Terima kasih karena kau mencintaiku
(2nd Sequel 'Bunga Di Tepi Jalan)
Kehidupan Baekhyun sang Florist yang dinikahi oleh CEO tampan bernama Park Chanyeol memasuki babak baru./"Kau tulus menemaniku disaat indah dan sedih" –Chanyeol/"Terima kasih karena kau mencintaku, Yeollie" –Baekhyun [ChanBaek Fiction/Shounen–ai/Marriage Life/2nd Sequel Bunga Di Tepi Jalan]
.
.
.
Baekhyun dengan senyum merekahnya menata rumpun bunga Lily Pink[1], Tulip Orange[2], dan Tulip Ungu[3]. Kekehan ringan terdengar dari bibir tipisnya ketika terpintas dalam benaknya makna dari bunga-bunga itu dimana ada yang mewakili kondisi suaminya dan tentu saja keluarga kecilnya. Jemari lentiknya membersihkan guguran daun yang berserakan di sekitar pot. Tanpa disadarinya ada sosok bertubuh mungil yang terus memperhatikan tingkahnya.
Kini, cherry merekahnya tergerak guna menyenandungkan bait lagu yang sudah menjadi candu untuk dirinya, dan keluarga tercinta. Tangan kanannya mulai beralih untuk mengusap gembungan di tubuhnya. Ya ya ya, tak perlu di ingatkan jika 'Nyonya' Park tengah mengandung kembali, bukan?
"Umma~" suara khas anak-anak menggema di keheningan Flower Shop. "Chanhyunie punya sesuatu untuk Umma. Ayo Umma~~ kesini..."
Baekhyun menghentikan kegiatannya, dan segera menghampiri Chanhyun yang tak terlalu terlihat karena tubuh mungilnya tampak tenggelam di rimbunan rumpun bunga lavender dan juga foxglove. Baekhyun sendiri heran kenapa jagoannya itu teramat kerasaan untuk berdiam di sana.
"Ada apa sayang?" tanyanya dengan lembut.
Chanhyun yang mendengar suara sang 'ibu' menoleh. Ia tersenyum lebar sembari menyodorkan sesuatu yang membuat Baekhyun terkejut dan refleks menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya. "I–ini.."
Chanhyun mengangguk antusias. Bocah berusia dua tahun itu nampak gembira karena berhasil mengejutkan orang yang telah melahirkan dirinya di dunia. "Ne, Umma. Dua kuntum Anggrek Pink[4] dan Anggrek Putih[5] untuk Umma Chanhyun yang paling Chanhyun sayang."
Baekhyun yang tak mampu berkata apapun terus menyunggingkan senyum. Matanya yang kini berkaca-kaca tak membuatnya kesulitan guna meraih tubuh mungil putranya itu dalam dekapan hangatnya.
"Terima kasih sayang, Umma juga menyayangimu.."
.
.
.
Terima kasih karena kau mencintaiku
(2nd Sequel 'Bunga Di Tepi Jalan)
Credit Pict : –IKOOP–
© Lala Maqfira Shouda Shikaku
Genre : Romance, AU, Song Fic, A lil' bit Hurt
Recommended song : The Rain – Terima kasih karena kau mencintaiku
Hope you enjoy it~
(Notes : Baca A/N dan PS di bawah)
.
.
.
Chanyeol tengah disibukkan dengan beberapa berkas perusahaan. Sesekali ia memijat tengkuknya yang terasa bagai ditimpa beban, bermaksud menghalau penat yang menderanya. Hela nafas yang berat terdengar begitu saja. Ia mengalihkan perhatiannya dari berkas menuju frame kecil yang terletak sejajar dengan vas kristal berisi Mawar Kuning dan Jingga[6] di meja kerjanya.
Senyum tipis tersemat begitu saja di wajah rupawannya. Ah, bunga itu membuat dirinya makin merindukan dua belahan jiwanya yang –amat sangat– terpaksa sering ia tinggalkan karena tuntutan pekerjaan. Ia menyandarkan punggung kokohnya di kursi kebesarannya setelah ia menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit untuk merenung.
Kini jemarinya ia gunakan untuk meraih ponsel pintar dengan screen yang menampilkan wajah Baekhyun dan Chanhyun sebagai displaynya. Dengan semangat tinggi ia mulai menginput rangkaian nomor yang sudah ia hafal hingga di luar kepala.
Tut–
.
.
.
.
–Panggilan terhubung.
"Yeobseyeo.."
Chanyeol kembali tersenyum mendengar nada kekanakkan di seberang sana "Yeobseyeo.."
"Appa.. Chanhyun merindukan Appa.."
"Haih.. Appa juga sayang. Bagaimana keadaan Umma?"
Sedikit jeda, membuat Chanyeol mengernyit heran. "Umma baik-baik saja. Tapi, sekarang Umma terus meringis Appa.. Chanhyunie takut.."
