Aku Datang Untuk Mencintaimu

(Sequel Bunga Di Tepi Jalan)


Baekhyun sang Florist bertemu dengan Park Chanyeol, CEO dengan darah bangsawan yang kental mengalir di tubuhnya. Dan hidupnya yang selalu dipenuhi oleh kemuraman perlahan akan beubah menjadi cerah dan penuh warna./ "Baek, setelah kita percantik rumah kita, ayo ramaikan dengan cinta dan kasih kita!" – Chanyeol [ChanBaek Fiction/Shounen-ai/Marriage Life/Sequel Bunga Di Tepi Jalan]


.

.


Chanyeol memarkirkan kendaraan kebanggaannya di seberang toko bunga Sang Tunangan. Agenda hari ini adalah mengenalkan –lebih tepatnya membawa ke Acara Dinner- sosok manis Baekhyun pada keluarganya. Dia yang memang berprinsip masa bodoh akan tanggapan orang bersikeras menikahi pemuda manis itu.

Awalnya Sehun sedikit tidak rela, mengingat bahwa ketiga wanita yang tempo bulan mencaci kakak kesayangannya ternyata masih berkerabat dengan Chanyeol. Namun setelah memperhatikan perkembangan sikap – lebih tepatnya perjuangan – Chanyeol untuk Baekhyun, akhirnya Sehun berbalik menjadi pendukung utama hubungan Chanyeol dan juga Baekhyun.

Dirapihkannya blazer hitam yang kini membaut tubuh tegapnya. Seulas senyum tersemat begitu saja di paras rupawannya. Diraihnya paper bag dengan logo produk pakaian terkenal yang memang selalu dipakainya. Diseretnya kaki jangkung yang terbalut sempurna potongan celana jeans.

Ya, dia mengenakan pakaian semi formal kali ini. Tidak ingin membuat Baekhyun nantinya kaku karena kesan yang dibuat oleh Chanyeol sendiri. Wajah tampannya nampak berseri-seri setelah mengingat-ingat jawaban Baekhyun tatkala ia mengutarakan perasaannya tempo hari.

"Dan aku akan membalas semuanya dengan perasaanku yang selembut kelopak Mawar Putih[1], juga setenang Mawar Peach[2]"

Ah.. betapa pria bertubuh jangkung itu bersyukur pada Sang Kuasa, karena telah menciptakan sosok yang seindah calon 'istri'nya itu. Ugh, ia sedikit berdebar – meskipun rona kebahagiaan lebih mendominasi – tatkala membayangkan reaksi menggemaskan Baekhyun-nya.

Kini dirinya sudah berdiri dengan tegaknya di pintu masuk Flower Shop sang Kekasih. Tangannya terulur guna meraih handle, mencengkeramnya, dan mendorong pintu kaca tersebut pelan, kemudian memasuki tempat paling bersejarah bagi hidupnya.

Dan seulas senyum tampan kembali terukir ketika irisnya bersirobok dengan iris seindah bulan sabit milik sang tercinta,

"Hai, Mawar merah mudaku[3]" Sapa Chanyeol dengan penuh semangat.

Baekhyun yang tadinya disibukkan dengan buket yang akan ia hadiahkan untuk Sehun yang baru saja meraih nilai tertinggi di semester awal ia mengenyam pendidikan di bangku universitas langsung menoleh, dan menutup bibir tipisnya yang terbuka dengan tangan kirinya.

`Chanyeol?`

Chanyeol mengangguk, dan langsung menghampiri sang Pujaan. Diletakannya dengan perlahan mantel yang tadinya melekat di tubuh tegapnya. Pria tinggi itu mendudukkan dirinya tepat disamping Baekhyun setelah sebelumnya mengecup lembut dahi dan cherry merekah pria yang lebih mungil.

"Ada.. apa?" tanya Baekhyun masih dengan suara seraknya. Chanyeol yang mendengarnya pun hanya mampu menghela nafas pelan, mencoba memahami betapa kekasihnya itu berkorban berupa rasa sakit dan juga terbakar tepat di tenggorakannya.

"Mengunjungimu, sayang." Chanyeol tersenyum, "Dan sekaligus menjemputmu."

