J.K. Rowling is the Owner of Harry Potter
I dont have anything just the story line, everything is belong to -The One and Only- J.K. Rowling
Just a simple story about my favorite paired in Harry Potter
Warning : Typo(s), OOC
Chapter ini didedikasikan buat :
FairYuzka, dlcandyblue, esposa malfoy, Selvinakusuma1, Claudie, Guest, AdeLwizz, My Lovely, Guest, chika nate granger, luluk minam cullen, bubbleshen.
Makasih ya buat review kalian :))
Buat AdeLweizz : Makasih ya atas masukannya. Aku juga ngerasa gitu sih, nanti aku coba perbaiki lagi. Harap maklum ya soalnya aku masih newbie
Buat Bubbleshen : Ginny nanti keluar dengan sendirinya kok :))
Oh ya sama buat yang ngefollow, ngefav cerita ini makasih banget ya.
Sama buat Silent Reader, makasih juga ya udah baca cerita aku.
Oh ya sama satu lagi kalo kalian berkenan kunjungi aku ya di akun reneemiraille di wattpad. Makasih. :)
.
.
.
.
.
.
Chapter 3
"Aku suka padamu.."
Tiga kata yang masih tak terbayang dalam imajinasi terliar Hermione diucapkan oleh Harry Potter. Harry Potter menyatakan cinta pada sahabatnya. Harry menyebutkan tiga kata itu padanya. Padanya .Bukankah itu lelucon terburuk yang pernah diciptakan.
Hermione sering membaca Roman yang berbau picisan murahan, dan hampir setengah roman itu berisikan kisah cinta antara sepasang sahabat bahkan ada yang menyebutkan frasa,"Tidak ada persahabatan murni antara pria dan wanita". Bukankah itu gila? Maksudnya, Sahabat tidak bisa jadi cinta. Itu harga mati. Itu hakikatnya. Ia takkan pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya sahabatnya bisa menjadi cinta, belahan jiwa, dan separuh hidupnya. Itu hal paling aneh yang bisa ia bayangkan.
Hermione hanya bungkam, keadaan jadi seratus kali lebih kikuk dari biasanya. Situasi aneh mengingat Hermione dan Harry tidak pernah kehabisan bahan perbincangan. Kepala Harry terus memandang lekat ke arah Hermione meminta kepastian yang masih menganggu di hati Hermione . Setelah jeda beberapa saat yang rasanya sudah seperti seabad, Hermione mengangkat wajahnya yang sedaritadi menunduk memandang telapak tangannya yang dingin karena gugup, "Harry..." Katanya sangat pelan tapi untungnya bisa ditangkap telinga Harry.
Hermione menggigit bibirnya bingung, astaga menjawab pertanyaan Harry adalah hal yang tersulit yang hadir dalam hidupnya bahkan soal terumit Arithmancy dari Profesor Vektor saja tidak membuatnya kebingungan.
Apa yang harus ia jawab?
Menerimanya?
Tapi itu akan aneh karena sampai kapanpun Harry hanya akan jadi sahabatnya bukan kekasihnya.
Menolaknya?
Ini lebih serius lagi akibatnya. Bisa jadi hubungannya dan Harry takkan pernah sama lagi.
Setelah kumpulan detik menggenang jadi menit Hermione meneruskan jawabannya berharap jawaban itu yang paling baik untuk sementara waktu ini, "Ini terlalu cepat, Harry. Beri aku waktu untuk berpikir."
"Berapa lama?"
"Beberapa minggu mungkin, atau satu bulan kurasa. Aku ingin memantapkan semuanya dulu, Harry. Maksudku ini terlalu cepat."
Harry mengangguk, menarik tangan Hermione yang dingin dalam genggamannya dengan mata hijau dalam bingkainya menatap Hermione lembut. Tatapan yang membuat Hermione tenang dalam sekejap.
"Aku akan membuatmu yakin untuk menerimaku." Genggaman tangan Harry makin kuat ketika mengucapkan kalimat itu seperti mempertahankan keyakinan dan kepercayaan diri.
"Tapi bisakah kau berjanji satu hal padaku?"
"Tenang Hermione. Persahabatan kita takkan berubah dengan apapun jawaban yang terujar dari mulutmu. Persahabatan kita adalah komitmen, bukan? Dan seperti yang sering kau bilang, Persahabatan itu harga mati. Walaupun aku tak terlalu mengerti dengan definisi harga mati itu, tapi persahabatan kita takkan berakhir."
