*LOVE OR MONEY* PART2
CAST:
kim minseok
xi luhan
kim jongin
oh sehun
.
.
ini memang pernah aku post di fb jadi jika ada yang pernah baca ini maka kalian memang benar. tapi sedikit pemberi tahuan mungkin ceritanya akan aku ubah sedikit hehehehehe
.
.
.
"ok kalian akan menyerah sekarang aku sudah menyiapkan semuanya "
sehun dan luhan memandang ngeri bando di tangan chanyeol
"ANDWEEEEEEE"
teriak mereka bersama.
.
.
.
.
.
'hyung kau mau ku antar pulang?"
moonkyu berdiri di belakang minseok yang sedang membersihkan meja. minseok kemudian membalikan badannya menghadap moonkyu, dan menatapnya curiga
"kau ingin mengatarku pulang pasti ada maunya kan?"
moonkyu yang di tatap pun jadi salah tingkah sendiri. melihat itu minseok tertawa terbahak bahak lalu merangkul pundak moonkyu.
"oh ayo lah moonkyu, aku tau apa yang sedang kau pikirkan saat ini. aku sih tak ada masalah kau mendekati jongin tapi dengan syarat jongin mau kau dekati "
moonkyu segera melepas rangkulan minseok dan beranjak pergi dari hadapan minseok, saat moonkyu berjalan menuju lantai 2 dia tak sengaja menabrak jongin membuatnya tersungkur ke lantai, moonkyu segera membantu jongin namun jongin segera menepis lengan moonkyu, moonkyu hanya tersenyun maklum dan berjongkok di depan jongin.
"tenanglah jongin aku tak akan melakukan apa apa padamu percayalah padaku."
PLETAK
minseok dengn seenak jidatnya memukul kepala moonkyu dengn nampan di tangnnya.
"apa yang kau lakukan pada dongsaengku?"
"tadi dia terjatuh dan aku ingin menolongnya"
"kau hanya beralasan kan "
"aku benar "
"AKU TAK PERCAYA PADAMU KIM MOONKYU"
"YA SUDAH BILA TAK PERCAYA, TAPI MEMANG ITU YANG TERJADI"
moonkyu menatap minseok tajam begitupun sebaliknya
"sudah hentikan, apa yang di katakan moonkyu benar hyung, dan lagi cepat lah ganti baju ini sudah terlalu malam hyung "
jongin pergi ke ruang karyawan. sedangkan moonkyu dan minseok hanya dapat diam mematung menatap punggung jongin yang kini sudah hilang di telan pintu(?).
"apa aku sedang bermimpi dan jika ini mimpi mohon jangan bangunkan aku "
ucap moonkyu.
"aku tak percaya ini. itu kalimat terpanjang yang jongin ucapkan, di tambah lagi dia berani berbicara di depan orang lain selain aku, luar biasa"
moonkyu dan minseok saling menatap dan tersenyum bahagia dan sedetik kemudian mereka saling berpelukan dan bersorak sorak, sampai ahirnya kegiatan itu mereka hentikan saat mereka melihat jongin sedang menatap mereka aneh.
.
.
.
minseok tak henti hentinya tersenyum di sepanjang jalan membuat mereka jadi pusat perhatian
"kau terlihat seperti orang gila hyung"
"biarkan saja aku gila jongin"
jongin menggelenggelengkan kepalanya.
"jongin saranghae"
minseok memeluk jongin hingga membuat jongin tersungkur, mereka berjalan dengan posisi yang tak mengenakkan bagi jongin karna pada dasarnya minseok terus memeluk lehernya dan tak mau melepasnya.
namun senyum di wajah minseok menghilang saat melihat pintu rumahnya sudah terbuka, minseok segera berbalik menghadap jongin.
"tunggu di sini jangan ke mana mana sebelum aku kembali kau mengerti jongin"
jongin hanya mengagguk mengerti, minseok segera melangkah masuk ke rumahnya.
BRUKK
PRANG
terdengar barang barang yang berjatuhan, minseok segera menatap pelaku perusakan rumahnya. di sana terdapat 4 orang namja ber tubuh kekar salah satu dari mereka mendekati minseok.
"kau baru pulang anak manis?"
namja itu menyentuh wajah minseok, dan minseok segera menepisnya semua namja itu bersorak kala melihat tingkah minseok
"ada apa?"
