Tetsuya's Twin Sister

Chap 9

Tetsuna hanya menghembuskan napas berat membalas reaksi berlebihan dari saudara kembarnya.

"Kalau begitu jelaskan" perintah Tetsuya ketika ia sudah agak tenang.

"Akan ku jelaskan kalau kau sudah mandi. Bajumu basah. Kau bisa masuk angin nantinya"

Tetsuya membuang wajahnya ke arah lain. "Bisakah kalian berhenti bertindak seolah peduli denganku? Kalian kan sudah meninggalkan ku"

"Berhenti bersikap kekanak-kanakan Tetsuya" Tetsuna memijat keningnya.

"Kalau begitu kembalilah," Ia menatap tajam Tetsuna. "Penuhi janjimu dan tinggalah di Tokyo"


Kurobas belong to Fujimaki Tadotoshi Sensei~

Pair : Always AkaxFemKuro

Genre : Family, Romance

Warn : Komedi garing. pembahasaan jelek. sulit untuk di mengerti. alur kecepetan. typo everywhere

Happy Reading minna~


Tetsuna hendak berjalan mendekati Tetsuya, namun langkahnya oleng membuatnya hampir terjatuh kelantai. Ya, hampir. Kalau saja Tetsuya tak bergerak refleks menahan punggung saudarinya itu.

"Kau demam," ucap Tetsuya cemas setelah menyentuh dahi Tetsuna yang panas itu. "Padahal aku yang hujan-hujanan"

Tetsuna menggeleng lemah. "Tubuhku memang kurang fit saat datang ke Tokyo kemarin malam" jawabnya jujur.

Tak mau memperparah keadaan saudara kembarnya, Tetsuya menggendong Tetsuna dan menaruhnya di atas ranjang. "Tunggu sebentar, aku akan mengambil obat" lalu berjalan tergesa-gesa keluar kamar.

Irisnya kembali membulat ketika menangkap sosok Akashi di hadapannya.

"Mau pergi kemana, Tetsuya? Melarikan diri lagi?" Tanyanya.

Tetsuya berhenti sejenak lalu menghela napas kesal. "Pacar barumu sakit dan aku harus pergi untuk membeli obat" jawabnya ketus.

"Tetsuna sakit?" Akashi mengernyitkan alisnya. Sepengetahuannya, Tetsuna masih sehat-sehat saja tadi. Mengapa tiba-tiba jatuh sakit?

"Kalau tidak percaya, cek saja di kamarku! Tubuhnya demam tinggi" Tetsuya segera bergegas untuk membeli obat walaupun harus kembali menembus derasnya hujan.

Akashi tak mau buang waktu. Sepeninggalan Tetsuya, ia langsung berjalan menuju ruangan tempat kekasihnya berada.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Akashi cemas

Tetsuna yang tidur di ranjang membalas pertanyaan Akashi dengan senyum lemah. "Aku ketahuan" jawabnya jujur. Akashipun duduk di tepi ranjang tersebut.

"Apakah ini semua karena pekerjaan paruh waktumu yang berlebihan itu? Sudah ku bilang kau tidak usah bekerja. Kalau mau ke Tokyo tinggal bilang saja ke aku. Dengan senang hati aku akan mengantarmu"

Tetsuna menggeleng. "Aku tidak bisa selalu merepotkanmu Akashi-kun"

"Aku tidak keberatan, Tetsuna sayang. Aku akan selalu ada disaat kau butuh" Akashi mengelus pucuk kepala Tetsuna lembut.

"Benarkah?"

"Ya"

Perlahan, mata Tetsuna memberat, membuat sang empunya tertidur pulas. Akashi mengecup kening kekasihnya lalu memandangi gadis itu yang sedang terbuai di alam mimpi. Namun sebuah suara membuyarkan kegiatannya itu.

"A-Akashi?" Tanya Chihiro horror. Ia cukup terkejut melihat keberadaan sang kapten di kamar adik tercintanya. Terlebih lagi sang kapten habis mengecup kening Tetsuna?! "A-Apa yang kau lakukan pada adikku? Dan apa yang terjadi dengan Tetsuna? Lalu dimana Tetsuya?"