Bibir Hermione terangkat keatas membentuk senyuman yang beberapa menit ini tak ia keluarkan. Rasanya begitu lega saat Harry memberi jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang belum ia keluarkan. Harry mengenalnya dengan begitu baik, bahkan di beberapa kesempatan Harry lebih mengenalnya daripada dirinya sendiri. Aneh bukan?
Tapi memang itulah yang terjadi.
"Oh ya, satu hal lagi, Harry-"
"Aku takkan memberitahu Ron, Mione. Tenang saja." Lagi-lagi Harry bisa membacanya. Apa otaknya begitu transparan di mata hijau indah Harry?
OoOoOo
Hermione adalah orang terakhir yang keluar dari pelajaran Transfigurasi karena tadi ia bertanya tentang beberapa hal yang masih belum ia mengerti dalam pelajaran Profesor McGonagal. Sebenarnya ia sudah paham, tapi ia perlu bertanya dengan sedetail mungkin. Hermione jelas ingat tentang kalimat indah dalam dunia muggle yang selalu mengikuti jejaknya, "Semakin banyak bertanya semakin bertambah ilmu".
Berhubung hari ini Harry dan Ron ada jadwal latihan Quidditch untuk persiapan pertandingan melawan Slytherin awal bulan nanti, maka mereka tidak menunggu Hermione di depan pintu kelas seperti biasanya.
Tapi ada hal aneh yang belum bisa dicerna oleh otak jeniusnya.
Draco Malfoy dengan angkuhnya bersandar tepat di dinding sebelah pintu keluar, tangannya ia lipat di bawah dada dengan kaki menyilang menandakan superiotas yang selalu ia junjung tinggi. "Kau sudah selesai?" Itulah pertanyaannya ketika sadar Hermione sudah keluar. Sangat aneh, Malfoy bisa berbicara padanya tanpa embel-embel kata kesayangannya dan bahkan ia tersenyum. TERSENYUM. Padanya.
"Apa maumu Malfoy?" Hermione bertanya tanpa sudi menatap balik wajah memuakan Draco.
"Aku sudah mencoba untuk ramah, tak bisakah kau juga bersikap sedikit lebih ramah padaku, Granger?"
Hermione menatap mata Malfoy setajam yang mampu matanya lalukan,"Jika kau ingin jawaban yang sesuai dengan kondisi kita, aku akan menjawab tidak, Malfoy."
"Bloody Hell, apa kau sebegitu membenciku?"
"Kau bertanya seakan kau peduli saja, Ferret. Berapa kali kuberitahu padamu, aku bukan hanya benci tapi muak melihat wajah menjijikanmu. Jadi, bisakah sekarang kita sudahi percakapan konyol ini? Aku tak sudi menghabiskan waktu untuk berbicara tanpa makna denganmu."
Hermione berbalik dan hendak berjalan menjauh tapi lagi-lagi sikap Malfoy jadi aneh, ia menarik tangan Hermione menahannya supaya tak pergi. Sekarang apalagi? Sungguh, saat ini suasana hatinya belum siap untuk bertengkar.
"Astaga Draco, tanganmu sudi memegang tanganku? Kau tidak lupa bukan dengan status darah yang kau dan seluruh keluargamu yang hina dewakan?"
"Jangan kau membawa masalah keluarga di depanku, Granger." Nah, ini baru Draco Malfoy yang Hermione kenal. Malfoy dengan tatapan dingin yang dilingkupi garis wajah angkuh.
"Kau melarangku membahas keluargamu sementara kau bisa selalu mengina keluargaku, Malfoy? Kau terlalu naif. Kau hiprokrit sejati. Oh, apa ayahmu yang sinting dan gila uang itu tahu anak tunggal kesayangannya memegang pergelangan tangan darah kotor sepertiku dan menahanku untuk tidak menjauh darinya? Ayahmu mungkin akan terserang penyakit kejiwaan yang hebat. Percayalah itu, Malfoy"
Semakin Hermione berbicara tentang ayahnya, Draco semakin mengencangkan eratannya pada pergelangan tangan Hermione. "Jangan kau coba menghina ayahku, brengsek."
"Wow, sekarang kau sudah menemukan kosakata baru sebagai penganti ucapan kata favoritmu untuk menghinaku, Malfoy? Apa ayahmu akan menentangmu?"
"Jangan bicarakan tentang Ayahku disini, Granger."
