Summary: Hidup Sakura sengsara. Ia merangkap tiga pekerjaan sekaligus. Itu semua untuk biaya pengobatan ayahnya yang sakit parah. Tiba-tiba pria itu datang lagi ke dalam kehidupanya dan menawarkan kesempatan yang bak buah Simalakama. "Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Our New Chapter
"Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."
.
.
.
Bab III
Will You?
Sakura ada di sebuah ruangan putih yang tampak asing. Kemudian, ia tersadar di sebelahnya ada sosok yang ia rindukan. Sosok itu tersenyum padanya, "Sakura, aku mohon dengarkan aku," ujarnya, "maafkan aku, tapi aku harus mengatakan ini padamu. Aku tahu kau kesal, tapi kumohon jangan menjadi seperti ini. "
"Apa maksudmu?" Sakura hendak menangis. Ini terasa sangat nyata.
"Jangan menjadi lemah, Sakura," ucapnya lagi, "aku sangat mencemaskanmu," sosok itu mengangkat tangannya dan mengelus wajah Sakura.
Sakura menepis tangannya, "jika kau mencemaskanku kenapa kau pergi!"
"Sakura," tegas sosok itu, ia bahkan menahan bahu Sakura, "aku tidak pergi, Sakura. Aku selalu di sisimu."
Sakura merasakan air matanya meleleh, ia terisak, "jika kau di sisiku kenapa aku tidak bisa melihatmu?"
Sosok itu meletakkan telunjuk tangan kirinya di bibir Sakura, "berhentilah menangis. Wajahmu jadi tidak cantik," kata sosok itu, ia memeluk Sakura, "berjanjilah menjadi kuat. Aku ingin kau bahagia. Aku yakin kau bisa bahagia."
Sakura terbangun. Ia berkeringat, meski suhu ruangan sangat sejuk. Sakura kemudian mengedarkan pandangannya, ini adalah salah satu kamar di rumah sakit. Ia bisa mengenal dari baunya dan infus yang tertancap pada tangan kirinya.
Ayah! Sakura segera bangkit dan mencabut infusnya. Ia segera keluar dari kamar itu, berjalan dengan gontai ke arah ia kehendaki. Kemudian ia berpegangan pada dinding rumah sakit ketika ia merasakan kepalanya pusing sekali.
"Sakura?" seorang yang dikenalnya berlari ke arahnya. Yamanaka Ino menopang tubuh Sakura dengan sekuat tenaga ketika gadis itu hendak ambruk lagi, "apa yang kau lakukan? Kau harus istirahat!"
"Ino," panggil Sakura di tengah kesadarannya yang masih di awang-awang, "aku harus menemani operasi ayahku," kata Sakura berusaha melepaskan diri.
"Operasinya berjalan lancar, Sakura. Sekarang, Sasuke dan Sai menemani ayahmu di ruang rawat," kata Ino. "Kau harus beristirahat," kata Ino lagi.
Sakura membelalak, "dia masih di sini?" ujar Sakura dengan nada tidak suka.
Ino mengangguk, "dia yang menelponku untuk ke sini."
Sakura mendorong Ino pelan, "aku harus menemui ayahku."
.
.
.
Sasuke menyerahkan sekaleng kopi dingin yang baru saja ia beli dari mesin penjual minuman di dekat kamar rawat ayah Sakura kepada pria berkulit lebih pucat dari dirinya. Sai menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
"Kau pasti sudah dengar dari pacarmu kan?" tanya Sasuke kepada Sai, "maksudku, soal aku dan Sakura," kata Sasuke menambahkan.
Sai membuka tutup kalengnya dengan sekali hentakan, "yah, sebenarnya aku tidak terlalu ingin ikut campur urusan pribadi kalian," ujar Sai kemudian meminum kopinya, "tapi, Sakura adalah temanku juga. Aku mungkin membencimu sama seperti Ino," lanjutnya lagi.
Sasuke tertawa pelan, "ya, kalau temanku berurusan dengan orang sepertiku, mungkin aku juga sama," kata Sasuke memandangi kopinya.
