Summary: Hidup Sakura sengsara. Ia merangkap tiga pekerjaan sekaligus. Itu semua untuk biaya pengobatan ayahnya yang sakit parah. Tiba-tiba pria itu datang lagi ke dalam kehidupanya dan menawarkan kesempatan yang bak buah Simalakama. "Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Our New Chapter
"Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."
.
.
.
Bab IV
If You Were Me
"Aku dengar kau jatuh sakit dari Ino, jadi aku ke sini untuk menjengukmu," kata pria bertubuh tinggi namun tidak lebih tinggi dari Sasuke itu. Ia menelusuri pandangannya secara singkat ke arah Sasuke sebelum berpaling ke Sakura. "Bagaimana kondisimu?"
Sakura tertawa pelan, "aku baik-baik saja," kata Sakura. Gadis itu menangkap Sasuke mengawasi mereka berdua dalam penuh tanya, "ah, Sasuke, dia adalah Gaara. Kepala editorku di kantor," ujar Sakura mengambil inisiatif. Gaara menoleh ke arah Sasuke dan menundukkan kepalanya sedikit untuk memberi salam, "Gaara, ini Sasuke. Dia," Sakura menatap Sasuke, 'istilah' apa yang harus ia gunakan pada pria yang memiliki tinggi kurang lebih 182 cm itu.
"Aku tunangan Sakura," Sasuke melanjutkan perkataan Sakura, ia tersenyum tipis. "Terima kasih telah membimbing Sakura selama di kantor," lanjut Sasuke dengan nada sopan. "Aku keluar sebentar untuk menanyakan pada dokter kapan Sakura bisa pulang, kalian bisa ambil waktu kalian," jelas Sasuke. Ia menatap Sakura sejenak, kemudian pergi.
Gaara tersenyum singkat sebelum memberi Sakura sebuket bunga mawar merah. Sakura menerimanya dengan senang hati, "aku tidak tahu kau punya tunangan," kata Gaara sedikit ragu. Ia menarik kursi untuk duduk di samping ranjang Sakura.
Sakura tertawa gugup, "ah," Sakura memikirkan beberapa alasan di kepalanya, "dia baru saja melamarku," kata Sakura. Astaga! Apa yang ia katakan. "Maksudku, sebenarnya hubungan kita agak terburu-buru."
Gaara mengerutkan dahi, "terburu-buru? Kenapa?" Beberapa saat kemudian Gaara langsung memberikan Sakura ekspresi menebak. "Sakura, kau tidak-"
"Tentu saja tidak, Gaara! Aku tidak seperti itu, aku tidak hamil," eh, Sakura jadi memerah sendiri mendengar argumennya. "Maksudku, ah, sudahlah!"
Gaara tertawa pelan. "Baiklah, aku tidak akan bertanya lebih jauh," ujar Gaara mengalah, meski ia benar-benar penasaran dengan keduanya. Ditambah di jari manis Sakura melingkar cincin yang sangat menarik perhatian. "Kau harus menjaga kesehatanmu, Sakura. Kau terlalu sering sakit," kata Gaara sedikit perihatin.
Sakura menunduk sedikit, ia sangat malu menjadi perempuan yang terdengar selemah itu. "Maafkan aku," ia kemudian merasa dirinya sedikit lebih ringan. Ia kemudian tersenyum, "aku tidak akan sakit lagi," kata Sakura, tentu saja, sekarang ada Sasuke kan? Entah bebannya sedikit terangkat. Meski sangat tidak etis kedengarannya menikah karena uang.
"Sasuke itu cukup tinggi ya," kata Gaara tiba-tiba. "Ku pikir tingginya 180 cm lebih," lanjutnya, "wajahnya juga lumayan. Apa dia model juga?"
Sakura memicingkan sedikit matanya, ia tidak suka dengan pernyataan Gaara yang terakhir. "Sasuke bukan model," kata Sakura sedikit dingin. Meski ia tidak tahu pekerjaan Sasuke, tapi Sakura tidak mau Sasuke menjadi model.
Gaara sedikit menyesal karena membahas hal tersebut, wajahnya menjadi sedikit tidak enak. "Oh, jadi apa pekerjaannya?" tanya Gaara, berusaha melanjutkan pembicaraan.
Sakura menjadi buntu. Otaknya berputar kembali ke masa lalu. Apa yang Sasuke suka? Mungkin ia bisa asa menembak dan tepat. Apa pekerjaan Sasuke? Tidak mungkin ia menjawab 'tidak tahu', tunangan macam apa yang- Astaga! Sekarang Sakura mengakui kalau Sasuke adalah tunangannya.