"Oh, apakah kau takut? Kau takut Ayahmu sadar kalau kau itu sama pengecutnya dengan dia, huh?"
Draco menggeram, matanya siap untuk meledak, "Ayahku bukan pengecut."
"Hanya kau yang berbicara seperti itu Malfoy tapi kenyataannya seluruh dunia sihir tahu ayahmu adalah seorang pengecut kelas satu."
"Hentikan menyebut ayahku seperti itu."
"Kau merasa terhina? Itu tandanya ayahmu memang penge-"
Perkataan Hermione belum selesai tapi Draco melepaskan tangan kanannya yang menempel di tangan Hermione dan melayangkan tangan itu tepat ke wajah Hermione. Sangat kencang. Seperti ia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menamparnya. Tamparan kencang itu pasti akan meninggalkan jejak di pipinya.
Malfoy memang menyebalkan tapi ia tak pernah menampar ataupun melakukan hal yang berbau fisik, biasanya Hermione yang selalu bertindak. Ia ingat ia pernah meninju wajah memuakan Malfoy di tingkat empat. Tapi apa tamparan itu balas dendam atas perlakuan yang sudah Hermione lakukan?
Hebat sekali Malfoy membuat tingkat kebencian Hermione padanya sudah tahap yang paling tinggi. Hermione merasa terhina. Ia belum pernah ditampar oleh siapapun, bahkan oleh orangtuanya. Dan sekarang ia dihadiahi sebuah tamparan kencang oleh musuh bebuyutannya. Well, itu keterlaluan.
"Sekarang kau berani main fisik padaku, huh? Kau menjijikan!"
"Granger, ak-"
Hermione tak peduli lagi ucapan apa yang akan dikeluarkan oleh Malfoy. Ia benar-benar merasa terhina. Ia lebih memilih untuk secepatnya menjauh dari jangkauan Malfoy . Wajah Malfoy kini tak ubahnya muntahan yang menjijikan. Kebencian ini sudah tak terbendung lagi. Mungkin kiamat pun takkan mengakhiri kebencian ini. Karena rasa bencinya pada Malfoy sudah menjalar dalam semua aliran darahnya, seluruh saraf di otaknya. Kebenciannya sudah final.
OoOoOo
Merlin, apa yang sudah ia lakukan?
Kenapa ia bisa kelepasan kontrol seperti itu?
Kenapa ia malah menampar Granger?
Draco yakin kelipatan benci Granger padanya sudah menanjak sampai tahap tak terhingga, bahkan ia sendiri takkan pernah memaafkan dirinya, tangannya, dan emosinya karena sudah menampar Granger.
Tapi, apa semuanya salahnya juga?
Well, bukan bermaksud membela diri, Draco tahu ia memang sudah kelewatan dan sudah ia katakan bukan, ia takkan pernah memaafkan dirinya sendiri tapi kalau dilihat dari runtutan kejadian Granger-lah yang memercikan api perang lebih dulu. Granger berani mengina keluarganya, menjelek-jelekan ayahnya di hadapannya.
Ia memang tak lama ini sudah berkomitmen untuk melepaskan embel-embel nama Malfoy yang sudah melekat di hidupnya selama ia hidup hanya untuk mendekati Granger. Tapi saat Granger menghina ayahnya, itu sudah tak bisa ditolerir. Walaupun ia sangat tahu kepribadian ayahnya bobrok, ia tak pernah menganggap ayahnya seburuk itu. Demi Merlin, ia tetap ayahnya. Ayah yang mendidiknya dan membesarkannya. Hormat Draco takkan pernah hilang buat ayahnya. Itu mutlak.
Sekarang keputusan apa yang harus ia ambil?
Tetap mengejar Granger meskipun hati gadis itu sekeras batu dan jangan lupakan omongan yang menjelekan ayahnya. Walaupun Granger adalah cintanya tapi dia hanya orang luar dalam keluarga dinginnya. Granger tak berhak memberi kata pengecut itu pada ayahnya. Ayahnya jauh lebih pemberani dari siapapun yang pernah Draco kenal. Ayahnya sejuta kali lebih pemberani darinya yang menjadi pengecut nomor satu di hadapan Granger. Ya, dialah pengecutnya. Dia manusia dengan nama tengah pengecut. Dracolah yang pengecut bukan ayahnya!
"Drake, ada apa denganmu?" Tubuh menjijikan Pansy bergesekan dengan kulitnya.
