*LOVE OR MOEY* PART 3

CAST:

kim minsek

xi luhan

kim jongin

oh sehun

.

.

.

'apapun akan aku lakuakn bahkan bila perlu aku harus terjun ke jurang pun akan aku lakukan untuk mu jongin '

minseok mengalungkan tangannya di leher luhan ciuman luhan terasa sangat kasar minseok kini sudah tak lagi perduli rasa sakit di tubuhnya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.

luhan melepas ciumannya dan mendekatkan bibirnya di telinga minseok

"kau benar benar namja murahan rupanya"

luhan tersenyum mengejek,, sedangkan minseok hanya tersenyum tipis

"kau jelas tau itu tuan xi lalu apa yang kau harapkan dari namja sepertiku? cinta jangan bercanda bahkan aku tak pernah mau mengenal cinta bagiku uang adalah segalanya"

luhan menatap nyalang minseok entah kenapa luhan merasa sangat marah, luhan sendiri bingung bukan kali ini saja luhan berhadapan dengan namja seperti minseok namun hanya kali ini dia merasa sangat marah dan sangat kecewa.

"aku tak pernah mengharapkan cinta dari namja yang menghalalkan segala cara uantuk mendapat uang"

luhan memegang bahu minseok sangat keras dan berbisik di telinga minseok

"untuk kesenangan dirinya"

luhan mendorong tubuh minseok menjauh.

"kau tak berniat untuk kabur tanpa membayarku tuan xi?"

"aku tak sehina itu lagi pula 10 juta won terlalu mahal untuk namja seperti mu."

luhan melempar beberapa lembar uang di hadapan minseok, dan beranjak pergi dari hadapan minseok, namun langkah luhan terhenti di depan pintu dan memandang minseok yang sekarang ini telah memungut uang di lantai.

"hidup mu pasti sangat bahagia karna uang yang kau dapat "

"tentu saja hidupku sangat lah bahagia tuan xi"

luhan tersurut amarah dia menutup pintu dengan kasar

BRAKKK

minseok menghelankan nafas dan kembali mengambil uang yang di lempar luhan

"yah hidupku bahagia saking bahagianya aku tak dapat merasakan kebahagiaan itu sendiri "

minseok mendudukan dirinya di bangku dan meringis kesakitan pinggangnya benar benar sakit, luka yang di berikan sang appa belum sembuh namun luhan sudah menambah lukanya, minseok merasakan bibirnya berdarah, luhan terlalu kasar hingga membuat bibirnya berdarah,

"tak bisakah dia bersikap lembut padaku?"

minseok tersenyum miris

"kau bodoh minseok karna pada kenyataannya tak pernah ada yang akan bersikap lembbut pada mu, tak akan pernah"

minseok memandang uang yang ada di tangannya.

"kim minseok sekarang kau sudah terlihat seperti seorang pengemis"

minseokmerasakan kepalanya hampir pecah belum lagi sakit di tubuhnya dan hatinya lengkap sudah penderitaan seorang kim minseok, namun minseok selalu mencoba untuk tetap tenang dan tak menunjukan kesakitannya di depan semua orang terutama jongin.

minseok pun berdiri dari duduknya dan meninggalkan kelasnya, namun entah kenapa perasaanya tak enak, minseok buru buru berlari ke kelas jongin dan saat sampai di kelas jongin jantungnya berpacu kala mendengar teriakan jongin dengan hati hati minseok membuka pintu kelas jongin dan yang dia lihat adalah pemandangan yang tak pernah ingin minseok lihat.

minseok mendekati jongin dan seorang namja yang kini sedang sibuk menenangkan jongin, minseok memegang bahu namja itu, namja itu memandang minseok wajah namja itu agak sedikit memar dan minseok tau siapa pelakunya, minseok tersenyum pada namja itu yang ternyata sehun

"keluarlah biar aku yang atasi "

sehun hanya menggeleng

"aku mohon "

sehun masih dalam pendiriannya, minseok pun menarik sehun untuk ke luar dari kelas itu,

"percayalah padaku aku adalah hyungnya dan obati lukamu"

setelah itu minseok menutup pintu kelas jongin, bersyukur tak ada lagi murid lain karna memang mereka sudah pulang dari tadi.

minseok mulai mendekati jongin secara hati hati,

'jongine ini aku minseok hyung"

minseok memegang tangan jongin namun jongin menghempaskannya dengan kasar

"pergi . peri dariku jangan sentuh aku "

minseok menatap jongin, dia tak mau tak pernah mau melihat jongin kembali seperti ini

"ini aku minseok jongin"

