Tetsuya's Twin Sister

Chap 6

Kagami memandang sahabatnya bingung. Mau dibawa kemana lagi dirinya? Dan mengapa sahabatnya itu sangat tergesa-gesa?

Ok, itu bukan lah hal yang aneh.

Tapi mengapa ia masih menggunakan pakaian wanita? Lengkap dengan wignya pula.

Orang-orang yang mereka lalui mungkin takkan sadar bahwa pemilik surai baby blue itu seorang laki-laki. Toh mereka lebih percaya jika Tetsuya adalah perempuan. Selain parasnya yang manis, tubuhnya pun tak seperti laki-laki.

Poor Tetsuya.

"Oi Kuroko! Kenapa kau buru-buru sih? Memangnya kau dikejar siapa?" Tanya Kagami ketika Tetsuya celingukkan mencari arah.

"Diamlah Kagami-kun. Akukan berjanji akan menceritakan semuanya nanti. Dan kalau kau bertanya siapa yang mengejarku, jawabannya adalah maut! Kau masih sayang nyawakan? Makanya diam dan ikuti aku!" perintah Tetsuya tegas.

Kagami menelan ludah. Baru kali ini Tetsuya memerintahnya dan berbicara panjang. Berarti keadaannya benar-benar gawat!

Ah, lupakan! Mau segawat apapun itu, entah mengapa Kagami merasa nyaman. Mungkin ada sosok bidadari yang sedang menggenggam tangannya?

Tapi, Tetsuya kan laki-laki.

Persetanlah dengan kenyataan itu. Orang yang sedang jatuh cinta tidak mau dibangunkan oleh kenyataan. Maka, biarkan Kagami bermimpi sampai ia puas.


Kurobas belong to... ah sudahlah. kalian bisa melihat di chapter sebelumnya.

pairing : AkaxFem!Kuro dan beberapa slight pairing lainnya.

Rated : T

Genre ? Ha-Chan juga bingung mau ngisi apa

Warn : OOC, gaje, Typo everywhere, gaya penulisan berubah-ubah tergantung mood dan ide-ide gaje yang selalu muncul tiba-tiba. Maapkan klo Ha-Chan sotoy karena Ha-Chan pribadi blom pernah ke Jepang

Special Thanks for : My reader yang selalu nunggu kelanjutan fic abal ini :")

Happy Reading Minna~


"Jadi, lu nyasar disini?" Chihiro memandang malas sosok yang sedang berjalan disampingnya.

"Nyasar sih engga. Cuman yaa, rada lupa pintu keluar dimana"

"Sama aja bego!"

Chihiro menghembuskan napas berat. Ia kesal. Sangat kesal. Berduaan di wahana sepi dan tak tau arah keluar. Bukan karena ia ingin cepat-cepat keluar, tapi mana ada orang yang sanggup bertahan disuasana canggung sepeti ini?

Ya,

Ia terjebak dengan sang mantan—Nijimura Shuuzou.

Beri tepuk tangan penghormatan kepada seorang Mayuzumi Chihiro karena masih dapat mempertahankan wajah datarnya. Jujur, ingin sekali rasanya ia menendang Nijimura keras-keras lalu memeluknya erat.

Hey, dia masih mencintai orang ini. Tapi sayang cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Hati Nijimura sudah berlabuh ke adik kelas SMPnya. Haizaki Shougo.

Chihiro bingung dimana letak bagusnya seorang Haizaki? Ia berandalan, sulit di atur, dan yang lebih parahnya lagi, warna rambutnya sama dengan dirinya.

Diam-diam Chihiro mencuri pandangannya ke pemuda surai hitam itu. Sudah tiga tahun lebih ia tak bertemu dengan Nijimura. Bisa dibilang ini pertemuan perdana mereka setelah putus dua tahun silam. Tapi kenapa Nijimura santai-santai saja? Apa ia sudah melupakan segalanya?

Chihiro tak peduli.

Ia tak mau peduli.

Bisa hancur sia-sia usaha move on-nya selama bertahun-tahun ini.

'Asalkan ia bahagia, aku rela tersakiti' batinnya miris

"Tumben main ke Tokyo. Mau ngapain? Liat-liat universitas disini?" Nijimura mengusap tengkuknya. Ia sama sekali tak menatap mata mantan nya itu.

"Nengokkin keluarga" jawab Chihiro singkat.