Draco bungkam dan tetap melanjutkan pemikirannya tak peduli dengan bisingnya ruang rekreasi Slytherin di jam malam seperti ini yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Crabe dan Goyle bersemangat dengan makanan mereka yang Draco tak mau tahu apa itu. Blaise yang sibuk mendekati Astoria, gadis cantik tingkat empat yang sebetulnya daritadi mencuri perhatian pada Draco. Dan anak-anak lain yang sibuk dengan tugas mereka.
Draco sebenarnya ingin melepas tangan Pansy dari tubuhnya, dan beranjak dari sofa pergi ke tempat yang lebih tenang untuk menjernihkan dirinya. Memutuskan apa hal yang tepat baginya. Keluarga atau cinta? Putaran itu tak tahu akan berhenti dimana. Mengambil satu keputusan berati mengorbankan hal lain, dan risikonya bisa saja ia gagal total di kehidupannya.
Pansy terus membisikan kata-kata ke telinga Draco yang tak tersampaikan ke otak Draco yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Alasan berada disini adalah agar Draco sadar akan kehidupannya, dan tentu saja Pansy bertugas untuk menyadarkannya dia itu siapa. Kalau Draco gagal dengan Granger pasti Pansy yang akan menjadi pendampingnya. Orangtuanya dan Pansy bahkan sudah merencanakan pertunangan ketika mereka lulus dari Hogwarts, tentu saja pertunangan yang harus Draco setujui meskipun hatinya terus menolak.
Apa ia menyerah saja pada Granger?
Granger toh membencinya. Bagaimana mungkin ia bersama dengan orang yang membencinya?
Draco sudah mempunyai Pansy, bukan?
Lagipula, Mom selalu berkata tentang cinta hadir karena terbiasa. Well, Draco tak tahu wujud cinta seperti itu karena Mom dan Dad tak pernah menunjukan gelaja saling mencintai meskipun belasan tahun menjalani rumah tangga tapi bukan berati omongan Mom salah, bukan?
Cinta bisa saja terjadi karena biasa asalkan ia bersungguh-sungguh mencobanya.
Kalaupun bersama Pansy tak berhasil, ia masih memiliki Astoria. Astoria menyukainya. Saat semua pria melotot ke arahnya karena kecantikannya tak terkecuali Blaise-sahabatnya yang lumayan bisa diandalkan, Astoria lebih memilih melirik Draco dan jujur saja Astoria juga hebat di ranjang walaupun tak seperti Pansy.
Omong-omong soal Blaise, mari lupakan soal dia. Saat ini bukan zamannya mengalah pada sahabat. Hah, kenapa ia berbicara seolah ia akan berakhir dengan Astoria?
Kemana semangatnya untuk mengejar Granger?
Kemarin ia sudah bertekad untuk mendekati Granger dan sekarang ia sudah menyerah pada Granger?
Tidak konsisten adalah ciri menonjol dari seorang pengecut.
Draco tak bisa menentukan pilihan.
Semuanya hal yang akan terjadi, ia serahkan pada tangan takdir.
Pasrah juga adalah salah satu ciri pengecut, bukan?
Ya, Draco memang pengecut. Dan Draco akan membawa kata itu kemanapun.
OoOoOo
"Mione ada apa denganmu? Kenapa pipimu memerah seperti itu tadi? Kau habis menangis? Ceritakan Hermione, apa yang terjadi?"
Seperti biasa Ginny selalu berbicara tanpa bisa dikontrol. Ginny sangat cemas padanya. Ketika Ginny melihat Hermione masuk ruang rekreasi dengan bekas merah yang menodai pipinya, ia langsung bertindak seperti Mom yang berbicara sangat cepat, menanyakan hal-hal dengan paksa. Saat itu Hermione bilang ke Ginny untuk membiarkannya istirahat dulu, alasan yang bisa menghindarkannya dari Ginny.
Tapi, Ginny tak semudah itu dijauhi. Ginny tetap setia menunggu di ruang rekreasi sampai Hermione keluar untuk jam makan malam. Oh, dan sialnya, Harry dan Ron juga ada disana. Merlin, apa yang harus ia katakan? Memberitahu Harry dan Ron tentang tindakan tak termaafkan Malfoy padanya siang tadi? Tapi bukankah itu makin menyulut api yang tengah berkobar?
Hermione sudah muak dengan perang mulut yang terjadi antara ia, Harry, Ron melawan tingkah angkuh Malfoy. Ia ingin perang itu berakhir.
