Chapter empat
J.K. Rowling is the Owner of Harry Potter
I dont have anything just the story line,
Everything is belong to -The One and Only- J.
Just a simple story about my favorite pair in Harry Potter
Warning : Typo(s), OOC.
.
.
.
Entah kenapa Hermione ingin keluar tengah malam. Ia merasa begitu penat. Rasanya ada yang kurang dari harinya, ada sesuatu yang menjanggal. Masalah dia dengan Harry sudah selesai, dengan tegas Hermione bilang kalau dia mencintai orang lain. Tentu saja ini alasan. Siapa orang yang dia cintai? Berteman dengan laki-laki saja hanya dengan Ron dan Harry. Untungnya Harry tak menuntut pertanyaan akan jati diri orang fiktif karangannya itu.
Hermione juga membantu proses hubungan Harry dan Ginny jadi lebih cepat. Bekali-kali dia meninggalkan Ginny dan Harry hanya berdua saja. Ia berharap semoga saja rencananya berhasil. Dan memang itu berhasil! Hermione memergoki dua pasang sejoli itu dimabuk nafsu di salah satu sudut perpustakaan tersepi. Hermione senang tujuannya berhasil. Harry melupakan perasaan padanya dan Ginny mendapat apa yang dia inginkan.
Mungkin perasaan penat yang menyerangnya akhir-akhir ini karena terlalu sibuk mengurusi masalah orang lain dan mengejar prestasi. Hermione lupa kalau dia adalah seorang wanita. Biar bagaimanapun dia harus mempunyai suami nantinya. Agak geli juga memikirkan tentang impian kecilnya dulu, menikah di usia muda.
Bagaimana dia bisa menikah muda kalau di akhir tahun sekolahnya saja dia belum mempunyai kekasih. Masalah lebih gawatnya, dia bahkan belum merasakan apa itu cinta, tak ada lelaki yang menarik minatnya. Tunggu dulu jangan salah tanggap. Hermione masih menyukai pria. Hanya saja, di Hogwarts belum ada satu pun yang menarik hatinya.
Saat memutari halaman luas di sekitaran menara astronomi, Hermione mendengar suara gemerisik aneh yang membuat bulu kuduknya merinding. Memang ini bukan suara hantu, tapi seperti suara seorang wanita yang tengah mengerang kenikmatan.
Menjijikan sekali dua orang itu. Melakukan tindakan asusila di ruang terbuka seperti ini. Untung ini tengah malam, tidak bakal ada yang mendengar suara mereka selain Hermione.
Tak betah dengan situasi ini, Hermione memilih untuk pergi. Telinganya panas mendengar wanita itu terus merintih. Baru dua langkah Hermione menjauh, dia mendengar wanita itu meneriakkan nama Draco. Di saat bersamaan ia mendongak ke balkon menara astronomi dan melihat siluet dua orang yang sedang mengatur napas berat mereka.
Harusnya otak encer Hermione bisa mencerna lebih cepat siapa orang menyebalkan tengah malam yang menganggu kedamaian Hermione dalam mencari ketenangan. Draco Malfoy tentu saja sedang menjalankan aksinya sebagai penjahat kelamin. Kasihan wanita-wanita itu.
Omong-omong ada hal yang belum Hermione beritahu. Sejak kejadian tamparan menyakitkan itu, Draco tak menggubrisnya sama sekali. Saat Pansy mengejeknya saja Draco malah berjalan seolah tak terjadi apa-apa. Ini tak normal, karena Draco bukan tipe orang yang diam saja kalau ada manusia yang tertindas, biasanya Draco lah penyulut api kebencian itu. Tapi sekarang...
Harus Hermione akui, dia senang dengan situasi ini. Draco tak menyebutnya dengan panggilan menyebalkan lagi. Tapi kenapa... Tunggu ini salah. Jangan sampai Hermione mengucapkan kata terkutuk kalau dia merindukan cacian manusia terkutuk itu. Ini tidak wajar!
Sial. Hermione harus segera mencuci otaknya dengan air suci. Pikiran kotor sudah seharusnya dibersihkan.
.
.
.
Sudah dua bulan ini Malfoy menghindari Hermione. Ia kira ini jalan terbaik yang bisa ia pilih. Tapi semua begitu salah ketika ia menjalankannya. Mood Malfoy jadi selalu jelek di setiap waktu, dia bahkan melampiaskan kekesalannya pada junior Slytherin. Entah sudah berapa banyak siswa yang mendapat hadiah tangannya. Ia tak peduli. Ia ingin mengalihkan pikirannya dari Hermione.
