ada di Tokyo. Hmm, mungkin nanti dia bisa beli sendiri" seketika itu juga Chihiro langsung pundung di pojokkan. Tetsuya hanya menepuk kedua pundak kakaknya itu memberinya simpati.
"Chihiro-san ada di Tokyo juga? Bukan kah seharusnya dia sibuk belajar di Kyoto?" tanya Akashi penasaran.
"Iya. Dia baru sampai tadi pagi. Katanya ayah mengijinkannya menyusul. Padahal nilai-nilainya sangat buruk" Tetsuna menyisir rambut baby blue-nya dengan jari-jari. Ia merasa sedikit risih dengan angin nakal yang menerbangkan rambutnya.
"Hmm.."
Kedua tangan Akashi terlipat. Ia sedang berusaha menyusun puzzle yang ada di otaknya. 'Aku mengerti,' batinnya lega. Seringai-an horror tercipta dari sudut-sudut bibirnya. 'Nikmati liburanmu selama di Tokyo, Chihiro'
GLEK!
Seluruh bulu di tubuh Chihiro tiba-tiba berdiri. Membuat pemuda bersurai kelabu hangat itu memeluk dirinya sendiri. "Ada apa nii-san?"
"Hidupku akan berakhir di Kyoto, Tetsuya" ucapnya miris. Tetsuya hanya menatap Chihiro prihatin. Ia penasaran apa yang akan di lakukan Akashi jika tahu ia juga terlibat.
"Bagaimana kalau tempat yang sering Akashi-kun kunjungi?" Tetsuna menatap Akashi datar. Sekali lagi, semilir angin menyibak rambut-rambutnya.
Akashi tersenyum lembut melihatnya. Ia kembali mengelus rambut Tetsuna pelan. "Kau sangat manis," gumamnya pelan. Tetsuna hanya mengembungkan kedua pipinya menyikapi kelakuan Akashi itu.
"Kalau taman bermain Disn*y La*d? Katanya banyak orang yang memilih tempat itu sebagai kencan pertama"
"Memangnya kita sedang kencan, Akashi-kun?"
'Tidak Tetsuna. Kita sedang ngobrol' batinnya kesal. "Menurutmu apa?" Akashi mencoba untuk tetap tersenyum walau hatinya kesal menanggapi ke-tidak-peka-an gadis itu.
"Jalan?" You Don't Say banget Tetsuna You don't say. Mungkin jika itu bukan Tetsuna, Akashi sudah menghujani orang itu dengan gunting seksinya. Namun ia hanya tersenyum tulus. Terlalu cepat jatuh dalam pesona polos sang gadis.
. . . . .
"Nii-san. Tiket masuk Disn*y La*d kan mahal. Apa nii-san punya uang lebih?" Tetsuya merogoh sakunya lalu mengambil dompet. Menghitung-hitung jumlah lembaran yang ada di dalamnya. Hanya ada tiga lembar uang seribuan.
Chihiro juga melakukan hal yang sama. Tapi hanya menemukan dua lembar uang seribuan. Sisa uang jajan bulanannya."Kalau begini kita harus patungan Tetsuya" ucapnya miris. Disambut dengan anggukkan lemah dari adiknya itu.
"Tapi,"
"Hanya satu dari kita berdua yang bisa masuk" keduanya menatap nanar langit yang cerah. Mulai dari sini mereka harus rela bekerja sendiri menghadapi setan merah itu. Mengingat keduanya tak mempersiapkan hal—materi maksudnya—lebih.
"Aku saja yang masuk nii-san! Aku bisa memakai ini dan bertukar tempat dengannya" Tetsuya mengangkat paper bag itu tinggi-tinggi. Chihiro menggeleng meragukan keputusan bodoh tersebut.
"Jangan Tetsuya. Kau terlalu gegabah. Aku kakak tertua kalian. Aku harus melindungi kedua adikku"
"Tidak nii-san. Uangku lebih banyak daripada nii-san. Jadi aku lah yang berhak masuk!"
Chihiro tersontak kaget. Kedua mata beriris kelabunya membulat lebar "Jadi sekarang kau mengungkit hal yang berbau materi?!"