Baekhyun yang mendengar deret kata yang terakhir membulatkan matanya. Ya Tuhan, ia bahkan masih mengenakan kemeja putih dan denim berwarna cokelat muda, dan jangan lupakan apron yang khas dari tokonya.

Dengan cekatan ia menggerakan jemari lentiknya. Merangkai kata yang justru membuat pria tampan di sampingnya terkekeh. `Apa kau bercanda?`

"Tentu saja tidak." Chanyeol mengulum senyumnya, "Atau... jangan-jangan kau justru lupa, sayang?"

Baekhyun menggeleng keras mendengar pertanyaan Chanyeol. Ayolah, bahkan ia nyaris tidak tidur semalaman karena terlalu memikirkan pertemuannya dengan keluarga Chanyeol yang memang sejatinya sudah mereka rencanakan jauh-jauh hari. Hanya saja, yang membuatnya sedikit kesal adalah...

...Chanyeol menjemputnya tepat pukul 3 sore! Sedangkan seingatnya janji temu makan malam itu akan berlangsung dari pukul 7 malam!

`Aku bahkan belum bersiap, Daffodil[4] Man-ku`

Chanyeol tertawa kecil. Ia hanya mengusak lembut surai Baekhyun dengan penuh rasa sayang. Ia justru bangkit dan segera meraih jemari lentik sang terkasih, mengecupnya penuh perasaan dan membimbing Baekhyun agar beranjak dari posisinya. Didekatkannya bibir penuh miliknya pada telinga yang lebih mungil. Ia tersenyum sebelum mengecupnya dan berbisik,

"Kau tetap yang terbaik, sayang. Jangan khawatir."

Baekhyun hanya menghela nafasnya dan menuruti keinginan Chanyeol dengan bibir mengerucut, meskipun rona kemerahan menghiasi wajahnya. Ia melepas apron yang membelit tubuh ramping miliknya dan segera menuliskan sesuatu di notes yang bermotif bunga Cattleya[5].

Chanyeol menggeleng kecil dan berseru, memanggil salah satu karyawan yang tak lain dan tak bukan adalah sepupunya (FYI, Baekhyun memang merekrut dua karyawan tambahan seiring dengan Sehun yang jarang membantu karena kesibukannya sebagai mahasiswa). Detik berikutnya, muncul sesosok pemuda mungil dengan mata bulat yang khas.

"Soo-ya!"

"Ada apa, Yeol hyung?" tanyanya dengan malas.

Baekhyun tersenyum kecil. Ia menyerahkan notes yang sudah berisi catatan khusus dan diterima dengan wajah sumringah. Pemuda yang mendapat notes itu memeluk Baekhyun sekilas dan berteriak dengan riang.

"Tentu saja, hyung!"

Chanyeol langsung menarik Baekhyun guna memenuhi planning hari ini. Mereka melangkah mantap, meninggalkan toko bunga tersebut dengan dipenuhi rasa yang membuncah.


Aku Datang Untuk Mencintaimu

(Sequel Bunga Di Tepi Jalan)

Credit Pict : -IKOOP-

© Lala Maqfira a.k.a Shouda Shikaku^^

Genre : Romance, AU, A lil' bit Hurt

Recommended Song : Ungu – Aku Datang Untuk Mencintaimu


Pria bermarga Park yang duduk di kursi kemudi itu sesekali mengawasi sosok yang nampak gelisah disampingnya melalui sudut matanya. Terbersit rasa bersalah di hatinya ketika mendapati wajah pias calon 'istri'nya.

Baekhyun –pria yang gelisah- sedikit tersentak ketika ia mendapati mobil Chanyeol justru menepi. Ia mengalihkan fokusnya yang tadinya tertuju ke jalanan (ia ingin menghilangkan gugupnya) ke manik teduh pria di dekatnya, dan menghujamkan tatapan penuh tanya.

"Apa kau baik-baik saja, sayang?"

Baekhyun memejamkan matanya sejenak ketika mendapati pancaran tulus penuh kasih yang Chanyeol tujukan untuknya seorang. Belum lagi pria tampannya mulai mengikis jarak antara wajah keduanya , dan langsung mendaratkan bibirnya di bibir Baekhyun. Lumatan lembut yang diberikan oleh Chanyeol kian membuat Baekhyun terbuai dan terlena.