"Pipi Hermione memerah, Ginny? Hermione katakan apa yang terjadi? Apa itu ulah Malfoy? Kau ingin aku membalasnya? "
"Harry, itu bukan masalah besar, sungguh!"
"Tapi kau disakiti oleh pria sinting itu!"
"Aku tidak apa-apa, Harry. Jadi, bisakah kau tenang?"
Ron yang lumayan sering diam akhir-akhir ini mengambil suara, "Hermione benar, Harry. jangan biarkan emosi menguasaimu." Well, Hermione cukup terkesan dengan ucapan bijak Ron. Kau bisa bayangkan itu? Ron yang selalu bertindak ceroboh kini memberi nasihat bijak. Kemajuan pesar, Ron!
"Jadi sekarang kau membela Ferret dungu itu, Ron? Kau sudah melupakan hinaannya tentang keluargamu?"
"Aku tidak membelanya, Harry. Sampai kiamat terjadipun aku takkan pernah memaafkanya. Tapi, bisakah kau tenang dulu dan biarkan Hermione menceritakan apa yang terjadi? Kau terlalu emosi Harry."
"Tapi sudah jelas bukan Hermione begini karena Malfoy sialan. Katakan Hermione, apa yang pria itu lakukan? Ia memukulmu atau menamparmu hingga pipimu memerah?"
Tubuh Hermione dingin. Skak mat. Tanpa harus berbicara, Harry sudah bisa membacanya. Bahkan orang gila pun tahu merah di pipinya itu bekas tamparan. Dan orang buta pasti tahu siapa yang menamparnya. Itu sudah sangat terbaca.
"Aku tak ingin membicarakannya." Tukas Hermione tanpa sekalipun memandang mata hijau Harry.
"Tapi, Hermione -"
"Harry, kalau Hermione bilang tak mau membicarakannya kau tidak berhak memaksanya." Ginny yang duduk bersebelahan dengan Harry kini berkomentar.
"Tapi-"
"Harry, sudahlah. Aku letih sungguh."
Kali ini kalimat itu berhasil membungkam mulut panik Harry, tapi justru tindakan lain yang Harry lakukan. Harry memeluknya sangat erat. Betul, pelukan ini yang ia butuhkan. Hermione membalas pelukan itu dan menidurkan kepalanya di dada bidang Harry yang terus berdebar kencang. Kehangatan ini yang bisa menetralisir emosinya. Ia tak tahu apa jadinya hidup tanpa ada Harry di sisinya.
Harry yang ia butuhkan.
Apa ia harus menerima Harry?
"Aku ke aula dulu." Ginny melepas kesunyiaan. Hermione mengangkat sedikit wajahnya melihat wajah Ginny. Mata Ginny berkaca-kaca saat melihat pelukannya dan Harry.
Ah, Hermione melupakan satu hal. Selama ini ia selalu memikirkan dirinya sendiri dan mengacuhkan keadaan sekitar. Ia sudah tahu dari dulu tentang cinta terpendam Ginny untuk Harry. Ginny memang tak pernah menyebut secara gamblang perasaannya tapi tindakan Ginny yang menjelaskan segalanya.
Ia sangat menyayangi Ginny. Ginny sudah seperti adik yang tak pernah ia miliki. Selain Harry dan Ron, Ginnylah orang yang membuatnya ia tertawa dan tersenyum.
Hermione tak mau menyakiti Ginny.
Ia tak ingin Ginny kecewa melihat Harry dan dirinya bersama.
Lalu, keputusan apa yang tepat untuk mengakhiri semua ini?
Semuanya mempunyai risiko besar. Apa ia harus menunggu bisikan takdir tentang jawaban yang tepat untuk putaran ini?
OoOoOo
Chapter ini membosankan nggak sih?
Maaf ya kalau kalian jenuh baca cerita ini.
Akhirnya cerita ini diupdate lagi setelah sekian lama. Maaf ya lama update, aku bingung mau lanjutin cerita kayak gimana. Idenya bener-bener udah ilang. Terus kemarin aku baca cerita ini lagi, baru deh berani nulis lanjutannya.
oh ya, maaf ya kalo ceritanya nggak sesuai ekspetasi kalian, membosankan, dan alurnya kelambatan. Maaf ya.
Oh ya dan makasih buat yang bersedia baca. Kalian itu inspirasi aku. :))
Sekali lagi Makasih ya.