"Oh," Nijimura merogoh ponselnya yang berada disaku celana lalu mengetik pesan sebentar dan memasukkanya kembali di tempat semula. Chihiro hanya membuang wajahnya kea rah lain. Ia tahu, jika bertanyapun dirinya yang merugi karena tersakiti.

"Gue kangen sama lu Jum" ucap Nijimura tiba-tiba

Iris kelabu itu membulat. Tapi segera ia tepis rasa terkejutnya itu.

"Oh"

'Gue juga nyong. Sangat malah.' Batin Chihiro

"Kok 'oh' doang sih. Kagak seru lu. Oh iya, kayaknya kita cuman muter-muterin nih tempat deh. Tadi gue udah ngirim e-mail ke Haizaki. Katanya dia mau jemput kita"

Chihiro berhenti sejenak memandang nanar atap tempat itu. "Jemput lo doang kali" dan segera melaju cepat meninggalkan Nijimura di belakang.

Hatinya sakit. Tak bisakah Nijimura memahami dirinya sekali saja? Chihiro lebih senang memilih di hujani gunting seksinya Akashi ketimbang melihat kemesraan mantan dan pacar barunya.

Setiap tarikan napas yang ia ambil hanya menambah sesak dadanya. Apa yang salah? Toh juga asalkan Nijimura bahagia, ia rela. Tapi mengapa rasanya sangat pedih?

Chihiro berjalan cepat mengambil rute-rute seenaknya. Tak apa ia makin tersesat atau kembali kedalam lagi. Setidaknya ia tak mau melihat Nijimura bersama Haizaki. Ia sangat tidak mau.

Lain kali ingatkan Chihiro untuk tak mengikuti instingnya lagi.

. . . . .

"Akashi-kun. Aku akan memenuhi permintaanmu tapi dengan satu syarat" tantang Tetsuna

Akashi mengerutkan dahinya bingung. Sebenarnya dirinya urung mengikuti perintah Tetsuna. Tapi entah mengapa rasanya takkan seru jika tidak mengabulkan permintaan' kekasihnya' ini.

"Apa itu?" tanyanya tegas.

Tetsuna menghembuskan napas berat. Detak jantungnya seolah berpacu bagaikan drum band rock. Ia tak boleh seperti ini. Bisa gawat nantinya!

"Apapun yang Kakakku dan Tetsuya lakukan, maafkan mereka! Dan jangan lakukan hal yang aneh-aneh! Seperti adu ke akuratan lempar gunting atau apalah itu!" Tetsuna menatap mata Akashi lekat. Detak jantungnya makin berpacu kencang. Sangat kencang.

Akashi membalas tatapan iris baby blue yang teduh itu dengan santai. Tak perlu bertanya, ia sudah tahu jawabannya. "Baiklah. Apapun yang Tetsuna minta akan aku turuti" jawabnya lembut.

"Ah, kalau begitu aku minta putus Akashi-kun!" ujar Tetsuna cepat.

Akashi terkekeh geli melihat kepolosan kembaran phantom sixth man itu. "Kecuali yang itu"

Tetsuna mengembungkan kedua pipinya. Merasa gemas, Akashi mencubit lembut pipi putih pucat itu.

Damai.

Hanya itu yang bisa Akashi rasakan sekarang.

. . . . .

Kagami menghembuskan napas kecewa ketika Tetsuya mengajaknya ke toilet untuk berganti pakaian. Entah mengapa ia kesal ketika Tetsuya menerima e-mail dari saudara kembarnya tadi.

Seandainya Tetsuya tidak menerima e-mail itu, mungkin Kagami masih bisa memanjakan matanya dengan sosok bidadari crossdressing.

Raasanya seperti terbang tinggi lalu di hempaskan kembali ke kenyataan pahit.

"Sudah selesai?" tanyanya ketika melihat Tetsuya keluar dengan menggunakan T-shirt putih polos dan kemeja biru muda. Sungguh, baju yang tadi itu lebih cocok ketimbang yang ini. Kalau Kagami bukan orang yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, mungkin Tetsuya kini sudah di jejalkan dengan baju yang tadi ia pakai.

"Ya" jawab Tetsuya singkat. Ia melangkah keluar Kagami membuntutinya malas.

