Summary: Hidup Sakura sengsara. Ia merangkap tiga pekerjaan sekaligus. Itu semua untuk biaya pengobatan ayahnya yang sakit parah. Tiba-tiba pria itu datang lagi ke dalam kehidupanya dan menawarkan kesempatan yang bak buah Simalakama. "Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Our New Chapter
"Ajarkan aku mencintaimu lagi, ingatkan aku untuk membencimu kembali."
.
.
.
Bab V
Another Love
Haruno Sakura segera bangkit dari atas Sasuke dan merebut kantung miliknya. "Aku akan menghancurkan milikmu semudah memecahkan kacang jika kau menyentuh barang-barangku sembarangan," ancam Sakura. Pria berambut pekat bergidik ngeri. Ia kemudian bangkit dan berdeham.
Sakura memberikan tatapan segalak harimau yang hendak menerkam mangsanya. Gadis itu kemudian memberikan Sasuke satu kotak yang sudah dikemasnya dengan rapi. "Ini saja?" tanya Sasuke.
"Ya, aku masih mengerjakan yang lain," kata Sakura menengok ke arah tumpukan barang yang belum dikemas.
"Hn, kalau begitu aku akan pulang sekarang."
"Kau tidak mau tinggal untuk makan malam?" tawar Sakura.
Sasuke menggeleng, "aku akan makan di rumah, aku ingin segera pulang dan istirahat," sahut pria itu dengan sungguh-sungguh.
Sakura membuka pintu kamarnya dan mengantar Sasuke keluar rumah. Ia mengabaikan tatapan Ino yang hendak menelannya hidup-hidup jika Sakura tidak menceritakan kejadian tadi. Keduanya berjalan beriringan sampai gadis bersurai merah jambu itu berhenti di depan pagar, "hati-hati di jalan," kata Sakura tulus.
Sasuke menoleh dan tersenyum, "kau juga istirahat yang cukup," balasnya. Ia membuka pintu mobil dan memasukkan barang Sakura, kemudian pergi.
Sakura menghela napas kemudian ia masuk kembali ke dalam rumah dan Ino sudah menunggunya di meja makan. Ia langsung duduk di hadapan Ino. "Tadi itu kecelakaan, Ino, jangan berspekulasi yang tidak-tidak," kata Sakura sedikit kesal.
"Oh, aku pikir kau berubah menjadi agresif dan melecehkannya," canda Ino.
Perempuan yang memiliki manik hijau pada matanya itu memberikan Ino tatapan tidak percaya, "astaga, Ino! Kau pikir aku bisa seperti itu pada laki-laki? Terlebih lagi dengan Sasuke? Tidak akan!"
Ino tertawa senang, "aku mulai menyukai sifat Sasuke. Dia tipe pria yang pengertian. Ia seperti sosok yang pasrah sekaligus mendominasi permainan," geram Ino. Sakura memutar bola matanya. Ino pasti sedang berfantasi sekarang.
.
.
.
"YA! Lebih dekat!" Seorang pria berambut panjang mengarahkan Sakura untuk lebih mendekat ke arah Sasuke ketika keduanya bahkan tidak memiliki jarak seinci pun! Sakura merapatkan kembali wajahnya ke arah dagu Sasuke. Ia benar-benar tidak nyaman di posisi seperti itu. Ia pasti terlihat bodoh. "Sekarang tatap wajahku!" teriak pria yang diketahui bernama Orochimaru itu. Sakura menatap pria itu dan serangan blitz kamera membuatnya semakin tegang. "Perfect!"
Sesegera mungkin Sakura menjauhkan tubuhnya dari Sasuke. Belum sempat keduanya berinteraksi, gadis itu kembali ditarik untuk memperbaiki make upnya. Oh, ada Ino juga di sana. Ia nampak akrab dengan beberapa make up artist di sana. Selain menjadi ilustrator di majalah, Ino juga sering membantu tim pemotretan model cover majalah.