DEG
"M–mwo? Meringis? Dimana Chanhyunie sekarang?" Chanyeol blank. Ia mulai panik sekarang.
"Nde, Umma meringis. Chanhyunie sekarang akan memanggilkan Yoo Ahjussi (supir taksi langganan Baekhyun) untuk mengantar Umma ke rumah sakit. Ottokae, Appa?"
Chanyeol menggigit bibirnya. Dengan segera ia mulai mengirim signal kepada sekretaris dan resepsionist di depan ruangannya. Pikirannya bercabang. Ia merasa sebagai Ayah dan suami yang gagal. Belum lagi ucapan Chanhyun yang putus-putus di line telepon kian membuatnya gagal mengkontrol diri.
'Ah sial! Kenapa aku bisa lupa jika Baekhyunie sedang hamil tua, eoh?' –rutuknya dalam hati.
"Appa? Gwenchanayo?"
Chanyeol terbelalak. Ia juga nyaris melupakan pembicaraan dengan Chanhyun "Ah, iya Chanhyunie. Maaf Appa sedang memberitahu Jeon Agahssi kalau Appa akan izin. Lakukan apa yang Chanhyun bisa dan Appa akan menyusul secepatnya."
'Huh, panik sialan'–umpatnya.
"Ye, Appa. AH! YOO AHJUSSI! TOLONG BANTU UMMA CHANHYUNIE!"
"..Arasseo Chanhyunie. Kajja Baekhyun-ssi.."
Pip. Sambunga terputus begitu saja.
Chanyeol kian merasa dungu. Kenapa disaat genting seperti sekarang ia malah masih terjebak dalam gedung perusahaannya? Mood-nya yang memang sedang down kian bertambah buruk karena pergerakan lamban sekretaris dan juga resepsionist yang ia hubungi.
Tok
Tok
to–
"Cepat masuk!" sergahnya.
Cklek
"Jeosonghamnida, sajangn–"
"–Langsung saja, aku tak akan berbasa-basi." Chanyeol menormalkan deru nafasnya yang memburu. "Istriku akan melahirkan anak kedua kami. Dan aku ingin kalian –terutama Sekretaris Jang– untuk menghandle pekerjaan selama aku tak ada. Jika ada yang dibutuhkan, hubungi Kim Kwajangnim, Arraseo?!"
Para pegawai yang ada disana mengangguk dengan serempak. "Algasseumnida, sajangnim."
Tanpa kata, Chanyeol melesat meninggalkan ruangan yang memerangkapnya beberapa saat terakhir.
.
.
.
.
Seoul International Hospital, August 26th 2016; 12.00 PM(SKT)
Derap langkah kaki yang tergesa terdengar riuh sepanjang koridor rumah sakit yang senyap. Irisnya bergerak kesana-kemari, mencari keberadaan ruang yang menjadi tujuannya. Tak perlu waktu yang lama, langkah kaki jenjangnya ia percepat di saat refleksi dua orang yang dikenalnya tertangkap netranya.
Ya, Chanhyun dan Tuan Yoo yang terduduk di kursi tunggu ruang bersalin.
"Ah, Anyeonghaseyeo Park Sajangnim"
Chanyeol –sosok yang berlarian tadi– menghentikan langkahnya dan membalas salam Tuan Yoo "Anyeonghaseyeo Ahjussi" dan ikut membungkukan badannya.
Tuan Yoo tersenyum kecil dan memberi isyarat bahwa ia harus kembali bekerja. Chanyeol mengangguk setuju dan mengucapkan banyak terima kasih serta permohonan maaf karena merepotkan Tuan Yoo.
"Bukan masalah, sajangnim." Balas Tuan Yoo sebelum beranjak. "Baekhyun-ssi sudah seperti anak saya sendiri."
Chanyeol menyunggingkan senyum tulus. Netranya yang sedari tadi fokus pada punggung Tuan Yoo kini beralih pada sosok jagoannya yang ternyata sudah terlelap di kursi tunggu. Perlahan di raihnya tubuh mungil sang Anak dalam gendongannya. Di kecupnya dengan teramat sangat sayang kening yang tertutupi oleh helai lembut serupa malam yang di wariskan oleh sang 'ibunda'.
"Maafkan Appa, sayang.." bisiknya penuh perasaan membuat Chanhyun melenguh, namun kembali lelap.
Ia menatap pintu ruang bersalin dengan pandangan menerawang. Penyesalan dan rasa bersalah perlahan tergampar di wajah tampannya. Beberapa saat kemudian, ia merubah ekspresinya ketika samar terdengar suara beberapa orang yang terburu. Chanyeol menoleh dengan agak susah mengingat Chanhyun masih terlelap dalam dekapannya dengan kepala yang terkulai di bahu kokohnya.