"aku ke mari hanya ingin menagih hutang"
"hutang aku tak pernah berhutang pada mu"
"bukan kau tapi appa mu, dia minum di tempat kami dan tak membayarnya jadi aku harus bagai mana?"
ucap namja itu berlagak sedih, minseok menatap tajam namja di depannya
"jika memang dia tak pernah membayar kenapa kau membiarkannya masuk"
"ini bisnis sayang"
minseok merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada namja itu.
"itu ambil dan cepat pergi dari sini"
"apa ini, ini kurang "
"itu pas aku memotongnya untuk membayar ganti rugi kerusakan barang barang yang kau rusakan di rumah ini"
namja itu menatap tak percaya pada minseok, dan sedetik kemudian tawa pun pecah namja itu memegang bahu minseok dan membisikkan sesuatu di telinga minseok
"aku dengar appa mu kalah berjudi kali ini dan yang aku dengar dia berhutang banyak pada bandarnya. jadi aku harap kau dan adik mu baik baik saja "
setelah itu mereka pergi begitu saja meninggalkan minseok yang mulai ber wajah pucat. minseok segera berlari menghampiri jongin dan menarik tangan jongin masuk ke rumahnya menghiraukan tatapan bertanya jongin.
jongin di tarik ke kamar mereka minseok mengambil kunci kamar mereka
"tidurlah jongin dan jangan lupa tutup telingamu"
mata jongin membulat dan hendak ke luar namun minseok segera menutup pintu itu dan menguncinya dari luar
"hyung minseok hyung"
"tidurlah tak apa apa jongin"
jongin terus menggedor pintu kamarnya sedangkan minseok hanya dapat menatap miris pintu kamar itu.
BRAKKK
pintu utama rumah minseok terdengar memekikkan telinga, gedoran di pintu kamar jongin berhenti seketika.
"sudah ku katakan untuk tidur"
minseok menghelan nafasnya, dan berbalik menghadap namja yang kini mendekatinya
"YAKK APA YANG KAU LAKUKAN MANA MAKANAN KENAPA KAU BELUM MENYIAPKANNYA"
minseok tak berbicara sama sekali dan segera memasakan makanan untuk sang appa. namja itu yang ternyata appa minseok menendang sebuah gelas hingga membentur dinding, minseok tak terganggu sama sekali dengan kelakuan appanya itu, tak lama kemudian makanan sudah siap dan minseok segera menatanya di meja makan, dan meletakkan sejumlah uang di mejanya, appanya meraih uang itu dan mengerutkan dahinya
"HANYA SEGINI? ?"
"itu karna tadi ada yang menagih ke mari dan lagi apa yang kau harapkan dari anak yang masih sekolah ini"
"SIAPA YANG MENYURUHMU SEKOLAH, KAU DAN ANAK ITU SAMA SELKALI TAK BERGUNA "
PLAK
BRUK
BRUK
appanya menampar pipi mulus minseok dan menendang minseok hingga tergeletak di lantai
"APA AKU HARUS BENAR BENAR MENJUALMU LAGI? ITU LEBIH MUDAH MENDAPATKAN UANG "
minseok memandang appanya, appanya tersenyum misterius, appanya mendekati kamar jongin mata minseok membulat seketika dengan sekuat tenaga minseok berdiri dan melangkah lalu berlutut di depan sang appa.
"kau boleh lakukan apapun padaku asal kau jangan menyentuh jongin "
"baik lah "
dengan sekali tarikan minseok di tarik ke luar rumahnya tanpa alas kaki, minseok hanya pasrah dan menerima perlakuan sang appa.
setelah lama berjalan kini minseok berada di sebuah tempat yang di yakini minseok adalah tempat perjudian, tubuh minseok di lempar ke lantai oleh sang appa
"kau membawanya lagi? wah sudah lama sekali aku tak melihat anak ini mungkin sudah 4 tahun yang lalu aku melihatnya "
seorang namja paruh baya mendekati minseok dan menangkup wajahnya
"apa yang kau lakukan pada wajahnya, sayang sekali kan wajah manisnya"
"sudah lah jangan banyak bicara, aku bertaruh memakai anak itu "
"baik lah"
minseok tak dapat berbuat apapun, tubuhnya sudah sangat lemeh akibat pukulan sang cukup lama seorang namja yang di yakini adalah pemilik tempat perjudian itu segera menarik tubuh minseok
"hati hati lah anak itu cukup galak"
peringat temannya.
