Tetsuya's Twin Sister
Chap 8
Ketiga anak itu tertawa riang. Dua diantara ketiganya memiliki wajah dan warna rambut yang serupa. Sedangkan yang lainnya tampak sedikit lebih tua.
"Nee, apa nii-san lihat bebek yang tadi? Saat Tetsuna tidak sengaja melemparkan batu ia malah loncat dan terbang" ucap Tetsuya
"Menyiksa binatang itu tidak baik, imouto-ku sayang" Chihiro mengelus lembut pucuk kepala Tetsuna. Sedangkan yang di elus malah mengembungkan kedua pipinya kesal.
"Aku tidak menyiksanya, nii-san. Tadi aku tidak sengaja melemparkan batu ke arahnya. Lagi pula ini semua salah Tetsuya! Dia yang menyuruhku untuk berbuat demikian!"
Tetsuya menatap saudara kembarnya kesal. "Aku tidak menyuruhmu kok. Kan aku bilang kalau mau coba sendiri lakukan saja"
Tetsuna geram.
"Tapi kau yang mengusulkan untuk mengadakan lomba batu mana yang jatuh paling jauh"
"Huh" keduanya duduk saling memunggungi. Chihiro hanya bisa tersenyum melihat keduanya saling ngambek.
'mungkin lima menit lagi juga akan akur lagi' batinnya
Kurobas belong to Fujimaki Tadotoshi sensei~
Pairing : AkaxFem!Kuro dan beberapa slight lainnya~
Genre : Family, Drama, Romance (Mungkin perchapter genrenya berubah(?))
WARN : OOC and TYPO!
Happy Reading Minna~
"Okaa-san dan Otousan akan tinggal terpisah" ucap kepala keluarga yang bermarga Mayuzumi itu. ketiganya hanya diam tak tahu bagaimana cara menyikapinya.
Mereka semua tertelan oleh konflik batin.
Merasa memiliki tanggung jawab atas adik-adiknya, si sulung angkat bicara. "Apakah Otousan serta Okaasan akan bercerai?"
Si kembar mematung. Umur keduanya masih terlalu muda sehingga kurang paham akan hal yang sedang dibicarakan oleh orang tua dan kakaknya.
Sang ibu menatap anak-anaknya bergantian. Walaupun samar, titik-titik air mulai membanjiri pelupuk matanya. Ia pun mengangguk.
"Ya"
Dan hari itu merupakan hari paling kelam bagi keluarga Mayuzumi.
. . .
"Jadi nii-san akan ikut dengan Otousan ke Kyoto? Bolehkan kami dan Okaasan ikut? Kami juga mau masuk ke SMP tempat nii-san bersekolah nanti"
Chihiro memandang adiknya bergantian. Umurnya baru menginjak angka tiga belas tahun, tapi entah mengapa pikirannya sudah lebih dewasa. Ia bukan anak yang akan menentang keputusan orang tuanya dengan mencari sensasi seperti kabur dari rumah atau menjadi berandalan.
Ia harus menjadi panutan yang baik bagi kedua adiknya.
Tapi, sekali lagi. Ia harus mengecapi bumbu pahit kehidupan selain perceraian orang tuanya.
Mereka bertiga akan tinggal terpisah.
Dan Chihiro tahu kalau ia takkan sanggup untuk menjalani ujian hidupnya ini.
Berkali-kali ia memohon kepada kedua orang tuanya agar mereka bertiga dapat selalu bersama. Tapi hasilnya nihil. Ia tak mau bertindak egois dengan tinggal bersama salah satu orang tuanya. Tapi ia juga tak bisa membelah diri untuk tinggal dengan keduanya.
Ia tahu kalau ibunya juga akan tersiksa dengan kepergian dirinya. Ia pun sama.
Meninggalkan kedua adiknya yang dari kecil sudah selalu bersama? Rasanya itu mustahil! Walaupun ayahnya sudah mengiming-imingi dengan berkata 'Akan datang ke Tokyo setiap hari libur'
Untuk kesekian kalinya, Chihiro muda mengehembuskan napas berat. Ia tersenyum lirih di hadapan adik-adiknya. Tak mau momen perpisahan ini di banjiri oleh air mata—walaupun ia sendiri bersumpah kalau pelupuk matanya sudah mulai basah.