Ah, orangtuanya dan sang Ibu mertua. Juga–tunggu. Apa yang ketiga bibinya lakukan di sini? Chanyeol mengernyit.
"Chanyeol-ah. Bagaimana kondisi uri Baekhyun?" serbu Nyonya Byun mewakili Ayah dan Ib unya.
"Kita berdo'a saja yang terbaik, Eommeonim. Baekhyunie sedang mendapat penanganan medis."
Ketiga orangtuanya mengangguk mafhum membuat Chanyeol tersenyum. Namun, senyumnya pupus di saat ia menangkap ekspresi tak enak yang terpancar dari wajah para wanita yang pernah membuat 'istri'nya menderita.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya dingin, membuat ketiga bibinya tersentak.
"Tentu saja menjenguk uri Baekhyunie, Chanyeol-ah..." Bibi Moon menyunggingkan senyum palsu di bibir berpoles gincu merah merona miliknya.
"Cih, hentikan sandiwara konyol kalian!" Chanyeol mendesis.
"A–apa maksudmu, sayang?" kini Bibi Ahn yang angkat suara setelah ia tersentak mendengar ucapan sang keponakan yang menusuk tepat sasaran.
Ketiga orangtuanya kebingungan. Setahu mereka para bibi tak memiliki masalah apapun dengan Chanyeol maupun Baekhyun. Atau... mungkinkah mereka melewatkan sesuatu?
Chanyeol menggeram tertahan membuat ketiga orang yang ia intimidasi berjengit ketakutan. "Berhenti memanggilku dengan panggilan konyol dan ekspresi menjijikan kalian. Dan aku peringatkan, jika kalian berani menjelek-jelekan 'istri'ku lagi, bersiaplah untuk meninggalkan mansion Park." Sergahnya.
"Apa maksudnya? Chanyeol beritahu Abeoji apa yang sebenarnya terjadi?" Tuan Park mulai mengirimkan signal mengerikan bagi saudarinya.
"Abeoji bisa bertanya pada Sehun atau Kyungsoo tentang kelakuan konyol mereka bertiga." Chanyeol sekan enggan untuk menjawab –lebih tepatnya mengingat kembali perlakuan buruk bibi-bibinya pada Baekhyun ketika ia bercerita–
"Jae Eun! Apa yang kau lakukan pada menantuku?" kini Nyonya Park yang bersuara.
"..."
"Cepat katakan!" suara Nyonya Park meninggi.
"..."
Hening.
Nyonya Park yang memang ekspresif sudah tidak mampu membendung emosinya lagi. Mengingat ini rumah sakit, beliau bermaksud menyeret kakak dan adik iparnya untuk melakukan pembicaraan yang serius. "Moon Jae Eun! Ahn Yoon Ae Unnie! Bae Sun Young! Ikut aku!"
"Cepat ikuti Rae In –istriku– atau aku akan benar-benar mengusir kalian!" Tuan Park memberi perintah.
"Nde. Yong Soo-ah/Oppa."
Keempatnya perlahan meninggalkan Chanyeol dan yang lainnya. Nyonya Byun mencengkeram dada kirinya sembari menggeleng tak percaya. Padahal ia berekspektasi jika hanya dirinya yang –dengan ceroboh– membenci Baekhyun hanya karena kesalah pahaman. Namun, di luar ekspektasinya justru ada orang-orang sinting haus harta yang memperlakukan putra bungsunya dengan kurang ajar.
"Maafkan adik dan kakakku, Saera-ya..." Tuan Park membungkuk.
"Tidak apa. Yang penting Baekhyun sekarang baha–"
"–Ini salahku Eomonim."
"–gia. Huh? Maksudmu apa Chanyeol-ah?" Nyonya Byun menggeleng. "Sudahlah lupakan. Itu hanya bagian dari masa lalu. Yang pasti kita harus berfokus pada do'a supaya uri Baekhyun di beri kekuatan."
Keadaan kembali di dominasi keheningan. Hanya dengkuran halus dari bibir Chanhyun yang sesekali terdengar. Nyonya Byun terkekeh karena menyadari jika cara tidur Chanhyun tak jauh berbeda dengan sang 'Ibu'.
"Coba kalian perhatikan. Chanhyun sangat mirip Baekhyun ketika tidur."
Tuan Park dan juga Chanyeol sendiri yang tadinya fokus menatap pintu ruang bersalin segera memperhatikan Chanhyun. Dan mereka ternyata sependapat dengan Nyonya Byun. Logika saja, Chanhyun kan anak Baekhyun tentu ada beberapa sifat sang 'Ibu' yang di turunkan kepadanya.
"Umma.."
Chanyeol kembali menoleh. Di tatapnya wajah rupawan sang Jagoan yang mulai menunjukan tanda-tanda jika ia akan segera sadar dari lelapnya. Bibir tipisnya mengecap beberapa kali menyusul kemudian kerjapan kelopak mata sipitnya.
