Anime/Manga » Naruto » Shinobi of Kuoh chapter 2
Author: syn fukai
Rated: M - Indonesian - Adventure/Romance
SHINOBI OF KUOH
Halo pembaca! Masih asing dengan saya? Jika begitu follow saja. Hahahaha. Oke! Namaku syn. Kali ini syn akan mencoba crossover Naruto dengan high school dxd.
Disclaimare
Naruto © Masashi Kishimoto
Perhatian : OOC, Typo, gaje, abal-abal, alur
tidak jelas maklum masih baru. Mohon maaf
bila banyak kesalahan.
"Egh" salah satu dari mereka sadar. Dia seorang gadis yang tergolong cantik.
Lalu diikuti yang lain juga mulai sadar. "Apa yang terjadi, tebayo?" Kata Naruto entah pada siapa.
"Entah-lah, ayo pergi" kata Shikamaru.
" ke mana?" Tanya Hinata. Tanpa mempedulikan Hinata mereka segera pergi tak tentu arah. Tentu Hinata kesal.
"Oi. TUNGGU!" teriak Hinata lalu menyusul mereka.
.
.
.
.
Hinata, sosok gadis baik hati, dan berbudi luhur. Dibalik semua kebaikannya ternyata gadis ini menyimpan kebencian terhadap Akatsuki. Berbeda dengan Naruto, Sasuke, dan Shikamaru yang memiliki ambisi balas dendam. Hinata lebih memilih menguburnya. Lalu kenapa Hinata membenci Akatsuki? "Karena Akatsuki yang telah membuat Naruto berubah" begitu kata Hinata.
Hinata sadar apa yang dilakukannya pada Naruto selama ini tidak wajar. Tapi hanya itu satu-satunya cara merebut perhatian Naruto. Hey, katakanlah Hinata tak sedikit pun membenci Naruto. Itu hanya alasan luar saja. Hinata jutsu bukan gadis yang kasar, suka, memukul, atau pun berkata kotor. Katakanlah itu hanya sandiwara saja.
Kenapa?
Hinata P.O.V
Flashback
Aku Hinata. Dari klan Hyuga. Katakanlah aku akan lemah. Aku tak menyangkal itu, tapi lemah bukan kehendak ku. Aku mengerti kenapa aku lemah, karena aku terlalu baik mungkin.
Hari ini adalah hari terburuk ku. Menjalankan misi bersama tiga shinobi berengsek. Ups.. maksudku shinobi aneh. Katakanlah Sasuke, aku bahkan tak tahu apakah dia bisa berbicara dengan normal. Lalu Shikamaru, apa-apaan menyebut ku merepotkan. Naruto juga, dia bahkan seakan tak peduli dengan ku.
Menyebalkan sekali! Aku tak tahu apa yang ku lakukan ini benar ataukah salah. Aku bersikap tegas, pasti benar. Mengganggu Naruto? Enyahlah! Aku tak tahu benar salahnya. Aku bukan membenci Naruto yang sekarang. Menurut ku dia tambah keren. Tapi dia jadi mirip Uchiha, sok tak peduli. Aku benci itu, aku benci dia tak melihat ku, aku hanya butuh dia melihat ku. Apa itu salah?
Selama ini yang aku lakukan hanya semua sebuah perhatian. Bodoh sekali ya. Hanya itu yang terlintas dalam pikiran ku, menurut dapat yang Naruto dulu pernah lakukan. Dengan bersikap tidak wajar, dan hey itu berhasil. Aku sudah dibalik gadis kasar sejak aku melakukan itu. Karena kepalang basah, mending sekalian mandi. Melakukan sesuatu tidak boleh setengah-setengah.
Oiya. Disinilah aku sekarang. Dalam misi yang diberikan nona Tsunade. Sudah ku dibawa sejak awal bahwa misi ini akan membosankan. Mereka bahkan tak bersuara sekecap pun. Ah ralat, tadi Naruto sudah adu mulut dengan ku. Tapi masak iya begitu saja.
Tiba-tiba Shikamaru berhenti. "Ada apa Shikamaru?" Tanya Naruto. Aku jutsu bertanya-tanya pada apa ini.
