Tetsuya's Twin Sister
Chap 5
Dentingan lonceng sebanyak dua belas kali pada jam besar di tengah taman bermain itu menandakan hari sudah menginjak pukul dua belas tepat. Sinar matahari yang sedikit menyengat tak melunturkan semangat dari para pengunjung untuk menjelajahi tempat itu.
Kuroko Tetsuna dan Kagami Taiga berjalan berdampingan walau sang pria tampak kikuk sehingga sedikit menjaga jarak. Mereka berencana untuk menaiki wahana-wahana yang ada di taman hiburan itu. Beruntung, keduanya sama sekali tak memiliki minat untuk menaiki wahana yang ekstrim.
Sang gadis memusatkan perhatiannya kepada seseorang yang sedang berlari ditengah kerumunan. Keningnya berkerut tak kala melihat orang tersebut berlari mendekatinya.
"Hah… Hah… Tet-Tetsuna… di-dimana nii-san?" Tanyanya tiba-tiba.
Kagami dan Tetsuna sama-sama hanya diam melongo. Kandas sudah niat mereka berdua untuk menaiki kincir raksasa itu.
"Kau siapa? Apa aku dan Tetsuya ternyata kembar tiga?" Tetsuna menatap orang itu seksama. Dandannya sama persis dengannya. Kagamipun dibuat terpana sampai-sampai lupa untuk mengdipkan matanya.
"AKU INI TETSUYA! TETSUNAKU SAYANG. DAN DIMANA CHIHIRO-NII. HIDUPKU—AH, TIDAK HIDUP KAMI SEDANG TERANCAM!" Seru orang itu yang ternyata Tetsuya penuh emosi. Ia mengutuki sifat ketidak pekaan saudari kembarnya itu.
"Eh, Tetsuya? Kuroko Tetsuya?" Kagami sadar dari lamunannya tanpa sadar mengucapkan pertanyaan yang ada di benaknya. Sedangkan Tetsuya Shock. Ia sama sekali tak menyadari bahwa ada Kagami di dekatnya. "Mengapa kau memakai baju perempuan? Kalian mirip sekali. Aku sampai-sampai tak bisa membedakan mana Tetsuya. Mana Tetsuna sekarang"
Demi seluruh dewa yang ada di langit. Apa salah Tetsuya sampai-sampai dirinya begitu sial hari ini? Sudah untung ia bisa lolos dari titisan neraka maniak gunting tadi. Tapi mengapa sekrang ia malah bertemu dengan sahabat sekaligus partner basket Seirin nya? Bunuh Tetsuya di rawa-rawa bang. Bunuh sekarang juga!
"I-itu nanti akan aku jelaskan Kagami-kun. Tetsuna, apa kau melihat Nii-san? Dimana dia sekarang?" raut wajah Tetsuya panik. Bagaimana tidak? Saat ini ia sudah di tandai oleh tuan muda Akashi Seijurou untuk menjadi mangsanya. Sekali di tandai olehnya, ia takkan bisa lolos.
Tetsuna menatap Tetsuya bingung. Tak mengerti apa yang edang terjadi. Ribuan pertanyaan tercipta di benaknya. Namun melihat raut wajah saudara kembarnya yang sedang terburu-buru, ia urung untuk melontarkan pertanyaan. "Tidak" jawabnya singkat.
Lutut Tetsuya lemas. Rautnya wajahnya berubah dari panik menuju sedih? 'Maafkan aku nii-san. Semoga kau tenang dialam sana' batinnya menyesal.
"Memangnya apa yang sedang terjadi? Mengapa kau memakai baju yang mirip sepertiku ini Tetsuya?" Tetsuna kalah dengan rasa penasarannya. Raut wajahnya khawatir melihat keadaan saudara kembarnya yang amburadul itu.
"I-iya Kuroko. Kau jadi.. terlihat manis?" ucap kagami yang membuat Tetsuna terkekeh geli. Tetsuya heran bagaimana cara saudara kembarnya ini bertemu dengan sahabatnya. Tapi pikrannya sekarang hanya fokus kepada satu orang. Ah iya kakaknya! Jika Akashi bertemu dengan kakaknya bisa-bisa esok hari sang kakak ternista—tapi sayangnya tinggal nama.
"Ah. Tetsuna, kalau kau bertemu Akashi cegah dia sebelum bertemu nii-san! Dan kau Kagami-kun, kalau kau masih sayang nyawa ikuti aku" Tetsuya lari dengan menggenggam erat tangan Kagami. Sementara yang digenggam pikirannya kosong. Benar-benar tak mengerti situasinya saat ini. Tapi mengapa Kagami merasa… gembira?
Kurobas belong to Fujimaki Tadotoshi sensei
Pairing : AKaxFem!Kuro dan beberapa Slight pairing lain
Rated : T
Genre : Romance, Family, Comedy? maap kalo garing. Ha-Chan bukan pelawak Dx
Warn : Cerita gaje sumpah. gaya penulisan berubah-ubah tergantung mood. typo karena auto corect atau human eror atau kombinasi keduanya?
terima kasih kepada para pembaca yang setia menantikan kelanjutan fic abal ini :)
Happy Reading Minna~
Chihiro berjalan tanpa tujuan. Jujur, ia bukannya tak hapal arah pulang. Tapi ruangan-ruangan yang dilaluinya terasa sama. Hanya cermin yang ada disekelilingnya, di tambah tempat itu sangat sepi. Lebih sepi daripada wahana rumah hantu yang ia kunjungi tadi.