Sakura menatap wajahnya di cermin. Rambut sebahu lewat sedikit itu kini ditata sedemikian rupa di belakang kepalanya. Sebuah jepit yang berhias bunga dipasang melingkar di kepalanya. Gadis itu sekarang memakai gaun ungu susu yang lembut. Make up-nya juga terbilang tipis dan membuat kecantikan naturalnya mendominasi wajahnya.
Sasuke sempat tidak berkedip ketika keduanya bertemu di lokasi. Pria yang memakai tuksedo dengan luaran berwarna hitam dan celana kain senada sangat cocok untuk memperlihatkan kaki jenjangnya. Rambut Sasuke yang sudah dipotong pendek kini ditata dengan rapi.
Keduanya sangat sempurna.
Mereka mengambil foto untuk buku undangan, di mana Sakura berdiri sembari mengangkat gaunnya dan Sasuke duduk di sebelahnya sembari menatapnya. Tangan kirinya menggenggam sebuket bunga mawar merah milik Sakura. Ia duduk di sana sembari menatapi betapa cantiknya gadis itu. Setelah beberapa gambar di sana, mereka mengganti pakaian lagi.
"NO! Jangan gugup Sakura!" teriak Orochimaru ketika keduanya mengambil gambar kedua di lokasi yang berbeda. Keduanya berada di tengah barisan pohon pinus yang menjulang. Sakura seperti peri yang tersesat dan ditemukan oleh pangeran tampan.
Sakura menelan air liurnya. Ini sudah kali ketiganya ia gagal dan harus memperbaiki riasannya karena ia terlalu banyak berkeringat meski suhu di lokasi terbilang sejuk. Ia kemudian melangkahkan kakinya untuk berjalan mendekati Sasuke yang sudah menunggunya. Di balik balutan kemeja abunya, tubuh Sasuke tercetak indah dan membuat Sakura semakin kehilangan fokusnya.
Sakura memegang bunga merah jambu yang cantik di tangannya, ia memejamkan matanya. Kemudian ia membuka matanya. Sasuke sudah ada di hadapannya, memegang kedua bahunya. "Jangan terlalu gugup, Sakura." Sepertinya pria itu hendak membuat calon istrinya lebih tenang, tapi usahanya jelas-jelas gagal. Perempuan itu bahkan memberikan Sasuke tatapan 'aku-mau-pulang-saja'. Sasuke tersenyum sehingga membuat rona pipi Sakura semakin jelas.
"Kau hanya perlu fokus mencium bunga itu, dan aku akan mencium pipimu," kata Sasuke pelan. "Aku tidak akan salah mencium kok," godanya yang ternyata membuat Sakura semakin gugup. Gadis itu menelan air liurnya kemudian mendekatkan bunganya pada hidungnya. Ia bisa merasakan bibirnya menyentuh beberapa kelopak bunga.
Angin sepoi-sepoi memberikan sentuhan lembut pada wajah Sakura. Sepertinya ia merasa sedikit lebih tenang. Namun, Sakura langsung membuka matanya ketika ia merasakan bibir Sasuke menyentuh permukaan kulitnya. Bukan hanya itu, sebagian bibirnya menyerempet sisi bibir kirinya.
Jepret!
"Perfect!" teriak Orochimaru yang diiringi pekikan Ino.
"Kau," bisik Sakura ketika Sasuke melepaskan ciumannya, "kau bilang tidak akan salah!"
Sasuke tersenyum dan berjalan pergi untuk mengganti pakaiannya.
Baiklah, pria itu mempermainkannya. Sakura akan membalas dendam! Gadis itu pun berganti pakian dengan wajah cemberut. Gaunnya kini berganti menjadi gaun merah jambu pendek yang membuat Sakura terlihat mungil. Rambut Sakura juga digerai dengan hiasan kepala yang menjuntai mengelilingi kepalanya.