"Rencana"Sasuke berkata begitu.
Rencana? Rencana apa? Apa maksud Sasuke aku tidak tahu. Lalu kulihat Shikamaru menoleh ke arahku. Sial, mereka mau apakan aku. Ku alihkan pandangan ku mereka Sasuke dia tampak tersenyum seperti iblis. Tanpa sadar aku bergerak mundur. Lalu ada sebesar keanehan. Bagaimana tidak, bayangkan jika lapisan udara bisa seperti sobek. Maksutku benar-benar udara telah robek. Dalam robekan itu muncul naga, ya naga yang besar bersama merah. Naga itu langsung menyerang kami. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Saat aku sadar,aku sudah berada di suatu tempat yang aku tidak tahu di mana.
Flashback end
Ugh. Di mana aku? Kepalaku sedikit pusing. Ku edarkan pandangan ku, aku melihat mereka bertiga terkapar tidak jauh dari ku. Tapi, ini di mana? Apa yang terjadi?.
"Apa yang terjadi, tebayo?" Kata Naruto. Kau menurut perkataanku.
"Entahlah, ayo pergi" kata Shikamaru, ee?
" kemana?" Tanya tanyaku. Mereka tak pedulikan aku? Malang sekali nasib ku
"Oi. TUNGGU!" teriak ku lalu menyusul mereka.
Sekarang di sinilah aku. Masih bersama dua orang aneh dan satu lagi yang tak menganggap ku ada. Aku tidak tahu ini di nama. Yang jelas ini hutan yang lebat. Tapi, ini bukan hutan Konoha. Aku yakin ini bukan Konoha.
"Shikamaru! Dapat kita tersesat" aku bertanya pada Shikamaru. Mungkin dia tahu, dia akan pintar.
"Ya, dan sepertinya tak ada jalan kembali." Kata ada jalan kembali? Maksudnya apa?
"Maksudmu?" Aku bertanya lagi. Untung Shikamaru orang yang sabar, mungkin. Yang jelas beda sama mereka berdua yang tak peduli, dan Naruto tak peduli+kasar. Tapi aku suka.. stop. Apa yang ku pikirkan bodoh.
"Shikamaru?" Kataku lagi, karena dia sial saja.
Kulihat Shikamaru memandang ku sebentar lalu kembali melihat sekitar. "Ini bukan Konoha, maupun dunia shinobi" kata Shikamaru. Itu sangat mengejutkan. Bukan hanya aku, Naruto juga terkejut. Saauke sih kayaknya biasa saja.
"Jangan bercanda kau Shika" kata Naruto yang tak percaya sama seperti ku. Kita sehati Naruto, andai kau melihat ku seperti dulu. Huhh.. kenapa aku jadi memikirkan itu, sepertinya aku mulai rindu. Apa ini batas ku?
Tidak, selama Naruto belum memperhatikan ku, aku tidak akan menyerah. Aku hyuga Hinata bersumpah atas nama ayah Naruto.
"Ee, lalu kita di mana?" Tanya ku pada semuanya. Aku bingung dengan tutur aneh Shikamaru. Shikamaru menatap ku dengan pandangan aneh pula. Sebenarnya aku menyebalkan mereka tidak sih? Aku seperti orang asing di sini. Berbagai pikiran buruk menghantui ku. Katakanlah perasaan ku mulai tidak enak.
"Ini seperti.." ucapan Shikamaru ucapan menggantung. Membuat ku penasaran saja. Kulihat mereka berdua juga penasaran apa kata Shikamaru selanjutnya.
Lama sekali dia ngucapin penggalan katanya. Apa ini pertanda buruk? Oh. Jangan lagi! Kumohon kami-sama atau siapapun Engkau. Wajah Shikamaru semakin terlihat serius. Keringat dingin mulai keluar dari pelipis ku.
Naruto, dan Sasuke sepertinya juga merasakan perasaan buruk. Bisa kulihat dari wajahnya yang mulai memegang salah tidak begitu kentara. Angin sekitar kami seakan berhenti berembus. Tanpa sadar aku mulai termakan situasi ini. Katakanlah ini seperti saat kau menunggu putusan hakim saat kau disidang.