"Aku yakin kau tidak setulus itu mau membantu Sakura, iya kan?"
Sasuke terdiam, "hn, sangat tidak tulus," Sasuke membenarkan. "Aku dan dia sama-sama butuh uang," kata Sasuke.
Sai tertawa, "astaga, kau bahkan lebih kurang ajar dari pada yang dikatakan Ino," Sai tersenyum.
Sasuke menghela napas, ia heran bagaimana pria di sampingnya bisa tersenyum seperti itu sambil mengucapkan kata-kata yang pedas. "Ya, begitulah," Sasuke melamun, "karena cinta saja tidak cukup untuk membuat seseorang bahagia kan?"
Sai membelalakkan matanya, ia seperti teringat akan sesuatu. "Kau," Sai menahan suaranya.
"Kenapa kau berkata seperti itu pada Sakura?" tanya Sai kepada seorang yang begitu dikenalnya.
"Aku hanya ingin Sakura bahagia," katanya menjawab Sai.
"Apa maksudmu kau tidak bisa membuatnya bahagia? Tidakkah kau mencintainya?"
Ia tersenyum pada Sai, senyumnya terlihat menyakitkan, "karena cinta saja tidak cukup untuk membuat seseorang bahagia kan?"
"Sakura, kumohon ayo kembalilah ke kamarmu. Sai teralihkan dari lamunannya. Ia langsung naruh kopi di sebelahnya dan berdiri.
"Sakura, kenapa kau keluar?" tanya Sai membantu kekasihnya untuk menopang Sakura.
"Aku harus bertemu ayah," kata Sakura berusaha sekuat tenaga untuk tetap terjaga meski matanya sudah berkunang-kunang.
"Ayahmu baik-baik saja, Sakura, kau harus memikirkan dirimu," kata Sai.
"Aku baik-baik saja, Sai," elak Sakura dengan keras kepala.
Sasuke mendorong pelan tubuh Sai dan Ino. Ia berdiri di depan Sakura, "kenapa kau keras kepala sekali?" kata Sasuke dingin, ia menatap gadis yang kini bahkan kesulitan untuk berdiri.
"Pergi dari hadapanku," kata Sakura menatap marah ke arah Sasuke, "kau pikir siapa yang membuat aku seperti ini?"
"Aku, puas?" tanya Sasuke langsung mengangkat tubuh Sakura. Gadis itu meronta.
"Lepaskan aku, aku harus bertemu ayah!" kata Sakura sembari terisak.
Ino hendak menghentikan Sasuke, tapi Sai menahan Ino. "Kita biarkan mereka saja dulu," kata Sai.
"Tapi, Sai, kau tahu Sasuke itu laki-laki berengsek!"
Sai memejamkan matanya, "aku tahu," kata Sai. Ia memandang punggung Sasuke yang menjauh sembari membawa Sakura yang masih meronta di gendongannya. "Kau tahu, Sasuke itu agak mirip dengannya kan?"
Ino berhenti bernapas beberapa saat, "apa maksudmu?" suara Ino tiba-tiba menjadi dingin. Ia menatap Sai dengan mata nanar.
"Kau tahu apa maksudku," Sai menatap kekasihnya sebentar, kemudian ia terdiam, "bukan, kau tahu siapa maksudku."
.
.
.
Sasuke akhirnya bisa sedikit lega ketika gadis berambut merah jambu itu tertidur pulas di atas ranjang. Setelah ia membawa gadis itu ke sana, dokter dan perawat membantunya memakaikan infus dan memberinya obat penenang.
Ia tidak tertidur sejak kemarin malam hanya demi gadis ini. Sasuke mendecih. Ia tidak bermaksud menarik perhatian atau mengambil hati siapapun di sini. Ia bahkan sudah mengatakan motifnya secara gamblang pada Sakura. Lalu kenapa ia rela mengorbankan waktunya yang berharga?