Pintu kamar terbuka dan Sasuke berdiri di sana. Ia berjalan masuk dan mengalihkan perhatian keduanya, "hari ini kau sudah bisa pulang. Aku akan mengantarmu," kata Sasuke pada Sakura, "nanti kita akan menengok ayahmu sebentar," kata Sasuke. Ia kemudian beralih pada Gaara. "Maaf mengganggu kalian."
Gaara menggeleng, "tidak, tentu tidak. Sasuke, apa pekerjaanmu?" tanya Gaara meyakinkan dirinya sendiri.
Sakura meringis. Kumohon jangan model. Jangan model! "Huh? Aku arsitek, aku punya firma arsitektur," kata Sasuke melirik Sakura, "Sakura tidak memberi tahumu?"
Sakura memicingkan matanya seolah berkata, 'bagaimana aku bisa tahu jika setiap kali kau muncul yang kau lakukan adalah mengajakku menikah!'
"Sepertinya Sakura senang menyimpan rahasia," kata Gaara tertawa, "dia bahkan tidak memberitahu kalau kalian sudah mau menikah," kata Gaara.
Sasuke tersenyum tipis, "hn, kita memang sedikit terburu-buru," ujar Sasuke, "tapi, aku akan memastikan kau akan diundang ke pernikahan kami," lanjut Sasuke.
Gaara tersenyum singkat. Ia melihat jam pada pergelangan tangan kanannya, "aku sebaiknya pergi ke kantor sekarang," kata Gaara, ia bangkit, "kau bisa mulai bekerja kalau kau sudah sehat."
Sakura mengangguk. Gaara kemudian pergi dari sana. Sasuke menatap bunga pemberian Gaara, "apa dia pacarmu?"
Sakura memberikan ekspresi terkejut, "tentu saja tidak!" kata Sakura, Sasuke mengulurkan tangannya untuk mengambil bunga itu dari pegangan Sakura dan menaruhnya di atas meja.
"Dia sepertinya menyukaimu," kata Sasuke.
"Haha, lucu sekali," ejek Sakura. Gadis itu kemudian turun dari ranjang. Ia menarik penyangga infusnya. Sasuke segera mengambil alih benda berbentuk tiang beroda itu. Ia membawa ke sisi kirinya dan mengulurkan tangan kanannya ke Sakura.
Sakura memandang Sasuke sebentar sebelum ia mau melingkarkan tangannya di lengan Sasuke. Keduanya berjalan ke luar kamar dan menuju kamar ayah Sakura dirawat.
.
.
.
"Apa? Kau bilang kau bersedia menikah dengan laki-laki itu?" Ino menyalak keras ketika Sakura menceritakan semua pada Ino. Suasana makan malam mereka menjadi tegang dan tidak nyaman. "Apa kau tahu aku bahkan menamparnya ketika ia mengatakan bahwa kalian berdua butuh uang? Bagaimana perasaanku ketika mendengarmu direndahkan seperti itu Sakura!?"
Sakura mengerutkan alisnya dan menatap Ino, "aku memang butuh uang, Ino," kata Sakura. Matanya kini memerah karena ikut terbawa emosi. "Lalu apa yang bisa kau lakukan jika kau jadi aku, Ino? Biaya operasi ayahku sangat besar, aku berhutang uang yang sangat besar. Kemudian hari aku harus memikirkan bagaimana cara membayar hutangku dan memikirkan apa yang akan terjadi jika ayahku operasi lagi."
"Sakura, kau mau dibeli olehnya! Kau benar-benar terlihat lemah dan mudah dikendalikan!"
"Ino, apa menurutmu aku punya pilihan lain?" bisik Sakura.
Ino mendengus marah, "aku tahu perasaanmu-"
"Tidak, Ino, kau tidak tahu perasaanku," Sakura bangkit dari kursinya, "apa kau tahu bagaimana rasanya satu-satunya anggota keluargamu tidak berdaya di rumah sakit selama dua tahun? Apa kau tahu setiap malam aku tidak bisa tidur karena harus berpikir untuk mencari cara agar penghasilanku bertambah sehingga aku bisa membiayai pengobatan ayahku? Apakah kau tahu perasaanku ketika orang yang paling tidak aku inginkan datang ke hidupku untuk memberikanku satu-satunya jalan keluar untuk permasalahanku?" Sakura pergi dari meja makan, "terkadang kau harus membayangkan bagaimana rasanya berada di posisiku sebelum mengataiku lemah atau apapun itu."