"Seperti." Ya ya. Katakan Shikamaru. Apa yang kau tahu. Lihat! Kini dia tampak berfikir merasa, dia memejamkan matanya. Kami semua tahu siapa Shikamaru. Dia anggota klan nara. Klan dengan kepintaran dan se-gudang informasi, serta kemampuan analisis yang memdekati sempurna.
"Tidak tahu" "APA?" Ucap ku dan Naruto. Setelah sekian kalau kami menunggu hanya itu yang di ucapkan? Sepertinya aku mulai ragu dengan kemampuan nya. Dasar rusa pemalas, apa-apaan wajah tak berdosa itu?
Kulihat Naruto juga seperti menahan amarah. " apa maksudmu rusa pemalas? Kau menggantung kan kalimat mu tapi tidak tahu?" Kata Naruto. Kau benar Naruto, aku setuju dengan mu. Dia itu sok keren saja. Saauke? Dia hanya diam dengan wajah sok cool itu. Dia pikir itu keren apa?
Aku ingin mencerca Shikamaru tapi pasti Naruto akan ikut campur. Dia pasangan satu tidak menguntungkan bahkan ku. Aku sangat yakin saauke tak akan membela ku. Iiihh kzl.
"Itu sudah tugas kita untuk mengumpulkan informasi. Hinata! Gunakan byakugan mu, dan lihat apa yang terjadi di sekitar sinis. Laporkan pada ku jika ada yang ganjil" apa maksudku memerintah ku rusa pemalas. Walau pun aku tidak suka akan tetap ku lakukan. Saat seperti ini egois bukan yang dibutuhkan.
"Byakugan" ku aktifkan kemampuan nara klan ku untuk mencari sesuatu yang mencurigakan. Ku edarkan pandangan ku mereka sekeliling hutan ini. Nihil, hutan ini normal. Tak ada yang ganjil sedikit pun. Sejauh ku memandang hanya ada pohon, dan pohon. "Itu?" Aku menamgkap sesuatu.
"Apa?" Tanya Shikamaru. "Seperti sebuah kota. Di arah jam dua." Kata ku yang melihat sebuah kota di arah jam dua. Kota itu menurut ku aneh. Selama aku hidup di Konoha tidak pernah aku menemukan kota seperti itu. Bangunan yang menjulang tinggi, dan berjajar.
"Kita ke sana." Kata Shikamaru lalu bergegas pergi diikuti Naruto kemudian Sasuke. Setidaknya ucapkan terima kasih. Sepertinya aku terlalu berharap. Aku pun melesat menyusul nya.
Dalam perjalanan mereka serangan membicarakan sesuatu. Mungkin sebuah rencananya yang tertunda. Awas jika mereka berniat aneh pada ku. Akan ku hajar mereka, tapi dengan apa? Mereka shinobi terkuat di Konoha. Tiba lawan satu tidak ada harapan menang. Aku mulai termakan sugesti negatif ku sendiri.
Tubuhku menegang. Lalu tanpa sadar tangan ku merogoh kantong ninja ku. Mengambil sebuah kunai untuk berjaga-jaga. Jika mereka menyerang aku akan memikirkan cara untuk kabur.
"Kita sudah semakin dekat. Aku bisa merasakan jawab kehidupan di depan sana" kata Naruto.
"Kita harus tetap waspada. Formasi gerbang besi" kata Shikamaru. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba melakukan formasi itu. Perasaan ku mulai kacau. Namun, aku tetap melakukannya. Aku mengurangi kecepatan dan menempatkan diri ku di garis paling belakang dengan byakugan yang aktif. Di depan ku ada Sasuke yang sigap dengan pedangnya. Lalu di barisan depan ada Naruto diikuti Shikamaru di depannya.
Jika formasi ini dibuat pasti keadaan sedang tidak baik. Lalu kami sampai pada pinggiran kota. Kami masih berada dalam hutan, berjarak 50 meter dari kota. Untuk yang kedua kalinya aku dibuat tak percaya oleh rusa pemalas itu. Katakan tak ada ancaman tadi, dan membuat formasi itu hanya buang-buang tenaga ku saja. Apa dia sengaja membuat ku lemah.