Ponsel Sasuke berdering, ia kemudian mengangkatnya. "Halo, Shizune, ada apa?" Sasuke terdiam sejenak ketika mendengar ucapan asistennya yang pasti mengurusi firmanya selama ia tidak ada, "hn, tolong katakan padanya untuk pulang, aku tidak bisa menemuinya sekarang dan beberapa hari kedepan," tutup Sasuke yang kemudian mematikan ponselnya.
Ia kemudian berbalik dan menatap Sakura yang tengah tertidur. Sasuke merasa bodoh, kenapa ia melakukannya? Hanya untuk perempuan yang bahkan mungkin tidak ia cintai? Sasuke mendecak lidah, ia mengangkat poni depannya dan menggosok kepalanya frustasi.
"Uh," Sasuke terdiam ketika melihat Sakura mengigau sedikit, ia pasti akan mengigau tentang ayahnya, "aku akan makan itu," bisik Sakura. Sasuke mendengus. Apa katanya? Sasuke tersenyum dan merasa sedikit bodoh.
Sasuke berjalan mendekati ranjang Sakura, ia mengangkat tangannya dan menggeser rambut Sakura yang menutupi dahinya. Ia terdian sejenak ketika ia melihat bekas luka pada dahi kiri Sakura. Itu terlihat jelek sekali. Kemudian ia sadar kalau rambut Sakura memiliki panjang yang sedang. Apa rambutnya selalu indah seperti ini?
Sasuke tidak menyadari bahwa ia menopang tubuhnya dengan sebelah tangannya yang bebas, ia sedikit menunduk. Namun, sebuah tangan menangkap pundaknya sebelum ia melakukan hal yang bahkan tidak terpikirkan sebelumnya.
"Mereka membutuhkan tanda tanganmu untuk menjadi wali Sakura," Yamanaka Ino memicingkan matanya sedikit ketika ia bertatapan dengan mata gelap Sasuke.
Sasuke merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia memejamkan matanya, "aku akan mentraktir kau dan Sai sarapan, kalian belum sarapan kan?"
Ino menatap Sasuke dingin, "baiklah," kata Ino.
.
.
.
Sakura terbangun. Ia merasa lebih baik. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia mendapati Uchiha Sasuke duduk di sofa tidak jauh dari ranjangnya sembari memejamkan matanya.
Beberapa saat seorang perawat masuk ke dalam ruangan dan menyapa Sakura, ia membawa nampan untuk Sakura. "Bagaimana keadaan Anda?" tanyanya sopan, ia menaikkan meja kecil di tempat tidur Sakura dan menaruh nampan berisi sarapan Sakura.
"Baik, terima kasih," kata Sakura, "itu, bagaimana keadaan ayah saya?"
Perawat itu mengerutkan alisnya, kemudian ia teringat, "ah, tuan Kizashi sudah melewati masa kritisnya, dia akan baik-baik saja," kata perempuan berambut cokelat itu. Ia melirik ke arah Sasuke, "pacar Anda sangat tampan dan baik hati, ia bahkan tidak tidur sepanjang malam untuk menjaga kalian berdua," ucap perawat itu.
Sakura mengerutkan alisnya, "dia bukan pacar saya," kata Sakura jujur dan sedikit tidak suka.
Perawat itu tersentak tidak enak, "ah, maaf, kalian berdua sudah bertunangan kan? Aku benar-benar lupa," katanya sembari tertawa canggung, "kalau begitu saya permisi dulu."
Sakura hendak mengoreksi kembali, tapi perawat itu sudah pergi dan lenyap di balik pintu. Sakura melihat Sasuke dengan seksama sembari memikirkan ulang perkataan perawat itu. Sakura langsung membuang wajahnya ketika Sasuke tersadar dan membuka matanya.
"Kau sudah bangun?" tanya Sasuke, suaranya sedikit parau. Ia bangkit dan berjalan ke arah Sakura. "Makanlah," kata Sasuke melihat ke arah makanan Sakura yang belum di sentuh.
"Kau pulang saja," kata Sakura.
Sasuke mendengus tidak percaya, "itukah yang terlintas pertama kali saat kau melihatku?" tanya Sasuke.