Dia juga lebih sering olahraga ranjang dengan para gadis. Kalau biasanya teman mainnya hanya sebatas Pansy atau Astoria, sekarang jumlah wanita yang memuaskannya sudah melebihi hitungan jari. Draco berharap mungkin saja dia akan jatuh cinta dengan salah satu dari mereka, tapi tetap saja begitu mereka bermesraan yang dipikirkan Draco selalu saja wanita itu. Rambut coklat bergelombang, mata coklat penuh binar, kulit seputih salju. Hermione Granger.
Draco melihat wanita yang telah memuaskannya sedang memakai bajunya. Penampilannya sungguh berantakan. Siapa nama gadis ini Hannah, Hensley, Helga, atau Heather? Entahlah... Draco tak mau mempedulikannya.
Wanita itu tersipu dipandangi oleh Draco, membuat Draco muak saja. Cepat-cepat dia mengalihkan pandangannya. Draco langsung terkejut saat melihat Hermione ada di bawah. Dari atas sini Draco masih bisa melihat raut wajah Hermione yang tertekuk. Kenapa dia? Apa dia ada masalah sehingga keluar tengah malam begini?
"Apa yang sedang kau lihat?" Kepala wanita itu bersandar di pundak Draco."Oh. Mudblood itu." Wanita itu berkata dengan nada sinis.
Draco segera berbalik menatap wanita yang kancing bajunya belum terpasang. Gila sekali dia, mau menggoda Draco lagi? Tidak... Draco tidak sudi melihat muka wanita ini. Dia bukan siapa-siapa, dia tak berhak memberi nama julukan itu ke Hermione. Dia saja bukan dari asrama Slytherin, kemungkinan besar wanita ini memiliki darah campuran sangat besar. Berani sekali dia menghina Hermione sementara di tubuhnya juga mengalir aliran darah yang sama.
Draco menatap saku baju wanita itu, ternyata dia anak Hupplepuf. Pantas saja.
"Aku mau bertanya."
"Hm... silakan tanya saja." Draco merasakan bibir wanita itu bergerak mencium lipatan lehernya. Jalang sekali tingkahnya. Draco membalikkan badan tak mau tersentuh lagi oleh wanita jalang ini.
"Apa pekerjaan ayahmu?"
Wanita itu tersenyum miring, "Dad bekerja di departemen sihir tentu saja."
"Kalau ibumu?"
Wajah wanita itu langsung memucat. Ini memperkuat dugaan Draco kalau wanita ini juga berdarah mudblood. "Ibumu Mudblood 'kan?"
"B-b-bukan." Jawabnya terbata. Dia langsung berbalik dan mengalihkan perhatiannya memakai kancing bajunya lagi.
"Ibumu mudblood artinya kau juga mudblood. Dan kau jangan menyebut orang mudblood seakan dirimu murni saja. Kau itu sama busuknya dengan mereka. Uhm..." Draco mengenduskan hidungnya dengan kencang, "Bahkan baumu adalah bau yang paling menjijikan di antara mudblood yang pernah aku tahu."
Wanita itu berbalik marah, tangannya terangkat hendak menampar Draco. Sebelum tangan itu menyentuh pipinya, Draco sudah menahan tangan kecil itu. "Jangan berani-berani kau menamparku. Tanganmu terlalu kotor untuk itu." Kata Draco sambil memegang tangan itu sekencang yang dia bisa. Draco tak peduli pada rintihan wanita itu yang memohon ampun, rasa iba Draco tak semudah itu dibagikan. Mau sejuta liter air mata yang wanita itu keluarkan juga Draco tak peduli. Yang Draco inginkan adalah membuat wanita ini menderita. Berani sekali dia memanggil Hermione dengan sebutan itu, dasar jalang!
Setelah cukup lama Draco mengeratkan tangannya hingga membuat tenaga wanita itu lemah, Draco melepaskan tangannya. Untung sekali dia itu wanita, kalau tidak mungkin orang ini sudah habis dalam kepalan tangannya.
Draco mendekatkan wajahnya ke telinga wanita yang menangis sesenggukan itu, "Jangan sekali pun kau mendekatiku lagi. Dan asal kau tahu, kau jalang paling jelek yang pernah bermain denganku."
.
.
.