'Dia benar-benar seperti Baekhyun'–Inner Chanyeol sembari menahan gemas.
Chanhyun menegakkan kepalanya yang terkulai. Ia mengusap kedua matanya dengan tangan mungilnya yang terkepal. "Heung? Harabeoji? Halmeoni? A–appa?"
"Halo Chanhyunie~~"
Anak itu mengangguk-anggukan kepalanya perlahan. Ekspresi polosnya membuat Tuan Park dan Nyonya Byun berusaha untuk menahan diri mereka agar tidak melayangkan cubitan atau mungkin ciuman di wajah sang cucu. Ayolah, Chanhyun yang baru bangun dari tidurnya itu sangat mengerikan. Ia mudah merajuk atau bahkan menangis dikarenakan moodnya selalu dalam mode kurang baik.
Chanhyun kembali merebahkan kepalanya ke bahu sang Ayah. "Kenapa sayangnya Appa, heum?"
"Chanhyun merindukan Appa.." manjanya.
"Heumm. Arraseo.." tangan Chanyeol tergerak untuk mengelus surai sang Anak. Bermaksud menyalurkan rasa sayang melalui usapannya yang lembut. "Sekarang kita doakan semoga Umma dan adik bayi baik-baik saja, ya?"
"Ne, Appa."
"Oeeee"
Pasangan Ayah-Anak itu tersentak. Begitu pula dengan Tuan Park dan Nyonya Byun. Keempatnya bergerak kilat mendekati pintu berwarna putih itu. Beberapa detik selanjutnya, pergeseran pada penghubung antar ruangan itu kian membuat detak jantung mereka meningkat hingga dua kali lipatnya.
Muncul seorang dokter bertubuh tegap yang mulai melepaskan masker yang menutupi wajahnya. Eoh, wajahnya bukan seperti orang Korea?
"Ah.. Selamat Chanyeol-san. 'Istri' Anda selamat, dan Anda mendapat bayi lelaki yang sehat."
Tess
Buliran bening mengalir melalui sudut mata CEO muda itu. Rasa bahagia yang membuncah membuat kelenjar air matanya memproduksi cairan yang terus mengaliri wajahnya. "A-Arigatou, sensei."
Dokter itu tersenyum. Kemudian ia mempersilahkan Chanyeol yang terlebih dahulu menyerahkan Chanhyun pada Nyonya Byun untuk memastikan kondisi Baekhyun. Bibir penuhnya mulai terangkat, menyunggingkan senyum rupawan yang disambut senyum lemah Baekhyun yang masih berusaha mengatur nafas setelah ia sadar dari anastesinya.
"Hai, sayang.." sapa Chanyeol sembari mendekati brangkar yang Baekhyun tempati. "Bagaimana perasanmu, Mawar Pink[7]ku?"
Baekhyun terkekeh. Dan itu kontras dengan air mata yang membasahi paras ayunya. Hal itu membuat Chanyeol menggerakan jemarinya guna mengusap buliran luka itu.
"A-aku merasa baik, amat sangat." Ujarnya. "Bahkan lebih dari itu, a-aku bahagia Daffodil[8] Man ku."
"Kau berjuang dengan baik, sayang.." Chanyeol terus tersenyum. Di kecupnya bibir pucat Baekhyun penuh cinta yang tulus. "Dan aku mohon... maafkan aku karena tidak berada di sisimu pada momen penting."
Baekhyun menggeleng, ia mengusap wajah tampan sang pemilik hati. Dengan sekuat tenaga ia berusaha bangkit, dan menautkan cherry tipisnya dengan bibir penuh Chanyeol. Lengan kurusnya meski terhalang oleh infus mulai melingkar sempurna di leher jenjang prianya. Begitu pula dengan Chanyeol yang mulai menekan kecil tengkuk dan juga pinggang ramping sang 'istri'.
Lumatan demi lumatan terus terjalin, mengantarkan perasaan yang membuncah pada keduanya. Beberapa saat kemudian, tautan itu berakhir setelah Chanyeol mengecup lembut bibir yang kini memerah.
Keduanya menoleh ke arah pintu, dan mendapati sosok dokter tampan nan semampai dan juga seorang perawat mungil yang menggendong putra mungil mereka. Baik Chanyeol dan Baekhyun hanya mampu tersenyum canggung menahan malu mengingat apa yang mereka lakukan tadi.
"Oh, untung kami datang di saat yang tepat." Canda sang dokter.
"Maafkan kami." Chanyeol bersuara mewakili dirinya dan juga Baekhyun yang menunduk menahan malu.
Dokter itu menggeleng, menyiratkan bahwa itu bukanlah masalah. Ia kemudian mempersilahkan perawat dengan name tag 'Kim Min Hyun' itu untuk menyerahkan anak kedua pasangan Park di ruangan tersebut.