"Seharusnya aku tak mengikuti feeling-ku tadi" gumamnya menyesal.
Kalau di Tanya apa yang terjadi sekarang. Dengan senang hati Chihiro akan menjawab, karena ia mendapati telepati dari adik kesayangannya yang sedang berada dirumah kaca yang sedang berjongkok menangis karena tersesat. Pret.
Chihiro terlalu banyak membaca Light Novel sehingga ia memikirkan hal yang bahkan sangat bertolak belakang dengan kenyataan. Bodohnya lagi ia percaya seratus persen dengan pemikirannya tersebut. Sampai-sampai ia sadar. Bahwa di tempat ini hanya ada ia seorang. Pantas saja tak ada antrian panjang di depan pinu masuk tadi.
Lagipula apa yang mau dilihat dari wahana rumah kaca yang lebih mirip labirin ini? Pantulan diri mereka sendiri?
Ia lelah. Sungguh. Tak ada tanda-anda dari pintu keluar. Chihiro hanya butuh kamera cctv lalu melambaikan tangannya ke kamera. Mungkin dengan begitu akan ada petugas yang menuntunnya keluar? Tidak. Gengsi Chihiro masih terlalu tinggi untuk menyerah.
Ada rasa bersalah yang terbesit di benaknya. Ia bukan kakak yang baik karena tak bisa menjalankan misi yang sangat mudah itu. Sementara adiknya harus rela mengorbankan nyawa di medan peperangan. Apa susahnya menjaga seorang Tetsuna?
Ah iya. Chihiro lupa kalau seluruh keluarganya punya bakat terselubung. Misdirection.
Langkah Chihiro terhenti ketika ia mendengar suara isakan tangis dari pojok ruangan. Buru-buru ia menepis prasangka negative yang tercipta tiba-iba. 'Tenang Mayuzumi Chihiro. Ini rumah kaca. Bukan rumah hantu' batinnya.
Ia berjalan perlahan mendekati sumber suara. Dan mendapati seorang pemuda yang Nampak familier sedang berjongkok pundung di pojokkan.
"Anoo, apa kau manusia?" Tanya Chihiro dengan wajah sedatar papan. Padahal dalam hati ia berdoa semoga orang ini benar-benar manusia dan bukan mahluk jejadian.
Pemuda bersurai hitam itu mengangkat kepalanya. Iris hitamnya melebar ketika tatapanya bertemu dengan iris kelab hangat itu. "Mayuzumi?" tanyanya dengan suara sedikit tercekat.
Chihiro membeku ditempat. Ini bukan mimpi. Telepatinya tepat. Tapi bukan sosok Tetsuna yang ia temukan melainkan…
"monyong?" tanyanya tanpa sadar.
. . . . .
Tetsuna masih heran dengan kata-kata Tetsuya tadi. Cegah dia sebelum bertemu nii-san.
Apa sebegitu berbahayanya kah keadaan kedua saudaranya itu? Jujur Tetsuna tak mengerti. Yang paling ia tak mengerti adalah bagaimana kedua saudaranya tahu kalau ia dan Akashi sedang berada di taman hiburan Disn*y La*d? kebetulan? Ia rasa tidak.
Dan mengapa Tetsuya berdandan menyerupai dirinya? Sungguh ia tak mengerti jalan pikiran kedua saudaranya itu.
Tetsuya berhenti di depan air mancur sang mascot ketika kedua iris baby bluenya bertemu dengan heterokom angkuh namun hangat itu.
"Akashi-kun?" tanyanya lembut.
Sang pemilik heterokom hanya tersenyum lembut lalu berjalan mendekati dirinya. Semburat merah mewarnai pipi pucat Tetsuna.
"Apa tadi kau tersesat?" Tanya Akashi lembut. Tangan kanannya mengusap surai baby blue gadis kesayangannya itu.
"Ya. Sedikit," jawab Tetsuna jujur. "Apa Akashi-kun Khawatir?"
Akashi hanya menatap iris babyblue itu dalam lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah sang gadis. "Sangat. Tetsuna" ucapnya tepat di telinga Tetsuna.
Kesal. Tetsuna mencubit lengan Akashi. Sang pemuda meringis kesakitan namun tetap tersenyum lembut. Baru kali ini ada orang yang mau mencubit lengan seorang Akashi Seijurou. Jika itu orang lain, mungkin mereka tidak akan sempat menyentuh sumpit lagi seumur hidupnya.
Akashi kembali mengenggam tangan Tetsuna. Tentu saja Tetsuna tidak menolak Karena ia tahu ini hukumannya dari pertaruhan tadi. Keduanya berjalan menuju taman bunga yang cukup ramai oleh pengunjung. Badut mascot tersebar dimana-mana. Banyak anak kecil berlarian kesana sini sambil memegang balon yang di berikan oleh sang badut.