Ino merasakan hatinya mecelos tiba-tiba. Apa yang ia katakan barusan? Ino mulai merasakan air matanya membendung. Ia mulai terisak sendirian. Harusnya orang yang paling mengerti Sakura adalah Ino, tapi kenapa ia membuat Sakura semakin terpojok dan ada di posisi yang salah? Mungkin Ino tidak ingin melihat Sakura terluka seperti dulu, jadi ia berusaha melindungi Sakura. Namun, ia malah membuat Sakura terdengar selemah itu hanya karena menerima tawaran Sasuke.
Tidak. Sakura tidak lemah. Setelah segala keterpurukan yang Sakura lewati sampai sekarang, gadis itu adalah perempuan terkuat.
Setelah beberapa jam ia merenung. Ino berjalan ke arah kamar Sakura. Ia mengetuk dan membuka pintu kamar Sakura yang tidak dikunci. Gadis itu sedang duduk di atas kasurnya. TV yang ada di kamarnya menyala. Menampilkan dua sosok manusia yang dikenal Ino. Salah satunya adalah Sakura.
Ino berjalan dan duduk di samping Sakura. "Sudah lama sekali rasanya," kata Ino memperhatikan setiap adegan yang terputar di sana. Ino mengingat jelas diantaranya, karena ada satu momen ketika Ino yang merekam keduanya.
"Aku memimpikannya dan di mimpiku ia juga berkata kalau aku lemah," bisik Sakura. Air matanya menetes, "dia pikir dia siapa? Datang dan pergi sesuka hati. Kemudian, menghantuiku dengan ejekan."
"Kau tidak lemah Sakura," Ino mengelus punggung Sakura, "maafkan aku karena berkata seperti itu padamu. Aku yakin ia hanya ingin mengatakan bahwa kau harus lebih kuat karena jalan yang kau tempuh selanjutnya mungkin lebih berat dari hari-harimu sebelumnya," Ino mengambil remote yang dipegang Sakura dan mematikan TV.
Sakura kemudian memeluk Ino, "aku akan menikah dengan orang yang bahkan tidak aku cintai, Ino," kata Sakura.
Ino memejamkan matanya dan membalas pelukan Sakura, "kau hanya perlu sedikit kepercayaan dan komitmen untuk menumbuhkan cinta," kata Ino.
Sakura melepaskan pelukannya, "aku tidak akan menumbuhkan cinta antara aku dan Sasuke!" protes Sakura.
"Bagaimana kalau dia yang menumbukannya?" goda Ino, "dia lumayan kan? Tampan dan mapan. Kau tidak akan malu menyeretnya ke mall atau membawanya untuk mendampingimu saat pergi ke pesta-pesta dan undangan."
Sakura menepuk pundak Ino pelan, "tidak akan! Aku tidak akan membiarkan apapun, kita hanya akan menikah. Saat semua selesai, kita akan berpisah!"
"Oh, Sakura, tidak akan semudah itu untuk berpisah!"
Sakura tertawa pelan, "jika semudah ini untuk menikah, kenapa sesulit itu untuk berpisah?" Sakura menerawang, "aku hanya perlu membuatnya merana selama bersamaku."
Ino mencubit pipi Sakura yang tirus, "tapi pertama-tama kau harus membuatnya bertekuk lutut padamu. Bagaimana kalau besok aku akan menemanimu berbelanja dan ke salon?" Sakura mengangguk dan memeluk Ino lagi.
.
.
.
Sakura dan Ino baru pulang dari kantor dan langsung menuju ke salon dan spa. Keduanya memanjakan diri selama di sana. Sudah sangat lama sejak mereka pergi bersama seperti ini karena Sakura selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sekarang gadis itu hanya fokus pada pekerjaannya sebagai editor saja.
Ayah Sakura akhirnya dipindahkan ke rumah sakit kepercayaan keluarga Uchiha untuk mendapatkan perawatan intensif di sana. Pria berusia enam puluh tahun itu sudah sadar ketika Sakura menjenguknya tadi pagi sebelum berangkat bekerja. Sakura benar-benar merasa lega, meski ia belum mengatakan bahwa ia dan Sasuke akan segera menikah.
Ngomong-ngomong soal pernikahan, sepertinya kedua orang tua Sasuke ingin cepat melaksanakan acara tersebut. Mengingat bahwa Fugaku sangat khawatir jika ada diantara mereka yang berubah pikiran. Tentu saja itu suatu keajaiban baginya ketika keduanya benar-benar mau menikah tanpa paksaan darinya. Selain itu, Fugaku masih was-was dengan kemungkinan 'kehamilan' di luar nikah yang akan merusak citra perusahaannya.