Sasuke menatap Sasuke tidak suka, ia kemudian menyadari kalau ada bekas lebam di pipi Sasuke. Sakura hendak membuka mulutnya untuk bertanya, tapi ia menahannya. "Terima kasih," kata Sakura langsung beralih ke arah sarapannya. Ia mengambil sendoknya, "aku akan membayar uang-"
"Hei," Sasuke mendorong dirinya mendekat ke arah Sakura, Sakura menoleh dan tersentak ketika wajah mereka begitu dekat, "kau harus menikah denganku dan kita impas," ucapnya sedikit berbisik.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Sakura menantang Sasuke.
Sasuke menyeringai, "aku akan melakukan ini," ujar Sasuke mendorong dirinya lebih dekat dan memiringkan kepalanya.
Sakura merasakan bibirnya menyentuh sesuatu yang asing. Ia terkejut dan merasakan bagaimana pria itu memejamkan matanya dari jarak yang begitu dekat. Sendok yang dipegangnya bahkan terlepas begitu saja.
Sasuke tertawa, "aku akan melakukan itu saat di pernikahan kita nanti," Sasuke melepaskan tangannya dari bibir Sakura. Ia berhasil membuat Sakura terpukul. Sebenarnya ia memposisikan dirinya untuk mengecup bibir gadis itu, tapi ia membatasi bibir mereka dengan telapak tangannya. "Makanlah, nanti makananmu dingin," kata Sasuke kemudian berbalik.
Sakura melempar sendoknya ke arah kepala Sasuke dan mengenainya. Pria itu mengaduh dan menoleh cepat ke arah Sakura. Gadis itu tersentak. Sasuke menoleh ke arah pandangan Sakura. Ayah dan ibunya menyaksikan keduanya dari beberapa menit yang lalu.
.
.
.
"Sejak kapan?" kata Uchiha Fugaku ketika ia berbicara berdua dengan putra bungsunya. Sasuke menatap ke arah lain, ayahnya pasti salah paham. "Kau dan Sakura?"
Sasuke mengerutkan alisnya, "ayah tidak perlu tahu," kata Sasuke tidak mau berbohong, "aku dan Sakura sudah dewasa sekarang."
Fugaku tertawa sedikit keras, "kenapa kau perlu berbohong seperti itu pada ayahmu? Kalau saja aku tahu kau akan menikah dengan Sakura tentu saja aku akan langsung menyetujuinya!"
Sasuke menahan napasnya, sebelumnya Sasuke memang meminta hal yang dikatakan pada ayahnya. Sasuke hanya mengangguk pelan. Itu memang keinginannya. Ini adalah rencananya yang ia perhitungkan. Namun, kenapa ia menjadi ragu sekarang.
"Kalau begitu, aku akan mengurus semua. Setelah Sakura sembuh dan ayahnya sudah membaik, kalian bisa langsung menikah."
Sasuke mendongkak, "apa?" tanyanya.
Fugaku menatap Sasuke, "bukankah itu yang kau inginkan?" kata Fugaku. "Aku tidak ingin Sakura hamil sebelum menikah."
"Ayah! Aku tidak mungkin melakukan hal itu!" kata Sasuke. Ia merasa marah sekaligus malu. "Sebaiknya aku menemani Sakura," kata Sasuke kemudian masuk lagi ke dalam kamar.
Sasuke melihat ibunya dan Sakura sedang asyik mengobrol. Gadis itu bahkan tertawa riang sekali. Sakura melihat Sasuke ketia ia menyuap makanannya, ia kemudian menatap kesal.
"Aku sudah membawakan pakaian untukmu, sayang," kata Mikoto menyerahkan sebuah tas besar untuk Sasuke. Ia menoleh ke Sakura, "kau tahu, dia tidak mau pulang karena menemanimu."
Sakura hanya tersenyum kikuk, "iya," jawab Sakura seadanya.