"itu lebih mengasikan "
minseok di seret dan di bawa ke sebuah ruangan.
.
.
.
jongin duduk di balik pintu tubuhnya bergetar hebat, matanya memandang lurus ke depan bayang bayang appanya yang memukuli minseok terus menari nari di ingatannya. dan saat bayangan itu semakin jelas jongin merain knop pintu dan mengedornya dengan tempo yang lambat.
"minseok hyung. minseok hyung, kau di luar kan? jawab aku. aku mohon."
suara lirih jongin tak mendapatkan jawaban hanya hembusan angin yang menjawab pertanyaan dari jongin, jongin melipat kakinya dan menenggelamkan wajahnya di lipatan kakinya.
"minseok hyng "
hanya itu yang keluar dari bibir jongin hanya nama minseok.
.
.
.
minseok memakai bajunya dengan susah payah, namja paruh baya itu ber lutut di depan minseok
"perlu ku bantu manis"
namja itu meraih tangan minseok, minseok menghempaskan tangan itu
"tak perlu"
tolak minseok dingin.
"tak perlu segalak itu, maaf aku melukai wajah manis mu dan terimakasih untuk malam ini. aku tak sabar si kim itu menyerahkan anak bungsunya padaku"
mata minseok membola dan menatap namja di depannya ini.
"apa maksudmu?"
"kau tak perlu memandangku seperti itu, sebentar lagi kau dan adik mu pasti akan menjadi milikku"
"itu tak mungkin "
"kenapa tak mungkin sayang"
namja itu menyentuh wajah minseok yang terdapat banyak sekali memar. minseok kembali menghempaskan tangan namja itu, namja itu berdiri dan meraih selembar kertas dan meletakkannya di depan minseok yang masih duduk di ranjang. minseok meraih kertas itu dan mata minseok kembali membola
"orang itu benar benar gila "
"apa ini"
"itu hutang appa mu apa kau bisa membayarnya atau kau dan adik mu itu yang menyerahkan diri padaku kau tinggal memilihnya"
.
.
.
minseok berjalan tertatih dia terus menyusuri jalan dengan sesekali bersandar di dinding gang, nafasnya terengah engah pikirannya kelut, saat sampai di rumahnya dia menatap miris pada pintu kamarnya bersama jongin, minseok menyandarkan tubuhnya di balik pintu.
"jongin kau belum tidur?"
tak ada jawaban di sana, tapi minseok tau jongin belum tidur minseok sangat tau, perlahan minseok membuka kunci kamar, minseok tak mau jongin melihat keadaannya namun sayang baru saja minseok berdiri tubuhnya kembali terjatuh dan pandangnya menjadi gelap.
jongin yang menembunyikan wajahnya di lipaan kakinya, perlahan mendongkakkan kepalanya saat mendengar suara minseok, dengan tangan yang bergetar jongin membuka knop pintu kamarnya dan membukanya perlahan, jongin menegakkan tubuhnya dan saat pintu itu terbuka, hal pertama yang di lihat jongin adalah tubuh memar miseok yang tergeletak di lantai rumahnya yang dingin, jongin melangkahkan kakinya mendekati minseok dan menatap wajah miseok yang terlihat memar di beberapa bagian, dan hal itu membuat jongin menangis dalam diam, perlahan lahan jongin merebahkan tubuhnya di samping minseok dan menggenggam tangan minseok dan menutup matanya.
.
.
.
saat minseok membuka matanya dia melihat wajah jongin yang memegang tangnya dan tertidur di lantai rumahnya, minseok tersenyum dan mengelus rambut jongin
'apapun yang terjadi aku tak akan membiarkan mu terluka jongin' batin minseok.
minseok telah siap dengan seragamnya, dia terus bersenandung dan segera menarik jongin , jongin hanya menatap hyungnya yang sekarang berjalan di sampingnya senyum tak pernah pudar dari wajah manisnya yang terlihat aneh karna di sudut bibirnya terdapt memar dan pipi kirinya yang putih berubah menjadi ungu namun minseok bersikap seolah tek terjadi apapun.
minseok memasuki kelasnya dan seluruh teman sekelasnya menatap minseok
"ada apa kalian menatapku seperti itu?"
"kau kenapa minseok?"