"Sakura," panggil Ino ketika keduanya sedang melakukan facial. Sakura yang sedang terlentang menunggu maskernya kering segera menarik salah satu iris timun yang menutupi mata kirinya. "Apakah kau pernah waxing?"
Sakura menerka-nerka, "waxing? Maksudnya cukur rambut kaki?" tanya Sakura bingung.
Ino tersenyum penuh rahasia, ia kembali meletakkan potongan timun pada matanya, "bukan hanya pada kaki, Sakura, tapi pada daerah-daerah tertentu," kata Ino. Ino kemudian menambahkan, "bukan hanya dicukur, tapi dicabut sampai ke akar-akarnya!"
Sakura berpikir keras, ia pun mengangkat bahu. Sudahlah. Tidak penting kan?
Sakura tidak akan pernah melakukan waxing itu lagi. Ia tidak akan mempercayai Ino lagi. Sakura berjalan sedikit kesusahan karena melakukan ritual tidak penting itu. Wajahnya semasam jus lemon.
Ino tertawa, "jangan sangat kesal seperti itu. Wajahmu jadi keriput!" kata Ino.
"Aku kesakitan, Ino!" kata Sakura berusaha menjaga wajah kesalnya, meski ia nyaris terhanyut ikut tertawa juga.
"Tapi ini penting, Sakura! Kau akan segera menikah," kata Ino, "aku yakin Sasuke akan sena-"
Sakura menutup telinganya dan bernyanyi keras, "aku tidak dengar~" ujarnya segera berjalan pelan ke arah mobil Ino.
Ino mendengus kesal kemudian menggandeng tangan Sakura, "kita beli pakaian sekarang, oke?"
Sakura memutar bola matanya, "aku tidak membeli apa-apa," kata Sakrua.
"Kau akan menikah, Sakura! Kau butuh pakaian baru!" kata Ino, "dan baju dalam baru," goda Ino.
"Astaga Ino! Jangan membuang waktumu dengan berasumsi hal yang mungkin tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkannya terjadi!" kata Sakura mengelak, ia paham betul maksud Ino.
"Kau tidak akan menyesal. Kau membutuhkannya Sakura!"
Sakura jadi merinding sendiri membayangkannya. Meski ia benar-benar tidak mau, tapi batinnya berteriak bahwa ia membutuhkan satu atau dua pasang pakaian dalam baru.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, Sasuke mengunjungi rumah Ino untuk menemui Sakura. Sepertinya pria itu baru pulang kerja, terlihat dari ekspresi wajahnya yang kelelahan. Sasuke juga nampak memotong rambutnya sedikit. Ia terlihat sedikit bertambah tampan.
"Aku membawakan kari buatan ibuku," kata Sasuke, "kalian belum makan malam kan?" tanya Sasuke.
"Ya, begitulah," kata Ino sedikit ketus, "hei, aku minta maaf soal tamparan waktu itu," kata Ino. Sasuke hanya tersenyum tipis dan sedikit mengangguk. Ia kemudian memanggil Sakura yang belum keluar dari kamarnya, "Sakura, calon suamimu datang!"
"Ah, apa aku boleh masuk?" tanya Sasuke yang masih berdiri di pintu depan.
Ino gelagapan, "astaga, maaf. Mari ke dalam."
Ino mengajak Sasuke ke ruang tamu dan membawa bungkusan Sasuke ke dapur. Sakura menengok ke ruang tamu dan mendapati Sasuke di sana. Sakura memberikan Sasuke tatapan gugup. Penampilan Sakura terlihat jauh lebih baik. Tidak ada kantung mata lagi, tubuh rampingnya kini sedikit terlihat lebih sehat, dan ia menjadi sedikit berseri.
Sasuke mengerutkan alisnya, ia melihat penampilan Sakura sepertinya sedikit berantakan. Seperti habis membereskan sesuatu. "Kau sedang apa?" tanya Sasuke.
Sakura berjalan ke arah Sasuke dan duduk di sebelahnya. "Membereskan kamarku," jawab Sakura singkat. Rambut sedang gadis itu diikat menggumpal di belakang kepalanya. Di sisi kepalanya melingkar sebuah bandana yang menjaga poni atau rambutnya yang menghalangi wajahnya tetap terjaga.
"Hn, aku baru saja pulang kerja. Lalu sampai di rumah, ibu langsung menyuruhku untuk membawakan makanan untukmu," cerita Sasuke. Sakura nampak mendengarkan tapi wajahnya acuh tak acuh. Sasuke sedikit terganggu dengan kotoran yang menempel pada pipi Sakura. Ia mengangkat tangannya dan mengelusnya.