Keduanya kini mengambil posisi tertidur, sehingga kepala mereka berdampingan lebih dekat. Di atas mereka terdapat kamera yang akan menangkap momen mereka. "Alright! Kalian saling tatap!"
"Ini akan mudah," kata Sasuke. "Ini yang terakhir, jadi bertahanlah-" pria itu memotong perkataannya dan langsung terdiam, ada apa dengan ekspresi itu? Sakura terlihat lebih jinak dibandingkan biasanya. Tatapan sayunya membuat Sasuke tercekat. Gadis itu memejamkan matanya, seakan menawarkan Sasuke untuk mendekat. Tanpa sadar ia malah mendekatkan wajahnya ke arah Sakura.
Kamera berbunyi. "Done!" teriak Orochimaru. Sakura segera bangkit dan tersenyum puas. Sasuke menyadari hal tersebut dan mulai mengutuki dirinya sendiri.
Sakura berjalan ke arah monitor yang menampilkan fotonya tadi. Wajahnya memerah. Apa-apaan foto itu? Kenapa keduanya terlihat ingin saling mencium satu sama lain.
"Sakura, foto yang terakhir itu fantastis!" kata Ino girang, "aku jadi ingin melakukan foto dengan Sai!" harap Ino.
Sakura mendengus kesal, ia jaidi terlihat sangat bodoh!
"Good job everyone!" teriak Orochimaru, ia mendekati Sakura dan Sasuke yang sudah berganti baju santai. "Aku selalu menyukai pasangan muda yang penuh cinta seperti kalian! Semoga pernikahan kalian akan berjalan lancar," ucap Orochimaru. Calon pasangan itu pun mengucapkan terima kasih.
.
.
.
Sakura sedang berjalan sendirian di daerah pemotretan mereka. Ia jadi rindu suasa seperti ini. Dingin dan sepi. Ino sedang menelpon Sai, jadi Sakura menghabiskan waktunya sendirian.
"Sakura," sebuah suara menghentikan langkahnya. Sakura berbalik, Sasuke di sana membawakannya segelas teh hangat. Sakura sedikit gugup ketika menerima teh itu.
"Terima kasih," Sakura meminum teh itu. "Mungkin kita adalah pasangan paling cepat dalam melaksanakan pernikahan."
Sasuke tersenyum tipis, "hn. Kau benar. Ngomong-ngomong apakah kau bisa jujur padaku?"
Sakura menoleh ketika Sasuke bertanya, "apa?"
"Apakah kau punya pacar?" tanya Sasuke, "kau tahu aku sempat meminta detektif untuk mencari tahu semua tentangmu dan di sana kau dikatakan tidak memiliki hubungan spesial dengan pria mana pun. Tapi, aku ingin dengar langsung darimu," kata Sasuke.
Sakura mengalihkan pandangannya, "aku tidak punya pacar. Jadi kau tidak usah khawatir soal menikah denganku," katanya dingin. Ia menggigit bibirnya karena topik pembahasannya, "lalu, bagaimana denganmu? Apa ada perempuan lain sebelum aku?"
Sasuke menghela napas, "ada," Sasuke berkata jujur, "kau masih ingat Shion kan?" Sakura merasakan kalau ia tidak suka ketika ia mendengar ucapan Sasuke. Shion ya? Perempuan itu adalah kekasih Sasuke saat SMA. Salah satu faktor Sasuke bersikap kasar setelah mengetahui mereka dijodohkan. Mereka bertahan sampai sejauh ini dan lenyap seketika karena pernikahan omong kosong ini?
"Lalu apa yang terjadi dengannya sekarang setelah mendengar berita ini?"
Sasuke mengangkat bahu, "entahlah, aku rasa dia harus menerimanya mengingat dia yang meninggalkanku duluan."
Sakura mengerutkan alisnya, "maksudmu?"