Chanyeol memiringkan wajahnya beberapa kali, memperdalam cumbuan yang kian terasa intim. Belum lagi Baekhyun yang mengulurkan jemarinya guna mengelus rahang kokoh Chanyeol, kemudian menangkupnya. Baekhyun sedikit melenguh ketika Chanyeol menghisap kuat bibir bawahnya.

Setelah dirasa Baekhyun cukup tenang, Chanyeol melepaskan kulumannya perlahan. Ia mengecup singkat bibir Baekhyun sebelum benar-benar menghentikan cumbuannya. Baekhyun membuka matanya dan kini irisnya bersinggungan dengan iris Chanyeol –lagi-

Pria yang lebih tinggi merogoh saku mantelnya, dan mengarahkan sesuatu yang diambilnya –yang ternyata adalah sebuah sapu tangan berwarna crimson- tepat di depan wajah Baekhyun. Meletakannya begitu saja di atas kepalan tangan kirinya, dan menggerakannya beberapa kali. Setelahnya, ia menarik kain tersebut–

Poof!

–muncul setangkai bunga Tulip Merah[6] dan menyerahkannya pada Baekhyun, membuat pria yang lebih mungil tersebut hanya mampu menutup mulutnya dan menatap Chanyeol dengan netra yang berembun. Sungguh, ia sangat terkejut dengan segala tindakan Chanyeol untuknya.

Baekhyun mengangguk penuh keyakinan, dan mengecup singkat bibir penuh Chanyeol. Entah mengapa tiba-tiba keinginan kuat untuk menjadi pendamping hidup Chanyeol muncul begitu saja di hatinya. Dan rasa itu kian menguat ketika diterima olehnya rangkaian Bunga Anggrek Merah[7] setelahnya.

Dan tak perlu membuang waktu, keduanya kembali melesat menuju mansion dimana Ayah dan Ibu Chanyeol tinggal.

.

.

.

Mansion Park, Nohwon, Seoul, South Korean; September 11th 2014, 05.00 PM (SKT)

Keduanya memasuki bangunan megah tersebut dengan tangan yang bertautan. Para maid yang memang sudah mengetahui akan kedatangan tuan mudanya –Chanyeol- beserta calon pendamping hidup Chanyeol segera membungkuk, menyambut calon raja dan ratu sehari itu dengan senyum ramah.

Chanyeol dan Baekhyun balas tersenyum, membungkuk sekilas dan melangkah menuju ruang makan yang ternyata sudah ditempati oleh keluarga besar Park. Tuan dan Nyonya Park yang tadinya larut dalam gurauan sepupu Chanyeol segera mengalihkan fokus perhatian mereka. Berdiri dari duduk masing-masing dan bergerak guna merengkuh tubuh Chanyeol dan juga Baekhyun. Dikecupnya dengan penuh kasih dahi dan puncak kepala pasangan yang baru menampakan batang hidungnya.

"Hai, sayang~! Akhirnya kalian datang juga!" sambut Tuan dan Nyonya Park.

"Ya, Eomma, kami datang." Chanyeol tersenyum lebar, "Dan maaf atas keterlambatan kami."

Chanyeol dan Baekhyun membungkukan badan mereka, memohon maaf. Dan Tuan serta Nyonya Park justru menggeleng dan kembali mendekap tubuh keduanya. Baekhyun yang memang sudah dekat dengan calon mertuanya itu hanya tersenyum namun terpaksa, menahan rasa bersalah tentunya.

Dan di deretan sebelah kanan ada tiga pasang mata yang menatap tajam kearah Baekhyun. Karena, mereka tahu siapa Baekhyun.

'Sial! Kenapa makhluk pembawa sial itu bersama dengan Chanyeol'

'Haish! Aku muak melihat wajah sok polosnya!'

'Ada apa dengan acara ini?'

