Summary: Hidup Sakura sengsara. Ia merangkap tiga pekerjaan sekaligus. Itu semua untuk biaya pengobatan ayahnya yang sakit parah. Tiba-tiba pria itu datang lagi ke dalam kehidupanya dan menawarkan kesempatan yang bak buah Simalakama. "Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Our New Chapter
"Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."
.
.
.
Bab II
Hug Me
Uchiha Sasuke menyeruput kopi yang ia pesan sepuluh menit yang lalu. Meski beberapa gadis SMA yang melihatnya sambil terkikik dari jendela kedai kopi kecil itu, pandangannya hanya tertuju pada satu arah. Haruno Sakura.
Gadis itu sedang bekerja di restoran cepat saji tepat di depan pandangannya yang sedang duduk menghadap jendela. Kini, ia bisa melihat Sakura berjalan ke luar dari pintu samping restoran sembari membawa sebuah kantung sampah besar. Sepertinya kantung itu lebih besar dari pada tubuh mungilnya.
Mata Sasuke sedikit merah, sepertinya ia tidak tidur kemarin malam. Tentu saja, bagaimana seorang pria bisa tertidur ketika lamarannya ditolak? Ditambah lagi, gadis yang menolaknya menjadi sangat berani. Sasuke menyeringai tipis. Baguslah, itu tidak akan menarik jika gadis itu tidak lembek seperti dulu.
Sasuke meletakkan gelasnya, ia kembali membuka map biru yang berisi data tentang Sakura. Betapa menyedihkan hidup calon istrinya. Setiap dua bulan harus mengumpulkan banyak uang untuk biaya terapi serta operasi ayahnya yang bahkan tidak bisa bangkit dari ranjang rumah sakit. Biaya asuransi dan segala peninggalan keluarga Haruno tidak bisa menutupi semuanya.
Itu sebabnya gadis itu memaksa dirinya sendiri untuk kuat, tapi mengabaikan keadaannya yang sangat rentan itu. Sasuke menatap tangannya. Ia ingat bagaimana kurus pergelangan tangan Sakura.
"Sasuke kau gila!" dua orang yang memegangi tubuh Sakura segera melepaskan pegangan mereka ketika melihat darah mengucur dari kepala gadis itu.
Sakura yang ketakutan segera jatuh dan menyeret dirinya sendiri ke arah tembok. "Ku-kumohon, ampuni aku," kata Sakura ditengah isakannya. Ia memegangi kepalanya yang tak berhenti mengeluarkan darah.
Sasuke mendekat, ia melempar gunting yang dipengangnya. "Oi, Sasuke! Ayo kita pergi saja, biarkan saja dia," kata pria berambut perak yang tadi memprovokasinya untuk memotong rambut Sakura. Sasuke berjongkok dan tatapan mereka bertemu.
"Kenapa kau membuat dirimu sendiri terluka?" bisik Sasuke pada Sakura yang masih menatapnya di balik ketakutannya.
"Karena aku belum membuatmu tersiksa."
Sasuke tersadar dari lamunannya. Sasuke mendecak kesal, kenapa ia jadi mengingat kejadian yang sudah terlampau lewat itu? Tapi, Sasuke tidak pernah mengerti kenapa Sakura mengatakan kata-kata itu. Sasuke sebenarnya tidak yakin dengan ingatannya, itu seperti khayalan yang cepat.
Sasuke memfokuskan perhatiannya ke arah orang-orang yang berkumpul di depan restoran cepat saji. Ia buru-buru mengambil mapnya dan memasukkan ke dalam tasnya sebelum ia meninggalkan kedai kopi.
Sasuke menyeberang dan melangkah melewati orang-orang di depan restoran itu. Alisnya bertaut sedikit.
"Maafkan saya," kata Sakura sambil menundukkan kepalanya di hadapan seorang wanita paruh baya dengan dandanan berlebih.
"Maaf, maaf, kau pikir dengan maaf kau bisa memperbaiki ponsel itu hah?" bentak perempuan itu. Sasuke mengalihkan perhatiannya ke arah ponsel bermerk yang tergeletak di atas trotoar.