"Silahkan, ini putra Anda Tuan dan 'Nyonya'.." ucapnya ramah.
"Terimakasih, Kim Geonsa."
Perawat Kim mengangguk setelah sebelumnya mengambil sebuah map yang disodorka oleh sang dokter. Ia mulai menyiapkan pena untuk mengisi form tentang kelahiran yang akan digunakan untuk membuat surat bukti kelahiran. "Atas nama Tuan Park Chanyeol dan 'Nyonya' Park Baekhyun?"
Chanyeol mengangguk sementara Baekhyun mengerucutkan bibirnya karena dipanggil 'Nyonya'. Tapi mau bagaimana lagi memang ini resiko karena ia menikah dengan orang yang bergender sama dengan dirinya. Baekhyun menggigit ujung lidahnya.
Suara mata pena yang menggores kertas menjadi pengisi ruang yang hening. Dokter fokus dengan rekam medik yang ada di nakas, Perawat Kim sibuk mencatat , sedangkan Chanyeol maupun Baekhyun fokus pada sang bayi.
Goresan terhenti. Berganti dengan deheman ringan. "Maaf, bagaimana dengan nama anak Anda, Tuan Park?"
Chanyeol mengangkat wajahnya, ia menatap Perawat Kim lekat sebelum mengalihkan pandangan pada Baekhyun yang ternyata kini juga memandangnya. Tak berapa lama Baekhyun mengangguk, memberi isyarat bahwa ia sepenuhnya akan menuruti apa yang Chanyeol lakukan.
"Akan langsung kami beri nama." Chanyeol menghela nafas sejenak. "Park Yeol Hyun."
Dokter yang ternyata sudah menyelesaikan pemeriksaannya menoleh, kemudian berucap, "Kim-chan, catat dengan baik. Hari ini, tepat pukul 12.55 PM bertempat di Seoul International Hospital, telah lahir putra kedua pasangan Park Chanyeol dan Park Baekhyun dengan panjang kurang lebih 35 cm dan berat 3,2 kg dalam keadaan sehat. Dan ia di beri nama Park Yeol Hyun."
Wanita itu kembali mengangguk dan segera melaksanakan tugasnya "Hai, sensei." Ia segera mengisi kolom nama sang dokter dan menyerahkannya. "Dan untuk Tuan Park, Anda bisa mengurus Administrasi di Loket AF. Terima kasih"
Baik Chanyeol maupun Baekhyun langsung mengembangkan senyum mereka.
.
.
.
.
Sehun dan Kyungsoo –jangan lupakan Jongin– kini menemani Baekhyun yang asyik menimang Yeolhyun. Mereka bercengkerama, membicarakan banyak hal di mulai dari masalah pekerjaan hingga perkuliahan yang di alami Sehun dan juga Kyungsoo.
Tak jauh dari mereka ada Chanhyun yang asyik memainkan rangkaian bunga Tulip Pink[9] yang di bawa Jongin. Bibirnya sesekali meracau, mengundang kekehan geli dari orang-orang di sekitarnya.
"Hyung, jika kau merasa repot aku bersedia membawa Chanhyun pulang." Sehun bersuara.
"Hei, Chanhyun itu penurut, Sehun-a.. lagi pula ada Chanyeol di sini. Dan Hyung tak ingin merepotkanmu."
Sehun merotasikan bola matanya malas. Well, ia tak terkejut mendengar jawaban Baekhyun karena, kalau boleh jujur ia sudah bisa mempreskdisikannya. "Terserah Hyung saja."
Ia beranjak dari posisinya dan menata buket bunga Mawar Merah dan Kuning[10] yang ia bawa. Wajah tampannya terlihat bersinar karena terpaan sinar mentari senja yang menembus celah gorden di ruangan Baekhyun.
"Oh iya, Hyung.. tadi kantor sempat heboh karena tingkah suamimu.." gerutu Kyungsoo di sambit pelototan Jongin. Hei, apakah Kyungsoo tak memikirkan masa depan calon suaminya? Bisa-bisanya dia mengadukan hal konyol pada 'istri' atasannya.
Baekhyun menggeleng kecil. Sebenarnya ia sudah tahu kejadian itu dari Chanyeol. Jadi ia hanya mampu menahan tawa karena melihat Jongin dan Kyungsoo yang saling sikut.
"Oh, kalian menyebalkan." Sehun mendesis tajam. "Ngomong-ngomong, Hyung.. aku pamit undur diri. Luhan sudah menungguku cukup lama di Myeongdeong."
"Oh, Luhan? Dia kekasihmu, kan? Kapan kau akan mengenalkannya pada Hyung?"