"bayar aku jika kau ingin menerima jwaban ku satu pertanyaan 10.000won"
"kau gila kim minseok"
'ya sudah jika tak mau jangan bertanya padaku "
temanya itu mendengus kesal. minseok duduk di bangkunya
TUK
selembar uang terlempar dengan indah di meja minseok
"kau kenapa?"
pelakuna adalah namja yang duduk di depannya. minseok segera meraih uang itu
"aku terjatuh ketua kelas "
"terjatuh hingga segitunya?"
minseok menjulurkan telapak tangannya di depan kris.
"satu pertanyaan 10.000 won tuan wu "
kris meyerahkan selembar uang pada minseok
"aku jatuh dari lantai atas tempatku bekerja dan aku tertimpah kardus yang sangat berat hingga seperti ini"
"pembohong. kau selalu sering sekali terjatuh ,jika berbohong buatlah alasan yang logis kim minseok "
kris meletakkan 3 lembar uang di meja minseok
"itu untuk berobatmu "
minseok meraih uang itu dan mengembalikannya pada kris
"aku tak suka mendapat uang secara cuma cuma aku bukan pengemis kris "
kris tersenyum, kris selalu lupa pada sikap minseok yang satu ini.
luhan dan sehun baru saja datang mereka terlihat sangat frustasi karna chanyeol memberi mereka waktu 3 hari lagi untuk dapat membuat minseok dan jongin menjadi pacar mereka.
"ini gila apa yang harus kita lakukan hyung"
"aku pun sedang berpikir oh sehun "
"apa jadinya jika aku harus memakai pakayan yeoja, hancur sudah harga diriku"
"kau pikir hanya kau, bagai mana dengan setatusku sebagai same yang aku buat dengan susah payah akan hancur begitu saja"
tiba tiba saja dari arah belakang mereka muncul orang yang tak pernah ingin mereka lihat park chanyeol
"baik lah hyung saeng bagai mana kalian siap? satu bulan memakai pakayan yeoja ah aku sudah berbelanja banyak sekali asesoris yang menurutku kalian pasti pantas memakainya"
luhan dan sehun memandang chanyeol dan dalam hitungna detik mereka berdua berlari menyelamatkan fantasi mereka.
.
.
.
sehun mengatur nafasnya, ini gila bagai mana dia bisa menang dari chanyeol jika terus seperti ini, dan sehun benar benar penasaran ada apa dengan kim jongin, sehun meghelankan nafasnya dan melangkah menuju kelas jongin, semua murid kelas itu menatap sehun penuh kagum, langkahnya terhenti di bangku pojok belakang dan menatap seorang namja yang bila di perhatikan namja ii cukup manis.
"selamat pagi kim jongin "
"..."
tak ada jawaban dari jongi, jongin lebih sibuk dengan pikirannya dan memandang kepalan tangannya, sedangkan murid di kelas jongin berbisik bisik membicarakan jongin, tapi apa yang di lakukan jongi dia bersikap seolah olah hanya ada dia di ruangan tersebut, sehun jadi geram sendiri dan mencoba mendekati jongin dan duduk di samping jongin, aat bokongnya baru saja menyentuh bangku, jongin dengan santainya menegakkan tubuhnya dan beranjak pergi dari samping sehun, membuahkan erangan frustasi dari sehun.
"sialan sialan sialan"
.
.
.
luhan memandang namja yang kini sedang menghitung unagnya dengan serius senyum terulas dari bibirnya saat melihat minseok sedang menggerutu tentang sesuatu namun senyumnya hilang saat meliat kris menyentuh bahu minsok dan minseok tersenyum dengan tulus, kris pergi dari hadapan minseok. luhan segera menyembunyian tubuhnya agar tak keahuan oleh kris, saat kris melangkah ke luar kelas, luhan segera duduk di hadapan minseok , minseok terus mencatat dan menghitung uang yang ada di hadapannya.
"apa uang itu lebih menarik bagimu kim minseok '
"hem"
luhan memandang minseok dengan amarah yang luar biasa namja di hadapannya ini sudah membuatnya uring uringan ahir ahir ini.
"bagai mana jika kita berbisnis"
minseok mulai tertarik dan memandang wajah luhan , luhan sedikit mengerutkan dahinya saat melihat wajah minseok
"kenapa wajahmu?"
"satu pertanyaan 10.000 won tapi karna kau orang kaya satu pertanyan 20.000 won"
luhan mengedip ngedipkan matanya, minseok ini memang pintar mengubah sesuatu menjadi uang .