"Saya benar-benar minta maaf," kata Sakura buru-buru mengambil ponsel milik perempuan itu.
"Mana manajer restoran ini?" tanya perempuan itu dengan emosi, "dia harus tahu kalau dia mempekerjakan pegawai sembrono sepertimu."
"Ini tidak ada hubungannya dengan manajer saya. Tadi itu kecelakaan, saya akan ganti rugi," kata Sakura.
Perempuan yang memakai baju terusan loreng-loreng itu tertawa dengan sinis, "ganti rugi? Pegawai sepertimu gajinya berapa sih?"
"Saya akan ganti-"
"Ada apa ini?" Sasuke memotong perkataan Sakura, Sakura yang sedari tadi menunduk kemudian menatap Sasuke tidak percaya.
Perempuan itu melirik Sasuke, "perempuan ini menabrakku dan menjatuhkan ponselku! Dia benar-benar sengaja!"
Sasuke menghela napas, "saya akan mengganti ponsel Anda," kata Sasuke kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana kainnya. "Saya akan transfer lewat mobile banking sekarang-"
"Tidak, saya akan mengganti ini semua. Saya punya cukup uang untuk menggantinya," Sakura segera memotong perkataan Sasuke. Giliran ia mengeluarkan ponselnya. "Anda bisa mengatakan berapa nomor rekening Anda? Saya akan transfer sekarang."
.
.
.
Sakura berjalan keluar dari restoran. Ia benar-benar kacau hari ini. Setelah ia membuang sampah, entah kenapa kepalanya menjadi pusing dan ia jadi tidak sengaja menabrak perempuan tadi. Ponsel tadi menghabiskan sebagian uang untuk terapi ayahnya. Ia tidak akan bisa membayar ongkos terapinya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Sakura menahan langkahnya ketika ia melihat sosok yang ia kenal melalui ekor matanya. Ia melirik, Sasuke di sana. "Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak, terima kasih," jawab Sakura cepat. Ia segera berjalan meninggalkan Sasuke, ia buru-buru memotong jalan untuk menyeberang tapi tangan laki-laki itu menangkapnya. Tepat ketika sebuah mobil nyaris melayangkan tubuhnya.
Sakura terpukul. "Kenapa," Sasuke menahan suaranya, "kenapa kau membuat dirimu sendiri terluka?"
Sasuke bisa merasakan tangan Sakura bergetar. Sakura berbalik, ia menarik tangannya pelan. Namun, cengkraman Sasuke semakin keras.
"Apa maumu? Bukankah kemarin aku cukup jelas mengatakannya padamu untuk enyah dari hidupku?" tanya Sakura menatap Sasuke dingin.
"Kau sudah mati jika aku tidak di sini," kata Sasuke.
"Lepaskan tanganku," kata Sakura, mata hijaunya menatap Sasuke tak gentar. Sakura merasakan pegangan Sasuke mengendur, tapi pria itu tidak melepaskan sepenuhnya.
"Mobilku di sana," Sasuke menunjuk sebuah mobil hitam yang terparkir di sisi kiri jalan dengan dagunya, "kita akan bicara di sana," Sasuke menarik tangan Sakura.
Sakura menutup matanya, ia kemudian menarik tangannya dalam sekali hentakkan. "Aku tidak ingin mengotori tanganku."
Rahang Sasuke mengeras mendengar kata-kata itu. Ia kemudian berjalan ke arah mobilnya. Ia membukakan pintu pada Sakura. Gadis itu masuk dan segera menutup pintu mobilnya sebelum pria itu melakukan untuknya.
"Kau tidak perlu mengantarku pulang. Aku di sini hanya karena kau ingin berbicara kan? Ayo bicaralah."
Sasuke menghidupkan mesin mobilnya agar pendingin mobil hidup, "ibuku yang memberikanmu ini, jadi jangan dilempar lagi," Sasuke mengambil sebuah kotak berukuran sedang di belakang mobilnya.