Suara-suara tersebut seakan bersahutan meskipun hanya melalui batin. Tiga sosok wanita yang berbalutkan gaun mahal karya perancang ternama negeri ginseng tersebut hanya mampu memasang ekspresi datar yang sedatar-datarnya. Bagaimanapun mereka sebisa mungkin untuk tidak gegabah mengingat bahwa sang empunya acara kali ini memang tidak mentolerir siapapun yang mengusik keluarganya.

Tunggu..

'Apa-apaan ini? Jangan bilang jika–'

"Apakah dia calon pendamping Chanyeol?"

Suara ketiganya membuat Chanyeol menoleh dan menghadiahkan tatapan yang tak terbaca. Ia memang tahu betul jika ketiga bibinya itu lah yang memang menghina Baekhyun beberapa waktu yang lalu. Berbeda dengan Tuan dan Nyonya Park yang justru menjawab pertanyaan itu dengan antusias. Mereka memang belum mengetahui kebusukan tiga wanita tersebut sebenarnya.

Baekhyun kembali tersenyum. Bagaimanapun ia sudah pernah menghadapi cercaan dari mereka. Dan yang lebih miris dari keluarga–

–ah.. Baekhyun merindukan kehangatan anggota keluarga Byun padanya.

Suasana yang tadinya tidak karuan berubah riuh ketika Tuan dan Nyonya Park menggoda Baekhyun. Mereka tahu jika Baekhyun memang tidak sempurna –yang sebenarnya bisa sembuh

dengan jalan operasi– meskipun membutuhkan waktu yang lama (untuk terapi lanjutan pasca operasi).

Tapi, di balik itu semua ada sebuncah harapan yang membuat orang tua Chanyeol bahagia dan percaya. Baekhyun ternyata salah satu dari kesekian orang yang diberi keajaiban oleh Tuhan. Ya, dia bisa mengalami Male Pregnant.

"Baekhyunie... jangan lupa seminggu yang akan datang kita akan mulai bersiap." Tuan Park mulai menunjukan raut serius. "Dan Abeoji tidak ingin kau terlalu lelah, sayang."

Baekhyun mengangguk. Diletakannya garpu dan pisau yang berada di genggamannya. Jemarinya dengan lincah bergerak, membentuk rangkaian kata yang sukses membuat Nyonya Park menatapnya dengan air mta haru dan bibir yang terulas senyum tulus.

`Tentu saja, Abeoji. Bagaimana pun juga Abeoji ayahku juga, begitu pula dengan Eomonim. Dan keluarga Chanyeol adalah keluargaku juga `

Chanyeol yang melihatnya tersenyum hangat dan mendaratkan bibir penuhnya di puncak kepala Baekhyun.

"Kau yang terbaik, sayang."

Baekhyun tersenyum amat manis mendengar pujian Chanyeol. "Dan kau pun begitu, Chanyeol"

.

.

.

Cathedral Myeong–dong, Seoul, South Korean; September 25th 2014; 08.00 AM (SKT)

Acara pemberkatan akan dimulai. Nampak pria jangkung yang berperan sebagai pihak 'menunggu' di altar tengah menggerakan kakinya kesana kemari. Bermaksud menghilangkan –minimal mengurangi– rasa gugup di hatinya.

Wajah rupawannya nampak tegang. Baginya ini bahkan lebih menyeramkan dibandingkan dengan presentasi pertamanya dulu. Karena, ia akan mengucapkan janji sehidup–semati dengan yang terkasih dihadapan ratusan pasang mata dan yang paling utama tentu saja di hadapan Sang Kuasa.

Peluh dingin meluncur begitu saja di pelipisnya. Bahkan membuat Kyungsoo berulang kali mengomel karena membuat make up tipis yang disapukan di wajahnya sedikit berantakan.

"Hyung! Rileks saja!" gerutunya. "Aku memang tidak tahu bagaimana gugupnya menjadi seseorang yang akan di ikat oleh ikatan sakral. Tapi setidaknya hargai aku yang sudah memoles wajahmu"

Chanyeol yang mendengar omelan sepupunya itu hanya tersenyum kaku. Ia mulai merasa bersalah. Ya, ia akui ini adalah kesekian kalinya Kyungsoo memperbaiki tatanan make up di wajahnya.

"Ah, maafkan aku, Soo–ya.."