"andweee pergi dariku"

jongin menangis sesegukan, minseok merasakan sakit di hatinya minseok selalu menjaga jongin agar tak menangis dan sekarang air mata itu mengalir di mata jongin, minseok lalu memeluk jongin namun jongin medorongnya hingga minseok menabrak sebuah meja, namun minseok tak menyerah kali ini minseok memeluk jongin erat dan air mata minseok mengalir begitu saja. jongin yang merasakan cairan bening itu menyentuh pipinya segera menghentikan gerakannya

"hyung"

"ku mohong jongin hikss jangan seperti ini hikss aku bisa gila bila seperti ini"

"mian hiks"

"aku tak sanggup melihat mu seperti ini hikss aku rela di pukuli appa setiap jam tapi hikss hyung mohon jangan seperti ini lagi jongin "

jongin membalas pelukan minseok.

"haruskah kita pergi ke tempat di mana tak akan ada orang yang menemukan kita hikss"

minseok memeluk jongin erat

"ketempat eomma berada"

di balik pintu sehun melihat adegan iu dengn jelas dan tanpa dia sadari air matanya mengalir, dan entah kenapa sehun merasa sangat menyesal dan ini kali pertama sehun merasa menyesal dan itu karna kim jongin.

di perjalanan pulang sehun menatap ke pergian dua saudara itu, minseok yang memiliki tubuh lebih kecil dari jongin merangkul bahu jongin dan jongin sendiri menyandarkan kepalanya di bahu kecil minseok. sehun mengerti setidaknya sedikit mengerti minseok dan jongin keduanya saling menyayangi dan sehun merasa sangat menesal karna sudah menjadikan jongin sebagai bahan taruhanya, dan sehun bertekad untuk mengahiri semuanya.

.

.

.

minseok duduk di pinggir ranjang dan mengelus rambut jongin yang kini telah terlelap dalam tidurnya

"apa yang terjadi hingga dia seperti itu?"

moonkyu berdiri di samping minseok dan menyerahkan segelas susu hangat. minseok menerimanya tanpa mengalihkan pandangnnya pada jongin.

"entah lah aku tak tau , jika dia mengingat hal itu dia selalu menyakiti dirinya sendiri dan aku tak pernah mau melihat hal itu moonkyu"

moonkyu menyentuh pundak minseok

"tenanglah hyung semua pasti akan berlalu dan segera obati lukamu, lukamu terlihat lebih parah dari biasanya"

minseok berdiri dan memberikan senyum terbaiknya pada moonkyu

"tak apa moonkyu. lagi pula sebentarlagi juga aku akan terluka lagi jadi untuk apa aku obati"

"tak bisakah kau pun tinggal di sini hyung?"

"kau ingin melihat appaku menghancurkan rumahmu? dia tak akan menyadari jika jongin tak ada di rumah "

"kau masih memanggilnya appa hyung"

"hanya sedikit berharap moon"

minseok segera pergi dari rumah monkyu .

moonkyu menatap wajah jongin yang terlihat sangat damai dalam tidurnya.

"kalian pasti akan mendapatkan kebahagiaan "

.

.

.

luhan, sehun, suho , chanyeol,dan kris kembali berkumpul di sudut kantin wajah chanyeol terlihat sangat kusut namun tak ada kata kata hinaan yang akan di lontarkan luhan setiap kali menang dan yang membuat semua terheran adalah sikap sehun yang tiba tiba jadi pendiam.

"kau sudah menang hyung tapi wajahmu kusut sekali" tanya chanyeol saat melihat wajah luhan

"yah aku tau yeol"

jawab luhan tanpa semangat suho dan chanyeol memandang aneh luhan

"kau kenapa lu?'"

"aku tak apa apa . dan kau bocah?"luhan menatap sehun lewat ekor matanya.

"aku menyerah"

kini semua di buat terkejut dengan pernyataan sehun , oh ayolah seorang oh sehun menyerah kata kata yang sakrl di sebut itu kini di ucapkan dengan lancar oleh sehun, sehun yang akan melakukan segala cara untuk menang kini menyerah sungguh luar biasa.

"kau tidak sakit kan ?"

chanyeol menyentuh kening sehun

"tidak dan sesuai kesepakatan kita mulai besok aku akan memakai seragan yeoja"

sehun meninggalkan hyung hyungnya yang menatap cengo kepergian sehun.

"apa semalam dia bertemu dengn UFO dan mahluk alien mencuci otaknya"

luhan dan suho memandang chanyeol malas

"kau percaya ada UFO, dan apa hubungannya sehun dan UFO"

suho menatap chanyeol

"tak tau"

suho menepuk jidatnya

"jika UFO memang ada pastinya dia akan menemuimu dan membawamu pulang"

kini giliran chanyeol yang memandang suho

"kenapa aku?'