Tetsuya mengangkat alisnya sebelah. "Tentu saja! Mengingat tindakkan Nii-san tadi yang terlalu mencolok dengan melemparkan batu ke arah Akashi. Bagaimana kalau nanti malah mengenai Tetsuna?" emosinya kini meluap-luap.
"Tapi ujung-ujungnya Tetsuna tidak kena kan? Akukan melakukan hal itu untuk kebaikannya juga! Untuk masa depannya!"
Keduanya kini sibuk berdebat. Sementara itu, Akashi dan Tetsuna yang sudah membeli tiket langsung berjalan masuk. Berhubung minggu ini golden week, Disn*y La*d memberikan sebuah promosi.
Beli satu gratis satu.
. . . . .
'Apa yang harus ku kunjungi duluan yaa. Hmm, rumah hantu sepertinya menarik,' senyumnya merekah 'kalau ia ketakutan, dengan senang hati aku akan memeluknya'
"Bagaimana kalau kita ke rumah hantu dulu?" tanya Tetsuna tiba-tiba. Kedua Iris dwiwarna itu melebar. Tak menyangka sang gadis bisa membaca pikirannya.
"Memangnya kenapa Tetsuna?" tanyanya menyembunyikan kegembiraan yang luar biasa itu.
"Entahlah Akashi-kun. Kurasa menyenangkan bila bisa melihatmu gemetar ketakutan" Tetsuna mengulum senyum dari wajah datarnya. Akashi masih terpaku kaget mendengar jawaban sederhana gadis itu.
"Heh, kau mau lihat aku ketakutan? Bagaimana kalau pada akhirnya kau yang ketakutan, Tetsuna?"
"Hmm, baiklah ayo kita bertaruh. Yang teriak lebih dulu dia yang kalah" tantang Tetsuna.
"Lalu yang menang mendapatkan apa?"
"Yang menang boleh meminta apa saja kepada yang kalah. Tiga permintaan"
Akashi tersenyum jahil. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Baiklah" 'jangan salahkan aku kalau kau menyesali tantanganmu itu, Tetsuna' batinnya licik.
. . . . .
"Maaf. Lupakan perkataanku tadi Tetsuya," Chihiro memasang tampang bersalah. Begitupun sang adik.
Keduanya berhasil masuk ke dalam Disn*y La*d berkat satpam yang melerai mereka berdua. Sang satpam memberi tahu kalau minggu ini sedang ada promosi besar-besaran. Membuat kedua kakak-beradik itu cengo dan malu.
"Karena drama ftv tadi kita jadi kehilangan jejak mereka berdua" Pemuda bersurai kelabu itu menghembukan nafas berat. Menyesali tindakan bodohnya yang memancing keributan kecil tadi.
"Tak apa nii-san. Aku tahu kemana arah mereka," Tetsuya merogoh ponsel pintarnya menekan aplikasi GPS. Ia memperhatikan titik merah kecil yang berjalan perlahan menjauhi posisinya. "sepertinya mereka ke arena rumah hantu"
Chihiro mendengus kesal. "Cih, licik sekali orang itu. Ia pasti berniat mengambil paksa kepolosan Tetsuna. Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau bisa tahu Tetsuya?"
Tetsuya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Tangan kirinya yang bebas ia biarkan mengelus lembut tengkuknya. "Oh itu, ano.. er- aku menaruh alat pelacak di dalam tas Tetsuna" jawabnya ragu.
"Jenius" Chihiro mengacungkan ibu jari kanannya kepada Tetsuya. Sang Phantom Sixth man hanya terkekeh malu.
. . . . .
"Bagaimana Tetsuna. K-kau sudah takut?" Akashi memejamkan matanya melihat sesosok mahluk yang tak jelas bentuknya. Tetsuna menatap datar patung—mahluk tersebut.
"Tidak. Ini membosankan" jawabnya datar.
Akashi mencengkram erat kerah kemejanya. Cekikikan misterius menggema di ruangan mirip goa itu. Banyak pengunjung yang sudah berteriak ketakutan. Akashi juga ingin berteriak. Tapi ia tak boleh. Bukan Akashi Seijurou namanya jika ia kalah dalam tantangan anak-anak seperti ini.