Sakura menerima kotak itu. Sudah berapa lama ya ia tidak bertemu dengan Uchiha Mikoto. Wanita itu adalah ibu kedua bagi Sakura, dan Sakura tidak mau melihatnya lagi setelah ia pindah sekolah. Ia mengubur dalam-dalam semuanya.
"Ayahku bilang ia ingin membayar biaya rumah sakit ayahmu, jadi-"
"Bilang padanya bahwa aku tidak mau," Sakura memotong perkataan Sasuke, ia kemudian mengeluarkan ponselnya, "aku bisa menolaknya secara langsung sekarang. Berikan nomor ayahmu."
"Sakura!" Sasuke berteriak, ia mencengkram kemudinya, "bisakah kau tidak seperti ini?"
Sakura tersenyum, "ayolah Sasuke, kenapa kau jadi begitu kesal. Ah, apakah aku terlihat sepertimu saat kita SMA? Kejam, ambisius, sekaligus menyedihkan."
"Ini bukan tentang aku," Sasuke
"Tentu saja! Ini semua tentang aku! Perlukah aku ingatkan kalau-"
"Maaf," Sasuke berkata cepat. Ia mengalihkan pandangannya, "kalau kau masih marah tentang kejadian di masa lalu, sekarang aku minta maaf."
Sakura tersenyum sinis, "apa? Kau pikir dengan maaf bisa membuatku bahagia selamanya? Lalu kau pikir kenapa penjara diciptakan hah? JIKA SEMUA KESALAHAN HANYA BISA DIPERBAIKI DENGAN MAAF, AKU HARUSNYA BAHAGIA SEKARANG," Sakura berteriak, "kau tahu setiap malam aku berdoa agar kau bisa baik padaku. SETIAP MALAM. Keesokannya saat aku ke sekolah, aku harus menangis dan memohon maaf padamu untuk setiap KESALAHAN yang bahkan TIDAK PERNAH aku lakukan!"
Sakura menahan napasnya. Ia merasakan matanya membelalak begitu lebar ketika ia merasakan lengan Sasuke melingkar pada tubuhnya. "Kau mulai menyiksaku," bisik Sasuke.
Sakura mendorong Sasuke sehingga pria itu melepaskan rengkuhannya. "Kau tahu, sekarang kau lebih rendah dari benda mati di mataku. Apa-apaan wajah menyesalmu itu?" Sakura menatap keji, "aktingmu sangat hebat Sasuke!"
Sakura kemudian membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Sasuke menggeram kesal. Ia memukul setir. Apa-apaan ini? Kenapa ia merasa sangat jahat. Apakah dulu ia selalu sejahat ini? Kenapa rasanya begitu menyakitkan?
Sasuke melirik ke arah ponsel Sakura. Gadis itu meninggalkannya.
.
.
.
Sakura di rumah sakit dan tidak bisa menghubungi Ino. Ia baru saja menyadari bahwa ponselnya tertinggal di mobil Sasuke. Beberapa menit yang lalu setelah ia sampai di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa kondisi ayahnya semakin memburuk belakangan ini.
"Tidak ada cara lain selain operasi besar, kami berusaha agar sel kankernya tidak menyebar," kata dokter laki-laki itu pada Sakura tepat ketika ia melihat kondisi ayahnya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Kapan operasinya dilakukan dok?" tanya Sakura, sebenarnya batinnya sangat terpukul ketika mendengar bahwa ayahnya harus melakukan operasi lagi. Ditambah itu adalah operasi besar dan ia yakin biayanya pasti sangat mahal.
"Kalau bisa secepatnya, melihat kondisi ayahmu sangat kritis," kata dokter itu, "kau bisa mengisi administrasinya di meja depan."
Sakura merasakan air matanya meleleh ketika ia mendapatkan formulir operasi itu. Bagaimana ia bisa membayar semua ini? Ia bahkan tidak bisa membayar uang muka yaitu sepuluh persen dari total biaya operasi. Oleh sebab itu ia sangat panik ketika ia tidak bisa menghubungi Ino untuk meminta bantuan.