"Sasuke ada apa dengan pipimu?" tanya Mikoto, melihat pipi Sasuke memerah. Mikoto menyentuhnya, Sasuke meringis. "Apa kau terjatuh?"
Sasuke mengangguk dan melepaskan tangan ibunya, "iya. Aku mandi dulu, bu," kata Sasuke berjalan ke arah kamar mandi di ruangan itu.
Sasuke menanggalkan pakaiannya, ia melemaskan otot-ototnya yang tegang sebelum ia menghidupkan shower untuk membasuh seluruh tubuhnya. Kemudian wajahnya memerah. Apa yang telah ia lakukan? Kenapa ia merasa sangat bodoh ketika ia melakukan hal tersebut pada Sakura barusan.
Ia memandang telapak tangannya yang menyentuh bibir Sakura. Bibir gadis itu tidak lembut sama sekali. Kenapa ia menjadi terbayang untuk merasakannya sekali lagi? Seketika keinginannya lenyap ketika teringat perbincangannya dengan Yamaka Ino.
"Apa motifmu untuk mengganggu kehidupan Sakura lagi?" tanya Ino langsung ketika ketiganya tengah makan di kantin rumah sakit.
"Ino," tahan Sai. Namun, gadis bermata biru pucat itu kukuh untuk melawan Sasuke.
"Aku akan menikahinya," kata Sasuke singkat.
Ino tertawa mengejek, "kau pikir Sakura mau melakukannya? Kau telah membuat Sakura menderita!"
"Dulu," Sasuke menambahkan perkataan Ino, "lagi pula, Sakura membutuhkan uangku sekarang."
Ino bangkit dan langsung menampar Sasuke dengan sangat keras, "kau pikir temanku serendah itu menikah karena uang?" Ino langsung pergi dari sana sebelum ia memesan makanan.
Sai ikut bangkit dan menahan langkahnya, "maafkan pacarku, tapi kau memang pantas mendapatkannya," kata Sai sambil tersenyum.
Sasuke mematikan air dan memejamkan mata. Ia merasa sangat berengsek sekarang. Permainannya sendiri kini membuatnya kebingungan. Ayah dan ibunya sudah tertipu karena adegan tadi. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
.
.
.
Sasuke keluar dari kamar mandi dan mendapati Sakura sedang duduk di atas ranjang sendirian. "Di mana ibuku?" tanya Sasuke.
Sakura memberikannya tatapan menghakimi, "mereka sedang mencarikan kita perancang pesta pernikahan. Terima kasih atas tindakan bodohmu," kata Sakura.
Sasuke melempar tas yang berisi pakaian kotornya ke atas meja, "hn, maafkan aku," kata Sasuke pelan.
Sakura mendengus tidak menyangka, "lalu apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak bisa menikah."
Sasuke berjalan ke arah Sakura, gadis itu langsung berekasi untuk melindungi diri, "apa kau ingin aku melakukan hal yang lebih jauh agar kau bersedia?"
Sakura membuang wajahnya, "tidak."
Sasuke mengulum senyum, "jadi? Kau mau menikah denganku?" tanya Sasuke lagi.
Sakura menatap Sasuke, "apa aku bisa mengatakan tidak lagi setelah kau mengancamku?"
Sasuke mengambil sebuah kotak yang ia taruh di atas meja di samping ranjang Sakura, itu adalah kotak berlapis beludru merah yang sempat dilempar Sakura. Ino pasti membawakannya untuk Sasuke. Ia membuka kotak itu dan mengambil cincin.
Sasuke mengulurkan tangannya, Sakura yang sedang meremas selimut melepaskan pegangannya. Ia menyerahkan tangannya, "ini cincin pertunangan kita," kata Sasuke. Ia kemudian menyematkan cincin itu pada jari manis Sakura.
Sakura merasakan benda itu melingkar pas pada jari manisnya. Ia memejamkan mata dan hanya menerima sentuhan dingin itu pada kulitnya. Sasuke tersenyum tipis.
"Apa kau sudah melihat hadiah dari ibuku?" tanya Sasuke.