Sakura merasakan sentuhan Sasuke pada pipi kanannya segera menarik diri dan memberikan Sasuke pandangan menghakimi. Gadis itu sepertinya masih segalak harimau.
"Ada kotoran di wajahmu," kata Sasuke menjelaskan. "Ngomong-ngomong, apa kau sudah tahu jadwal pemotretan untuk undangan dan buku tamu?"
Sakura menggeleng, "belum," kata Sakura. "Memangnya kapan?"
"Sabtu besok," Sasuke menghela napas, "itu akan sangat sibuk, kau tahu," Sasuke menyenderkan punggungnya pada sofa. Ia melonggarkan dasinya. "Besok kau tidak bekerja kan? Aku jemput ya."
"Ya," Sakura menatap kakinya. Ia jadi sedikit tidak mood jika membicarakan pemotretan. "Apa kau tahu temanya?"
Sasuke mengangkat bahu, "entahlah, apa kau ingin tahu sekarang?" Sasuke meronggoh sakunya untuk mencari ponselnya, ia akan menanyakan pada pihak wedding organizer yang disewa ayahnya. Namun, Sakura menahan tangannya.
"Tidak kok," jawab Sakura cepat. Keduanya kemudian melihat tangan Sakura yang menahan tangan Sasuke. Buru-buru gadis itu melepaskan tangannya.
Sasuke mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan ponselnya. "Sebelum aku pulang, apa aku bisa liat kamarmu?"
Sakura mengerutkan alisnya, "untuk apa?" tanya Sakura dengan nada defensif.
"Kau tahu aku akan mengambil beberapa barang dan menaruhnya di mobil, jadi aku ingin sekalian melihat kamarmu. Jadi aku bisa menyesuaikan seleramu jika kau pindah ke rumah pribadiku setelah kita menikah."
Sakura merasa otaknya berpetualang ke mana-mana. Ia bangkit dan berjalan. Sasuke mengekorinya di belakang. Sakura membuka pintu kamarnya dan membiarkan Sasuke mengintip ke dalam.
Sasuke menyapu pandang melihat kamar berukuran sedang dengan ranjang single yang sedikit berantakan. Ada beberapa kotak yang sudah gadis itu bereskan. Sasuke berjalan masuk ke dalam, ia bisa mencium aroma gadis itu di dalam kamarnya. Sasuke menyukainya.
Sakura memilah beberapa kotak yang mungkin bisa di bawa Sasuke ke rumahnya. Ia menoleh dan mendapati Sasuke membuka sebuah kantung kertas yang ada di atas ranjang. "Apa ini?" tanya Sasuke mengerutkan alisnya. Ia terlihat terpukul ketika ia mendapati bentuk dalaman yang tidak biasa. Bentuknya sedikit aneh dan berwarna merah berenda. Tunggu, apa perempuan menyukainya? Sakura membelalak, "kau bisa memakai benda seperti-"
"Kyaaaaaa!" Sakura memekik dan langsung berlari ke arah Sasuke. Ia mendorong tubuh pria itu dan menarik kantung itu secara bersamaan. Hal itu membuat Sasuke terjatuh ke atas ranjang dan menarik Sakura untuk ikut bersamanya.
Sakura merasakan wajahnya memanas, dunianya berhenti berputar, dan hatinya berdetak kencang. Apalagi melihat Sasuke yang tergeletak di bawahnya memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa didefinisikan. Rambutnya terbelah sedikit dan memperlihatkan dahinya, kenapa pemandangan itu seperti sedikit 'mengundang'?
"Sakura, apa yang-" Ino menengok ke arah pintu kamar, Sakura menoleh, "astaga maafkan aku!" Ino menarik kenop pintu dan menutup pintu itu rapat-rapat.
TBC
(A/N) Terima kasih banyak atas kesediaan kalian membaca, memfollow, memfavorite, bahkan mereview fanfic ini. Kritik dan sarannya benar-benar membangun. Terima kasih juga bagi kalian-kalian yang bahkan meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku kemarin.
Oh ya, aku berencana membuat fanart untuk fanfic ini dan nampaknya bakal banyak. Tapi, sayang untuk cover depan fanartnya belum jadi. Yang aku pakai sekarang bukan punyaku. Kalau kalian berminat, aku akan beri tahu nama instagram tempatku memposting fanart-fanart SasuSaku ya.
Aku berharap kalian menikmati bab ini dan menantikan bab selanjutnya. Selamat malam minggu, semoga weekend kalian menyenangkan!
I'll see you guys soon!
Salam hangat, Ruffie-chan.