Kyungsoo mengangguk. Dengan cekatan ia kembali memperbaiki penampilan Chanyeol yang tadinya terlihat 'agak' kusut. Diliriknya arloji yang melingkar di lengan mulusnya. Dan ia nyaris terpekik ketika melihat waktu yang ditunjukan oleh benda yang berhiaskan swaroski tersebut.

"Hyung! Acara akan segera dimulai!"

Chanyeol membulatkan matanya terkejut. Dengan kalang kabut ia mulai mencari bunga yang seharusnya sudah tersemat rapi di tuksedo yang membalut tubuh atletisnya. Dan di tengah rasa frustasinya, muncul sosok Jongin dengan setangkai Bunga Anggrek Lavender[8] yang pada kenyataanya tidak lazim digunakan dalam acara–acara seperti ini.

"Anda pasti bisa, sajangnim." Ucapnya tulus sembari melingkarkan lengannya di pinggang ramping Kyungsoo.

"Terima kasih banyak, Kim Kwajangnim."

Well, sedikit informasi...

..Jongin –bernama lengkap Kim Jongin atau Kim Kwajangnim– yang menduduki jabatan sebagai seorang General Manager di perusahan yang Chanyeol pimpin adalah tunangan Do Kyungsoo. Yeah, dunia memang terasa sempit.

"Dengan senang hati, sajangnim."

Chanyeol tersenyum lega. Ia menarik kerah tuxedo yang dikenakannya, menepuk halus bagian bahu, dan memperhatikan dengan seksama apakah ada sedikit 'hal' yang bisa membuatnya terlihat buruk. Dan yang pasti, ia memantapkan hati dan pikirannya.

Sementara itu..

Di ruangan lain, nampak Baekhyun yang sedang termenung. Ia baru saja selesai mengikuti proses penataan wajah dan rambut oleh kakak iparnya. Siapa lagi jika bukan Yixing –istri Byun Joonmyeon; Kakak kedua Baekhyun– yang datang jauh-jauh dari Changsa guna menghadiri acara sakral nan bersejarah bagi adik kecilnya.

Sebenarnya bukan hanya Sehun yang perhatian pada Baekhyun. Ada juga Joonmyeon dan Yixing yang bahkan sempat berniat untuk membawa pergi Baekhyun karena tak tahan mendengar perlakuan ibu dan kakak tertuanya (jangan lupakan paman, bibi, bahkan kakek dan nenek mereka) yang seakan-akan menyatakan bahwa kematian Tuan Byun disebabkan oleh Baekhyun.

"Baekhyunie~ sekarang kau akan menikah. Hyung teramat bahagia, sayang. Akan ada seseorang yang menjagamu secara lahir maupun batin.."

Baekhyun kembali tersenyum. Ia benar-benar menyayangi Hyungnya ini. Walaupun ia hanya seorang kakak ipar, tapi ia sangat mengasihi Baekhyun layaknya kakak kandung, bahkan perlakuannya selama ini terkesan seperti ibunya.

"Aku sayang, Hyung" bisik Baekhyun.

Ruangan yang temaram membuat suasana yang ada kian menghanyutkan. Samar terdengar gemerisik angin dari jendela yang tertutup. Pendaran cahaya mentari yang masuk melalui celah ventilasi kian membuat Baekhyun merasa tenang.

Sejujurnya sebelum Yixing datang ia teramat gugup. Bahkan nyaris saja ia memenuhi ide konyol yang entah mengapa muncul di pikarannya. Haha.. ia nyaris ingin kabur saking keminiman kemampuannya sendiri dalam mengontrol diri.

Iris bulan sabitnya yang sempat terpejam perlahan terbuka. Pancaran luka perlahan tergantikan oleh binar kebahagiaan. Dan setelah memakan waktu yang sedikit lama, ia menangkap refleksi tubuh Joonmyeon yang berdiri di ambang pintu ruangan yang ia gunakan. Ah, wajah yang mewarisi kerupawanan Ayahnya itu terlihat sumringah.

"Baekhyunie.. ayo kita berangkat. Dalam dua menit mendatang akan mencapai tahap utama dalam acara ini.."