Sakura mengangguk, "sudah, aku senang gaun malam itu sangat cantik."
Sasuke tersenyum tulus. Ia kemudian mengangkat tangannya dan menyelipkan rambut Sakura yang jatuh menutupi wajahnya di balik telinga kanannya. Sakura menarik dirinya menjauh. "Kau galak sekali, aku ini tunanganmu," kata Sasuke.
Sakura mendengus, "jangan menyentuhku dengan tanganmu," kata Sakura mengelak. Namun, pandangannya jatuh ke bawah.
Sasuke memiringkan kepalanya untuk menemukan mata hijau Sakura. Sakura menatap wajah Sasuke yang berusaha menggodanya. Rambutnya yang basah membuat kontras antara kulit dan rambutnya semakin jelas. Sasuke terlihat begitu pasif sekaligus mendominasi.
"Lalu apa kau keberatan jika aku menyentuhmu dengan bibirku?" bisiknya.
Aroma sabun mandi dan shampoo Sasuke menusuk indera penciumannya. Perkataannya yang persuasif membuat Sakura ingin mengalihkan pandangannya seketika. Namun, ia tidak bisa. Ia merasa kerongkongannya tercekat. Apa-apaan perkataannya itu? Apakah itu legal menggunakan bagian tubuh lain selain tangan untuk menyentuh orang lain?
"Sakura?" sebuah suara membuat keduanya langsung menarik diri mereka masing-masing. Sasuke menoleh ke belakang.
Sakura terkejut dan langsung gugup seketika, ia menunduk untuk memberi salam, "kepala," kata Sakura tersenyum kikuk. Pria berambut merah itu tersenyum singkat. Tangannya membawa sebuket bunga dan Sasuke yakin itu untuk Sakura.
"Sakura, ini bukan di kantor," kata pria itu sambil tersenyum dan berjalan ke arah Sakura dan Sasuke.
"Maafkan aku, Gaara."
TBC
(A/N) Hallo semua! Apa kabar? Kembali lagi dengan bab baru di fanfic ini, semoga kalian menyukainya. Aku update pagi karena tiba-tiba kelas batal! #YEY
Pertama-tama, terima kasih banyak kepada teman-teman yang sudah membaca, memfavorite, memfollow, dan mereview bab sebelumnya. Jujur saja aku sangat senang membaca komentar, masukan, kritik, dan pujian kalian. Setidaknya aku tahu apa yang kalian pikirkan tentang bab sebelumnya dan ceritanya.
Setelah melakukan beberapa pertimbangan, mungkin untuk judulnya aku belum bisa ganti karena aku belum menemukan judul lain. Aku agak stuck kalau buat judul. Ya, nanti aku akan cari alternatif yang bijaksana kalau soal judul. (_)
Oh ya, untuk waktu update, aku memutuskan akan mengambil interval sekitar 3-5 hari. Mungkin jika ada halangan aku bisa saja tidak bisa menyelesaikan tepat waktu. Tapi, aku akan usahakan update pada jadwal itu. Semoga kalian menantikan setiap babnya ya! Terima kasih atas respon kalian mengenai pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya. Haha~
Aku sangat menghargai pendapat-pendapat kalian. Jadi jangan sungkan untuk bilang ya!
(Curhat Time)
Kondisiku sebenarnya agak lelah karena ikut tiga jam kelas ballet. Kaki rasanya mau putus dan ingin istarahat full. Tapi, aku benar-benar terpacu untuk update setelah membaca kolom review. Rasanya stamina langsung pulih dan imajinasi jadi lancar! Asyik banget jika ada yang mendukung dan ada menikmati tulisanku. Selain menari dan menulis, aku juga hobi makan (?) meski aku harus menurunkan beberapa kilo lagi. Ugh! Hal yang paling dibenci perempuan!
(Kepo Time)
Hobi kalian apa?
Biasanya kalian baca fanfic sambil ngapain?
Bagaimana pendapat kalian pada bab ini?
Let me know your answer! I'll see you guys soon!
Salam hangat, Ruffie-chan