"Nii-san titip Okaasan yaa Tetsuya, Tetsuna. Disana nanti nii-san yang akan menjaga otousan! Oh iya, kalian berdua jangan bermain sampai larut malam! Dan jangan lupa kalau anjing di gang sebelah itu sangat agresif! Jadi kalau bisa jangan sering lewat gang itu! lihat, Kemarin nii-san dicakar olehnya," Chihiro menunjukkan bekas cakaran yang berada di lengan kirinya.
"Rasanya perih sekali" setetes air mata mulai menuruni pipi putih pucatnya.
Ah, ia sudah melanggar janjinya sendiri untuk tidak menangis lagi.
Si kembar yang melihat kakaknya menangis, juga ikut menangis. Ketiganya berpelukan bagai tak mau saling dipisahkan. Hingga pada akhirnya,
"Kereta menuju Kyoto akan segera berangkat. Bagi pemumpang yang memiliki tiket harap segera memasuki kereta"
Chihiro melepaskan pelukkannya walaupun enggan. Tangisnya sudah berhenti. Ia tersenyum menatap kedua adiknya yang masih sesunggukan.
"Saa, nii-san berangkat dulu! Jaga diri kalian baik-baik yaa" Chihiro berjalan menuju kereta. Dengan berat hati, si kembar membiarkan kakaknya pergi.
"Itterashai" ucap keduanya sambil tersenyum.
"Hai, Ittekimasu"
. . .
"Aku akan tinggal dan bersekolah di Kyoto" ucap Tetsuna yang membuat ibunya serta Tetsuya diam membatu.
"Kenapa sayang? Apa kau tidak suka tinggal bersama Okaasan?" Tanya ibunya dengan suara bergetar. Tetsuna tahu ibunya sedang berusaha keras menahan tangis.
Dengan cepat, Tetsuna menggeleng. "Bukan itu Okaa-san. Ada satu SMP yang dari dulu aku tuju disana. Aku kan berjanji akan kembali ke Tokyo, Okaasan"
Ia menatap ibunya dengan tatapan memohon. Mengabaikan tatapan tajam dari saudara kembarnya.
"Memangnya Tet-chan mau bersekolah dimana?"
"Rakuzan" jawab Tetsuna cepat.
"Kalau Tet-kun?" ibunya memandang Tetsuya penuh harap. Tetsuya hanya mengangkat kedua bahunya.
"Teiko. Aku akan tetap di Tokyo, kaa-san" jawabnya santai dengan muka sedatar papan.
Ibunya menghembuskan napas lega.
Setidaknya, ia akan tinggal dengan anak paling bungsunya.
. . .
"Aku tidak tahu SMP pilihan mu berada di Kyoto" ucap Tetsuya dingin.
Tetsuna menutup buku pelajarannya lalu memandang saudara kembarnya yang berada di depan pintu kamarnya yang terbuka. "Aku juga tidak tahu kalau aku butuh persetujuanmu untuk masa depanku"
Tetsuya berjalan masuk lalu menutup pintu itu rapat. Takut-takut pembicaraan mereka berdua terdegar oleh sang ibu."Setidaknya kau memberitahuku lebih dahulu. Apa nii-san tahu?"
"Tidak"
Ia merebahkan dirinya ke ranjang Tetsuna. "Dulunya, ini kamar nii-san," ucap Tetsuya. Tetsuna memutar badannya, memandang saudara kembarnya yang sedang berada di atas ranjangnya.
"Lalu kalau kau pergi, apa kamar ini akan menjadi gudang?"
Hening, keduanya membatu.
"Aku akan kembali ke Tokyo Tetsuya. Aku janji akan kembali ke Tokyo" Tetsuna mengulurkan jari kelingkingnya.
Tetsuya bangun lalu menyambut janji Tetsuna dengan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Tetsuna. "Kembalilah. Bukan untuk sementara. Tapi untuk seterusnya"
Tetsuna tersenyum "Ya"
. . . . .
"Kalian basah"
Tetsuna langsung bergegas mengambil handuk kering untuk Chihiro dan Tetsuya.
Keduanya hanya diam di depan pintu. Tak mau lantai rumah mereka becek akibat rembesan air. Tetsuna kembali lalu memberikan handuk kepada kakaknya dan mengeringkan kepala Tetsuya. "Diam disini. Aku akan membuatkan coklat panas"
Tetsuna kembali pergi.