Baekhyun mengangguk. Ia mulai beranjak dari posisi awalnya, dan meraih sebuket Carnation berwarna solid[9] dan Carnation Putih[10] yang terlihat amat mengesankan. Ia melangkah mendekati Joonmyeon, mengaitkan lengannya dan memberi tatapan tulus dan hangat.

"Ya. Ayo, Hyung!"

.

.

.

"Ya, saya bersedia"

"Ya, saya bersedia"

Jawaban yang terlontar dengan lancarnya di bibir masing-masing membuat para hadirin tercekat. Dan tak berapa lama kemudian, keadaan langsung berubah ramai karena tamu undangan sibuk menjerit dan bersiul ketika pasangan anak Adam tersebut dipersilahkan untuk saling menyalurkan perasaan melalui tautan bibir.

Chanyeol tersenyum. Dia menghapus jejak saliva yang tertinggal di sudut bibir Baekhyun dengan ibu jarinya.

Kini keduanya tengah sibuk dengan obrolan dan sapaan dari para undangan. Binar dan aura yang terpancar membuat siapapun yang melihatnya tersenyum bahagia. Waktu terus berlalu dan kini ternyata telah memasuki waktu malam. Chanyeol pamit untuk segera menghampiri koleganya yang jauh-jauh datang dari Kazakhstan, dan meninggalkan Baekhyun yang kelelahan di salah satu meja yang ada didekat posisi mereka sebelumya.

Baekhyun memainkan kain yang menjadi alas vas krystal yang berisi Daisy Orange[11]. Ugh.. ia jadi ingat masa-masa pendekatan Chanyeol kepadanya. Dan yang terakhir adalah ketika ia berkunjung ke mansion beberapa waktu yang lalu.

Aktifitas randomnya terhenti ketika irisnya menangkap sosok tiga orang wanita yang menatapnya angkuh. Oh, bersiaplah Baek!

"Cih, selera Chanyeol buruk sekali." Bibi Bae yang pertama kali membuka suara.

Bibirnya yang berlapis dengan gincu merah menyala nan tebal mulai merapalkan berjumput kata yang membuat Baekhyun hanya tersenyum ikhlas dan pasrah. Jemari lentiknya saling bertaut, seiring dengan hujaman-hujaman belati tak kasat mata yang sukses mendarat di hatinya.

"Dengar, Baekhyun! Kami tidak akan pernah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga Park!" kali ini Bibi Moon lah yang angkat bicara.

"Apa hak kalian?"

Suara berat yang terdengar mengancam –atau mungkin intimidasi– menginterupsi recokan tak berarti ketiga nyonya kurang kerjaan di hadapan Baekhyun. Dengan takut-takut, satu persatu dari mereka mulai membalikan tubuh masing-masing.

`gulp`

"Oh, Chanyeol-a.. kami harus pergi, sayang. Selamat atas pernikahanmu~"

Chanyeol tersenyum miring. Ia tahu jika ketiga wanita itu tak ubahnya sekelompok penjilat yang hobi memojokan orang lain dan penuh dengan kebohongan.

Tanpa komando, diraihnya tubuh ringkih Baekhyun, dan menggendongnya ala Bridal Style. Ia pribadi sudah tak sabar untuk menghabiska malamnya dengan sang 'Istri' tercinta. Mengingat status mereka kali ini kontan saja membuat baik Chanyeol maupun Baekhyun tertunduk malu.

Chanyeol melajukan kuda jingkraknya menjauhi area resepsi yang mulai sepi. Para tamu yang tersisa memaklumi atas tindak tanduk Chanyeol sekarang ini. Yeah, pengantin baru.

.

.

.

Keduanya tengah menghabiskan waktu di tengah ranjang. Chanyeol memainkan poni Baekhyun dan sesekali menghela nafas karena mendapati Baekhyun melamun.

"Hyeonie.." panggilnya lembut. "Kenapa, sayang?"

Baekhyun menggeleng. ia justru menatap Chanyeol dengan wajah lugunya. "Gwaenchana".

"Ini pasti ada hubungannya dengan Bibi Bae, Bibi Moon dan Bibi Ahn, bukan?"

