Tetsuya's Twin Sister

Chap 7

Entah keajaiban atau memang dewi fortuna sedang berpihak kepadanya, Chihro berhasil dari rumah—labirin—kaca sialan itu. Pikirannya kalut, tapi hatinya lega. Setidaknya, ia tak harus merasakan sakit hati dengan berada di satu atap bersama sang mantan.

Masa bodolah dengan orang itu yang kemungkinan besar masih didalam. Toh juga, sebentar lagi penyelamatnya akan datang.

Jujur, ia masih merasa sedikit khawatir.

Tapi untuk apa ia mengkhawatirkan orang yang sudah membuangnya? Setelah putus, Chihiro hanya mendapat kabar Nijimura dari Tetsuya. Bahkan kabar tentang Nijimura yang sudah menjalin hubungan baru dengan Haizaki.

'Kangen katanya? Heh, jangan bercanda'

Kepalanya menatap langit. Sinar mentari terlalu terik sehingga ia memejamkan matanya.

Perih, sebulir air mata menetes dari manik kelabu itu.

Entah karena silaunya sinar matahari atau karena hatinya yang mulai teriris lagi.


Kurobas belong to Fujimaki Tadotoshi-sensei~

Pairing? Always AkaxFemKuro! dan beberapa slight lainnya

genre : untuk chap ini mungkin akan lebih membahas ke drama dan family nya(?)

maaf minna Ha-chan updatenya telat. berhubung ide lagi mampet hehehe

Happy Reading minna~


Kagami menggigit bibir bawahnya keras-keras. Ia sudah berjanji tidak akan tertawa! Tapi entah mengapa saat Tetsuya bercerita, rasanya seperti ia sedang Stand up Comedy.

Hey, mana ada orang yang ber Stand Up Comedy dengan wajah sedatar papan itu?

"Begitulah Kagami-kun. Sebenarnya kami hanya khawatir dengan keadaan Tetsuna nantinya. Mungkin bukan hanya Akashi, Kalaupun itu orang lain kami juga akan melakukan hal yang sama" Tetsuya menyenderkan punggungnya di kursi taman itu. Ia lelah. Sungguh.

"Aku rasa kalian terlalu berlebihan Kuroko. Kuroko-san kan juga punya kehidupannya sendiri. Ku rasa ia mungkin akan terganggu kalau tahu kebenarannya" bukannya ia mau sok menasehati. Tapi ucapan Kagami memang ada benarnya. Mana ada sih orang yang mau kehidupan pribadinya di campuri tanpa izin?

"Kami hanya tidak mau dia terluka. Mungkin ia lebih kuat daripada aku. Jujur, aku iri. Sebagai anak paling bungsu aku juga ingin melindungi kakakku. Walau aku dan Tetsuna sepakat untuk tidak membahas hal ini lagi"

Kagami menghembuskan napas panjang. Ia masih tak percaya sahabatnya ini mulai menceritakan bagian-bagian kehidupannya. Walau ia sendiri terkejut baru mengetahui sosok dihapannya ini memiliki seorang kakak.

Hembusan angin sepoi membuat tempat itu sejuk sejenak.

Dalam hati, Tetsuya merasa sangat bersalah kepada Tetsuna. Tapi tetap saja ia khawatir. Oh, hey! Saudara kembarnya akan berkencan dengan mantan kaptennya yang sadis! Kalau terjadi sesuatu bagaimana?! Untuk itulah Tetsuya menjalankan rencana ini.

"Tapi aku senang kau baik-baik saja, Kuroko" ucap Kagami tanpa sadar

Tetsuya langsung menatap Kagami heran. Meminta penjelasan lebih.

"Maksudku, kau bilang kalau Akashi itu orangnya sadis kan? Bagaimana kalau kau—" Kagami salah tingkah.

"Ya. Aku baik-baik saja untuk sementara" ucapnya lirih tanpa menyadari wajah Kagami yang memerah.

Tak berminat untuk mengelilingi taman hiburan itu apalagi menaiki wahananya, keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah. Melupakan seseorang yang sedang patah hati.

. . . .

Akashi menggendong Tetsuna sampai ke tempat pemberhentian taksi. Sambil melambaikan tangan—memanggil taksi, Akashi menatap kekasihnya yang kini sedang tertidur pulas di pundaknya. 'apa selelah itu kah?' batinnya.

Senyum tulus kembali terpatri di wajah tampannya.

"Saa, Tetsuna. Ayo kita pulang" ucapnya

. . . .

Tetsuya hanya bisa melongo mendapati setan merah itu sedang duduk di meja makan rumahnya sembari menyantap semangkuk sup tofu.

Jangan lupakan sesosok wanita dewasa yang sedang akrab berbincang dengan pemuda tersebut.

"Ara, Tet-kun sudah pulang?" Tanya wanita dewasa tersebut yang merupakan ibu kandung si kembar dan chihiro.

"Anoo, Kaa-san. Kenapa orang itu—Akashi-kun ada disini?" Tanya Tetsuya to the point.

"Akashi-kun yang mengantar Tet-chan pulang tadi" jawab ibunya.