"Mandilah terlebih dahulu Tetsuya. Aku rasa kau sedikit stress akan apa yang sudah terjadi hari ini" Chihiro menatap lekat adiknya.
"Tidak. Aku rasa nii-san yang seharusnya lebih dulu masuk ke kamar mandi! Setidaknya berhentilah bertindak seolah-olah kau peduli dengank—"
"Aku memang peduli dengan mu! Kau adikku! Sebagai kakak wajar bukan kalau aku mengkhawatirkanmu? Lagipula—oh, demi tuhan. Apa yang terjadi denganmu Tetsuya?" Chihiro emosi. Ia ingin melupakan segalanya.
Tetsuya mengangkat kedua bahunya. "Setidaknya tanyakan hal itu enam tahun yang lalu" dan berjalan menuju kamarnya.
Tetsuna yang diam. Kedua tangannya menggenggam dua buah cangkir. Ia menatap kakaknya. Meminta penjelasan tentang apa yang sedang terjadi.
"Tanyakan itu kepada saudara kembarmu yang sedang pms" ucapnya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Tetsuna menghembuskan napas berat. Meletakkan kedua cangkir yang berisi coklat panas ke atas meja. Tanpa Tetsuya dan Chihiro sadari, Akashi masih berada di rumah itu.
"Kau tidak melakukan yang aneh-anehkan?" Tanya Tetsuna tajam
Akashi menggeleng. "Tidak. Tapi mungkin benar apa yang Chihiro katakan" Tetsuna memiringkan wajahnya, bingung.
"Tentang apa?"
Akashi hanya tersenyum jahil. "Kalau Tetsuya sedang pms"
. . . . .
Chihiro merendamkan dirinya ke dalam bathup. Berendam memang selalu dapat menjernihkan pikirannya.
Jujur, ia masih bingung akan sikap Tetsuya yang berubah kekanak-kanakan.
Apa salahnya?
Mengapa ia marah?
Hanya pertanyaan itu yang terlintas dalam benaknya.
Ia mulai ragu. Apakah dirinya bukan kakak yang baik?
Ia memang mengakui kalau dirinya sedikit aneh—dengan julukan wibu dan siscon yang melekat pada dirinya. Tapi, apakah ia sudah gagal menjadi seorang kakak?
. . . . .
Tetsuna mengetuk pintu kamar Tetsuya. "Bolehkah aku masuk?" tanyanya sambil membuka pintu.
Tetsuya yang sedang melamun di dekat jendela, langsung memutar badannya menghadap Tetsuna. "Setidaknya kau sudah masuk. Apa kalau aku menjawab tidak kau akan keluar?"
Tetsuna menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku tahu kalau saudara kembarku sedang tidak baik-baik saja,"
Hening sesaat,
"Apa semua ini karena Akashi?" Tanya Tetsuna ragu.
Tetsuya mengangkat alisnya. "Akashi?"
"Ku kira kau marah karena kami sudah pacaran"
Iris baby blue Tetsuya melebar. "APA?! PACARAN?!" ucapnya heboh
TBC
Yooo~
Sebagai permohonan maaf karena minggu kemaren apdetnya telat, Ha-Chan apdet sedikit lebih cepet deh minggu ini wkwkwk
oh iya, maaf yaa bagi para readers yang menunggu moment akaxfem!Kuro, berhubung lagi ada konflik keluarga nih *dibantai keluarga Kuroko*
ok, bagi yang masih bingung, kita anggep saja kalau marga Tetsuna dan Tetsuya dulunya itu Mayuzumi. bukan Kuroko. karena Mayuzumi marga dari ayahnya. sedangkan Kuroko marga dari ibunya.
Balasan Review :
mari :duh, maaf yaa nungguin Ha-Chan apdetnya lama ya :"( abisan idenya lagi mampet sih wkwkwk. tapi kali ini Ha-chan apdet cepet kan? wkwkwk
annnia : terima kasih kalau fic abal ini lucu :") hehehe kayak authornya ngga? *bow* sip! Chapter selanjutnya sudah apdet kok ini~
name ni chan : ini Ha-Chan udah apdet kok :") Tapi romancenya maaffff bgt yaa kalau masih kurang. mungkin chap depan akan lebih banyak romancenya. mungkin wkwkwkk
Terima kasih untuk para Readers yang sudah meninggalkan jejak.
Mind to RnR minna?
Arigatou Gozaimasu~