Baekhyun terdiam, dan menggigit bibir bawahnya pelan. Membuat Chanyeol mati-matian meredam amarahnya. Ia harunsnya tahu jika mulut tak bermoral adik dan kakak Ayahnya itu memang harus di hentikan.

Chanyeol menepis topik yang mulai meracuni otaknya tersebut. Dia memilih untuk mengeratkan rengkuhannya, dan mengecup bibir basah Baekhyun–nya.

"Hyeoni, my sweet love. Dengarkan aku!" Chanyeol mulai berecerita, guna meyakinkan hati Baekhyun bahwa semua kan baik-baik saja. "Dengarkan aku. Dengan setulus hatiku, segenap jiwa dan ragaku, dan seikhlas perasaanku.. Aku ingin membebaskan belengu dari orang-orang yang menyakitimu.." Chanyeol mengecup lembut dahi pria mungil di rengkuhannya. "Dan akan aku bawa kau ke istana surgaku, serta menjauhkan segala siksa yang membuatmu tak berdaya.."

Baekhyun hanya mampu mengangguk, menahan rasa perih yang bisa saja terlampiaskan melalui isakannya. Bulir penuh luka terus meluncur dari pelupuk matanya.

Perlahan tangannya yang sedari tadi bertautan erat di balik punggung sang belahan jiwa, terlepas dan mulai bergerak, merefleksikan deretan kata yang membuat Chanyeol menahan rasa haru.

`Aku tau, Yeollie. Aku tahu. Dan aku juga akan berusaha untuk membantumu berjuang atas diriku sendiri.`

Baekhyun tersenyum ditengah tangis bahagianya, dan kembali merapal dan merangkai deretan kata hingga berubah menjadi kalimat dengan bantuan jemarinya.

`Terimakasih atas segalanya. Kau adalah sosok pangeran dengan hati yang mulia, dan perasaan yang suci dan bersih.`

Chanyeol mendekatkan wajahnya, dan mengecup sayang bibir tipis Baekhyun.

"Aku mencintamu, Istriku.."

Baekhyun mengangguk.

'Aku juga mencintamu, Suamiku.. Dengan sepenuh hati dan jiwa..'

Keduanya saling menatap penuh cinta sebelum akhirnya terlelap.

.

.

.

The End?

.

.

.

Baekhyun tengah membenahi beberap perlengkapan di tokonya. Satu minggu terakhir tempat yang memiliki nilai kenangan yang tinggi ini ramai pengunjung. Wajah manisnya yang dipenuhi oleh peluh nampak tidak terpengaruh.

Sementara itu, berjarak lima langkah darinya ada sesosok anak kecil –berusia ± 2 tahun– yang sibuk dengan dua tangkai Mawar Ungu[12] dan plastik khusus untuk menghias.

Surai berwarna raven miliknya sesekali terhempas begitu saja ketika pintu toko terbuka. Wajah tampannya yang diturunkan oleh sang Ayah nampak berbinar.

"Umma~~"

Suara riang khas anak kecil miliknya membuat Baekhyun menghentikan pekerjaannya. Ia memilih untuk menghampiri anak tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah buah cintanya dengan sang suami, siapa lagi jika bukan Park Chanyeol.

"Ada apa, Chanhyunie?" suara merdunya berdengung lembut. (Baekhyun sudah sembuh, ngomong–ngomong).

Anak yang ternyata bernama Chanhyun –Park Chanhyun– itu hanya tersenyum, memamerkan gigi susunya yang belum tumbuh sempurna dan mata bulan sabitnya yang melengkung indah.

"Appa, eodiseo?" tanyanya dengan raut wajah yang lucu.

Baekhyun yang gemas mengecup pipi sang buah hati. Ia baru akan menjawab pertanyaan putranya itu, namun terhenti ketika suara berat seseorang menginterupsinya.

"Anyeong~"

Chanhyun bertepuk tangan. Ia girang bukan kepalang ketika melihat sosok Ayahnya yang masih mengenakan seragam kerjanya.

"Waseyeo, Appa~"

Chanyeol tersenyum. ia mendekati anak 'istri'nya, meraihnya dalam dekapan hangan dan mengecup lembut dahi masing-masing.