Seorang anak laki-laki kecil yang berlarian jatuh didekat pasangan itu. Ia meringis kesakitan tatkala lututnya memerah karena terbentur batu. Tetsuna langsung berjalan mendekati anak tersebut lalu berjongkok menghapus air mata sang bocah.
"Apa sakit sekali?" tanyanya khawatir.
Anak itu bingung melihat orang asing yang ada di hadapannya. Tangisnya berhenti ketika tangan putih pucat Tetsuna mengusap lembut pipinya yang Chubby.
"Apa nee-san malaikat?" Tanya anak itu polos. Akashi yang ikut mendengarnya terkekeh geli. Jujur apa semua orang yang baru bertemu dengan Tetsuna menggapnya sebagai titisan malaikat? Memang sih gadis itu cantik, baik dan lumayan pintar. Tapi apa ada malaikat yang sangat tidak peka seperti Tetsuna?
Tetsuna tersenyum lembut menyikapi kepolosan sang bocah. "Tentu saja bukan. Nee-san cuman manusia kok. Malaikat kan tinggalnya di langit. Lagipula malaikat memiliki sayap. Lihat, nee-san tidak memiliki sayap" jawab Tetsuna yang disambut anggukan sang bocah.
"Kalau nee-san manusia juga. Mau kah nee-san menungguku sepuluh tahun lagi? Nanti kalau sudah besar aku akan menikahi nee-san!" ucapnya semangat.
Akashi terbatuk mendengar pernyataan sang bocah. Tatapannya tajam mengintimidasi. Enak saja baru kenal langsung melamar. Akashi saja yang sudah berbulan-bulan mengenal Tetsuna belum sempat. Masa seorang Akashi Seijurou kecolongan start dan harus kalah dari bocah absurd yang cengeng ini?
Tetsuna cukup terkejut dengan pengakuan polos sang bocah. Tangannya mengacak surai kecoklatan sang bocah. "Hahahaa… kau menggemaskan sekali. Nah, sekarang sudah tidak sakit lagi kan? Jadi jangan menangis lagi ya?"
"Iya! Nee-san!" jawabnya semangat.
"Lihat, orang tuamu khawatir tuh. Jadi jangan menangis lagi yaa. Seorang laki-laki yang menangis, sama sekali tidak keren! Jaa naa" Tetsuna berdiri lalu melambaikan tangannya. Sang bocah hanya tersenyum dan membalas lambai tangan Tetsuna.
Akashi masih sedikit kesal karena kejadian tadi. Bisa-bisanya sang gadis bersikap biasa saja padahal dirinya baru saja dilamar. Yaa, walaupun oleh seorang bocah tetap saja itu lamaran! Akashi tidak mau kalah. Ia tidak akan pernah kalah.
"Hmm, aku jadi cemburu dengan bocah tadi," ucapnya tiba-tiba. Akashi mengeratkan genggeman tangannya. "Kuroko Tetsuna. Aku ingin kau menikah dengan ku!"
Iris baby blue itu membulat. Mendengar pernyataan barusan. Ah, bukan pernyataan namanya jika Akashi Seijurou yang mengucapkan. Itu perintah! Perintah yang tidak boleh di tolak!
"Tidak! Umurku baru enam belas tahun! Aku belum mau menikah!" jawabnya jujur
Akashi kesal. Tapi melihat tatapan Puppy eyes dari gadis itu luntur sudah sifat otoriternya. "Baiklah. Setidaknya kau harus menuruti permintaan keduaku"
Tetsuna melemparkan tatapan tak suka kepada Akashi. "Kalau permintaannya aneh-aneh tidak akan aku turuti!" jawabnya ketus
Akashi hanya tersenyum. Bukan. Ia menyeringai.
"Yang kalah harus menuruti permintaan yang menang Kuroko Tetsuna. Kau sendiri kan yang bilang seperti itu."
Tetsuna merutuki kebodohannya. Ia juga merutuki seluruh jenis makhluk reptile berukuran kecil yang suka muncul tiba-tiba seperti tadi. Sungguh kekalahannya tadi itu semua salah si cicak! Tetsuna tidak takut hantu. Tapi sayang cicak ada di list teratas hal yang dibenci Tetsuna.
"Baiklah apa itu?" tanyanya enggan
"Jadilah pacarku"
Hening…
"Ah, eh apa?" iris baby blue itu membulat untuk kesekian kalinya.
"Kuroko Tetsuna. Mulai hari ini kau adalah pacar seorang Akashi Seijurou. Titik!"
Akashi menyeringai penuh kemenangan. Sementara Tetsuna menggembungkan kedua pipinya kesal.
Kesal?
Tapi mengapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya?
TBC
YOOO~~ udah apdet~
maafkan karena Ha-chan sedikit telat yoo~
balasan Review :
mari : sip mari-san! Ha-chan akan lebih sering apdet kok *semoga Ha-chan ga php* wkwkwk
untuk yg lain Ha-chan udah bales via pm yaa ;)
Arigatou gozaimasu minna~
mind to RnR? xD