"karna kau adalah salah satu mahluk alien yang terdampar di bumi"

chanyeol hanya cemberut dikatai seperti itu oleh suho

"park chanyeol aku tak akan menerima villa dan teraktiranmu itu dengan syarat kau lepaskan hukuman sehun!"

"kesepakatan di tolak hyung, aku lebih rela kehilangan villaku dari pada kehilangan moment langka ini"

luhan memandang chanyeol tajam

"kalo aku memberikan mobil sport terbaruku?"

"tak mau aku bisa membelinya sendiri"

"akan ku berikan kau studio"

"di rumahku sudah ada studio hyung"

"tiket ber libur ke luar negri"

"aku bisa minta pada appa"

kini wajah luhan mulai memerah sampai ke telinga dan memandang chanyeol tajam, dan jika tatapan bisa membunuh mungkin sekarang ini chanyol telah terkapar tak beryawa.

"baik lah baik lah hyung tapi hukumannya aku perringan jadi 1 hari bagai mana"

""KAU "

luhan berdiri dan menunjuk chanyeol. chanyeol hanya bersembunyi di balik punggung suho

"ya sudah jika hyung tak mau "

"BAIKLAH "

luhan kembali duduk dan chanyeol kembali pada posisi semula.

"seharusnya kau pun kalah , karna aku tau kau memakai uangkan untuk membujuknya menjadi pacarmu"

"tapi tak ada peraturan kan?'

"memang sih"

"apa itu yang membuat mood mu jelek lu?"

kini suho yang angkat bicara

"moodku jelek karna namja murahan itu, itu tak mungkin, namja yang rela melakukan segala hal untuk uang haruskah aku memberikan perhatianku padanya ? aku tak pernah menyukai namja sepertinya, wajahnya memang manis tapi tetap saja manusia hina seperti itu tak pernah cocok dengan ku"

TUUKK

semua mata memandang ke sumber suara kris sang pelaku meletakkan gelas dengn kasar dan memandang luhan tak suka, suho hanya menghembuskan nafasnya dia tau kini kris sedang marah.

"apa kau menyalahkan minseok dalam hal ini xi luhan? dari nada bicaramu seolah olah di sini minseok lah yang salah, apa salahnya hingga membuatmu mengatakan dia namja murahan?, apa kau merasa di kecewakan olehnya? kau merasa tak adil? apa kau tak berpikir luhan, kau yang mengawali semua, kau yang menjadikan minseok sebagai bahan taruhan apa kau tak memikirkan perasaannya? kau mengatai dia namja hina , kau tak berhak mengatakan itu jika kau tak menganal siapa itu minseok ,kau hanya mengenalnya sekilas luhan hanya SEKILAS"

kris segera beranjak pergi dari teman temannya, emosi luhan sudah ada di ubun ubun

BRAKKK

luhan menggebrak meja dan beranjak pergi dan kini hanya tinggal suho dan chanyeol.

"ada apa ini?'

"berpikirlah dengan otak bodoh mu park chanyeol , atau otak bodohmu pun sudah di curi UFO "

kini giliran suho yang meninggalkan chanyeol

"yakkk kenapa kalian meninggalkan ku lalu siapa yang mencuri otakku dan jangan panggil namaku lengkap dengn marganya"

.

.

.

minseok sedang asik berjalan namun tiba tiba langkahnya terhenti karna seorang yeoja berdiri di depannya.

"apa kau yang bernama kim minseok?"

"yah kenapa"

"kau benar benar tak tau diri"

"apa maksudmu?"

"maksudku"

yeoja itu menarik minseok ke mading yang ternayata banyak murid murid berkumpul di sana, yeoja itu menarik minseok tepat di depan mading, minseok tersenum kala melihat foto dia dan luhan kemarin terpampang indah di mading denagn hiasan tulisan "KIM MINSEOK MENJUAL DIRINYA PADA XI LUHAN" minseok memandang yeoja itu dengn senyum menawannya.

"lalu apa masalahnya dengnmu kau iri padaku?'

BRUKK

sebuah buku melayang ke arah minseok dan tepat mengenai kepala minseok,dan itu adalah awal dari lemparan lemparan berikutnya , minseok hanya diam menerima semua itu hingga sikap anarkis mereka di hentikan oleh seseorang.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN CEPAT BUBAR"

namja itu segera merapihkan seragam minseok dan segera meraih foto foto di mading itu namun tangannya di tahan oleh minseok.

"biarkan saja kris"

"kenapa?'