"jika kau tak mau membayarku aku tak akan menjawab pertanyaan mu"
"baik lah"
luhan merogoh sakunya dan menyerahkan 2 lembar uang
"aku terjatuh"
"hanya itu aku membayarmu 20ribu hanya itu yang kau ucapkan "
"hem "
minseok tersenyum manis di hadapan luhan membuat jantungnya berdebar sangat kencang
"jadi kau ingin berbisnis apa dengan ku?"
"jadilah pacarku aku akan membayarmu"
minseok tertawa terbahak bahak dan memandang luhan
"xi luhan tuan muda yang terhormat aku tak bisa melakukannya,cari lah orang lain"
minseok berdiri dan meninggalkan luhan di kelasnya
"kim minseok, kau benar benar membuat aku gila"
.
.
.
sehun kini sedang menatap namja yang sedari tadi dia ikuti, kini namja itu sedang bersama dengan seorang namja lainya mereka terlihat sangat akrab dan entah kenapa sehun merasakan sangat kesal melihatnya, kini sehun sedang duduk di cafe tempat jongin bekerja dan kini jongin sedang bersama dengan namja yang berdiri di depan kasir mereka terlihat sedang berbincang bincang meski hanya namja yang berada di depan kasir yang banyak berbicara, terkadang jongin akan tersenyum dan senyum itu tak pernah di lihat oleh sehun selama ini, sehun jadi semakin kesal dan memutuskan untuk pergi dari situ sebelum dia mengamuk di cafe.
sehun mendengus kesal dan menendang beberapa kerikil di hadapannya
"apa itu tadi dia benar benar ter senyum? bahkan dia tak pernah menunjukan ekspresi wajahnya di hadapan ku ini benar benar tak bisa di biarkan? aghhhh "
sehun mengacak acak rambutnya frustasi dan menendang ban mobilnya dan hasilnya kakinyalah yang terasa sakit, entahlah semenjak sehun berurusan dengan jongin akal sehatnya menjadi hilang.
.
.
.
jongin keluar dari cafe moonkyu, minseok segera pergi saat keluar dari cafe membuat jongin harus rela ulang kerumah seorang diri, dengan langkah kecil jongin sesekali menendang kerikil kerikil kecil dan mengembungkan pipinya, namun langkah jongin terheti saat melihat seorang namja yang mengganggu hidupnya ahir ahir ini tengah duduk di atas mobil mewahnya, jongin menghembuskan nafasnya dan berjalan melewati namja tersebut, namja itu mengikuti langkah jongin dari belakang .
"kau pasti lela karna bekerja seharian bagai mana jika aku mengantarmu pulang"
"..."
"kau tau udara malam hari sangat dingin, jadi aku bisa mengantarmu sampai rumahmu, kau mau"
"..."
"apa kau tak bisa berbicara kim jongin?"
"..."
"kau pasti bingung kenapa aku bisa tau namamu, kau beruntung biasanya aku tak pernah mau tau nama orang lain tapi kau mem,buat aku tertarik, kau membuat seorang oh sehun tertarik padamu kau tau aku oh sehun "
"..."
lagi lagi jongin tak merespon perkataan sehun bahkan jongin tak terusik sama sekali dengan pertanyaan pertanyaan sehun seakan akan sehun itu kasat mata dan pertanyaan pertanyaan sehun hanya di anggap binatang malam yang selalu berbunyi memekakkan telinga atau jangkrik
jongin menghentikan langkahnya da membuat sehun memandangnya penuh tanya dan sehun mengerutkan keningnya saat jongin mengambil sebuah batu dan melemparnya ke depan selah itu jongin menyisikan dirinya dan memasuki sebuah gang kecil di sana, sehun semakin aneh dengan tingkah jongin, apa yang anak itu lakukan.
GERRRRR
mata sehun membulat saat mendengar gereman seekor anjing yang cukup besar dan tak butuh waktu lama hingga aksi kejar kejaran terjadi, jongin keluar dari gang kecil itu dan kembali melangkahkan kakinya menuju rumahnya melangkah dengan pasti tanpa memikirkan nasib sehun selanjutnya.
.
.
.
minseok memasuki kelasnya dengan gontai lingkaran hitam di wajahnya terlihat sangat jelas sekali membuat beberapa orang memandang hawatir padanya
"kau tak apa apa minseok?"
"satu pertanyaan 10 ribu won"
"di saat seperti ini kau masih memikirkan uang kim minseok "
minseok hanya tersenyum lebar di hadapan temannya itu, minseok pun mendudukan tubuhnya di tempatnya dan sekotak susu tersimpan di mejanya
"minumlah kau terlihat tidak baik apa kau tak tidur semalam?"