Namun, batinnya berteriak bahwa ia tidak mungkin meminjam uang sebanyak itu dari Ino. Sakura berusaha meyakinkan kepada pihak administrasi apakah operasi ayahnya tidak bisa dilakukan jika ia belum bisa membayar penuh uang muka operasi.
"Maaf, tapi itu di luar kemampuan saya untuk membiarkan hal tersebut. Saya hanya mengikuti prosedur saja," kata perempuan itu berusaha terlihat sopan dan menyembunyikan simpatinya pada Sakura.
Sakura hampir kehilangan akal untuk mengatasi semua hal tersebut. Ia terlihat sangat menyedihkan berdiri di meja sembari menatapi formulir operasi selama beberapa saat.
Ia tersentak ketika sebuah tangan kokoh merebut formulir itu darinya. Air mata Sakura menetes tepat ketika pria itu menyerahkan formulir yang sudah terisi itu beserta sebuah cek yang berisi nominal angka operasi secara penuh.
"Apakah dengan ini operasinya bisa dilakukan?" tanya Uchiha Sasuke kepada pegawai perempuan yang sempat sedikit terpana ketika pria itu muncul.
"Ah, tentu saja," kata perawat itu segera mengetikkan beberapa keperluan administrasi lain.
Sakura merasakan gejolak penolakan yang sangat hebat ketika pria itu menatapnya. "Apa yang kau lakukan? Aku tidak bisa menerima itu-"
"Apa salahnya aku membiayai operasi calon mertuaku?" tanya Sasuke. Ia kemudian beralih kepada perempuan yang mengawasi keduanya, pegawai perempuan itu segera memberikan Sasuke selembaran kertas berisi data administrasi operasi yang sudah di print-out.
Sasuke melihat Sakura menunduk, wajahnya merah sekali. Bukan karena malu. Namun, itu adalah ekspresi ketidak berdayaannya. Sasuke mengulurkan tangannya dan menggandeng tangan Sakura.
Gadis itu tidak menolak. Ia hanya berjalan. Keduanya diam selama perjalanan menuju ruang tunggu. Gadis itu tidak berkata apa-apa. Wajahnya tegang sekali.
Sasuke mengeluarkan ponsel Sakura dari saku celananya, ia memberikannya pada Sakura. Gadis itu menerimanya dan menatap ke arah lain.
"Berikan nomor rekeningmu, aku akan membayar sebagian dulu," kata Sakura dengan suara bergetarnya.
"Kau tidak akan bisa membayarnya, percayalah," kata Sasuke membuat gadis itu mengepalkan tangannya. "Sebenarnya aku membutuhkan uang tadi. Tapi, aku yakin kau lebih membutuhkannya."
"Berikan nomor rekeningmu," ulang Sakura, masih tidak mau menatap Sasuke.
Sasuke menerawang, "kau tahu, bagaimana jika kau menerima tawaranku," tanya Sasuke, ia lebih senang menyebutkan 'tawaran' dibandingkan 'lamaran'. "Kau tidak perlu khawatir soal uang jika kau menerimaku," lanjut Sasuke lagi.
Sakura menatap Sasuke, kemudian pria itu tertegun, "lalu aku harus khawatir setiap malam karena mau menikah dengan pria yang menghancurkan sebagian hidupku."
"Kau tidak bisa memaafkan aku?"
"Ajarkan aku untuk memaafkan seseorang yang membuatmu menderita selama dua tahun."
"Baiklah, aku akan ubah tawaranku. Kau tidak perlu memaafkan aku. Kita hanya menikah, aku akan membayar biaya operasi ayahmu, dan jika semua ini telah selesai aku akan melepaskanmu," kata Sasuke.
"Lalu apa untungnya buatmu?" tanya Sakura, "kau bukan orang yang mau cuma-cuma kan?"