"Oi Kuroko. Aku menagih hutangmu!" ucap Kagami ketika mereka berjalan diantara keramaian tempat itu. Tetsuya menghentikan langkahnya lalu menghembuskan napas berat. Walaupun malas, janji adalah janji. Bagaimana pun juga ia harus menepatinya.

"Baiklah. Tapi aku mohon kau jangan bercerita ke orang lain soal kejadian yang akan aku ceritakan. Lalu lupakan seolah hal ini tidak terjadi sama sekali"

Tetsuya menatap Kagami tajam. Sedangkan sang cahaya baru seirin itu hanya mengangkat alis bercabangnya heran. "baiklah. Aku janji"

Tetsuya menepuk pundak Kagami. "Dan jangan tertawa selama aku bercerita" tepukkan itu berubah menjadi cengkraman erat. Kagami menelan ludah. Hal ini pasti sangat serius.

. . . . .

"Nee. Akashi-kun. Aku penasaran kenapa Tetsuya tadi sepertinya lari dari mu? Oh iya dan apa yang ia lakukan dengan dandanan seperti itu? Apa tadi kalian bertemu?" Tetsuna berjalan sambil menatap Akashi. Tangan mereka masih saling menggenggam. Entah sejak kapan, Tetsuna membalas genggaman tangan Akashi. Sepertinya ia sudah mulai mau membuka diri?

Lagi, seringaian nakal terukir di wajah tampan penerus Akashi corp itu.

"Hmm. Kau tahu Tetsuna, aku rasa mereka benar-benar menyayangimu"

"Mereka?" Tetsuna memiringkan wajah yang merupaka kebiasaanya ketika bingung. Sekali lagi, Akashi dibuat terpesona oleh kepolosan sang gadis.

"Kenapa kau tidak bertanya sendiri kepada Tetsuya dan Chihiro? Aku rasa aku tak pantas untuk menceritakannya tanpa meminta izin dari mereka"

Oh. Akashi masih menjunjung tinggi tata krama. Membuat gadis bermarga Kuroko itu mengangguk mengerti.

Tetsuna dan Akashi berjalan berdampingan mengelilingi tempat itu tanpa tujuan. Mereka malas untuk menaiki wahana-wahana hiburan yang ada karena antrian yang panjang. Sebenarnya itu bukan masalah besar, karena Akashi dan Tetsuna tadi membeli tiket VIP sehingga dapat dengan leluasa bermain spuasnya tanpa mengantri panjang.

Lama kelamaan langkah Tetsuna mengecil. Ia meringis kesakitan membuat pemuda scarlet itu menatapnya cemas.

"Ada apa Tetsuna?" tanyanya khawatir.

Tetsuna menggeleng lemah lalu berjongkok menatap pergelangan kaki kirinya yang mulai membiru. Ah, rupanya sepatu baru yang dipakainya adalah penyebab utamanya.

"Kakimu terkilir?" Akashi ikut berjongkok memandang suber masalah.

"Mungkin" Tetsuna meringis kesakitan ketika Akashi menyentuh pergelangan Kakinya.

Akashi memutar tubuhnya "Ayo, naik" perintahnya lebut.

"Eh, Apa—" Akashi mengalungkan kedua tangan Tetsuna di pundaknya. Susah memang berbicara kepada orang yang tidak peka. Maka dari itu, Akashi lebih memilih langsung bertindak. Gadis itu tak menolak ketika Akashi menggendongnya. Rona merah menghiasi pipinya.

Bukannya bisa membaca pikiran atau apa, Akashi bisa merasakan detak jantung Tetsuna yang berdetak sangat kencang di punggungnya. Membuat dirinya terkekeh geli dalam hati.

Akashi benar-benar sedang menikmati waktu damainya.

Tapi, ia melupakan satu hal.

Sampai kapan waktu 'damai'-nya akan terus bertahan?


Jujur, klo bagian Niji and Mayu Ha-Chan ngerasa kok kurang srek ya mereka ngomong aku-kamu? Dx jadi Ha-Chan rubah ke gue-lu dah wkwkwwkk

Balasan Review :

Mari : yeeyyy Ha-Chan udah apdet nih :) hehehee maap lama karena entah knp ffn di laptop Ha-Chan servernya down mulu :(

sok atuh Ha-Chan masih amatir jadi gaya penulisannya berubah-ubah. tolong di maapkeun yak ;3

Mind to RnR?

Arigatou Gozaimasu~