Ku alih kan pandangan ku ke depan. Tempat pada kota itu. Banyak orang berlalu lalang, dan pakaian mereka tergolong aneh menurutku. Aku dan yang lain masih mengawasi kota itu dari jauh. Kulihat Naruto sebentar lalu kembali fokus ke depan.
"Apa rencana mu, Shikamaru. Jangan mempermaikan kami lagi." Tanya Naruto sekalian mengancam.
"Tak ada cara lain. kita akan menyusup, dan kumpulkan informasi sekecil apa pun." Kata Shikamaru serius. 'Glek..' aku jadi degdegan.
"Kita bagi dua tim, dan kembali lagi ketempat ini sebelum matahari terbenam. Aku akan bersama Sasuke. MULAI"
"Eh? Hey tunggu" kata ku. Seenaknya saja dia pergi meninggalkan ku dengan rubah jelek ini. Tidak, sepertinya dia cukup tampan.
ARGHHHH! Bukan saat nya untuk itu.
Normal P.O.V
"Ku harap kau bisa bekerja dengan profesional, Hyuga." Kata Naruto.
"jangan meremehkan ku, Uzumaki" kata Hinata.
Sebelum mereka memulai aksinya, mereka melakukan henge. Hinata henge menirukan penampilan seorang gadis manis, dan lugu. Dia memakai baju kaos putih lengan pendek dibalut sebuah rompi berwarna biru muda, memakai rok selutut, dan sepatu biru kehitaman. Untuk rambut dibiarkan tergerai seperti biasa.
Lalu Naruto memakai pakaian sederhanya. Kaos putih dan jaket berhodi warna coklat tua serta celana pendek selutut warna hutan. Lalu sepatu boot coklat.
Setelah selesai dengan persiapan mereka berjalan santai keluar hutan. "Penampilan mu boleh juga" kata Naruto.
"Apa kau baru menyadarinya? Kata Hinata.
"Tidak" kata Naruto singkat. Tak ada jawaban. Dari Hinata. Karena memang tak ada yang bisa dijawab. Keheningan tercipta diantara mereka. Tak ada yang berniat memulai percakapan lagi.
Saat mereka sampai di tempat yang mereka tuju, seorang gadis menariknya dan membawanya mereka ke suatu tempat. Di sini mereka berakhir. Sebuah tempat berfoto bersama pasangan. Seperti potobox, tapi ini difoto oleh seseorang. Dan gadis tadi yang melakukan-nya. Tempat ini seperti taman.
Lalu mereka diminta melakukan beberapa pose seperti saat ini, di mana Naruto diminta untuk menutup kata Hinata dari belakang dengan menggunakan kedua tangannya. Dengan senyum tentunya, dan Hinata diminta pura-puar kaget dan tersenyum manis. Mereka melakukanya dengan baik karena tidak ingin ada yang curiga.
Masih ada beberapa pose lagi. Gadis itu menunjukkan sebuah foto. Bergambar seorang pemuda sedang tidur di pangkuan seorang gadis. Dan gadis itu tampak bahagia, terlihat sedang membelai rambut pemuda itu. Naruto, dan Hinata juga diminta melakukanya. Mereka sebelumnya enggan untuk itu. Tapi, mengingat misinya menyamar dan mengumpulkan informasi akhirnya mereka kau juga.
Masih banyak adegan yang mereka lakukan. Satu lagi contoh, Hinata memeluk Naruto dari belakang, dan meletakan dagunya pada pundak Naruto dengan ekspresi pilu, terlihat Naruto duduk di sebuah kursi kayu dengan kepala menunduk, ekspresi wajahnya adalah sedih sangat sedih. Percaya atau tidak Naruto dan Hinata melakukannya dengan baik.
Lalu siapakah gadis itu?
"Ano, kenapa kamu meminta kami melakukan ini?" Tanya Hinata dengan nara yang dibuat manis.
"Umm?" Gadis itu tampak berfikir, dan memiringkan kepalanya. Membuat kesan ikut di sana. Naruto menaikan sebelah alisnya, begitu juga Hinata.