"Aku melamarnya tiga bulan lalu. Aku sudah sangat yakin bahwa aku bisa hidup tanpa bantuan keluargaku karena aku harus menerima kalau ayahku tidak akan membantuku sepeser pun jika menikah dengannya. Ayah dan ibu tidak menyukai Shion," jelas Sasuke. "Dia menolakku. Kau bisa bayangkan berapa tahun aku menghabiskan waktu untuk bersamanya dan ia menolakku."
Sakura tertawa sinis, "sepertinya kau sudah berpengalaman ditolak oleh perempuan, Sasuke," ejeknya. "Memangnya kenapa ia menolakmu?"
"Dia ternyata sudah bertunangan dengan bosnya di kantor ketika aku melamarnya."
Sakura menoleh cepat, ia memberikan Sasuke tatapan tidak percaya. "Apa? Kau dan Shion berpacaran sejak SMA, lalu apa maksudnya sudah bertunangan ketika aku melamarnya? Maksudmu ia selingkuh?" protes gadis itu bertubi-tubi. Mulai keluarlah kebiasaan menghakimi.
Pria berwajah tampan itu tertawa, "iya, benar. Kau benar, dia selingkuh," Sasuke menghela napas, "jadi, maafkan aku jika aku tidak memberi tahumu ini sejak awal. Aku merasa kalau pernikahan ini adalah salah satu usahaku untuk membalas dendam."
Perempuan di hadapan Sasuke kini mendengus, "berhentilah mengisi otakmu dengan dendam atau apapun yang merugikan dirimu dan orang lain. Kau harus bersikap lapang dada," Sakura berjinjit untuk mengarahkan kedua jarinya ke dahi Sasuke, tapi sebelum itu jemari pria itu menangkap tangan Sakura.
Sasuke menarik tangan itu dan menaruh tangan mungil itu di pipinya. Sakura membeku, tubuhnya menegang. Ia fokus bagaimana tangannya menyentuh permukaan wajah halus Sasuke yang bahkan tidak bisa tertutup oleh tangan kecilnya.
Beberapa saat Sakura hanya memandangi wajah Sasuke yang memejamkan matanya. Ia bisa merasakan ada ekspresi terluka di sana dann bisa paham betul. Mungkin pria itu masih memiliki perasaan yang mendalam ke mantan kekasihnya.
"Ayo pergi, mereka pasti sudah menunggu kita," Sasuke menurunkan tangan Sakura dan menariknya disaat ia masih terpaku. Apa-apaan pria itu? Apa ia sedang bergurau? Membuatnya merinding.
Di sisi lain...
"Kau mendapatkan gambarnya, Kabuto?" ujar Orochimaru yang ternyata menguntit keduanya bersama fotografer handalnya.
"Dapat boss!"
.
.
.
Sakura sedang mengemas beberapa barang terakhirnya yang akan dibawa Sasuke hari ini. Meja kerjanya sudah bersih dan barang pribadinya sudah dikemas. Ino akan sangat kesepian setelah pernikahan mereka karena ia harus tinggal sendirian.
Ia merapikannya sembari menonton TV, kemudian ia menatap ke arah TV yang menampilkan seorang pria sedang memainkan melodi pada gitarnya. Sakura tersenyum tipis. Ini adalah lagu favoritnya. Sakura merebahkan dirinya di kasur, ia tidur menghadap ke layar TV.
"Kau adalah pria terjahat karena membiarkan aku menikah dengan orang lain," bisik Sakura. Ia memejamkan matanya. Membiarkan dirinya dibawa mimpi. Satu-satunya tempat ia bisa bertemu dengannya. Sakura bermimpi kalau sebuah tangan menyentuh kepalanya, lalu ia merasakan seseorang itu mencium kepalanya. Kehangatan pun menjalar ke seluruh tubuhnya. "Aku benar-benar mencintaimu," bisik Sakura pada pria berambut merah di mimpinya.