Sehun tersenyum tipis ia menyambar buket lain yang sudah Chanhyun rangkai –ternyata Chanhyun mewarisi bakat Baekhyun–, mengecup pipi dan kening sang kemenakan, dan tak lupa pipi Baekhyun. Ia juga menjulurkan lidah pada pasangan Jongin–Kyungsoo yang terus cemberut.
"Terimakasih atas bunganya, Chanhyunie~~"
Chanhyun hanya mengangguk polos.
"Dasar Magnae kurang modal!"
"Aku mendengarnya, ngomong-ngomong"
Pintu tertutup.
Tak lama, benda berbahan fiber dan kayu itu kembali terbuka dan menampilkan sosok Dokter dan Perawat Kim.
"Konbawa, minna-san~!" seru sang Dokter. "Sore yang cerah, bukan?"
"Hai, sensei."
"Oh, ada tamu rupanya?"
Jongin yang sibuk dengan gadget segera menghentikan aktifitas randomnya. Ia memasukan perangkat elektronik itu ke saku blazernya dan ia langsung mengalihkan atensinya.
"Kai-san?"
"Sumimasen.." Jongin mulai mengingat-ingat siapa sosok di depannya. Seingatnya, hanya beberapa orang yang hafal nick name-nya di Jepang. "Eung.. Sakurada-san?"
"Hai."
Keduanya berjabat tangan, kemudian berpelukan. Ah rupanya teman satu angkatan ketika Jongin menimba ilmu di Toho High School. Mereka terus larut dalam pembicaraan hingga Perawat Kim menyelesaikan tugasnya. "Sakurada-sensei. Saya sudah menyelesaikan tugas. Mari kita harus memeriksa pasien lain."
Sang Dokter yang ternyata bernama Sakurada Dori menghentikan obrolannya dengan sang kawan lama. Ia memberi nasihat dan resep yang bisa di tebus oleh Chanyeol untuk Baekhyun. Ia pamit dan meninggalkan ruangan dengan menggenggam lembut tangan Perawat Kim.
"Err.. Sakurada-san!" Jongin memanggil membuat langkah keduanya terhenti. "Aku tahu jika Kim Geonsa adalah kekasihmu, jadi tak usah kau gandeng begitu karena aku yakin Kim Geonsa tak akan kemana-mana.."
Dokter Sakurada hanya tertawa mendengar ejekan Jongin. Ia melambaikan tangannya acuh dan melanjutkan langkahnya, begitu pula dengan Perawat Kim yang hanya tersenyum tipis. Keduanya berpapasan dengan Chanyeol yang nampak kebingungan di ambang pintu.
Lagi dan lagi, pasangan Jongin dan Kyungsoo mengedikan bahunya acuh dan memilih untuk pamit, meninggalkan keluarga kecil itu.
"Aih, sayangku.. Park Baekhyun, Park Chanhyun, dan Park Yeolhyun..." Chanyeol menghembuskan nafasnya, ".. aku menyayangi kalian~~"
Chanhyun menghambur dalam pelukan sang Ayah. Chanyeol terus tersenyum kemudian mendekati brangkar Baekhyun dengan Chanhyun yang ada di gendongannya. Ia mengecup lembut kening dan bibir Baekhyun sebelum membisikkan kata-kata yang sukses membuat Baekhyun memerah
"Kau tulus menemaniku disaat indah dan sedih"Chanyeol berbisik sembari mengecup wajah ketiga kepingan jiwanya. Ia benar-benar bersyukur atas Anugerah yang ia dapat.
Baekhyun membalas ucapan Chanyeol setelah puas mengecup bibir Chanyeol, Chanhyun serta kening Yeolhyun "Terima kasih karena kau mencintaku, Yeollie"
'Kebahagiaanku lengkaplah sudah. Terimakasih Tuhan atas anugerah yang telah Engkau berikau dalam hidupku..'
–The End? –
Epilogue :
5 tahun kemudian...
"Hai, sayang!"
Suara berat seorang Park Chanyeol yang seakan tak pernah berubah mengawali pagi hari yang biasanya riuh di kediaman keluarga Park. Sosok jangkung itu melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping sang 'istri' yang sudah terbebas dari belenggu siksaan mental yang dilakukan oleh para bibinya. Ya, Moon Jae Eun, Ahn Yoon Ae dan juga Bae Sun Young telah diasingkan di daerah pinggiran oleh Tuan Park.
Cup
Kecupan sayang nan manja mendarat sempurna di pipi Baekhyun. Mengundang rona kemerahan yang mempercantik wajahnya yang tak lekang oleh usia.
"Ish, jangan mesum pagi-pagi. Ada anak-anak." Gerutu Baekhyun membuat Chanyeol terkekeh.
"Hush! Mereka sedang fokus dengan acara mereka, heung"
Chanyeol justru mengusakan hidung mancunngnya di perpotongan leher Baekhyun. Ia juga tak segan untuk mencuri kecupan di bibir tipis sang 'istri'. Dan tanpa di duga mendapat balasan dari Baekhyun.