"Kalian bisa menyebutnya fotogafer, hehe walau masih pemula." Jawab gadis itu dengan tawa malu-malu. "Ah iya. Perkenalkan nama ku Nami, Umiya Nami." Kata gadis itu memperkenalkan diri.
"Aku Hinata, Hyuga Hinata. Dan dia Naruto, Uz-" "Namikaze Naruto" potong Naruto cepat. Hinata malah bengong. Namikase, semua pasti tahu siapa Namikaze. 'Apa maksud rubah ini dengan Namikaze?' Batin Hinata.
"Akan ku ingat" kata gadis itu ceria. "Kalian bisa menemui ku lagi di sini besok untuk mengambil foto kalian. Kalian tak perlu bayar." Sambungnya.
" kami mengerti," jawab Hinata. Lalu bersiap pergi.
"Selamat berkencan" kata gadis tadi dari jarak beberapa meter. Naruto dan Hinata tidak menjawabnya dan terus melenggang pergi.
Naruto, dan Hinata saat ini telah berada di sebuah danau. Tempat ini sangat sepi sekali. Tak ada yang seorang pun di sini selain mereka berdua. "Bagimana menurutmu?" Tanya Naruto.
"Apanya" tanya Hinata bingung dengan pertanyaan ambigu dari Naruto.
"Yang tadi, kau pikir apa lagi?" Ucap Naruto menjelaskan.
"Menarik" jawab Hinata singkat. Naruto malah menaikkan sebelah alis nya. ' apa maksudnya menarik?' Hatinya Naruto heran.
"Hoi apa yang kau pikirkan?" Tanya Naruto.
"Informasi apa yang kau dapat?" Tanya Naruto lagi.
"Ee?" Kaget Hinata seolah menyadari kesalahan nya. "Ma-maksud ku tempat tadi menarik. Yaa begitulah.?" Jelas Hinata gugub 'sial, hampir saja' hatinya Hinata. Tak dipungkiri bahwa Hinata terbawa suasana.
Naruto hanya menaikkan sebelah alisnya. Heran dengan sikap gadis ini yang menurut nya "gadis aneh"
" apa kau bilang" ucap Hinata dengan kesal.
"Gadis aneh. Apa kau tuli, hah?" Kata Naruto memperburuk keadaan saja.
"Aku tidak aneh, dan aku tidak tuli," kata Hinata sarkastik.
"Terserah!"
Dengan kata itu Naruto mengakhiri pembicaraan. Terlihat Naruto rusuk di sebuah batu besar, dan Hinata di sampingnya. Jika dilihat dari belakang mereka seperti... yaa seperti itu.
"Naruto" panggil Hinata.
"Hm" jawab Naruto tanpa melihat Hinata.
"Kau ini menyebalkan sekali!" Kata Hinata mendorong Naruto hingga jatuh ke tanah.
"APA YANG KAU LAKUKAN GADIS ANEH?" Naruto berteriak di depan wajah Hinata.
Muncul perempatan siku-siku di pelipis Hinata. "JANGAN BERTERIAK DI DEPAN WAJAH KU, BODOH"
"Kau selalu saja cari gara-gara gadis aneh" kata Naruto. Nara amarah masih tersirat di setiap katanya.
"Kau yang mulai duluan" protes Hinata. Naruto hanya cengo.
'Lelucon apa ini? Jelas-jelas dia yang mendorong ku duluan' batin Naruto. "Jangan mulai deh, aku sedang tidak mood bertengkar denganmu, buang-buang tenaga saja." Kata Naruto kemudian.
"Ck" Hinata hanya berdecak tak suka 'menyerah juga kau' hatinya Hinata menyehringgai senang, berbanding terbalik dengan kenyataan nya.
"Ini sudah waktu yang ditentukan, kita kembali" kata Naruto memecah keheningan.
.
.
.
Sementara itu di tempat Shikamaru, dan Sasuke beberapa saat setelah mereka berpisah di hutan. Tampak mereka berada di sebuah taman tengah kota. Mereka sedang berpura-pura membicarakan sebuah bisnis. Saauke menyamar menjadi seorang pengusaha muda begitu juga Shikamaru. Saat ini mereka sedang mengawasi beberapa orang yang melintas. Mereka mempelajari apa saja yang dilakukan orang-orang di sini.