Liburan musim dingin tahun terakhirnya ini agak beda dari sebelumnya. Untuk liburan ini Hermione memilih tetap tinggal di Hogwarts. Ada banyak sekali tugas yang menggunung, belum lagi dia harus belajar untuk ujian akhir nanti. Lagipula, orangtua Hermione sedang tidak ada di London. Hermione yang menyarankan mereka untuk liburan di Hawaii. Ibu dan Ayahnya sibuk dengan pekerjaan, kalau liburan datang mereka pun akan sibuk dengan Hermione. Sebagai anak yang baik, Hermione ingin orangtuanya punya waktu untuk berdua saja dalam liburan ini.
"Kau yakin tak mau ikut denganku, Mione?" Tawar Ron untuk kesekian kalinya.
Hermione menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak, terima kasih. Titip salamku saja untuk keluargamu."
"Tentu saja akan aku sampaikan."
"Dan jangan lupa untuk mengerjakan tugas ketika sampai disana."
Ron memutar matanya jengah, "Ya." Jawabnya setengah hati.
"Ron. Kita tahun terakhir di Hogwarts. Pendidikan itu langkah penting untuk meraih kesuksesanmu."
Tangan Ron mengacak rambut bergelombang Hermione gemas, "Iya. Akan kuingat hal itu."
"Jangan hanya diingat tapi harus dipraktekan!"
Harry dan Ginny sedang bergandengan sambil tersenyum ceria ketika sampai ke ruang rekreasi Griffindor.
Ron mendengus sebal, "Mereka makin menjijikan saja tiap hari."
"Mereka 'kan sedang pacaran." Hermione membela dua sahabatnya itu. Memang sih benar kata Ron, Harry dan Ginny selalu lengket dimana pun mereka berada. Bahkan sekarang mereka sering bermesraan di depan umum. Hermione masih menganggap hal itu wajar karena 'toh mereka sedang berpacaran. Mungkin saja kalau Hermione menjalin kasih, dia akan kasmaran seperti dua sejoli itu.
"Ya, aku tahu." Ron menjawab tak tertarik. Hermione sangat tahu karakter Ron. Dia tak menyukai kemesraan Harry dan Ginny bukan karena dia tak setuju Harry mendekati adik bungsunya, tapi dia marah dengan Ginny. Ginny tingkat enam, dan dia sudah berpacaran enam kali sejauh ini. Sedangkan Ron, punya nasib yang sama dengan Hermione. Mungkin Hermione lebih beruntung karena dia tak pernah patah hati, sedang Ron dia selalu ditolak oleh wanita mana pun yang dia dekati.
Hermione heran dengan para gadis jaman sekarang. Mereka lebih suka pria tampan dan nakal daripada pria humoris macam Ron. Ron adalah orang yang paling baik yang pernah Hermione temui - selain Harry.
"Kau harus makin giat mendekati Lavender. Aku lihat dia sudah mulai tertarik denganmu."
"Kau serius?"
Hermione mengangguk jujur. Beberapa kali Hermione lihat Lavender tersenyum sendiri sehabis berbicara dengan Ron. Dan Lavender adalah wanita yang paling berisik di pertandingan Quidditch kemarin. Setiap kali Ron berhasil menangkis bola, Lavender akan meloncat-loncat kegirangan.
Ron langsung berlari cepat sekali. Harry dan Ginny memandang Hermione meminta penjelasan. Langsung saja Hermione jelaskan tentang Ron dan Lavender. Harry senang mendengar hal itu, tapi Ginny bereaksi lain. Dia tak begitu suka dengan Lavender. Mungkin Ginny masih kesal dengan kejadian satu tahun lalu. Waktu itu Ginny sedang berpacaran dengan Dean Thomas, tapi pria itu malah bermain belakang dengan Lavender.
"Kau sendiri bagaimana, Mione? Apa ada pria yang berhasil mencuri hati bekumu itu?" Goda Ginny pada Hermione.
"Hatiku tidak beku 'kok." Hermione tak terima dibilang dia punya hati beku. Enak saja, hatinya masih normal. Dia juga ingin merasakan cinta seperti anak lain. Hanya saja belum ada pria yang menarik perhatiannya.
"Tipe dia terlalu tinggi, sayang. Mungkin dia sedang menunggu kedatangan Pangeran William baru dia akan membuka hatinya."
Ginny menoleh ke Harry tak mengerti, "Siapa itu Pangeran William?"
"Dia pangeran di dunia muggle yang disukai banyak wanita." Harry menjelaskan pelan-pelan.
"Wow. Dunia muggle sama seperti dongeng saja. Apa pangeran itu tampan?"
Hermione menjawab penuh semangat, "Sangat tampan."
"Kau bisa membawa fotonya kapan-kapan Mione? Aku jadi penasaran setampan apa wajah pangeran itu. Apa di dunia muggle ada yang mempunyai wajah setampan vokalis Deathly Vow?"