Jujur, Chihiro masih takut dengan Akashi. Sangat takut.

Akashi tersenyum. Membuat semua bulu kuduk di tubuh Chihiro berdiri. 'Ini aneh! Sumpah, sangat aneh' batinnya was-was.

"Adikmu ini sakit. Dan Tetsuya sedang membeli obat" jawabnya santai

Otak Chihiro mencerna kata-kata Akashi "Tetsuna…. Sakit?"

Akashi mengangguk.

"DEMI APA IMOUTOU KU YANG MANIS INI JATUH SAKIT?!" ucapnya heboh. Membuat Akashi melayangkan tatapan 'kalau-kau-berteriak-lagi-langsung-ku-bunuh' dan Chihiro langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Ia berjalan mendekati keduanya dengan langkah tenang—walaupun sedikit kaku—karena secara tak langsung ia berjalan mendekati sang iblis surai merah.

"Tetsuna benar-benar sakit? Kenapa?"

Akashi mengangguk. "Ini semua karena ia terlalu berlebihan saat bekerja"

"Tetsuya tidak tahu kan? Kalau Tetsuna bekerja demi menepati janjinya?" Tanya Chihiro dengan suara pelan takut orang lain mendengarnya.

Akashi menggeleng. "Seharusnya, kau sebagai kakaknya harus menjaga Tetsuna dengan benar" ucapnya dengan nada menyindir.

"Dia… keras kepala. Kalau itu demi Tetsuya, aku tak bisa ikut campur"

Hening kemudian.

Keduanya tak sadar kalau dari tadi pembicaraan mereka terdengar oleh orang yang seharusnya tidak boleh mendengar hal tersebut. Demi menuntaskan rasa penasarannya, Tetsuya bangkit dari tempat persembunyiannya lalu berjalan ke arah Akashi dan Chihiro.

"Apa yang kalian bicarakan? Dan apa yang kalian maksud dengan Tetsuna sakit karena bekerja berlebihan? Memangnya apa saja yang ia kerjakan selama di Kyoto?"

Akashi dan Chihiro membatu. Mereka sadar kalau keduanya sama sekali tidak punya hak untuk menjawab pertanyaan Tetsuya.

"JAWAB AKU NII-SAN! AKASHI-KUN!" bentak Tetsuya.

Bentakkan Tetsuya cukup untuk menarik kesadaran Tetsuna. "Tidak apa Tetsuya. Aku hanya kelelahan" ucapnya lirih.

Tetsuya menatap saudarinya penuh penyesalan. "Apa saja yang kau lakukan di Kyoto?" tanyanya mengabaikan Chihiro dan Akashi yang masih berada di tepi ranjang lainnya.

"Aku, hanya bekerja paruh waktu di sana. Mungkin karena jadwalku sedikit padat, aku jati tak bisa membagi waktu"

"Apa ini semua demi aku?"

Tetsuna menggeleng. "Demi diriku sendiri. Aku lelah terpisah jauh dari diriku yang lain. Oleh karena itu, aku akan kembali Tetsuya. Dengan usahaku sendiri, aku akan menepati janjiku"

Refleks, Tetsuya memeluk saudarinya itu. ia membenamkan kepalanya di perputongan leher Tetsuna. Air mata mulai mengalir deras dari siswa Seirin itu. "Baka, kalau kau mau kembali seharusnya kau tinggal bilang ke otou-san atau okaa-san saja"

Tetsuna mengelus pucuk kepala adiknya lembut. "Aku ingin terlihat keren di matamu" jawabnya sambil menahan tawa.

Tetsuya melepaskan pelukkannya menatap lekat saudarinya itu. "Tidak lucu!" ucapnya sambil mengembungkan kedua pipi kesal.

"Gomen, aku hanya bercanda. Jadi, apa kau sudah memaafkan kami berdua? Aku dan nii-san?"

Hening sejenak. Chihiro dan Tetsuna memaklumi.