Tak jauh dari mereka ada dua orang anak –Chanhyun dan Yeolhyun– yang fokus pada televisi yang menayangkan acara anak-anak favorite mereka –Pororo– tanpa menyadari bahwa kedua orang tua mereka tengah mencuri kesempatan untuk bermesraan.
"Hyungie.. ayo kita minta Appa untuk membelikan boneka Pororo, Krong, Eddie, dan Rilakkuma~" si kecil merengek.
"Ne, nanti kita minta pada Appa. Nah, sekarang Yeolhyunie akan Hyungie ajarkan membuat rangkaian bunga, okay?"
Yeolhyun mengangguk. Ia mulai menata bunga Mawar Jingga[11] dan Mawar Ungu[12] yang diberikan sang Kakak. Dengan bantuan tangan terampil sang kakak terciptalah rangkaian indah dengan tangkai yang melingkar. Mereka beranjak dari posisi masing-masing di ruang tengah dan menghampiri sang Ayah dan Ibu yang sudah selesai menata meja.
"Ini untuk Appa dan Umma.."
Baekhyun ternganga. Ia tak percaya jika anak-anaknya mampu membuat dirinya tak mampu berkata-kata. Tak jauh berbeda dengan Chanyeol yang mematung. Dan dalam hitungan detik, baik Baekhyun, Chanhyun maupun Yeolhyun sudah berada dalam kungkungan Chanyeol.
"Appa cinta kalian semua.."
"Kami juga mencintai dan menyayangimu, Daffodil Man!"
KKEUT!
Notes :
Bahasa Bunga
[1] Lily Pink : Kekayaan dan kemakmuran
[2] Tulip Orange : Energi (semangat), gairah dan hasrat
[3] Tulip Ungu : Kebangsawanan
[4] Anggrek Pink : Kasih sayang murni
[5] Anggrek Putih : Keindahan, kelembutan, kepolosan, kebaikan, kemurnian
[6] Mawar Kuning dan Jingga : Semangat
[7] Mawar Pink : Sayangku, rasa kagum, kebahagiaan, "percayalah padaku', terima kasih
[8] Daffodil : Menghormati, menghargai, kelahiran kembali
(*satu tangkai berarti kemalangan, satu rangkaian berarti harapan, kegembiraan dan optimisme)
[9] Tulip Pink : Peduli
[10] Mawar Merah dan Kuning : Ucapan selamat, persahabatan atau jatuh cinta
[11] Mawar Jingga : Keinginan, antusiasme
[12] Mawar Ungu : Keunikan, Cinta ayah/ibu
[A/N]
Aloha~~ /joget hula-hula/
Ini adalah sequel kedua sekaligus terakhir yang aku bawa. Mohon maaf ya jika lama update dan ceritanya garing –always–
Thanks for Reviewer :
Chapter 1 :
Kak JongTakGu88 : aku tresno sliramu, Kak :"3 /g.
daebaetaeluv : hikseu /elap ingus/ maaf kalau ngebingungin /sungkem/
AkaSunaSparkyu : Sudah baca sequelny, kan? /kedip2/
baekchanxx : heehee.. aku ndak bermaksud bikin readers nangis lho, ya. Syukurlah, kalau feel-nya ngena. Please jangan panggil diriku, 'thor'. Cukup panggil tamvan(?) aku udah seneng /kemudian digilas/
MysNa, Mira Yuliana (Guest) : Thankseu udah baca /bentangin spanduk ichiraku ramen(?)/
Baeksounds : sudah baca sequelnya, kan?
Realbaekki (Guest) : terima kasih, but jangan panggil author, okay?
Wataeshiwa : AAAAA... /histeris*plak*/ Arigatou gozaimasuuuuuu~~~ ah, aku suka soalnya gambarin Chanyeol yang manis dan cheesy kek aku /woi/ kkkkk
Dek Chanta614 : kkk.. kayak kakak ya? /gampared/ love you too :*
Kak purple unicorn91 : AAAAAA KAK MYTHAAAAAA /plak/ hihihihi iya kak.. manis ya dia.. jadi pengin di karungin terus kirim ke KUA /g. Terima kasih udah meluangkan waktu buat baca dan review~~ /kecup/
Kak Dardara : Aku speechless baca review kakak :")) Thankseu kakak~~ /kecup/
Baekchanri0461 : terimakasih~
Moonyoojung : aku terharu :")) terimakasih~~
VAAirin : huehehehehe /slap/ terima kasih^^ iya aku usahakan
Cactus93 : iyaaa sweet kayak tebu /g. Sequel sudah ada, kan?