Chihiro dan Tetsuya saling berpelukkan. Sesekali keduanya berteriak ketakutan. Patung manekin yang sengaja didandani menyeramkan itu sama sekali tak menarik minat keduanya.
"nii-san aku takut" ucap Tetsuya manja.
"Te-tenang sa-ja Tetsuya. Nii-san a-ada di si-ni" nada Chihiro bergetar. Ia mengelus halus kepala adiknya. Berharap hal itu bisa memberi sedikit ketenangan.
Seharusnya Disn*y La*d adalah tempat yang menyenangkan untuk anak-anak kan? Dimana para maskot lucu seperti Mic*e* Mous* dan kawan-kawannya berkumpul. Namun tidak di tempat—rumah hantu ini. Bukan sosok Mic*e* Mous* yang mereka jumpai, tapi malah patung-patung horror berwajah menyeramkan.
Kereta melaju dengan kecepatan rendah agar para pengunjung bisa melihat-lihat sekeliling. Efek backsound yang terdengar horror dan mencekam membuat tempat itu dipenuhi jeritan ketakutan. Akashi dan Tetsuna duduk di bangku paling depan. Keduanya sengaja memilih hal tersebut agar salah satu diantara mereka kalah. Sedangkan Chihiro dan Tetsuya duduk di bangku paling belakang. Berharap keberadaan mereka tidak disadari oleh 'target'nya.
"Kau takut Akashi-kun?" tanya Tetsuna tiba-tiba.
"Tidak" jawabnya bohong. Padahal sumpah serapah beserta seluruh penghuni kebun binatang telah ia lontarkan dalam hatinya. Perlahan terlihat titik terang. Ujung bangunan itu. Sebuah pintu keluar. Akashi senyum penuh kemenangan merasa dirinya tidak kalah. Tapi ia juga merasa kecewa menatap Tetsuna yang sama sekali tak memiliki tanda-tanda ketakutan.
Cahaya itu makin terang membuat seluruh pengunjung menghembuskan napas lega. Termasuk Tetsuya dan Chihiro. Tapi,
"KYAAAA ADA CICAK!" Teriak seorang gadis membuat yang lainnya terkejut.
Tetsuna membekap mulutnya. Memandang jijik reptil yang jatuh tiba-tiba di hadapannya. Walau terkejut, Akashi masih sempat tersenyum licik. Kini ia menang sepenuhnya.
. . . . .
Tetsuna mendengus kesal. Ia tidak menyangka akan kalah dalam tantangannya sendiri. Ditatapnya Akashi sinis. Dari tadi pemuda itu menggenggam erat tangan Tetsuna.
Permintaan Pertama: Menggenggam tanganmu seharian
Tetsuya dan Chihiro yang tak tahu alasannya menatap Akashi horror. Mereka sama sekali tidak rela tangan halus Tetsuna harus di genggam oleh sang utusan neraka—Akashi.
"Sekarang kita kemana yaa. Hmm, bagaimana kalau—"
"Milkshake. Aku mau minum Vanilla Milkshake" Tetsuna mengembungkan kedua pipinya.
"Tapi aku kan yang menang Tetsuna" ucap Akashi lembut.
"Aku kan tidak memintamu untuk membelikannya. Aku mau beli sendiri. Lelah rasanya menahan rasa takut di tempat tadi" Tetsuna berlalu mendahului Akashi sekaligus melepaskan paksa genggamannya.
Akashi mematung sejenak. 'apa dia sama seperti Midorima? Tsundere?' batinnya heran.
Keduanya kini duduk di bangku taman. Tetsuna dengan Vanilla Milkshake-nya. Akashi dengan es kopinya. Tangan mereka masih saling menggenggam. Membuat kakak-beradik yang daritadi mengamati hal tersebut geram.
"Ayo kita jalankan rencana nii-san!"
Chihiro mengangguk setuju. "Ya, sekarang saat yang tepat"
Hayooo, bang Mayu sama Tetsuya mau ngapain tuh? wkwkwkk
untuk chap selanjutnya mungkin akan di upload sedikit lebih lama berhubung sebentar lagi Ha-Chan OSPEK!
YA.
Ha-chan tua :'C
Mind to RnR?
Arigatou Gozaimasu~~