"aku akan memasang harga di mading itu jadi jika ada yang mau melihatnya mereka harus membayarnya aku bisa punya uang tambahan kan?"

kris tak menghiraukan ucapan minseok dan segera mencabut foto foto itu dan membuangnya begitu saja. kris menarik tangan minseok dan membawanya pergi dari sana

dan tanpa mereka sadari seorang namja melihat mereka dengan pandangan tak sukanya, dia menendang tempat sampah yang ada di depannya membuat semua orang memandangnya

"APA YANG KALIAN LIHAT?"

amuk luhan, luhan tak tau kenapa dia sampai semarah ini dan kini luhan tak tau apa yang terjadi dengn dirinya.

kris melepaskan genggaman tangnnya pada minseok

"harusnya kau tak menghentikan ku akukan bisa meminta ganti rugi pada mereka dan lagi aku bisa memnta uang untuk berobat pada mereka lalu"

"hentikan minseok ,berhentilah mengoceh tentang kerugian mu itu"

"tapi aku sungguh sungguh rugi"

"tapi liaht dirimu kenapa semakin hari kau semakin jelek"

" biarkan saja asal aku memiliki banyak uang"

"apa uang sangat utama untukmu?'

minseok mengangguk lucu

"sebenarnya berapa yang kau butuhkan minseok hingga kau bekerja larut malam, kemarin aku melihat kau sedang menjaga kedai tenagh malam."

"10 juta won aku membutuhkan uang 10 juta won"

"haruskah aku memberikannya padamu"

"aku tidak mau aku bukan pengemis, yah setidaknya agar kau tak menganggapku pengemis"

"jika kau mau aku akan meminjamkannya padamu "

"sungguh ? aku harus bagaimana membayarnya ?"

"mungkin mengajariku matematika, memberiku susu setiap pagi, mengerjakan tugas piketku atau mengerjakan prku"

"kau selalu membayarku mahal, itu memang yang selalu ku lakukan padamu kan "

minseok dan kris memasuki kelasnya dan seluruh isi kelas memandang minseok, minseok tak menghiraukannya dia segera duduk di kursinya

PUKK

sebuah kertas mengenai kepalaminseok dan minseok mengacuhkannya lalu segera mengambilbuku di tasnya

"YAKK KIM MINSEOK AMBIL ITU"

teriak seorang yeoja yang duduk di sebrang sana, minseok memandang yeoja itu lalu meraih kertas yang di lempar tadi minseok membuka dan senyumnya terulas di wajahnya.

"OK BAIKLAH"

jin namja yang duduk di depan minseok mengalihkan pandangannya pada minseok

"minseok kerjakan tugasku yah, hariini aku ada kencan tenang aku akan membayarmu 3 kali lipat"

"tak perlu, bayar aku seperti biasa"

kris tersenyum di depan minseok begitupun minseok. kalian ingin tau isi kertas

"tak perlu mendengarkan omongan mereka minseok ah jika mereka melakukan hal buruk padamu kami akan membelamu. dan lagi hari ini ada ujian jadi jangan lupa beri aku jawaban 1 jawaban 500 won kau setuju"

minseok kini merasa bersyukur memiliki teman sekelas seperti mereka meski minseok selalu memeras uang mereka.

.

.

.

sehun menatap kasihan pada minseok yang di lempar beberapa barang oleh teman teman sekolahnya, sehun yakin ada kesalah fahaman di sini dan saat sehun akan melangkah mendekati minseok matanya menangkap sosok namja yang membuatnya melakukan hal gila kim jongin, dan sehun yakin jongin pasti akan sedih jika melihat hyungnya di perlakukan seperti itu, sehun melangkahkan kakinya dan menarik dengan lembut pergelangan tangan jongin, awalnya jongin merasa takut namun sehun mencoba sebaik mungkin menyalurkan kasih sayangnya, dan itu cukup berhasil hingga membuat jongin mau mengikutinya.

sehun merebahkan dirinya di bukit belakang sekolah

"tenanglah aku tak akan melakukan apapun padamu "

jongin yang duduk di samping sehun menggigit bibirnya hingga bibirnya berdarah.

ada yang bertanya kenapa mereka bisa sampai di sini , tadi saat jongin akan pergi ke toilet tiba tiba dia mendengar keributan dan saat jongin akan menghampiri keributan itu seseorang menarik tangannya

"jangan lihat itu ayo kita pergi"

namja itu menarik jongin pergi dari sana dan membawa jongin ke tempat ini

"nikmatilah udara di sini jangan hanya memandang langit dari jendela kelasmu itu"

jongin memandang namja di sampingnya

"besok akan jadi hari yang sangat memalukan seumur hidupku"

sehun mulai menutup matanya dan jongin hanya menatap tanpa berniat berbicara, jongin merasa aneh pada dirinya sendiri rasa takut yang biasa muncul perlahan menghilang.

TBC/ END

ok jangan lupa RNR DAN gomawo udah mau baca