Ch4nbaekcum : Awas jatuh :v nanti kakak tangkap pake jaring cinta *jreng* /g
Halona Jill : Hi juga :)) /lambai tamvan(?)/ wkwwk iya dia boyfriend sekaligus husband material :3 kalau aku gimana? *modus ae, La -_-* terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak /kecup/
Exobaeolchabae : AAA TERIMAKASIH SUDAH MAU BACA /CAPSLOCKMU, NAK =))/ *plak*
Chanbaek0605 : perlu di tiru, kalau berani ngajak mah yang serius jangan main-main /digampar/ terimakasih sudah mau mampir^^
Fallen1004 : Hahaa iya kebetulan diriku lagi mabok–coret– sama yang namanya bunga x3 thanks udah mampir^^
Zahranisa351 : AAAAAAA IYYAAA CHANBAEK X.X /CAPSLOCK, LA -_-/ Thanks udah mampir^^
Chapter 2 :
Cactus93 : Heheh iya^^ terimakasih sudah membaca =))
Kak JongTakGu88 : ini rate T kak... diri ini sudah tepar tamvan terlebih dahulu untuk membayangkan proses pembuatan dedek Chanhyun /ngeles/ dan happy ending is my hope –ngikut sok inggris– semangat nulis juga kakakku tertjintah :* :* /gampared/
Yayahunie : kkkk, syukurlah kalau suka :)) heung? FF romance? Aku usahakan ya?
Baguettes : huehehehe iya aku underated :3 ndak papa lah yang penting hobiku menulis tetap tersalurkan^^ /mentjoba berlapang dada*kemudian elap ingus(?)*/ thanks udah berkenan baca dan review /bow/
Sarymaryani48 : heheheh.. berarti syurprais(?) aku berhasil :D aku juga ucapin terimakasih udah berkenan rnr /bow/ aku usahakan untuk ff chanbaek lainnya
VAAirin : Homina homina homina /digampar/ bibi rempong sudah dapat hukuman tenang saja =D thanks sudah berkenan rnr /bow/
Wataeshiwa : Yup, semua akan indah pada waktuya *tsah* Thanks for review^^
Guest : kyaaaaaa thanks udah mampir^^
SHINeexo : hihihi.. thanks udah mampir^^
Kak Dardara : hohoho..maafkeun diriku yang sudah membuat dirimu sakaw kak /sungkem/ dan trio bibi rempong sudah dapat balesan kok =D hayoloh kakak demen yang panjang kek sungai nil/g. Nanti deh aku panggil kak dara Anggrek Putih *modus terus, La -_-* kkkk thanks kakak buat review-nya /kecup/
Jiellian21 : ahahaha.. thanks udah review^^
Alpheratz3100 : ahahaha...ChanBaek emang da bes (y) ndak papa dek... udah review aja alhamdulillah, kakak bersyukur =DD ini sequelnya :3
Metroxylon : Aww.. thanks udah review :3
Ruina-san : hahaha.. ndak papa kok. Jadi sebenernya sudah tersirat kenapa keluarga Byun benci ama Baek. Tapi it's okay it's love –coret– maksudnya ndak papa lah buat review mereka sebenernya lebih ke kecewa, Tuan Byun meninggal karena kecelakaan bareng Baek dan itu naudzubillah deh ya.. semoga yang buruk2 dijauhkan dari kita(?) semua aminn =D anyway thanks udah review :D
Halona Jill : Hai hai... jadi udah tahu kan nasib trio bibi rempong? Dan masalah sehun yang ndak muncul... maaf ya kemarin Cuma numpang nama ya /gampared/ tapi aku usahain muncul disini. Thanks ya atas reviewnya^^
Dek Loner-Fanart-Hunter : Hai juga dekk~~ /lambai/ tjieee kok tahu kalau kakak nongkrongin google buat nyari kamus Hanakotoba/gampared/ dramatis ya dek? Maafkeun kakak ya? Yup, Baekhyun itu penganut(?) from zero to hero *backsound genderang perang* nasib ketiga bibi Chanyeol... mereka jadi makanan manda-nya orochimaru/g. Love you too, dek :*
Exobaeolchabae : Thanks juga udah berkenan baca dan ninggalin jejak di ff abalku :")) /peluk/
Chanbaek0605 : iyaa greget kalau chanbaek ama anak-anak XD /flashback TROS with Lee Twins/ thanks ya udah mampir^^
Jongdaelz : awas lho dek nanti dikira abis diapain lagi blushing /g. Thanks udah mampir^^
Berkenan review –lagi–?
.
.
.
Lala tamvan(?) yang suka modus dan gombal –gembel/g–
Salam Datebayo!
PS : Jangan panggil aku 'Author', 'Thor' ya? Cukup panggil Lala kalau kita sebaya, kalau lebih tua panggil Lala aja kalau yang lebih muda... terserah ._. /gampared/
Happy Jongin Day
Happy KaiSoo Day