"Tentu saja ada. Di dunia Muggle ada boyband dengan empat vokalis tampan. Namanya One Direction. Dan tentu saja yang paling tampan itu Harry Styles! Lagu-lagu mereka juga enak didengar."
"Aku akan mencari tahunya Hermione! Harry kau akan bantu aku mencari tahu wajah-wajah mereka semua 'kan?" Ginny bergelayut manja di tangan Harry.
"Ya. Tentu saja. Kalau keluar dari Hogwarts aku akan mencarinya di internet lewat ponselku."
"Apa itu netnet dan selpon?" Hermione terkekeh melihat kepolosan Ginny. Kalau Ginny mengenal dunia muggle, Hermione yakin Ginny akan suka dengan selfie, sosial media, dan segala macam hal yang sedang trendy di dunia itu.
"Internet dan ponsel, sayang. Nanti akan kutunjukan padamu, kalau sekarang tentu saja tidak akan bisa karena alat muggle tidak berfungsi di Howgarts."
Ginny bersemangat sekali mendengar kehebatan ponsel. Hermione juga memberi beberapa rekomendasi pria-pria tampan dunia muggle yang membuat Harry mendelik sebal ke Hermione. Ginny gadis remaja normal, tentu saja dia akan tertarik pada pria-pria tampan. Dunia muggle dan dunia sihir tidak berbeda dalam hal remaja pubertas yang selalu ingin melihat wajah-wajah tampan.
.
.
.
.
Untuk ketiga kalinya, Draco memilih untuk tetap tinggal di Hogwarts saat liburan musim dingin. Draco lebih senang berteman dengan kesunyian daripada harus mendengar orangtuanya bertengkar di rumah. Keributan bukan hal asing di telinga Draco. Draco saja sampai bingung, bagaimana mungkin dia terlahir di dunia kalau setiap detik orangtuanya selalu saja bertengkar. Draco muak selalu menjadi korban mereka, Draco ingin ketenangan. Hogwarts adalah pilihan yang tepat. Biasanya di liburan musim dingin seperti ini jarang ada yang bertahan tinggal di Hogwarts.
Waktu mendengar Draco akan tetap tinggal di Hogwarts sepanjang liburan musim dingin, Narcissa sedih. Dalam suratnya Narcissa bilang kalau dia rindu Draco, dia ingin Draco pulang. Draco membalasnya dengan alasan selogis mungkin, ada begitu banyak tugas di akhir tahun masa sekolahnya ini, Draco ingin fokus belajar agar mendapat nilai terbaik. Alasan ini berhasil bekerja untuk Lucius. Ayahnya bilang di dalam surat kalau dia ingin Draco menyingkirkan Hermione dari posisi pertama.
Ayahnya mengharapkan sesuatu yang mustahil. Mau sekeras apa pun Draco mencoba, mengejar prestasi Hermione adalah hal yang takkan pernah bisa Draco raih, sama halnya dengan memenangkan hati gadis itu.
Draco menuruni tangga menuju aula megah yang sudah disulap dengan empat buah meja panjang yang mewakili tiap-tiap asrama. Kalau dalam kondisi normal, jam ini adalah jam teramai anak-anak duduk untuk sarapan pagi mereka. Kalau sekarang hampir tak ada orang. Apa tidak ada yang tinggal di Hogwarts selain dirinya? Oh, baguslah kalau begitu.
Langkah Draco tiba-tiba terhenti saat melihat seorang wanita dengan rambutnya yang dicepol sedang duduk membelakangi Draco. Wanita itu sedang membaca koran dengan sangat serius sambil sesekali mengusap teh hangat di meja.
Ini hadiah natal terindah yang pernah Draco dapat. Hermione Granger ada di Hogwarts selama sebulan ini... bersamanya. Ya,hanya ada mereka berdua sekarang. Ini jawaban doa yang selalu Draco panjatkan. Dia ingin mendekati Hermione. Dia harus mendekati Hermione. Setidaknya kalau di situasi ini, Draco tidak akan mencolok perhatian warga Sytherin. Dan takkan ada mata-mata yang memberitahu Lucius tentang aksinya ini. Draco bebas, situasi mendukung, Hermione ada di sini, formula terakhir hanya tinggal memenangkan hati Hermione.