"Ya" jawab Tetsuya singkat.

"Hah apa?" Tanya Tetsuna, pura-pura tidak dengar.

"Ku bilang iyyaaa! Tapi kau harus menjelaskan bagaimana kau dan Akashi-kun bisa berpacaran!"

"Tunggu. Tunggu. Tunggu" potong Chihiro. "Kau bilang Tetsuna dan iblis—Akashi ini pacaran? PACARAN?!"

Tetsuna dan Tetsuya mengangguk kompak.

"Jangan bercanda. Tak mungkin kan imouto-ku yang unyu ini pacaran dengan iblis sadis macam dia?" Chihiro menunjuk Akashi ragu. Yang di tunjuk malah sembarangan menyebar aura kelam.

"Terimalah kenyataannya nii-san. Walaupun aku juga masih tidak mau mempercayainya"

Tetsuna merunggut kesal. "Kalian jahat. Lagi pula memangnya Akashi-kun itu kenapa sih?" Akashi tersenyum puas atas pembelaan Tetsuna.

"Dia itu, setan berkepribadian ganda/ tuan muda yang manja" ucap keduanya bersamaan.

Akashi mulai memainkan gunting kesayangannya. Tangannya mulai gatal.

"Tolong taruh lagi gunting mu Akashi-kun. Aku tidak mau kamar ini di jadikan arena tarung keakuratan lempar gunting" Tetsuna memijat pelipisnya. Berharap rasa pusing itu mereda.

Akashi langsung beralih ke kekasihnya. "Kau harus istirahat, Tetsuna" ucapnya lembut. Sangat lembut bahkan sampai-sampai membuat Tetsuya dan Chihiro terbelalak tak percaya.

Tetsuna mengangguk. "Kau pulang lah. Sudah larut"

"Aku akan selalu berada di sisi—"

"Ada nii-san dan Tetsuya yang akan menjagaku. Lagipula sebentar lagi paling okaa-san akan pulang. Maaf Akashi-kun. Tapi keberadaanmu sekarang sedang tidak di butuhkan"

Ada hal yang perlu Akashi garis bawahi. Tetsuna akan berkata sinis saat dirinya sedang sakit.

Tetsuya dan Chihiro hanya membekap mulutnya erat. Tak mau suara tawa mereka lolos sehingga di dengar oleh orang yang saat ini sedang diam membatu.

"Baiklah, aku akan pulang. Kau jaga baik-baik adikmu ini Chihiro" Akashi bangkit sambil menepuk pundak Chihiro.

Bunyi pintu depan terbaku lalu kembali tertutup mengartikan bahwa pemilik surai merah itu sudah idak ada lagi di kediaman mungil keluarga Kuroko.

"Jadi," Chihiro yang pertama angkat bicara setelah hening beberapa saat. "Kapan kau akan pindah ke Tokyo Tetsuna? Aku memang tidak menyukai Akashi. Tapi aku sangat tidak suka kalau kau memberikan harapan palsu kepadanya. Ya, dari luar dia memang tampak kuat. Padahal di dalamnya hanya serapuh tusuk gigi" ucapnya serius.

Tetsuna menghembuskan napas berat. "Tahun depan. Tepat setelah nii-san lulus"

Tetsuya hanya diam. Tidak tahu harus bereaksi apa. Bukankah seharusnya ia bersyukur kalau Tetsuna akan menepati janjinya itu? Tapi…

"Apa kau akan pergi meninggalkan Akashi-kun?" Tanyanya polos.

TBC


yoo, maaf yaa Ha-Chan apdetnya lama. Koneksi interet sedang tidak mendukung. di tambah otak ngadet karena kebanyakkan ngerjain tugas kuliah hehehee.

Ya, sebenernya ini udah mendekati chapter-chapter akhir. sedikit spoiler : Chapter depan tamat. tapi mungkin akan ada sequelnya hehehee xD

Balasan Review:

Mari: maaf yaa mari-san. Ha-Chan gabisa apdet ceper *pundung di pojokkan*

soo minna, mind to RnR?

Arigatiu Gozaimasu~