"Bagaimana harimu, yeobeo?" tanya Baekhyun sembari mengelus dasi yang melingkari leher Chanyeol.

"Seperti biasa. Dan bagaimana denganmu dan Chanhyun?"

Chanhyun yang mendengarnya terlonjak di gendongan sang Ibu. Ia mencium pipi Baekhyun dan Chanyeol bergantian.

"Appa~ hari Chanhyun menyangkan! Umma mengajari Chanhyun tentang bunga~"

"Benarkah?"

Chanhyun mengangguk. Ia meronta –meminta turun– dan tentu saja diturui oleh Baekhyun. Ia pun meninggalkan orang tuanya yang terdiam di dekat meja kasir.

"Apa kau sudah siap?" tanya Chanyeol sembari mengelus pipi Baekhyun yang mulai berisi.

"Tentu saja. Apalagi Umma sudah menghubungi kami sepuluh menit yang lalu."

Chanyeol menyunggingkan senyum tipis. Ia mengecup singkat bibir sang belahan hati sebelum akhirnya berbisik tepat di depan wajah Baekhyun. "Terima kasih sayang.. atas kado yang kau berikan di hari spesial kita." Ujarnya sembari mengelus lembut perut Baekhyun.

Ya, Chanhyun akan memiliki seorang adik, yang tentu saja membuat Chanyeol dan Baekhyun teramat bersyukur. Belum lagi respon keluarga Byun yang menyambut suka cita akan hadirnya anggota baru keluarga mereka.

Chanyeol, Baekhyun dan Chanhyun memang akan menghadiri acara yang akan di adakan di kediaman Ibu Baekhyun. Anggap saja pesta penyambutan calon adik Chanhyun.

"Umma~ Appa~"

Keduanya menoleh, dan mendapati Chanhyun yang menyodorkan tangkai bunga yang tadi dihiasnya sendiri.

"Ini untuk Umma dan Appa." Ucapnya polos. "Mianhae, kalau buatan Chanhyun tidak sebagus buatan Umma.."

Baekhyun menatap wajah tampan anaknya dengan berkaca-kaca. Ia sungguh tak menyangka jika anaknya yang tadi bersikeras belajar merangkai ternyata menyiapkan hadiah untuknya. Dipeluknya tubuh putra kesayangannya itu.

"Terima kasih sayang.." ucap Baekhyun, begitu pula dengan Chanyeol.

Chanhyun mengangguk dan mencium –kembali– pipi Ayah Bundanya.

"Terima kasih juga karena sudah membuat Chanhyun lahir di dunia, Umma, Appa.. Chanhyun mencintai kalian~"

"Kami juga mencintaimu, nak."


KKEUT!


Notes :

Bahasa Bunga :

[1] Mawar Putih : Cinta Sejati, lugu, amat menyenangkan, rahasia dan diam

[2] Mawar Peach : Manis, rasa terimakasih, apresiasi, kekaguman, simpati

[3] Mawar Merah Muda (Pink) : Sayangku, rasa kagum , kebahagiaan, "percayalah padaku", terimakasih

[4] Daffodil : Menghormati, Menghargai, Kelahiran kembali,

(*satu tangkai berarti : kemalangan, satu rangkaian bisa berarti harapan, kegembiraan dan optimisme)

[5] Cattleya : Pesona dewasa,

[6] Tulip Merah : percayalah padaku , deklarasi cinta

[7] Anggrek Merah : semangat, daya energi, kekuatan cinta

[8] Anggrek Lavender : memprovokasi percintaan dan keanggunan.

[9] Carnation Warna Solid : Ya.

[10] Carnation Putih : cinta murni, Good Luck (bila diberikan kepada seorang wanita), manis dan cantik.

[11] Daisy Orange : Kehangatan, Suka cita, semangat.

[12] Mawar Ungu : Keunikan, Cinta pada pandangan pertama, perlindungan, cinta Ibu/Ayah.


A/N :

Mohon Maaf jika Sequel yang dibuat tidak sesuai dengan harapan kalian.

Jika ada typo juga aku mohon maaf. Bahasaku alay lagi :"v