"apa aku harus membayar ini jika aku meminumnya kris?"
" aku bukan kau minseok"
minseok hanya nyengair, namun kris jelas melihat ada beban yang berat di pundak minseok namun kris tak tau itu apa.
.
.
.
jam pelajaran telah berahir jongin menatap langit dan terus memikirkan sikap hayungnya yang aneh ahir ahir ini sangat aneh tadi pagi pagi sekali minseok pergi entah ke mana dan malam tadi hyungnya itu mengerjakan tugas yang jongin yakini bukan miliknya. jongin terus terlarut dalam pikirannya sampai tak sadar seorang namja kini telah berdiri di belakangnya , namja itu kemudian memegang pundak jongin membuat jongin ter lonjak kaget , jongin berdiri dan berbalik , saat itu lah jongin membulatkan matanaya saat sehun menangkup wajahnya
"bisakah kau tak mengacuhkan aku dan memandangku kim jongin "
tubuh jongin bergetar sangat hebat keringat dingin mulai meluncur di pelipisnya dan wajahnya tiba tiba berubah pucat,
"andwe"
dahi sehun mengerut saat kalimat itu meluncur dari bibir jongin
"andwe ... appa ... andwe"
nafasnya terengah engah sehun jadi hawatir akan kondisi jongin, jongin tiba tiba saja menjatuhkan dirinya di lantai tatapnnya menjadi kosong dan tangnnya menutup telinganya dia terus berguman tak jelas, sehun segera memeluk jongin
"kau ini kenapa ? tenang lah kim jongin "
"andwe appa andwe"
jongin terus memberontak di pelukan sehun, sehun yang melihat itu merasa miris bukan ini yang ingin dia lihat dari jongin sungguh bukan ini.
.
.
.
minseok mengacak rambutnya frustasi.
"ini belum cukup, apa yang harus aku lakukan aku bisa gila jika tetap separti ini jika aku dan jongin kabur mereka akan tetap mengejarku, kenapa harus jongin juga dasar berengsek"
minseok menenggelamkan wajahnya di kedua tanganya. kelas sudah kosong hanya tinggal dia di kelas itu.
"sepertinya luhan sedang mengincamu apa kau tak tertarik padanya?"
"dia ini anak tunggal dari keluarga terpandang apa kau tak tau ? bahkan kau bisa mendapatkan uang dengan mudah jika bersamanya"
"jadilah pacarku aku akan membayarmu"
kalimat kalimat itu tiba tiba saja muncul di benaknya, minseok menegakkan tubuhnya.
"haruskah aku melakukannya?"
minseok menutup matanya
CKLEK
pintu kelasnya terbuka dan muncullah seorang xi luhan.
"kau akan pulang?"
"10 juta won"
"apa?"
"apa kau mampu membayarku 10 juta won jika aku mau menjadi pacarmu?"
mata luhan membola senyum meremehkan terulas di wajahnya , luhan mendekati minseok dan memeluk pinggang minseok
"10 juta won , aku akan membayar mu 2 kali lipat jika kau mau tidur bersamaku?"
"kau sungguh sungguh ?"
"yah aku sungguh sungguh '
"baik lah jika itu yang kau mau, tapi aku hanya menerika uang cash "
luhan meraup bibir minseok kasar, entah kenapa luhan merasa sangat kecewa pada minseok, luhan sempat berpikir minseok adalah orang yang sangat berbeda namun nyatanya dia sama saja dengan namja atau yeoja yang mendekatinya karna kekayaannya, luhan merasa sangat kecewa, dia tak pernah se kecewa ini sebelumnya. entah kenapa hatinya sangat sakit. dan di lain pihak minseok merasa harga dirinya sudah tak sanggup lagi untuk di pertahankan , keadaan membuatnya harus melakukan ini,
'apapun akan aku lakuakn bahkan bila perlu aku harus terjun ke jurang pun akan aku lakukan untuk mu jongin '
minseok mengalungkan tangannya di leher luhan ciuman luhan terasa sangat kasar minseok kini sudah tak lagi perduli rasa sakit di tubuhnya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
TBC/END
ok ini hancur mohon jangan tabok saya, aku gak tau ah sama yang ini sepertinya hancur banget.
ok gomawo udah mau baca. dan jangan lupa RNR