Draco berjalan pelan mendekat ke arah wanita itu. Bahkan ketika sudah duduk di sampingnya, Hermione belum sadar ada Draco. Hermione masih membaca Daily Prophet dengan sangat serius. Raut wajah itu membuat Draco gemas ingin mencubit pipinya, membuat Draco ingin mencium semua yang ada di wajah itu. Hermione benar-benar wanita tercantik yang pernah Draco temui.
Iseng. Draco menjauhkan cangkir teh dari tempat semula. Tangan Hermione meraba-raba tempat teh awal karena tak mau memalingkan wajahnya dari koran. Merasa yang dicari tak kunjung tergapai akhirnya mata Hermione lepas dari koran. Matanya langsung membulat saat melihat wajah Draco.
"M-Malfoy... kenapa kau ada disini?"
"Aku memang selalu ada disini kalau liburan musim dingin. Tapi kenapa kau ada disini, kau ingin mengikutiku ya? Kau ingin kita berduaan saja disini?"
"Enak saja. Aku punya alasan kenapa ada disini karena ini meja makan Griffindor. Kau tidak berhak ada disini karena tempatmu itu ada disana..." Tangan Hermione menunjuk meja Slytherin.
Draco tak membuang kesempatan untuk mengambil tangan yang terapung itu lalu membawa tangan itu ke bibirnya. Ini pertama kalinya Draco menggenggam tangan cinta pertamanya tapi yang sudah pasti ini kulit terhalus yang pernah hinggap di bibir Draco.
Hermione tersentak dengan kejadian itu. Dia langsung menarik tangannya cepat-cepat, "Ada apa denganmu?" Sungutnya mencoba terlihat kesal, tapi Draco tak bodoh untuk tahu kalau Hermione sedang salah tingkah.
"Anggap saja itu hadiah natal pertama dariku untukmu." Draco menampilkan senyum yang dia jarang publikasikan ke Hermione. Mata Hermione bertambah lebar.
"Ada apa denganmu?"
"Aku hanya sedang mencoba mendekati satu-satunya orang yang ada di tempat ini bersamaku."
"Kau sinting."
Hermione langsung berdiri dari tempat duduknya. Dia menatap Draco tak percaya sebelum pergi meninggalkan Draco yang sedang tersenyum penuh rasa bahagia. Untuk pertama kalinya Draco tak mendengar nada tinggi dari suara Hermione. Bahkan saat bibir Draco mendarat di tangannya, Hermione tak naik pitam seperti biasanya, malah ada guratan merah tercipta disana. Ini pertanda baik. Tinggal Draco berusaha lebih giat lagi, Draco akan membuat Hermione melihatnya sebagai sosok pria sejati.
.
.
.
Hai... entah ada yang masih inget cerita ini atau nggak. Terakhir kali aku publish aja setahun yang lalu. Hahaha. Jadi maaf maaf aja ya kalau ceritanya agak nggak nyambung. Aku udah lupa sama plot cerita di otak aku setahun yang lalu, dan ini plot yang baru sampai ke otak aku. Jadi, maaf sekali lagi kalau ada space yang janggal.
Udah lama nggak buka-buka ffn dan sekali nya aku buka aku langsung pengen banget lanjutin cerita pertama aku di ffn ini. Aku mau cicil-cicil tuntasin cerita aku. Entah ada yang baca atau nggak, yang penting aku (seengaknya) bisa memuaskan diri aku sendiri.
Oh ya aku mau promosiin diri aku sendiri ah, kalau kalian berminat baca cerita-cerita aku yang lain, caranya sangat gampang kok. Tinggal baca aja di wattpad, username aku "unemiraille". Kalau udah baca dan tertarik tinggal in jejak ya. Sama kayak cerita ini, kalau tertarik tolong kasih reward aku dengan review kalian. Btw, cerita di Wattpad aku itu hampir semuanya cast utamanya Harry Styles! Hahaha... sumpah aku tergila-gila banget sama ntuh orang. Aku nulis ffn hanya di fandom Harry Potter aja, nulis di wattpad castnya Harry Styles, nama mama aku Herry. Aduh jangan-jangan aku berjodoh lagi sama Harry Styles. Hahaha... #abaikankalimatterakhir.
Kalau kalian suka aku lanjutin cerita ini, jangan lupa reviewnya ya... review kalian itulah yang bikin mood nulis aku ada. Soalnya kalau nggak ada review aku ngerasa nggak ada yang suka sama cerita aku. Jadi, mohon bantuannya ya kawan-kawan... 😘😘
Kalau mau merajut pertemanan, kalian bisa add line aku dengan id : unemiraille.
#tulisan ini dibuat saat kejengkelan menguasai hati.
Salam kasih,
Renee Miraille