Lama waktu yang mereka gunakan hanya untuk duduk dan melihat. Atau hanya Sasuke yang duduk. Shikamaru membaringkan tubuh nya, dan hanya melihat awan. Sesekali Shikamaru menguap bosan, dan melirik orang-orang yang melintas.
Deg! tiba-tiba Sasuke menangkap sesuatu yang ganjil. Shikamaru menangkap perubahan saauke, lalu mengikuti arah pandang Sasuke. Dilihatnya seorang pemuda berambut coklat sedang mengobrol dengan seorang gadis cantik berambut hitam.
Saauke terus memperhatikan gadis itu. Gadis itu membuatnya tertarik rupanya. Bukan dalam artian sesungguhnya, Sasuke lebih tertarik oleh energi gadis itu. Tanpa sharingan pun Sasuke tahu kalau gadis itu berbeda dengan kebanyakan orang yang melintas.
Tidak hanya Sasuke, Shikamaru mati juga memandang curiga gadis itu. Pengalaman nya menjadi shinobi mampu melihat ekspresi palsu gadis itu. Walaupun tak sehebat Kakashi dalam membaca pikiran melalui sorot mata. Lagi pula, pengalaman nya sebagai shinobi membuatnya bisa merasakan energi semacam chakra jika dalam jarak dekat.
Shikamaru, dan Sasuke memutuskan mengikuti ke mana mereka pergi. Tantu dengan menekan chakra serendah mungkin. Mereka terus mengikuti sepasang kekasih itu. Sampai melupakan kedua temannya yang menunggu dalam hutan. Ini sudah melewati batas yang ditentukan. Sudah kepalang tanggung pikir mereka.
Setelah cukup lama mengikuti sepasang tibalah mereka di pusat taman. Terdapat airi mancur di pusat taman itu, dan di sanalah target mereka berada. Shikamaru, dan Sasuke berada tak jauh dari sepasang kekasih itu. Berdiri di salah satu cabang pohon yang besar, dan rimbun. Memungkinkan mereka bersembunyi secara sempurna. Taman sudah sepi karena ini telah larut malam.
.
.
.
Sementara itu di tempat Hinata, dan Naruto. Mereka tampak kesal karena Shikamaru, dan Sasuke belum juga kembali. Atau hanya Naruto yang kesal. Hinata terlihat gelisah, entahlah kenapa. "Hinata cari mereka" perintah Naruto.
"Ck, baiklah" "byakugan"
"Bagaimana?" Tanya Naruto.
"Mereka ada sana. Sepertinya mengawasi sesuatu" kata Hinata sambil menunjuk arah di mana Shikamaru dan Sasuke berada.
"Dasar" ucap Naruto sepertinya bisa memaklumi.
.
.
.
Kembali ke laptop. Shikamaru maksudnya.
Terlihat masih asik mengintai.
"Issei-kun!" Panggil gadis itu.
"Yaa, Yuuma-chan" jawab si pemuda terlihat senang.
"Maukah kau melakukan sesuatu untuk ku?" Ucap gadis itu lagi.
'Apa Yuuma-chan ingin berciuman. Hehehehehe kau sekali Yuuma-chan' batin Issei mesum.
"Yaa. Apapun akan ku lakukan" kata Issei.
"Maukah kau mati?" Kata gadis itu.
"A-apa?" Kaget Issei. ' apa maksudnya.
"Maukah kau mati untuk ku Issei" kata Yuuma menegaskan.
"A-aku.." belum sempat Issei menyelesaikan perkataan nya dia sudah dibuat shock oleh perubahan Yuuma.
Yuuma, sosok yang tadi tersenyum manis kini berubah menyehringgai. Terdapat sepasang sayap hitam di punggungnya. Bahkan pakaiannya tidak patut untuk dilihat analisis di bawah umur.
Lalu Yuuma melanyang di udara, dan menciptakan sebuah tombak dari cahaya kemudian melesatkan kearah Issei.
SYUUTT! JLEEBB!
Tombak itu menancap tepat di perut Issei. Issei tak mampu berkata apa-apa lagi. Tubuhnya sulit digerakan.