.
.
.
Sasuke nyaris melompat ketika melihat Sai membukakan pintu. Ia memakai masker hitam yang mengerikan. "Jangan tanya, Ino yang menyuruhku menggunakannya," ucap Sai. Pria malang itu menyuruh Sasuke masuk dan membiarkannya pergi ke kamar Sakura. Sementara ia kembali ke ruang tamu untuk menjadi kelinci percobaan Ino.
Pria itu hanya tersenyum tipis melihat kelakuan kedua teman Sakura, ia kemudian beralu dan mengetuk pelan pintu kamar Sakura. Namun, gadis itu tidak menjawabnya. Sasuke membuka pintu kamar itu yang ternyata tidak terkunci. Ia menangkap sosok bersurai merah jambu yang sedang tertidur di sisi ranjang menghadap ke arah TV yang menampilkan seorang pria berambut merah yang tersenyum ke arah kamera sembari membawa gitar.
Siapa itu? Apakah dia artis. Wajahnya tampan. Sasuke masuk dan berhenti seketika ketika layar TV berganti menampilkan video lain.
"Sakura," panggil sang kameramen. Video itu menampilkan sosok Sakura yang sedang sibuk mengetikkan sesuatu pada laptopnya. "Aduh, pacarku sibuk sekali sih!"
"Aku sedang bekerja, Sasori," kata Sakura tidak mengalihkan perhatiannya.
"Huh? Aku jauh-jauh ke sini dan kau tidak mau menemaniku?" tanya sosok sang pemegang kamera. "Kenapa kau begitu jahat? Ini kan hari spesial, Sakura."
"Memangnya hari-" Sakura menoleh ke kamera dan wajahnya langsung terkejut. "Astaga! Hari ini kan anniversary kita!" Sakura berteriak. Sakura langsung menyambar ke arah kamera dengan wajah terharu. Video berhenti. Berganti ke arah video lain.
Kini video itu menampilkan sosok yang membuat Sasuke penasaran. Ternyata itu adalah laki-laki yang sama dengan laki-laki yang membawa gitar.
"Sasori, kenapa kau mencintaiku?" tanya sebuah suara, itu adalah suara milik Sakura. Sasuke yakin gadis itu yang memegang kamera.
Laki-laki berwajah tampan itu terlihat berpikir keras untuk menggoda Sakura. "pertanyaan yang sulit," goda pria yang diketahui bernama Sasori.
"Sebutkan minimal tiga hal yang kau suka dariku!"
Sasori tertawa, menampilkan sederet barisan gigi rapinya, "apa ini kuis?"
"Ayolah jawab!"
Sasori menatap ke arah kamera, "aku tidak tahu."
"Astaga, aku menunggumu mengatakan kalau aku punya senyum yang indah."
"Hei, kenapa kau menjawabnya sendiri! Dasar perempuan yang sangat percaya diri-"
Sasuke mematikan TV. Ia tidak bisa menonton hal yang tidak ingin Sakura perlihatkan kepada semua orang. Sasuke mengerutkan alisnya. Apa gadis itu berbohong padanya? Sasuke yakin kalau pria itu adalah kekasih Sakura. Atau jangan-jangan mereka sudah putus? Terlepas dari itu semua, gadis itu pasti memiliki alasan tersendiri kenapa ia masih menyimpan video ini.
Mata onyxnya menatap Sakura yang sedang tertidur. Ia mendekat dan mengulurkan tangannya menyentuh kepala Sakura. Sasuke bisa melihat luka melintang bekas jahitan yang masih tersisa dari kejadian beberapa tahun silam akibat ulahnya.
Sasuke membungkukkan kepalanya untuk menyentuh luka itu dengan bibirnya. Aroma shampoo yang gadis itu gunakan menyeruak ke zona penciumannya. Ia menatap gadis itu dalam-dalam.