Sasuke menarik napas panjang, "aku mau ayahku membantu proyek perusahaanku, agar kelak aku bisa melepaskan keluargaku dan hidup sendiri tanpa bantuan uang keluargaku," Sasuke menerawang ke langit-langit rumah sakit, "satu-satunya cara agar ia mau membantuku adalah menikah denganmu."
Sakura tertawa merendahkan, "kau menyedihkan sekali," kata Sakura.
"Sama denganmu kan?" ujar Sasuke sambil menoleh, "kau tahu keinginan ibumu juga sama dengannya kan?"
Sakura merasakan rahangnya mengeras, ia diam saja. Sampai akhirnya gadis itu menangkap sosok yang begitu akrab. Ia berdiri dan perempuan itu memeluk Sakura.
"Sakura, akhirnya aku menemukanmu!" kata perempuan berambut abu-abu karena uban telah tumbuh pada rambut gelapnya. Ia melepaskan pelukannya dari Sakura, "kenapa kau begitu kurus? Kau pasti melewati banyak hal yang buruk."
Sakura merasakan genangan air mata memenuhi pelupuknya, "bibi Mikoto," ujar Sakura yang tangisnya langsung terpecah. Buru-buru Uchiha Mikoto memeluk gadis berambut merah jambu itu. "Aku takut sekali," katanya ditengah isak tangisnya.
Sasuke menatap punggung gadis itu. Ia merasa sangat jahat karena menyadari bahwa ia bahkan tidak menghibur Haruno Sakura sama sekali. Sasuke benar-benar jahat.
"Tenang saja, Sakura. Semua akan baik-baik saja, ayahmu bisa melalui ini," kata Mikoto. Ia menepuk pundak Sakura pelan sembari melihat Sasuke yang hanya diam. Anaknya itu pasti tidak menghibur Sakura. Tentu saja itu karena ia tidak bisa, makanya ia memohon agar Mikoto datang.
Sasuke segera tersadar dari lamunannya ketika ibunya berteriak panik. Haruno Sakura tumbang saat itu juga.
TBC
(A/N) Halo semua! Ini adalah bab dua dari Our New Chapter. Sekadar curhat nih, sebenarnya aku masih bimbang sama judulnya. Kayaknya kurang pas dan klop gitu ya. Atau hanya feeling-ku saja? Tapi, aku senang sekali bagi kalian yang sudah membaca bab satu. Terutama bagi kalian yang mem-follow, favorite, dan bahkan me-review fanfic ini. Terima kasih untuk masukan, kritik, dan pujian kalian yang tidak bisa aku balas satu per satu.
Sebenarnya aku punya dua akun di sini dan di akun sebelah aku masih ngutang banyak sekali fanfic yang masih dalam tahap hiatus. Aku mau refreshing dan memulai lembaran baru sementara seperti judul fanfic ini. Aku harap kalian suka dan menikmati fanfic buatanku yang ini.
Sebenarnya bab ini sudah selesai dari beberapa hari yang lalu, tapi jujur aku sedikit trauma mem-posting bab baru terlalu terburu-buru. Aku khawatir kalau aku terburu-buru nanti feel dari ceritanya kurang. Selain itu, aku takut kalian kecewa kalau tiba-tiba otakku buntu kalau aku pake sistem buat, selesai, langsung posting. Jadi, aku menundanya sampai beberapa hari sekalian cross-check typo. Aku mungkin akan menetapkan jadwal khusus untuk setiap bab karena aku juga harus mengejar di akun sebelah. Selain itu, aku juga mau menargetkan setiap chapter akan aku buat kurang lebih 2000 kata agar kalian tidak kecewa karena terlalu sedikit dan tidak terlalu capek untuk membacanya.
Apa judul 'Our New Chapter' sudah cocok?
Bagaimana menurut kalian judul 'Hug Me' dan isi bab ini?
Jadwal update mungkin berkisar 5-7 hari. Apa terlalu lama?
Let me know your opinion on your review! See you in next chapter!
Salam hangat, Ruffie-chan.