'Oh, wow. Bisakah ia berhenti menerorku sehari saja?' batin Tetsuya lelah.

Malas menghadapi iblis bersurai merah di hadapannya, ia melenggang masuk menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti oleh pertanyaan ibunya.

"Dimana Chi-chan?"

. . . . .

Tetsuya menyadari betapa bodoh dirinya sendiri. Melupakan seorang kakak yang seharusnya dari tadi bersamanya? Huh, pasti otak Tetsuya sudah rusak karena Akashi.

Sungguh, mengapa seluruh keluarganya harus punya kelebihan—berhawa tipis yang merepotkan seperti itu? kenapa bukan kelebihan seperti mematahkan sifat absolut seorang Akashi Seijurou?

Tetsuya mendengus kesal.

Ponsel kakaknya tidak bisa di hubungi. Kemungkinan terbesarnya adalah baterainya habis. Kemungkinan yang lain, kakaknya terlalu sibuk dengan keadaan sekitarnya sehingga tak menyadari panggilan masuk dari Tetsuya.

Setidaknya ia bersyukur dengan alibi untuk mencari kakaknya, ia tak harus berhadapan dengan Akashi secara langsung. Walaupun dalam benaknya muncul ribuan pertanyaan berkaitan dengan Akashi dan saudara kembarnya.

Langit petang itu mulai di tutupi awan kelabu. Sepertinya terik matahari siang tadi, adalah pertanda akan munculnya hujan sore ini. Sudah sejam penuh Tetsuya mondar-mandir di kota.

Walaupun ia sadar mondar-mandir seperti itu takkan membuahkan hasil. Karena kakaknya mungkin masih berada di taman hiburan itu.

Hanya saja ia ingin membersihkan pikirannya. Semenjak kejadian siang tadi, kepalanya tak bisa dingin. Apalagi ia sudah menantang maut dengan Akashi.

Kedua kakinya lelah minta di istirahatkan. Ia melirik kedai majiba di sebrang jalan. Namun langkahnya tetap berjalan lurus. Toh seluruh uangnya sudah terkuras habis untuk membeli tiket masuk taman hiburan sialan itu.

Sebuah taman kecil di dekat stasiun menarik minatnya. Ia memilih untuk menunggu kakaknya di tempat ini. Lagi pula kalaupun kakaknya masih berada di taman hiburan itu, saat pulang nanti pasti akan turun di stasiun itu.

Sesaat, ia terngiang ucapan Kagami siang tadi.

"Apa aku sudah berbuat terlalu jauh, Tetsuna?" Tetsuya tersenyum rilih. Ia menatap langit yang kini mulai meneteskan bulir-bulir air.

Jujur, hal yang paling Tetsuya takutkan saat ini bukan tentang Akashi.

Tapi,hal yang mungkin akan membuat kedua saudaranya perlahan-lahan berubah menjadi sosok yang tidak di kenalnya.

. . . . .

Chihiro menadahkan tangannya membiarkan telapak putihnya terbasahi oleh tetesan air.

'hujan-hujanan mungkin bukan ide yang buruk' batinnya

Dengan nekat, ia menerobos hujan. Mengabaikan tatapan aneh orang-orang sekitarnya. Lagipula ia bingung mengapa orang lain takut hujan dan memilih untuk berteduh?

Padahal hujan memiliki sejuta misteri yang tak bisa diungkapkan. Hujan adalah anugerah yang kadang lebih sering di olok-olok ketimbang di syukuri.

Langkah Chihiro terhenti ketika melihat adiknya sedang duduk di salah satu bangku taman. Sama sepertinya, Tetsuya sedang hujan-hujanan.

"Kenapa kau disini?" Tanya Chihiro ketika sudah berdiri tepat di hadapan adiknya.

Tetsuya mengangkat wajahnya. Menatap lekat manik kelabu Chihiro. "Menunggumu"

"Dengan hujan-hujanan seperti ini? Ayolah Tetsuya. Kau tidak seperti kami tubuhmu itu—"

"Lemah bukan? Ku kira nii-san akan mengubah pandanganmu terhadapku"

"Apa maksudmu?" Tanya Chihiro dengan nada sinis. Suasana hatinya sudah buruk. Dan apalagi ini? Tetsuya marah tanpa hal yang jelas? Seharusnya ia yang marah karena seenaknya ditinggal sendirian!

"Tetsuya mana yang kau kenal? Yang dulu atau yang sekarang?" Tanya dingin sedingin udara yang berhembus di sekeliling keduanya.

TBC


udah apdet~ hiks kok malah melenceng jauh yaa hiks :"(

maaf ya minna klo fic ini ga sesuai sama ekspektasi kalian.

balasan Review:

mari : aduh iya Akashi ehem bisa ngerasain kok ehem berhubungkan dada sama punggung mereka nempel(?) / maaf yaaa mari-san Ha-chan apdetnya lama*ditimpuk massa* :"( btw, Terimakasih sudah selalu meninggalkan jejak :)

Mind to RnR minna?

Arigatou gozaimasu~