"Aku benar-benar mencintaimu," bisik Sakura ditengah tidurnya, "Sasori," lanjut Sakura. Sasuke merasakan ada perasaan yang hendak menyeruak dari dadanya. Ia tidak menyukai perasaan itu.
Sasuke menarik selimut yang ada di belakang Sakura, kemudian menyelimutinya. Ia mengalihkan perhatiannya pada beberapa tumpuk kotak yang ada di dekat ranjang. Ia segera mengambil dan keluar dari sana.
.
.
.
Pria itu dengan sedikit terburu-buru membuka kembali dokumen berisi tentang data-data Sakura yang ia taruh di saku jok mobil depan. Ia melihat data pribadi gadis itu. Ia menyapu pandang seluruh tulisan dan tidak mendapatkan ide siapa sosok Sasori yang ada di video itu. Mungkin sang penyelidik tidak cukup teliti dalam menggali kehidupan percintaan Sakura.
Sasuke memutuskan ia harus kembali ke dalam rumah Ino. Ia mencari keberadaan Ino dan Sai di ruang tamu. Mereka pasti tahu sesuatu.
"Sasuke? Kenapa kembali lagi?" tanya Ino yang sedang sibuk menghiasi wajah Sai.
"Maaf mengganggu kalian lagi, aku hanya ingin bertanya satu hal," kata Sasuke, "apa kalian kenal Sasori?"
Ino dan Sai bereaksi sangat cepat ketika mendengar nama itu dari mulut Sasuke. Ino menatap Sai kemudian beralih pada Sasuke dengan wajah terpukul. "da-dari mana kau tahu Sasori?" tanya Ino sedikit gelagapan. Sasuke bisa mengetahu kalau mereka menyembunyikan sesuatu.
"Aku tadi tidak sengaja melihat video di kamar Sakura ketika ia tertidur," kata Sasuke.
Sakura tiba-tiba muncul, "Sasuke, kau sudah mengambil barang-barangku ya?" tanya Sakura. Wajahnya terlihat lelah.
Sai menatap Sasuke, "bagaimana kau tanya pada Sakura saja?"
Sakura menatap Sai kebingungan, "tanya apa?"
Sasuke memberikan Sakura tatapan sedikit tidak suka, "siapa Sasori?"
TBC
(A/N) Halo semuanya! Apa kabar? Aku sangat senang karena bisa kembali lagi membawakan bab ke-5 ini untuk kalian semua. Semoga pertanyaan-pertanyaan kalian sebelumnya bisa terjawab di bab ini ya. Selamat untuk kalian yang berhasil menebaknya.
Terima kasih banyak atas komentar, masukan, kritikan, dan saran yang telah diberikan di kolom review, semoga bab ini kalian mau mengevaluasinya lagi. Hehe! Terima kasih juga bagi kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca, memfavorite, serta memfollow fanfic ini!
Menjawab beberapa review yang mengatakan bahwa Sakura sedikit melunak, sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama. Tapi, hal tersbut memang sengaja karena untuk mendukung proses alurnya. Ditambah mereka sama-sama sudah dewasa. Hehe~
Ah, maaf kemarin aku memang sengaja tidak memberi tahu nama instagramku karena masih dalam proses pembuatan fanart. Di instagramku ada sedikit fanart bocoran tapi semoga kalian tidak kecewa. Nama instagramku: atau (zer(titik)linda). Untuk foto profilnya adalah fanart Sakura sama seperti profilku sekarang. Semoga kalian suka ya. Itu hadiah khusus dariku untuk kalian~
Psst! Kalian bebas memberikan komentar pada setiap fanartnya. Kalau kalian ketemu, tolong beri tahu kalian dari ffn ya. Nanti akan di follow! Follow balik juga ya~ Beri tahu aku bagaimana pendapat kalian untuk fanartnya ya!
I'll see you guys soon~
Salam hangat, Ruffie-chan.