UOOGGHH!
Darah keluar dari mulutnya. Issei mencoba mencabut benda itu, tapi sebelum dapat disentuhnya benda itu telah lenyap.
"Menyenangkan sekali bermain sandiwara dengan orang seprtimu. Tapi sayang kau harus mati. Katakanlah kau akan jadi penghalang tuanku untuk mencapai tujuannya kelak"
Dengan itu Yuuma pergi dengan cara terbang. Shikamaru, dan Sasuke cukup terkejut dengan apa yang mereka lihat. Mereka hendak mendekati Issei yang sebelum itu terlaksana, sebuah lingkaran sihir berlambang grimori berwarna merah muncul di udara, dan menampakkan seorang gadis cantik berambut merancau panjang.
"Kau yang memanggil ku?" Kata gadis itu.
"Ri-Rias-senpai" itu menjadi kata terakhir Issei sebelum mati.
"Aku akan menghidupkanmu lagi, dengan satu syarat. Kau harus jadi budak ku" kata Rias. Tentu tak dapat jawaban.
Lalu Rias memulai upacara pembangkitan. Setelah selesai Rias akan membawa tubuh Issei pergi.
Sementara tempat Shikamaru, dan Sasuke. Shikamaru memberikan kode untuk pergi, dan dijawab anggukan Sasuke. Mereka lalu menghilang dengan shunshin.
Kembali pada Rias. Sebelum Rias membawa Issei pergi sepersekian detik dia merasakan energi asing lalu hilang seolah tak pernah ada.
'Aneh' batinnya. Lalu membuat lingkaran sihir, dan membawa pergi Issei.
.
.
.
Setelah kejadian tragis itu ter-lewat. Taman terlihat sepi dan sunyi. Darah bekas Issei pun menghilang begitu saja seolah kejadian tadi tak pernah terjadi. Lalu di sebuah air mancur muncul kilatan listrik dari air itu. Hanya sebentar lalu hilang.
.
.
.
Berpindah ke tempat Naruto dan Hinata berada. Shikamaru, dan Sasuke muncul di samping kanan dan kiri mereka(naruhina). "Apa yang kalian dapat?" Tanya Shikamaru setelahnya.
"Kau berbicara layaknya bos saja Shikamaru." Omel Naruto. Tapi tetap saja menjawab.
"Tak ada. Hanya manusia seperti warga sipil saja di sana. Mereka menggunakan alat yang lebih canggih dari Konoha. Kehidupan di sini tak jauh beda dengan Konoha. Makan, minumnya juga sama. Hanya pakaian saja yang berbeda. Tak ada yang aneh, semua normal kecuali benda-benda yang bergerak di jalan." Kata Naruto menjelaskan apa yang didapatnya.
"Sepertinya tidak. Dari yang ku dapatkan tak hanya warga sipil saja di sana. Seperti yang ku temukan tadi. Seorang manusia bersayap, dan manusia yang bisa membangkitkan orang mati dengan syarat dijadikan budaknya." Jelas Shikamaru. Mereka tak menyangka ada makhluk seperti itu.
"Jadi, siapa mereka?" Tanya Hinata yang penasaran.
"Belum ada informasi yang cukup mengenai siapa mereka. Kita akan dari tahu itu nanti." Jelas Shikamaru. SASUKE sejak tadi hanya diam mendengarkan. "Kita kembali ke tempat awal" kata Shikamaru lagi.
"Ya/hn/heh" begitu tanggapan mereka.
"Merepotkan"
Merekapun sudah berada pada tempat di nama mereka pertama lalu datang. Sebuah hamparan tanah berumput seperti lapangan sepak bola tengah hutan. Mereka mendirikan kemah di pinggiran tanah bisanya itu. Membuat api unggun, dan membuat semacam goa dari tanah dengan jutsu Shikamaru. Mereka tidur dalam goa itu. Tak lupa memasang jebakan di sekitar mereka untuk berjaga-jaga. Semua dilakukan oleh Shikamaru.
Tbc
Review
Sampai di sini jumpa kita.
Sampai jumpa lagi di chapter berikutnya.
